Tag

, , , , ,

Author: Bee
Cast
: DB5K, Aku
Length: 13.231w. Chaptered.
Chapter: #2
Rating/Genre : Adult/Romance, drama
Synopsis: Jaejong is a broken piece of human being and I can’t just ignore him, especially when I’m a broken piece of shit my self.
Warning: yaoi, implied YooSu, implied sexual abuse, implied underage sexual abuse
A/N: This is an AU story. I made Yunho much, much older than he supposed to be.
Url: http://wp.me/p1rQNR-lV

~

Jaejoong senang memasak. Sejak malam itu, Jaejoong bersikap lebih terbuka padaku. Dia masih jarang bicara, tapi saat aku pulang, masakannya selalu siap untukku. Praktis, semua pekerjaan rumah diambil alih oleh Jaejoong, dan karena hobinya memasak, aku jadi punya kebiasaan meninggalkan uang untuknya di kaleng kosong di dapur. Aku masih belum tahu bagaimana hari itu Jaejoong belanja, uang siapa yang dihabiskannya, tapi karena tak pernah ada masalah yang muncul, seperti orang yang tiba-tiba datang menuntut atau sesuatu yang semacam itu, kekhawatiranku perlahan memudar.

Aku berbagi ceritaku dengannya, sementara dia membagi telinganya untuk mendengarkan. Dia berbagi lagunya untukku, dan aku menikmati setiap nada yang dia nyanyikan untukku. Dia begitu manis.

Rumahku sekarang terang karena jendela yang rutin dibuka oleh Jaejoong. Dia membuka semua lubang ventilasi yang ada, membersihkan setiap sudut dengan rajin. Aku menyadari bahwa pada dasarnya, Jaejoong adalah manusia yang sempurna meski ada sesuatu yang gelap membayangi masa lalunya. Tapi aku tidak mau tahu. Kalau Jaejoong tidak mau menceritakannya padaku, maka aku tak akan bertanya.

Suatu minggu siang menjelang musim gugur, aku membantu Jaejoong membersihkan rumah. Kami tidak mau rumah kami lembab saat memasuki musim yang identik dengan kesuraman itu. Di depan kamar Changmin, Jaejoong berhenti. Selama ini aku selalu memperingatkannya agar jangan pernah memasuki kamar Changmin, itu sebabnya dia tidur di sofa—dan aku tidak pernah menjelaskan lebih jauh, tapi kali ini dia memilih bertanya.

Menghargai usahanya bertanya, aku berkata padanya, “Ini kamar temanku. Aku tidak tahu kapan dia kembali,” kalau dia mau kembali, “Tapi dia tidak suka kalau ada orang yang belum dikenalnya memasuki kamarnya.” Jaejoong mengangguk dan pergi meninggalkanku sendiri.

Aku memasuki kamar Changmin dan hidungku menangkap bau apek udara. Tersenyum sedikit, aku melangkah ke arah jendela, membukanya dan hampir keceplosan mengatakan sesuatu sampai aku ingat Changmin tidak ada di sana. Suara mesin penyedot debu terdengar dari luar dan aku tahu Jaejoong ada bersamaku, tapi ingatan tentang Changmin selalu cepat menguasai pikiran dan emosiku. Lelaki itu menang sekali lagi. Saat aku mendongak dan melihat awan abu-abu yang berarak di langit, hatiku melanggar janji untuk tidak bertanya, kau dimana, Changmin-a?

~

Jaejoong dalam masalah. Jarakku darinya masih lima puluh meter, tapi aku mengenali Jaejoong yang sedang berjuang melawan cengkeraman seorang lelaki. Mereka bergelut dan aku bisa melihat Jaejoong sudah hampir kalah diseret oleh lelaki itu kalau saja sesuatu di tangannya tidak melayang tepat ke kepala pemaksanya. “Jaejoong!” aku berseru mengkhawatirkan Jaejoong.

Mereka berdua tidak melihat ataupun mendengarku yang berlari tergopoh-gopoh mendekat. Lelaki itu menunduk berjongkok sambil memegangi kepalanya yang dihantam oleh Jaejoong. Semakin dekat, aku sadar bahwa Jaejoong baru saja menghantam orang itu dengan kantong sampah. Aku ingat, di dalamnya ada kaleng bir bekas kami semalam. Tidak banyak, maka Jaejoong memilih memasukkannya ke dalam kantong sampah sebelum dipisah-pisahkan di tempat pengumpulan sampah. Kepala orang itu pasti sakit sekali sekarang.

