Tag

, , , ,

Episode: Giving In

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Yeppo (Beauty/Bee)

Genre: adult romance

Urlhttp://wp.me/p1rQNR-fC

***

 

Leeteuk’s POV

Deru angin terlalu kencang. Aku harus berpegangan pada tiang besar di tepi dermaga untuk menjaga agar tubuhku tidak terseret angin. Beberapa benda yang sebenarnya tidak terlalu ringan melayang dan aku harus menghindar dari tabrakan dengan barang-barang itu. Bajuku basah kuyup meski aku sudah mengenakan pakaian tahan air yang sangat kuat khas milik militer.

Beberapa orang terlihat berjalan sama kepayahannya denganku. Mereka berlindung di balik apa saja yang lebih kuat dari sekedar tong sampah besar. Mereka adalah anak buahku dalam regu penjemput. Kami maju pelan-pelan sekali, berhati-hati agar tidak terkena jebakan jalanan yang terlihat karena sudah tertutup air sampai setengah lutut, dan agar tidak tertabrak benda-benda yang melayang.

Meski tumpahan air dari langit luar biasa lebat, tapi puluhan kapal yang terombang-ambing mengenaskan di tepi dermaga masih terlihat. Terkadang mereka saling berbenturan, menimbulkan suara dentuman tidak mengenakkan. Aku tidak mau membayangkan aku sebagai pemilik kapal, entah berapa biaya perbaikan yang harus kutanggung seusai badai besar ini.

Namun kurasa kalau aku jatuh miskin sekarang pun aku rela. Asal dia selamat, Yeppo.

 

Bee’s POV

SIMON! THE SAMPLES WERE MESSED UP! WE LOST ALMOST EVERYTHING!” Aku berseru sekuat yang aku bisa sampai tenggorokanku bagai diiris. Tapi itu pun hampir tak terdengar oleh Simon.

Lelaki yang sedang sibuk membantu menyetabilkan kapal itu menoleh tidak yakin dan aku harus melambaikan tanganku untuk menarik perhatiannya. “WHAT ARE YOU DOING?! GET IN!” serunya. Untung baginya angin badai luar biasa berhembus ke arahku sehingga aku tahu dengan pasti seberapa kuat suaranya.

Aku hampir memprotes angin saat mataku membelalak melihatnya, “SIMON! HOLD ON TIGHT!!!” teriakku mengabaikan tenggorokan yang sakit saat melihat gulungan ombak luar biasa besar menerjang palka.

Detik berikutnya yang aku tahu adalah tubuhku terhempas kuat sekali ke lautan setelah sebelumnya punggungku menabrak entah apa yang tidak terlalu empuk. Sial, punggungku sakit!

 

Leeteuk’s POV

Kami semua berhasil berlindung di dalam bangunan pengawas pantai yang kokoh, namun strukturnya yang terbuka membuat percakapan menjadi hal yang malas dilakukan semua orang karena harus berteriak-teriak mengalahkan deru badai. Penjaga radio yang semakin kukenal sejak pertama kali menjemput Yeppo tiga bulan lalu ada bersama kami. Tangannya mencengkeram erat radio transmitter di telinga. Radio itu menghubungkannya dengan menara pengawas yang memantau kapal Yeppo.

Mataku memandang udara di atas lautan yang sekarang berwana kelabu terang akibat lebatnya massa air yang turun. Berada di daratan saja sudah sangat sulit, bagaimanakah keadaan di lautan sana? Yeppo, kumohon, jangan biarkan aku khawatir.

“Tidak akan,” aku masih ingat ucapannya pagi itu tiga hari yang lalu saat dia dan timnya hendak berangkat. Aku yang berhasil menyusup ke kamarnya dini hari itu baru saja memintanya untuk tidak mendarat terlambat lagi. Sejak aku melihat kenekatannya mendekati Wori tiga bulan yang lalu, setiap kali dia hendak berangkat aku selalu mencari cara agar bisa berdua dengannya demi merengek agar dia tidak bersikap sembrono lagi.

“Kau janji?” tanyaku manja sambil mengelus ranselnya yang sudah rapi. Aku membelakanginya sebab dia memintaku berpaling saat hendak berganti baju. Sebenarnya waktu itu wajahku memerah dan tiba-tiba saja kebiasaan-laki-laki-di-pagi-hari-ku muncul. Aku harus berkonsentrasi memikirkan permintaanku sambil berusaha mengabaikan suara pakaiannya yang bergesek terlepas.

Tangan Yeppo memelukku dari belakang. Bibirnya mengecup belakang kepalaku. “Aku akan pulang tepat waktu. Kau menjemputku lagi, kan?” tanyanya pelan. Aku agak kecewa sebab dia ganti baju terlalu cepat.

Kubalikkan badan dan membawanya dalam pelukan. “Mmm,” gumamku mengiyakan sambil mencium pipinya.

Yeppo tersenyum lalu bibirnya mengecup ringan bibirku, “Achim poppo.”

Senyumku melebar dan kupegang dagunya. Tidak sampai sedetik bibirku sudah mencium bibirnya lugas. Kering, tegas, dan berarti satu: dia milikku.

Sayangnya tidak lama.

Yeppo melepaskan ciumanku karena mendengar ketukan di pintu. Dia tergesa menyingkirkanku sehingga aku terjungkal, lalu membuka pintu dengan gugup. Dari suaranya aku tahu itu si asisten dosen yang belakangan kuperhatikan semakin dekat dengan Yeppo. “Aku sebentar lagi siap,” Yeppo menjawab pertanyaan pemuda itu. Aku berdiri perlahan.

Saat pintu kembali tertutup, Yeppo tersenyum nakal padaku, “Sampai dimana kita tadi?” tanyanya menggoda sambil mengalungkan lengan ke leherku.

Aku meraih pinggangnya dan mendekatkan tubuh kami. “Sampai pengagummu datang,” jawabku sedikit kesal. Aku terjungkal gara-gara lelaki itu!

Yeppo memutar matanya dan aku ingin menghentikan waktu. Aku rindu saat-saat kami punya waktu melarikan diri dari dunia. “Mulai lagi,” desahnya kesal.

 

Bee’s POV

Tanganku berusaha meraih tas atom hitam itu, tapi tak sampai. Bukannya berhasil malah angin membawanya menjauh. Dengan setengah sadar aku menoleh-noleh mencari yang lain. Semuanya ada di sekitarku, alat-alat kami. Semuanya berantakan tertumpah ke laut setelah akhirnya kapal kami terbalik dan aku sempat hampir terseret pusarannya. Entah bagaimana aku muncul lagi ke permukaan.

