Tag

, , , , , ,

Author : Bee

Cast : Leeteuk, Donghae, Shindong, Sungmin, Kyuhyun, Super Junior

Rating : AA-PG

Genre : fluff-friendship + sepotong romansa

Ps : Dibuat setelah nonton potongan-potongan SS4Seoul hari kedua. Setelah ngeliat Teuk nangis, setelah nangis sepanjang malam gara2 nyimak konser lewat TL, setelah galau dan sedih setengah mati mikirin kesedihan Teuk. Lagi, sungguh berharap Teuk punya seseorang yang bisa selalu membuat hatinya terasa ringan saat banyak masalah memberati pikirannya.

url: http://wp.me/p1rQNR-h6

 

***

 

“Hyung gwaenchanha?” Donghae menepuk bahuku setelah mengantarkan kepergian Heechul kembali ke kampnya.

Aku menunduk mengusap mata. Hanya mampu mengangguk, sama sekali tak mampu bicara. Donghae memelukku erat. Aku membalas pelukannya sama erat kemudian melepasnya sejenak untuk memperhatikan wajah adik kesayanganku itu. “Uri Donghae…” gumamku sedih.

Mata Donghae bengkak, wajahnya pucat karena kelelahan. Meski kepuasan tampak di sana, tapi kesedihan juga tak tinggal. “Aigo, uri Donghae…” aku sedikit terisak kemudian memeluknya lagi erat-erat. “Kau harus baik-baik saja saat aku pergi nanti,” kataku sedih.

Donghae mengetatkan pelukannya yang sudah ketat. “Aku akan baik-baik saja, Hyung. Kami akan baik-baik saja. Hyung harus melakukan yang terbaik. Saat kembali nanti Hyung harus mau kembali bekerja keras bersama kami.”

Aku tak mampu menahan getar tubuhku. Tangisku menguat lagi setelah tadi sempat reda. Saat begini aku berharap aku sanggup minum sampai mabuk tanpa perlu mengkhawatirkan efek sampingnya.

Manusia bisa berusaha, manusia bisa berharap, manusia bisa membuat rencana, tapi waktu tak pernah peduli. Apapun yang terjadi, manusia akan selalu menemui akhir. Aku tahu kedengarannya konyol aku mengatakan ini, tapi inilah yang kurasakan. Aku tahu begitu keluar dari militer aku tak akan sama lagi. Aku akan jadi lebih dewasa, mengejar hal-hal yang dikejar orang dewasa: kemapanan. Aku benar-benar tak ingin jadi dewasa.

Aku ingin selamanya bersama adik-adikku, bersama para fans, mereka adalah candu. Adik-adikku membuatku bertahan selama ini sejak aku baru menapaki langkahku di dunia hiburan, sampai sekarang saat aku harus mengakhirinya karena kewajiban pada negara. Fans kami adalah sumber kekuatan kami. Mereka mau memahami beratnya usaha yang kami lakukan selama ini. Kesulitan kami, air mata dan keringat, semua terbayar saat melihat mereka tersenyum. Senyuman memuji sekaligus memuja. Mungkin benar kami adalah manusia-manusia narsis, tapi toh kami bahagia saat melihat fans kami bahagia, jadi itu sepadan.

Popularitas, uang dan posisi yang telah kami raih hingga saat ini, tidak ada satupun yang kami dapatkan tanpa rintangan. Semua terlihat mudah bagi yang melihatnya sepintas, tapi meraih kemudian mempertahankan sebuah eksistensi di hadapan berjuta-juta orang bukanlah sesuatu yang tak berbayar. Kami mempersembahkan hidup kami untuknya dan kami menjilat setiap tetesan keringat serta rasa luka yang muncul. Belum lagi kesepian, kesendirian, yang sekali lagi membuatku sangat bersyukur memiliki semua adik-adikku. Mereka bersamaku. Aku tak sendirian.

