Tag

,

Author : Bee

Cast : Kim Ryeowook, Go Miho.

Rating/Genre : AA-PG/angsty-fluffy-buddies

Ps : Ryeosomnia… jangan marah sama saya yah… Mhuahahaha~

Summary : Kesedihan dan keputusasaan dilarutkan dalam suatu momen yang berhasil dicuri dalam keseharian Wookie dan Miho.

url: http://wp.me/p1rQNR-i6

 

>>>

 

“Ne, kamsahamnida~” aku menatap Ryeowook menerima uang pembayaran sambil membungkuk. Senyumnya terkembang, membuatku ikut tersenyum. Anak itu berbalik dan aku mempertahankan senyumku menyaksikan pelanggan kami menutup pintu sambil mengejek Ryeowook. Aku tidak terima, tapi aku tahu Ryeowook tidak mempermasalahkan itu, makanya justru akan menyakitinya kalau aku membesarkan masalah tersebut.

“Ayo naik,” ujarku padanya.

Ryeowook menatapku dengan mata lebarnya, kemudian mengangguk seperti gadis kecil diajak belanja boneka.

Di belakangku, dia duduk kemudian memeluk pinggangku. “Sekarang pesanan terakhir, Eonnie?”

Sambil menyalakan motor aku menjawabnya tanpa menoleh, “O.”

“Haah~ hari ini menyenangkan sekali. Yeeeiii~” Ryeowook berkata centil sambil meletakkan pipi di pundakku.

Selama perjalanan menuju rumah pelanggan terakhir, kami hanya diam. Ryeowook tampak sedang bahagia hari ini. Aku juga begitu. Meski udara dingin karena selama dua hari kemarin hujan salju tak juga berhenti, tapi sekarang kami kebanjiran pelanggan, dan itu menyenangkan. Semua orang malas keluar karena dingin, akibatnya tadi pagi telepon kantorku dibanjiri telepon masuk yang memesan belanjaan.

Aku berhenti di depan rumah besar dan mewah yang terletak di puncak bukit. Rumah itu menghadap desa yang terhampar di hadapannya, seolah mengawasi kegiatan para penduduk desa. Rumah itu adalah rumah orang paling kaya dan paling berkuasa di tempat ini.

Ryeowook turun dan membuka tutup bak penyimpanan di belakang motor. Dia mengeluarkan satu ekor ikan berukuran besar dan satu kantung plastik penuh berisi belanjaan. Dengan terampil dia mengatur bawaannya sehingga sampai di depan gerbang dia bisa menekan bel. “Nuguseyo?” terdengar suara di interkom.

“Ryeowook-imnida… Kami membawa pesanan belanjaan Bongsu Halmoni…” suara genit Ryeowook sedikit hilang.

“O, arasseo, arasseo… Jamkaaan…” aku tahu itu Bongsu Halmoni yang menjawab. Nenek baik hati, tukang masak di rumah ini.

Kami menunggu beberapa saat sebelum nenek itu keluar. “Ooo… ikannya segar sekali,” ujar Bongsu Halmoni melihat ikan di tangan Ryeowook.

“Tentu saja, Halmoni, aku sendiri yang memilihnya di pasar ikan untuk Halmoni,” Ryeowook menjawab dengan nada centilnya yang biasa.

Bongsu Halmoni menepuk lengan Ryeowook lembut sebelum merogoh saku dan bertanya, “Berapa semuanya?”

“45.000 won, Halmoni,” jawab Ryeowook ramah, menyodorkan bawaannya.

Halmoni menyusupkan uangnya dalam kantong jaket Ryeowook kemudian mengambil belanjaannya. Wanita tua itu kemudian menoleh padaku. “Bagaimana hari ini? Semuanya lancar?” serunya.

Dari atas motor aku melambaikan tangan. “Ne, Halmoni. Lancar. Karena dingin, kami kebanjiran pesanan,” aku berseru balik padanya.

