Tag

, , , , ,

Author: Bee
Cast
: DB5K, Aku
Length: 13.231w. Chaptered.
Chapter: #1
Rating/Genre : Adult/Romance, drama
Synopsis: Jaejong is a broken piece of human being and I can’t just ignore him, especially when I’m a broken piece of shit my self.
Warning: yaoi, implied YooSu, implied sexual abuse, implied underage sexual abuse
A/N: This is an AU story. I made Yunho much, much older than he supposed to be.
Url: http://wp.me/p1rQNR-lS

~

Dia rusak. Bahkan suaranya serak dan tidak terdengar normal. Dia hanya memandang jalanan di hadapannya, tidak mempedulikan kelontangan kaleng yang bersuara nyaring saat pejalan kaki melewatinya sambil melemparkan koin sedekah, iba melihat kondisinya.

Dia makhluk yang cantik. Di balik semua bekas debu di wajahnya, dia cantik. Matanya lebar, bulat, bening. Rambutnya harusnya halus kalau saja dia bisa merawatnya, atau ada orang yang bersedia merawatkan untuknya. Kulitnya, mungkin akan halus tanpa kotoran yang melekat, tapi yang jelas, warnanya putih, bahkan di antara manusia yang lalu lalang, kalau dia bersih, putih kulitnya akan tampak bersinar.

Sayang dia rusak. Tubuhnya baik-baik saja, tapi sesuatu dalam jiwanya tak benar. Dia tidak bicara, selalu tampak berada dalam ilusi. Terkadang dia seperti ditarik kembali ke dunia nyata, lalu menutupi seluruh wajahnya dengan tudung jaket. Tubuhnya tampak gemetar kalau diperhatikan, sayang jalanan terlalu sibuk untuk memperhatikan pengemis sepertinya.

Dan aku punya cukup waktu mengamatinya dari seberang jalan, dari dalam tokoku.

Pertama kali aku tertarik mengamatinya adalah ketika dia melahap sepotong roti dengan lahap. Roti itu tampak keras, tapi dia tidak peduli. Seolah nyawanya tergantung pada benda itu, dia melahapnya tanpa berhenti meski aku melihatnya tersedak beberapa kali. Sesudah habis rotinya, dia tampak mengerut menderita. Dia butuh air, aku tahu, tapi aku bertahan di tempatku, setengah tidak sadar bahwa aku harusnya bisa membantu. Ketika dua tamu kemudian keluar dari tokoku dan dia masih bergerak-gerak gelisah dengan wajah tak nyaman, aku seperti dipukul di belakang kepala oleh ibuku. Keluar dari toko, menguncinya, menyeberang, aku lalu memasuki toko roti di sebelah tempatnya duduk. Kubeli sebotol jus dan air mineral kemudian kuberikan padanya.

Waktu itu aku tidak segera pergi. Aku terus menunduk di depannya selama beberapa saat, menunggunya mendongak setelah meminum airnya. Dia seperti tidak menyadari keberadaanku sama sekali. Dia menyadari botol air yang kuletakkan di depannya, tapi dia tidak memperhatikan sepasang sepatu yang berhenti di depannya.

“Hei,” kupanggil dia waktu itu. Dia seperti tidak mendengarku. Dia hanya minum, minum lagi, dan lagi sampai wajahnya berubah. Dia seharusnya sudah tidak haus, tapi dia terus minum. Lalu ketika aku sadar dia tidak akan berhenti minum sampai airnya habis, aku menarik tangannya, membuat botol di tangannya terlontar entah kemana.

Dia meraba-raba jalanan seolah tidak melihat kemana botol itu terbuang. Aku berjongkok di hadapannya. “Hei,” panggilku mencoba menarik perhatiannya. Dia masih tidak memperhatikanku. Kutarik lengannya. Saat tubuhnya mendekat ke arahku, ada bau tak sedap menguar darinya. Aku mengernyitkan hidung. Kubilang padanya, “Kau masih punya botol air satu lagi. Lihat itu!” tunjukku tidak sabar.

Dia tidak menatapku. Aku berhasil menahan tubuhnya, tapi kepalanya terus menoleh ke segala arah mencari botol yang tadi terbuang.

Mengabaikan bau yang semakin kuat, aku menanamkan tanganku di wajahnya. “Hei,” kupaksa dia memutar wajahnya untuk menatapku.

Saat itulah aku tercekat. Itulah saat aku tahu matanya bulat besar dan indah. Dari situ aku menyadari hidungnya yang lurus dan ramping, lalu bibirnya yang penuh seperti bibir yang selalu minta dimanja. Setengah sadar aku mengusap pipinya dan agak terkejut dengan tebalnya debu yang kemudian melekat di ujung jariku. Dan itulah yang membuatku tahu seputih apa kulit aslinya.

Berminggu telah lewat sejak itu dan aku dengan rutin kini memastikan makanannya sambil mengawasi dari dalam tokoku, menjaga agar dia tidak tersedak lagi, agar tidak menghabiskan semua persediaan makanan yang datang padanya. Rasanya seperti memelihara anjing liar.

