Tag

, ,

Author : Bee

Cast : Leeteuk, Donghae, Super Junior

Rating : Adult

Genre : fluff-romance

Ps : This was made in the afternoon before SS4 Seoul was started. I was just thinking how hard they’d been practicing and how nice it was to have someone taking care of them sincerely. I would love to be one for Leeteuk, but as long as he was being loved, I guess I will deal with the pain of hoping silently. PS-PS: whoever the girl will be, just DO NOT think this girl as Kang Sora, okay? She was too real.

Ost : Baby baby by 4Men

url: http://wp.me/p1rQNR-fX

 

***

 

Kubuka pintu kamar dan membelalak terkejut. “Oh, sudah pulang?” tanyanya dengan mata melebar.

Aku membuka mulut menatap sosoknya yang sedang membungkuk di samping tempat tidur. Lalu kuperhatikan sekeliling, penutup tempat tidur sudah diganti, ruangan wangi dan rapi, bahkan barang-barang Donghae tampak teratur. Dia yang melakukan semua ini, pasti. Kadang intervensinya membuatku jengkel, tapi untuk kali ini, aku tak merasakan apapun.

“Lelah sekali?” tanyanya prihatin. Dengan celana olahraga dan kaos tua, dia tampak berbeda dari wanita yang kuminta jadi pacar setahun yang lalu. Sekarang ini dia sudah sangat nyaman berada di sekitarku dengan baju lusuh dan tanpa riasan. Kalau saja aku tak memintanya menjaga sedikit penampilan di depan adik-adikku, kurasa penampilannya yang kulihat saat ini sudah akan lebih buruk lagi.

“Kapan datang?” aku melangkah masuk dan memberinya senyum tipis. Kuletakkan tasku di atas kursi dengan sembarangan lalu memandangnya.

Dia balas memandangku lalu menjawab, “Dari pagi. Aku membantu ahjumma menyiapkan makanan kalian.”

Aku membanting tubuhku di tepi tempat tidur. “Geurae?” tanyaku lesu. Aku tak bersemangat meladeninya. Dia pasti akan mulai bercerita dia habis masak apa, habis bergosip apa dengan ahjumma, dan hal-hal semacam itu.

Dia menghampiriku lalu membantuku melepaskan jaket. “Uuugh, kau bau,” protesnya mengerutkan hidung.

Aku hanya menatapnya kosong.

Tangannya meraih ke puncak kepalaku dan memberiku belaian lembut di sana. “Mau berendam air panas?” tawarnya.

Aku ingin sekali tapi adik-adikku juga butuh mandi, akan memakan terlalu banyak waktu untuk berendam, jadi aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Matanya melebar lalu dia bertanya lagi, “Mau kupeluk?”

Aku mengamatinya dan sadar bahwa ada rona merah sedikit muncul di pipinya. Sedikit sekali hingga kalau aku tidak begitu mengenalnya kurasa aku tak akan sadar. Kubentangkan tangan dan dia menyusup masuk ke dalamnya. Kini kepalaku berada tepat di hadapan perutnya. Aku mendongak mencoba melihat wajahnya. Dia masih memerah.

Kuturunkan pandanganku dan membiarkan diriku menikmati aroma tubuhnya yang familiar serta sikapnya yang nyaman. Pipiku kuletakkan di ulu hatinya. Perlahan kututup mata seiring gerakan tangannya yang membelai pelan belakang kepalaku. Sedikit demi sedikit lokasi belaiannya turun dan gerakannya tahu-tahu saja sudah berubah menjadi gerakan memijat. Tengkukku, pundakku, belikatku, turun terus ke punggungku. Sentuhannya sama sekali tidak profesional, tapi nyaman. Rasanya aku mulai mengantuk.

Kudengar suara pintu dibuka kencang, mengagetkan kami berdua. Aku menoleh dan melihat Donghae berdiri di pintu menatap kami dengan wajah merah. “Eh… anu, aku… Aku pikir… Eh…”

Aku mendengar suara pacarku bicara dalam senyum. “Masuk saja, Donghae ssi. Aku hanya sedang memijatnya. Dia kelelahan. Maaf aku masuk kamar kalian tanpa ijin,” ujarnya seolah tak biasa. Sellau begitu, basa-basi.

Aku memandang Donghae yang tampak canggung. Entahlah, tadi aku malas bicara dengan pacarku, sekarang aku malah agak kesal karena Donghae masuk. “Mian, Hyung,” ujar adik yang sudah kuanggap adik kandungku itu dengan agak takut.

Kupaksakan seulas senyum, kemudian melepaskan pelukanku. “Tidak apa-apa. Aku juga sudah mau mandi. Chagiya, kau tunggu di luar ya? Donghae mungkin akan merasa tidak nyaman…”

“ANYA!” Donghae berseru. “Anya, Noona. Gwaenchanha. Aku bisa ke kamar Heechul Hyung untuk ganti. Dia kan tidak di sini lagi, jadi aku bisa memakai kamarnya.”