“Jaejoong, ada apa?” aku bertanya padanya dan Jaejoong melemparkan kantong di tangannya ke tempat sampah terdekat kemudian menarik tanganku menuju rumah. Dari getaran di tanganku, aku tahu Jaejoong merasa sangat terganggu dengan orang itu.

“Jaejoong ssi, tunggu!” terdengar suara orang itu memanggil.

Aku langsung meremang mendengar suara itu. Melawan detak jantung yang mendadak berlompatan, aku menoleh dan berhenti tiba-tiba, memotong panggilan orang itu pada Jaejoong dan membuat Jaejoong terpental karena tarikannya tiba-tiba berhenti.

Jaejoong menoleh dan menarikku lebih keras, tapi aku bertahan di tempatku, menatap orang itu yang sekarang juga sedang menatapku dengan mulut terbuka. Dia lebih dulu menguasai keadaan. “Hai—“ sapanya menggantung di udara.

Jaejoong berhenti menarik tanganku dan aku baru sadar aku menjawab sapaannya setelah mendengar suaraku sendiri berakhir, “Hai, Changmin…”

~

“Aku datang untuk menjemput Jaejoong ssi,” aku memperhatikan bibir Changmin bergerak. Jaejoong bersembunyi di dapur. Dia membenciku karena membiarkan Changmin masuk ke dalam rumah.

Aku membuka mulut, “Ada hubungan apa kau dengan Jaejoong?”

Wajah Changmin mengeras, tapi aku bergeming. Kalau dia mau mengambil Jaejoong dariku, aku harus tahu alasannya. Lalu ketegangannya mengendur. “Ini urusan pekerjaan,” jawabnya seolah itu menjawab semuanya.

“Pekerjaan seperti apa?” aku mendesak.

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Ini menyangkut klienku,” Changmin menjawab kaku.

“Kalau Jaejoong menolak pergi denganmu, aku tidak bisa mengijinkanmu membawanya pergi. Dia bersamaku sekarang, dan itu berarti dia tanggung jawabku.”

Changmin menyisir rambutnya dengan tangan. “Sial. Tolong jangan mempersulitku. Apapun yang kau katakan, kau tidak lebih berhak dari klienku atas Jaejoong.”

Aku mengangkat alis. “Jadi sebenarnya kau atau klienmu yang menginginkan Jaejoong?”

Changmin menatapku sambil menyipitkan mata. “Baiklah,” ujarnya menyerah. “Baiklah, kau menang. Akan kuceritakan yang bisa kuceritakan, tapi biarkan Jaejoong ikut denganku.”

“Itu hanya bisa diputuskan oleh Jaejoong.”

“Kau!” Changmin hampir kelepasan emosi, tapi dia melihat wajahku yang datar, jadi dia langsung menguasai diri. Dia menarik napas, “Aku tidak bermaksud mengganggumu.”

Kugigit bagian dalam pipiku untuk mencegahku mengatakan apapun. Jaejoong adalah apa yang harus kami bicarakan. Dulu sekali Changmin memutuskan bahwa tidak ada yang bisa dipercakapkan di antara kami, dan dengan itu perlahan dia memilih pergi. Sekarang, berpegang pada keputusannya dulu, aku menjaga diri sekuat tenaga untuk hanya mempertahankan Jaejoong sebagai bahan pembicaraan kami. Ini mulai membuatku lelah karena tertekan. Bertemu dengannya membuatku lelah sekaligus tertekan.

Changmin tampak putus asa melihatku diam saja, lalu dia bicara, “Klienku adalah pemilik sah Jaejoong—“ Changmin mengangkat tangannya mencegahku bicara, “Aku tahu Jaejoong bukan peliharaan. Secara hukum, dia adalah keluarga angkat Jaejoong. Dan sekarang ada urusan keluarga yang harus mereka selesaikan. Jaejoong harus kembali.”

Aku diam selama beberapa saat. Melihat Changmin tidak terlihat hendak melanjutkan, aku bertanya, “Itu saja?”

Rahang Changmin mengeras. “Itu saja yang bisa kuberitahukan padamu.”

“Kenapa sekarang? Kemana dia sebelum ini?” aku bertanya dingin. Bagaimanapun, kalau seseorang bisa menjadi klien Changmin, orang itu punya cukup banyak uang. Changmin bukan pengacara sembarangan meski dia tidak tergabung di firma hukum manapun. Kehidupannya dipenuhi rahasia-rahasia kelam kliennya yang punya terlalu banyak uang. Mereka menyewa Changmin, pengacara legal yang lihai dan mempercayakan kelangsungan semua harta mereka di tangannya. Kalau salah satu klien Changmin adalah keluarga Jaejoong, kenapa lelaki itu mengemis?