~

Musim dingin segera datang, aku merasakannya. Udara berubah, temperatur menurun. Aku mulai sibuk mengeluarkan simpanan sepatu musim dingin dan jaketku. Dalam lemari aku menemukan jaket lama milik dia yang dulu serumah denganku tapi kini sudah pindah. Dia adalah lelaki bertubuh jangkung yang sekarang aku tidak tahu ada dimana. Aku berpikir untuk menyumbangkan jaket itu ke gereja terdekat, tapi lalu bayangannya melintas dalam benakku.

Apakah jaketnya selama ini cukup tebal dan hangat untuk mengusir dingin udara musim dingin nanti? Kupandangi jaket di tanganku dan mulai melupakan gereja tempatku biasa menyumbang. Wajahnya semakin jelas dalam bayanganku. Seolah hatiku bisa berkata, ada suara dari dalam dadaku, Changmin tidak akan keberatan jaketnya kusumbangkan. Lagipula Changmin juga bukan akan kembali lagi ke sini.

Aku mengangguk. Akhirnya bukannya mempersiapkan diri menyambut musim dingin, hari itu aku mengumpulkan barang-barang hangat yang mungkin bisa digunakan olehnya di tepi jalan. Jaket, syal, matras gulung usang, kaus kaki, semuanya, apapun yang bisa kudapatkan dan tidak akan kugunakan, kukumpulkan jadi satu dan kubungkus baik-baik. Saat tinggal mengikat bungkusan untuk terakhir kali, aku agak mengernyit menyadari semua barang-barang ini nanti akan melekat di tubuhnya yang bau. Aku menggelengkan kepala dengan gusar. Aku tidak boleh ragu untuk mengasihani orang lain. Akhirnya di awal malam itu, aku menarik bawaanku dengan gerobak yang kulekatkan di belakang sepeda, membawanya pada si pengemis rusak.

Dia diam saja sewaktu aku menjatuhkan barang-barang itu di sebelahnya. Dia harus bisa melakukannya sendiri—membalut tubuhnya, maksudku—karena aku tak akan melakukan hal itu untuknya. Tapi sampai aku mengayuh sepedaku kembali sejauh sepuluh meter, dia tampak tidak menyadari barang-barang yang telah kujatuhkan di sebelahnya.

Aku berusaha mengeraskan hati, tapi sewaktu aku menoleh dan melihat seorang pengemis lain mendatanginya sambil mulai mengacak-acak barang yang kubawakan untuknya sementara dia diam saja, aku tidak bisa tinggal diam. Aku meneriaki orang itu yang terkejut lalu lari membawa apapun yang sedang ada dalam genggamannya. Aku kembali ke sisinya secepatnya.

Setelah kuperiksa, aku mendesah lega karena pengemis waras tadi hanya berhasil membawa kaus kaki dan sebuah syal. Kupandangi dia dengan kesal, lalu kumarahi. Meski tahu tidak ada gunanya aku marah-marah, aku terus berkata-kata padanya, mengatakan betapa pentingnya menghangatkan diri di musim dingin, terutama saat kau hidup di jalan. Aku memarahinya karena tidak mempedulikan tubuhnya sendiri. Melihat jaketnya, sekarang aku merasa jaket itu terlalu tipis, lalu sambil menggerundel kupasangkan jaket Changmin padanya, berkata bahwa dia harus lebih menyadari keadaan tubuhnya sendiri. Kalau begitu terus, bisa-bisa dia tidak sadar kalau dia kedinginan, lalu sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi padanya.

Begitu aku sadar bahwa aku sudah selesai marah-marah, aku juga menyadari bahwa aku sudah menata tempatnya, melapisi tempat duduk/tidurnya dengan matras dan selimut yang kubawa, membalutnya dengan syal dan topi yang entah kapan kupasangkan padanya. Bahkan tangannya sudah berbalut sarung tangan. Kaus-kaus kaki sudah kutumpuk di satu tempat di sudut alas duduk/tidurnya sementara selimut lebar yang tadi kugunakan untuk membungkus semua barang-barang itu sudah membuntal di satu sisi, berubah fungsi menjadi bantal sederhana.

Aku kehilangan kata-kata. Entah bagaimana aku melakukannya, tapi aku yakin akulah yang melakukan semua itu. Kutatap dia, seperti biasa dia tidak menatapku, hanya menatap jalanan yang kesibukannya mulai berkurang. Menghela napas, aku bangun dan memasuki toko roti, memesan roti hangat dan teh panas. Ketika aku kembali ke tempatnya dan meletakkan roti di tangannya, dia langsung melahap rotinya. Setelah roti itu habis, kusurukkan juga cangkir teh panas ke tangannya dan dia meminumnya. Mungkin lidahnya terbakar, tapi dia tidak menunjukkan reaksi apapun kalau itu terjadi. Karena aku tidak tahu, aku tidak berusaha menghentikan usahanya menghabiskan teh itu.

Begitu makanannya habis, aku bangun dan berniat pulang ke rumah. Baru setengah berdiri, dia menarik tanganku. Aku terdiam terkejut.

Dia, tetap tidak melihatku, tapi dia merebahkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di bantal buatanku, kemudian memejamkan mata. Tanganku tidak dilepasnya sampai nafasnya berubah teratur dan aku yakin dia sudah tidur.