Tapi kini aku pun harus pergi. Dia yang selama ini paling kuat menopangku, membuatku mengadopsi sisi dirinya yang tak mudah goyah, sudah lebih dulu melepaskanku. Heechul berkata bahwa aku harus jadi super kuat untuk semuanya karena sekarang dia tak bisa lagi melindungiku tepat di sisiku. Dia masih akan bersamaku, tapi aku tetap harus melakukannya sendiri. Awalnya aku takut karena harus berjalan sendiri, tapi sekarang aku lebih takut meninggalkan semua orang tanpa aku di sisi mereka.

Air mataku masih menetes deras ketika Donghae memelukku di dalam mobil. Semua orang diam. Entah mengantuk dan tertidur, entah karena aku menangis, aku tak tahu. Ini semua benar-benar berat bagi kami. Begitu banyak beban yang harus kami pikirkan. Saat ELF meneriakkan cinta mereka pada kami di panggung tadi, rasanya aku ingin berlutut mengucapkan terima kasih pada mereka. Ingin mengemas mereka semua dalam satu genggaman kecil kemudian menyimpannya kuat di dekat dada. Mereka begitu mencintai kami. Cinta mereka sangat berarti bagi kami. Bagiku.

Sepotong tangan membelai punggungku dan aku melihat Sungmin, salah satu yang paling tegar di antara kami, sedang menatapku berkaca-kaca. “Masih banyak yang harus dilakukan, Hyung. Kita harus berjuang,” ujarnya bijaksana.

Aku seperti diingatkan keras. Dia benar. Masih ada Super Show 4 di Jepang, di Taipei. Andai aku bisa, aku ingin menghadiri seluruh rangkaian tur dunia untuk album kami yang paling berharga ini. “Lakukan yang terbaik saat kami tidak ada, arasseo?” ujarku padanya.

Sungmin mengangguk, aku merasa Donghae juga melakukannya. Aku berkata lagi, “Untuk Heechul, untuk Hangeng, untung Kangin, untuk Kibum, lakukan semuanya sebaik yang kalian bisa. Jangan mempermainkan Yesung terus. Bagaimanapun kini dia yang paling tua, kalian harus menghormatinya. Dengarkan kata-katanya, kalian tahu dia yang paling dalam memikirkan segala hal.”

“Kami juga akan melakukannya untuk Hyung,” suara Shindong lirih terdengar.

“Aku sangat bangga pada kalian semua. Kita berawal di Seoul, dan sekarang Super Show Seoul terakhirku akhirnya selesai. Kalian tahu apa artinya kan?”

Semua orang tidak menjawab kecuali mengangguk. Aku melanjutkan, “Demi apapun aku tidak ingin ini menjadi yang terakhir, tapi kita juga tahu di dunia seperti apa kita tinggal. Mari berjuang untuk selanjutnya, ani, tolong perjuangkan yang telah kita raih ini untuk ke depannya, biarpun tanpa aku maupun Heechul. Tolong beri tempat pada kami saat kami kembali nanti.”

“Lalu Hyung harus melakukannya untuk kami juga saat kami harus pergi,” ucap Sungmin sedikit goyah.

“Aku pasti melakukannya. Aku masih terus berharap kita akan kembali seperti dulu meskipun masing-masing dari kita sudah berubah. Aku sayang kalian semua.”

“Ne, kami juga sayang Hyung,” ucap Sungmin, Shindong dan Donghae bersamaan.

Saat tak ada seorang pun yang bicara, tiba-tiba terdengar suara hampir tercekik dari pojok belakang. Satu-satunya di antara kami yang menaiki mobil ini yang kami pikir sudah tidur. “Kalian tidak adil. Saat kalian semua sudah berkumpul, aku baru akan pergi,” Kyuhyun menangis.

Kami menoleh padanya. Dia memandang kami dan tampak terluka sendiri di pojokan. Air matanya membuat pipinya berkilat meski di dalam mobil yang gelap tanpa lampu. Bibirnya gemetar dan basah. “Kau tidak akan pergi, bodoh. Kau kan punya alasan yang jelas untuk tidak melakukannya,” Sungmin menjawab sambil mengulurkan tangannya pada magnae kami itu.

“Kemarilah,” ujarku pada anggota terakhir kami.

