Tag

,

Author: BeeNim
Pairing: Heechul-kau (OC)
Length : 1,470w. Oneshot
Rating/Genre: AA-PG/slice of life-
Synopsis: Kim Heechul punya kebiasaan buruk mencium semua orang.
Ost: Little Love by Aaron
A.N.: Open your mind while you read this, okay?
http://wp.me/p1rQNR-n9

~

Dia menarik tengkukmu dan menempelkan bibirnya di bibirmu. Hangat, lunak dan kering, begitu kau rasa bibirnya di atasmu. Tapi bukan rasanya yang mempengaruhimu. Kekurangajarannya menciummu tanpa ijin, kelancangannya menguasai bibirmulah yang membuatmu terjun dari tepi batas. Kau menamparnya. Keras. Kau lihat keterkejutan dan kemarahan di matanya. Yah, dia harus tahu kalau kau juga marah.

Dia menahan rahangmu kuat. Kau tak bisa berkutik. Saat bibirnya menempel di bibirmu, kau menjerit marah. Kau benci sekali sifatnya yang satu itu. Entah kenapa dia bisa punya hobi mencium orang. Padahal kalian bukan apa-apa. Padahal kau tak lebih dari cewek yang membantunya berpakaian sebelum naik pentas. Padahal dia tidak lebih dari pekerjaan untukmu. Tapi sekali lagi dia berhasil mencuri ciuman darimu. Adik-adiknya mungkin sudah terbiasa dengan kelakuannya, tapi kau tak akan pernah bisa menerima perlakuannya ini. Bibirnya menempel di bibirmu sedetik lebih lama dari ciuman sebelumnya. Kali ini pipinya kena tamparanmu saat bibir kalian masih menempel.

Kau mengutuk siapapun yang menciptakan pepero game. Kau mengutuk Ryeowook yang dengan bersemangat memulai permainan itu saat kalian sedang minum-minum. Kau mengutuk anggota Super Junior lain yang dengan tanpa merasa bersalah justru menyoraki kalian sementara kau sudah ingin menarik bibirmu lepas dari biskuti panjang yang menghubungkan mulutmu dengan mulutnya. Sayang dia justru mencengkerammu kuat-kuat agar tidak menjauh. Terkutuklah jiwanya yang benci kalah, terkutuklah bibirnya yang menyantap bibirmu dan merebut potongan pepero terakhir ke dalam mulutnya. Kau tak bisa menamparnya lagi. Kau terlalu marah untuk itu. Tubuhmu gemetar. Tidak, tentu saja kau tidak gemetar karena lidahnya yang tidak sengaja menyentuh gigi-gigi depanmu.

Matamu berkedip saat bibirnya menyentuh bibirmu sebentar. Lagi-lagi dia melakukannya tanpa peringatan. Tiba-tiba, dia menciummu—meski kali ini lebih tepat dibilang hanya mengecupmu—tanpa ijin. Kau lebih heran kali ini dibandingkan marah. Untuk apa kecupan itu?

Kau melihatnya memeluk semua orang. Kau melihatnya mencium semua orang. Siwon yang paling bersemangat membalas ciumannya di ruang ganti. Semua orang lain paling bersemangat ber-ooh-aah jijik dengan kelakuan mereka. Kau selalu curiga Siwon punya kelainan—yang tak pernah terbukti lebih jauh—dan itu membuatmu tersenyum. Tapi senyummu langsung lenyap saat melihatnya mendatangimu. Senyumnya adalah seringai. Kau membelalak dan mulai melangkah mundur menjauhinya. Dia memanggilmu dan sudah hendak memelukmu ketika kau berhasil bekelit dari jangkauannya. Dia mengejarmu dan kau mendengar dirimu sendiri berteriak-teriak, andwae, Heechul Oppa! Jangan lakukan itu! Aku tidak mau! Tapi memangnya sejak kapan dia mendengarmu? Dia tetap mengejarmu dan semua orang bersorak saat kau tertangkap dan dia menciummu. Basah dan kau sebal karena dia melakukannya sambil tertawa. Lalu dia melepaskanmu dan mengejar temanmu yang lain, yang bisa kau lihat ragu-ragu untuk melarikan diri darinya. Cih, kenapa mereka mudah sekali terperangkap oleh kejahilan setan itu? Kau tak pernah mengerti teman-temanmu.

