Tag

, ,

Author : Bee
Cast : Go Sora, Go Miho, Park Jungsoo.
Rating : AA-PG
Genre : family fluff-romance
Ps : Hanya… gitu deh… Sesuatu banget bikinnya. Hasil akhirnya beda seratus persen dari rencana. Semacam bagian dari Antologi Abu-abu yang bisa diliat daftarnya di SINI.
Ost : Saranghao by Alex <- highly recommended karena ceritanya terinspirasi dari MV ini.
url: http://wp.me/p1rQNR-m9

***

Eomma menatap Appa kesal karena Appa tak mau membawaku pergi sekolah. “Sehari saja, Miho-ya.. O?” Appa berusaha membujuk Eomma.

Eomma menggeleng tegas. Dia selalu begitu, sangat tegas kalau urusan ke sekolah. Padahal sekolahku hanya pra-sekolah, tapi aku sudah bisa merasakan bahwa selain menyenangkan, pergi ke sekolah itu penting. Semua karena Eomma.

“Miho-ya…” Appa mendekapku dan memasang wajah menderita, menempelkan pipinya di pipiku dan menghentak-hentakkan kakinya.

“Sekolah kan hanya sebentar, Jungsoo… Nanti kau bisa menjemputnya dan bermain lagi dengannya,” Eomma berkata membujuk, kurasa agak kesal tapi juga geli. Aku bisa melihat garis-garis lembut di ujung bibir Eomma semakin tampak jelas.

“Tapi itu tetap tiga jam! Aku akan kehilangan waktu tiga jam!” Appa menatapku nelangsa kemudian menatap Eomma. “O? Miho-ya…” Appa menghentakkan kakinya lagi.

Appaku pria paling tampan sedunia. Aku belum lupa bahwa aku ingin menikahi Appa saat aku besar nanti. Dan melihat mulutnya mencibir sedih seperti itu membuatku kasihan padanya. Aku pun tak tega membiarkan Appa berwajah begitu. “Miho-yaaa…” aku menirukan Appa.

Sekarang aku harus menahan senyum di dalam bus agar tidak dipandangi curiga oleh orang lain karena senyum-senyum sendiri. Aku masih ingat jelas sekali bagaimana Appa dan Eomma sontak terdiam waktu itu mendengar celotehku. Mereka kemudian menatapku panik.

“Ani, Sora-ya… tidak boleh. Ini Eomma… kau harus memanggilnya ‘Eomma’, arasseo?” Appa langsung berkata panik.

“Sora-ya… ini ‘Eomma’, nak.. Eomma… bukan Miho…” Eomma mengikuti Appa sambil mencubit lengannya. “Semua gara-gara kau!” bisik Eomma menyebabkan Appa menahan cengiran kesakitan.

Eomma mengambilku dari gendongan Appa lalu bertanya, “Sora sekolah ya?”

Aku tahu, itu artinya Appa yang menang. Sebab artinya Eomma menyerahkan semuanya padaku. Aku tentu saja tak mau membuat Appa sedih sehingga akan memihaknya. Di atas segalanya, Eomma tahu aku selalu memihak Appa. Selalu.

Aku dan Appa langsung bersorak kegirangan begitu Eomma menurunkanku dari gendongan dan menunduk kalah setelah melihatku menggeleng. Hari itu kami bertiga menghabiskan waktu di taman bermain.

Aku memandang keluar jendela bus yang bergoyang, menatap tanah persawahan yang terbentang luas. Itu artinya sebentar lagi aku akan bisa melihat muara-muara sungai dan tak lama kemudian aku bisa melihat pantai. Dan itu hanya berarti satu, yaitu sebentar lagi aku akan melihat rumah Eomma.

Matahari memancar kuat karena ini musim panas, dan untukku, dia membawa ingatan terindahku tentang kedua orang paling kusayangi di dunia.

Hari di taman bermain itu adalah kenangan paling indah yang bisa kuingat dari kilasan masa kecilku. Appa sangat kegirangan bisa membawaku jalan-jalan bersama Eomma. Kami menaiki semua wahana yang aku mau. Aku masih ingat ciuman Eomma di pelipisku saat kami menaiki kereta di rumah boneka. Aku masih bisa mencium aroma Appa yang sangat kusukai ketika aku menyembunyikan wajahku di lehernya di dalam rumah hantu. Pipiku masih menghangat teringat ciuman kedua orang itu di masing-masing pipiku saat kami berfoto bersama kelinci besar berwarna pink cantik. Sampai sekarang, warna pink masih jadi warna kesukaanku, karena ingatan kebahagiaan yang dibawanya.

Aku membuka dompetku dan menatap foto hari itu yang kupotong diam-diam dari album foto yang selalu disimpan Eomma dengan rapi. Kami punya banyak sekali foto bersama. Saat itu aku tidak paham kenapa Appa dan Eomma sangat keranjingan mengambil foto kami bersama, tapi sekarang aku tahu. Mereka ingin menyimpan semua kenangan kami dengan sempurna. Mereka mengumpulkan semua jejak sebanyak mungkin, karena tahu perpisahan pasti akan terjadi di masa depan.

