Tag

, , , , ,

Author: Bee
Cast
: DB5K, Aku
Length: 13.231w. Chaptered.
Chapter: #3
Rating/Genre : Adult/Romance, drama
Synopsis: Jaejong is a broken piece of human being and I can’t just ignore him, especially when I’m a broken piece of shit my self.
Warning: yaoi, implied YooSu, implied sexual abuse, implied underage sexual abuse
A/N: This is an AU story. I made Yunho much, much older than he supposed to be.
Url: http://wp.me/p1rQNR-lY

~

Jaejoong pergi. Bukan seperti waktu itu, dia tidak kutemukan saat aku bangun pagi. Awalnya kukira dia di kamar mandi, tapi dia tidak ada di sana. Tidak di dapur, tidak di ruang cuci, tidak ada dimanapun. Jaejoong tidak pernah pergi sepagi ini. Tidak tanpa membuatku tahu.

Menyadari Jaejoong mungkin benar-benar pergi meninggalkanku, aku terduduk di lantai. Kekosongan kembali menghantamku. Aku pernah merasakannya sekali ketika Changmin pergi. Ini yang kedua dan rasanya lebih buruk, karena disertai kemarahan. Seharusnya aku tahu Jaejoong akan pergi sewaktu-waktu, seharusnya aku tidak boleh lengah dan merasa nyaman dengan keberadaannya di sekitarku, tapi nyatanya aku terlanjur terbiasa dengannya, terlanjur peduli padanya, terlanjur menganggapnya bagian dari hidupku. Ini tidak ada hubungannya dengan perasaan romantis atau apa, ini tentang kembali ditinggalkan dan menyadari bahwa aku adalah manusia yang tidak diinginkan untuk bersama.

Ayahku memilih menikahi wanita lain setelah ibuku meninggal. Mereka bukan tidak menyayangiku, tapi aku tidak bisa menghentikan pikiran bahwa ayahku tidak tahan hanya hidup berdua denganku yang pendiam, tidak banyak bicara dan tidak banyak meminta. Lalu Changmin pergi. Sejak awal menolak menganggapku sebagai saudara, dia pergi begitu tahu ada tempat lain yang lebih baik untuknya. Lalu Jaejoong. Apakah aku terlalu sombong, berpikiran bahwa Jaejoong akan bergantung padaku hanya karena aku memberinya rumah saat dia membutuhkannya? Apakah ini imbalan bagi perhatian yang kuberikan dengan pamrih? Pamrih akan teman dan kebersamaan sesama manusia. Apakah aku memang tidak boleh menginginkan ditemani?

Matahari sudah di atas kepala begitu aku selesai membodoh-bodohi diri. Harusnya begitu, tapi hari ini aku tidak melihat matahari. Dia tersembunyi di balik awan yang menurunkan jarum hujan.

Aku rebah di sofa dan memejamkan mata. Aroma Jaejoong mengambang di hidungku. Aku sendiri lagi. Kosong. Aku tak merasakan apapun yang membuatnya jadi lucu kalau aku merasa lelah, tapi aku memang merasa lelah.

Dingin. Lalu aku terhanyut dalam ruang hampa, memisahkanku dari dunia yang kubenci. Dalam hitam bergaung pertanyaan, kenapa Tuhan memilih menciptakanku?

~

Seminggu sudah berlalu. Aku hanya ke toko saat aku mau. Tabunganku tidak berlimpah, tapi aku masih bisa hidup tanpa khawatir kalau tidak membuka toko beberapa hari dalam sebulan. Terima kasih pada ibu Changmin, aku tidak perlu mencari pekerjaan dan hanya perlu meneruskan usaha tokonya karena anaknya sendiri tidak mau meneruskan.

Kalau tinggal di rumah, aku tidak berminat melakukan apapun. Sejak Jaejoong pergi aku belum sekalipun membersihkan rumah atau mencuci baju atau membuka jendela atau memasak. Aku membeli makananku saat aku mau. Setiap hari yang berlalu aku semakin merasa tidak berguna. Kalau hanya untuk diriku sendiri, aku tidak perlu melakukan apapun, aku bisa bertahan dalam kotor, debu dan rumah yang berantakan. Tidak ada Jaejoong aku tidak perlu mandi. Tidak ada dia, aku tak perlu membuat teh atau memikirkan menu makan malam.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

~

Dua minggu.

Aku terbangun dengan dada yang sesak. Tiba-tiba pagi itu mataku dipenuhi air mata. Aku tidak tahu aku bermimpi apa, aku hanya merasa marah luar biasa. Beraninya orang-orang datang dan pergi di hidupku. Aku bukan rumah kosong. Aku bukan batu. Aku bukan rumput yang terlupakan saat musim dingin.

Aku manusia.

Aku memutuskan mencari Jaejoong.