~

Di puncak musim dingin, aku mendengar perkiraan datangnya badai. Aku menyiapkan semua yang kuperlukan di dalam rumah dan memutuskan tidak akan membuka toko selama beberapa hari. Ditemani angin yang mulai tidak ramah, aku berbelanja bahan makanan. Sepertinya tahun ini badainya akan seburuk tahun kemarin. Kalau itu yang terjadi, aku akan terjebak di dalam rumah selama paling tidak tiga hari. Aku pun menyiapkan makanan kaleng yang cukup untuk seminggu dan bahan makanan lain yang lebih tidak tahan lama sebanyak lemari pendinginku bisa menampungnya.

Dalam perjalanan pulang, cuaca sudah sudah semakin memburuk dan aku mengayuh sepedaku dengan susah payah. Saat itulah aku melintas di depan tokoku dan melihat dia meringkuk merapat ke dinding toko di belakangnya.

Aku berhenti ragu-ragu. Saat angin berhembus keras dan beberapa gulungan kaus kaki yang kuberikan padanya menggelinding ke segala arah tanpa dia berusaha menahannya, aku tahu aku tidak bisa diam saja.

Sore itu aku tidak mengayuh sepedaku berjalan pulang ke rumah, melainkan menuntunnya sambil menggandeng tangan seseorang di belakangku.

~

Aku tidak tahan pada baunya, maka hal pertama yang kulakukan padanya setelah merapikan dan menyimpan belanjaanku adalah mendorongnya ke kamar mandi, melemparkan handuk padanya, lalu menutup pintu kamar mandi.

Setelah aku selesai menyiapkan teh untuk kami berdua, aku tidak melihatnya keluar dari kamar mandi. Penasaran, aku mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada jawaban. Kucoba gagang pintu. Langsung terbuka. Dan dia di sana, masih di tempatnya semula berdiri, sibuk menatapi lantai.

Aku menggerutu dan memarahinya. Aku ingin dia mandi dan membersihkan diri, tapi dia malah hanya berdiam diri. Aku tahu dia tidak normal, tapi tidak bisakah dia mandi? Sekedar mengguyur tubuhnya dengan air dan menghilangkan semua debu yang melekat padanya?

Sentakan tangannya menyadarkanku bahwa aku sudah bergerak hendak melepaskan bajunya. Entah kapan aku melepaskan jaketnya. Wajahku memerah menyadari apa yang kulakukan. Aku meminta maaf padanya, tapi aku terkejut melihat wajahnya.

Tubuhnya gemetar, wajahnya menolak memandangku. Mulutku terbuka. Kalau dugaanku benar, dia tidak setidak normal yang kupikirkan. Kalau dia malu, masih ada harapan kewarasan melekat padanya. Dan… Oh Tuhan… Aku menyadari apa yang kulakukan, dan itu tadi tampak seperti aku gadis liar yang akan melucuti pakaian pria manapun yang kupungut di jalan!

“Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang kulakukan, akan kutinggalkan kau sendiri. Mandilah. Kau bau sekali,” akhirnya aku berkata pelan dan gugup lalu meninggalkannya sambil menutup pintu.

Aku tidak mendengar suara apapun dari kamar mandi sampai beberapa menit kemudian. Mau tidak mau aku berpikiran buruk. Membuka pintu kamar mandi, aku berdoa, perkiraan burukku tidak benar, yaitu bahwa dia masih berdiri di tempatnya dan tidak memulai mandi.

Doaku tidak terkabulkan.

Menghela napas menahan jengkel, aku menariknya keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya di ruang tengah. “Kau harus mandi,” kataku memulai. “Aku tidak mau mengembalikanmu ke jalanan. Di sana berbahaya saat ini. Kau boleh tinggal di sini, tapi kau harus mandi. Baumu mengerikan. Kau tahu caranya mandi kan?”

Dia tidak menjawabku. Hanya menatap meja di hadapannya. Di sana ada teh yang mengepul dan sedikit kudapan yang kusiapkan untuk kami berdua. Matanya tidak lepas dari barang-barang itu.

Kurubah nada bicaraku, “Kau mandi dulu, nanti kita makan itu sama-sama… ya?” bujukku.

Dia diam saja.

Kutarik tangannya menuju kamar mandi. Kali ini dia tidak mengikutiku. Dia bertahan di tempatnya dan terus memandangi kue di atas meja.

Aku berjongkok di hadapannya. Kurangkum satu pipinya dengan satu tangan. “Hei,” panggilku. “Kau mau kue?”

Matanya berkedip. Jadi dia mengerti apa yang kukatakan!

Kuambil sepotong kue dan kuberikan padanya. Dia mengambil kue itu dengan tangannya yang berkuku hitam lalu mulai menggigit. Aku menghela napas lagi. “Baiklah, kau boleh makan dulu. Tapi habis ini mandi, ya?” aku mencoba berkompromi dengannya. Dia tidak menjawab, tapi menurut sewaktu aku menariknya ke tepi tempat duduk.

Saat itulah aku menyadari bahwa dia tidak lagi menolak. Perhatiannya begitu terpusat pada kue di tangannya, sehingga dia hanya menurut sewaktu aku mengatur posisi duduknya. Sebuah ide melintas di kepalaku.

