Tag

,

Cast: Chitose
Reality : fiction = 0 : 100 (%)
Category/Rating : Gracillaria (oriStory)/AA
Setting: Sapporo, Japan

***

Lelaki itu bernama Chitose. Dia lelaki biasa yang tidak berniat menikah. Usianya hampir empat puluh, tapi ibunya tak pernah mengenal wanita yang seharusnya ada. Chitose penyendiri, menikmati interaksinya dengan beberapa wanita, tapi lebih menikmati berada dalam dunianya sendiri. Satu-satunya wanita yang dicintainya tanpa syarat adalah sang ibu yang dengan rutin mengunjunginya membawakan makanan.

Chitose suka berada di keramaian. Tapi dia lebih suka saat berada dalam ketenangan. Masanya berhura-hura sudah lewat, kini saatnya dia mendalami makna kehidupan. Chitose suka duduk-duduk di beranda rumahnya, menikmati angin dan kelintingan lonceng angin berbunyi sambil menyesap bir atau teh oolong. Chitose menikmati waktunya.

Hari-hari Chitose diisi dengan berangkat bekerja, pulang saat matahari sudah tenggelam, duduk di beranda setelah membereskan rumah dan mencuci pakaian, kemudian pergi tidur. Ketika akhir pekan tiba, Chitose akan merawat sepetak kebun sempit di depan berandanya, membersihkan tanah dari guguran daun sakura, memangkas rumput, menata pot-pot bonsai, lalu jika masih tersisa banyak waktu, dia akan duduk dan sesekali menulis haiku yang akan disimpannya sebagai koleksi di lemari penyimpanan.

Terkadang dia akan menerima tawaran jalan-jalan dari temannya di akhir pekan yang lain, tapi dia selalu memastikan ada di rumah setiap hari Minggu. Tidak melakukan apapun adalah kemewahan yang eksklusif baginya. Waktu berharga yang selalu digunakanya untuk mengagumi pohon sakura di kebunnya.

Ketika musim panas datang, Chitose akan bersenandung sambil menyirami tanamannya, menggali tanah di sekitar Sakurahime—namanya untuk si pohon sakura—untuk memberinya pupuk, memangkasi rumput, dan memastika tak ada gulma menempel pada kesayangannya itu. Pochi, anjing peliharaan tetangganya, akan menyalak menyapa Chitose dari samping pagar yang kemudian membuat Chitose melongokkan kepala demi tersenyum menanggapinya. Lalu Chitose akan menyuruh Pochi menyapa Sakurahime. Si anjing akan menyalak menanggapi yang bagi Chitose terdnegar seperti sapaan yang ramah. Chitose akan menepuk batang Sakurahime sambil bergumam, “Dia menyukaimu. Si Pochi itu.”

Ketika musim gugur datang, Chitose akan merawat Sakurahime dengan lebih telaten. Daun Sakurahime mulai berguguran, dan Chitose mulai khawatir kesayangannya itu sakit. Maka Chitose mulai mengumpulkan jerami untuk membungkus batang Sakurahime. Setiap kali, Chitose akan memberi bisikan pemberi semangat pada Sakurahime agar berjuang melawan dingin.

Ketika musim dingin datang, Sakurahime tampak kurus dan rapuh. Chitose berdoa sungguh-sungguh agar Sakurahime tetap bertahan. Chitose menambahkan pembungkus batang Sakurahime dan tetap menyapanya setiap pagi dan malam. Terkadang (Chitose tak pernah mengatakan ini pada siapapun), dia merasa Sakurahime menjawab sapaanya dengan dahan yang mengayun, dengan aroma yang menguar, dengan gemerisik suara yang lirih. “Aku berjuang untukmu, Chitose,” begitu Chitose membayangkan Sakurahime berkata.

Ketika musim semi datang, Chitose mendapat jawaban atas semua perhatian dan doanya dari Sakurahime sepanjang sisa tahun sebelum waktu itu. Sakurahime selalu mekar dengan cantik, memesona siapapun yang melewati rumah Chitose. Rumah Chitose dipenuhi harum Sakurahime. Tajam, manis, dan menyenangkan. Chitose akan bersyukur setiap harinya hingga Sakurahime tak lagi mekar sebanyak musim puncaknya. Dia akan lebih sering menolak ajakan bersosialisasi untuk bercakap-cakap dengan Sakurahime. Chitose akan tersenyum pada gerak dahannya, suara guguran kelopaknya, serta tarian aromanya di udara.

Di akhir musim semi saat serangga-serangga musim panas sudah berbunyi keras, Chitose terkadang jatuh tertidur di beranda. Pada malam-malam seperti itu, Sakurahime akan bergoyang lembut setelah pukul dua malam, meninabobokkan Chitose. Saat itu, sesosok gadis berkimono pink dengan pipi bersemu manis akan mengulurkan tangan membelai tangan Chitose yang terkulai. Pochi menyalak dari samping pagar, dan gadis tadi tersenyum pada anjing itu dengan ramah. “Halo, Pochi… Aku juga menyukaimu. Sampai jumpa lagi tahun depan,” suaranya sehalus udara malam yang ringan.

Chitose bergerak di tempatnya tertidur, aroma Sakurahime dan sayup suaranya menarik bibirnya tersenyum dalam tidur nyenyak.

 

KKEUT.
http://wp.me/p1rQNR-m4

 


Iklan