Tak kulihat kepala siapapun di atas air. Hanya barang-barang. Hatiku bagai diremas-remas. Kecemasan menguasaiku saat kesadaran makin menghampiriku. Aku sendirian. Tak ada yang lain. Aku sendirian. Terapung di tengah laut, hanya berteman lambung kapal yang terbalik.

Gelombang tinggi membawaku naik dan turun seperti ayunan. Rasa mual menguasaiku. Bukan, bukan karena gilanya badai, bukan juga karena petir yang setiap kali meretas membuatku seolah akan mati tersetrum, tapi karena semua pikiran buruk mendatangiku dalam waktu bersamaan. Apa yang terjadi pada semua orang, mengapa aku sendirian? Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Bagaimana kapal kami bisa terbalik semudah itu? Apakah Simon masih hidup? Terlalu banyak pertanyaan berkecamuk sehingga yang bisa kulakukan hanyalah menjerit. “SI…SIMON!!!”

Simon tidak boleh mati. “SIMON WHERE ARE YOU???

Hujannya terlalu lebat, aku mengerut saat petir besar menyambar. Setelah gunturnya berlalu aku kembali berteriak, peduli setan kalau tenggorokanku sakit & suaraku bergetar, “SIMON! BAEYOUNG! EODIYA???”

Hanya ada barang-barang yang tak peduli. Hanya ada barang-barang mati. Dan… Oh Tuhan! Tidak! “Jeonghui! Jeonghui-ya!!!” aku berenang secepat yang aku bisa saat melihat tubuh lelaki itu terombang-ambing. Saat itu aku benar-benar jahat. Aku berpikir, menemukan yang mati pun tidak apa-apa, asal itu manusia.

 

Leeteuk’s POV

“ADA DIMANA MEREKA?” aku berteriak pada si petugas radio mencoba mengalahkan suara angin.

Lelaki itu hanya menggeleng. Belum ada kabar lagi. Dimana sebenarnya kalian, Yeppo? Kenapa tak menghubungi kami? Kau bilang akan pulang tepat waktu. Dalam badai begini harusnya kau pulang lebih cepat. Dengan selamat.

“Aku hanya khawatir,” aku mengelak saat Yeppo menuduhku kelewat protektif.

“Kau tidak khawatir, kau cemburu. Cemburu buta,” kesalnya sambil meminum minuman kesehatannya hari itu. Aku yang memaksanya minum. Aku punya banyak persediaan yang ketika membelinya memang sudah kuniati untuk berdua. Sejak aku tahu seberapa berat pekerjaannya, aku tak bisa membiarkan Yeppo menguras energinya sendiri seperti itu.

Aku menyodorkan sapu tanganku padanya ketika setetes air menetes di dagunya. “Aku cemburu, tapi khawatirku lebih besar,” aku menolak mengiyakannya. Itu benar! Setiap kali Yeppo hendak melaut aku selalu mendadak dilingkupi kekhawatiran.

Yeppo melemparkan pandangan skeptis sambil mengelap dagunya. Minuman tadi membuat bibirnya berwarna ungu.

Kukerjapkan mata, “Jinjja!” aku meyakinkannya, berusaha mengalihkan pikiran dari bibirnya. Susah sekali untuk tetap marah padanya.

“Kalau begitu untuk apa kau membujuk Baeyoung ssi menceritakan semua kejadian saat terakhir kali kami pulang? Kau pikir aku tidak tahu? Kau, ahli memanipulasi orang. Kau, orang berbahaya,” ejeknya.

“Hya!” aku membentaknya ketika itu yang membuatku menyesal saat ini. Kalau saja saat itu kami sudah tahu Yeppo akan terjebak badai seperti ini, aku pasti akan membujuknya dengan obat tidur, menyekapnya agar tak perlu pergi.

Lalu dia akan marah seumur hidup padaku.

Aaargh! Kenapa susah sekali memperhatikan orang yang kau cintai?!

Kami berdebat. Kami bertengkar sebelum keberangkatannya. Ciuman pagi itu dengan cepat terlupakan. Dia sangat tidak suka melihatku yang terus-menerus menunjukkan sikap tidak setuju akan pertemanannya dengan Jeonghui. Aku benar-benar sesak melihat keakraban mereka. Aku setengah mati harus menahan diri, sementara Jeonghui dengan mudahnya bercanda dengannya. Aku sakit hati. Apalagi membayangkan di lautan mereka akan lebih leluasa berinteraksi.

“Tapi aku di laut juga bekerja!” kilah Yeppo tampak benar-benar jengkel.

“Bersebelahan dengannya, mengamati mikroskop, lalu tanpa sengaja bersenggolan tangan, kemudian saling menatap canggung, melemparkan taw—“

“Jungsoo!” dia berhenti berjalan, berbalik marah.

“Apa? Kau sendiri yang bilang kalian melakukan pengamatan bersama-sama,” aku menggerutu.

Yeppo memutar matanya kemudian berjalan cepat meninggalkanku.

Kalau saja waktu itu aku mengejarnya, menciumnya, mengatakan aku yang salah, aku pasti melihat senyumnya sebelum kami berpisah, dan bukan kejengkelan yang membayang di matanya.

 

Bee’s POV

He’s not dead. He’s terribly injured, but he’s alive,” Simon menggantikanku memegangi Jeonghui yang masih tak sadarkan diri sejak terakhir aku menemukannya.

Setelah menemukan Jeonghui, aku mendengar suara sayup-sayup orang memanggilku. Saat menoleh, aku melihat Simon, lalu Baeyoung, dan akhirnya semua orang mengikuti di belakangnya. Ternyata kami terlempar ke sisi kapal yang berbeda, sehingga pandangan kami tertutupi lambung kapal. Aku merasa bodoh sekali karena keburu panik sebelum memastikan semuanya dengan benar.

“Kalau tidak begini, mungkin kita sudah kehilangan Jeonghui,” Baeyoung menenangkanku saat aku menyuarakan pikiranku.