Aku menarik dia menuju kamar mandi. Ini akan akan sangat memalukan, tapi aku berkeras bahwa ini demi kelangsungan hidup kami berdua. Kalau aku khawatir padanya, aku tak akan mengembalikannya ke jalanan. Kalau aku akan menahannya di sini, aku akan membuatnya mandi. Kalau dia tidak bisa mandi sendiri, aku akan memandikannya. Dan ini akan sama seperti memandikan anak kecil, sebab dia akan terpaku pada kuenya, dan tak peduli padaku. Dan aku tak akan peduli padanya. Aku tahu dia lelaki dewasa, tapi aku tak pernah menganggapnya seperti itu selama ini, maka kali ini pun tidak akan masalah. Dia akan mandi.

Ternyata hal itu memang memalukan. Aku membuka kemeja dan celananya, bersyukur dia mengenakan sesuatu di bawah celananya. Aku mendudukkannya di dalam bak mandi dengan wajah memerah. Kuatur keran air hingga mengeluarkan air sehangat yang biasa kugunakan untuk mandi, lalu mulai mengguyur tubuhnya.

Dia melonjak dan untuk pertama kalinya dia menatapku atas keinginannya sendiri. Matanya membelalak. Dia benar-benar menatapku. Aku jadi sadar betapa lebar kedua mata itu.

Seolah menyadari apa yang tengah kulakukan, dia bangun dari bak mandi dan berusaha bangun. Aku menahannya dan dia meronta. Meski terkesima melihat matanya, aku tahu dia tidak menatapku dengan senang. Ada kepanikan di sana. Seolah aku hendak mencelakainya, dia berusaha sekuatnya menjauhkan diri dariku dan keluar dari bak mandi. Kuenya sudah terlempar entah kemana.

Pada akhirnya kami berdua basah. Dia tenang setelah kelelahan meronta. Mungkin ketiadaan tenaganya adalah karena dia tidak makan dengan cukup selama ini. Dia masih muda, melihat tubuhnya aku yakin kalau dia normal, aku tak akan menang melawannya. Sekarang saja aku sudah kelelahan karena berusaha menahannya tetap di dalam bak.

Aku tidak mau membuang lebih banyak waktu dan air panas. Kusirami tubuhnya yang menggigil tidak suka. Dia tegang selama aku menggosokinya, tapi tidak berusaha melarikan diri lagi. Semuanya semakin mudah saat aku menyabuni tubuh dan rambutnya. Ketika aku menahan wajahnya untuk kusabuni, aku berusaha menangkap pandangannya. Menahan cengiran kemenangan, aku tersenyum tertahan padanya. “Hei… tidak buruk kan?” entah kenapa aku berbisik.

Dia menatapku, hanya menatapku dan tidak ada reaksi lain. Tapi saat aku membilas tubuhnya, dia sudah lebih tenang dan aku merasa dia tidak sekaku sebelumnya.

Acara mandi berakhir dengan baik-baik saja dan aku melemparkan sebuah selimut padanya malam itu untuk membalut tubuh sebelum aku sendiri beranjak ke kamar Changmin, mencarikan baju untuk dia kenakan. Baru besok aku berniat mencuci bajunya, jadi malam ini dia tidak punya pakaian.

Setelah minum teh yang harus dipanaskan lagi dan makan kudapan, kami berangkat tidur dengan tenang. Dia di sofa, aku masuk ke kamarku. Tanganku otomatis mengunci pintu kamar, tapi mengingat keberadaannya di luar kamarku, aku merasa lebih baik aku tidak mengunci pintu. Kalau terjadi sesuatu padanya atau pada rumahku, akan lebih cepat bagiku menangani masalahnya kalau tidak harus membuka kunci pintu lebih dulu.

Malam itu aku terbangun karena harus ke kamar mandi. Saat hendak kembali ke kamar, aku termangu menatapnya yang tidur nyenyak di sofa. Selimutnya sudah acak-acakan, mulutnya terbuka, pahanya menggantung di luar selimut. Kubenarkan letak selimutnya dan dia mengerang sedikit. Kuusap kepalanya sambil berbisik “Sshh…” yang membuatnya kemudian menyusup lebih dalam ke balik selimut.

“Selamat malam,” bisikku hampir tanpa suara pada wajahnya yang membuatku terpana. Dia sangat tampan.

~

Badai datang dan pergi selama tiga hari. Selama itu aku sempat mencucikan bajunya, mencarikan baju-baju peninggalan Changmin untuk dipakai olehnya, dan memberinya makan dengan teratur. Dia suka makan. Aku suka dia suka makan. Itu memudahkanku membujuknya kalau aku ingin dia melakukan sesuatu seperti bangun tidur dan mandi.

Aku tidak pernah lagi memandikannya. Entah bagaimana dia mengerti bahwa kalau aku mendorongnya ke kamar mandi, dia harus menyirami tubuhnya sendiri dan bersabun. Dia melakukannya dengan cukup baik, paling tidak tidak ada sisa sabun di tubuhnya setelah mandi. Satu-satunya masalah adalah dia hanya menyirami tubuhnya. Pada hari keempat aku menyadari rambutnya sudah terlalu kotor untuk dibiarkan, maka aku menginterupsi waktu mandinya untuk mengeramasinya. Awalnya dia tegang saat aku tidak meninggalkan dia di kamar mandi sendirian, tapi lalu dia menurut padaku saat aku mulai memijati kulit kepalanya. Itu, adalah pertama kalinya dia mencari mataku dan memandangku lebih dulu. Aku sampai berilusi dia tersenyum.

