Tag

Author : Bee

Cast : Aku, Jung Yunho

Rating : AA-PG

Genre : Romance

OST : Sarangingayo by Park Saebyul feat. Super Junior

url: http://wp.me/p1rQNR-hA

>>>

 

Terdengar pengumuman yang mengatakan kereta bawah tanah jurusan Itaewon sedang memasuki stasiun. Aku maju ke garis kuning dan menunggu kereta itu datang. Saat kereta bergerak masih cepat, aku melihat bahwa di dalam sana sudah penuh sesak dengan orang. Aku menggerutu.

Kenapa aku harus mengalami ini? Bukankah aku sudah berangkat tidak bersamaan dengan jam sibuk? Kenapa keretanya masih penuh?

Agak terlambat aku menyadari bahwa mereka yang berniat naik kereta yang sama denganku ternyata juga tidak sedikit. Setengah bengong aku terdorong penumpang lain yang bermaksud menaiki kereta.

Di dalam aku sama sekali tidak punya kesempatan meraih pegangan. Aku terus didorong, menginjak dan terinjak kaki orang. Sama sekali tidak ada gunanya aku mengeluh, aku tahu, sebab semua orang merasakan hal yang sama. Tapi sulit untuk tetap diam ketika kau didorong sekerasnya sehingga hampir terjerembab. Entah bisakah dikatakan untung keretanya sedang sangat penuh, sehingga bukannya terjerembab jatuh ke lantai, aku justru membentur orang lain yang membuatku tidak merasa kesakitan. Tapi tak ayal kekesalanku merayap naik juga.

Kulayangkan pandangan pada orang yang kutabrak, bermaksud meminta maaf. Dan yang bisa kulakukan hanyalah terkesiap.

Sepasang mata polos menatapku dari balik kacamata bulat bergagang mika yang tidak terlalu tipis. Mata itu kecil dan eksotis, kacamatanya menggantung aman di batang hidung yang lurus sempurna. Tanpa bisa kutahan pandanganku menjalar ke bawah ke arah bibirnya. Kutahan diriku sendiri yang mendadak ingin menggigit bibir. Kutahan inginku yang mendadak ingin bibirku digigit oleh giginya yang terlihat sedikit dari mulutnya yang terbuka.

Aku membuka mulut, tak ada yang suara yang keluar. Aku mencoba lagi, masih bisu. Akhirnya aku memutuskan membiarkan dulu mataku puas memandangi wajah tampan yang harus kulihat dengan mendongak sebelum membuka mulut lagi.

Dia tinggi. Saat menurunkan pandangan, mataku hanya bertemu dengan saku jaketnya yang terletak di dada. Dadanya lebar dan berisi. Bahunya… aku harus mengangkat pandangan untuk melihatnya, bahu yang tampak tegap dan kokoh.

Stasiun berikutnya. Aku terdorong lagi. Aku terpaksa menggigit bibir, wajahku terjerembab benar-benar ke dadanya. Dan alasanku menggigit bibir kali ini adalah karena aroma maskulin kolonye lelaki itu hinggap di hidungku.

Kali ini aku harus minta maaf.

Aku mendongak lagi dan menemukan diriku sendiri menarik nafas karena pemandangan sempurna bibir dan dagunya yang manis sekali. Aku heran bagaimana seseorang bisa begitu maskulin sekaligus imut di waktu yang bersamaan?

Bodohnya, aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Jelas sekali aku menatap kepingin pada bibirnya.

Yang kemudian tersenyum padaku!

Mulutku terbuka dengan bodohnya.

Seseorang bergerak mendekati pintu keluar, bersiap turun, dan aku lagi-lagi terdorong ke arahnya. Kali ini dia berkedip sambil tersenyum malas padaku. Kemalasan paling seksi sedunia!

Matanya melayang ke atas kepalaku dan bersamaan dengan seseorang menyikutku, aku merasa ada tangan di pinggangku, menarikku mendekat pada tubuh lelaki di hadapanku, menghalau siku entah siapa tadi itu. Belum lagi aku sempat mengatakan apapun, orang-orang di sekitarku sudah sibuk mendekati pintu keluar karena lagi-lagi kami memasuki stasiun bawah tanah. Tak berdaya, aku terdorong makin melekat ke tubuhnya.

Sungguh aku benci didorong-dorong. Pernyataan itu seperti kebohongan.