“O… Besok aku akan pesan lagi, ya… Kalian beristirahatlah…” pesannya sebelum berbalik hendak memasuki rumah.

Tapi Ryeowook menahannya. “Halmoni… Hyungsikineun?”

Halmoni memasang wajah waspada. “Eish! Dia ada di dalam, sudah jangan menanyakannya lagi. Kau bisa celaka.” Halmoni menjawab sambil menatap awas ke arah rumah.

Ryeowook tak melepaskan baju Halmoni. “Jogiyo, Halmoni…” mulainya ragu. “Sebentaaar saja… Bisakah Halmoni mengatakan pada Hyungsik aku di luar?” mohonnya.

“Tidak bisa! Tuan Besar sedang di rumah hari ini. Hyungsik tidak bisa kemana-mana.”

“Halmoniii…” Ryeowook meminta manja.

“Tidak bisa… pulanglah. Hari ini kau tidak bisa menemui Hyungsik. Besok saja. Besok Tuan Besar dan Nyonya pergi ke Seoul, jadi kau bisa main ke sini.”

“Jinjja?!” Ryeowook tampak berharap.

“O… aigoo… cepat sana pulang sebelum mereka melihatmu!” Halmoni mengibaskan tangannya lepas dari pegangan Ryeowook.

Ryeowook melepaskannya kali ini lalu berjalan mundur dengan senyum lebar, “Kamsahamnida, Halmoni…”

Aku memperhatikan itu dalam diam. Saat Ryeowook kembali menaiki motorku, Halmoni sudah mengunci gerbang dan masuk kembali ke dalam. Aku mulai menjalankan motor yang sekarang jauh lebih ringan dibandingkan saat berangkat tadi. Ryeowook memelukku lagi, dia berseru mengalahkan angin, “Eonnie dengar? Aku akan main ke sini besok. Eonnie tidak keberatan pulang sendirian kan? Nanti aku yang akan menjemput Sora.”

Aku tidak menjawab, hanya tertawa. Kami sedang berkendara, bukan ide yang bagus bercakap-cakap sambil jalan. Sepertinya Ryeowook sudah memahami sifatku yang itu sehingga dia tidak memaksa. Dia hanya kembali meletakkan pipinya di pundakku. Tak lama aku sudah mendengar suara halusnya menyanyikan lagu-lagu.

“Eonnie! Ayo kita ke pantai. Hari ini Eonnie tidak ada kerjaan lain kan?!” Ryeowook tiba-tiba berseru.

Aku berpikir sejenak kemudian memutuskan idenya bukan ide yang buruk. Kubelokkan motor menuju jalur ke arah pantai dan Ryeowook tertawa di belakangku, kemudian kembali bernyanyi.

>>>

Angin dingin menyapa wajahku dan aku melihat Ryeowook merapatkan jaketnya sampai ke leher. “Dingin ya, Eonnie?”

Aku menatapnya dan tersenyum. “O…” hanya itu yang kukatakan.

“Sebentar lagi kita harus menjemput Sora,” katanya lagi.

“O…” lagi-lagi hanya itu kataku. Aku tahu dia tidak mengharapkan jawaban.

Aku mendengar Ryeowook menghela nafas keras-keras. “HYUNGSIK-AAA!” tiba-tiba dia berteriak. “BOGOSHIPPOOOOO!!!”

Aku tertawa mendengarnya. Ryeowook memang ribut. Aku tak pernah melihatnya kehabisan kata-kata.

Dia menoleh padaku. “Eonnie, tidak ada orang yang kau rindukan?” tanyanya.

Aku menatapnya lalu menatap laut. “Ada.”

“Siapa?”

Aku tersenyum, tapi tak menjawab.

“Ayah Sora?” Ryeowook menebak tepat.

Aku mengangguk.

“Eonnie tidak ingin berteriak? Itu bisa meringankan perasaan,” dia menyarankan.