~

Di depan pagar tinggi rumah besar Jung aku berdiri. Tidak tahu kenapa aku memilih ke sana, tapi aku ada di sana. Mondar-mandir, melarikan diri saat penjaga keamanan menghampiriku, tapi kembali lagi saat kupikir mereka sudah lupa padaku, lalu melarikan diri lagi saat mereka mendatangiku lagi. Tiga kali seperti itu, aku memutuskan bersembunyi di seberang jalan.

Aku terduduk di tepi jalan, memikirkan kembali tentang apa yang kulakukan di sana. Dari mana tiba-tiba rumah Jung menjadi sasaranku meluapkan kemarahan, aku juga tidak tahu. Seharusnya aku ada di toko, membersihkan rumah, dan melupakan Jaejoong. Melupakan Changmin. Melanjutkan hidupku, mencegah orang lain lagi datang dan melukaiku. Kalau manusia lain memilih mengabaikanku, seharusnya aku juga bisa mengabaikan mereka. Lalu kenapa aku ada di sini sekarang?

Sepasang sepatu berhenti di hadapanku. Aku mendongak. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Changmin menunduk menghadapku. Tangannya terbenam dalam saku celana.

Aku bangun dengan cepat, agak terkesiap ketika setelah berdiri ternyata sisa ruang di antara tubuh kami tidak terlalu jauh. Aku memang bodoh, pikirku. Lalu aku berbalik dan melangkah menjauh. Aku bodoh karena mengira bisa melakukan apa yang kupikir akan kulakukan. Aku bodoh karena berniat mencari Jaejoong. Aku bodoh karena berharap bisa melihat Changmin. Aku bodoh—

Changmin menarik lenganku, memaksaku berbalik menghadapnya. “Noona, apa yang kau lakukan di sini?”

Aku mengguncangkan lenganku. “Lepaskan aku,” desisku. Aku yakin wajahku tidak karuan. Aku malu, aku marah, aku kesal, aku ingin menyembunyikan diri.

“Tidak. Noona, kenapa kau ada di sini? Kenapa kau duduk di pinggir jalan?”

“Bukan urusanmu!” aku hampir berteriak. Aku tidak akan kehilangan kendali di hadapan Changmin. Changmin tidak pernah kehilangan kendali saat menghadapiku. Kecuali sekali. Wajahku memerah mengingat itu.

“Urusanku saat kau memata-matai rumah klienku.”

Seperti ditampar semua emosiku meredup berganti dengan rasa terhina luar biasa. Aku teringat kembali alasanku berada di sana. Aku mau mereka mengatakan sesuatu padaku. Apa saja, asal mereka menunjukkan bahwa mereka menganggapku ada. Apa saja, asal mereka mengakui keberadaanku sebagai manusia. “Oh, jadi kalau tentang klienmu, semua jadi urusanmu?” nadaku menantang.

“Noona…”

“Jangan panggil aku begitu!” Dug, aku menghantam perut Changmin dengan tinju.

Sekarang aku merasa lebih baik.

Changmin menunduk memegangi perutnya. Aku merasa percaya diriku bertambah. “Kubilang jangan panggil aku Noona. Kau yang meminta dipukul. Jangan memanggilku begitu kalau kau tak pernah menganggapku Noona. Jangan bertingkah seolah kau mengenalku kalau nyatanya kau tidak mau mengenalku. Jangan mendatangiku kalau kau hanya mau pergi lagi. Itu! Itu kenapa aku ada di sini!”

Muka Changmin memerah, tapi dia memaksakan tubuhnya untuk berdiri. “Noo—“

“Diam!” aku menutup telinga. “Aku tidak mau mendengarmu. Aku tidak ingin bertemu denganmu. Hidupku bukan urusanmu. Aku bahkan tidak ingin meminta tolong padamu andai aku membutuhkannya.” Aku menelan ludah, sekarang kurasa aku tidak bisa berhenti. “Aku tidak peduli padamu. Aku tidak ingin tahu tentangmu. Aku bukan berharap bertemu denganmu…”

“Hei…” suara teriakan seseorang membuatku berhenti. Jaejoong berlari dari seberang jalan diikuti beberapa orang yang tampak seperti penjaga.

Begitu Jaejoong mendekat, aku menudingnya, “Dan kau! Pengemis gelandangan tidak tahu terima kasih! Bagus sekali kelakuanmu. Kau kuberi makan, kau kuberi rumah, kau kuberi perhatian dan kasih sayang dan kau…”

Jaejoong memelukku. Aku menghantamkan tinjuku berkali-kali ke lengannya. Merasakannya memelukku membuat air mataku tak terbendung lagi. Sambil terisak dan mengerang aku meninju lengannya berkali-kali. “Kau tidak tahu terima kasih! Kau jahat! Kau meninggalkanku! Kau membiarkanku sendirian lagi! Kau membuatku sendirian lagi! Kau harusnya tahu aku benci sendirian! Aku bahkan tidak tahu kau kemana! Aku tidak tahu kemana harus mencarimu! Aku pikir kau menghilang entah di jalanan mana lagi! Aku pikir kau terluka lagi! Aku pikir Yunho menangkap dan menyiksamu lagi! Dan kau… kau…” Kakiku tidak kuat menopangku dan aku ambruk ke jalanan.