Setelah cuaca buruk dikabarkan berlalu, aku tidak tega menyuruhnya kembali ke jalanan. Jadi yang kulakukan adalah membawanya serta ke tokoku. Hari pertama aku mengajaknya, dia lepas dari tanganku dan begitu aku sadar, dia sudah duduk kembali di tempatnya semula di pinggir toko. Aku buru-buru berlari dan menariknya. Mulutku mengomel karena dia masih ingat tempatnya mengemis. Kududukkan dia di salah satu kursi tunggu dan menyuruhnya diam di sana. Dia menurut. Aku lega.

Hari berikutnya, aku menemukan majalah yang penuh dengan gambar-gambar rumah cantik. Kuberikan majalah itu padanya dan dia menghabiskan waktunya duduk di tokoku mengamati setiap gambar dari majalah itu.

Semua hal dengan mudah menjadi rutin. Pagi hari aku bangun dan membangunkannya, menyuruhnya mandi sementara aku menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Lalu aku membawanya ke toko, mengawasinya duduk diam sambil memberinya majalah baru setiap beberapa hari sekali. Lalu pulang dari toko, aku mengajaknya belanja bahan makanan, meski tidak selalu. Kadang saat aku malas memasak, aku hanya akan membawa kami berdua makan jajanan yang dijual di pinggiran jalan. Dia sangat penurut dan itu membuatku mudah mengurusnya.

Kegiatan favoritnya, kuperhatikan, adalah saat keramas. Dia akan menyandarkan kepalanya ke pinggiran bak mandi lalu mendongak menatapku yang dengan hati-hati mencuci rambutnya. Pernah suatu hari aku yakin aku tidak berilusi. Dia mengangkat sudut-sudut bibirnya sedikit sekali ketika aku menggosok telinganya. Aku anggap dia tersenyum. Dan dia sangat manis saat tersenyum begitu.

Aku rasa aku menikmati punya peliharaan. Rumahku terlalu besar tanpa ada teman. Dia, yang tak pernah bicara, yang hanya mengikutiku kemanapun, adalah teman sempurna untukku yang terkadang terlalu banyak bicara.

~

Kami berteman. Setelah musim dingin berlalu, dan musim semi datang, kami benar-benar berteman. Meski belum bicara, dia sudah bisa melakukan banyak hal sendiri. Dia bangun pagi sendiri dan mandi, dan duduk dengan manis di meja menungguku membuatkannya sarapan. Semakin hari aku semakin menyadari bahwa dia adalah manusia, dan walaupun sesuatu dalam matanya masih membuatku berpikir sesuatu dalam dirinya telah rusak parah, aku bisa melihat otaknya baik-baik saja. Bahkan dia tidak sebodoh yang kupikirkan. Dia cukup pintar dan sekarang aku bisa mempercayakan pekerjaan mencuci pakaian padanya.

Awalnya aku tidak sadar bahwa dia sudah mencucikan pakaianku sampai pada hari aku hendak mencuci. Aku mendapati semua pakaianku sudah kering di gantungan dan saat aku bertanya padanya, dia menunjuk mesin cuci tanpa bicara. Entah bagaimana aku mengerti maksudnya. Dia mencuci menggunakan mesin cuci.

Aku masih mencucikan rambutnya, dan sekarang dia suka menungguiku masak di dapur. Matanya mengamatiku dengan seksama setiap kali aku memasak. Kadang saat hari libur dan aku menutup toko, aku mengajaknya jalan-jalan entah kemana, atau kalau tidak, kami akan menonton televisi berdua sambil bermalas-malasan. Dia suka mengunjungi gereja, mendengarkan paduan suara.

Suatu saat, bau musim panas sudah berat di udara. Siang hari sudah mulai lebih panjang, dan anak-anak sekolah mulai mempersiapkan liburan musim panas mereka. Aku dan dia berjalan santai di hari minggu, sekedar menyusuri etalase toko di pusat perbelanjaan. Aku sudah mendapatkan beberapa potong pakaian musim panas untuknya dan dia tampak menyukai apa yang dilihatnya di jalanan. Orang-orang, keramaian, barang-barang di toko, pengamen. Dia menolak pergi saat aku menariknya pulang. Dia terus mengamati kelompok pengamen jalanan yang terus memainkan lagu demi lagu, dan baru beranjak ketika kelompok itu membereskan peralatan mereka untuk pindah ke titik keramaian yang lain.

Malam itu, spatula yang sedang kugunakan untuk memasak jatuh berkelontangan di lantai dapur saat tiba-tiba terdengar suaranya menyanyi.

Suaranya serak, tapi lembut. Dia menatapku saat menyanyikan lagu yang kuingat adalah lagu yang dinyanyikan oleh pengamen tadi siang. Lagu lama, tapi dinyanyikan olehnya, yang tidak pernah sekalipun bicara, hal itu membuat pandanganku kabur.

Untuk pertama kalinya, aku menangis untuknya. Menangisi dirinya. Menangisi suaranya yang tersembunyi selama ini. Menangisi hidupnya yang begitu sial sampai harus menjadi pengemis mengiba di pinggir jalan. Menangisi senyumnya yang kini jelas kulihat ada di sana. Aku melupakan masakanku dan menyembunyikan wajah ke dalam tangan. Tersedu. Ada bahagia yang menyusup dalam dadaku.

