1468w

Oh my God, I hate this piece. That’s all I want to say.

http://wp.me/p1rQNR-lb

…/

“Eh?”

“Eh?”

Mereka berdua tertawa. Si lelaki mengulurkan tangan menyilakan si perempuan mengambil tiket antrian lebih dulu. Si perempuan terpana menatap si lelaki, tidak menutupi kekagumannya, lalu menunduk berterima kasih, dia mengambil tiket antrian di loket pembayaran pajak. Selanjutnya si perempuan menunggu sampai si lelaki mengambil tiketnya dan mereka kembali saling tertawa ketika tatapan mereka bertemu untuk kedua kalinya.

Di lelaki mengarahkan si perempuan untuk duduk di bangku yang agak jauh dari keramaian. Setelah duduk mapan, dia bertanya sambil menghela napas, “Hebat, kita bisa bertemu di sini. Bagaimana kabarmu?”

Si perempuan tidak menyembunyikan senyum senangnya. Dia mengangguk, berkata gembira, “Baik. Baik banget. Kamu gimana?”

Si lelaki mengulurkan kedua tangan, mulut mencibir bangga,  “Ya beginilah.”

“Phuah. Tetep ya… Super pede,” si perempuan setengah berseloroh.

Si lelaki memajukan badan, berbisik, “Makin pede.”

Si perempuan mencubit lengannya gemas. “Udah berapa lama ya?”

Si lelaki tampak menghitung di dalam benak, “Say… enam tahun?”

Exactly. Yeah, enam tahun. Wow. Nggak nyangka ya? Anak udah dua dong, sekarang?” si perempuan mengiyakan lalu bertanya lagi.

Nah… masih satu. Lagi nakal-nakalnya—“

“Perempuan kan?” si perempuan menyela, mengernyitkan kening.

Si lelaki mengangguk. “Perempuan.” Lalu wajahnya mengerut, “Tapi nakalnyaaa ngalahin anak cowok!” Kerutannya dipenuhi kebanggaan.

Si perempuan tertawa. “Gimana kamu tahu? Kan belum punya anak cowok…”

“O iya ya… Hahaha…” tawa si lelaki mengundang tatapan penasaran beberapa pengantri di sekitar mereka. Tapi toh baik si lelaki maupun si perempuan tidak ada yang peduli. Tidak ada yang mengalahkan bertemu teman lama. Lebih tepatnya teman lama yang sempat jadi pacar. “Kamu gimana? Masih di advertising?” si lelaki menyambung.

Si perempuan menggeleng, “Book publisher, sekarang. Lebih santai.”

Si lelaki berkedip. “Tapi kayaknya sukses nih…” matanya menelusuri perempuan cantik berdandan sempurna di hadapannya. Kecantikannya dewasa, kalau dia pernah ragu kenapa dia mau memacari wanita ini dulu, sekarang dia menemukan jawabannya. Memang pertengkaran dan hubungan yang putus kemudian memberinya alasan tidak bersama wanita itu lagi, tapi sebagai lelaki normal dia mengakui, wanita di hadapannya memang punya kemampuan menarik hati lelaki.

Si perempuan mengibaskan rambutnya penuh gaya. “Oh iya dong… Aku kan nggak kuliah buat jadi orang nggak sukses…”

Si lelaki mendengus tertawa. “Masih ambisius… tetep ya, Cyin…”

“Idih,” si perempuan mengerutkan dahi mendengar ucapan lelaki di hadapannya. Diam-diam dia merasa senang bisa ditemani lelaki bertampang sukses, menarik dan penuh percaya diri di sebelahnya. Kalau dulu dia tahu lelaki ini akan sesukses sekarang, mungkin dia akan berpikir dua kali sebelum menerima tawaran putus.

Mereka terdiam sesaat dan tepat sebelum suasana jadi canggung, si perempuan bertanya, “Istrimu gimana? Sehat? Masih kerja di—“

“Udah enggak. Dia sehat, tapi aku suruh dia kerja dari rumah aja. Si Adis—“ si lelaki menatap si perempuan, “—anakku—makin bandel. Sejak dia jatuh ke dalam selokan waktu umurnya tiga tahun, kami sepakat dia berhenti kerja.”

Nada si lelaki ringan, tapi si perempuan menangkap kekhawatiran dan keprihatinan membayang di sana. Dia mengabaikannya. “Tunggu, waktu umur tiga tahun? Emang sekarang anakmu umur berapa?”