Benar, kalau aku menemukan mereka dulu, aku mungkin tak akan pernah menemukan Jeonghui. Tak seorang pun akan pernah. Aku memandang pemuda yang wajahnya sudah memucat itu. Jungsoo kesal padanya, aku tahu itu, dan aku sudah berusaha tidak terlalu dekat padanya. Tapi dalam kondisi seperti sekarang, itu bukan masalah kan? Nyawanya dalam bahaya, dan kalau bantuan tak segera datang, dia mungkin tak akan mampu bertahan. Luka di pelipisnya itu tampaknya bukan luka ringan.

Sial, kakiku kram.

 

Leeteuk’s POV

Dia tak bicara padaku pagi itu. Dia hanya memandangku kecewa saat aku memandang kapalnya semakin jauh menuju lautan dari dermaga. Perdebatan kecil kami jadi benar-benar besar ketika aku melihat Jeonghui menolongnya mengangkat peralatan entah apa. Masalahnya Yeppo kemudian terjatuh dan aku langsung ingin menonjok lelaki itu karena berhasil menangkapnya.

Karena tidak ingin menimbulkan keributan, aku diam saja. Tapi kemarahan terlalu kuat di hatiku, jadi aku memilih pergi. Dengan alasan hendak mencari toilet, aku meninggalkan tempat itu. Sungguh aku tidak menyangka Yeppo akan mengikutiku.

“Itu tidak sengaja, Jungsoo,” ujarnya membela diri.

Aku diam saja, terus melangkah. Aku tak ingin melihatnya.

“Jungsoo,” dia mengulurkan tangan hendak meraih lenganku. Aku menghindar.

“Jungsoo…” nada suaranya putus asa.

Aku menoleh dan memandangnya dingin. “Aku tahu. Yang tadi tidak sengaja, yang dulu karena berteman, yang entah kapan yang aku tidak melihat, entah karena apa lagi. Aku tahu artinya pelukan bagimu. Terserah kau saja!” tukasku kemudian berlalu cepat meninggalkannya.

Aku berhasil kembali ke dermaga sebelum kapalnya berangkat. Untuk barang terakhir yang diangkut ke dalam kapal, dia meminta bantuanku di depan orang banyak sehingga aku tak bisa tidak membantunya. Sambil mengangkat kotak itu, dia berbisik padaku, “Aku akan pulang tepat waktu. Jangan marah lagi.”

Aku menolak menatapnya. Setelah kotak itu tertata dengan baik, aku berbalik dan mendesis pelan, “Terserah. Mau jalan-jalan dulu dengannya dan baru kembali bulan depan juga aku tak peduli.”

Saat ini aku ingin berlari ke laut, berenang mencari keberadaannya, mengatakan padanya bahwa aku mau dia pulang. Selamat. Sekalipun dia akan berdampingan dengan Jeonghui. Aku tahu dia milikku bahkan tanpa aku perlu merasa cemburu, dan aku tahu aku bersikap bodoh, jadi pulanglah Yeppo. Kembalilah dengan selamat.

Aku memohon sungguh-sungguh, memandang lautan yang tak berkurang ganasnya. Butiran-butiran air masih luar biasa banyaknya tertumpah dari langit, petir dan guntur berkejaran, angin menggila, dan Yeppo ada di luar sana.

Sayup-sayup seruan menerobos lamunanku, setelah sedetik mencernanya, tubuhku menegang dan teriakanku tertelan kecemasan. Lelaki radio itu, berseru pada semua orang, “Kita kehilangan kontak. Tiba-tiba komunikasi terputus!”

 

Bee’s POV.

Aku mengatur nafasku agar bisa tetap mengapung dan berusaha mengabaikan serangan dingin yang mulai mempengaruhi gerakan otot-otoku. Salah seorang awak kapal menyarankan kami untuk berpegangan pada kapal agar tidak terlalu capek bergerak, tapi kami tetap harus waspada terhadap resiko kapal itu kembali dipermainkan gelombang yang masih menggila.

Ini pertama kalinya bagiku, berada di tengah badai yang mengamuk, sedang terapung-apung di tengah laut pula. Kalau ayahku tahu pasti dia akan kena stroke. Ibuku akan gemetaran dipegangi Malvin yang pasti pucat. Syukurlah, aku masih punya sedikit keinginan tersenyum mengingat jiwa Malvin yang lebih lembut dariku. Lalu Jungsoo…

Jujur bukan sekali aku berpikir sejak terhempas ke lautan tadi bahwa aku pasti akan mati, aku tak akan selamat. Hanya keadaan Jeonghuilah yang membuatku berpikir bahwa aku masih hidup dan aku tak boleh menyerah begitu saja. Jungsoo bilang dia tak peduli kalau aku tak pulang. Apa kemarahannya sebesar ini hingga aku benar-benar tak akan pulang kali ini? Apakah aku telah sangat bersalah padanya? Apa aku terlalu menganggap ringan perasaannya? Mungkin harusnya aku lebih memperhatikannya dan tidak menolak memanjakan egonya.

Selama ini aku menolak terpengaruh oleh kecemburuannya. Bahkan sejak awal kami bertemu aku sudah menolak membuatnya merasa aman. Aku tak mau terluka dengan meletakkan semua arah hubungan kami di tangannya. Aku tak mau pusing terikat. Aku menolak menerima fakta bahwa aku terlalu membutuhkannya untuk terpisah darinya. Dua tahun aku meneima konsekuensi kekeraskepalaanku. Dan aku melakukannya lagi tiga hari yang lalu.

Aku tak bisa mengelak kalau dikatakan aku benci rasa cemburu. Apapun yang membuat seseorang meragukan pasangannya adalah sesuatu yang merepotkan. Menurutku orang yang memiliki rasa cemburu adalah orang yang memiliki masalah hati untuk susah percaya pada orang lain. Saat dia mencemburuiku, rasanya aku sangat pusing karena urusanku sudah banyak tanpa harus ditambahi hal sepele seperti itu. Aku menolak berpikir bahwa akulah yang menyebabkannya begitu. Akulah yang membuatnya merasa tidak aman.

Dua tahun kami tak bertemu, aku sadar kebersamaan dengannya sangat berarti. Harusnya aku lebih berusaha mengerti perasaannya. Aku tak perlu menanggapinya dengan emosi. Aku membiarkan kekecewaanku berlarut-larut hanya karena dia tidak bertingkah dewasa. Aku mencegah diriku sendiri berusaha lebih keras membujuknya agar jangan marah lagi. Kalau aku mati di sini, aku pasti akan mati penuh penyesalan, pikirku memandangi gelombang tinggi yang sekali lagi datang.

