Tag

,

Author : BeeNim
Pairing : Yunho-Aku
Length : 1,201w. Oneshot
Rating/Genre : AA-PG/Romance
Synopsis : Bangun dengan bersemangat, sarapan dengan bersemangat, semangat itu berjudul Jung Yunho.
Ost : Maximum by DBSK
A.N. : Sappy! alert. Fluffy sampe muntah. Semacam mimpi gaje di pagi buta.
url : http://wp.me/p1rQNR-mP

~

Kepalaku ditekannya dengan dagu. Pinggangku dipeluknya rapat. Dadanya kutekan dengan punggungku yang bergerak-gerak. Bisa kurasakan dia tersenyum di atas kepalaku. “Hmm, kau suka?” tanyanya.

Sambil mengangguk dengan senyum berbayang, kubalik telur dadar di pinggan tahan panas dengan gerakan sok master chef. Pinggulku mendesak pangkal pahanya. Aku tersenyum mendengarnya menggeram. “Kau suka sekali, kalau begitu?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk lagi lebih jelas, mengamati telur yang mulai kaku. Dengan sumpit kugulung telur itu. Tiba-tiba kepalaku bergerak ke samping, menirukan gerakannya kalau di panggung. Hatiku bergetar senang mendengar tawanya. Hangat. Bukan dari kompor, ya.

Dia menunduk, bibirnya menyentuh leherku. “Aku mau sarapanku baik-baik saja, jangan sampai gosong hanya karena kau mulai jadi penari,” ujarnya manja.

Aku memajukan bibir mengiyakan lalu berkata, “Tentu saja dia akan baik-baik saja. Aku membuatnya sepenuh hati.”

“Tapi hatimu kan sudah untukku semua,” dia protes dan menggigit tahi lalat di tengah leherku.

“Tenang saja, sarapanmu kan nanti masuk dalam tubuh, jadi kau bisa makan hatiku juga,” jawabku asal.

Terdengar instrumen lagu yang kuat menyentak. Serentak kami bergerak selaras, kiri, kanan, kiri, kanan, lalu meliuk. Dua kali. Lalu kami tertawa.

Dagunya sekarang menempel di pelipisku. “Kau benar-benar menyukai lagu ini ya?” tanyanya.

Aku menggumam sebelum menjawab, “Lagu yang bagus di pagi hari. Membuatku bersemangat.”

“Suapi aku sepotong,” dia meminta telurnya. “Hmm, begitu ya? Aku tidak kepikiran— kurang asin sedikit,” dia mengeluarkan bunyi slurp keras. “Aku tidak kepikiran sampai ke sana,” ulangnya, “tapi kalau dibilang bersemangat, lagu ini lebih tepat dibilang melelahkan.”

“Kurang asin?” tanyaku, dia mengangguk. Kutambahkan garam tabur dan membalik telurku lagi. “Aku tahu memang melelahkan. Tapi seksi sekali.”

“Loh, bukannya menurutmu Before You Go yang lagu seksi?” dia menjauhkan tubuhku, membuatku menoleh dan menatap matanya yang bertanya.

Aku mendecak. “Before You Go paling seksi kalau malam. Lagu ini seksi di pagi hari.”

Dahinya berkerut lalu alisnya terangkat nakal, “Jadi tadi malam itu seksi? Waktu kau memutar Before You Go sebelum kita… tidur?”

Aku mematikan api kompor lalu menariknya mendekatiku. Berjinjit sedikit, aku memagut bibirnya sambil menggeram senang. “Tadi malam luar biasa,” jawabku di mulutnya.

Kudengar gelaknya pelan lalu dia meraih pinggangku, menempelkan tubuh kami, dan memberikan sarapan utamaku pagi itu. Ciumannya.

Dia hangat, beraroma khusus dia, pipinya kasar belum bercukur. Aku suka meraba rahangnya. Aku suka didekapnya. Aku suka caranya menyantapku. Aku menikmati tangannya melebar di punggungku. Merasa aman saat bahunya melengkung seolah ingin melingkupiku. Aku bergetar merasakan kekuatan lengannya di bawah jemariku. Aku jatuh cinta lagi padanya saat dia berbisik, “Kau wangi.”