“Anakku empat tahun,” si lelaki memandang si perempuan. Mendadak matanya tampak berkabut. “Empat tahun,” bisiknya setengah sadar.

Si perempuan diam saja, tapi dia menggerakkan tubuhnya, cukup untuk mengalihkan pikiran si lelaki dari dunianya sendiri. Si lelaki tersenyum malu. “Haha, maaf. Nggak nyangka aja aku udah jadi bapak selama empat tahun.”

Si perempuan menunjukkan wajah tidak percaya. Lalu tertawa seolah itu hal paling lucu sedunia. Wajah si lelaki memerah ditertawai seperti itu. “Sorry,” si perempuan berusaha bicara di sela tawanya. “Haha, abisnya kamu aneh banget. Jadi bapak kok malah melankolis.”

Si lelaki ikut tertawa, tapi lebih pelan. “Ya… abisnya gimana lagi. Kebayang ga sih, aku yang dulu punya anak?”

Tawa si perempuan memelan. Lalu menggeleng lembut, “Nggak.” Kemudian dia tertawa lagi, “Tapi kamu aneh, udah jadi bapak empat tahun baru ngerasa takjub begini.”

Si lelaki tersenyum. “Iya, ya. Waktu tuh jalannya nggak terasa. Anak udah empat tahun, berarti aku udah nikah enam tahun.”

“Iya ya, terakhir kita ketemu waktu pesta nikahanmu…”

“Iya, bener…” si lelaki membelalak, “Lah terus, kamu sendiri gimana?”

Si perempuan berkedip dua kali.  Si lelaki menyambung cepat, “Udah nikah?” tangannya terulur meraih tangan si perempuan, tidak mendapati cincin di sana.

Si perempuan mencibir. Si lelaki ingat, itu kebiasaannya sejak dulu. Agak manja, tapi bukan ingin dimanja. Dulu, waktu masih pacaran, kalau kebetulan sedang di tempat sepi, dia akan mencuri kecupan dari bibir yang dimajukan itu. Si lelaki menyadari sesuatu lalu senyum di bibirnya berubah arti, matanya penuh cinta. Sekarang, dia suka mencuri kecupan saat istrinya sedang marah-marah. Lucu sekali hidup ini. Lucu sekali cara perasaan berubah.

Si perempuan menarik tangannya, menahan desakan menarik napas. “Belum. Duitnya belum kumpul. Hihi, doain aja secepetnya.”

Si lelaki lah yang kemudian bernapas lega. Duitnya belum kumpul, berarti sedang mengumpulkan duit untuk menikah. Dia berasumsi calon suami mantan pacarnya itu juga sedang berusaha mengumpulkan duit. “Tenang… doa orang bahagia pasti didengar Tuhan. Aku akan berdoa semoga pernikahan penuh cintamu secepatnya terlaksana.”

Si perempuan tertawa lepas, kepalanya terdongak ke belakang, dan untuk sesaat itu, si lelaki benar-benar mendoakan kebahagiaannya.

Yang diamini oleh panggilan nomor si perempuan. “Eh, aku dipanggil. Aku duluan ya?” si perempuan bicara sambil berdiri.

Si lelaki mengangguk pada si perempuan yang tidak menunggu balasannya untuk berlalu.

Dua puluh menit kemudian, mereka bertemu lagi di tempat parkir. Mobil mereka terpisah jauh, tapi si lelaki mengantarkan si perempuan sampai ke mobilnya. “Okay… It’s been very nice to see you again…” kata si perempuan.

Si lelaki mengangguk keren, “Yep… aku juga seneng ketemu temen lama. Mantan pacar, lagi.”

Si perempuan mendengus. “Aku nggak mau ngenalin kamu sebagai mantan pacar ke calonku.”

Si lelaki menyipitkan mata, “Cemburuan ya?”

Si perempuan hanya tertawa sambil membuka pintu mobil. Saat itu teleponnya berbunyi. Dia meraih teleponnya dan melihat siapa yang menelepon, Matthew. Dia menunjukkan teleponnya pada si lelaki sambil meminta maaf. Si lelaki tahu diri, lalu mengangguk dan berbalik, berjalan menuju mobilnya sendiri. Mereka berpisah.