Changmin menarik napas. “Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Kau tahu aku tidak bisa—“

“Aku tidak tahu.” Changmin menatapku tajam jadi aku melanjutkan, “Aku tidak pernah tahu apapun yang tidak kau bicarakan.” Dan kau bicara sedikit sekali.

Changmin berkedip. Aku melihat kilasan emosi di matanya, tapi sebentar sekali. “Tolonglah, panggilkan Jaejoong. Dia yang paling kubutuhkan saat ini.”

“Entahlah,” aku menjawab ragu. Jaejoong tidak suka pada Changmin, itu pasti. Histerianya muncul lagi begitu bertemu Changmin, meski tidak separah saat di dapur malam itu.

“Aku berjanji tidak akan melukai atau memaksanya. Aku hanya perlu bicara dengannya.”

Aku memandang Changmin ragu, lalu melihat janji di matanya, aku mengangguk.

Aku menuju dapur dan menemukan Jaejoong di pojok ruangan, berjongkok memeluk lutut. Aku berlutut di hadapannya. “Hei…” panggilku. “Dia ingin bicara denganmu, kau mau menemuinya?” aku bertanya pada Jaejoong. Pandangan matanya memperingatkanku bahwa dia sudah setengah berada dalam dunianya sendiri. Aku duduk bersila di hadapannya. “Jaejoong, dia ingin bicara denganmu. Dia berjanji padaku kalian hanya akan bicara, dia tidak akan memaksamu. Aku kenal padanya, dia sungguh-sungguh.”

Jaejoong menggeleng-geleng kasar. Matanya ketakutan.

Kuselipkan tanganku ke sela rambutnya. Ini, kuperhatikan, adalah salah satu cara yang bisa kulakukan untuk membuatnya terfokus padaku. “Hei, Jaejoong… Apa kau kenal Changmin?”

Jaejoong menatapku lama lalu mengangguk. Aku tersenyum. “Kau benci Changmin?”

“Takut,” hanya itu jawabnya.

“Changmin tidak menakutkan,” jawabku setengah berbohong. Dia menakutkan. Dia mengosongkan sesuatu dalam hidupku. Dan jujur aku takut dia akan kembali melakukan hal yang sama dengan membawa Jaejoong pergi.

Jaejoong menggeleng, “Changmin tidak menakutkan, tapi Yunho menakutkan.”

Mulutku terbuka. Jaejoong menangis sekarang. Dalam isaknya aku mendengar kata master, entah apa maksudnya. Jaejoong menyembunyikan wajahnya dalam kedua tangan dan aku tahu, aku tak bisa lagi bicara dengannya. “Akan kukatakan pada Changmin bahwa kau tidak mau pergi bersamanya,” akhirnya aku memutuskan.

Ketika aku berdiri dan berbalik, jantungku melonjak kaget melihat Changmin berdiri di pintu dapur mengamati kami berdua. Aku tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikirannya, tapi itu bukan hal yang menyenangkan, terlihat dari ekspresinya.

Meski tidak suka harus menyentuh Changmin, aku tetap melakukannya untuk mendorong anak itu keluar dapur. Kembali ke tempat kami duduk, aku bertanya padanya, “Kau sudah mendengar semuanya?” Changmin mengangguk kaku. “Kalau begitu pergilah.”

Changmin menatapku lama sekali, lalu dia bangun. Sebelum berjalan ke pintu, dia berkata, “Besok aku akan datang lagi.”

Aku tak sempat mengatakan jangan datang padanya sebab dia sudah keluar dan pergi. Begitu cepat.

Malam itu, aku tidur di sofa sambil memeluk Jaejoong. Tubuhnya meringkuk melingkar padaku dan aku sempat kesulitan melepaskan diri bahkan saat aku harus ke kamar mandi. Jaejoong tertidur, tapi aku tahu tidurnya terganggu dari erangan-erangan mimpi buruk yang datang dan pergi. Aku hanya mampu membelai kepalanya saat mimpi buruknya datang, berharap dia tahu aku ada di sisinya.

~

Changmin terus mendatangi kami selama beberapa hari berikutnya. Jaejoong langsung mengunci pintu setiap kali aku pergi. Dia tidak membukakan pintu bagi siapapun kecuali mendengar suaraku memanggilnya. Akibatnya, selama dua malam berturut-turut kami hanya makan ramen. Malam berikutnya aku ingat untuk membeli roti untuk kami berdua.