Jaejoong berjongkok mengikutiku duduk di jalan. Aku hanya bisa menangis. Terus menangis. Aku tidak bisa menghentikannya. Hanya bisa menangis.

Jaejoong memelukku erat, membenamkan hidungnya di rambutku, membiarkan kepalaku terkulai ke bahunya. Dia tidak bicara apapun, hanya membiarkanku menangis.

Entah berapa lama kemudian, Changmin mendekati kami. Dia berjongkok di sebelahku. “Ayo masuk,” ujarnya dingin.

Kurasakan Jaejoong mengangkat kepalanya untuk menatap Changmin, lalu dia menjauhkanku dan berkata, “Ayo masuk.”

~

Ruangan itu sangat besar. Aku harus bangun dari kursiku untuk mengambil cangkir di atas meja. Tapi aku tidak berniat mengambil cangkir yang disediakan untukku. Mataku tak bisa lepas dari sosok Yunho di kursi di seberangku. Tangannya melingkari pundak Jaejoong yang tegang. Ketika tadi Yunho memasuki ruangan, Jaejoong langsung menyambutnya tanpa berpikir dua kali. Changminlah yang  mendekatiku dari belakang, menghapus sedikit kehilanganku akan keberadaan Jaejoong.

Yunho adalah lelaki matang. Mungkin dia sudah hampir empat puluh. Aku melihat kilas warna putih di beberapa anak rambut di pelipisnya. Penampilannya rapi dan formal, sesuatu yang tidak sesuai dengan keberadaan Jaejoong dalam pelukannya. Seperti anak kucing, Jaejoong menempel rapat pada Yunho. Tubuh lelaki itu berisi, tapi tampak bugar. Wajahnya harusnya kecil, tapi pipinya lebih tembam dari yang seharusnya, sehingga wajah itu tampak penuh. Yang jelas, Yunho tampak berkuasa.

“Jadi kau yang menjaga Jaejoong selama ini?” Yunho bertanya. Suaranya berat dan datar.

Changmin yang berdiri di belakang kursiku meletakkan tangan di bahuku. “Dia bukan orang jahat, dia kakakku,” ujarnya mengejutkanku.

Yunho menatap Changmin dan aku merasakannya seperti tatapan peringatan. Jadi begitu, kalau Yunho tidak bertanya padamu, kau dilarang bicara.

“Kenapa kau menyuruh Jaejoong kembali ke sini?” Yunho bertanya.

Aku kebingungan. Dari samping Yunho aku melihat Jaejoong berkedip. Sesuatu melintas di sana dan tiba-tiba aku mengerti. Jaejoong berbohong pada Yunho, bilang bahwa karena aku menyuruhnya kembalilah sekarang dia ada di sana. “Aku…” aku kebingungan. “Aku…”

Yunho menarik Jaejoong lebih rapat ke tubuhnya. Tangan Jaejoong tersimpan rapi di lututnya. Matanya cemas menatapku. Mulutku terbuka, “Aku pikir Jaejoong perlu menemuimu,” akhirnya aku berkata. “Maksudku, aku tahu kau sakit dan Jaejoong pasti…”

Aku berhenti melihat perubahan raut wajah Yunho. Sepertinya aku salah bicara. “Kau tahu aku sakit?” tanya lelaki itu lembut. Entah kenapa aku merinding mendengar nada bicaranya. Matanya perlahan berganti menatap Changmin.

“Jaejoong tinggal di rumahku, ingat? Tentu saja aku tahu apa yang terjadi padamu,” buru-buru aku melanjutkan. Jemariku meremas lutut.

Yunho tidak tampak percaya, tapi dia mengangguk. Dia mengamatiku beberapa lama, lalu bertanya, “Lalu untuk apa kau ke sini?”

Jaejoong bergerak gelisah. Aku benar-benar bodoh. Selalu ada artinya saat seseorang meninggalkanku. Seharusnya aku tidak menyebabkan Jaejoong dalam masalah kalau itulah arti kedatanganku. “Aku… aku hanya ingin melihat Jaejoong. Kami… dia…”

Yunho menoleh pada Jaejoong, aku seolah melihat Jaejoong dicabut menjadi beberapa bagian dan langsung menciut. Wajah Yunho berubah. Satu tangannya terangkat dan Jaejoong langsung gemetar. Yunho tersenyum… eh… sedih? Yunho membelai pipi Jaejoong perlahan, menunggu sampai lelaki yang lebih muda menatapnya, baru bertanya dengan nada lembut yang membuatku takjub, “Kau senang bertemu dengannya lagi?”

Mata Jaejoong melebar, kebingungan melintas di wajahnya, tapi dia mengangguk. Yunho tersenyum lalu mencium pelipisnya. “Kalau begitu kau harus mengajaknya berkeliling. Aku akan mengurusi pekerjaan dengan Changmin.”

