Tag

359w
http://wp.me/p1rQNR-nn

…/

Ibu ada-ada saja.

Memandangi selembar uang lima puluh ribuan di tangan, aku teringat pada alasan ibu tidak suka lasagna. Karena waktu ibu kecil nggak ada begituan, katanya. Aku ngakak jumpalitan begitu mendengarnya.

Aku menoleh ke belakang ke arah lelaki tua yang sedang dituntun oleh perempuan lebih muda—mungkin anaknya—yang tadi melewatiku di pintu masuk Trattoria. Uang ini pasti milik mereka, aku harus mengembalikannya.

Aku berbalik dan berusaha memanggil keduanya.

Mungkin ini pertanda bahwa aku tidak harus memaksa ibu mencoba sesuatu yang beliau tidak inginkan. Ibu tidak pernah suka aku belanja macam-macam. Wanita itu berjuang keras mengumpulkan setiap sen uang yang diperolehnya untukku, anak yang bahkan tak pernah dilahirkannya, jadi dia tidak suka kalau aku membelanjakan uangku seenaknya. Mungkin juga ini sinyal bahwa masakan Italia bukan sesuatu yang cocok untuk hari ini.

Pikiranku dipenuhi ibu dan masakan yang sudah disiapkannya untuk makan malam kami malam ini. Whatever, masakan Italia memang menarik sekali di lidahku, tapi favoritku tetap sambel tempe buatan ibu, putusku saat melihat ayah dan anak itu memasuki mobil. “Tunggu!” aku berseru lalu tersenyum. Akh, kayak di sinetron… Tunggu~

Ihihi.

Uang lima puluh ribu melambai-lambai di tanganku. Meski sudah memanggil tadi, tapi sepertinya anak beranak itu tidak mendengarku. Bahkan mobilnya mulai melaju meninggalkan parkiran resto. Aku mengejar. Beberapa orang mulai tertarik akan tingkahku dan tengak-tengok mencari penyebab seruanku. Mereka membantuku memanggil mobil itu, tapi sepertinya tidak ada gunanya.

Aku menurunkan tangan dan mengamati jalanan yang sibuk. Duh, bagaimana ini. Tidak mungkin aku mengantongi uang itu. Nista sekali aku. Atau kuserahkan saja pada pemilik resto agar disumbangkan atau kalau bisa dikembalikan?

“Mbak, mbak…” seseorang memanggilku dan aku mendongak. Orang itu menunjuk ke arah jalanan dan aku melihat mobil yang kukejar tadi berhenti tidak jauh dari restoran karena lampu merah. Meski mobil itu berhenti di lajur kanan jalan, aku tersenyum lega karena paling tidak aku masih bisa mengejar mereka. Kelegaan membasuhku.

Dengan senang aku melangkah turun ke jalan hendak menghampiri mobil tadi.

Itu, sebelum tubuhku dihantam keras dan aku bertemu gelap yang menyakitkan. Rasanya mengejutkan dan sakit luar biasa. Entah dimananya dari tubuhku yang terantuk, kegelapan itu membuatku tak bisa bernapas. Perlahan aku ditelan rasa sakit yang semakin kuat.

Ibu…

/…/#Trattoria

 

Iklan