Tag

, , ,

Author : Bee

Cast : Jung Yunho, Shim Changmin.

Rating : AA-PG

Genre : family fluff-bromance

Ps : Ini, setelah TONETOUR yang ga mungkin gw tonton. Ini, setelah foto2 after-concert yang bikin ngiler. Ini, setelah sekali lagi disandung pesona buat dua makhluk berkaki panjang yang luar biasa seksi. God, You Are Maha Agung menciptakan makhluk indah seperti mereka. Kalau ada foto yang cocok, mungkin besok2 akan ada poster mereka berdua.

Ost : In My Room (unplugged remix) by Shinee

url: http://wp.me/p1rQNR-j7

 

***

 

Kepala Yunho tergeletak di sandaran tempat duduk. Penyangga lehernya sangat berjasa menjaga nyenyak tidurnya. Changmin juga tertidur. Tadi. Sekarang, karena suatu gerakan kasar mobil mereka menuju hotel, dia terbangun. Tadinya Changmin hendak menggerutu karena tidurnya terganggu, tapi tidak jadi karena kilasan lampu kendaraan lain dari luar jendela tiba-tiba menyorot dan membentuk siluet wajah Yunho.

Hyungnya.

Hyungnya yang keren.

Hyungnya yang kelelahan.

Hyungnya yang tidur dengan mulut terbuka.

Dan Changmin tersenyum.

Meski terhalang oleh bantalan penyangga leher, masih ada bagian leher Yunho yang terbuka dan dengan senang itu diamati oleh Changmin. Dia suka melihat Hyungnya tertidur. Wajahnya aneh, sumber segala ejekan. Mungkin sebentar lagi dengkurannya terdengar, Yunho selalu mendengkur saat kelelahan, dan konser mereka barusan jelas melelahkan. Tidak setiap hari mereka loncat-loncat di atas panggung seukuran lapangan sepak bola, berlari dari satu ujungnya ke ujung lain, sambil berteriak, menyanyi, dan menari sekaligus. Kalau ada yang tidak kelelahan karena itu, Changmin akan membayarnya separuh dari uang yang sudah dia kumpulkan sampai saat ini.

Mobil bergoyang. Hotel mereka tidak jauh, tapi ternyata waktu tempuh ke sana dari lokasi konser cukup untuk sebuah tidur berkualitas. Kepala Yunho terjatuh ke samping yang berlawanan dengan tempat Changmin duduk. Mulutnya membentuk gerakan menghisap. Mungkin liurnya hendak menetes?

Changmin tersenyum tanpa suara. Yunho aneh.

Dan indah.

Dan tampan.

Dan luar biasa.

Changmin berkedip. Matanya menelusuri detil wajah rekan tersayangnya.

Mereka melakukannya lagi. Dan perasaan Changmin tak mudah dijelaskan. Oh, sebenarnya bisa saja dijelaskan, tapi itu rumit dan panjang dan Changmin terlalu lelah dan mengantuk untuk memikirkannya. Dan Changmin tidak sedang ingin memikirkan yang lain selain Yunho.

Yunho yang memeluknya erat sekali di belakang panggung, berbisik di bahunya, “Kita berhasil, Changmin. Terima kasih.”

Changmin hanya menepuk punggung Yunho saat itu, tapi dia menjawab pasti di dalam hati, “Tidak, Hyung. Terima kasih padamu.”

Yunho melepaskannya dan cepat-cepat meraih yang lain untuk diberi jabatan tangan hangat khas Yunho. Dia menunduk dan berterima kasih pada semua orang. Peluh menetes dari dagu dan ujung-ujung rambutnya, tapi sinar di matanya tidak sedikit pun redup. Hampir berhasil mengecoh Changmin kalau saja dia tidak memperhatikan Yunho dengan halus sekali menyembunyikan suatu ekspresi yang hanya Changmin yang mengerti.