Saat mengangkat wajah, aku tersenyum melihat wajahnya yang tidak nyaman. Dia menatapku dengan panik karena air mataku yang tak berhenti mengalir. Lalu aku tertawa, dan dia tampak terkejut. “Aku senang mendengarmu bernyanyi,” ujarku beralasan. Dan aku dihadiahi senyum yang hampir terlalu menyilaukan untuk dilihat.

~

Musim panasku diwarnai oleh suaranya. Dia suka menyanyi untukku saat aku masak. Terkadang aku terkejut mendengar lagu-lagu yang dinyanyikannya karena tidak mengenali lagu-lagu itu, tapi jawaban mengenai lagu-lagu itu biasanya cepat muncul ketika saat menonton televisi dia tiba-tiba meraih tanganku dan menunjuk ke layar. Aku menyadari bahwa dia suka lagu-lagu baru yang bahkan aku tak pernah mendengarnya.

Suatu malam aku pernah mengamati wajahnya saat kami menonton televisi bersama. Itu adalah acara musik tengah malam. Lampu-lampu sudah dimatikan, dan aku hanya menunggunya mengusirku dari sofa agar dia bisa tidur. Hanya dia tak kunjung melakukannya. Dia terus terpaku menghadap televisi sementara aku terus mengamatinya dari samping. Rahangnya berpotongan tegas, wajahnya feminin dan tampan sekaligus, bibirnya bergerak-gerak mengikuti lirik lagu di sudut layar, rambutnya memang halus seperti yang kupikirkan, dan lurus. Memperhatikan kulitnya, aku sadar dia bisa jadi lebih muda dariku. “Hei,” aku memanggilnya pelan.

Dia tidak menoleh, tapi bibirnya berhenti bergerak, indikasi bahwa dia menanggapi panggilanku. Aku bertanya padanya, “Siapa namamu?”

Dan semuanya membeku dari situ. Dia tidak menjawabku dan aku tahu dia tidak lagi fokus pada tontonannya. Tubuhnya tegang.

Aku tidak memaksa, tapi juga tidak mundur. Kubiarkan pertanyaanku mengambang di udara, agar dia tahu bahwa aku akan selalu bertanya sampai dia menjawabnya. Aku tidak berharap akan bisa mengobrol dengannya, tapi paling tidak ‘Hei’ bukan lagi namanya untukku.

Aku tidak mendapatkan jawabanku.

~

Hari-hari berlalu. Dia sekarang bisa memilih. Dia memilih tinggal di rumah sementara aku pergi ke toko. Dia memilih mencucikan baju kami berdua lalu menyeterikanya sementara aku bertugas memasak. Dia memilih mandi setelah aku mandi. Dia memilih pergi ke toko menemaniku saat sedang ingin. Perlahan keberadaannya menjadi sesuatu yang pasti untukku.

Pertanyaanku masih terbuka, jawabannya belum terlontar. Tapi aku bisa menunggu. Menunggu adalah keahlianku. Dengan Changmin… tidak, Changmin bukan hal yang harus kupikirkan. Keberadaan dia dalam hidupku lebih terasa dan aku menolak memikirkan hal yang tidak aku tahu, seperti Changmin, misalnya. Dia adalah temanku sekarang, dan aku akan memperlakukannya dengan baik, sebaik dia menurutiku.

Itu pikirku, sampai siang itu, terik dan melelahkan, aku pulang ke rumah dan tidak mendapatinya dimanapun. Aku menunggunya, merasa terlalu lelah untuk membuka toko lagi. Ketika aku terbangun, langit sudah berwarna lembayung. Aku segera menyadari ada yang salah. Rumah terlalu sepi.

Aku panik.

Kemana dia? Apa yang dilakukannya? Mengapa jam segini dia belum pulang? Apa dia pergi? Apa dia memutuskan akhirnya akan pergi dari rumah ini? Apa aku ditinggalkan… lagi? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Kupikir kami sudah berteman. Tunggu, apa dia kembali ke jalanan? Ya, itu mungkin saja.

Yang berikutnya kusadari adalah aku berdiri di depan tempatnya mengemis sambil terengah-engah. Kosong. Tempat itu bersih, tidak ada dia di sana. Mungkinkah dia jalan-jalan? Oh pengamen! Aku kembali berlari menuju pusat keramaian, mengutuk kelinglunganku karena tidak membawa sepeda. Aku berputar-putar di sana mencari suara musik. Ada lebih dari tiga kelompok pengamen yang kujumpai, tapi dia tidak ada di kelompok penonton manapun. Hatiku mencelos.

Aku masih terus mencarinya sampai kakiku tak kuat lagi bergerak. Aku terduduk termangu di tepi jalan, memikirkan apa yang kulakukan sampai membuatnya pergi. Aku benci ditinggalkan seperti ini. Kenapa aku selalu diabaikan? Kenapa aku selalu ditinggalkan? Apa yang sudah kulakukan? Apakah dia pergi karena aku bertanya tentang namanya? Tapi aku tidak mendesaknya, dia tidak boleh pergi hanya karena itu. Lalu kenapa dia meninggalkanku?

Kenapa aku begitu merisaukannya? Bukankah selama ini aku sudah terbiasa hidup sendiri? Bukankah sejak Changmin menghilang, aku adalah aku sendiri? Semuanya kulakukan untuk diri sendiri? Ini hanya kembali menjadi diriku yang lama. Lalu menapa aku sangat risau?