Kurasakan tangan Changmin meremas pinggangku. Sejak kapan tangannya ada di sana? Jaejoong mengangguk lagi dan menunggu sampai Yunho bangun bertumpu pada tongkat yang baru sekarang kusadari keberadaannya. Lelaki itu menoleh padaku, “Mungkin kau mau makan siang bersama kami? Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan mejamu.”

Dengan semua ketegangan di sekitar lelaki itu, aku tidak punya selera makan, tapi aku tetap mengangguk. “Terima kasih,” jawabku lirih.

~

Kami berjalan bersisian melintasi taman yang terlalu luas untuk sebuah rumah. Dari tempat kami sekarang, pintu masuk ke rumah tampak jauh sekali. Yunho ini benar-benar kaya. Jaejoong belum bicara apapun sejak tadi, membuatku teringat apa yang sudah kulakuan; membentak-bentaknya di luar pagar, memukul-mukulnya, lalu menangis di dadanya, ya Tuhan, aku memalukan sekali.

Dari belakang aku melihat Jaejoong berjalan menunduk. Punggungnya tampak rapuh. “Kau tidak apa-apa, Jaejoong?” aku tidak bisa menahan diri lagi. Jaejoong menoleh. Aku melanjutkan, “Aku tidak tahu kau ke sini. Aku benar-benar tidak tahu. Kupikir kau tidak akan kembali lagi ke sini karena… karena…”

“Yunho sakit,” suara Jaejoong yang serak memotongku. Dia tidak berkata apapun lagi, hanya berbalik dan berjalan kembali.

“Itu saja? Hanya karena itu kau kembali? Karena Yunho sakit?”

Jaejoong berhenti, menoleh lagi, meraih tanganku, lalu menggandengku menuju bangku taman. Di sana dia mendudukkanku lalu duduk melingkar memeluk pinggangku seperti yang biasa dilakukannya di rumah. Lama kami terdiam sebelum akhirnya dia bicara, “Aku mencintainya,” bisik Jaejoong.

Meski Changmin bilang dia pergi karena diculik alien, aku tidak bisa lebih kaget dari ini. “Bagaimana… Tidak… Tunggu, itu tidak masuk akal, Jaejoong!”

Jaejoong menyembunyikan wajahnya di bahuku. “Aku tahu. Tapi aku memang mencintainya.”

“Dia menyiksamu!” Jaejoong mengangguk. “Lalu bagaimana kau bisa mencintainya?”

Pelan Jaejoong menjawab, “Aku tidak tahu. Dia hidupku.”

Aku menjauhkan Jaejoong dariku, kurangkum kedua pipinya, “Dengar Jaejoong, kalau dia melakukan sesuatu padamu sehingga kau terpaksa mengatakannya, kau bisa mengatakannya padaku. Kau tahu aku akan selalu berada di sisimu, membelamu.”

Jaejoong menggeleng-geleng ketakutan, “Tidak, tidak, dia tidak melakukan apapun. Dia bahkan tidak menyentuhku sama sekali. Aku mencintainya, aku mencintainya.”

Aku tersenyum miris, “Apa kau bahkan tahu apa artinya cinta?”

Jaejoong terdiam. Lalu bicara, “Entah. Tapi ada yang kosong di sini setelah aku kabur darinya,” Jaejoong menunjuk dadanya. Matanya berkaca-kaca, “Dan ada yang sakit sekali di sini waktu Changmin bilang dia sakit dan umurnya tidak lama lagi.” Mulutku terbuka. “Aku selalu ingin pulang ke rumah. Kupikir berada di dekat Junsu adalah rumahku, karena itu aku kabur saat dia tak ada lagi. Tapi lalu aku kembali ke sini, dan dia memelukku, dan aku tahu aku akhirnya pulang.” Dadaku sakit melihat air mata Jaejoong jatuh ke pipinya.

Kuhapus air mata itu sementara berbagai pikiran berkecamuk di benakku. Namun demikian aku hanya berkata, “Kau bicara banyak, Jaejoong,” sambil tersenyum.

Jaejoong memelukku dan menangis di bahuku. Kurasa aku bisa mengerti perasaannya. Ketakutan Jaejoong akan Yunho masih ada. Aku bisa melihat itu ketika mereka bersama, tapi lelaki dalam dekapanku ini tak akan kembali bersamaku. Aku bisa merasakan keinginannya untuk tetap tinggal di sisi Yunho, betapapun mengerikannya kemungkinan itu.

Aku membujuk Jaejoong supaya berhenti menangis. Kalau dia bahagia, dia tidak boleh menangis. Dia harus tersenyum. Kuangkat wajahnya, kurangkum kedua pipinya, kucium keningnya, lalu kuhapus air matanya. Jaejoong mengernyit, tapi aku hanya menciumnya lagi di puncak hidung. “Sudah, aku mengerti. Kau bisa tetap tinggal di sini kalau kau mau,” bujukku. Jaejoong malah menangis lebih keras. “Ssshh… Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan?”