Aku tersenyum. Sesuatu melintas di kepalaku. Sesuatu yang selalu menjadi sumber kekuatanku saat Appa tidak di rumah. Waktu kecil aku hanya paham bahwa Appa tidak bisa selalu bersama kami, entah apa alasannya. Aku tak ingin mengorek lebih dalam tentang itu sebab ketika Appa tidak ada, Eomma akan diam-diam berwajah sedih, dan kerutan yang muncul di wajahnya adalah kerutan yang paling tidak kusukai, yaitu kerutan di antara dua alisnya. Eomma tampak sangat lelah dan sedih. Aku ingat aku selalu berusaha sekuat tenaga menjadi anak baik yang membuat Eomma tersenyum, meskipun aku sadar sekalipun aku membakar rumah, Eomma akan selalu menyisakan senyumnya untukku. Melihatku adalah sumber senyum Eomma, itu kupelajari dengan cepat.

Lalu yang menjadi sumber kekuatanku agar selalu menjadi anak baik? Itu adalah ketika hari itu kami beristirahat makan siang. Aku ketiduran karena lelah dan kenyang, namun aku tidak bisa tidur senyenyak itu karena tanah di bawahku cukup keras sebab kami hanya mengalasinya dengan selimut piknik tipis. Saat aku membuka mata, pemandangan saat itu adalah pemandangan yang menjadi impianku hingga kini.

Eomma sedang berceloteh tentang foto-foto yang terekam dalam kamera, dan aku jatuh cinta lagi pada Appa yang saat itu tampak sangat tampan karena sedang memandangi Eomma dengan tatapan memuja. Eomma tak menyadarinya, tentu saja, karena dia sibuk melihat ke arah kamera. Sampai akhirnya Appa mengulurkan tangan ke leher Eomma, membuatnya menengadah dan menciumnya cepat di bibir. Suara Appa waktu itu berbisik, tapi jelas sekali, “Saranghae, Miho-ya…”

Pipiku terasa panas mengingat wajah Eomma yang langsung memerah begitu mendengar ucapan Appa. Ketika itu Eomma membuka mulut, namun tak ada satu pun suara yang terdengar. Appa mendekatkan wajahnya dan mencium Eomma lagi, kali ini lebih lama. Itu pameran cinta pertamaku. Pribadi dan eksklusif. Karena itulah aku tak berniat mendapatkan sebuah cinta yang kurang dari itu. Tak peduli seperti apapun akhirnya, aku yakin, Appa mencintai Eomma sebesar sisa hidupnya dan Eomma mencintai Appa dengan segenap hidupnya.

Kalau saja waktu itu aku sudah sedikit lebih besar, aku pasti akan bersembunyi di balik pohon dan membiarkan mereka menyelesaikan ciuman mereka. Tapi aku malah cemburu dan ingin Eomma dan Appa cepat-cepat melihatku lagi, bukan hanya melihat mereka masing-masing.

Bus terus melaju, kilasan demi kilasan bahagia terus bermunculan. Meski aku dan Eomma harus berpisah dari Appa, aku tak pernah bisa membenci lelaki itu. Justru Eomma selalu membuatku bersyukur aku sempat mengenal Appa.

Saat aku sudah lebih besar, Eomma kadang bercerita tentang tingkah Appa yang menurut mulutnya memalukan tapi di hatinya dia sangat senang diperlakukan seperti itu. Appa senang memeluk Eomma yang sedang mencuci piring dari belakang. Appa suka tengkuk Eomma. Appa senang Eomma mengajarinya memasak lalu suatu saat yang sangat tiba-tiba akan mengejutkan Eomma dengan masakan yang dipelajarinya itu. Appa suka mengeluh seperti anak kecil kalau habis bermain denganku kemudian tertidur di pangkuan Eomma.

Saat Eomma berkunjung ke apartemenku secara tiba-tiba dan menangkap basah aku yang tinggal bersama dengan pacarku, Eomma mengusir pacarku keluar dan menangis. Kukira dia kecewa padaku, kukira dia akan memarahiku, tapi ternyata dia sedih karena aku sudah bisa hidup tanpanya. Tanpa kuduga, Eomma menceritakan kebiasaan Appa yang suka membangunkannya dengan ciuman di pagi hari kala Appa menginap di rumah kami. Lalu kebiasaan Appa yang suka mencuri-curi kesempatan mencintai Eomma saat aku sedang bermain atau tidur. Aku malu mendengarnya, tapi kurasa aku lebih merasa senang karena Eomma tampak begitu manis saat menuturkannya.