“Anya…” pacarku menjawab. “Aku juga sudah mau pulang. Kalian butuh istirahat.” Dia melepaskanku kemudian beranjak ke pintu.

Aku mengejarnya. Tidak, aku tidak marah pada Donghae. Tidak, bukan berarti aku ingin bercakap dengan pacarku. Aku hanya tahu aku ingin mengejarnya. Aku meraih tangannya dan dia menoleh terkejut, “Museuniriya?”

Aku menatapnya bingung. Geurae, museuniriya?

Terdengar tawa kecil Donghae di belakang kami. “Aku tidur di kamar Heechul Hyung. Lagipula aku sedang bosan bersama Teukie Hyung,” katanya sambil kemudian melangkah melewati kami.

Pacarku tampak bingung. Dia terus menatap punggung Donghae yang menjauh, aku tak melepas tangannya. “Kalian bertengkar?” tanyanya khawatir.

“Ani!” aku langsung menyangkal. Kenapa hanya pikiran buruk yang ada di otaknya?

Dia memiringkan kepala, pandangannya mendesakku untuk bercerita. Inilah yang tak kusuka darinya. Dia selalu menginginkan alasan-alasan di balik semua sikapku. Apa dia tak mengerti bahwa seringkali aku hanya bertindak tanpa berpikir? Kulepaskan tangannya kemudian kembali duduk di tempat tidur. “Ya sudah kalau kau mau pulang.”

Ternyata dia mengikutiku; yah, bukannya aku tak tahu sih. Dia sekarang duduk di sebelahku yang sedang mengusap wajah dengan lelah. “Sekarang kau marah padaku?” tanyanya datar.

Kusentak tanganku keras dari wajah dan menoleh padanya dengan jengkel, kemudian jadi keki karena dia sedang tersenyum menggoda. Ternyata dia sengaja mempermainkanku. Dia tahu aku tidak mengusirnya. Cih, menyebalkan. Tanpa riasan, tak lagi malu-malu, pakaian tak jelas, bagaimana aku bisa pacaran dengan wanita sepertinya?

Tangannya terulur dan lengannya terbuka lebar. Aku menyusup masuk ke sana dan menghirup aroma tubuhnya. Sekali lagi, nyaman, akrab, dan menenangkan. “Lelah sekali ya?” bisiknya sambil mulai mengelus punggungku lagi.

“Seperti neraka,” jawabku berbisik juga.

Semenit, dia lalu memukulku keras di punggung. “HYA!” aku terlonjak protes.

Dia nyengir jahil. “Mandi dulu! Badanmu bau dan lengket!”

“Aku lupa mengambil dalaman!” dari pintu terdengar seruan Donghae. Kali ini kami terkejut, tapi tak melonjak. Kami hanya memandangi anak itu masuk terburu-buru, melempar pandangan menggoda, kemudian keluar lagi.

Aku mendesis tidak benar-benar jengkel saat dia sudah di luar, “Ciss, apa maksudnya keluar masuk begitu?!”

Pacarku mencium pipiku dan berkata, “Mandi. Aku siapkan makanan untukmu.”

“Aku sudah makan,” ujarku sambil bangun dan membuka kaos.

Pacarku mengambilkan handuk dari lemari dan mengulurkannya padaku. “Aku mencuci handukmu dan handuk Donghae. Sudah bau. Kau tidak mau minum vitamin? Aku bisa menghangatkannya untukmu.”

Dia bawel sekali. Sungguh. Aku hanya ingin tidur. “Terserah kau,” jawabku sambil melangkah keluar kamar. Kubiarkan dia memunguti pakaianku dan keluar menuju ruang cuci. Kudengar adik-adikku selain Donghae menyapanya sopan dan lelah. Dia menjawab singkat dan aku bisa membayangkan senyumnya saat dia melakukan itu. Sayup-sayup aku mendengarnya menawari mereka makanan, tapi tak ada yang mengiyakan. Meski tak akan kuakui padanya, tapi aku merasa kasihan juga padanya. Pasti melelahkan menyiapkan makanan dan membereskan tempat ini.

Selesai mandi aku tak menemukannya dimanapun. Tidak di kamar, tidak di dapur, ataupun di ruang tengah. Jangan bilang dia sudah pulang. Pikiran itu tiba-tiba membuatku jengkel.

Kudengar pintu depan terbuka dan aku melihatnya masuk lengkap dengan mantel yang tertutup rapat. Aku menyipitkan mata, “Dari mana kau?” tanyaku datar.

Dia mendongak dan tersenyum begitu melihatku. “Dari bawah, memberitahu Sungmin ada makanan untuk sarapan besok di dalam lemari pendingin. Kalian tidak boleh pergi tanpa sarapan.”