Lima orang. Dari lima orang dan mereka kini hanya melakukannya berdua. Mereka toh berhasil melakukannya, itu cukup menghibur Changmin. Tapi dia tahu Hyungnya tak semudah itu melepaskan semuanya. Karena sedikit banyak mereka memiliki kemiripan, dia tahu, tetap ada rasa kehilangan. Ruang ganti jadi lebih sepi. Mereka berdua jadi punya terlalu banyak ruang pribadi. Rasa kehilangan itu tetap ada.

Ada dan berusaha disembunyikan oleh Yunho. Disadari dan dirasakan juga oleh Changmin, tapi dia tak tahu bagaimana mengalihkannya. Dia ingin bertingkah konyol sekedar membuat ribut agar Yunho tidak terlalu banyak mengingat kenangan, tapi Yunho tahu Changmin lebih dari siapapun, sama seperti dia tahu dengan pasti Yunho tak akan mudah dialihkan.

Maka Changmin hanya diam, memberi dukungan saat Yunho mendekatinya, dan membiarkan jarak di antara mereka tetap terbentang saat Yunho tidak menunjukkan sikap mendekat. Changmin hanya akan mengamati. Mungkin sampai dipikirnya Yunho tak kuat lagi. Changmin akan selalu ada di sana. Untuk Yunho. Untuk Dong Bang Shin Ki. Untuk mereka berdua.

Kini Changmin tersenyum malas. Tidak ada yang masih bangun kecuali supir mereka di depan, dan dia bisa dengan leluasa mengamati Yunho. Mencari tanda bahwa Hyungnya terluka. Mengamati kalau-kalau Hyungnya gelisah dalam tidur. Membiarkan semua perhatiannya tampak di sinar mata dan wajahnya.

Changmin mungkin hanya magnae, dia mungkin yang paling ingin dijaga oleh semua orang, tapi Changmin tahu dia cukup kuat untuk mereka berdua. Yunho melakukan usaha terbaiknya menjaga mereka berdua, dan Changmin akan menjaga Yunho dari belakang. Menjadi sandaran baginya.

Kau telah bekerja keras, Hyung,” bibir Changmin bergerak tanpa suara. Menuruti insting dia mengulurkan tangan menyentuh rambut Yunho yang terasa kasar karena hairspray. Ujung jarinya menyusup di ikal buatan yang masih bertahan di sana. “Kau telah bekerja keras. Terima kasih,” ujarnya lagi tetap tanpa suara.

Lalu Yunho bergerak. Kepalanya terputar ke arah Changmin. Dahinya berkerut dan kelopak matanya melayang terbuka.

Sesaat tak ada yang bicara. Mereka hanya saling menatap.

Rasa nyaman yang aneh mengendap di antara mereka. Melihat yang lain ada di sisi saat terbangun dari tidur rasanya seperti diyakinkan bahwa masing-masing dari mereka masih punya sumber kekuatan.

Yunho seketika mengendapkan pemahaman itu dalam hatinya. Khas dirinya yang berjiwa hangat, Yunho sangat mudah menerima hal-hal yang membuatnya tenang. Walaupun dia tetap menyadari bahwa dia bersyukur mendapati Changmin di hadapannya saat terbangun dari tidur yang penuh goncangan.

Yunho tersenyum. Matanya setengah menutup. Dia merasakan tangan Changmin di kepalanya dan merasa senang karenanya.

Changmin membalas senyum Yunho. Senang karena rasa sayangnya diterima tanpa syarat oleh Yunho.

Lalu saat mata Yunho tertutup lagi, Changmin membiarkan tangannya meluncur turun hanya untuk ditangkap oleh tangan Yunho, digenggam, dan disimpan di depan perutnya.

Mata Changmin yang sudah hendak tertutup juga segera membuka lagi. Dia melihat mulut Yunho tersenyum, tubuhnya santai, dan tangan Changmin tersimpan nyaman di perutnya.

Changmin mendengus pelan, lalu menutup matanya sambil tersenyum tanpa menarik lepas tangannya.

Semuanya beres. Mereka saling memiliki. Mereka sudah melakukan usaha terbaik mereka.

 

KKEUT.


Iklan