“Maafkan aku…” jawab Jaejoong di sela tangisnya. “Maafkan aku meninggalkanmu sendiri. Maafkan aku.”

Bagus, sekarang aku ingat lagi deritaku sendiri dan ingin menangis karenanya. Aku mencoba tersenyum, tapi yang terjadi malah aku menitikkan air mata, “Mau bagaimana lagi, kan? Sudahlah, jangan membuatku tambah sedih…” bisikku serak. Kupertemukan dahiku dan dahi Jaejoong. “Berjanjilah kau akan bahagia. Karena dengan begitu aku tidak merasa sia-sia ditinggalkan sendiri, mm?”

Jaejoong mengangguk. Kami menangis bersamaan. Lama dan tidak bisa berhenti.

Sampai terdengar suara berdeham di belakang kami. Begitu menoleh, aku melihat Yunho, yang sedang menatap Jaejoong dengan khawatir.

~

Changmin berjalan di sebelahku. Yunho berjalan di depan kami, bertumpu pada tongkat sementara di sebelahnya Jaejoong melingkarkan lengannya ke lengan Yunho. Mereka sudah sampai di anak tangga terbawah. Jaejoong mengurai lengannya, lalu dengan sabar menuntun Yunho menaiki anak tangga satu per satu. Yunho mengatakan sesuatu pada Jaejoong yang dari tempatku aku tidak bisa mendengarnya, dan saat itu aku melihat Jaejoong tersenyum. Bukan senyuman paling lebar, paling cerah seperti yang pernah kulihat selama ini, tapi itu senyuman paling penuh cinta yang tak pernah kupikir bisa hadir di wajah Jaejoong. Lalu Yunho berhenti dan menarik Jaejoong mendekat padanya. Satu lengan Yunho melingkari pinggang Jaejoong dan sepertinya dia mengatakan sesuatu karena Jaejoong lalu menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, matanya terbelalak cemas. Kemudian Yunho meletakkan telapak tangan di leher Jaejoong dan lelaki yang lebih muda dengan pasrah mendekatkan kepalanya ke arah Yunho. Mereka berciuman. Mereka berciuman lama dan lembut. Aneh sekali melihatnya karena Yunho tampak tua dan berisi, sementara Jaejoong tampak muda, rapuh dan terlalu kecil dalam lengannya, tapi rasanya seperti lelaki itu memang diciptakan untuk berada dalam dekapan Yunho.

“Jaejoong memang mencintainya,” aku bergumam pada diri sendiri. Pasti ada yang salah dengan otakku kalau aku tidak bisa melihat bagaimana Jaejoong mencintai Yunho.

“Yunho juga mencintai Jaejoong. Sudah kubilang semuanya sudah berubah,” suara Changmin terdengar dekat dari sebelahku. Aku lupa Changmin ada di sana.

“Tapi bagaimana?” memaksakan diri mengalihkan pandangan dari kedua orang itu, aku menoleh pada Changmin. “Bagaimana bisa Jaejoong mencintainya? Bagaimana bisa dia mencintai orang yang sudah menyakitinya? Tadinya aku tidak mengerti kenapa Jaejoong begitu tidak nyaman—sampai histeris—terhadap suara-suara keras atau sikap tubuh yang mengancam, tapi sekarang aku mengerti. Dia trauma, kau tahu? Aku bisa bilang dia trauma akan semua siksaan itu. Dan bagaimana dia bisa tetap mencintai orang yang memberinya siksaan sampai seperti itu?” kunyatakan kebingunganku dalam rentetan pertanyaan.

Changmin mengangkat bahu, tangannya masih di dalam saku. “Aku tidak tahu. Bagaimana mencintai bukan keahlianku, tapi aku kagum pada keberanian Jaejoong kembali ke sini setelah semua kenangan buruk yang dialaminya. Dan aku senang mereka bisa bahagia. Terutama setelah Yunho berubah.”

Yunho dan Jaejoong sudah masuk ke dalam rumah, membiarkan kami di luar. Aku bicara dalam nada yang biasa, “Jelaskan ‘berubah’.”

Changmin menatapku dan aku harus berkedip untuk menenangkan jantungku. “Yunho tidak menyiksa Jaejoong lagi. Bahkan mereka memiliki kamar terpisah sekarang. Dia memperlakukan Jaejoong sebagai manusia, bukan lagi barang milik. Dia menginginkan Jaejoong di sisinya sambil tersenyum, bukan lagi berteriak-teriak kesakitan.”

Aku tahu Changmin hanya mencoba menjelaskan dengan gamblang, tapi aku tidak bisa menahan diri terkesiap saat menyerap apa yang diimplikasikan oleh ucapan Changmin. Dulu, Jaejoong memang disiksa secara fisik.