Kami belum berhenti juga dipermainkan ombak, Jeonghui semakin pucat dan aku tahu panik mulai menguasai Simon. Kalau ada hal yang aneh adalah, Simon jarang sekali panik meski dia tipe orang emosian. Itu artinya kalau lelaki itu sampai panik, kurasa situasi sudah benar-benar buruk. “Where the hell are Rescue Team?!” bentakannya mengalahkan deru angin.

Awak kapal lain masih berusaha mempertahankan diri. Suatu keajaiban bahwa semua orang terlihat dan tak ada yang hilang. Kondisi Jeonghui memang suatu kemalangan, tapi kondisi orang lain yang paling tidak hanya kelelahan adalah sesuatu yang patut disyukuri. Meski aku tidak tahu kenapa saat matahari tak tampak seperti ini, udara di sekitarku justru semakin kuning. Aku melihat Simon menatapku lalu mulutnya bergerak. Apa dia memanggilku? Kemana suaranya? Lalu Jeonghui berpindah tangan ke arah Baeyoung.

Yang aku tahu berikutnya suara Simon terdengar lemah di telingaku dan aku terlarut dalam dingin.

 

Leeteuk’s POV

“Kapten, sebaiknya anda masuk saja. Anda harus menjaga fisik agar dapat membantu saat mereka datang nanti,” salah seorang anak buahku berkata. Kurasa tubuhnya sudah agak kering karena sudah berteduh dari tadi.

Tapi aku tidak bisa. Laut hanya gelap saat ini. Bagaimana aku bisa masuk dan tetap tenang sementara orang paling penting bagiku ada di tengah amukan badai di laut dan… Tidak, dia pasti tidak kenapa-kenapa. Tidak, aku tak mau memikirkannya.

“Kapten…” panggil anak buahku lagi. Aku menoleh tak sabar padanya, hampir saja aku membentaknya kalau tak kemudian melihat ekspresinya. Dia tampak prihatin padaku.

“Ayo masuk,” ajakku mengabaikan keprihatinannya.

Aku bukan tak tahu bahwa beberapa juniorku, terutama mereka yang sekarang satu regu denganku, sudah mencium ada sesuatu yang lebih antara aku dengan Yeppo. Tapi aku tak mau menegaskan apapun. Aku memilih membiarkan pikiran mereka berkembang sendiri.

Tak ada yang terkatakan di antara kami, aku dan Yeppo, tapi sama seperti sebelumnya, kami tak ingin memberitahu siapapun. Rasanya sangat nyaman saat hanya ada aku dan Yeppo. Dunia kami terasing dari apapun yang bukan urusan kami, dan itu adalah hal yang sangat berharga. Kami menyadari keberadaan masing-masing sesuai porsi yang kami inginkan. Kali ini kurasa porsi itu adalah sebanyak-banyaknya. Aku menginginkan seluruh Yeppo.

Di dalam tempat berteduh itu, semua orang duduk dengan malas dan mengantuk. Badai sudah berlalu selama dua belas jam dan meski tidak memburuk, tapi tidak juga mereda. Kami sudah menunggu selama sepuluh jam di tempat itu, jadi wajar kalau anak buahku kelelahan. Aku membiarkan mereka beristirahat dan memilih mendekati si penjaga radio yang tampaknya memutuskan untuk tidak tidur.

Menjelang pukul enam tadi mereka mengatakan upaya penyelamatan akan segera dilakukan sebab komunikasi terputus total. Sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi. Sejak itulah sarafku tak mengendur sedikit pun. Kalau sesuatu yang benar-benar buruk menimpa Yeppo, aku tak tahu bagaimana harus menghadapinya.

 

Bee’s POV

Jeonghui mengulurkan tangan padaku, meminta kotak berat yang sedang kubawa. Aku ingin sekali membiarkannya membantuku, tapi bukankah aku baru saja berjanji tak akan membuat Jungsoo cemburu lagi? Aku tak bisa menyerahkan kotak itu, tidak ketika Jungsoo memandang kami berdua. Aku baru selesai mengucapkan kalimat penolakan ketika wajah Jeonghui memucat dan kedinginan yang seperti es membuatku menggigil.

“Bee!” suara itu, milik Simon.

Aku membuka mata dan melihat wajahnya yang mengerut-ngerut tak jelas. Dia berseru dan untuk pertama kali sejak mengenalnya aku mendengar kata Tuhan keluar dari mulutnya. Tubuhku ditarik dalam pelukannya dan aku mengerang merasakan sakit menusuk punggungku.

Simon menggumamkan kalimat yang aku tak tahu apa. Terlalu dingin, terlalu sakit, aku butuh tidur.

 

Leeteuk’s POV

Akhirnya badai mereda dan saat ini kru penyelamat sudah hampir dua jam pergi mencari kapal Yeppo. Hujan masih lebat, gelombang masih agak tinggi, tapi sudah jauh lebih baik daripada sebelum ini. Berita buruknya adalah sekarang pukul empat pagi. Aku tahu seberapapun aku mencoba menenangkan diri, tidak mungkin berada di tengah badai di pertengahan musim gugur seperti ini adalah hal yang baik. Aku mencoba memblokir otakku dari kemungkinan dia terendam air laut yang akan berakibat buruk pada kondisi tubuhnya. Yeppo harus berada di kapal.

Radio berkeresak tanda panggilan dari ruang kontrol. Si penjaga radio mendekatkan benda itu ke telinga lalu mengatakan sesuatu yang membuatku hampir ambruk saking leganya. Mereka ditemukan.

 

Bee’s POV

Aku membuka mata dan berada dalam pelukan orang yang tak kukenal. Rasanya sangat dingin, dan aku tak ingin bangun. Aku sudah memanggil Jungsoo dari tadi, tapi entah kenapa dia tak juga mendekat meskipun aku bisa melihatnya. Sekarang dia menghilang, digantikan oleh pria tak dikenal itu. Dimana… “Jungsoo…” panggilku, hanya mampu mengucapkan namanya.

 

Leeteuk’s POV

Semuanya berlalu begitu cepat setelah heli penyelamat mendarat. Setelah mendengar penemuan mereka, kami bergegas mendatangi lokasi pendaratan heli penyelamat. Pasti akan ada yang bisa kami lakukan di sana.