Aku menatapnya lagi. Kemudian menggeleng. “Tidak, mungkin besok-besok. Hari ini aku baik-baik saja.”

Ryeowook mengalihkan pandang ke lautan lagi. “Aku merindukan Hyungsik. Sangat ingin melihatnya. Aku bodoh ya? Padahal aku baru tak melihatnya selama seminggu…”

Aku diam. Aku tahu. Dan aku tahu tak ada satu pun kata yang dapat mengurangi rasa Ryeowook untuk Hyungsik.

“Aku merindukan panggilannya untukku. Aku merindukan pertanyaannya yang banyak. Aku merindukan kepolosannya. Aku rindu saat dia menuruti kata-kataku.” Dia mengambil sejumput pasir kemudian membuangnya. “Aku bahkan merindukan saat-saat kami harus bersembunyi dari orang-orang agar tak ada yang melihat kami. Meski aku harus selalu menemuinya diam-diam, tapi rasanya bertemu dengannya saja sudah cukup. Kalau bertemu orang hanya membuat kami berdua—membuatku—terluka, rasanya bertemu diam-diam seumur hidup aku rela.”

Aku masih diam. Kurasa semua orang tahu Ryeowook dan Hyungsik berteman terlalu dekat. Sedikit yang mereka tahu bahwa Ryeowook ternyata hanya memiliki perasaannya sendiri, bukan perasaan Hyungsik. “Wookie…” aku memanggilnya dengan panggilan yang disukainya.

Dia menoleh.

Aku menatapnya sesaat kemudian bertanya, “Bagaimana kalau Hyungsik menemukan cewek yang disukainya?”

Sinar mata Ryeowook tampak terluka, tapi wajahnya tetap tersenyum. “Aku tidak tahu, Eonnie. Aku tahu pasti menyakitkan untukku, tapi aku tak bisa membayangkan sakitnya dan apa yang akan kulakukan saat mengalaminya,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya kering. Haruskah kukatakan seperti apa sakitnya? Tapi aku sendiri tak punya kata-kata yang pas untuk menggambarkan rasa sakit itu.

“Bagaimana dengan Eonnie? Bagaimana rasanya saat ayah Sora menikah?” tanyanya.

Ryeowook tahu semuanya. Kami ini kakak beradik yang tidak dilahirkan dari sepasang orang tua yang sama. Dia menerimaku saat aku baru datang ke daerah ini. Aku tak bisa tak menerimanya. Siapa aku menghakimi orientasi seksual seseorang? Pengalaman hidupku selama ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa dinilai dari apa yang terlihat. Ryeowook satu-satunya yang mengerti aku tanpa menghakimiku. “Sakit sekali,” jawabku.

“Apa mencintainya menyenangkan?” tanya Ryeowook.

“Mencintainya indah sekali,” jawabku.

“Haaah…” Ryeowook mendesah, memandang laut. “Aku juga ingin mencintai seperti itu. Tetap merasa itu indah meskipun sakit sekali.”

“Kurasa kau mencintai Hyungsik sama seperti besarnya rasa cintaku pada ayah Sora,” senyumku.

Ryeowook tetap memandang laut. “Dan aku ingin dicintai seperti itu…”

Aku mengaitkan tangan ke depan lututku yang tertekuk. “Tapi kau tak akan ingin punya nasib yang sama seperti kami.”

Ryeowook menjawab, “Aku punya nasibku sendiri, terima kasih.” Dia menoleh padaku dan aku mengaguminya. Dia tampak siap dengan masa depan cintanya yang tidak tampak.

Aku mengangguk. “Kau benar,” jawabku. “Katakan padaku, Ryeowook. Apakah Hyungsik tahu kau mencintainya?”

Ryeowook memandang laut lagi. Dia diam selama beberapa saat sehingga aku pikir dia tak akan menjawabku. Aku mengikuti arah pandangannya dan membiarkan angin dingin lagi-lagi membuatku menggigil.