Dan aku terpesona melihat matanya berkerlip ketika aku menjawab, “Untukmu.”

Dia memperdalam ciumannya, tapi sebentar saja. Melepaskanku, dia bertanya, “Janji ya, jangan biarkan baumu dicium oleh lelaki lain?”

Terdengar akhir refrain lagu dan alih-alih menjawabnya, aku bergerak meliuk kembali menirukan gerakannya. Dia meledak dalam tawa melihat gerakanku yang pasti kacau, bagaimanapun aku bukan penari. Membawaku kembali dalam pelukannya, dia berguncang-guncang melihatku tetap menari. Harusnya aku malu ditertawai, tapi karena tidak semudah itu aku melihat tawa lepasnya langsung di hadapanku, aku memutuskan rasa malu tidak berguna. Aku senang membuatnya tertawa.

“Sorichyeo! neoneun sesangeseo jeil areumdapda,”[1] ujarku dengan gayanya yang bersemangat.

Dia tertawa.

“Oechyeobwa! naneun sesangeseo jeil areumdapda,”[2] aku meletakkan tangan di telinga berpura-pura menjadi dia.

“Oechyeobwa! naneun sesangeseo jeil areumdapda,” sahutnya menggantikan suara Changmin. Tawanya berubah jadi senyum, matanya melembut.

Niatku melanjutkan menyanyi terganti oleh seruan terkejut saat dia melentingkan tubuhku ke belakang seperti yang dilakukannya di panggung. Untung bagiku, lengannya menahan tubuhku. Untung bagiku, dia sudah berhenti tertawa. Untung bagiku, dia membuatku berhenti menyanyi, karena aku tidak mungkin terus bersuara kalau mulutnya menggoda pangkal leherku seperti sekarang.

Aku sungguh tidak menyangka lagu ini, yang tarian aslinya begitu energis, bisa berubah mendadak eksotis begini.

Tanganku terulur ke kepalanya, jemariku menelusuri kulit di bawah rambutnya. Sejenak, lagunya yang terus diputar sejak kami memutuskan membuat sarapan, terlupa. Suara musik teredam sensasi sentuhan bibirnya di kulit leher dan rahangku. Bayangannya menari keren beralih oleh rasa tangannya yang kuat di pinggangku. “Yunho…” desahku.

Dia tidak menjawab. Tangannya yang satu lagi kini meraba kepalaku, menggenggam sejumput rambut di sana, memaksaku menatap matanya.

“Chungbunhi areumdaun neo..”[3] katanya dalam.

Aku tersenyum. Saranghae, saranghae, saranghae, aku sudah hampir mengatakannya kalau saja suara Changmin kemudian mengisi telingaku. Lagunya.

Berpegangan pada bahunya, kutarik tubuhku bangun. Mulutku dekat sekali dengan telinganya dan aku berbisik, “Nareul bwa, naege ireonan ireul.” [4]

Dia tersenyum lebar sekali lagi. Aku melepaskan tubuh darinya, menuju ke kompor. Sambil mewadahi telur ke piring, aku bergerak sekenanya mengikuti irama. Bibit keringat mulai muncul di punggung, dan itu membuatku makin bersemangat. Kuserahkan piring berisi telur padanya, lalu bergerak mengambil mangkuk  nasi dari rak. Dia menggumam menyanyikan lirik lagunya sementara aku berdendang tanpa syair sambil mengisi mangkuk nasi.

“Boyeojulge nareul ttara haebwa momeul umjigyeo bwa da hamkke. Nareul neomeoseo mannage doeneun saerowojin na~”[5] kudengar falsetonya menggantikan lengkingan suara Changmin.

Aku berbalik dengan dua mangkuk nasi di tangan.  Refrain lagi. Dan aku tak bisa menahan diri bergoyang dengan liukan mereka yang berulang kali kulihat di video sampai hapal.