Seluruh tim peneliti dan awak kapal ditemukan, itu yang kudengar, namun hingga saat ini aku sama sekali tidak melihat Yeppo. Kemana mereka membawanya? Apa dia terluka? Dia pasti baik-baik saja kan? “Jogiyo!” seruku menghentikan salah seorang petugas yang sedang memapah seorang pria yang tak kukenal.

Petugas itu memberiku isyarat menunggu. Setelah mendudukkan pria yang lemah tadi, dia menoleh padaku, menyuruhku bicara. “Semua selamat?” tanyaku hampir meledak dalam kepanikan.

“Semua ditemukan. Tapi ada beberapa orang yang terluka. Dua di antara mereka kondisinya tidak begitu baik. Dan kau?” dia menjawab lalu menanyai kewenanganku.

“Aku dari angkatan darat. Regu penjemput para ilmuwan itu,” jawabku cepat sudah hendak berlari ke arah satu heli lagi yang baru datang. Yeppo harus ada di situ.

“Mereka langsung ke rumah sakit,” petugas tadi mencegah langkahku.

Aku berbalik dengan ketakutan. “Mworago?”

Petugas itu tampak kaget dengan keterkejutanku sehingga aku memperbaiki sikapku. “Maksudmu, para ilmuwan itu terluka?”

“Ya, dua yang mengalami luka serius adalah mereka, jadi kami langsung membawanya ke rumah sakit. Dua yang selamat juga mengikuti ke sana.”

Lupa dengan apapun termasuk mengucapkan terima kasih, aku berlari menuju truk. Hampir saja aku meninggalkan semua anak buahku kalau yang bertugas menyupir tidak menanyakan yang lainnya. Aku turun lagi dan bergegas menghampiri penjaga radio. Kukatakan aku akan menuju rumah sakit, memantau kondisi para ilmuwan yang menjadi tanggung jawabku.

Untung aku bertanya, si penjaga radio menyebutkan lokasi rumah sakitnya padaku. Rumah sakit militer. Kami semua pun dipersilakan langsung mendatangi orang-orang itu dan tidak perlu membantu di dermaga. Akhirnya kami berangkat tak lama kemudian menuju rumah sakit, menempuh perjalanan darat paling lama yang pernah kurasakan seumur hidupku.

 

Bee’s POV

Rasanya gelombang benar-benar tak ada habisnya. Aku terus dibawa naik dan turun sampai pusing sekali. Aku sudah mencoba meraih kotak hitam yang mengapung demi membantuku terapung, tapi kotak itu tidak juga teraih. Punggungku sakit, entah kenapa. Lalu aku mendengar Jungsoo memanggilku. Oh tidak, sekarang dia sudah bersahabat dengan Wori, mereka mengendarai gelombang dengan senang. Untuk pertama kalinya aku tidak senang melihat Wori. Bagaimana bisa Jungsoo seceria itu bersamanya. “Jungsoo!” seruku kesal.

Jungsoo menoleh, tapi hanya untuk mengelus kepala Wori dengan sayang. Paus itu mengeluarkan suara ceria yang biasanya membuatku senang tapi kali ini membuatku jengkel. Apa maksudnya tertawa begitu? Apa dia sedang menggoda Jungsoo-ku? Demi Tuhan kau itu jantan, Wori!

“Jungsoo…” panggilku lemah saat mereka berdua berenang menjauh.

 

Leeteuk’s POV.

Aku sudah tak bisa lagi menelan ludah. Mulutku sudah kering. Yeppo ada di ruang gawat darurat. Mereka bilang dua orang terluka serius dan tampaknya yang satunya terluka sangat parah. Aku tak sempat mendengarkan apapun lagi, entah kenapa aku langsung berpikir itu Yeppo. Dengan segera aku berlari menuju ruang gawat darurat.

Degup dadaku semakin cepat saat memasuki bangsal penting itu. Mungkin tidak sesibuk yang biasa terlihat di televisi, tapi bagiku tak ada bedanya. Aku mengedarkan pandangan dan untuk pertama kalinya bisa merasa senang melihat orang itu. “Simon ssi!” seruku.

Simon menoleh. Di sebelahnya terdapat seorang dokter yang ikut menoleh mendengar panggilanku. Begitu aku dekat, Simon berkata dalam bahasa Inggris padaku, membuat rasa tak sukaku muncul lagi. Kapan dia akan belajar Bahasa Korea? Situasi darurat bisa terjadi dimana saja, termasuk di Korea kan?! Sekarang contohnya.

“Jungsoo…”

Simon menghilang, dokter lenyap, rumah sakit ini hanya properti syuting. Yeppo!

Aku mungkin terbang ke arahnya. Kugenggam tangannya erat namun matanya tetap terpejam. “Nan yeogisseo,” lirihku padanya. Kueratkan genggamanku. “Nan yeogi isseo…” gumamku lagi memperhatikan wajahnya.

Tepukan dokter di bahuku membuatku kaget. “Anda walinya?”

Aku menatap dokter itu kosong. Dokter itu terdiam sesaat lalu menatap Yeppo. Kemudian dia berkata, “Baiklah, saya akan menunggu sampai Beauty ssi tenang.” Lalu dia mengajak Simon pergi.

Aku tidak bisa meraba apa yang sebenarnya dikatakan oleh dokter itu. Tapi bukan itu yang penting. Aku mengamati wajah Yeppo yang berantakan. Beberapa goresan terlihat di pipi dan pelipisnya. Bibirnya putih, matanya tampak sangat cekung. Dalam genggamanku telapak tangannya terasa kasar dan saat kulihat, ujung-ujung jarinya mengerut seperti kulit jeruk. “Apa yang terjadi, Yeppo? O? Apa yang terjadi padamu di sana?” aku tiba-tiba disentak kecemasan yang sangat kuat.

Mataku naik dan aku melihat bahunya terbuka di balik selimut. Aku mengintip ke balik selimut dan menemukan tubuh bagian atasnya dibalut perban sampai ke pinggang. Mau tak mau aku terkesiap kaget. Kemana dokter itu pergi?! Dia harus menjelaskan semuanya padaku sekarang!

Seorang suster yang masih sangat muda mendekat dan menyapaku, meminta ijin untuk memberi suntikan pada Yeppo. Aku mengangguk membolehkan, tapi dia kemudian hanya diam menatapku. Dari matanya aku tiba-tiba melihat sinar yang sudah sangat kuketahui. Dia mengenaliku, perlahan tapi pasti, tatap mata suster itu berubah, pipinya tiba-tiba agak memerah. “Anu, saya butuh tangan yang itu, Leeteuk ssi,” ujarnya menunjuk tangan Yeppo yang sedang kugenggam.

