(Keyword : polkadot, pohon pisang, rasi, cerpelai, pasar malam, rajah, gula-gula)

Panjang naskah: 9.954 karakter (tanpa spasi)

Dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Fiksi Fantasi 2012

http://wp.me/p1rQNR-kF

 

…/

Kaki ramping itu melangkah memasuki air sedikit, Buaya menahan napas. Dari tempatnya saat ini dia merasa udara terlalu pekat untuk bisa dihirup. Dia menunggu, hampir tak kuat menahan desah ketika leher jenjang itu merunduk dan sepotong lidah keluar dari moncong yang manis, mencecap air sungai.

Namun semuanya berakhir tanpa sempat dimulai. Harapan Buaya pupus saat seperti biasa, Kancil terlalu waspada. Dengan segera mereka bertemu pandang dan itu membuat Buaya mendesah kalah. “Kau tahu aku tak akan memangsamu, wahai Kancil,” ujarnya lalu melanjutkan, “Aku hanya ingin memandangimu.”

Pelan dan halus Kancil menjawab, “Memandangi itu tidak sopan, Buaya.” Tatahan polkadot di punggungnya berkilau indah tertimpa sinar matahari yang berhasil menyusup di sela dedaunan. Buaya berkedip dalam upayanya agar tidak terpana.

Sang Kancil nan anggun, makhluk indah yang diturunkan langit, makhluk ramping yang tak pernah sanggup dimangsanya sekalipun dia hampir mati kelaparan, memandangnya dengan angkuh. Pun demikian Buaya tak keberatan. Pesona Kancil menguasai hutan, bahkan jantung muda di pohon pisang akan menekuk malu bersembunyi saat dia melintas.

Tatapan Kancil mengusirnya, memaksanya mengundurkan diri dari kemewahan memandangi makhluk itu. Perlahan dia berenang mundur.

Belum lagi jauh dia berenang, Buaya berhenti merasakan udara berubah. Langit mendadak sedih, lalu menangis. Buaya berhenti dan menoleh. Dugaannya benar, dan hatinya bagai diremas-remas, ketika menyaksikan Kancil berdiri tegak memandangi tepian lain sungai, merindukan menyeberang ke sana. Buaya benci melihatnya tegak sendiri dalam kerapuhan seperti itu. Rapuh merindukan kecantikan lain yang berbahaya di bawah rasi pari, ialah pohon nipah berduri.

Kancil menegang ketika telinganya mendengar suara asing yang baru pernah didengarnya, “Mungkin Buaya selalu di sana karena memang kau membutuhkannya.”

Kancil menoleh dan berkedip, sesaat merasa gentar karena dia tak melihat siapapun kecuali Cerpelai penjaga rumahnya di sekitar situ. Kecuali… Kecuali Cerpelailah yang bicara. Tapi itu tidak mungkin, karena Cerpelai sudah bersamanya sejak baru sebentar dia menghuni hutan ini, dan tak pernah sekalipun Kancil mendengarnya bicara. Tapi lalu siapa lagi? Kancil pun memandang tajam Cerpelai, bertanya padanya, “Kau bicara padaku?”

Cerpelai tampak malu. “Aku mencoba,” jawabnya.

“Langitkah yang menyuruhmu?”

Cerpelai meloncat mendekati Kancil, “Ya, aku diutus menemanimu, hingga kau sampai di pohon nipah, atau sampai habis waktuku.”

Kancil berkedip. Cerpelai melanjutkan, “Maafkan aku, aku yang mencuri selendangmu, wahai Bidadari. Tapi aku telah menerima kutukanku, menjadi cerpelai yang harus menemanimu.”

Kancil terkesiap dan melangkah mundur.

Cerpelai menunduk makin rendah di hadapan Kancil. Tubuhnya gemetar. Cerpelai tidak menangis, tapi mata yang menatap Kancil itu seolah dia yang menyebabkan hujan semakin deras. “Aku akan membebaskanmu,” moncong kecil itu bergerak.

Kancil diam, Cerpelai meneruskan, “Aku telah memohon pada langit agar aku bisa memperistrimu, namun aku makhluk bumi tak pantas bersanding denganmu, dan langit sangat murka karena aku berani mengambil selendangmu. Aku berhasil menangguhkan kematianku, namun aku sadar, perbuatan jahatku telah mengikutkanmu dalam kenistaan. Maafkan aku.”

Kancil geram bukan sekedar. Bertahun tak terhitung dia dihukum oleh langit, berubah menjadi kancil jantan di mata makhluk bumi, semuanya karena keserakahan seorang manusia. Hina.

“Jangan kau dekati aku,” dia berkata benci pada Cerpelai. Semua makhluk langit telah memelihara bumi dan isinya dengan penuh sayang, namun bumi dikutuk oleh keserakahan anak-anaknya. Bagi Kancil, yang seperti itu tak pantas dimaafkan. “Jangan bicara padaku,” lanjutnya. “Jangan temui aku sampai kau menemukan cara agar aku berjumpa dengan selendangku si pohon nipah.”