Meski tak menginginkannya, perasaanku kacau ketika memasuki rumah. Aku merasa rumahku menjadi terlalu dingin untuk dimasuki, jadi aku tidak melepaskan jaket dan berjalan langsung ke ruang tengah. Saat itulah aku melihat dia, berdiri di pintu dapur, menatapku dengan pandangan bertanya.

Dia baik-baik saja. Dia ada di sana, dan tampak seperti dia biasanya. Dia terlihat santai, tapi menunggu, mungkinkah dia menungguku pulang? “Kau dari mana?” tanpa bisa dicegah aku bertanya ketus padanya. Apa yang dilakukannya hingga matahari tenggelam? Kenapa dia menghilang? Kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa dia tidak ke toko dan memberitahuku? Kenapa dia tidak ada saat aku bangun tidur tadi? Kenapa…

Jawabannya hanya sebentuk senyum kecil. Dia berjalan ke arahku, kemudian menarikku ke dapur. Di sana dia menunjukkan semangkuk penuh japchae. Mulutku terbuka. Saat aku mengangkat muka, aku bertemu dengan tatapannya yang berbinar penuh harap. Gumpalan sesuatu menyeruak di tenggorokanku. Aku mengalihkan tatapanku darinya agar kekesalanku tidak meluap. Untuk semangkuk japchae dia membuatku berlarian keliling kota?

Mataku menangkap sesuatu. Mesin penanak nasi menyala. Aku tidak ingat aku menyalakannya. Aku belum memasak nasi. Belum sempat aku bertanya, dia mendorongku duduk di bangku kemudian mengambilkan semangkuk nasi untukku. Gerakannya membuatku melihat ke arah bak cuci piring yang sekarang penuh. Kali ini aku menggigit bibir.

Semua peralatan itu, diakah yang menggunakannya? Rasanya tidak mungkin, tapi aku belum menggunakan peralatan-peralatan itu sama sekali. Hanya aku dan dia yang ada di rumah ini, maka secara logika dialah yang memasak. Tapi dia tidak pernah memasak!

Kutatap dia dan dia membalas menatapku dengan khawatir. Mangkuk nasi di hadapanku tidak tersentuh. Japchae (yang mungkin) buatannya juga tidak kulirik sama sekali. Kemudian dia tampak sedih. Dia menunduk menatap meja karena aku tak juga bergerak. Aku ingin memukul kepalanya karena membuatku cemas setengah mati, tapi aku tak sanggup melakukan apapun. Aku hanya menatapnya dengan kesal dan lega sekaligus. Tubuhku lemas; mungkin akibat berlarian, mungkin juga karena lega aku masih bisa melihatnya. Itu mengirimkan sinyal ke otakku bahwa aku telah kembali memasukkan seseorang dalam daftar penting di hidupku. Aku menyadari bahwa sudah terlambat untukku mengusirnya. Dia sudah menjadi bagian yang akan melukaiku dengan kepergiannya. Terlambat untuk tidak bersedih kalau dia menghilang.

Seperti Changmin.

Dia terus menunduk dan aku bisa merasakan nasiku perlahan jadi dingin. Dia menatapku seolah aku telah melukainya. Dia sedih karena aku tidak merespon usahanya menyiapkan makanan untukku. Melihat tatapannya, aku mengangkat sumpit, lalu mulai makan. Kusuap nasi, lalu japchae. Sekali, dua kali, tiga kali, dan aku berhenti. Dengan mulut penuh kukatakan padanya, “Lain kali katakan padaku kalau kau mau pergi.”

Dia mengangkat mata yang mulai bersinar melihatku makan. Aku tersedak. Tersedak air mataku sendiri. Dengan konyolnya aku ingin menangis. Karena dia. Dia membuatku marah karena mengingatkanku tentang menangis untuk orang lain lagi. Kutelan nasiku cepat-cepat, tidak mempedulikan rasa sakit di tenggorokan akibatnya. Setelah itu, karena tak tahan melihatnya tanpa menangis, aku berdiri dan meninggalkannya di dapur sendirian.

Aku menghempaskan diri di depan televisi, menengadahkan kepala agar air mataku tidak menetes. Aku ingin menyalahkannya, memaki-makinya, meski hanya dalam benak, tapi tidak bisa. Aku justru membayangkan apa saja yang dilakukannya untuk membuatkanku japchae. Aku terbayang bagaimana dia bergerak di dapur, bagaimana dia berbelanja— Itu, membuatku khawatir. Dari mana dia mendapat uang untuk belanja? Aku tak pernah memberinya uang selama ini. Aku pernah memberinya uang untuk membayar pengamen, yang mana aku langsung melihat uang itu lenyap dari tangannya ke kaleng si pengamen, dan itu adalah waktu paling lama bagi uangku berada di tangannya.

Aku bangun dan berjalan ke dapur. Di sana dia sedang mengaduk-aduk japchae dengan sedih. “Dari mana kau mendapatkan ini?” aku bertanya padanya.

Dia menatapku terkejut karena nada suaraku yang benar-benar dingin. Kulihat dia menelan ludah, tapi tangannya terangkat menunjuk tempat cuci piring lalu kompor. “Kau memasak?” tanyaku masih bernada dingin.

Dia mengangguk. Tangannya yang memegang sumpit agak gemetar. “Apa kau belanja?”