Sampai di depan rumah, aku mengibaskan mantelku yang terguyur hujan dingin. Aku tidak melihat Changmin sampai aku berbelok dan menemukan sosoknya menggigil di sudut taman yang agak terlindung. Changmin lelaki yang hebat, tapi dia mudah terserang penyakit ringan seperti flu dan batuk. Saat itu terjadi, Changmin akan terus tenggelam dalam kekesalannya karena tidak bisa bekerja dengan produktif.

Kupandangi pintu masuk dan wajah Jaejoong yang dibayangi kecemasan terbayang dengan mudah, maka aku mengabaikan keinginanku memanggil Changmin dan alih-alih mengetuk pintu sambil memanggil nama Jaejoong. Jaejoong membukakan pintu dan aku segera disambut rumah berpenghangat.

Kami duduk berdua di depan televisi, meringkuk saling merapatkan diri dengan secangkir gelas di tangan. Acara lagu-lagu terputar di televisi. Jaejoong menikmati itu. Aku juga, kalau saja aku tidak terus teringat pada Changmin. Aku berdiri dan bilang pada Jaejoong bahwa aku mau ke kamar mandi. Dari jendela antara ruang televisi dan kamar mandi, aku menoleh keluar, berusaha melihat apa yang sedang dilakukan Changmin.

Hatiku tercekat. Changmin menggigil di tempatnya. Dia sekarang duduk, kepalanya disandarkan pada salah satu pilar rumah. Udara sudah semakin dingin, tentu saja kehujanan dan berada di luar rumah akan menambah dingin temperatur tubuh. Changmin akan sakit kalau terus berada di sana. Kuputar langkahku ke arah dapur, menyiapkan kopi untuk Changmin. Masih jelas dalam ingatanku kopi seperti apa yang jadi kesukaannya. Setelah selesai, aku keluar diam-diam.

Changmin menatapku sesaat kemudian tangannya terulur mengambil cangkir kopi yang kuarahkan padanya. Bibirnya menyungging senyum tipis. “Terima kasih,” ujarnya.

Aku tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di sebelahnya. Kami tidak bicara, tidak berusaha bicara. Sampai akhirnya kopi di tangan Changmin habis dan dia menyerahkannya kembali padaku. “Terima kasih…” tangan Changmin menyentuh tanganku.

“Kau panas,” nadaku langsung awas. Tangan Changmin panas sekali.

“Karena habis memegang cangkir panas,” jawabnya. Tapi terlambat, sebab aku sudah meletakkan tanganku di dahinya. Changmin sepanas cangkir kopi yang tadi kuberikan padanya.

“Ayo masuk,” aku menarik tangannya.

“Jaejoong…”

“Ini rumah ki—ku,” aku meralat cepat. Bukan rumah kami lagi, ini rumahku sekarang.

Di dalam rumah, aku tidak mempedulikan Jaejoong yang menatapku seolah aku sudah mengkhianatinya saat dia melihat aku menggandeng tangan Changmin. Aku sibuk melepaskan mantel Changmin dan membantunya melepaskan sepatu saat Changmin berkata, “Maaf, dia memaksaku masuk.” Changmin berkata pada Jaejoong.

Jaejoong menjauh sejauh-jauhnya dari Changmin saat kami memasuki rumah. Aku menuntun Changmin dan mendorongnya ke kamar. “Masuk kamar, ganti bajumu. Masih ada beberapa bajumu di sana, sebagian sudah kuberikan pada Jaejoong, tapi aku yakin masih ada yang bisa kau pakai di sana. Aku akan mengambilkan handuk untuk mengeringkan rambutmu.” Jaejoong terus menatap kami sementara aku mengurusi Changmin. Changmin berusaha mengatakan sesuatu, tapi aku menyela, “Turuti saja apa kataku. Aku akan mengambilkan makanan untukmu lalu kau harus minum obat. Kau akan tidur malam ini, Shim Changmin.”

Aku menyiapkan secangkir teh herbal untuk Changmin. Dia tidak suka, tapi biasanya setelah meminum itu dia akan lebih mudah tidur. Kuraih obat dari kotak obat di kamar mandi lalu menyambar handuk bersih sebelum kembali ke kamar Changmin. Jaejoong dengan cepat terlupa dari ingatanku yang sedang khawatir pada Changmin.