Lalu segalanya menjadi longgar. Aku tahu, aku merasakannya, artinya aku harus menjauh darinya, tapi pernahkah kalian merasa sangat tidak ingin meninggalkan sesuatu? Itulah yang kurasakan. Aku enggan melepaskan diri darinya. Rasanya lega saat rombongan baru beberapa penumpang memasuki gerbong kami. Aku membayangkan tarian hula-hula saat mereka mengisi setiap celah udara di sekitar kami. Aku tak harus menjauh darinya.

Aku mendongak dan bertemu dengan matanya.

Aku memang terkesiap lagi, tapi kali ini aku bisa membalas senyumnya. Tidak, aku tidak tersenyum seperti wanita gila, aku hanya tersenyum semalas caranya menyenyumiku. Rasanya semakin tanpa ekspresi semakin aku merasa kami saling mengerti. Sulit dijelaskan, tapi itulah rasanya.

Tak perlu sapaan hai, tak perlu senyuman ramah dengan mata yang berkerut, bahkan kata maaf sudah tak penting lagi, karena kini kami berdua hanya berdiri dekat sekali, merasa nyaman dengan keberadaan masing-masing, saling memandang dan tidak bermaksud mengumbar rasa.

Kurasakan jejak pandangannya di wajahku; menghujam mataku, mengusap pipiku, agak berlama-lama di bibirku, tersenyum pada poniku, lalu kembali ke mata dan senyumnya terpancar tanpa harus menarik bibir. Kutebarkan penilaianku sendiri pada wajahnya. Hidungnya, delapan. Pipinya, delapan setengah. Bibirnya, sembilan setengah. Matanya, sembilan. Dia, sepuluh sempurna. Kuberitahu dia lewat kedipan mata tak berminat. Kurasa dia sudah tahu aku memujinya.

Dia memutuskan kontak mata kami dan lagi-lagi memandang sekeliling. Lengannya di pinggangku mengerat lagi dan aku menoleh ke samping. Dengan sengaja kutundukkan sedikit kepalaku sehingga dahiku menyentuh dadanya. Tangannya bergerak ke punggungku. Nyaman.

Aku hampir memejamkan mata saat membebankan dahiku sepenuhnya padanya. Aku menyadari aku wanita aneh yang berharap kereta terus padat dan kami tidak harus turun sampai kami lelah.

Seseorang berseru dari belakangku dan aku menoleh di arah yang berkebalikan dari sebelumnya. “Permisi, permisi, saya mau turun di depan. Permisi,” seru orang itu.

Pipiku menempel di dadanya. Saat orang yang berseru itu akhirnya mencapai pintu, aku mendongak. Dia sedang menatapku. Aku tidak mungkin bisa melarikan diri dari tatapannya.

Manik matanya sangat menarik untuk dilihat. Sesuatu dari wajahnya sangat polos tapi sekaligus menggoda. Mataku berkedip menangkap sesuatu. Tanda di atas bibirnya sebelah kiri!

Bagaimana rasanya mencium tanda itu? Ada yang benar-benar terjepit di otakku pagi ini.

Kereta berhenti dan kepadatan berkurang. Pelukannya melonggar.

Aku kehilangan. Aku jengah.

Dia menarikku kembali. Orang-orang kembali masuk. Aku kembali merasa nyaman. Kini dia tidak memelukku dengan ringan, melainkan memastikan aku mengetahui seberapa kuat lengannya. Aku tidak keberatan.

Di stasiun berikutnya, kereta kembali longgar, dia membawaku bergeser mendekati pintu. Di sana dia menyandar pada satu sisi penahan pintu, membawaku agar menyender pada tubuhnya tepat sebelum orang-orang kembali menyerbu masuk.

Kami saling bertatapan lagi.

Keretanya selalu penuh. Polusi suara tinggi. Dengungan mesin kereta, racauan percakapan para penumpangnya, suara-suara telepon yang kadang berbunyi. Namun semuanya terasa seperti musik akustik yang menenangkan di sekitar kami. Kebanyakan waktu kami habiskan sambil menatap dan melayangkan senyuman-senyuman samar, sisanya kami memperhatikan luar jendela, menyusuri jejak kereta membawa kami.

Aku benci semakin mendekati tujuanku. Tangannya tetap kokoh melingkari pinggangku, tubuhku tetap nyaman menyandar padanya, tapi aku tahu aku harus segera melepaskannya.