Kyuhyun menyambut tangan Sungmin tapi terus maju ke arahku. Aku memeluknya erat sekali. “Aigo uri magnae… Apa yang harus Hyung lakukan padamu? Kau begitu berharga, kau kembali bernafas untuk kami, kau nafas kami… Bagaimana kami bisa meninggalkanmu?” gumamku kembali dipenuhi banyak pikiran.

Badan Kyuhyun terguncang saat dia membalas pelukanku dan menangis keras di bahuku. “Hyung…” hanya itu yang mampu dikatakannya.

“Teruslah bernyanyi,” kataku. “Aku ingin mendengar suaramu dari kamp nanti. Aku ingin melihatmu tampil dengan tarian-tarianmu yang kaku. Teruslah menjadi magnae kejam agar aku bisa mendengar cerita tentang kenakalanmu. Kau harus mengunjungiku nantinya. Heechul juga.”

Kyuhyun hanya terus menangis.

Apa yang harus kulakukan pada kalian semua? Bisikku dalam hati. Aku tahu rasanya konyol membicarakan waktu dua tahun yang tidak seberapa dibandingkan dengan angka rata-rata hidup orang Korea, tapi pergi menjalani wajib militer sama artinya meninggalkan hidup yang sudah susah payah kau bentuk, dan itu memang menyakitkan.

Donghae bergeser ke belakang dan membiarkan Kyuhyun memelukku sepanjang sisa perjalanan. Sampai kapanpun kami tak akan berubah. Kyuhyun tetap kesayangan semua orang, aku tetap kakak mereka yang tertua dan semua orang di antara kami adalah pengisi bagian yang paling sempurna untuk kami. Semua orang sangat berarti.

Sisa perjalanan sampai ke asrama dilalui tanpa suara kecuali suara isakan dariku dan dari Kyuhyun. Ah, kurasa aku juga mendengar isakan Donghae.

Tepat sebelum belokan terakhir menuju asrama, aku berkata pada mereka, “Kalian ingat sewaktu kita syuting EHB?”

Tak ada yang menjawab tapi aku meneruskan, “Saat kita harus mengumpulkan air mata Eunhyuk dan Ryeowook. Waktu itu, alasannya sangat menyakitkan. Yaitu karena Shindong ingin mengorbankan kita semua.” Aku mengangkat kepalaku yang sejak tadi bersandar di kepala Kyuhyun yang terletak di bahuku kemudian memandang berkeliling mobil. “Aku senang bukan itu yang terjadi. Aku senang Super Junior tetap bertahan hingga bertahun-tahun kemudian, meski jumlah kita tidak lengkap lagi. Kita masih terus bersama di atas panggung meskipun itu hanya melalui foto dan nama. Kita masih bersama, itu…” isakku datang lagi.

Kyuhyun mengetatkan pelukannya padaku. “Terima kasih. Kalian sangat hebat. Kalian hal terhebat di dunia yang diberikan Tuhan untukku. Terima kasih…” aku tak sanggup mengucapkan kata-kata lainnya.

“Hyung…” Donghae menimpali dari belakang, juga dengan suara bergetar.

“Terima kasih… jeongmal…jeongmal gomawoyo…”

Lalu diam. Terus diam sampai mobil memasuki tempat parkir apartemen, sampai kami masuk elevator dan naik ke lantai tempat kami tinggal, sampai kami berjalan keluar bersamaan. Aku terus-menerus dilanda keinginan untuk menyentuh adik-adikku satu per satu. Entah itu untuk mengelus punggungnya, mengacak rambutnya, atau sekedar membalas pandangan mereka sambil tersenyum. Kyuhyun tak mau membagi tempat berdirinya jauh dariku, tiba-tiba dia menjadi sangat seperti anak kecil yang takut ditinggal pergi.

Aku, Donghae dan Shindong meneruskan naik elevator sampai lantai 12 setelah Kyuhyun dan Sungmin keluar di lantai 11. Magnae memberiku pelukan kuat sebelum benar-benar berbalik menuju tempat mereka. Kami bertiga tak bisa menahan senyum kami melihat tingkahnya. Shindong bahkan berkomentar bahwa dia akan terus mengingatkan Kyuhyun akan tingkahnya ini bertahun-tahun kemudian. Donghae menyetujui dengan antusias. Saat pintu elevator terbuka, kami bertiga sudah sibuk dengan rencana mengerjai Kyuhyun di tahun-tahun depan.