Dia mengangguk lagi. “Dari mana kau dapat uangnya?” kali ini nada bicaraku meninggi. Aku tidak mau dia terlibat masalah, tolong jangan biarkan dia terlibat masalah. Aku tidak keberatan barang-barangku hilang kalau dia yang mencurinya, atau menggunakannya, tapi kumohon, jangan biarkan dia mengambil barang milik orang lain.

Dia terbelalak dan bangun dari kursi. Matanya ketakutan. Ini pertama kalinya aku membentaknya dengan serius. Bahkan aku menyadari nada bicaraku berbahaya. Dia melihat sekeliling, berusaha mencari jalan keluar untuk lari dariku. “Dari mana kau dapat uangnya?” aku bertanya sekali lagi, mengangkat tangan untuk meremas rambutku sendiri karena frustasi.

Dia melonjak mengejutkanku. Dia menjerit dan berlari ke sudut dapur, meringkuk, berusaha menyembunyikan dirinya di bawah meja.

Aku kaget. “Hei!” aku berseru mencegahnya bertindak panik, tapi dia justru makin panik.

Sekali itu aku mendengarnya bicara. Serak, tapi jelas, “Tidak! Tidak! Kumohon, ampuni aku! Tidak!” Dia menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Aku terdiam di tempatku. “Hei…” aku berusaha membujuknya tapi tidak berhasil. Dia masih menangis.

Aku bingung sekaligus putus asa. Apa yang sudah kulakukan? Aku hanya bertanya, mengapa dia bersikap begitu? Aku melangkah mendekatinya dan dia semakin histeris. Dia menjerit lebih memilukan. Permohonannya lebih menyayat. “Hei…” aku mengulurkan tangan hendak menyentuhnya dan dia memandang tanganku seperti itu adalah belati tajam. Dia luar biasa ketakutan. Suaraku mulai bergetar. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihatnya ketakutan karena aku, itu mengirimkan rasa sakit dalam dadaku. “Hei…” aku memanggil lagi, kali ini dengan suara bergetar yang jelas dan kepanikan yang tampak.

Dia seolah hampir pingsan saat akhirnya aku menyentuh lengannya. Tapi dia tidak pingsan. Dia hanya terpaku. Wajahnya adalah apa yang sudah lama tidak kulihat. Wajahnya datar, matanya kosong, dan mulutnya terbuka seolah tidak disadarinya. “Jangan…” aku memohon padanya. Kutarik tubuhnya yang kaku luar biasa ke arahku, membuatku ikut terduduk di lantai dapur yang dingin. “Jangan begini… Kau kenapa?” aku mulai terisak. Tapi air mataku tidak keluar. Meskipun aku sangat ingin menangis, aku tidak tahu kemana perginya air mata yang tadi bandel dan mengancam.

Dia tidak menjawab. Kudekatkan kepalanya ke dadaku, lalu kuraba punggungnya naik turun. Tubuhnya dingin sekali dan dia tampak sangat ketakutan. “Hei… maafkan aku… Aku hanya ingin tahu. Aku tidak marah padamu,” sekarang “Aku hanya ingin tahu, jadi aku bertanya. Maafkan aku. Tak apa kalau kau tidak mau memberitahuku. Hei…” aku mengusap pipinya dan memaksanya memandangku.

Matanya mengarah padaku, tapi dia tidak menatapku. Tiba-tiba air mataku menetes. “Hei… jangan begini. Kumohon, jangan begini. Maafkan aku…” aku terus bicara tanpa menyadari apa yang kukatakan. Kuelus pipinya, kuraba rambutnya, lalu jemariku menyusup ke sela-sela rambutnya dan kutempelkan dahiku di dahinya. “Maafkan aku… Maafkan aku…” aku meminta padanya.

Aku memejamkan mata dan membiarkan air mataku mengalir. Pusingan emosi membuatku tersedot dalam depresi. Aku lega melihatnya, aku kesal padanya yang membuatku cemas, aku mengkhawatirkan dirinya, tapi aku ketakutan melihatnya seperti ini. Membelai kepalanya, aku terus menggumam minta maaf.

Entah sudah berapa lama aku menahannya dalam pelukanku. Isakanku sudah berhenti, lalu aku dikejutkan oleh remasan di pinggangku. Aku membuka mata dan menatapnya yang sekarang sedang menatapku. Matanya lebar dan besar. Sisa-sisa air mata membekas di kelopak matanya. Tapi aku harus tersenyum karena lega melihat mata itu tidak lagi kosong. Mata itu menatapku. Tidak bisa dijelaskan apa artinya, tapi dia menatapku dengan satu arti. “Hei…” aku tersenyum padanya, mulutku hampir berkata, selamat datang kembali.

Dia menggerakkan lengannya dan aku bisa merasakan pinggangku dipeluk erat. Kubalas dia dengan mengacak rambutnya.

Malam itu, kami berangkat tidur setelah menghabiskan japchae buatannya. Saat aku hendak memasuki kamar, dia menarik tanganku sambil memanggil, “Hei…”

Aku menoleh padanya, setengah tidak percaya bahwa dia memanggilku. Tapi aku melihatnya menatapku tidak pasti. Tubuhnya bergerak-gerak tidak nyaman di sofa. Lalu, “Jaejoong. Namaku.”

 

-cut-

Iklan