Tag

Word count: 496w

http://wp.me/p1rQNR-ic

versi capseuleok ada juga loh. beda cerita tapinyah.

 

…/

Riuh.

Apa yang kulakukan menatap halaman yang sama selama sepuluh menit terakhir? Oh tunggu, bukankah itu pertanyaan merangkap jawaban? Apa yang kulakukan selama sepuluh menit terakhir? Jawabannya adalah menatap halaman yang sama. Tapi pertanyaan sesungguhnya adalah kenapa aku repot-repot mengeluarkan buku dan berusaha membaca sesuatu yang tidak akan kupahami.

Kuangkat wajah dan bersiap memasukkan diktat ke dalam tas. Lalu tukang asongan nampak di ujung gerbong. Asongan aksesori rambut. Di belakangnya ada tukang tahu. Di depannya ada tukang minuman berseru, “Aqua! Aqua! Aqua rasa Mizone! Green Tea! Suuu~su!”

Aku sudah tidak lagi tersenyum. Kekonyolan mereka sudah ditaburkan terlalu banyak di kotak humor di suatu tempat di balik kesadaranku. Uuuggh, aku benci menggunakan terlalu banyak kata ‘di’. Atau kata ‘terlalu’. Itu terlalu… Aaagh! Cukup.

“Mas nitip bentar ya…” aku mendongak dan saat kulihat seorang ibu muda mengangkat barangnya untuk diletakkan di kabin tas di atas tempat duduk, pantat anaknya mendarat di pahaku. Diktatku… di bawah pantatnya.

Aku menunduk, seorang anak bermata besar berbibir menjepat menatapku balik. Matanya tidak ketakutan. Dia hanya menatapku. Aku hanya menatapnya. Si ibu hanya terus mengoceh. Kupikir, anaknya jelek.

Si anak jelek itu diam, mengalihkan pandangan pada ibunya, lalu memutuskan aku lebih menarik hingga dia menatapku lagi. Dia ini laki-laki atau perempuan sih?

“Susu, Mas? Untuk dedeknya?” seorang penjual minuman berhenti di depanku.

Aku menatapnya. Apa yang dibilangnya tadi? Dia sedang menawarkan dagangannya padaku? Kutatap si anak jelek yang duduk di pangkuanku. Kutelan ludah. Ini anak item ya?

“Susu, Mas?”

Kenapa si pedagang repot-repot menawariku susu? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku minum susu. Dari muka, sepertinya si anak jelek ini perempuan deh. Tapi telinganya tidak ditindik.

Si anak melihat ke arah lain. Lho, kemana tadi si pedagang asongan? Padahal dipikir-pikir lagi aku agak haus, pengin minum.

“EH!” si ibu berseru. Aku dan anaknya menoleh menatapnya bersamaan. “Bentar ya, Mas. Barang saya ada yang ketinggalan. Titip anak saya bentar!” seru si ibu lagi dengan heboh sambil berlari keluar gerbong.

Eh… kok lari?

EH, KOK LARI?!!!

Kutatap si anak yang duduk tenang di pangkuanku. Apa ini?! Apa aku korban pembuangan anak?! Apa ibu itu bermaksud menelantarkan anaknya di pangkuanku?

Si anak menatap keluar pintu. Ibunya pergi. Dia sendirian. Aku sendirian. Kami tidak saling kenal. Dan aku masih kuliah! Aku belum siap punya anak! Dan anakku paling tidak harusnya cakep! Si anak menoleh padaku, kali ini matanya tidak hanya datar.

Gawat! Apa dia mau menangis?!

Mulut si anak terbuka.

Jangan menangis!

Ujung matanya berkerut.

Kumohon jangan menangis!

Suara tercekik terdengar sedikit.

Seseorang tolong aku!

“Hat-ceh!”

Aku tercenung. Si anak bersin.

Bersin.

Dan matanya berair.

Bersin.

“Duuuh, maaf ya, Mas. Ternyata saya salah kereta…” terdengar suara. Sekejap saja pahaku sudah ringan. Diktat di pangkuanku meringkel kusut. Saat aku masih menangisi nasib diktatku, si ibu sudah berdiri di pintu kereta, menggendong anak jeleknya, berkata, “Maaf lho Mas, ngerepotin.”

Aku mendongak dan bertatap mata dengan si ibu, lalu dengan si anak. Senyuman aku-sebenarnya-tidak-ingin-tersenyum terbentuk di bibirku. “Nggak papa, bu… Adek namanya siapa?” tanyaku lemah dengan pikiran sekusut diktatku.

/…


Iklan