Tag

Word count: 373w

http://wp.me/p1rQNR-iN

 

…/

Sebuah curhat, eh, doa:

Ya Tuhanku Pencipta sekaligus Pemilikku, meski aku yakin Kau tahu semua yang terjadi padaku karena Kaulah yang menentukan semuanya, tapi tentunya boleh kan aku meracau? Sekedar meringankan perasaan, ya Tuhan… ya?

Kau paling tahu isi hatiku ketika semua orang melarangku memilih jurusan Karawang-Bekasi, eh, maksudnya, Jurusan Seni sebagai jalur pendidikanku. Aku sedih, kecewa dan marah, tapi demi semua yang Kau janjikan tentang surga di telapak kaki ibu dan tentang Kau yang menyayangi orang-orang sabar, aku bertahan.

Kau yang paling jelas melihat perjuanganku meraih apa yang semua orang pikir adalah prestasi. Bukan lagi kaki di kepala, tangan untuk berjalan—itu mudah karena aku kan memang bisa break dance, tapi aku ngesot. Kau melihatnya kan ya, Tuhan? Susah payah aku ngesot demi bertahan di Jurusan Kedokteran seperti yang diinginkan semua orang. Sungguh, Tuhan, aku bahagia melihat semua orang tersenyum. Dan lega mereka tak melihat senyumku palsu.

Kau adalah yang mempertemukan Dewi denganku. Membuatnya jatuh cinta padaku dan membuatnya merasa harus memaksaku menikah dengannya. Bukannya aku tidak bersyukur, Tuhan. Dewi cantik, sesama dokter, dan semua orang bilang kami serasi. Tapi aku menikah dengannya hanya karena kata orang kami memang sudah jodoh. Yah, memang benar kami jodoh, buktinya aku masih menikah dengannya sampai sekarang. Maksudnya sampai sebentar lagi, sampai kami resmi bercerai.

Tuhanku Maha Kuasa, selama ini aku berjalan mengikuti alur dan kata orang, tapi di usia akhir tiga puluh seperti ini, akhirnya Kau menunjukkan padaku bahwa menjadi manusia yang baik bukan hanya dengan menyenangkan orang lain dan tidak berusaha menyenangkan diri sendiri. Sekarang aku sadar bahwa aku juga harus bertarung.

Aku akan bertarung, Tuhan. Aku akan melakukannya. Maka dari itu, berilah ikhlas padaku. Ikhlas akan kaki yang Kau ambil fungsinya. Ikhlas akan Dewi yang Kau rubah cintanya. Ikhlas akan orang tua yang Kau cabut ketidakkhawatirannya. Kumohon, biarkan satu-satunya yang tersisa padaku adalah ikhlas. Agar pada akhirnya Kau tetap mencintaiku, Tuhan.

Amin.

.

Kau membasuh wajah dengan dua tangan yang tadinya tertangkup. Kemudian kau menoleh pada ibumu, yang bersiap mendorong kursi rodamu memasuki ruang persidangan perceraianmu dan Dewi.

Aku, datang sudah agak sejak tadi, mendengar semua isi hatimu. Oh ya, aku datang disuruh Tuhan, siap memeluk hatimu, merasuk ke jiwamu tepat seperti yang kau minta. Menjadi milikmu. Karena Tuhan memang mencintaimu.

Tertanda, Ikhlas.

/…


Iklan