Saat itu, sesudah Eomma selesai bercerita, aku sakit hati. Setelah menyadari arti seorang kekasih untukku, aku sakit hati pada Appa yang tega meninggalkan aku dan Eomma; hanya berkunjung beberapa kali dalam seminggu. Aku sakit hati dan mengira Appa hanya memanfaatkan Eomma. Namun lalu Eomma bercerita:

“Appamu… Akan datang ke rumah dengan wajah kusut. Dahinya sering seperti baju baru diangkat dari jemuran. Tapi Eomma tidak pernah mengingat Appa keluar dari halaman dengan perasaan kurang dari bahagia… Appamu lelaki paling mesum sedunia. Hobi menggerayangi Eomma di tempat-tempat tidak pantas; di tempat jemuran, di sauna, bahkan pernah membuat Eomma hampir malu karena menggoda Eomma di ruang coba pakaian di departement store. Tapi dia tak pernah lupa membangunkan Eomma dengan ciuman selamat pagi kalau dia menginap, seperti dia tak pernah lupa memastikan menjadi lelaki pertama yang kau lihat setiap pagi saat dia ada.”

Eomma menerawang. Aku mendesah. Bahkan saat itu aku rasanya sadar bahwa Eomma sangat merindukan Appa. Dan Eomma pun melanjutkan, “Dia tak pernah membawakan Eomma bunga, apalagi membelikan cincin. Tapi dia menunjukkan ketakutannya pada Eomma setiap saat. Dia membuktikan seberapa besar arti Eomma baginya setiap kali dia mencintai Eomma. Dia menunjukkan betapa dia tidak hidup tanpa kita. Tanpamu dan Eomma.”

Eomma mengatakan itu sambil menggenggam tanganku, menatapi wajahku, lalu dengan pelan berkata, “Panggil pacarmu pulang.”

Seandainya aku tak bertemu Appa lagi, aku pasti sudah berteriak pada Eomma bahwa dia hanya wanita delusional. Tapi aku sudah melihat semuanya. Kehidupan kami yang terpisah, sekaligus utuh dan saling melengkapi, aku melihat semuanya, dan tahu bahwa Eomma benar. Appa memang mencintai kami sebesar hidupnya.

Dan semuanya berawal dari wanita yang sekarang sedang melambaikan tangan dengan bersemangat melihatku turun dari bis. Wanita yang dicintai Appa dengan cara yang hanya lelaki itu yang bisa melakukannya.

>>>

Aku mengikuti Appa berjalan di taman. Tanganku menggenggam kamera dan sibuk mengambil gambar kesana kemari. Appa bertanya padaku apakah pemandangannya cukup baik, aku menjawab pemandangannya sempurna. Appa menoleh dan tersenyum padaku.

Kami sampai di bukit belakang rumah Appa. Itu bukit pribadi Appa; Appa dan keluarganya, yang tidak termasuk aku. Kami menuju satu tempat yang selalu kami datangi kalau kami bersama, sebuah bangku yang tertutupi oleh lebat pepohonan, namun terbuka di depan untuk melihat pemandangan luas di bawah bukit. Hari itu mendung, cuaca ringan, khas awal musim gugur.

Aku memandangi tampilan alam luar biasa yang tak pernah berhenti membuatku kagum. Appa memandangiku. “Kau selalu membuat Appa kagum, Nak,” ujarnya dengan tenang.

Aku menoleh padanya lalu tersenyum. Sesuatu di belakang Appa menarik perhatianku, aku mengangkat kameraku dan mengambil gambar pepohonan yang masih hijau. Hutan, tempat termanis sedunia.

Dulu sekali, aku, Appa dan Eomma pernah piknik ke hutan. Kami memutuskan berkemah di sana selama akhir minggu. Kenapa aku ingat? Sebab aku yang memintanya. Temanku di sekolah menceritakan pengalamannya berkemah dan aku ingin melakukannya juga. Saat itu, sepulang dari sekolah aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Eomma menjemputku, dia lebih diam dari biasanya. Sampai di rumah, Appa sudah ada di sana. Mereka tidak banyak bicara, terlalu tidak banyak bicara.

Kami terus berada di rumah. Appa mengajakku bermain, tapi Eomma selalu menghindari kami. Aku tidak terlalu peduli karena aku terlalu bersemangat Appa datang. Yang kuingat berikutnya adalah aku terbangun di ruang tengah sendirian. Tak ada Appa, tak ada Eomma. Aku ketakutan.

Tapi hanya sebentar karena lalu kudengar suara Appa dari kamar Eomma, “Maafkan aku, Miho-ya. Sungguh aku minta maaf.”

Aku tak mendengar Eomma menjawab. Hanya suara Appa lagi, “Kau tahu kan aku tidak sungguh-sungguh melakukannya? Itu hanya formalitas.”

