Tag

Author: Bee
Cast
: Shim Changmin
Length: 1511w. Oneshot.
Rating/Genre : PG13/fluffy Romance
Synopsis: Shim Changmin dan istrinya diundang ke pesta seorang bayi.
A/N: Untuk Dedek. Dek Zaza luar biasa. Sun sayang dari tante ya… PS to everyone: this is un-edited, so please let me know if you find any typos or awkward sentences.
Url: http://wp.me/p1rQNR-me

~

Pada suatu waktu, Changmin sudah menikah. Dia dan istrinya mengunjungi teman sang istri yang mengadakan acara ulang semester ke-1 untuk anak pertamanya. Teman istri Changmin adalah contoh wanita yang sukses meraih bahagia (dengan suami yang sukses di karir, penyayang, serta perhatian, dan anak sehat yang sempurna—yang bahkan sudah ditawari jadi bintang iklan beberapa kali) dan alasannya mengadakan acara seaneh itu adalah untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain.

Changmin dan istrinya berwajah penuh senyum saat pintu dibukakan untuk mereka. Mereka menyerahkan kado untuk sang anak pada yang membuka pintu, yaitu ibu sang anak. Wanita itu menerimanya dengan seruan-seruan senang yang membuat Changmin tersenyum lebih lebar untuk menyembunyikan kernyitan di dahinya. Berlebihan, pikirnya. Mereka lalu digiring ke ruang tengah di mana tamu-tamu lain sudah berkumpul dan mengobrol, mengabaikan si bayi yang berulang tahun yang tergeletak berkelojotan di atas ranjang bayi di tengah ruangan. Dua anak kecil berusia tidak lebih dari lima tahun berdiri di kedua sisi ranjang bayi dan mengajak si bayi bersenang-senang (atau berkelojotan sambil tertawa, terserah apa sebutannya).

Teman istri Changmin menggusur anak-anak itu sebentar untuk membiarkan Changmin dan istrinya memberi ucapan selamat pada anaknya. Changmin tersenyum pada wanita itu lalu melirik istrinya yang mendadak wajahnya bersinar, matanya melebar, senyumnya sudah berubah jadi tawa. Istrinya tidak menatapnya sama sekali ketika menunduk di atas ranjang si bayi dan mulai membiarkan jarinya digenggam oleh bayi itu. Seketika Changmin mulai mendengar adaptasi bahasa planet yang dilakukan oleh istrinya untuk mengucapkan selamat ulang semester. “Ceyamac uyang cemesytey ya tayaaang…” Kepala istrinya terangguk-angguk sekali lalu, “Ceneng? Yame, ya? Banyak oyang ya?”

Agak lama istrinya merampok semua perhatian sang bayi sampai akhirnya dia sadar bahwa dia datang bersama suaminya. Kepalanya terangkat dan Changmin langsung melihat mata istrinya. Mulut Changmin terbuka dan tangannya keluar dari saku. “Ah…” dia mengerti. Ibu sang bayi masih ada di dekat mereka dan istrinya mengharapkan Changmin untuk melakukan sesuatu yang mirip pemujaan untuk anak temannya.

Akhirnya Changmin menunduk sedikit, mengulurkan tangannya ke dalam ranjang bayi dan meraih tangan kanan si bayi yang berjenis kelamin laki-laki. “Yo, selamat ulang semester, Bro,” ujarnya sambil menjabat tangan si bayi.

Sang istri memutar mata dan ibu si bayi tertawa keras-keras. Tanpa berkata apapun, teman istrinya itu menggiring mereka ke meja yang penuh berisi makanan. Inilah kenapa Changmin tidak menolak diajak pergi oleh istrinya.

Beberapa saat kemudian, keramaian berubah saat teman istrinya membawa anaknya ke tengah perkumpulan orang dewasa. Changmin hanya memandang datar ketika wanita itu mendemokan bagaimana menyuapi bayi berumur 6 bulan. Dia tidak berkomentar ketika si bayi mengoceh dan menyebabkan makanannya belepotan sampai ke pipi dan telinganya. Lalu melemparkan pandangan ke langit-langit rumah ketika si bayi di angkat ke pundak sang ibu untuk dibuat sendawa. Ya Budha, Changmin tidak mau membayangkan dia juga dulu dipamerkan begitu oleh ibunya. Bagaimanapun dia anak yang menarik dari kecil.

Changmin berjengit saat pinggangnya dicubit oleh tangan istrinya.