Aku hanya menatapnya. Siapa orang bodoh yang masih memikirkan sarapan di jam seperti ini? Aku berbalik dan melangkah ke kamar sambil membisikkan jawabannya pada diriku sendiri, orang bodoh itu adalah dia, pacarku sendiri.

Dia memasuki kamar tepat di belakangku. “Sudah segar?” tanyanya.

Aku meluncur ke atas kasur, tak menjawabnya. Rasanya seperti surga dunia begitu kepalaku menyentuh bantal.

“Heengh!” aku mengerang ketika tahu-tahu punggungku terasa berat. Dia mendudukiku. “Apa yang kau lakukan? Cepat turun!” aku agak marah padanya.

Dia menepuk punggungku, “Eiish, diam sajalah. Kau pasti akan berterima kasih padaku.” Kemudian aku merasakan tangannya mulai bergerak. Awalnya pelan lalu kuat. Dia menyentuh otot-ototku dan mulai memijatnya pelan. Aku hampir mengeluarkan erangan karena nikmat, tapi tidak jadi karena gengsi.

Suaranya rendah dan tenang sewaktu berkata, “Tidurlah… Tidurlah yang nyenyak. Mimpi yang indah.”

Nadanya mengalun dan menenangkan. Yang aku tahu berikutnya, beban tubuhnya di atasku tak lagi terasa. Aku sudah melayang ke alam mimpi. Aku hanya sempat menyadari satu hal, yaitu sebelum benar-benar lelap, aku meraih ke belakang dan menggenggam pergelangan tangannya. “Jangan pulang malam ini. Berbahaya.”

Sesak. Kenapa sempit sekali? Jam berapa ini? Kuraih telepon dan menilik jamnya. Pukul 5.30. Agh, aku masih bisa tidur sampai pukul 10.00. Kami baru akan bersiap untuk Super Show 4 pukul 11.00.

Kenapa tanganku kaku? Aku menoleh dan segala gerutuan karena terbangun kepagian langsung menghilang.

Pacarku tertidur di sebelahku. Membelakangiku, membuat leher dan satu telinganya terbuka. Dia pas sekali melekat padaku. Aku teringat apa yang kukatakan sebelum tidur dan tersenyum. Dia menurutiku. Ada rasa bangga menyelinap di dadaku, wanita ini mengikuti ucapanku. Rasanya tangan kaku karena harus menyangga kepalanya sama sekali tak masalah.

Tunggu, tanganku tidak sedang menyangga kepalanya. Dia tidur di atas bantal. Ternyata aku menindih tanganku sendiri, dasar bodoh.

Dia bergerak dan berbalik. Wajahnya tepat menghadapi leherku. Segala alasanku mengajaknya pacaran sudah menghilang. Aku dulu menyukainya karena dia cantik, menarik, elegan, dan di mataku dia sempurna. Tapi semua itu sudah lenyap tak berbekas. Semua sudah berubah. Kecantikannya itu riasan, sikap elegannya hanya untuk orang asing dan kesempurnaannya adalah buatan.

Kusentuh pipinya saat kantuk perlahan mulai datang lagi. Dia sangat setia, dia sangat berdedikasi, dan dia menjadikan hidupku sebagai hidupnya. Dia dengan cepat berubah menjadi ibu-ibu rumah tangga yang mendukung suami meski kami tidak menikah. Haruskah aku menggunakan kata belum?

Jariku menyentuh bibirnya kemudian menyelipkan seberkas rambut ke belakang telinganya. “Tidur lagi…” desahnya parau.

Dia terbangun. Maafkan aku, bisikku dalam hati. Kemudian matanya melayang terbuka dan aku tak sanggup diam lagi, tidak ketika kedua mata itu menatapku polos. Dia, wanita yang bawel, tukang ikut campur, membosankan, kadang menyebalkan, adalah pacarku. Aku berbisik, “Chagi…” Chagiku tersayang, bahkan saat tanpa riasan, tanpa baju bagus dan tanpa sikap anggun.

Dia berkedip sekali. Aku meraih dagunya. Kukecup bibirnya sekilas. “Ayo tidur lagi,” ajakku menarik pinggangnya agar tubuhnya semakin tegas kurasa dalam pelukan.

Dia tak menjawab, tapi lalu mendesakkan tubuhnya ke tubuhku saat aku menariknya. Kami begitu terbiasa satu sama lain. Dengan mudah kami saling menyesuaikan diri, membuat diri sendiri nyaman saat dikuasai oleh lainnya.

Tangannya meraih punggungku dan membelainya pelan. Perlahan senyum tipis terkembang di bibirku. Dia memang untukku. Dan aku tahu aku mengajaknya pacaran tidak tanpa alasan.

Kantuk semakin kuat dan aku semakin tak sanggup lagi melawannya. Kurasa dengan dia tertidur di pelukan aku bisa tidur dengan lelap. “Gomawo…” bisikku di pelipisnya lalu larut dalam tidur dengan nafasnya mengiringi detak nadi di leherku.

 

 

KKEUT.


Iklan