Eomma masih diam. “Aku tidak tahu Sora sakit, kau tidak memberitahukannya padaku. Kalau tahu aku pasti datang lebih cepat. Kita sudah sepakat tentang—“

Lalu kulihat Eomma keluar ruangan, meninggalkan Appa di belakangnya. Mereka tidak melihatku yang mengintip dari balik sandaran sofa. Eomma terus berjalan ke arah pintu keluar. Appa menariknya, “Miho-ya, saranghae.”

Eomma menarik tangannya dan terus melangkah keluar, tidak memperdulikan Appa yang kebingungan. Appa sudah hendak mengejar tapi kemudian teringat sesuatu. Dia menoleh dan bersitatap denganku. Aku mengedip. Dua kedipan kemudian Appa sudah ada di sampingku. “Uri Sora sudah bangun?”

Aku meringkuk di depan dada Appa. “Eomma marah ya Appa?” tanyaku menanyakan hal yang sudah kutahu. Saat itu aku hanya berpikir, Appa kena sial karena dimarahi Eomma. Aku saja selalu mendapat kesialan sepanjang hari kalau tahu Eomma tidak senang dengan kelakuanku. Kali ini Appa benar-benar sial karena Eomma sepertinya benar-benar marah.

“O,” Appa menjawab jujur. Aku suka Appa yang selalu jujur padaku. Dia selalu menunjukkan padaku bahwa kehidupan yang penuh keterbukaan akan berakhir melegakan pada akhirnya. Aku hanya memeluknya, berusaha menghiburnya.

Ingatanku kembali ke masa sekarang ketika Appa menyentuh kameraku. Lelaki itu bertanya apa yang kudapat. Aku mengerjap dan merasa rinduku padanya bertambah. Aku menggeser tubuh ke arahnya, menaikkan kaki dan melingkar di sebelahnya. Appa tersenyum dan melingkarkan pelukannya di bahuku. “Aku memotret hutan,” ujarku. “Appa ingat saat kita berkemah?”

Appa menoleh, tapi aku tidak. Pipi Appa menyentuh dahiku. “Waktu itu Appa dan Eomma sedang bertengkar. Aku malah mengajak kita berkemah,” kataku dengan dagu menempel di lutut.

“Aah… yang itu…” Appa tersenyum. Saat itulah aku mendongak. Kali ini Appa tidak menatapku, melainkan pemandangan di bawah bukit. Matanya berbinar. “Terlalu banyak kenangan manis bersama kalian, Appa harus mengurainya satu-satu di otak Appa. Appa sudah tua sekarang.”

Aku tersenyum, meraih pipi Appa dan lelaki itu menoleh. Kami tersenyum bersama. “Tapi Appa tetap tampan. Eomma pasti senang kalau melihat Appa lagi,” kataku, tahu pasti apa yang akan menjadi reaksi Appa. Matanya berubah gelap, senyumnya sedikit memudar.

Appa memutuskan kontak mata denganku dan mengalihkan pembicaraan, “Appa rasa Appa belum berterima kasih padamu.”

“Untuk apa?” tanyaku bingung. Tidak ada gunanya mendesak Appa—maupun Eomma—karena subyek tentang pertemuan kembali tidak boleh ada dalam kamus hidup keduanya.

“Karena mengajak kami berkemah saat itu. Kalau tidak begitu kami baru akan berbaikan lama setelahnya.” Appa menoleh ke arah hutan. “Hutan itu cantik ya?”

Menurutku tak ada hutan yang lebih cantik dari tempat kami berkemah dulu itu, tapi aku hanya menggumam mengiyakan.

“Appa suka hutan. Appa suka taman bermain. Appa suka pantai. Appa suka rumah yang kecil. Karena Appa selalu bisa melihat kalian di sana,” suara Appa terdengar. Ada kerinduan yang tak bisa ditawar dalam suaranya. Terkadang aku merasa sangat diberkahi karena lahir sebagai anak mereka, karena dengan begitu aku masih bisa bertemu keduanya. Kalau aku adalah salah satu dari mereka, aku tak akan pernah bisa bertemu yang lain saat kerinduanku memuncak.

“Appa, apa aku mirip Eomma?” tanyaku mengalihkan perhatiannya dari kenangan.

Appa menoleh dan menatapku lama. Aku tahu jawabannya. Berulang kali kami mengulang dialog ini, semata hanya karena aku ingin Appa bisa mengingat Eomma dengan jelas. Aku tahu seberapa mirip aku dengan Eomma. Mata Appa mendadak berkaca-kaca. “Selalu ada Miho dalam dirimu,” bisik lelaki itu sambil mencegah air matanya turun.

Aku memeluk Appa dengan sayang. Eomma selalu mengatakan hal yang sama, Eomma melihat Appamu di dalam sini, sambil menyentuh dadaku. Cinta mereka yang terpisah, rindu mereka yang menusuk, mereka limpahkan semua untukku.

Appa mengelus kepalaku dan pikiranku melayang lagi ke saat ketika aku remaja melakukan perjalanan jauh ke ibukota. Aku tahu Appaku tinggal di sana. Aku tak mengharapkan apapun, hanya ingin melihatnya. Aku rindu, aku ingin melihatnya.

