Tag

Word count: 288w

http://wp.me/p1rQNR-jQ

Err…

 

…/

Ada pisau dalam kata-katanya. Seiring dengan vas bunga yang melayang, dia menyemburkan nafas api untuk membakar hangus hatiku. Dia tidak bercanda, dan seandainya pun vas itu mengenaiku—melukaiku—dia akan menangis karena menyesal setengah hati, sisa setengahnya lagi untuk berpuas diri. Dia seorang sadis, itulah dia.

Dia marah padaku. Marah karena aku terlambat pulang, marah karena aku tidak menjawab teleponnya, marah karena aku sibuk kejar setoran. Tapi setoran memang tidak pernah berhenti meminta dilunasi, teleponnya seringkali masuk saat aku sedang rapat, dan Demi Tuhan, Jakarta macet! Dan sungguh dia tidak pernah untuk hal-hal sepele yang mengusik rasa tidak sukanya. Dia seorang emosional, itulah dia.

Kami berkelahi. Dia memukul wajahku, aku menohok perutnya. Ini selalu terjadi. Kami saling menyerang, lalu dia mencakarku. Aku meringis dan ketika kesabaranku benar-benar sudah habis, aku melemparnya ke dinding, menjepitnya, kemudian menciumnya kasar. Dalam tipisnya sabar, aku menganiayanya, melukainya. Dia berontak dan pada akhirnya akulah yang selalu kalah. Dia menarikku ke kamar dan di sana aku memohon-mohon padanya.

Agar jangan berhenti, agar terus menarikku menuju apa yang kuinginkan, agar memuaskanku. Pada akhirnya, kami berdua akan terengah di atas kasur, berkeringat, terluka, lebam. Salah satu contoh malam paling menggairahkan untukku. Dan di malam-malam seperti itulah aku tak pernah berhasil menahan diri.

“Ayo ke tempatmu,” kataku malam itu.

Dia berhenti menjilati luka di lenganku. Alisnya terangkat ke arahku.

“Ayo menikah,” kataku menjelaskan. “Aku tidak mau kehilanganmu.”

Dan tetiba sesuatu yang kembali mengeras kurasakan di perut bawahku. Aku tersenyum, menggoda, “Agar kau bisa melakukan apapun yang kau suka padaku sampai maut memisahkan kita.”

“Kenapa harus di tempatku? Kita menikah di sini saja,” ujarnya mulai bergerak lagi.

Aku mengerang suka saat tangannya menjambakku kencang. Di sela rintihan aku menjawab, “Karena di Indonesia sini homo tidak bisa menikah, Eik…”

/…

Iklan