Tag

, ,

Author: BeeNim
Pairing: BeeTeuk
Length : 1,098w. Oneshot
Rating/Genre: AA-PG/romance
Synopsis: Kehilangan Jungsoo ternyata sangat mengerikan. Berada dalam pelukannya sangat melegakan.
Ost: One by Epic High feat. Jisun.
A.N.: Sejenis Someday On OA Universe, semacam intermezo. OA-nya sendiri belum bisa dilanjutin. Maaf ya… Setting waktu cerita ini tepat setelah Jungsoo dan Bee akhirnya (kembali) uhukbersatuuhuk.
Url: http://wp.me/p1rQNR-mW

~

Super Junior Leeteuk saat ini sedang dirawat di bagian gawat darurat. Sejak ditemukan di bawah reruntuhan mobilnya, dia tidak terlihat bergerak sedikitpun. Meski demikian paramedis mengatakan bahwa saat ini statusnya masih hidup dan sedang mendapat pertolongan maksimal. Kita semua merasa bersyukur bahwa kecelakaannya terjadi pada saat ramai sehingga pertolongan segera datang.”

Terlalu banyak lampu. Terlalu banyak manusia. Namun satu manusia itu tak juga bisa kulihat. Perutku tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. Tapi aku harus maju.

Deretan penggemar wanita menangis meraung-raung di depan rumah sakit dan aku kembali terdorong ke belakang. Aku mau maju. Aku mau masuk. Perutku. Jangan sentuh perutku! Aku ingin berteriak panik, namun aku tidak bisa. Tidak bisa.

Kutatap pintu rumah sakit yang semakin rapat tertutupi manusia. Paramedis, wartawan, penggemar. Aku harus ke rumah sakit! Perutku butuh pertolongan! Tolong berhenti menarikku ke belakang.

Nafasku tersengal. Aku memakai pakaian musim dingin yang luar biasa rapat, lalu kenapa aku masih kedinginan. Semuanya terlalu kacau. Kumohon diamlah. Diamlah! Kututupkan kedua tangan ke telinga, berusaha menghalau keributan meracuni pikiranku.

Seseorang menarik sikuku. Mataku terbuka cepat. Dia. Dia menarikku.

Dengannya, aku bergerak maju. Dengannya, perutku terlindungi. Dia menarikku. Siapa dia?

Manusia-manusia itu tidak melihatku meski aku bisa melihat mereka semua berteriak, menangisi Leeteuk. Aku hanya melewati mereka. Seolah karpet merah digelar untukku, para penggemar itu tak mampu menyentuhku. Aku harus berterima kasih pada lelaki ini. Tapi siapa dia? Kenapa aku tak mampu mengingatnya? Siapa dia?

Pintu rumah sakit! Puji Tuhan! Aku melewatinya. Tuhan, adakah Kau? Aku baru saja memujimu, tolong aku, tolong dia, kumohon, tolong kami.

Koridor itu berbelok dan sekelompok orang menatapku. Wanita tua yang menangis, wanita muda yang bergetar terisak, lelaki tua yang tampak goyah. Aku pun goyah.

“Siapa kau?” tanya si wanita muda.

Aku ingin menjawab, sungguh. Kalau saja aku tak melihatnya. Kalau saja pikiranku mendadak hilang.

Darah dimana-mana. Dia berdarah-darah. Aku melangkah dan seseorang menghalangi langkahku. “Tidak…” aku mulai mengerang.

“Siapa kau?!” jerit si wanita muda.

Ini bohong! Ini bohong!

“Siapa kau?!” aku ditarik lagi. Aku diteriaki lagi.

Aku hanya berusaha maju lagi. Kali ini tak ada yang menolongku. Semua orang menatapku. Semua orang menangis dan mencurigaiku. Tapi bukan itu yang penting. Aku harus mendekat, itulah yang terpenting. Mendekat dan memastikan ini kebohongan.

“Tidak…” suaraku bergetar. Dia tidak bergerak. Dia berdarah dan itu bukan darah palsu. Matanya tertutup.

“Tidak!” aku mulai menjerit di sisi ranjangnya. Dokter dan yang lain menarikku. Semua orang berusaha menyingkirkanku.

“Tidak! Jungsoo-ya! Jungsoo-ya! Bangun! Tidak!” aku meronta, meronta tubuhnya, menarik tangannya. “Jungsoo-ya!!!” jeritku panik.

Apa itu yang ada di pelipisnya? Dagingkah? “Jungsoo-ya!!!” aku menggoncang tubuhnya. Kenapa tangannya dingin sekali. “Jungsoo-ya!!!” aku menjerit lagi.

Tidak. Aku menggeleng. Tidak boleh. Aku menunduk di atasnya. “Tidak, Jungsoo-ya, tidak! Bangun!” aku menampar pipinya. Dia menjawabku dengan ketidaksadaran. “Jungsoo-ya!!!” aku menjerit lagi, mencengkeram bajunya yang koyak.

Dada itu. Dada itu tempatku membenamkan wajahku, kenapa semerah itu?! Harusnya dadanya putih! Bukan merah! “Jungsoo! Park Jungsoo, ireona!” aku mencengkeram lengannya kuat-kuat sampai terasa cairan merembes di bawah kukuku. “Ireona, Park Jungsoo!”

Aku ditarik oleh dia. Dia menarikku dari keramaian, dia yang menarikku mencapai Jungsoo-ku. Namun aku tak bisa melihatnya. Kenapa? Apa aku menangis? Aku tidak menangis. Tidak, tidak ada waktu untuk menangis, tidak meski tubuhku gemetar. Aku harus membangunkan Jungsoo, meski kakiku tak sanggup berdiri.