Takdir sangat baik pada kami karena kami kemudian dipertemukan. Aku mengenalinya langsung dan dia tahu aku putrinya. Kami bertemu dalam ketergesaan dan kerahasiaan, tapi toh aku bahagia. Appa terus memelukku erat seolah bertahun-tahun perpisahan kami tak pernah terjadi. Appa memelukku dengan cara yang aku suka. Appa membelaiku dengan tangan yang dengan segera terbiasa kurasakan. Usia yang terlalu kecil ketika Eomma membawaku pergi dari penglihatannya tidak menghapus ingatan di tubuhku akan kasih sayangnya.

Sejak itu aku terus berhubungan dengan Appa. Aku tak pernah memberitahu Eomma, tapi mungkin Eomma sudah bisa menebak. Aku tidak tahu.

Selama bertahun-tahun aku membujuk seorang guru baik di sekolahku untuk mengatakan pada Eomma bahwa aku mendapat beasiswa. Itu untuk menutupi kenyataan bahwa Appa memutuskan untuk membiayai sekolahku. Lalu kuliahku. Lalu membantuku mencari pekerjaan. Aku tak pernah mengatakannya pada Eomma.

Bukan karena takut Eomma melarang, tapi karena takut Eomma akan semakin rindu pada Appa. Dan aku terus mengatakan pada Appa bahwa Eomma tak tahu apa-apa dengan alasan yang sama. Istri Appa sekarang dan adik-adik tiriku hanya tahu aku anak yang pernah berjasa membantu Appa. Mereka agak iri padaku karena aku berhasil mendapat tempat di hati Appa, tapi mereka tidak membenciku. Aku adalah orang luar yang baik di mata mereka, itu saja.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Appa bertanya lembut.

“Baik,” jawabku malas.

“Bagaimana pacarmu?” tanya Appa lagi. Dia tahu semua tentang kehidupanku di ibu kota. Appa dan Eomma, keduanya tahu hal yang sama persis tentang hidupku. Menanggapinya dengan sedikit berbeda, tapi kurang lebih saling mendukung, bahkan saat mereka tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun.

“Kami mau liburan, ke Saipan. Apa kau mau ikut?” kembali Appa bertanya.

Aku tidak pernah mengikuti acara keluarga Appa. Tidak pernah. Aku menggeleng menjawab Appa, “Aku lebih suka ke Bali dengan pacarku.”

Appa menepuk kepalaku pelan. “Jangan hamil di luar nikah,” katanya memperingatkan dengan prihatin.

Aku tahu apa yang ada dipikirannya. Jangan melakukan apa yang dia dan Eomma lakukan. Jangan menciptakan Sora yang lain. Maka aku tersenyum padanya, “Arasseo… Kami sudah lebih serius kok sekarang.”

Appa memandangku. “Appa ingin mendampingimu menikah,” ucapnya tiba-tiba.

Mulutku terbuka. Pembicaraan tentang menikah selalu membuat Eomma kebingungan. Dia tahu aku ingin melangkah di altar sendirian. Bukan, bukan berarti aku benci ayah tiriku, tapi aku masih punya ayah yang cintaku padanya tak bisa kubandingkan dengan siapapun. Tapi Eomma tak tahu itu. Eomma hanya tahu aku adalah anak mandiri yang tidak ingin membuat ayah tirinya repot. Sekarang Appa ingin mendampingiku menikah, apa yang harus kukatakan pada Eomma?

“Tapi nanti kau melangkah di depan altar sendirian, Nak.” Aku seperti masih bisa mendengar Eomma menyuarakan kekhawatirannya. Ayah tiriku hanya menatapku bijaksana saat itu. Kuakui, dia lelaki terbaik untuk Eomma. Dia mencintai Eomma apa adanya, tidak menuntut, tahu bahwa cinta sejati Eomma hanya milik Appa. Dia tidak memaksaku memanggilnya Appa karena dia tahu aku memiliki Appa yang sebenarnya. Aku hampir yakin dia tahu aku dan Appa saling berhubungan.

Lelaki itu menggenggam tanganku dan berkata dengan suaranya yang dalam pada Eomma, “Lalu kenapa? Putrimu kan putri paling luar biasa. Dia sudah menunjukkan keberaniannya selama ini dengan menjadi orang dewasa yang hebat.”

Aku memeluk Appa sekarang dengan pelukan yang sama yang kuberikan pada lelaki itu saat itu sebagai jawaban bisu akan pernyataannya tentang pendamping pernikahan. Aku sangat menyukai ayah tiriku, juga mencintainya karena dia mencintai Eomma. Eomma pantas dicintai dengan sempurna.

Appa membalas pelukanku. Dia bergumam merasa bersalah, “Kita bicarakan lain kali.”