Ketika membuka pintu kamar, Changmin sedang berdiri di depan lemarinya, mengamati isi di dalamnya yang sudah banyak berkurang. Tubuh bagian atasnya terbuka, sementara celana panjangnya yang basah masih melekat di pahanya. “Apa yang kau lakukan?” aku bertanya dengan nada tinggi. Kupikir dia sudah berganti baju dan sudah menyusup di bawah selimutnya. Aku mendatangi lemarinya dan mengeluarkan sepasang piyama miliknya yang paling nyaman dipakai. “Pakai ini, cepat ganti bajumu atau kau akan tambah sakit.”

Aku mendengar Changmin terkikik pelan. “O…” jawabnya sengaja mengejekku. Lalu dia berganti baju tanpa mempedulikan keberadaanku di sana.

Aku memunggunginya untuk menata tempat tidurnya agar dia bisa segera berbaring. Aku mengoceh tentang membersihkan kamarnya yang rutin kulakukan, tentang kamarnya yang bau pengap, tentang lemarinya yang selalu kubuka setiap ada kesempatan agar jamur tidak bersarang di dalamnya. Lalu saat dia duduk di ranjang, aku menyodorkan teh herbal ke arahnya. “Minum ini dulu, aku akan mengambilkan sesuatu untuk kau makan—“ Changmin meminum teh herbalnya cepat-cepat lalu mengernyit. Aku tersenyum.

Aku hampir bisa dibilang mengharapkan mendengar keluhannya tentang rasa teh herbal yang tidak pernah disukainya. Yah, aku harus berhenti berharap. Aku beranjak dari sisinya untuk mengambilkan makanan hanya untuk ditarik lagi olehnya. Dia membawaku tiduran di kasur, aku jatuh menimpanya. “Tidak usah. Di sini saja, tunggui aku tidur. Aku akan baik-baik saja saat bangun nanti…” ujarnya mengambang.

Aku menegang kaku. Aku selalu menemaninya tidur saat dia sakit. Selalu. Dan Changmin biasanya tidak pernah melepaskan tanganku.

Changmin bergerak dan saat hidungnya menyentuh leherku, bulu halus di lenganku meremang. Kudengar Changmin menggumam, “Mmm, baumu enak, Noona.”

Lalu dengkuran. Changmin sudah tidur.

~

Aku keluar dari kamar Changmin dan mendapati Jaejoong menatap pintu kamar Changmin dengan tatapan menuduh. Matanya terluka, dia penasaran, tapi kesal. Kulemparkan sembarangan handuk yang tadi kubawa tapi tidak jadi dipakai, dan melangkah mendekati Jaejoong. Jaejoong menegang. “Jaejoong…” aku memanggilnya membujuk.

Jaejoong bergeming. “Jaejoong, dia tidak akan membawamu, percayalah.”

Jaejoong beringsut tidak percaya, menghindar dari sentuhan tanganku. Mulutnya menipis cemas. “Jaejoong,” aku berlutut di hadapannya. Kuletakkan tanganku di lutut Jaejoong dan menatap matanya sungguh-sungguh. “Aku tidak bisa membiarkannya di luar sana. Badannya panas. Changmin mudah sakit. Aku tidak bisa membiarkannya seperti aku tidak bisa membiarkanmu…”

Jaejoong menatapku. Aku membujuknya dengan senyuman. Kali ini saat aku mengulurkan tangan menyentuh pipinya, dia tidak menolak. Aku berdiri perlahan, membawa kedua tangannya bersamaku. “Tenanglah, kau tidak akan dibawa kemana-mana…” aku mencium tangannya. Jaejoong mengedip lalu menarikku dan memeluk pinggangku. Aku tersenyum di atas kepalanya yang sekarang menyandar di perutku. “Kau tidak akan kemana-mana, Jaejoong. Tidak akan kemana-mana…”

Malam itu, aku kembali tertidur di sofa.

~

Tengah malam, aku terbangun karena sesuatu. Aku tidak tahu apa, tapi aku terbangun begitu saja. Saat menoleh, aku melihat Jaejoong sedang menatapku. “Mmhei… ada apa?” tanyaku dengan mengantuk.

Jaejoong mengeratkan pelukannya di pinggangku. Dia menyembunyikan wajah di bahuku. “Kau baik-baik saja?” aku bertanya lagi.

Jaejoong tidak menjawab. Kupikir dia sudah kembali tidur, makanya aku terkejut mendengar suaranya berbisik, “Apa dia baik-baik saja?”

Aku menjauhkan wajah Jaejoong dari bahuku. Aku menatap wajahnya lama sebelum menjawab. “Siapa? Changmin?”

Jaejoong mengangguk.

Aku memikirkan jawabanku. “Dia bilang dia akan baik-baik saja setelah bangun. Mungkin aku harus mengecek keadaannya,” ujarku sambil bangun.