Raut wajahnya serius dan dia mengulurkan tangan padamu. Kau benci padanya. Tapi kau hanya bisa diam saat dia membawamu dalam pelukannya. Kau benci padanya. Lalu dia mengusap bahumu pelan. Maafkan aku, terdengar dari bibirnya dan kau benci bahwa kau tidak bisa benar-benar benci padanya. Kau mulai memukuli dadanya. Pelan, lalu keras. Kau menumpahkan semua frustasimu padanya. Gara-gara dia pacarmu tak tahan lagi. Gara-gara dia kau harus melepaskan lelaki yang selama bertahun-tahun kau cintai. Gara-gara dia kau sekarang tak punya lagi orang yang menunggumu pulang. Semua gara-gara dia dan ciuman isengnya yang bodoh. Semua gara-gara dia, rutukmu sambil bersyukur bahwa saat ini dia terus memelukmu dan tidak membiarkanmu menangis sendirian. Untuk sekali ini kau menghargai ciumannya. Ciumannya di puncak kepalamu.

Akhirnya kau mengatakannya. Kau mengatakan dengan sepenuh hati kalau kau benci kelakuannya. Kau benci hobinya mencium orang. Kau bahkan bertindak terlalu jauh dengan berkata bahwa dia menjijikan. Obsesinya akan bibir manusia lain memang membuatmu merinding. Tidak pria, tidak wanita, tidak orang yang akrab dengannya, tidak dengan rekan kerjanya, semua dia cium. Dia hanya menatapimu dengan marah. Kau sebenarnya agak takut, tapi kau tahu bertahun-tahun kau bekerja mengurusnya akan melindungi sumber penghasilanmu. Kau tahu dia masih punya hati untuk tidak memecatmu. Dan kau berterima kasih pada Jongwoon yang menarikmu pergi dari hadapannya sebelum dia meledak marah.

Dia diam saja. Selama seminggu ini sikapnya padamu sangat formal dan kau masih ingat dengan jelas apa penyebabnya. Kau yang mengangkat semuanya ke permukaan dan kini dia menurutimu. Dia tidak mengajakmu bercanda, dia memperlakukanmu dengan profesional. Dia bicara sopan padamu, tidak berlebihan. Kau puas karena dia akhirnya mengerti bersikap profesional juga bagian dari profesionalisme. Kau meyakinkan dirimu sendiri bahwa rasa aneh dan canggung yang kau rasakan hanya karena kau belum terbiasa dengan sikapnya yang lebih profesional. Tidak ada hubungannya dengan rasa kehilangan perhatiannya.

Dia mencium Ryeowook. Dia mencium Ryeowook untuk mencari sensasi, kau tahu. Matanya memancarkan suka saat orang-orang berseru melihat kelakuannya. Ryeowook hanya cengar-cengir karena menyadari kelakuanmu tidak lebih dari akting. Lalu matamu dan matanya bertemu. Ada yang bergerak di balik pancaran senyumnya yang ditujukan pada semua orang. Akting atau tidak, kau tidak suka apa yang kau lihat. Dan dia pun berpaling.

Entah kapan orang-orang akan kembali. Aneh sekali karena tiba-tiba kau hanya berdua dengannya. Kalian seharusnya beramai-ramai dengan staf dan anggota Super Junior yang lain, tapi entah bagaimana kalian hanya duduk berdua sekarang. Diam, tak ada satupun dari kalian yang bicara. Kau gelisah, dia gelisah. Ini tidak menyenangkan. Hanya berdua dengannya tanpa tahu harus berkata apa. Dia terus menuang minuman untuknya sendiri; tadi dia sudah menawarimu, tapi saat kau menolak, dia tidak mencoba lagi. Kau tidak tahu apa yang salah. Harusnya kau senang karena seorang Kim Heechul akhirnya bisa bersikap tenang dan tidak main-main, tapi kau tidak suka suasana ini. Di satu sisi kau merasa Kim Heechul selalu bercanda dengan berlebihan, tapi di sisi yang lain kau merasa itu lebih baik daripada apa yang terbentang di hadapan kalian sekarang. Kau menenggak isi gelasmu dengan cepat lalu bangun, bilang padanya kau hendak ke toilet. Mungkin satu jam lagi aku baru akan kembali, saat orang-orang sudah datang, pikirmu.

