Tag

406w
http://wp.me/p1rQNR-nq

…/

Dasar bule sialan. Eh, blasteran ya? Apalah itu namanya, pokoknya dia itu bule. Bangsat yang tidak pernah menyadari keberadaanku.

Padahal dia selalu sadar ada yang mengamatinya dari jendela, tapi kenapa dia tidak pernah mengecek keluar sekali saja. Sudah berapa tahun coba kita bertetangga? Meski aku hanya bertemu dengannya sesekali, harusnya sebagai pewaris yang sudah lama mengelola tempat ini dia tahu aku ada. Aku, yang tinggal tidak jauh dari resto-nya! Anak pemilik toko barang antik yang kadang didatanginya untuk mencari pajangan untuk tempat usahanya!

Malah si bangsat itu sibuk perhatian pada gadis sok modern dengan banyak benda ajaib di tangannya. Cewek brengsek tukang rayu laki orang. Roberto milikku, tahu?!

Atau bukan.

Yah yang jelas kalau yang kuinginkan tidak jadi milikku, tidak akan ada yang bisa memilikinya.

Tidak sia-sia aku jadi anak Abah. Abah tahu yang terbaik untukku. Abah melakukan segalanya untuk menjamin kehidupanku mantap, termasuk menyingkirkan kedua saudara yang membebani takdirku. Si Mbah, mbah-mbah yang selalu memberi nasihat pada Abah agar dagangannya selalu laris, bilang saat kami baru dilahirkan sebagai kembar tiga, bahwa aku harus dipertahankan sementara saudara-saudaraku harus dibuang. Yah, bukan salahku kalau aku yang paling istimewa di antara kami bertiga.

Dan Si Mbah pula yang membantuku mengacaukan hubungan Roberto. Haha, aku tahu Abah dan Mbah tidak tahan membuatku perlahan gila begitu tahu Roberto sudah menggandeng cewek. Roberto milikku dan hanya milikku!

Tapi aku jengkel luar biasa waktu Mbah bilang bahwa Roberto tidak akan pernah jadi milikku. Aku marah. Aku mengamuk. Aku tidak terima. Roberto harus jadi milikku!

Melihat gelagatku, Mbah bilang pada Abah bahwa kejengkelanku bisa menghancurkan semua usaha Abah. Dan aku sudah melihat sendiri buktinya. Beberapa bulan lalu Abah hampir harus menutup tokonya. Mbah lalu membujukku. Aku bilang, “Kalau dia nggak jadi milikku, dia nggak boleh sama orang lain!”

Abah pusing, Mbah bingung. Tapi akhirnya, setelah beberapa lama, Mbah memberiku uang lima puluh ribu. “Taruh di depan pintunya, biar nanti orang yang ngambil yang jadi tumbal. Mbah nggak bisa bikin dia jadi milikmu, kalau kalian bersama, peliharaan Abahmu nggak suka. Tapi kalau sekedar bikin orang lain nggak bisa memilikinya sih Mbah masih bisa.”

Dan begitulah. Aku berlalu dari jendela Trattoria, merasa puas saat melihat uang lima puluh ribu di depan pintu sudah lenyap.

Beberapa langkah dari Trattoria dadaku seperti ditabrak truk gilingan semen. Berat sekali. Lalu jalanan jadi heboh luar biasa. Aku menoleh dan melihat kaki seseorang tergeletak di balik sebuah mobil.

Senyumku terbit perlahan… HUAHAHAHA! Sekarang Roberto tak akan pernah jadi milik siapapun!

/… #Trattoria

 

Iklan