“O. Lain kali saja, Appa,” bujukku. Appa menepuk lenganku. Aku berucap, “Terima kasih, Appa,” atas pengertiannya. Oh aku rindu memeluk Appa dan Eommaku dengan kedua lengan.

Kami menghabiskan beberapa waktu lagi di sana sambil mengambil gambar. Aku sangat suka memotret meskipun tak berbakat untuk itu. Aku suka kenangan di balik gambar-gambar yang kuhasilkan. Aku suka mendengar gambar-gambar itu menyuarakan suasana yang terjadi saat mereka diambil. Saat aku mengatakan pikiranku itu pada Appa, Appa bilang bahwa dialah yang membuatku suka memotret.

Aku mencibir dan dia memprotes cibiranku. Katanya, itu benar karena aku selalu dikelilingi oleh kerjap kamera sejak aku lahir. Appa dan Eomma menanamkan hal penting pertamaku di otakku, yaitu simpanlah kenangan sebanyak-banyaknya. Mereka menunjukkan bahwa semua peristiwa, berharga untuk disimpan dan diingat. Yang buruk, yang menyedihkan, yang mengesalkan, juga yang menyenangkan, membuat haru, yang membuat cinta meluap-luap. Aku setuju dengan Appa, tapi tidak untuk mengucapkannya di bibir. Aku tetap dengan keras kepala menyembunyikan persetujuanku dan malah bertingkah sebaliknya.

Kami memutuskan kembali ketika Appa merasa cuaca sudah terlalu dingin. Appa menggenggam tanganku. Kurasa mereka yang tak tahu akan mengira aku adalah simpanan Appa, tapi aku tak peduli. Tidak ada masalah untukku, tidak masalah untuk Appa, dan tidak masalah untuk keluarga Appa, jadi intinya itu tidak masalah.

Kami menuruni jalan setapak sambil tertawa, masih membicarakan banyak kenangan yang menyenangkan ketika suatu gerakan menarik perhatianku di sudut mata.

Di sanalah dia, seorang lelaki muda, beberapa tahun lebih muda dariku, sedang mengamati kami dengan senang. Ketika dia melihatku bergandengan tangan dengan Appa, dia mengangkat kameranya dan mengabadikan langkah kami. Aku tersenyum lebar padanya, dia membalas senyumku dengan senyuman yang sangat identik dengan senyum Appa. Kuangkat kedua jariku di belakang punggung Appa, berpose diam-diam, dan dia memotret kami lagi.

Dia adik tiriku. Satu-satunya yang aku tahu pasti bahwa dia tahu aku anak Appa. Kami berbagi rahasia ini hanya berdua, bahkan Appa tidak tahu dia tahu. Dia menyayangiku, aku tahu, karena aku juga menyayanginya. Yang lainnya hanya bersikap baik padaku, tapi dia menyayangiku dan dengan puas hati selalu memanggilku Noona. Anak Appaku yang pertama, anak yang kehausan ingin dimanja oleh seorang kakak. Dan aku bahagia punya adik sepertinya.

>>>

Eomma memelukku dengan hangat dan menjitak kepalaku pelan. Kemudian dia mencium pipiku sayang. Kami sama tinggi. Eomma tampak muda untuk usianya. Aku bangga memiliki Eomma sepertinya. Wajahnya dirias dengan apik, meski tangannya kasar, tanda dia seorang pekerja keras. Bahkan setelah menikah dengan ayah tiriku yang sebenarnya sama sekali bukan orang biasa.

Kami berjalan menuju mobilnya. Di sana lelaki itu sedang menunggui kami sambil merokok di luar mobil. Melihat kami berjalan mendekat, dia mematikan rokoknya lalu melangkah lebar menyongsong kami. Dia menenggelamkan kami berdua dalam pelukannya. Sulit menemukan orang seusianya yang masih tampak tinggi gagah dan tampan sepertinya.

Aku melepaskan diri dan mengamati mereka berdua. Pemandangan yang menyenangkan.

Beberapa menit kami habiskan untuk sampai di rumah. Di sana Eomma membiarkanku beristirahat di kamar setelah membersihkan diri. Aku merebahkan tubuh dengan senang di kamarku. Ini bukan kamar masa kecilku. Kami pindah ke rumah baru ini setelah Eomma memutuskan menikah dengan ayah tiriku. Itu terjadi saat aku baru lulus SMA dan sudah menerima pengumuman kelulusan di Universitas di ibu kota. Kami ingin bahagia, jadi kami memutuskan menjalani hidup baru di rumah baru. Eomma tampak sangat bahagia.

Eomma dan lelaki itu sudah berhubungan beberapa lama. Tapi akhirnya mereka memutuskan menikah setelah aku hendak pergi kuliah. Itu membuatku sangat terharu, bahagia, sekaligus lega. Aku tahu kuliahku tidak akan tenang kalau Eomma tidak menikah. Aku terharu karena Eomma memutuskan menungguku lulus sekolah sebelum benar-benar melepaskanku. Bukan berarti aku tidak suka Eomma menikah saat aku masih sekolah, hanya saja setelah aku lulus rasanya adalah keputusan yang lebih tepat.