Kau mulai terbiasa. Kurangnya sikap akrab Heechul, tidak adanya perlakuan kelewat ramah yang ditunjukkannya, kau mulai terbiasa dengan itu. Kau tidak bilang kau menyukainya, tapi kau sudah oke-oke saja dengan itu. Kau mulai lihai menghindari lelaki itu saat situasi sudah tampak mengarah pada kecanggungan. Kau melihat orang-orang sudah menyerah membuat hubunganmu dengannya kembali seperti semula. Yah, mereka harus tahu kedekatanmu dulu dengan lelaki itu terlalu berlebihan untukmu. Menurutmu kau nyaman dengan hubungan kalian yang sekarang. Seharusnya memang hubungan kerja hanya seperti ini saja. Toh bukannya kau dan dia punya sesuatu yang istimewa di antara kalian. Bahwa dia bisa menghargai pilihanmu yang tidak suka dicium sembarangan adalah hal yang baik untuk semua orang. Dan kau tidak pernah merasa lebih buruk dari pembohong besar sebelumnya.

Dia tersenyum padamu. Kalian sedang berjalan ramai-ramai seusai acara sesuatu, dan dia tersenyum mendengar pendapatmu akan kalimat yang dilontarkan Hyukjae. Kau tiba-tiba sadar bahwa sudah delapan bulan kau tidak melihat senyumnya yang tanpa diatur ditujukan padamu.

Kau tahu dia lelah, maka kau memutuskan tidak banyak bicara dan hanya membiarkannya beristirahat sambil memainkan teleponnya. Kau membereskan semua barang Super Junior dalam diam. Yang lain entah sedang kemana dan lagi-lagi kalian ditinggalkan berdua. Hanya saja kali ini kau tidak merasa perlu buru-buru keluar ruangan menjauhinya. Kali ini kau tidak tertarik ingin ke toilet. Kau bahkan hampir tidak menyadari keberadaannya di sana dan hanya sibuk membereskan. Bahkan ketika semuanya selesai, kau hanya menghela napas sambil duduk menghempas. Kau mengernyit menyadari tidak merasa ada masalah saat tahu kau duduk di sebelahnya. Kau merasakan tatapannya padamu dan kau menoleh lalu tersenyum. Kerja yang bagus, pujimu padanya, mendapat senyuman sekilas.

Kalian berdua hanya diam, tapi suasana di antara kalian terasa nyaman. Rasanya seperti dulu lagi saat dia membiarkanmu berpikir sebelum bercerita. Rasanya seperti kau bersama Heechul yang dulu dan kalian tidak pernah saling menghindari. Kemudian dia menegakkan tubuhnya dan mendekatimu. Kau membelalak saat wajahnya hanya beberapa senti jaraknya dari wajahmu dan kau tahu apa yang melintas di kepalanya. Kau berkedip karena terkejut melihat dia menahan diri. Seringainya terbentuk licik dan ekspresinya mengancam. Hatimu berdegup lebih kencang.

Heechul adalah Heechul, akhirnya kau menyadari. Lelaki itu akan tetap mencium siapapun yang ingin diciumnya. Untukmu yang selalu menganggap ciuman adalah sakral nomor dua setelah seks, kau tidak bisa menerima itu, tapi kau sudah mempelajari sesuatu. Ciuman Heechul adalah kepedulian. Saat Heechul peduli pada seseorang, ciuman tidak lagi hanya bermakna seksual. Lelaki itu mencium orang-orang yang disayanginya dengan intensitas yang sama, sekalipun ciumannya bukan hal yang wajar bagi kebanyakan orang. Butuh waktu berbulan-bulan untukmu menyadari itu dan berbulan-bulan yang lain untukmu menerimanya.

Kau membalas ciuman Heechul dengan seringaian yang hampir mengejek. Selagi Heechul terkejut, kau mendekatkan kepalamu padanya dan bibirmu mengecup bibirnya cepat. Ini bukan ciuman sensual, ini bukan ciuman berdasarkan keinginan pribadi, ini adalah ciuman yang kau berikan padanya karena kau menyukainya sebagai manusia yang hobi menyalurkan rasa sayang. Kau menertawai matanya yang terbelalak. Saat dia bersungut-sungut lalu membenturkan bibir kalian keras, kau membiarkannya menguasai bibirmu dan melakukan apapun yang dia suka.

Saat ciuman kalian terlepas dan orang-orang kembali satu per satu, kau membuat janji untuk menyimpan surat pengunduran dirimu di tumpukan terbawah folder simpananmu.

 

KKEUT.

Iklan