Dia mengulurkan tangan padaku. Ke arah perutku. Apa yang akan dia lakukan? Apa yang akan dia lakukan pada perutku? “Tidak! Pergi! Jangan sentuh aku!” aku berteriak ketakutan.

Perutku tak boleh disentuh. Tidak. Aku menunduk dan kini aku bisa melihat dengan jelas.

Bulat. Menonjol. Perutku membulat. Dan dia terpelintir. Perutku terpelintir dari dalam. Sakit sekali. Sakit sekali Jungsoo-ya. Tolong aku. Bangunlah. Perutku sakit sekali. Anak kita, anak kita, Jungsoo-ya. Bangunlah. Selamatkan kami.

Kemudian kegelapan menarikku.

Aku  kembali dari kegelapan dalam kubangan keringat. Nafasku terengah. Perutku. Perutku. Perutku!

Kuraba tanganku di sana. Tidak, tidak sakit. Tidak menonjol. Anakku dan Jungsoo. Tidak ada.

Kepanikan menyerangku. Apa maksudnya anakku dan Jungsoo tidak ada? Kemana anak kami? Kemana anakku? Dan udara disedot lagi dari hidungku.

Aku menggoyangkan kepala dengan panik, mencoba mencari udara beroksigen. Anakku. Jungsoo. Jangan ambil semuanya dariku. Aku berpaling panik.

Dan seolah dunia diciptakan kembali.

Jungsoo, tertidur di sana. Di ranjang di samping ranjangku sendiri yang basah. Selimutnya tersingkap hingga dadanya terbuka. Dia kedinginan. Aku kedinginan. Tapi dia kering, dan kedinginanku disertai keringat mengerikan.

Aku ingin menangis, tapi selain nafas lega, tak ada apapun yang keluar. “Jungsoo…” panggilku lirih.

Tapi Jungsoo tak bergerak.

Aku bangun dan berpindah ke ranjangnya. Aku tidak tahu kapan dia pindah. Kami berangkat tidur bersama. Aku tidak suka menemukannya tidak tepat di sampingku. “Jungsoo,” panggilku mengulurkan tangan menyentuh kulitnya.

Halus, bergetar. Terima kasih Tuhan, dia hidup. Naik-turun dadanya menyiramiku dengan kelegaan luar biasa. “Jungsoo,” panggilku lagi. Tapi dia bahkan tidak menggerakkan bibir.

Tak mempedulikan pakaianku yang perlu diganti, aku menyusup masuk ke bawah selimutnya, mendesaknya bergeser, dan dia terusik. Tapi tidak terbangun. Dia bergeser dan berpaling menghadapku. Tapi tidak terbangun. Aku beringsut dan memaksa tubuhku menempel padanya, membuatnya beringsut. Tapi dia tidak terbangun.

“Jungsoo,” nadaku memohon sekarang. Kumohon bangunlah. Aku butuh kau hidup, Sayang. Bangun, lihat aku, katakan kau ada, dan jangan meninggalkanku terjaga seorang diri. Aku tak tahu, tak ingat apa yang terjadi, tapi aku mau merasakanmu hidup dan bernafas, Sayang. Kumohon.

Kuulurkan tangan menyentuh dagunya. Lalu pipinya. Lalu matanya. Dan dia terbangun. Matanya terbuka setengah. Dahinya agak berkerut. “Jungsoo,” aku tercekat melihat matanya yang bergerak-gerak bingung.

Dia menatapku. Sesaat kemudian matanya terbuka semakin lebar. Dia berjengit lalu memutar tubuhnya menghadapku. “Hai,” sapanya bingung. “Ada apa?”

Dan saat itulah aku menangis. Bibirku gemetar, air mataku menetes. Jungsoo panik. “Kenapa?!” tanyanya langsung bangun.

Aku ingin mengatakan banyak hal menjawab pertanyaannya, namun yang bisa kukatakan hanya, “Aku kehilanganmu. Jangan tinggalkan aku dalam tidur.”

Jungsoo ternganga. Satu, dua, tiga, lima detik kemudian ekspresinya melembut, melega. “Kupikir ada apa…” desahnya. Dia merangkulkan lengannya ke pinggangku dan seolah aku bisa melihatnya membuka mata dengan darah menghiasai wajahnya. Aku terkesiap dan segera memeluknya erat. Entah apa yang dipikirkan Jungsoo, dia kemudian hanya membawaku ketat dalam pelukannya. “Maaf…” ujarnya. “Kupikir kau butuh ruang untuk meluruskan punggungmu. Kupikir kau butuh beristirahat, jadi aku pindah,” bisiknya. Tangannya naik-turun menenangkan di punggungku.

Aku menghirup aroma tubuhnya. Percakapan kami sebelum tidur tadi terngiang lagi. Dan aku merasa sangat bersalah telah menertawainya. Kusembunyikan wajahku di lehernya dan berbisik, “Aku mencintaimu, Jungsoo. Tolong jangan tinggalkan aku…”

“Aku mencintaimu,” balas Jungsoo segera. “Ayo kita tidur lagi, aku tak akan meninggalkanmu kali ini,” putusnya.

Aku menggumam setuju, mengatur nafas, membiarkan segalanya tentang Jungsoo merasukiku, membimbingku kembali ke alam tidur. Di sana aku akan menjawab pertanyaan si wanita muda dan menatap wanita tua dan lelaki tua yang tadi menghalangiku mendekati Jungsoo, “Aku Beauty. Aku bersama Jungsoo. Kami bersama.”

KKEUT.

Iklan