Lihat aku dan semua yang terjadi padaku, aku telah menaklukan semuanya hingga sampai di sini.
Aku tak akan lagi terjebak di menara kecil ini lebih lama.
Sejak awal takdirku sudah berbeda. Sekarang aku menjalani pilihanku.
Akan kututup pintu masa lalu, melangkah ke masa depan.

“Naingeol.” Itulah aku, kami berdua bersama menyerukan bagian itu.

Makanan sampai di atas meja dengan selamat. Tangan kami sudah bebas dan tubuhku sudah berkeringat. Adrenalin mengalir lebih cepat, aku sangat bersemangat. “Sudah kubilang, lagu ini seksi,” kataku padanya saat intro mulai terdengar lagi. Aku suka rasanya saat napasku mulai berpacu.

Dia tersenyum.

Kuraih pinggangnya dan mengecup bibirnya singkat. “Kalian seksi sekali saat menarikan ini,” aku menggumam tak jelas, memuji lebih jauh, lalu, “Pokoknya setiap kali mendengar lagu ini, aku selalu diingatkan bahwa kau dan Changmin memang pria-pria dengan takdir istimewa. Plus… diberkati karena kaki panjang kalian. Tuhan, aku suka kakimu! Setiap kali membayangkan kau menarikan lagu ini aku jadi hangat!”

Wajah Yunho memerah, dia menggigit bibirnya malu. Aww, aku suka pacarku yang manis kekanakan seperti ini. Tatapannya teralih sejenak ke atas meja, lalu dia bergumam senang, “Terima kasih.”

Kueratkan pelukanku dan menghirup aromanya dalam-dalam sebagai balasan.

“Kita makan sekarang?” tanyanya sambil mengelus pundakku.

Aku melepaskan diri darinya dan mengangguk. “Ayo.”

Kami duduk berhadapan, makan dengan bersemangat diiringi Maximum yang sekali lagi berputar ulang. Aku suka sekali lagu ini saat dia duduk di hadapanku dengan wajah super ceria. Meski nanti siang kami harus berpisah lagi karena dia harus kembali sibuk dengan semua aktivitasnya, tapi kebahagiaanku tidak surut secuil pun. Sejak awal aku tahu konsekuensi berhubungan dengannya, lagi pula bukannya aku sendiri kurang kesibukan, jadi aku akan menghargai apa yang bisa kudapat, memperlakukan waktu yang berharga sesuai dengan nilainya yang tak tergantikan. Waktuku bersamanya tak akan pernah tergantikan.

“Yunho-ya…” aku memanggilnya, kakiku menyentuhnya di bawah meja. Dia mengangkat wajah dan kami bertatapan. “Maukah kau…” rasa malu yang menjalari tubuhku terasa menyenangkan. Aku berdeham, lalu mengulang, “Maukah kau…” Dia menatapku menanti, sendoknya berhenti di tengah jalan, “mengajariku menarikan Maximum?”

Mulutnya terbuka, lalu dia tersenyum. Aku berterima kasih pada siapapun yang mendengarku di atas sana karena memberikan kesempurnaan di duniaku.

Yunho mengangguk, “Tentu saja. Bahkan… mungkin kita akan punya koreografi sendiri untuk itu. Bagaimana menurutmu?”

Aku menunduk malu membayangkan tarian pribadiku dengannya. Oh Tuhan, hangat sekali rasanya. Terserah kau saja, Yunho-ya… Terserah padamu… Semuanya, ujarku dalam hati dan mengangguk mengiyakannya.

 

KKEUT.


 [1]Berserulah! Kau yang paling bersinar di dunia.

 [2]Berserulah! Aku yang paling bersinar di dunia.

 [3]Kau lebih dari cantik…

 [4]Lihat aku, lihat semua yang ada padaku.

 [5]Akan kutunjukkan padamu, ikutilah aku, kita bergerak bersama. Telah kutaklukan diriku yang lama dan inilah aku yang baru.

Iklan