Jaejoong meraih tanganku dan ikut berdiri. Aku menoleh dan tersenyum. Kueratkan genggamanku dan menariknya bersamaku ke kamar Changmin. Di pintu sesaat dia meragu, tapi aku menariknya masuk dan dia menurut. Di tempat tidur, Changmin tidur dengan selimut tersingkap. Kubenarkan letak selimutnya dan mengelap keringat yang muncul di dahinya. Panasnya sudah turun. Aku senang dia berkeringat. “Panasnya sudah turun,” kataku lebih pada diri sendiri.

Changmin tidak bergerak, tapi Jaejoong bergerak, mendekatiku dari belakang. Aku menoleh padanya dan meraih tangannya lagi dan membawanya keluar. “Ayo. Biarkan dia tidur.” Jaejoong hanya mengikutiku tanpa bicara.

“Kau mau tidur lagi? Atau aku perlu membuatkanmu minuman?” tanyaku tepat di luar kamar Changmin.

Jaejoong menatapku lalu bertanya, “Ini kamar Changmin?”

Mataku melebar. Perlukah Jaejoong tahu? Tapi tidak ada buruknya juga kalau dia tahu. Aku tersenyum padanya dan membawanya menuju dapur. “Kubuatkan kau minuman. Ayo…”

~

“Changmin adikku. Adik tiriku,” aku menggenggam cangkirku erat-erat. “Ayahku dan ibunya menikah saat kami kecil. Mereka meninggal karena kecelakaan pesawat saat kami remaja dan meninggalkan rumah ini untukku. Ini rumah ayahku dan dia belum sempat merubah wasiatnya. Changmin hanya mendapat harta warisan ibunya. Sejak itu kami berubah. Dia tidak mau mengakuiku sebagai kakak, kepada semua orang dia bilang kami hanya teman serumah. Dia tidak menjelaskan apapun padaku, tapi hubungan kami agak rumit sejak saat itu.”

Jaejoong memandangku dalam diam. Aku melanjutkan, “Bagiku dia seperti adik. Kadang-kadang. Di saat yang lain dia benar-benar seperti teman serumah. Dia bahkan membayar uang sewa padaku setelah mendapat kerja sambilan.”

Kusesap minumanku. “Dan beberapa tahun yang lalu dia keluar dari rumah ini. Keluar begitu saja, tidak mengatakan apapun, tidak membawa apapun kecuali komputernya.”

Kutatap Jaejoong. Dia balas menatapku. Kami terdiam sampai lama sekali. Lalu Jaejoong menghabiskan minumannya, menaruh cangkirnya di tempat cuci piring, dan berlalu keluar dari dapur.

Aku tinggal di dapur, tidak punya niat tidur lagi. Penjelasanku terlalu singkat, bukan? Tapi aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Memang itulah yang terjadi. Changmin menolak bersamaku… setelah bersamaku. Itu tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi. Aku tidak akan mengatakan detilnya pada siapapun, termasuk pada Jaejoong. Apa yang ada antara aku dan Changmin tidak akan baik untuk didengar siapapun.

Aku masuk ke kamarku sendiri saat matahari hampir saatnya muncul. Melewati sofa, aku tahu Jaejoong tidak benar-benar tidur, tapi aku juga tidak mengatakan apapun. Hanya melewatinya.

~

“Yunho sakit, Jaejoong-a… Dia ingin kau kembali. Aku janji dia sudah berubah sekarang. Dia hanya ingin melihatmu lagi sebelum… Pokoknya kurasa kau lebih baik pulang.” Changmin bicara pelan pada Jaejoong. Dari pintu kamar aku melihat mereka duduk bersisian. Jaejoong berusaha menjauhkan tubuhnya dari Changmin tapi lelaki itu merangkul pundak Jaejoong erat, tidak melepaskannya. Mereka tidak menyadari aku sudah bangun dan sedang memperhatikan punggung mereka.

Jaejoong tidak berkata apapun. “Jaejoong…” Changmin berusaha membujuk lagi. “Aku akan melindungimu. Yunho tidak akan melakukan apapun lagi padamu,” Changmin berhenti lalu melanjutkan seperti sedang bicara pada dirinya sendiri, “Bukannya dia bisa melakukan apa-apa lagi.” Changmin menoleh pada Jaejoong, “Percaya atau tidak, dia merindukanmu, Jae…”

Jaejoong menoleh dan kali itu aku melihat emosi nyata melintas di matanya yang dingin. Dia berkata marah pada Changmin, “Maksudmu merindukan tubuhku? Merindukan teriakanku?!”