“Oh…” aku menjawab linglung. Apa yang harus kulakukan? Menyangkal panggilan suster itu? Pura-pura bahwa aku hanya orang mirip diriku sendiri? Aku menoleh menatap Yeppo dan tahu, itu tidak penting. Aku bangun dan menyerahkan tangan Yeppo pada si suster yang kemudian menyuntikkan cairan entah apa ke saluran infus yang tertancap di tangan Yeppo.

Begitu selesai, si suster menatapku lagi. Dia berkata, “Kalau ada yang dibutuhkan, panggil saya saja.”

Aku mengangguk, tapi lalu teringat sesuatu. “Jogiyo,” panggilku.

Si suster menoleh, Yeppo menggerakkan kepala gelisah. “Jungsoo…” panggilnya lirih.

Kuraih tangan Yeppo dan kugenggam lagi erat-erat. “Nan yeogisseo…” sahutku pelan. Yeppo terdiam lagi.

Aku menoleh pada si suster yang menunggu dan sekarang wajahnya memerah. Sial, kurasa dia bisa membaca situasinya. “Anu, bisa katakan padaku apa yang terjadi padanya?” tanyaku mengabaikan perasaan tak enak mengetahui ada yang mengenaliku dan meraba hubunganku dengan Yeppo.

Awalnya si suster tampak ragu dan tak ingin menjawab, tapi aku memandangnya dengan memelas. Kalau memang harus ketahuan ya lalu kenapa? Toh sebentar lagi aku akan keluar dari militer. Tidak, sebenarnya itu hal buruk, tapi itu bisa dipikirkan nanti. Si suster membuka mulutnya, “Beauty ssi terbentur di punggung dan ototnya memar cukup parah, tapi detilnya nanti akan diceritakan oleh dokter.”

“Apa maksudnya terbentur? Apa yang membenturnya?” nada suaraku naik sedikit karena panik membayangkan tubuh Yeppo dihantam keras.

Si suster tersenyum tak berdaya, “Itu saya tidak tahu, sebaiknya anda bertanya pada temannya yang orang asing tadi saja.”

Aku membuka mulut tapi tahu itu tak ada gunanya, jadi aku hanya mengangguk dan membiarkannya berbalik pergi. Baru dia hendak melangkah, aku teringat sesuatu, “Jogiyo, hanbeonman putakhaeyo.”

“Ne?” tanyanya.

Aku menatapnya serius. “Bisakah tidak… menceritakan pada siapa-siapa?” tanyaku penuh harap.

Dia memasang wajah malu-malu saat mengerti maksudku, kemudian cepat-cepat berbalik pergi.

Aku menoleh menatap Yeppo, tak mampu menemukan apapun untuk kukatakan. Kulihat sekeliling, tak ada siapapun kecuali para perawat jaga yang sibuk mengurusi satu pasien lain di pojok. Kulepaskan tangan Yeppo untuk menutup tirai pembatas tempat tidurnya. Saat berbalik lagi aku bertatapan dengan matanya.

Dia memandangku kosong tapi aku tahu dia tahu itu aku. Entah kenapa ada rasa sakit di dada, sama seperti saat aku melihatnya lagi di klub malam itu saat akhirnya kami tidur bersama. Aku menghambur ke arahnya, meraih tangannya, kelegaan membanjiriku karena masih bisa melihat matanya lagi. Mulutnya terbuka dan aku mengenali satu kata Indonesia terlontar, “Jungsoo… Sayang…”

 

Bee’s POV

Kapal ini terlalu oleng. Aku tahu akan ada sesuatu yang akan terjadi, namun aku tak ingat apa. Aku menoleh ke belakang dan menemukan kotak hitam yang aku lupa tempat apa. Lalu aku menoleh menghadap Simon dan gelombang besar itu datang lagi. Inilah yang akan terjadi. Ah, kenapa aku selalu lupa tentang ini? Punggungku terbentur dan dalam sekejap aku menggigil kedinginan. Sebuah pelukan membuatku kesulitan bernafas.

Aku membuka mata. Laut tak beratap kan? Kenapa ada langit-langit di atas kepalaku?

“Ssst, tak apa-apa. Kau sudah aman,” sebuah suara yang sangat kukenal menyapaku dari samping. Otakku cukup jernih untuk tahu bahwa suara Jungsoo yang barusan bukan halusinasi.

“Dimana aku?” tanyaku dengan tenggorokan sakit. Aku mengernyit. Saat mengangkat tangan hendak meraba tenggorokan, barulah aku tahu apa yang menyebabkanku susah bernafas. Jungsoo memelukku erat sekali. Aku menoleh padanya, “Minum,” pintaku.

Dia bangun setelah melepaskanku, memandangku sejenak lalu beranjak mengambilkan minum untukku. Aku mengamati sosoknya bersamaan dengan semua perasaan yang hampir menenggelamkanku saat itu di laut. Aku mengambil kesimpulan bahwa entah bagaimana aku berhasil selamat dan tidak jadi mati. Aku masih ada di sini untuk menatapnya, menyadari keberadaannya di sampingku.

Jungsoo menyerahkan segelas air padaku lalu menungguku meminumnya. Saat aku tak lagi hendak meminum airku, dia mengulurkan tangan meminta gelasku untuk diletakkan kembali ke tempatnya. Aku memandangnya dan menyimpan gelas itu dalam dekapanku di depan perut. “Wae? Perutmu sakit? Aku akan panggil dokter,” tanyanya jelas sangat khawatir.

Aku menggeleng, mengabaikan sakit kepala yang muncul akibat gerakan itu. Mataku terus menatapnya. Wajahnya sangat sempurna di hatiku. Arti dirinya pas mengisi apa yang kosong. Dia sempurna karena itu. Apapun yang dilakukannya, bagaimanapun tingkah lakunya, semenyebalkan apapun aslinya, aku tahu pada akhirnya aku akan kembali pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa dia adalah yang kuinginkan sekaligus kubutuhkan.

Jungsoo duduk di hadapanku. “Yeppo… wae? Eodi appeo?” tanyanya menyibakkan rambutku ke belakang telinga.