Istrinya berbisik di telinganya tidak kentara tentang orang-orang yang terlalu perhatian pada sang bayi sehingga tidak melihat sikap Changmin yang tidak tertarik. Changmin mengamati orang-orang lain dan menyadari bahwa perkataan istrinya benar, dan menyadari bahwa hampir semua wanita mulai merapat pada suaminya, termasuk yang sedang memangku anak mereka, beberapa suami berubah tampang menjadi lembut saat si bintang hari ini mulai mengoceh dan tawa mereka membahana ke seluruh ruangan ketika bayi itu menjerit seolah ingin semua orang mendengarkan pidatonya.

Changmin mendengar tawa istrinya sendiri, cukup keras tapi tidak sekeras yang lain. Changmin memperhatikan kerutan di ujung matanya, juga mulutnya yang terlalu lebar terbuka saat tertawa, juga pangkal hidungnya yang agak mengernyit. Lalu Changmin membalas cubitan istrinya di pinggang dalam gerakannya membawa sang istri dalam pelukan. Kamuflase. Changmin tidak akan mengalah, istrinya mencubitnya lebih dulu!

Teman istrinya tampak benar-benar menikmati perhatian yang diberikan oleh para tamu yang merupakan teman-teman dekatnya. Dia kemudian mengajak semua orang ke kolam renang bayi pribadi. Itu sebenarnya hanya kantung plastik bagus yang luar biasa besar yang diisi air tidak sampai selutut orang dewasa. Tidak tahu kapan baju bayi bintang itu dilepas, Changmin tiba-tiba sudah melihatnya telanjang dengan plastik pelampung melingkari lehernya.

Semua orang mulai ber-ooh-dan-aah melihat tampang si bayi. Changmin berbisik di telinga istrinya, “Alien.”

Istrinya ikut ber-ooh-dan-aah sambil merapatkan tubuhnya pada Changmin. Lengan Changmin dicubit keras. Besok dia harus menangani kulit yang lebam.

Si bayi, selama sedikit menit kemudian, sibuk menendang-nendang di dalam air. Para tamu bersorak dan tertawa gembira melihat si bayi pada suatu momen memutuskan ehmanunyaehm dengan tangan. Lagi-lagi Changmin memutar mata mendengar komentar yang lain:

“Pinternya… malu ya, makanya ditutupin?”

“Waah, sopannya… Anak pintar…”

“Hebat! Benar, Nak, tubuhmu itu berharga!”

Menggigit bagian dalam pipinya, Changmin berkata dalam hati: “Duh, dia bayi, demi Budha… Dia bahkan tidak tahu bagaimana membedakan makanan enak dan tidak enak…”

Untung istrinya tidak punya kekuatan telinga super yang bisa mendengar menembus jantungnya. Changmin selamat dari cubitan lain kali ini.

Selesai acara berenang, si bayi tampak kelelahan dan tertidur tak lama kemudian di pangkuan ibunya. Tubuhnya sudah wangi, bibirnya terbuka, pakaiannya berbau segar. Hidup bayi itu benar-benar sempurna. Kalau saja Changmin tidak merasa sayang pada ketampanannya sendiri yang baru diperoleh setelah dewasa, dia mau saja bertukar hidup dengan si bayi.

Semua orang mulai bicara berbisik-bisik, berteori tentang bagaimana posisi tidur yang baik, makanan bayi apa yang paling baik kualitasnya, bagaimana menjaga kulit bayi agar tidak ruam-ruam, dan banyak hal lain yang berkisar pada bayi dan kehidupannya. Semua orang tampak menikmati dan santai. Changmin memperhatikan mata mereka seringkali mencuri pandang pada gumpalan sosok di atas pangkuan teman istrinya yang tampak tenang. Changmin bahkan sempat mendengar istrinya berkata, “Malaikat…” pada bayi itu.

Changmin mengajak ibu si bayi ber-highfive saat wanita itu berkata, “Tunggu sampai tengah malam nanti, dan kau akan melihat iblis yang memaksamu tidak tidur semalaman…”

Istri Changmin menepuk punggungnya keras. Semua orang tertawa. Wajah istrinya merah. Dan Changmin tahu istrinya jengkel dari bibirnya yang maju sampai lima senti. Oke, berlebihan. Maju sampai Changmin ingin… Oke, tidak perlu dibahas lagi.

Lewat tengah hari mereka memutuskan pulang. Changmin ada rapat dengan rekan-rekannya di kantor televisi. “Kau tahu, orang televisi, hari Minggu pun hari kerja,” istrinya berpura-pura mengeluh di depan temannya. Mereka sudah berlatih tentang ini. Selalu begitu. Saat pergi, rencanakan bagaimana kau akan pulang. Itulah salah satu pelajaran paling disyukuri Changmin selama dia masih bersama Yunho dalam DBSK.

