Title : Cowok Keren Itu…

Author : Bee

PS : cheesy, but… yeah… 😀 Haha~

OST : Forever by Oneway

urlhttp://wp.me/p1rQNR-hD

 

^^^

 

Cowok keren itu, yang memelukmu dari belakang tanpa berkata apa-apa, hanya karena dia ingin merasakan kau menjadi miliknya. Sentuhannya di pinggangmu adalah gambaran penyerahan dirinya untuk menerima bagaimanapun bentukmu.

Cowok keren itu, yang kemudian mencium pundakmu dan mengucapkan, “Hai,” dengan malas. Hanya karena dia ingin kau tahu dia ada. Kalaupun tidak, dia hanya ingin mendengarmu menjawabnya kembali, merasakanmu. Baik dengan balas menyapanya, ataupun dengan mempercayakan punggungmu bersandar padanya.

Cowok keren itu, tidak banyak bicara ketika banyak yang terjadi di sekitarnya. Dia hanya memperhatikan, membiarkan kalian terlarut dalam suasana. Karena yang penting baginya adalah dia terlarut bersamamu.

Cowok keren itu, yang tersenyum malas saat kau bercerita tentang pakaian cewek lain yang kau rasa kurang pantas dan sebagian alasannya adalah kau merasa iri karenanya. Dia membiarkanmu bersuara dan berpuas diri melihatmu berekspresi. Hanya karena dia suka mendengarmu bicara, gemas dengan gerakan mata dan bibirmu, juga karena dia merasa lucu bahwa semenarik apapun cewek lain yang sedang kau bicarakan, dia tetap lebih tertarik mengamatimu, membuat dirinya sendiri bingung. Macam kebingungan yang menyenangkan.

Cowok keren itu, yang menghargai angin yang lewat; karena membuat rambutmu beriap. Yang mencintai bunyi klakson angkutan kota yang keras; karena membuatmu terlonjak kaget. Yang menyukai polisi tidur; karena kau terlonjak lucu di tempatmu duduk sambil terpaksa berhenti bicara sebentar. Yang hobi ke tempat makan; karena mengharapkanmu menanyainya dia ingin makan apa kali itu. Yang tidak bisa memilih gunung kah, pasar malam kah, bioskop kah, untuk tujuan pergi bersamamu; karena semuanya memungkinkannya menggenggam tanganmu. Hanya karena dia merasa lengkap bersamamu.

Cowok keren itu, seperti dia yang menertawakanku sekarang karena terjerembab akibat tali sepatu yang terurai, tapi lalu membimbingku ke pinggir, mengikatkan kembali talinya, kemudian mengusap kepalaku dengan sayang. Cowok keren itu, seperti dia yang menyelusupkan jarinya ke jariku ketika kami hendak menyeberang jalan, lalu lupa melepaskannya lagi. Cowok keren itu, seperti dia yang menghabiskan makananku karena aku sudah kekenyangan; percaya diri bahwa sekalipun perutnya menggembung seperti ibu hamil, aku masih akan menganggapnya keren.

Dipikir-pikir lagi, cowok keren itu, dia. Yang sekarang tertidur di bahuku sambil nonton wayang tengah malam. Sederhana, dia keren karena dia bisa membuatku tidak keberatan dengkurannya mewarnai tontonanku.

 

 

KKEUT.


Iklan