Kami berjalan sambil bercerita seru. Tertawa dan berseru-seru penuh persetujuan saat salah satu dari kami memberikan usul yang cukup menarik. Suasana sedih yang sempat menguasai mobil tadi seperti hanya iklan. Sekarang kami bertiga bergembira dengan ringan. Aku sampai tak terlalu memperhatikan jalanan di depanku hingga akhirnya aku harus berhenti mendadak karena hampir menabrak seseorang.

Donghae dan Shindong berhenti. Mereka menatapku lalu menatap orang yang hendak kutabrak sesaat, kemudian Donghae berkata ramah, “Noona! Apa kau baru dari tempat kami?”

Dia, orang yang hendak kutabrak itu, pacarku, tersenyum pada Donghae, “Ya. Aku pikir kalian akan pulang lebih larut, jadi aku putuskan untuk pulang.”

“Ayo masuk, Noona… Jangan pulang dulu. Konser kami akhirnya selesai. Noona mau mendengar ceritanya, kan?” Shindong meraih tangan pacarku dan berusaha membawanya kembali ke arah rumah.

Aku menatap itu dan lantas melotot pada Shindong. “Hya! Lepaskan tanganmu!” desisku.

“Eiy, Hyung. Mwoya… ajak Noona masuk. Pokoknya dia harus mendengar cerita kami!” Shindong melepaskan tangannya tapi tetap memaksa.

Pacarku menggeleng-geleng cepat. “Tidak usah, besok saja. Kalian pasti lelah sekali. Lebih baik kalian semua istirahat sekarang. Besok aku main lagi…”

“Andwae,” ujarku memotongnya. Aku menoleh pada Donghae, “Kau sudah terbiasa dengan kamar Heechul kan?” tanyaku.

Donghae tersenyum lebar. “Danghyunhaji…”

Pacarku menatapku bertanya, aku menjawab, “Sudah malam begini, aku kelelahan jadi tak bisa mengantarmu pulang DAN…” aku mengeraskan suara melihatnya seperti hendak membantah, “Aku tak mau membiarkanmu pulang sendirian biarpun kau bawa mobil sendiri. Terlalu bahaya malam-malam menyetir sendiri. Kau tidur di sini,” tuntasku sambil menggenggam tangannya.

Dia tak bisa membalasku dan aku juga tak memberinya waktu untuk itu karena aku langsung menariknya memasuki rumah.

Di dalam aku membawanya langsung ke kamar dan tersenyum padanya, “Aku senang kau datang…”

“Kau mau mandi dulu?” dia memotong perkataanku.

Aku memutar mata dan merangkum pipinya. Kucium dahinya cepat lalu mengambil baju ganti. “Buatkan aku minuman hangat. Untuk kita berdua. Aku akan mandi cepat.”

Dia menutupi tanganku dengan tangannya lalu mendongak sambil tersenyum, “Akan kusiapkan. Cepatlah…”

Aku mendesah. Dia ada dan aku punya tempat bercerita. Aku bisa melepaskan semua cerita yang mendesak di dada. Dia akan mendengarkannya. Kami akan meringkuk di bawah selimut mendengarkan ceritaku sambil menggenggam secangkir minuman hangat di tangan.

Aku berkata padanya tanpa melepas tatapanku dari wajahnya. Hatiku tiba-tiba terasa sesak oleh rasa yang meluap-luap tak terjelaskan. “Sebentar saja, sebelum mandi. Sebentar saja.”

Aku mengamati wajahnya yang tersenyum dan seolah memang sudah seharusnya begitu, kepalaku menunduk mendekatinya dan bibir kami bertemu. Satu kecupan singkat yang berlanjut dengan sebuah ciuman mesra yang dalam.

“Aku senang kau datang,” ucapku akhirnya setelah ciuman kami terlepas. “Sungguh senang.”

Di beberapa bagian memang hidupku rasanya sedih, tapi melihatnya aku tahu, aku punya kehidupan yang sempurna. Aku hanya perlu menjalaninya dengan baik untuk mengisinya.

 

 

KKEUT.


Iklan