Beberapa menit kemudian mereka sudah meluncur di jalanan dan keduanya hanya diam sampai di rumah. Changmin bukannya tidak merasa bahwa aura di sekeliling mereka agak terasa menyesakkan. Yah, Changmin tidak menyalahkannya. Tiga tahun menikah, sekalipun, tanda-tanda hamil belum pernah dirasakan istrinya. Melihat bayi, menonton kelakuannya (yang menurut istrinya ‘adorable’) lalu menginginkannya, selalu adalah hal yang sulit. Ini bukan pertama kalinya mereka mengunjungi teman istrinya yang punya bayi, jadi Changmin sudah bisa menebak bagaimana kira-kira perasaan istrinya saat ini.

Sampai di rumah, mereka ganti baju dalam diam. Istrinya hanya tersenyum saat Changmin berkata dia akan memasak makan malam untuk mereka berdua. Changmin tidak melakukan pekerjaan rumah tangga, itu tugas istrinya. Tapi kalau itu satu-satunya cara menghilangkan keresahan yang dirasakan oleh istrinya, Changmin akan melakukannya. Dia mungkin ketus (Changmin lebih suka menyebutnya logis), dan tidak sopan (menurut Changmin dia hanya benci basa-basi), dan menyebalkan (hei, ada resiko yang harus ditanggung kalau kau mau jadi orang jujur dan apa adanya), tapi dia mau istrinya tersenyum. Dia benci melihat istrinya sedih.

Changmin sedang memotong ikan ketika pinggangnya dipeluk dari belakang. Bibir istrinya mendarat di bahunya sebelum pipinya disandarkan ke sana. “Aku tidak sedih, kau tahu…” istrinya berkata pelan.

Changmin berhenti memotong ikannya. Dia menoleh sebentar dan tertawa kecil tanpa mengatakan apapun. Istrinya berkata lagi, pelukannya di pinggang Changmin mengerat. “Sungguh. Kau tidak perlu khawatir padaku. Mau aku yang memasak?”

Changmin terdiam sebelum memutuskan melepaskan diri dari istrinya, mencuci tangan, kemudian menarik wanita itu dalam pelukannya. Kini mereka berhadapan. Changmin agak menyandar di meja dapur sehingga wajah mereka kini sejajar. Changmin mencari-cari dalam mata istrinya dan tahu bahwa istrinya bicara hal yang sebenarnya. Tidak ada kesedihan di sana kali ini. Changmin tersenyum lalu menarik istrinya mendekat, menciumnya pelan dan manis.

Istrinya membalas ciumannya dan mereka bertahan seperti itu sampai beberapa saat. Ketika ciuman mereka terlepas, Changmin menyatukan dahi mereka. Dia berkata, “Kita akan punya anak. Mungkin belum masanya. Bukankah dokter mengatakan kita berdua baik-baik saja?”

Istrinya tersenyum manis dan Changmin ingat salah satu alasannya menikahi wanita ini adalah karena dia ingin melihat senyum semacam itu di sisa hidupnya. “Ya,” jawab wanita itu. “Dan aku tahu mungkin kita sedang diberkati karena diberi waktu lebih lama untuk berdua saja.”

Changmin mencium istrinya lagi, singkat kali ini. “Benar,” ujarnya. “Aku mencintaimu, aku sudah jatuh cinta pada anak kita nanti, tapi aku tidak keberatan diberi waktu berdua saja dulu denganmu. Sangat tidak keberatan.”

Dan istrinya meneteskan air mata. “Kau Shim Changmin, kau tidak boleh jadi manis begini,” katanya serak.

Changmin menarik istrinya, membiarkan kepala istrinya terbenam di lehernya. Tangan lebarnya mengelus punggung sang istri yang melekuk luwes mengikuti tubuhnya. Menakjubkan bagaimana seseorang bisa begitu terbiasa dengan keberadaanmu. Istrinya meraba perut Changmin dan bergumam tidak jelas ketika jemarinya menelusuri apron yang dikenakan suaminya.

Changmin akan bertingkah bodoh, akan tertawa konyol, akan bicara bahasa planet saat anaknya hadir, tapi sepertinya saat ini dia hanya perlu bicara seperti orang dewasa yang normal. Karena saat ini, anak semanis apapun masih kalah manis dari istrinya.

 

KKEUT.


Iklan