Tag

447w
http://wp.me/p1rQNR-nj

…/

Aku jahat. Aku tahu aku jahat. Aku tidak berperasaan. Mungkin benar. Tidak berperasaan orang itu. Maksudku, aku berperasaan akan rasaku sendiri, tapi tidak bisa merasakan perasaan orang itu. Jadi tentu saja, tindakanku adalah tindakan tidak berperasaan bagi orang itu.

Tapi itu artinya orang itu juga tidak berperasaan akanku. Karena dia tidak akan pernah tahu perasaanku saat merekam dramanya setiap minggu. Tapi di situlah intinya. Orang itu tidak akan pernah tahu selama aku tidak membiarkannya tahu. Apa yang tidak diketahuinya tidak akan menyakitinya kan?

Setiap Senin aku datang di waktu yang sama, di tempat yang sama, untuk mendapatkan drama yang sama. Ayah dan anak yang mengenaskan. Tapi indah. Orang bilang aku agak aneh. Yah, menurutku terobsesi pada emosi manusia itu tidak aneh. Tidak, terutama sejak aku menemukan betapa bermanfaatnya emosi manusia-manusia lain untuk kehidupanku.

Klik. Kameraku bereaksi setelah tombol shutter kutekan. Hasilnya tidak akan kulihat sekarang. Aku pasti mendapat gambar bagus. Bukan kepedean, hanya pengalaman. Kebetulan tangan dan instingku saling bercinta sejak lama. Tanganku mengambil gambar menuruti instingku yang bekerja dengan baik sekali. Kalau ada pemilihan Karyawan Bulan Ini di Departemen Tubuh dan Hidupku, tangan dan instingku akan selalu menjadi nomor satu.

Si anak mendekap ayahnya. Air matanya. Ah minggu ini air mata itu tidak terlalu berlimpah.

Kelebatan ide membuncah di kepala, lalu aku mengangkat kameraku ke mata, memfokuskan apa yang ingin kuambil, lalu dapat! Sebutir air mata di pipi perempuan biasa.

Aish, aku memang artis berbakat. Kesenangan membuncah di dada memikirkan pameran fotoku bulan ini akan dipenuhi banyak emosi.

Kutinggalkan sejumlah uang (beserta tip) di atas meja kemudian beranjak dari sana beberapa saat setelah pasangan ayah dan anak itu keluar. Aku harus bergegas, mama menelepon mengajakku bertemu tadi pagi. Nada bicaranya serius, dan dari gelagatnya aku sudah bisa menduga apa yang akan dikatakannya.

Kutelan senyum getir yang hendak menyeruak. Ah Mama, seandainya Mama tahu sudah berapa lama aku tahu aku hanya anak angkatmu. Maaf aku tak pernah memberitahumu, Ma. Bukan salahku kalau gen-ku jenius dan cepat tanggap.

Kudorong pintu keluar dan merasakan tekanan berat di dada seolah ada yang menghantamku tepat di sana. Perasaan itu beriringan dengan teriakan dan bunyi klakson yang kemudian memanjang memekakkan telinga.

Gila, instingku memang luar biasa. Aku tahu aku akan mendapat banyak materi foto karena kecelakaan yang terjadi tepat di depan wajahku. Kesenangan bagai kesetanan aku berlari dengan kamera sigap di tangan. Kudekati si korban yang tergeletak diam hampir di kolong mobil, kuangkat kamera dan menekan tombol secara otomatis. Lalu terdiam terpaku.

Melalui kamera, kulihat wajah yang sama denganku dengan darah mengalir keluar dari telinganya. Dadanya yang kembang kempis memberitahuku nyawanya perlahan terlepas. Dan aku tiba-tiba sadar hentakan di dadaku tadi memberiku tanda bahwa si korban dan aku seharusnya bukan orang asing.

/…/

 


Iklan