Changmin meraih bahuku, “Dengar, aku tahu kau menilai Yunho orang yang jahat, tapi percayalah kalau kubilang dia bukan lagi Yunho yang dulu. Memang disayangkan dia baru berubah setelah Jaejoong pergi, tapi toh dia sudah benar-benar berubah. Kau tak perlu mengkhawatirkan Jaejoong. Dia akan baik-baik saja. Kalau ini bisa membuatmu lebih tenang, Jaejoong selalu sangat berharga bagi Yunho. Setelah Jaejoong pergi, Yunho melepaskan semua yang dimilikinya, semua peliharaannya—kalau kau tahu maksudku—dan tidak peduli pada hartanya secuil pun, karena dia sibuk kehilangan Jaejoong. Hari ketika Jaejoong kembali, itu pertama kalinya aku melihat lagi dia tersenyum.” Changmin berhenti lalu bicara lebih hati-hati, “Lebih baik kau pulihkan hatimu sendiri. Kau tak mungkin bersama Jaejoong seberapa banyak pun kau mencintainya.”

Aku tersenyum sedih. “Kau benar. Aku menyayanginya, tapi aku mau dia bahagia.”

Changmin meletakkan tangan di bahuku. “Tenanglah, masih banyak,” dia berhenti dan menarik napas, tatapan matanya tampak jauh saat melanjutkan, “…lelaki lain yang lebih baik dari Jaejoong untukmu.”

Aku mengangguk. Tapi ada yang terasa aneh. Apa… Tunggu… Aku mendongak menatap Changmin, “Apa maksudmu?”

Saat itu pintu terbuka dan Yunho tampak bersandar di sana, “Kalian akan masuk untuk makan?” serunya.

Changmin melepaskan bahuku dan melambai pada Yunho. “Kami akan menyusul sebentar lagi!”

Aku tidak menanggapi, bahkan ketika Yunho menatapku dengan aneh. Aku malah bertanya pada Changmin, “Apa maksudmu tadi dengan…” aku melambaikan tangan berusaha menjelaskan, “… dengan… pria lain?”

“Noona, kau tidak bisa mencintai Jaejoong, sebab Jaejoong mencintai Yunho. Kau harus menemukan orang lain yang tepat untukmu,” Changmin menjawab tanpa memandangku.

Aku memukul lengan Changmin keras-keras, anak itu terlonjak. Dia memelototiku. “Sudah kubilang aku bukan Noona-mu. Sampai kapan kau mau mengabaikan pendapatku?! Dan aku tidak mencintai Jaejoong seperti itu, kau bodoh!”

Changmin tersenyum mengejek.

“Itu benar!” aku berseru. “Aku iba padanya, kasihan padanya, lalu kami berteman dan semuanya berjalan apa adanya. Aku peduli padanya, tapi bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Dia makhluk paling manis sedunia, tapi aku tidak pernah berpikiran romantis tentangnya! Kau tidak akan mengerti…” aku melanjutkan.

Changmin membuang muka.

“Aku hanya membutuhkan seseorang yang tidak menolak kucintai,” aku melanjutkan dengan jauh, jauh lebih pelan. Kali ini Changmin menoleh. Aku tersenyum, kesedihanku kembali. “Ibuku pergi, itu takdir. Lalu ayah datang membawamu dan Ibumu. Aku menyayangi kalian, tapi kalian tetap meninggalkanku, bahkan saat…” aku menggigit bibir mencegah air mataku tumpah.

“Noona,” Changmin membujuk.

“Tidak, Changmin. Tolong jangan panggil aku Noona. Kau sudah menolakku berkali-kali sebagai Noona-mu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya… berusaha menjadi orang asing hanya agar kau tidak pergi dan meninggalkanku benar-benar sendirian. Padahal aku mengira kau sudah menerimaku sejak… sejak…” kita tidur bersama, tapi aku tidak sanggup mengatakannya. Kalau mengatakannya aku tidak yakin aku masih bisa berdiri. Menarik napas dalam-dalam, “Tapi kau tetap pergi… Aku bukan Noona-mu lagi, Changmin. Kita orang asing.” Aku mengatakan itu sambil menatap Changmin lekat, berharap dia tidak melihat sisa-sisa yang tadinya hati di balik tatapanku.

Changmin diam saja. Dia menatapku lama sekali sampai aku jengah sendiri. Aku menunduk. “Apa kita akan masuk dan makan sekarang?”

Changmin tidak menjawab. Aku memutuskan berjalan masuk lebih dulu, tapi dia menahan tanganku, memaksaku berbalik dan menatapnya. Aku tidak bisa menatapnya, jadi kualihkan pandanganku kemana pun yang bukan wajahnya. Atau semua perasaan yang kutahan akan terbongkar. Tidak ada satu pun dari kami yang membutuhkan ledakan perasaanku sekarang.