“Aku rasa dia tahu,” tiba-tiba Ryeowook bersuara. Aku menoleh padanya. “Dia pasti tahu. Dia hanya tidak tahu sebesar apa. Kami teman sejak kecil. Kami selalu bersama. Aku mencintainya begitu saja. Aku tahu aku tak akan menganggap orang lain sepenting Hyungsik. Awalnya dia seperti adikku, tapi semakin dewasa aku tahu aku tak mencintainya seperti itu. Aku mencintainya seperti… seperti… seperti caraku mencintainya.”

Ryeowook berhenti. Dia melipat tangannya seperti yang kulakukan kemudian meletakkan dagunya di sana. Dari samping aku bisa melihat posturnya yang cantik. Ryeowook tampan untuk ukuran pria, tapi dia lebih suka dibilang cantik. Kalau tidak salah dia pernah bercerita padaku bahwa orang tuanya tak mau lagi mengakui dia sebagai anak ketika dia menyatakan bahwa dia mau mengumpulkan uang untuk operasi kelamin. Sekarang meskipun Ryeowook masih sering mengunjungi orang tuanya, mereka tak mau bicara padanya.

“Aku juga tak tahu kapan tepatnya aku merasa seperti ini. Hyungsik adalah duniaku. Dia tidak peduli meski teman-temannya bilang dia tidak seharusnya berteman denganku. Aku tak bisa membayangkan akan ada dimana aku sekarang kalau tak ada dia yang mendukungku. Mungkin aku sudah dibakar setelah bunuh diri karena kecaman sosial. Karena dialah aku berhasil menyelesaikan sekolah. Karena dia aku berhasil mengabaikan ejekan orang-orang.”

Lalu berhenti lagi. Wajah Ryeowook tenang sekali. Dia lebih muda dariku banyak tahun, tapi pengalaman kepahitan yang menyapa hidupnya mungkin hampir sama banyaknya dengan yang kualami.

“Dia tidak bisa berbuat banyak kalau kemudian orang tuanya ingin dia lebih serius. Itu keluarganya, dia harus melakukannya. Aku juga tak ingin membuatnya terjebak di sini bersamaku. Aku hanya ingin mencintainya dengan caraku selama ini, tidak memaksanya, mendukungnya, dan membiarkannya menjalani hidupnya sendiri. Persahabatan yang ditawarkan olehnya sudah berarti banyak untukku.”

Kami berdua diam. Lalu aku bicara saat Ryeowook tak lagi bicara, “Rasanya aku mengerti.”

Ryeowook menoleh. Dia tersenyum. “Bagaimana dengan Eonnie?” tanyanya. “Apakah Eonnie akan kembali pada ayah Sora?”

Aku menggeleng dan tersenyum. “Tidak, Wookie. Tidak ada dari kami yang akan kembali pada yang lain. Takdir kami sudah habis. Dia menikah, aku mendapat Sora. Hidup kami tak lagi bersinggungan.”

Ryeowook diam tapi tak melepaskan tatapannya dariku. Perlahan matanya berkaca-kaca dan dia menatap dan bertanya padaku dengan sendu, “Sesakit apa rasanya, Eonnie?”

Aku hanya menatapnya lama. Mengumpulkan kata-kata dalam benak justru membuat aku makin menyadari bahwa tak ada satu pun kata yang dapat menggambarkan perasaan sakit ketika orang yang aku cintai menikahi wanita lain.

Ryeowook tersenyum sedih, sebutir air mata mengalir dari matanya. “Sebegitu sakitnyakah sampai Eonnie kehilangan kata-kata?”

“Aju-aju… Mani-mani… Appha..” gumamku pelan. Sangat-sangat, benar-benar, sakit.

Ryeowook menghapus air matanya hanya untuk memberi jalan bagi guliran lain jatuh. Dia menunduk. Aku tidak menatapnya, hanya membiarkan angin dingin terus menderaku. “Kurasa itu artinya aku harus bersiap-siap.” Kudengar suara Ryeowook parau.