Dengan itu Kancil melangkah tengadah mengucilkan Cerpelai yang terkulai.

Keanggunan Kancil menyibak tirai hujan memasuki hutan. Cerpelai memandanginya dengan sedih. Hampir segera setelah berubah menjadi cerpelai dia sadar, bahwa cintanya pada Sang Bidadari bukanlah apapun melainkan nafsu. Cepat kemudian, dia tahu kematian jauh lebih mudah daripada menyaksikan kepedihan Kancil yang tertinggal di bumi. Bertahun setelahnya Cerpelai menyadari, Sang Bidadari bukan ditolak oleh langit, tapi telah menjadi setengah bumi saat dia terpisah dari selendangnya. Itulah sebabnya langit tak pernah memanggil Sang Bidadari kembali. Selendang itu adalah kunci langit, dan Cerpelai yang dulu masih manusia, telah lengah karena membiarkannya hanyut bersama banjir.

Sekarang dia tak punya pilihan lain kecuali mengantarkan Kancil ke pohon nipah. Setelah akhirnya menemukan keberanian mengakui semua kesalahannya, Cerpelai sampai pada titik tanpa jalan kembali. Dia harus mempertemukan Kancil dengan pohon nipah di seberang sungai lalu penderitaannya dan penderitaan Kancil akan diakhiri.

Pasar malam ramai dan sesak. Cerpelai terengah menghindari raupan tangan serakah yang hendak menangkapnya. Dia bertekad untuk selamat dan kembali ke hutan hidup-hidup.

Burung hantu mengabarkan bahwa di keramaian manusia yang terdekat dari hutan ada bantuan untuknya mendapatkan jawaban. Di sana tinggal seorang tukang rajah bermata satu yang berbicara dengan siapapun. Siapapun. Cerpelai harus bertanya padanya mengenai jalan menuju pohon nipah.

Tiga hari Cerpelai berusaha keluar dari hutan dengan menetapkan rasi pari di belakang kepalanya sebelum akhirnya dia sampai pada tujuannya. Dia gemetar ketakutan membaui semua bahaya yang mengintainya. Terlalu banyak manusia, napas nafsu, dan keinginan yang terasa olehnya. Oh dia tahu apa saja yang orang-orang itu bisa lakukan padanya. Dia tahu, karena dia pernah menjadi salah satu dari mereka.

Dan dia bersyukur telah tahu, karena dengan itulah dia bisa berkelit mencari aman untuk sampai pada si tukang rajah. Dia menunggu sampai malam menjelang saat manusia telah lebih sedikit, saat kelelahan terendus di udara, dan saat tukang rajah sudah bersiap untuk tidur.

Cerpelai mendapatkan jawabannya dengan cepat. Tidak pernah dalam harapannya sekalipun dia bisa mendapatkan jawaban semudah itu, namun tukang rajah berdalih bahwa Cerpelai telah mendatanginya dalam mimpi sejak pertama kali dia bisa mengingat, dan dia terlalu iba pada makhluk itu untuk membiarkannya menunggu.

Cerpelai meneriakkan terima kasih sambil berlari kembali menuju hutan sebelum mendengar peringatan terakhir tukang rajah. Peringatan yang sangat penting. Tapi tukang rajah tidak berusaha mencegahnya. Dia tahu, takdir telah sampai Cerpelai.

Kancil terkejut melihat Cerpelai menunduk dalam-dalam di hadapannya. Saat hewan itu menengadah karena Kancil tak mengatakan apapun, Kancil melihat suatu tekad di dalamnya. Kancil tahu, Cerpelai yang beberapa hari ini tak menampakkan diri di hadapannya, telah kembali dengan sebuah solusi baginya berjumpa pohon nipah.

Mereka berjalan beriringan ke tepi sungai dan Kancil harus menahan diri agar tidak tersengal melihat buaya telah mengumpulkan seluruh keluarganya di tepi sungai.

“Sekarang, Buaya!” terdengar suara Cerpelai melengking dan… apakah itu getaran yang didengar Kancil?

Tak ada waktu untuk menjawab rasa penasarannya, sebab buaya telah bergerak menyerukan komando bagi setiap keluarganya. Dalam beberapa saat, Kancil segera tahu apa yang sedang terjadi. Para buaya itu, berjajar dari satu tepi sungai hingga ke tepi lain membentuk sebuah tapakan.

Memahami apa yang terjadi, mata Kancil terbelalak dan dia takjub dengan kecerdikan Cerpelai.

“Sekarang kau bisa menyeberang, wahai Kancil. Aku akan mengikutimu sampai habis waktuku,” Cerpelai berujar.