Satu hal yang kusyukuri dari kepergian Changmin adalah dia tidak meninggalkanku meraba-raba akan apa yang kurasakan. Dia menetapkan batas sejak awal. Dan malam itu, saat aku akhirnya menyerah dalam pelukannya, aku sadar bahwa ada alasan aku tidak benar-benar menolak keinginan Changmin yang tidak mau menganggapku sebagai Noona. Aku mencintainya dengan cara yang lain. Aku hanya tidak menyangka bahwa dia justru akan pergi setelah aku menyerahkan diri. Aku tahu dia tidak bermaksud mempermalukanku atau apa, dia hanya merasa aku tidak cukup berharga untuk ditemani. Mungkin malam itu setelah terbangun dia menyadari apa yang kami perbuat dan menyesali semuanya, karena itu juga mungkin dia memutuskan pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Aku bingung sampai berbulan-bulan sebelum akhirnya sadar bahwa Changmin hanya tidak menginginkanku, sama seperti yang lainnya. Gawat, air mataku mengancam keluar lagi. “Changmin, ayo masuk, aku lapar,” ucapku lemah.

Changmin seperti disadarkan. Dia mengalihkan tatapannya tapi tidak melepaskan tanganku. “Maafkan aku,” katanya. Lucu sekali bagaimana kau diingatkan masih punya hati saat hatimu terasa sakit karena hal sekecil permohonan maaf. Aku tahu Changmin bukan minta maaf karena telah mengulur waktu makan siangku.

“Tidak apa-apa,” aku tersenyum mengerti. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Mungkin aku akan menjual rumah itu dan pergi jalan-jalan. Lalu menemukan lelaki asing yang mau memeliharaku. Hmm, dipelihara lelaki kaya tidak buruk juga…”

Changmin membeku. Aku melihat wajahnya yang mengeras. “Haha,” aku tertawa kering, “Tidak mungkin ya? Mana ada yang mau padaku kan? Sudahlah, ayo makan. Aku lapar.”

Changmin masih tegang, tapi dia menuruti ajakanku dan mulai melangkah masuk. Di pintu aku menahannya, “Tapi mungkin aku serius tentang menjual rumah itu, Changmin. Aku tidak suka memikirkan aku akan tetap di sana sendirian. Jaejoong sudah melanjutkan hidup,” kau juga, “jadi bukankah lebih baik aku melangkah juga? Bagaimana menurutmu? Ah, seharusnya aku tidak bertanya padamu. Sudahlah, jangan dipikirkan,” ujarku sambil berjalan mendahuluinya masuk rumah.

Dan jangan datang lagi karena aku mungkin tak akan ada lagi di sana untuk menemuimu.

~

Berniat memikirkan baik-baik keputusan menjual rumah, aku memilih tidak langsung pulang. Tekadku membereskan rumah terpaksa kutunda. Dari rumah besar Jung aku justru menuju ke arah yang berkebalikan dari arah rumahku. Aku berputar-putar di pusat perbelanjaan, menonton film tiga putaran berturut-turut, menghabiskan uang di arena bermain, pergi karaoke, semuanya sendiri. Begitu kehabisan ide akan apa yang harus kulakukan, waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari.

Hariku terbuang sia-sia, uangku juga, tapi paling tidak aku tidak harus merana sendirian di dalam rumah yang suram.

Aku naik taksi untuk pulang, terlalu malas mencari tahu rute bus malam. Aku memasuki rumah yang gelap dan hampir berteriak kaget melihat sosok seseorang menatapku tajam dari ujung lorong. “Astaga Changmin! Kau membuatku kaget!”

Changmin berdiri menyandar di dinding, menatap pintu dengan galak. Atau sebenarnya dia menatapku? Entahlah, aku tidak peduli. “Dari mana kau?” tanyanya dingin.

Aku menggantung kunciku di gantungan belakang pintu. “Aku? Dari kota.”

“Apa yang kau lakukan jam segini baru pulang?”

Aku menyimpan sepatuku di rak sambil menjawab, “Bersenang-senang. Sudah lama aku tidak jalan-jalan.”

“Apa kau tahu bahayanya perempuan pergi malam-malam sendirian seperti itu? Kau tahu berapa banyak kejadian perkosaan dan perampokan yang korbannya perempuan yang terlalu percaya diri berjalan sendirian di malam hari?”

Aku mendengus. Rasanya kalau aku benar-benar pulang tinggal nama yang tertera dalam kartu pengenal, semuanya akan lebih mudah bagi siapapun. Terutama bagiku.

“Dan kenapa kau belum mengganti kunci rumah sama sekali? Kau harus rutin mengganti kunci rumah setiap tahun! Kau harus mengganti kode alarmmu lebih sering! Kau mau rumahmu dimasuki orang? Kenapa kau tidak menjawabku? Mau kemana kau?” Changmin menarik lenganku dan memaksaku menghadapinya.