 

Satu lampu merah setelah kantor pajak, pembicaraannya dengan Matthew selesai. Dia berhenti menanti lampu berubah hijau. Di sebelahnya berhenti motor berpenumpang lelaki dan perempuan. Yang perempuan memeluk yang lelaki, dan mereka berbicara. Tampak biasa, tapi siapapun bisa melihat mereka berpasangan, yang satu milik yang lain.

Dia menjulurkan lidah ke sudut bibir, kebiasaannya yang lain lagi saat ada sesuatu yang dipikirkannya. Terkejut, saat merasa ada yang asin. Kemudian dia tersenyum sedih sambil meraih tisu.

“Makin pede.”

Kata mantan pacarnya tadi. Dan dia ingat merinding saat napas lelaki itu menyentuh kulit pipinya. Tentu saja, makin pede, makin tampan, makin keren. Tidak pernah gagal membuatnya jengah karena antisipasi dengan cara lelaki itu menatap.

Tapi kayaknya sukses nih…”

Sukses. Sukses sekali membekukan hati sendiri untuk seseorang yang tidak mungkin teraih. Sukses untuk melarikan diri hingga ke seberang benua untuk menghapus bayangan masa lalu. Sukses sangat dalam upaya membohongi diri sendiri bahwa suatu saat ada lelaki lain yang bisa menggantikannya. Gagal total di semua aspek kehidupan saat ingatan yang melibatkan lelaki itu datang kembali. Yang mana cukup sering terjadi.

“Anakku empat tahun.”

Anehnya, dia tahu pasti berapa usia anak lelaki itu. Dia ingat dengan jelas saat temannya menelepon bahwa istri lelaki itu sudah melahirkan. Temannya menyebutkan sekilas, lalu sibuk bercerita tentang kehamilannya sendiri, tidak menyadari bahwa di seberang benua, dia tidak lagi mendengarkan kabar terakhir temannya, melainkan mencengkeram erat-erat gagang telepon menahan perih yang dengan tidak masuk akal masih terasa. Di seberang benua, demi Tuhan.

“…Kebayang ga sih, aku yang dulu punya anak?”

Perempuan itu mendengus, mengelap ingusnya ke tisu, mengabaikan pengemis yang menyodorkan tangan padanya. Kebayang. Selalu kebayang bagaimana lelaki itu akan menjadi bapak. Tapi untuk bapak dari anaknya. Untuknya, bukan untuk wanita lain.

“Udah nikah?”

Bagaimana dia bisa menikah kalau setiap lelaki yang datang di hidupnya setelah lelaki itu selalu kalah dalam perbandingan dengan sosoknya?

“Belum. Duitnya belum kumpul. Hihi, doain aja secepetnya.”

Duitnya belum kumpul untuk menyelenggarakan pesta paling meriah sedunia demi melupakan bahwa yang di sisinya bukanlah lelaki itu. Menunduk di atas kemudi, air matanya menetes, tolong doakan agar aku bisa secepatnya melupakanmu. Ini sudah lebih dari sekedar enam tahun, lebih dari sekedar menyaksikanmu berdiri bangga di pelaminan, lebih dari sekedar menyaksikanmu lepas dari sisiku dan memacari beberapa perempuan lain sementara aku tetap bertahan di sisimu sebagai ‘teman saja’. Doakan agar secepatnya kau pergi dari perasaanku.

“… aku juga seneng ketemu temen lama. Mantan pacar, lagi.”

Dia tidak senang. Dia menderita. Dia tidak ingin bertemu lagi.

Lampu berubah hijau. Perempuan itu menjalankan mobilnya. Dia menolak menatap spion. Dia tidak ingin mengintip ke belakang dan menderita lagi. Mungkin telepon Matthew adalah takdir. Bosnya itu menawarinya jabatan baru, dengan syarat dia harus berubah kewarganegaraan. Mungkin ini adalah jalannya.

Dia masih sama tidak kuatnya seperti dulu. Dia masih terluka di dalam. Tapi hidupnya tidak mau berakhir, waktu tidak mau berhenti. Berjalan ke depan bukanlah pilihan, itu keharusan. Pilihannya adalah menoleh ke belakang dengan pulang ke Indonesia untuk urusan sepele: pajak rumah. Sekarang dia tahu, pilihan itu tidak pernah ramah untuknya. Dia tidak akan memilih lagi. Dia akan berhenti memilih. Berhenti menatap ke belakang.

/…

 

Iklan