Tag

Author: BeeNim
Cast: Changmin, Aku
Rating: NC17 (for the ‘about to make love’ scene)
Genre: Romance (straight)
Summary: Malam itu dingin, sempurna untuk jalan-jalan.
OST: Night Drive by Gotye
http://wp.me/p1rQNR-k4

>>>

(pic credit as tagged)

Perutku lapar, tapi makan angin sudah cukup. Kupandangi tanganmu yang lebar menggenggam kemudi dan ada rasa aman menelusup di sela-sela helaian angin dingin. Udara kering, kendaraan lain di depan kita, di belakang kita, menyalip kita, dan aku mencoba menangkap angin. Sephia lampu jalanan terang kita lewati, tanganku menyembunyikan mata saat mencoba memelototinya. Kau berkata-kata, aku tak mendengar.

Aku mencintaimu, malam, begitu aku ingin berteriak. Tapi aku tahu kau di sebelahku akan marah karena menyatakan cinta pada malam dan bukannya padamu.

Roda mobilmu terus melaju stabil, bergesekan tenang dengan aspal sempurna jalan bebas hambatan dalam kota Seoul. Aku mengalihkan pandanganku sejenak dari pemandangan malam dan menatapmu. Ah, kau memang paling mengerti aku, sebab kau langsung berpaling kemudian tersenyum padaku. Satu tanganmu kau lepaskan dari kemudi dan kau selipkan rambut yang menusuk mata ke belakang telingaku. Aku mencintaimu, lelakiku, begitu aku ingin berteriak selanjutnya.

Namun tidak perlu. Kau sudah melihatnya di mataku. Buktinya kau tersenyum miring, senyum kesombongan di bibirmu yang terlalu lebar.

Sebuah truk memberi tanda bahwa dia ada di sebelah kanan kita. Aku tahu kau waspada, tapi kau tetap santai. Aku kembali menatap keluar, menengok ke belakang dan senang melihat betapa besarnya truk itu. Luar biasa. Siang hari tidak mungkin aku melihatnya. Itu hanya truk, aku tahu, tapi melihatnya melaju mencumbu angin sambil menggendong bobot tak ringan disertai deruman yang bagiku malam ini terdengar seperti erangan erotis… man, itu hanya terjadi malam ini.

Pukul dua. Ini jalan layang. Dan aku ingat, di jalan ini pernah terjadi kecelakaan. Satu orang meninggal karena mengemudi sambil mabuk. Dan aku jelas ingat saat keesokan paginya kau menyantap sarapanmu sambil berkata padaku agar tidak pulang malam-malam, agar berhenti minum-minum setelah pulang kantor, agar tidak mengemudi sembarangan. Dan aku tidak mungkin lupa aku mengiyakan semua kebawelanmu dengan ciuman, menaiki pangkuanmu dan akhirnya membuatmu terlambat ke studio karena quickie kita di depan menu sarapan.

Aku tahu ini seperti pelecehan, tapi jalanan yang seharusnya horor ini menurutku romantis luar biasa.

Apakah kita akan pulang? Aku bertanya-tanya dalam hati saat melihatmu berbelok menuju arah yang kukenal. Lalu menjawab pertanyaanku sendiri dengan tidak saat melihatmu berbelok lagi ke arah yang tak terduga. Kulepaskan sabuk pengaman dan merangkak mendekatimu. Kau menoleh terkejut tapi tidak menolak saat aku menciummu sementara kau tetap mengemudi. Sesudahnya kau mengomeliku tentang betapa bahayanya tindakan kita, tapi bibirmu berkedut menahan senyum. Cintaku, cintaku yang tampan, yang membuatku mencintai malam.

Berputar, tak tentu arah. Angin terus mengacak rambut kita berdua. Aroma malam merasuk dalam hidung. Sisa-sisa udara berpolusi kita terobos tak peduli. Lalu ada asap melayang dan suara kendaraan lain di depan sana. Kau menoleh padaku, tersenyum. Tapi maaf, aku sibuk menikmati malam.

Dingin dan melaju, ini hebat.

Dan ini hebat karena aku bersamamu. Bersamamu. Dalam sesuatu yang sangat berharga yang disebut waktu luang. Keberadaanmu di sisiku, membiarkanku kedinginan sementara dengan tenangnya kau hangatkan hatiku dari dalam. Malam ini memang untuk kita.

Aku menoleh padamu dan berharap kau mengerti maksudku. Aku ingin kita pulang. Ke tempatku, ke tempatmu, kemana saja. Pulang.

Agar aku bisa menikmati semuanya. Menikmati malam, juga menikmatimu di sisa malam.

Karena aku mencintaimu.

Sebelah lengan menarikku ke arahmu. Kau memasuki jalur lambat, membiarkan lampu penanda memberitahu orang lain yang mungkin lewat bahwa kau sedang tak buru-buru menyetir. Dalam pelan, kau satukan bibir kita. Pulang? Tanyamu setelah bibir kita terlepas.

Aku mengangguk.

Kau akan memacu lagi mobilmu. Memarkir mobil. Lalu kita berciuman di dalam elevator, tak sabar menelanjangi satu sama lain, dan aku akan berteriak dalam pelukanmu, “Aku mencintaimu!” saat kau menarikku terjun bebas sesaat sebelum kita jatuh tertidur berpelukan.

Tapi itu nanti, setelah kita menikmati putaran terakhir menyusuri jalanan lengang malam hari.

Aku mencintaimu, Shim Changmin.

 

 

KKEUT.

Iklan