Aku menggeleng dan menahan tangannya di pipiku. Aku memejamkan mata dan merasakan nada bicaranya semakin khawatir saat berkata, “Pasti sakit. Kau harus menemui dokter. Aku akan memanggi—“

“Jungsoo-ya…” panggilku.

Dia berhenti bicara. Aku membuka mata, menatap langsung ke matanya. Kenapa aku menunggu selama ini? Apa yang menahanku? Kebodohan? Keangkuhan? Ketidakpedulian?

“Wae?” tanyanya mendesak.

Tanganku terulur ke lehernya dan menarik wajahnya mendekat. Ketika hidung kami bersentuhan, aku menatap matanya serius, mulutku berkata pelan dan pasti, “Saranghae, Jungsoo-ya… Jeongmal saranghae.”

 

Leeteuk’s POV

Aku  terlalu kaget untuk merespon. Aku mengantisipasi kesakitan, mengharapkan senyum pengenalan, menginginkan tangisan lega darinya karena telah selamat, tapi dia diciptakan memang bukan untuk menjawab hal-hal tertebak dalam hidupku.

Saat kesadaranku pulih, dia telah menciumku dalam. Dalam keterkejutanku dia memasuki mulutku yang terbuka. Aku tak bisa merespon kecuali dengan apa yang dulu selalu kulakukan. Dalam sekejap semua perasaanku terbuka, dia pasti bisa merasakannya karena kemudian dia sekali lagi berhasil membuat akal sehatku melayang dalam sekejap melalui gerakan lidahnya.

Penyerahan dirinya begitu total, membuatku hampir takut melumatnya dalam arti yang sebenarnya karena tak bisa menguasai diri. Selama ini kami berdua sama-sama menahan diri. Sejauh mana kami bisa bertahan, itu akan menghindarkan kami dari luka yang sama saat kami harus berpisah selama dua tahun. Malam terakhir itu, rasanya seperti penghancuran diri. Kami sama-sama seperti menguliti diri sendiri. Sakit dan lemah.

Tentu saja saat itu kami tak ada yang tahu bahwa dua tahun kemudian kami akan diberi kesempatan kedua. Sayangnya lagi-lagi kami melakukan kesalahan yang sama. Menahan diri. Ketakutan. Egois, tak mau terluka. Kami tak mau membiarkan takdir menentukan hubungan kami. Aku dan dia, kami berprasangka bahwa ini semua akan berakhir dengan menyakitkan seperti yang pertama, maka tak satu pun dari kami berani berkomitmen total. Bahkan kali ini lebih parah, saking takut terlukanya, kami tak berani mendekati yang lain dengan sembrono. Kami memperhitungkan setiap kata yang kami keluarkan, ekspresi yang kami tampilkan; sampai akhirnya kami kembali dipaksa mengkhawatirkan yang lainnya sampai di batas yang bisa kami tanggung.

Aku melepaskan ciuman kami, menjauhkan wajahnya, untuk menarik nafas sekaligus melihatnya, memastikan dia nyata. Namun Yeppo menolak, dia cepat menarikku kembali setelah satu tarikan nafas dan kembali menciumku seolah tak bisa hidup tanpa ciuman kami. Aku tak punya pilihan selain membalasnya.

Aku kehabisan nafas, aku tahu dia juga begitu. Aku menghentikan ciuman dalam kami dan menggantinya dengan kecupan-kecupan basah. “Saranghae.” Cup. “Saranghae.” Cup. “Saranghae.” Cup. Bergantian aku membiarkan dia tahu seluruh rasaku dan menciumnya. Yeppo membalasnya dengan menarik tubuhku mendekat.

Gerakan kami terhalang selang infusnya yang pendek. “Kemari,” ujarnya cepat.

Aku menurutinya dan dia berbaring kembali sambil membawaku bersamanya.

Seolah beberapa detik pengaturan itu berjalan dalam hitungan tahun, bibir kami kembali membentur satu sama lain saat posisiku sudah nyaman di atasnya dengan kaki tetap terjuntai ke arah lantai. Mungkin nantinya aku akan sakit pinggang, mungkin punggung Yeppo akan terasa seperti ditindih Wori sekali lagi, tapi saat ini kami tak merasakannya sama sekali. Aku membutuhkan rasanya sama seperti dia menginginkanku.

Kami tak mendengar pintu dibuka sehingga kami terlonjak saat mendengar dehaman cukup keras dari arah pintu. Spontan aku menegakkan tubuh dan menoleh ke arah pintu yang dipenuhi oleh lelaki asing tinggi besar yang bernama Simon. “Sorry,” seringainya pada kami berdua. Kurasa mukaku memerah, yang membuatku terkejut menyadari aku masih punya malu.

Come in,” kudengar Yeppo bicara serak.

I’m here with the doctor. You sure you don’t want me to delay them? You know… giving you two some privacy…” kudengar Simon bicara sesuatu yang tak aku tahu maksudnya, tapi aku bisa menangkap kata doctor dan privacy.

Yeppo mengulurkan tangan ke arah Simon yang langsung disambut pria itu erat. “Simon, this is Jungsoo… Jungsoo, ini Simon,” Yeppo memperkenalkan kami.

Aku tertawa. Aku kan sudah kenal Simon. Tapi tetap saja aku menjabat uluran tangan Simon.

Yeppo menggenggam tanganku tapi menatap Simon, “I love him,” kemudian dia menoleh padaku dengan suara masih ditujukan pada Simon, “I love Jungsoo.”

Aku memandang Yeppo lekat. Meski sedikit aku bisa meraba bahwa dia sedang mengumumkan perasaannya. Benar begitu kan?

Yeppo tersenyum padaku kemudian mencoba duduk kembali. Dengan sigap aku membantunya. Saat duduknya sudah tegak dia meraih wajahku dan menciumku singkat. Kali ini pun aku memerah, apalagi melihatnya kemudian tertawa geli.

Simon berkata, “I have to say I was surprised when I saw you two were about to make out on the hospital bed…” Yeppo cekikikan. “Seriously. He’s never… I mean, he was always… It’s…” Simon melanjutkan tergagap.

Yeppo tertawa dan meski entah untuk alasan apa aku merasa malu, tapi aku sangat senang mendengar tawanya lagi. “Trust me, little that you know. We were always good in keeping it secret.”

Aku mendesis, “Aku benci kalian.” Yeppo menoleh terkejut. Aku merengut. “Aku ada di sini, bisakah kalian bicara bahasa Korea?” protesku.