Meski tak lama tinggal bersama mereka, aku tahu Eomma bahagia. Eomma merasa akhirnya hidupnya bisa berjalan dengan baik, mengingat ini adalah pernikahannya yang pertama dan terakhir. Aku tak bisa menahan tangisku melihat Eomma berdiri di depan altar sederhana di tepi laut dengan pendeta yang dipanggil. Dia dan lelaki itu tidak lagi muda, tapi kebahagiaan memancar dari keduanya. Gaun Eomma bukan yang paling luar biasa, tapi sangat indah di tubuhnya.

Saat tubuhku gemetar, Wookie Samchon, satu dari lima orang tamu undangan yang menghadiri pernikahan Eomma, memelukku erat. Kami menangis bersama dan di tengah-tengah itu, lengan seorang pria memeluk kami menenangkan. Saat mendongak, aku melihat Yesung Samchon, pacar Wookie Samchon saat itu.

Aku sedikit mengernyit mengingat Yesung Samchon. Lelaki yang baik. Sangat pengertian dan dewasa. Aku harus ingat mengunjungi makamnya saat kembali ke Seoul nanti. Bersama dengan itu aku tertarik ke alam tidur.

Aku terbangun berjam-jam kemudian saat langit di luar jendelaku sudah sepenuhnya gelap. Aku melangkah keluar kamar menuju kamar mandi. Di tengah perjalanan aku terpaku melihat pemandangan di ruang tengah.

Eomma sedang berdebat dengan ayah tiriku mengenai tayangan dokumenter di televisi.

Aku melupakan keinginanku ke kamar mandi dan malah bersandar di pintu ruang tengah. Lengan lelaki itu memeluk bahu Eomma dengan sayang. Jemarinya tanpa sadar mengelus lengan Eomma. Eomma meletakkan kepalanya di bahu lelaki itu sementara tangannya teracung-acung ke arah televisi. “Lihat, begitu caranya. Itu karena kalau kau membantingnya dia tidak akan terbuka,” ujar Eomma saat acara itu mendemonstrasikan cara membuka cangkang tiram segar dari laut.

“Tapi itu kan hanya untuk ahli. Orang awam harus tahu cara lain yang tidak terlalu teknis. Itu namanya trik,” ayah tiriku mendebat. Nadanya kritis, tapi sikap tubuhnya sangat lembut. Dia orang bisnis. Otaknya selalu berkeliling mencari solusi praktis dari suatu masalah. Pekerja keras, jeli dan pintar mencari peluang. Hidupnya sangat mapan. Tapi dia sederhana, lembut dan sangat penuh cinta. Bahkan saat dia belum menikahi Eomma, dia berhasil memikat hatiku dan memperoleh restuku dengan cepat.

“Aku tidak mau berdebat denganmu. Caranya hanya kau mempelajari teknik itu atau melakukannya dengan caramu yang serampangan selama ini,” aku mendengar nada bicara Eomma yang sudah kukenali dengan baik. Nada itu adalah nada tidak mau dibantah tapi malah mengundang untuk dibantah. Aku menjaga tawaku tetap tanpa suara.

“Kita sudah berdebat dari tadi, kenapa baru sekarang kau menolak berdebat denganku?” ayah tiriku membantah penuh logika. Aku seperti bisa melihat Eomma memutar mata sebelum bangun dan dengan gemas mencubit pipi ayah tiriku. Suara tawa lelaki itu menggema di dalam ruangan.

Aku bahagia. Aku senang.

Mereka terus berdebat dan aku terus menonton. Ayah tiriku sesekali mencuri ciuman dari Eomma yang hampir selalu dibalas oleh Eomma, tapi kemudian dilanjutkan dengan berteori lagi. Bisa kubilang lelaki itu sangat menikmati waktunya sekarang bersama Eomma. Senyumnya sangat bahagia, dan rasanya wajah Eomma memancarkan kebahagiaan yang sama.

Aku teringat pemandangan beberapa hari lalu saat aku terakhir mengunjungi Appa. Dia memeluk istrinya dan dengan canggung mencium pipinya. Aku tahu Appaku menyayangi istrinya, meski tak mencintainya seperti dia mencintai Eomma. Tapi kebahagiaan orang masing-masing, kan? Appaku dengan istrinya, dan Eommaku dengan suaminya.

Eomma selalu bertindak lebih bebas di hadapan siapa saja. Appa hanya bertindak lepas di hadapanku dan Eomma, itu membuatku sadar apa arti kami baginya.

Aku memutuskan membiarkan mereka berdua dan menjarah dapur sendirian. Aku kelaparan dan aku butuh makan.