Aku menatapnya. Dia menatapku. Senyum sedih tampak di bibirnya. “Bersiap untuk sakitnya,” jelasnya lebih lanjut.

Aku mengerjap. “Benar…” jawabku tidak pasti.

“Eonnie… Aku takut. Bagaimana kalau sakitnya tak tertahankan untukku? Sekarang pun meski terkadang bahagia, aku tetap merasa sakit. Apa sakitnya akan lebih dari ini?” Ryeowook menatapku memelas. Pipinya basah, tapi hebatnya suaranya tetap terkendali.

Aku tak bisa berbohong pada mata itu. “Sakitnya akan membunuhmu, Wookie…”

Air mata Ryeowook mengalir makin deras.

Aku berkata lagi, “Tapi kau tetap akan hidup. Nafasmu masih akan ada, dan akan ada orang lain yang datang padamu. Mungkin tidak seperti yang kau inginkan, tapi dia ada dan membuatmu bertahan. Seseorang seperti Sora untukku, atau kau… kau untukku…”

Mulut Ryeowook terbuka. “Kenapa aku tak bisa jadi lelaki, Eonnie?” tanyanya sedih.

Aku menggeleng. “Aku tak tahu.”

Ryeowook diam lalu bergerak tanpa kata mendekat padaku. Aku menyambutnya dan membiarkan dia menyusup dalam pelukanku. Kubelai kepalanya pelan. Kami terdiam lama sambil berpelukan. Bukankah hidup kurang ajar? Sebagian orang diberikan kebahagiaan tanpa membayar apapun, sementara sebagian yang lain tidak juga bisa tersenyum bahkan setelah bertahun-tahun melakukan segalanya untuk bahagia.

“Kapan kau akan melakukannya, Wookie? Bukankah uangmu sudah cukup?” aku bertanya pada Ryeowook tentang operasinya.

“Tidak tahu,” jawabnya. “Aku akan meninggalkan Hyungsik saat aku melakukannya.” Belaianku berhenti. Dia melanjutkan, wajahnya dibenamkan di leherku, aku merasakan keputusasaannya memuncak. “Aku bodoh luar biasa, Eonnie… Aku bodoh sekali. Aku tak mau Hyungsik mengenalku sebagai wanita. Aku mau Hyungsik tetap melihatku sebagai Wookie-nya. Aku berharap dia bisa mencintaiku sebagai aku yang sekarang, dalam sosokku yang sekarang.”

Aku merangkai kata-kataku sesaat sebelum bicara lagi, “Bukannya kau ingin menjadi wanita dan membuatnya bisa menerimamu?”

Ryeowook menggeleng. “Tidak. Aku tahu Wookie akan langsung hilang saat aku melakukannya. Aku akan membuang Wookie yang ini dan menjadi orang lain saat itu terjadi. Membuang semuanya termasuk Hyungsik.”

Aku bingung. “Lalu kenapa kau tetap ingin melakukannya?”

Ryeowook bergetar dalam pelukanku. “Aku tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu. Aku bahkan tidak pernah mau memikirkannya. Aku tak mau kehilangan Ryeowook, sekaligus aku ingin menjadi wanita. Dan aku mencintai Hyungsik. Eonnie, apapun yang kulakukan, aku akan tetap kehilangan Hyungsik, itu yang paling menyakitkan.”

Aku termangu. Meski tak paham pola berpikir anak ini, aku paham rasanya tak ingin kehilangan diri sendiri dan segala yang kita punyai.

“Bagaimana kalau aku tidak bahagia saat menjadi wanita? Bagaimana kalau setelah kehilangan Hyungsik aku justru kehilangan lebih banyak lagi? Eonnie, bagaimana kalau sesuatu yang lebih buruk terjadi, saking buruknya aku bahkan tak bisa membayangkan apa itu, bagaimana kalau itu terjadi?” Kali ini Ryeowook mendongak menuntutku memberinya jawaban.