Changmin melepaskan Jaejoong, menyisirkan jemari ke rambutnya sendiri. “Dia tidak akan melakukannya. Tidak lagi. Percayalah padaku,” Changmin berkata frustasi.

Jaejoong menjauh dari Changmin. “Aku tidak percaya padamu,” ujarnya tegas tanpa keraguan sedikit pun.

Changmin mendongakkan kepala dan saat itu dia melihatku. Aku menurunkan lengan yang kusilangkan di depan dada lalu berjalan ke arah dapur. “Kalian ingin sarapan?” tanyaku tanpa berhenti.

~

Changmin pergi siang hari. Jaejoong membiarkanku mengantarnya ke pintu. Setelah memberi janjinya untuk datang lagi, Changmin pergi. Aku masuk kembali ke dalam untuk bersiap-siap ke toko. Jaejoong sudah berdiri di ruang tengah dan berpakaian rapi. Kami lalu pergi ke toko bersama.

Itu terus berlangsung selama beberapa hari. Jaejoong mengikutiku kemana pun aku pergi. Dia menghindari Changmin, aku tahu. Dan Changmin tidak mendatangiku di toko sama sekali. Aku tidak pernah bertanya pada Jaejoong kenapa dia tidak mau menemui Yunho, siapapun Yunho itu, ataupun kenapa dia tidak percaya pada Changmin. Seandainya aku bukan aku yang sekarang, aku juga tidak akan percaya pada Changmin. Lelaki itu terlalu berbahaya untuk dipercaya. Sayangnya aku tidak bisa tidak percaya pada Changmin.

Suatu sore saat hujan lebat turun, aku dan Jaejoong pulang sambil berlarian membawa belanjaan kami untuk makan malam. Kami masuk ke dalam rumah dan Jaejoong kesulitan menemukan baju ganti karena akhir-akhir ini dia tidak mencuci pakaian. Aku berseru dari kamarku supaya dia mengambil baju dari lemari Changmin. Sekarang, saat Changmin sudah kembali—pernah kembali—ke rumah, aku rasa tidak masalah Jaejoong memasuki kamarnya.

Saat aku keluar, Jaejoong belum juga keluar dari kamar Changmin. Aku menyusulnya ke sana. Dia hanya memakai celana, baju atasannya yang basah tergeletak di lantai. “Jaejoong?” panggilku.

Jaejoong tidak menoleh, kepala menunduk menatap sesuatu di tangannya. Aku mendekat dan tercekat. Itu sebuah foto. Aku dan Changmin. Aku ingat saat itu, tapi tidak tahu Changmin memotret momen itu. Aku tampak tidur, wajah Changmin dekat sekali dengan wajahku. Yang sebenarnya, aku hanya pura-pura tidur, dan Changmin baru saja menciumku diam-diam.

Jaejoong menatapku. Aku mengambil foto di tangannya. “Cepat ganti bajumu, aku tidak mau kau sakit.” Suaraku tidak lebih dari bisikan.

Jaejoong menurut dan mengganti bajunya di belakangku. Aku menyimpan foto di tanganku ke dalam salah satu laci di meja di samping tempat tidur Changmin. Aku tidak tahu dimana Jaejoong menemukannya, tapi aku akan meninggalkan gambar itu tetap di dalam kamar. Aku berbalik tepat saat Jaejoong sedang menarik celananya.

Aku terkesiap. Bukan karena tubuhnya yang terbuka, tapi karena sesuatu di kulit Jaejoong, tepatnya di daerah di bawah bulatan bokongnya. Sepotong nama tertera di sana, Yunho. Pikiran-pikiran buruk langsung melintas di kepalaku menyadari apa yang kulihat. “Jaejoong…” panggilku setelah Jaejoong mengenakan celananya dengan benar.

Jaejoong berbalik. Aku menatap matanya, “Siapa Yunho?”

~

Yunho memelihara Jaejoong. Aku pernah mendengar tentang Jung Corp. Tidak heran kalau Changmin bekerja untuk mereka. Itu perusahaan mapan berkelas nasional. Yunho saat ini adalah pemiliknya. Jaejoong dan adiknya, Junsu, yang dijual oleh orang tua mereka saat remaja, dibeli oleh salah satu sahabat Yunho, Park Yoochun. Junsu jatuh ke tangan Yoochun, sementara Yunho memiliki Jaejoong.