Aku memakan makan malamku sambil setengah melamun. Kehidupan begitu keras pada Eomma dan Appa. Mereka mencinta, mereka bersama, mereka berjuang, tapi semuanya berakhir dengan perpisahan dan pertahanan sepenggal rindu tak kesampaian. Mereka tak pernah lagi bertemu. Mereka mencintaiku, mengharapkan menemukan bayangan belahan jiwa yang lainnya dalam sosokku. Mereka bertahan dengan itu.

Itu sangat menyedihkan. Tapi pada akhirnya, Appa bisa berkata bahwa dia bahagia bersama istrinya, dan Eomma menemukan tempatnya yang sebenarnya. Kami bertiga satu tapi tak bisa bersatu. Aku mencintai keduanya, menyayangi orang-orang di sekitar keduanya, dan aku hanya bisa bersyukur karena mendapatkan banyak sekali dari kehidupan yang mereka ciptakan untukku. Aku bahkan tak punya waktu merasakan sedih.

Sebagai anak aku kehilangan ayahku, sebagai remaja aku bermain rahasia dari ibuku, tapi sebagai manusia, aku utuh.

Langkah kaki terdengar mendekati dapur dan segera aku melihat Eomma dan ayah tiriku berjalan beriringan memasuki dapur. Eomma terkejut melihatku makan sendirian dan aku mengerjap saat menyadari wajahnya kabur karena entah kenapa air mataku timbul saat melihat mereka.

Untung Eomma tak melihatnya dan ayah tiriku terlalu sibuk memperhatikan pinggul Eomma kemana-mana. Lelaki itu, selalu jadi lelaki termesum kalau menyangkut Eomma. Sangat menggemaskan.

Eomma meraih ke atas lemari mencari mangkok ketika ayah tiriku meminta diambilkan sup untuk camilan. Mereka sudah makan dan Eomma sangat ketat menjaga pola makan ayah tiriku karena usianya yang tidak muda lagi, tapi sup bisa diijinkan.

Eomma berjinjit dan dalam sekejap suaminya sudah berdiri di sebelahnya, meraih pinggangnya dan mengambilkan mangkok untuk dirinya sendiri. Eomma mengucapkan terima kasih dan mengambil mangkok dari tangannya lalu langsung mengambilkan sup dari atas kompor. Aku tertawa melihat wajah ayah tiriku yang kecewa karena hanya mendapatkan ucapan terima kasih. Demi Tuhan, aku masih di sini, tak bisakah dia menunggu bermesraan sampai aku kembali memasuki kamar?

Ayah tiriku menatapku sebal tapi lalu nyengir. Aku membalasnya dengan cengiran juga. Eomma mengatakan sesuatu tapi aku tidak memperhatikan karena saat itu teleponku berdering.

Kubuka pesan gambar yang masuk dan sendokku kuturunkan lagi ke atas meja, tidak jadi menyuap.

Ayah tiriku melihat ketika mulutku membuka dan mataku mendadak berkaca-kaca. Aku menengadah menatapnya, dan dia menggenggam tanganku yang bebas dengan wajah prihatin. Eomma yang merasa tidak dijawab menoleh dan tahu ada yang tidak beres melihat tanganku dan tangan suaminya saling mengait.

Eomma mendekat ke meja dengan tegang, dia bertanya padaku dan aku hanya mampu menatapnya. Kutelan ludah lalu sambil menatap gambar cincin di teleponku bertuliskan, Ayo menikah, di bagian bawahnya, aku berkata pada Eomma, “Eomma, kurasa aku akan menikah…”

Detik berikutnya berlalu dalam keheningan, lalu pekikan Eomma melepaskan semuanya. Eomma menghambur padaku dan menciumi wajahku. Dia sangat gembira sampai meneteskan air mata. Kehangatan itu kemudian dibungkus oleh lengan lebar ayah tiriku yang menarik kami berdua dalam pelukannya.

Kubiarkan air mataku menetes dan dengan tangan bergetar meraih telepon. Akhirnya, dia menghubungiku. Dengan berita yang paling kunantikan selama ini. Akhirnya, aku menemukan orang yang bisa menemaniku ke terminal untuk menjemput kerabat yang datang seperti ayah tiriku menemani Eomma. Akhirnya, aku bisa menemaninya dalam segala hal di sisa hidupnya seperti istri Appa mendampingi Appa sampai sekarang. Akhirnya, aku akan memiliki buah hatiku sendiri dan mencurahinya dengan cinta yang tak pernah cukup kubagi-bagikan dengan orang di sekitarku. Kujawab ajakannya dengan satu kata, Ayo.

Kemudian aku mengetik barisan kalimat lagi, Appa, dampingi aku saat menikah, bisakah?

Terkirim.

Aku menatap Eomma yang masih berpelukan dengan ayah tiriku. “Eomma… ada yang ingin kubicarakan. Ini tentang Appa,” ujarku hati-hati.

Oh malam ini akan penuh tangisan.

 

KKEUT.


Iklan