Aku menggigit bibir. “Aku tidak tahu, Wookie,” jawabku menyesal tak bisa memberitahunya. Kalau bicara tentang melepaskan orang lain, aku bisa memberitahunya seperti apa rasanya; tapi kalau tentang melepaskan diri sendiri, aku tidak berpengalaman.

“Apa aku harus menjadi pria, Eonnie? Apa sebaiknya aku belajar menyukai perempuan dan melupakan keinginanku?” Wookie mencoba mencari jalan keluar termudah.

Aku tahu itu justru jalan keluar paling sulit. Kurangkum wajah Wookie, “Pernahkah kau berhasil melaku—“

Wookie menggeleng memotong tanyaku dan air matanya menetes lagi. “Tidak pernah berhasil,” jawabannya keluar bersama isakan. Ryeowook yang selalu tersenyum, tampak luluh di hadapanku.

Kuteliti setiap detil wajahnya. “Maafkan aku, Wookie…” bisikku menyesal.

Ryeowook meletakkan kepala di bahuku. Aku hanya bisa menerimanya. Aku tak bisa menghilangkan sakit hatinya, aku tak mampu mengurai kesedihannya. Aku hanya bisa memeluknya, memberinya tempat bersandar saat dia kelelahan menghadapi penghakiman manusia. Sama seperti dia yang membuka kedua lengannya untukku dan Sora, aku tak punya keraguan sedikitpun menariknya masuk dalam pelukku. Kami dipertemukan karena kami memang saling membutuhkan.

Aku ingin mengutuk orang tuanya yang membuang seorang anak berhati hangat sepertinya. Dia begitu mudah mengerti perasaan orang lain. Dengan keceriaannya dia membuat orang lain nyaman berada di sekitarnya. Tapi apa yang didapatnya? Ejekan, tidak diakui dan dikucilkan. Terkadang aku tak mengerti manusia, meskipun mestinya tidak begitu karena aku satu spesies dengan mereka.

“Eonnie.. ah, Noona…” dia mencoba memanggilku.

“Aku tak keberatan jadi Eonnie…” aku menjawab.

Ryeowook meremas lengan jaketku. “Terima kasih, Eonnie…” bisiknya.

Awalnya aku tak menjawab, karena tak tahu bagaimana harus merespon kalimat terima kasih yang aku sendiri tidak tahu untuk apa. Tapi lalu aku memutuskan membiarkannya tahu perasaanku sendiri. “Nado, terima kasih, Wookie-ya…”

Wookie bangun dan tersenyum. Kali ini senyumnya menyerap sedikit sinar matahari yang lemah. Aku membalas senyumnya. Dia mengerjap kemudian bertanya, “Apa kita harus menjemput Sora sekarang?”

Aku berkedip. Benar. Sora. Aku mengangguk dan bergerak bangun mengikuti Ryeowook yang sudah lebih dulu bangun. Di sebelahnya aku menarik lengannya. “Kau baik-baik saja?”

Ryeowook nyengir. Dia menggenggam tanganku dan mengangguk.

Aku bertanya lagi, “Jadi sesi sedih-sedihnya sudah selesai?”

Ryeowook cemberut tapi lalu mengerutkan matanya membentuk senyum, “Sudah. Pantainya masih akan ada di sini kalau kita butuh menangis lagi, tapi Sora mungkin akan mencoba pulang sendiri kalau kita tidak bergegas sekarang.”

Aku memutar mata. “Aku harus berhati-hati padamu, kau sudah sangat mengenal Sora. Jangan sampai dia memutuskan kabur denganmu nantinya.

“Ehehe…” Ryeowook hanya nyengir konyol.

Kami melangkah bersama menuju motor yang berdiri miring, meninggalkan debur ombak yang melarutkan kegundahan yang tadi sempat lolos dari mulut kami. Ya, pantainya masih akan ada di sana. Kami selalu bisa kembali ke sana.

 

 

KKEUT.


Iklan