Tag

Word count: 408w

http://wp.me/p1rQNR-jK

Ditulis dalam keadaan setengah tidak sadar saking ngantuknya. Ini payah sekali, tapi yasudlah ya~ diposting aja~ *epilepsi*

 

…/

Kau menutup pintu kamar sambil cemberut. Manajermu akhir-akhir ini kelewat cerewet, dan tidak, kau tidak bisa menghargai sikap seperti itu. Kau superstar, dia manajer. Tanpa kau, dia tidak punya pekerjaan; kau menolak mengakui bahwa tanpa dia kau tak akan seterkenal sekarang. Tapi intinya bukan itu. Intinya adalah kau lelah, kau butuh istirahat, kau tahu—karena IQ-mu 152, yang artinya kau tidak bodoh—bahwa pekerjaan besok sama padatnya seperti hari ini, tapi ini sudah waktunya kau tidur demi kulit sempurna untuk pekerjaan besok juga. Jadi, ya, kau kesal saat manajermu mengingatkanmu.

Kau duduk di kasur, membiarkan pikiranmu melayang sejenak. Tidak untuk apa-apa, hanya agar pikiranmu beristirahat. Berkonsentrasi sepanjang hari bukan pekerjaan ringan. Kau butuh minum.

Beranjak dari tempat tidur kau menuju bar setelah sebelumnya menyambar skrip untuk syuting besok. Menuangkan minuman dengan satu tangan, kau membaca naskah di tangan yang lain. “Keluarlah,” katamu. Suaramu agak serak, tapi intonasimu sudah pas.

Kau letakkan botol whiskey lalu berbalik, sesuai apa yang tertulis di naskah. “Tidak perlu bersembunyi. Aku sudah menunggumu sejak tadi, sebenarnya. Dan biar kuberitahu, biarpun kau datang, ini tak akan jadi judul film terakhirku. Kupastikan itu.” Lalu kau tertawa setengah mengejek, setengah masam. Ini tentang merasakan kehadiran yang tidak kau inginkan.

Kau berbalik mengambil minumanmu, menyesapnya santai sambil berbalik menuju tempat tidur lagi untuk melanjutkan membaca.

Itu, sebelum kau melihatnya berdiri tegap di depanmu dengan sesuatu di tangan. Kau menyadari kau tidak tahu siapa dia.

Lelaki itu mencelos mendengar suara si Superstar. Dia tidak pernah ketahuan sebelumnya. Dia ninja pembunuh nomor satu di dunia yakuza. Rupanya si Superstar tidak menyerang orang tanpa pertahanan. Tentu saja, seharusnya dia sudah mempertimbangkan ini. Bodohnya, dia lengah.

Tapi toh sudah terlanjur. Si Superstar tahu tentang keberadaannya, jadi dia menyusup keluar dari tempat persembunyiannya di bawah tempat tidur dan agak terguncang mendapati si target cukup tenang untuk meramu minuman.

Dia mencengkeram suntikan berisi narkoba dosis tinggi di tangannya dan meloncat maju, secepatnya menyuntikkan isinya ke lengan si Superstar sembari berbisik, “Sumimasen*, ini memang film terakhirmu.”

Si Superstar menjatuhkan gelas dan sesuatu dari tangannya. Lelaki itu tahu sebentar lagi dia akan sudah tak berdaya, jadi dia menjauh dari jangkauan targetnya dan berbalik pergi.

Itu, sebelum dia tersandung naskah di lantai dan membaca sesuatu yang sangat dikenalinya karena baru didengarnya beberapa detik belakangan.

Berita pagi:

“… Idola yang sedang naik daun ini ditemukan dalam keadaan tak bernyawa akibat over dosis di kamar hotelnya. Dia seharusnya masih harus melakukan beberapa syuting adegan dalam film terbarunya…”

/…

 

 


*Maaf (Jepang)


Iklan