Ketika akhirnya kereta kami berhenti di satu stasiun sebelum tujuan akhirku, aku memaksa diri melepaskan diri darinya. Aku memberinya sebuah anggukan. Anggukan terima kasih, anggukan tidak enak karena sudah merepotkannya, anggukan meminta maaf karena telah membebaninya, dan dia melonggarkan pelukannya, tapi tak melepaskan tangannya dari pinggangku.

Aku menatap matanya untuk terakhir kali dan hatiku seolah baru selesai lari maraton. Aku pasti akan terus memikirkannya setelah turun dari kereta.

Aku memutuskan kontak mata kami dan mengangguk lebih dalam, yang membuatku kemudian menyadari bahwa kereta kami sudah lengang, jauh lebih lengang dari yang kupikirkan. Aku harusnya sudah lepas darinya dari tadi!

Stasiunku akhirnya tiba. Aku layangkan senyuman terakhirku padanya dan beranjak meninggalkan kereta.

>>>

Kepala Editor sialan. Seberapa menyentuh lagi dia mau aku membuat artikel ini? Ini artikel tentang kota berprestasi, kenapa dia ingin tulisannya dibuat penuh tragedi?! Aku tidak pernah mengerti jalan pikiran lelaki itu!

Aku terus mengamati tabletku sambil menggigiti kuku jempol. Kaleng kopi di sebelahku sudah setengah kosong, aku nyaris melupakannya. Nyaris. Orang-orang lalu lalang di hadapanku, para remaja bermain di sekitarku, beberapa pasangan membawa jalan-jalan peliharaan mereka. Mereka ribut, tepat seperti yang kubutuhkan.

Daya berpikirku paling baik ketika aku berada di tengah keramaian. Seolah dengungan-dengungan suara adalah musik yang paling menginspirasi bagiku. Itulah sebabnya aku sering kabur dari kantor demi menulis di pinggir jalan seperti sekarang. Untungnya semua orang di kantor sudah tahu sehingga mereka hanya akan menyuruhku bertahan di kubikel-kubikel jelek itu kalau ada rapat atau sesuatu yang tidak memerlukan kemampuan menulis.

Angin berhembus dan aku baru sadar kalau aku merasa haus. Tanpa mengangkat mata dari tabletku, aku meraih kaleng kopi. Hanya untuk bersentuhan dengan tangan orang lain.

Aku memutar kepala dan menemukan si imut yang tampan yang berhasil membuatku melamun sepagian tadi. Tangan kami saling tertaut, jauh sekali dari dua kaleng minuman yang berjejeran. Di tangannya terdapat sebuah pemutar musik, telinganya tersumpal oleh pengeras suara mini. Mulutnya terbuka. Bibirnya masih ingin membuatku membayangkan menciumnya. Dan senyumnya masih malas.

Aku membalasnya dengan senyuman minta maaf, kemudian cepat-cepat menarik tanganku dan meraih minumanku. Kuteguk minumanku sambil memandangnya, di bawah tatapannya. Baru saat meletakkan kembali kalengku, aku memaksakan diri mentragedikan kota berprestasi dalam tabletku, melepaskan wajahnya dari tatapan.

Bisa kurasakan dia menunduk lalu meraih kalengnya sendiri, meminumnya, kemudian kembali menekuni pemutar musik di tangannya.

Tidak sampai lima puluh sentimeter, jarak antara kalengku dengan kalengnya. Satu kakinya yang bergerak-gerak di atas lutut kaki yang lain terus mengusik ujung mataku. Kakiku sendiri terjulur ke depan saling tertindih, pergelangannya memutar-mutar seiring bibir bawah yang semakin sering kugigiti.

Orang-orang terus beraktivitas. Anak-anak masih berkeliaran. Anjing-anjing terkadang masih menggonggong. Apa hanya aku yang mendengar genderang ditabuh? Hanya karena itu suara hatiku sendiri, apa hanya aku yang mendengarnya?

Kuangkat wajah mengamati sekitar. Sekitar kecuali dirinya. Dan aku hanya membutuhkan satu kedipan.

Satu kedipan mataku sendiri lalu aku mengangkat tabletku. “Hei,” panggilku pada pria itu, membuatnya menoleh.

Aku mendapatkannya! Aku memotret wajahnya. “Boleh minta nomormu?”

Dia menjawab dengan aneh, “Hei juga. Namaku Jung Yunho.”

 

 

KKEUT.


Iklan