Yeppo tertawa tanpa suara kemudian tangannya terulur, “Peluk aku,” pintanya. Aku menurutinya. Dia merebahkan kepalanya ke pundakku. “Simon terkejut melihat kita. Dia pikir kita akan melakukan seks di atas tempat tidur ini.” Dengan cepat kepalanya memutar ke arahku, “Haruskah kita melakukannya?”

Dan harusnya saat ini kepalaku sudah berasap. Yeppo menertawai wajahku yang merah total. Tangannya merangkul pinggangku. “Aku bilang padanya, dia akan lebih terkejut lagi kalau tahu yang sebenarnya…” matanya mengedip, “Dan sekarang dia datang bersama dokter. Kau mau kita bagaimana?”

Did you just telling him everything, word by word, about what I told you?” kudengar Simon bertanya. Lelaki itu kemudian memutar mata setelah melihat anggukan Yeppo.

“Apa maksudnya?” tanyaku pada Yeppo.

“Dia ingin tahu apa aku benar-benar menerjemahkan kata-katanya untukmu,” jawabku.

Aku tak tahu harus berkata apa. Meski belum menemukan alasan tepatnya, tapi entah kenapa aku merasa ada bahagia yang menyusup.

Aku sudah akan mempermalukan diriku sendiri lagi dengan mengatakan saranghae padanya ketika dia bertanya, “Jadi kau mau kita bagaimana?”

Aku memandangnya tak mengerti. “Tentang dokternya,” dia mengingatkanku.

Aku membuka mulut tanda mengerti dan segera bangun dari tempat tidur. Lalu aku tiba-tiba teringat padanya. Aku bingung bagaimana menjelaskan ini. Aku bangun dari tempat tidur bukan semata-mata aku ingin melindungi namaku, tapi aku juga masih orang Korea yang agak tidak nyaman mengumbar kemesraan di hadapan orang lain. Tapi aku memang tidak kepikiran akan membuat orang lain mengetahui… “Jungsoo-ya, arasseo…” kudengar Yeppo berkata padaku.

Aku menatapnya. Dia mengangguk sekali. “Aku mengerti. Aku tidak menginginkan apapun kecuali bersamamu. Leeteuk ssi bukan masalah besar untukku. Kau tak perlu bingung begitu,” ujarnya melipat lutut dan mengaitkan tangan di depannya.

Terdengar pintu diketuk. Aku tegang, tapi wajahnya menguatkanku. Aku menunduk, menciumnya sekilas lalu berpindah tempat ke depan jendela. “Aku siap,” kataku.

 

Bee’s POV

Aku tahu pasti Jungsoo kebingungan. Dia pasti berpikir aku akan tersinggung karena dia ingin menyembunyikan hubungan kami. Tapi dia tidak tahu bahwa aku tak menginginkan apapun yang ada kaitannya dengan itu. Kalau kami menjalani ini diam-diam, aku tak merasa ada masalah; kalau dia ingin membuka ini pada publik, aku hanya akan mempersiapkan diri. Yang manapun aku siap.

Untukku, bisa bersamanya melebihi apapun. Sama seperti ketidakpedulianku akan status hubungan kami dulu, statusku di mata publik pun tak masuk dalam pertimbangan penting di otakku.

Aku tersenyum pada dokter yang masuk diiringi beberapa perawat. Salah satu suster yang paling muda langsung menatap Jungsoo dan itu membuatku agak tersentak. Ternyata aku bisa tidak suka juga Jungsoo diperhatikan oleh perempuan lain.

Dokter menanyakan banyak hal kemudian menjelaskan apa yang terjadi. Punggungku terbentur dan memar dalam yang kualami cukup parah. Selain itu aku juga terkena pneumonia akibat terlalu lama berendam di air laut yang dingin. Aku tidak sadarkan diri dan demam, tapi selain itu semuanya baik-baik saja. Setelah hampir dua puluh empat jam aku tertidur akibat obat dan kelelahan fisik, akhirnya pneumoniaku pulih dan demamku sudah turun. Punggungku akan terasa nyeri selama beberapa hari atau beberapa minggu, tapi selama aku beristirahat dan minum obatku, tak akan ada infeksi yang terjadi. Saat Simon menyela dengan bertanya apa yang kubentur ketika jatuh, aku mengatakan tidak tahu dan menjelaskan dengan jujur bahwa aku bahkan tidak ingat kapan dan bagaimana aku jatuh ke lautan. Dokter mengangguk dan berkata bahwa amnesia temporer wajar terjadi saat trauma. Aku tak bisa menahan geli memikirkan aku benar-benar mengalami amnesia. Rasanya seperti sinetron.

Akhirnya dokter keluar setelah menyuruhku kembali beristirahat. Simon mengantarkan mereka sampai ke pintu dan kembali lagi ke sebelah tempat tidurku. Jungsoo tetap berdiri mengamati kami. Aku menanyakan tentang Jeonghui—ya, aku tidak lupa tentang lelaki itu—dan Baeyoung. Simon menjawab semuanya terkendali dan menolak menjelaskan maksudnya. Dia malah berdiri dan mengacak rambutku sebelum berpamitan.

Setelah tinggal kami berdua di ruangan, Jungsoo duduk kembali di tempat tidurku, di sisi yang berbeda dengan sebelumnya. “Tidurlah,” ujarnya pelan.

“Kau juga harus pergi?” tanyaku.

“Aku harus menelepon markas, tapi aku bisa melakukannya nanti saat kau tidur. Aku akan menemanimu tidur.”

Aku menguap sedikit. “Tidur di sebelahku?” aku memintanya. Dia tersenyum lalu mengangguk. “Tidak usah lepas sepatu tidak apa-apa,” kataku. Sekali lagi jawabannya hanya anggukan, kemudian dia membantuku berbaring. Benar, punggungku memang terasa nyeri.

Sebentar kemudian kami sudah berbaring bersisian, saling berhadapan. Jungsoo terus mengelus punggungku dan kantuk kembali menyerangku. Tepat sebelum aku terjun ke alam bawah sadar, aku memberitahunya, “Ini kebiasaan yang sangat menyenangkan. Tidur dalam pelukanmu.”

Jungsoo mengecup pelipisku, “Mmm. Saranghae.”

Saranghae, balasku tanpa suara. Biarlah, esok pagi masih bisa kukatakan padanya.

 

 

KKEUT.


Iklan