Kancil terpaku selama beberapa saat. Cerpelai menunggu, buaya menunggu. Berganti-ganti menatap Cerpelai dan para buaya serta tepi sungai di seberang, akhirnya Kancil memutuskan dia akan mengikuti ide Cerpelai.

Selangkah, Kancil menginjak kepala satu buaya. Lalu lagi dan lagi. Semakin lama semakin pasti. Di tengah sungai, tiba-tiba Kancil teringat pada Cerpelai. Makhluk itu berkata akan mengikutinya, maka Kancil pun menoleh. Kemudian terkesiap.

Di sana, tepat satu buaya di belakang buaya yang sedang dipijaknya, berdiri setengah tubuh manusia lelaki dengan dada dan kepala berbentuk Cerpelai. Dari matanya mengalir air mata. Makhluk itu memaksakan seulas senyum pada Kancil dan menyuruhnya terus berjalan dengan lambaian tangan. Kancil tidak mengerti mengapa Cerpelai menangis, tapi dia diam saja dan terus berjalan. Langkahnya ringan dan semakin cepat saat semakin dekat ke tepian.

Dia berhenti lagi saat melihat pemimpin buaya yang selama ini selalu menemaninya minum. “Selamat datang di seberang sungai, Kancil,” sapanya.

Kancil untuk pertama kalinya tersenyum pada si Buaya. Dia meloncat dengan riang ke tepian. Buaya menyembunyikan senyumnya di bawah muka air.

Kancil menoleh pada Cerpelai dan mengerjap melihat sesosok pria berdiri di tempat seharusnya Cerpelai berada. Pria itu berdiri tanpa busana dan berjalan menginjak si Buaya yang menggeram, lalu menapak ke tanah tepi sungai. Tangan pria itu terulur ke arah rasi pari sambil tak melepaskan tatapannya dari Kancil. “Ke sana, Bidadariku. Ke sana,” ujarnya singkat.

Kancil mengangguk dan berbalik kemudian melangkah hampir berlari ke arah yang ditunjuk oleh Cerpelai. Belum sepuluh langkah dia berjalan, terdengar gemericik ribut suara air di belakangnya, membuatnya menoleh dan dia langsung mengerti apa arti air mata Cerpelai tadi.

Sampai tiba waktuku, ucapan Cerpelai terngiang di telinga Kancil saat dia melihat manusia itu tertarik ke bawah air, menjadi rebutan para buaya yang kelaparan.

“Wahai Kancil, mari…” suara Buaya terdengar dalam dan berat dari sungai.

Manusia itu menangkap pandangan Kancil dan tangannya terulur. Mulutnya bergerak menakjubkan, “Ke sana…” Kancil seolah mendengarnya bersuara di sela rasa sakit.

Didorong oleh kenangan kesetiaan Cerpelai yang melintas, Kancil sudah hendak melangkah kembali, namun percikan air menahannya. Dia menoleh pada Buaya yang membuatnya basah. “Dia sudah berjanji, Kancil. Kau harus membiarkannya melakukan apa yang dia mampu. Pohon nipah menunggumu sekarang. Aku akan mengikutimu sampai di sana.”

Kancil membuka mulut, namun tak dapat mengatakan apapun ketika dilihatnya air sungai menggelap oleh warna darah. Puncak hidung manusia lelaki itu adalah yang terakhir terlihat olehnya.

Mendadak dia gemetar. Naluri hewani membuat lututnya lemas. Kematian baru terjadi di hadapannya. Untuk seseorang yang patut dibenci seharusnya dia tidak perlu terguncang, namun bumi lebih dekat padanya dibandingkan langit, dan tubuhnya adalah milik bumi, ketakutan tak bisa lolos dari rasanya. Kancil mengerang dan tiba-tiba langit berubah gelap dengan guntur menggelegar.

Saat tetes air besar-besar pertama turun dan menampar wajahnya, Kancil berbalik dan untuk pertama kali menuruti instingnya berlari secepat yang dia bisa menembus hutan.

Di sungai, Buaya mendesah lalu berenang diam mengikuti aliran sungai. Larutan darah si manusia Cerpelai mengiringinya, seolah berbisik, Kau sudah berjanji untuk menjaganya, wahai pemimpin Buaya. Aku mengorbankan diriku agar kau memastikannya sampai ke pohon nipah. Kau sudah berjanji…

Buaya membuka mulut dan bergumam gundah, “Aku tahu, dan aku sedang melaksanakan janjiku sekarang. Kami akan bertemu di muara, percayalah.”

Angin mendengarnya. Perlahan dia bergerak halus, menyusup di sela tirai air hingga alirannya menyentuh ujung dedaunan pohon nipah. Seketika, di suatu tempat di bawah rasi pari, air di sekeliling pohon nipah menjadi semanis gula-gula. Menanti datangnya Sang Bidadari.

/…

 


 *Cerita diadaptasi dari cerita rakyat: Kancil dan Buaya, dengan sasaran pembaca dewasa.

Iklan