Aku berputar kesal, dia membuatku jengkel dengan semua pertanyaannya. Aku menarik lenganku dari cengkeramannya. “Lalu kenapa? Kenapa kalau aku tidak memperbarui sistem alarmku? Kenapa kalau aku tidak mengganti kunciku? Apa urusannya denganmu? Hanya aku yang tinggal di sini. Oh, atau kau lupa kau sudah keluar dari rumah ini bertahun-tahun lalu? Apa perlu kuingatkan? Perlu kuambilkan semua bajumu dari lemari dan kurapikan dalam koper? Agar setelah itu aku bisa mengganti kunciku dan mengganti kode alarmnya. Agar aku tidak perlu berpikir ‘mungkin hari ini Changmin akan pulang’ lalu membatalkan niat mengganti semua kunci? Itu akan lebih mudah sepertinya. Syukurlah kalau kau mau begitu!”

Changmin tercengang. Kami saling berpandangan beberapa saat. “Kau… benar-benar mengharapkanku pulang?” Changmin bertanya.

Aku memelototinya. “TIDAK!” seruku lebih jengkel dari yang kumaksudkan. “Aku tidak mengharapkanmu pulang! Aku tidak menunggumu setiap hari! Aku tidak bertanya-tanya dimana kau! Aku tidak ingin melihatmu lagi di rumah ini! Aku tidak perlahan menjadi gila berpikir bahwa kau memang hanya mau meniduriku lalu membuangku! Aku tidak putus asa sampai memungut gelandangan seperti Jaejoong untuk kurawat hanya agar aku tidak kesepian—“

Changmin meraih lenganku, tapi aku menolaknya. “Fuck you, Changmin! Fuck you!” aku memakinya untuk pertama kalinya seumur hidupku, lalu meninggalkannya sambil membanting pintu kamarku keras-keras.

Membuang kekesalanku dengan dengusan keras, aku membanting tubuh ke tempat tidur. Hal yang kuucapkan sebelum jatuh tertidur adalah, “Fuck you, Changmin.”

~

Aku terbangun karena terang. Ruanganku yang seharusnya gelap sudah dipenuhi sinar matahari. Sesuatu yang jarang terjadi di akhir musim gugur. Aku mengerjapkan mata dan menyadari apa yang membuatku begitu nyaman berbaring. “Hei…” bisikannya terdengar di tengkukku. Lengannya di pinggangku menjadi lebih erat. “Tidurmu nyenyak?” Changmin bertanya lagi menyapaku.

Aku menoleh ke arahnya. Wajah Changmin terlihat mengantuk, tapi dia tersenyum. Suaranya tetap berbisik waktu berkata, “Kau tidak mengunci pintumu semalam, dan aku ingin tidur sambil memelukmu.”

“Sep—“ suaraku serak. Kubersihkan tenggorokanku lalu mengulang apa yang ingin kukatakan, “Seperti dulu?”

Changmin mencium pelipisku, “Seperti dulu,” jawabnya.

Aku membenamkan punggungku lebih dalam ke dadanya yang hangat. Lama kami hanya berdiam diri. Jemariku dan jemarinya saling berinteraksi. Kadang kami saling mengait, terkadang kami menguraikannya agar bisa mengelus buku-buku jari yang lain.

“Aku tidak tahu,” Changmin berbisik.

Aku memandang matanya bertanya.

Changmin mencium pipiku sebelum melanjutkan, “Aku tidak tahu kau mengharapkanku pulang. Aku tidak tahu kau menungguku. Aku mengira kau akan marah padaku setelah malam itu, setelah kita akhirnya tidur bersama. Kau tahu, aku tidak pernah suka memikirkanmu sebagai kakakku, itu karena aku tak mau kau menjadi kakakku. Aku mau kau menjadi milikku, bukan saudara yang akan kuantarkan pada lelaki lain. Aku tidak tahan memikirkanmu mungkin sedang bersama lelaki lain kalau aku datang tiba-tiba, jadi aku memutuskan tidak datang sama sekali.”

Changmin berhenti. Aku berhenti mengelus buku jarinya. Mataku terangkat menatapnya. “Maafkan aku,” bisiknya. “Aku berhutang bertahun-tahun maaf padamu.”

Aku hanya mampu membuka mulut tanpa mampu bicara. Changmin mendekatkan kepalanya hati-hati. Sebelum bibirnya menyentuh bibirku, dia memandangku bertanya, lalu melanjutkan saat aku tak menunjukkan apapun untuk menolaknya.

Ciuman itu hangat dan pelan. Malas dan penuh emosi. Lama dan dalam. Saat akhirnya bibir kami terpisah, Changmin tersenyum, “Selamat pagi,” katanya.

Aku memandangi mulutnya. Sekali lagi rasa itu datang padaku. Dulu aku tidak tahu bahwa rasa itu bisa membuatku sangat kesakitan, tapi herannya sekarang semuanya berbeda. Sesuatu dalam mata Changmin mengusir pergi rasa sakit yang membayang. “Selamat pagi,” balasku.

Changmin menatapku, lalu mencium ujung-ujung jariku. “Jadi, aku boleh pulang?” tanyanya.

Aku merangkulnya, membenamkan wajahku di lehernya. Menariknya pulang. Semoga untuk selamanya.

 

KKEUT.


Iklan