Secara hukum, Jaejoong adalah adik angkat Yunho. Jaejoong bersekolah secara privat, dan membayar dengan tubuhnya pada Yunho. Selama bertahun-tahun, Jaejoong bertahan dengan berpegang pada janji Yunho yang mengatakan bahwa suatu saat dia akan dipertemukan kembali dengan Junsu. Namun ketika Yoochun mengajak Junsu liburan entah kemana dan pesawat mereka mengalami kecelakaan, Jaejoong kabur dari Yunho. Jaejoong hanya tahu Junsu sudah mati bersama Yoochun.

Yunho bukan orang baik-baik. Dia sudah berumur hampir tiga puluh ketika meniduri Jaejoong yang waktu itu baru berusia lima belas tahun. Sekarang Yunho sudah bercerai, tapi saat itu dia masih menikah dengan seorang wanita yang belakangan terpergok selingkuh oleh wartawan. Itulah sebab perceraian lelaki kaya itu. Yunho tidak menikah lagi sejak itu, tapi dia mempertahankan Jaejoong, mengeksplotasinya, menyiksanya.

Master, begitu Jaejoong memanggil Yunho, menandai Jaejoong dengan tato permanen yang ada di bokongnya sejak hari pertama Jaejoong tiba di rumah Yunho.

Jaejoong tidak menceritakan semuanya padaku. Dia hanya menjawab semua pertanyaanku. Dia duduk dengan punggung tegak dan mata hampir kosong. Aku menggenggam tangannya dan memastikannya untuk tetap bersamaku saat dia hampir jatuh dalam isolasi diri.

“Aku tidak mau kembali,” Jaejoong berkata kering. Matanya menatap lurus ke depan.

Saat itu jam dinding di atas televisi berpendar menujukkan angka tiga. Pukul tiga dini hari, aku selesai mendengarkan kisah hidup paling mengerikan yang bisa kubayangkan.

~

Changmin datang ke toko. Setelah lebih kurang dua minggu aku tak pernah melihatnya lagi, Changmin tiba-tiba muncul di toko, mengajakku bicara.

“Aku harus menjemput Jaejoong. Klienku membutuhkannya.”

Kali ini tanpa berpikir apapun lagi, aku menjawab tegas, “Tidak.”

“Noona,” Changmin memulai.

“Jangan memanggilku Noona. Terserah kau mau bekerja untuk orang sejahat apapun, aku tak akan membiarkan Jaejoong dekat-dekat dengan Jung Yunho. Menjauhlah dari kami, Changmin,” aku berkata tegas.

Changmin tampak kaget mendengar aku menyebutkan nama Yunho. “Kau tidak mengerti. Yunho ssi membutuhkan Jaejoong.”

“Untuk apa? Untuk dibunuh?” aku berbisik dengan gigi terkatup. Jaejoong sedang duduk mengamati kami di kursi tunggu.

Changmin menarik napas panjang. “Bukan. Yunho ingin Jaejoong ada di sisinya.”

“Begitu ya? Kalau begitu harusnya dia berpikir dua kali sebelum membuat Jaejoong tak ingin lagi berada di sisinya.”

“Noona, kau tidak tahu apapun,” Changmin mulai jengkel.

“Aku tahu cukup banyak bahwa Jaejoong memilih melarikan diri dari lelaki kejam itu. Dan sudah kubilang jangan panggil aku Noona.”

Seorang pelanggan masuk. Aku memanfaatkan itu untuk mengusir Changmin dengan diam. Changmin pergi, tapi tidak sebelum menghampiri Jaejoong dan membisikkan sesuatu padanya.

~

Jaejoong gelisah. Changmin masih mendatangi kami beberapa kali dan dia berhasil bicara pada Jaejoong setiap kali. Aku tidak pernah mengira bahwa Changmin akan mampu membuat Jaejoong demikian tegang. Suatu ketika Jaejoong memutuskan tinggal di rumah, tapi saat aku kembali, aku menemukan Jaejoong tidak melakukan apapun kecuali termenung di sofa. Televisi menyala, cucian menumpuk, bahkan sisa sarapan pagi hari masih berserakan di meja dapur.

Aku membereskan rumah dalam diam. Membuatkan makan malam untuk kami berdua, lalu memanggil Jaejoong untuk makan malam. Selama makan aku tidak menanyakan apapun padanya. Rupanya dia benar-benar sedang memikirkan sesuatu sampai dia hanya meninggalkan meja begitu piringnya kosong. Aku menghela napas panjang dan membereskan dapur sendirian.

Malam itu terakhir kalinya aku mengucapkan selamat malam pada Jaejoong.

 

-cut-


Iklan