Tag

Author : Bee

Cast : Jung Yunho, Aku

Rating : Adult

Genre : Romance

Ps : Inspired by the OST and a picture of tired Yunho.

Ost : Winter Rose by TVXQ

url: http://wp.me/p1rQNR-ft

 

***

 

Aku mengecup pundak lelaki yang menegang di hadapanku. Pundaknya yang telanjang berwarna sempurna meski deskripsi warnanya tak mungkin kuungkapkan—karena terlalu kompleks. Dia mengerang, bergerak sedikit, dan kembali tidur. Aku hanya bisa tersenyum melihat reaksinya.

Dia pasti lelah. Setelah New York, dia datang padaku suatu malam—lebih tepatnya malam ini, beberapa jam yang lalu—kemudian kami bercinta. Penuh gairah dan seperti biasa, tidak pernah tidak hebat. Namun ada sesuatu yang lain di sana. Rasanya di setiap desah nafas yang disuarakannya aku mendengar lentingan frustasi. Membuatku tak tahan untuk mendekapnya erat, bahkan ketika aku hanya mengingatnya seperti sekarang.

Yunho berbalik dan aku langsung menemukan matanya menatap polos padaku. “Aku tidak bisa tidur,” katanya dengan nada datar.

Rasanya lebih menyakitkan mendengarnya bicara tanpa niat begitu ketimbang benar-benar mendapatinya mengeluh. Tanganku yang menyelusup di bawah lengannya bergerak mengusap punggung yang terasa hangat. Aku menatapnya dengan mata lebar, “Aku tahu.”

Yunho menggerakkan tangannya meraih tanganku, memperhatikan telapaknya, kemudian membawa ujung-ujung jemariku ke mulutnya. Untuk dicium ringan. “Aku mencintaimu,” ucapnya lagi-lagi dengan nada datar.

Aku tak bisa melakukan apapun selain memberinya tatapan memuja. Aku juga mencintainya. “Aku juga mencintaimu,” balasku.

Dia diam dan terus memperhatikan tanganku. Matanya menggelap, wajahnya kusut, bibirnya menegang. Dia mengangkat wajah dan di sana aku bisa melihat lintasan cahaya yang sedikit menguatkan hatiku. Nada suaranya berisi senyuman meski bibirnya tak menunjukkan itu sewaktu bertanya, “Haruskah kita menikah?”

Biarlah, aku saja yang tersenyum kalau begitu. “Tidak,” jawabku melepaskan tanganku dari genggamannya. Jemari itu dengan sesukanya menyentuh bibir Yunho kemudian menelusurinya pelan. “Kau mau bercerita padaku?” aku memintanya.

Yunho menarik nafas. Dadanya mengembang dan lengannya otomatis mengetatkan pelukan. Menolak menatapku, dia bicara, “Aku bahkan tak tahu apa yang harus kukatakan.”

Aku menurunkan pandang ke pangkal lehernya kemudian memutuskan sesuatu. Kurapatkan tubuh kami berdua dalam sebuah pelukan, menempelkan pipiku ke dadanya, dan membiarkan dia tahu betapa berkuasanya dia akan tubuhku, akan aku. Aku tahu dia tak membutuhkan kata-kata sekarang ini, jadi aku hanya mendekatkan diriku padanya, berharap dia tahu bahwa aku bersamanya apapun yang terjadi. Segalau apapun pikirannya.

Yunho mengecup puncak kepalaku, “Kenapa rambutmu manis sekali baunya?”

“Karena aku manis,” jawabku langsung.

“Kau memang manis,” akunya.

“Mmm…” gumamku.

Kami terdiam. Lama sekali. Tak satupun dari kami tertidur meski suasana sepi, hanya diwarnai suara nafas yang teratur. Elusan tangan di tubuh masing-masing sesekali terasa, dan helaan nafas Yunho berat. Pikiranku melayang-layang pada saat Yunho tak ada di sini.

Ketika Yunho di New York, saat bahkan menelepon pun harus dibatasi, waktu melintas di depan gedung tempat tinggalnya pun aku tak bisa melihatnya, rasanya itu waktu-waktu yang berat. Hari-hari itu tak terlalu memikirkannya. Hanya kadang aku mengoceh menasihati diri sendiri yang tahu-tahu sudah ada di depan apartemen Yunho, atau tiba-tiba ‘main’ ke gedung SME. Kadang memencet nomor Yunho tanpa sadar hendak menanyakan kapan dia datang tapi lalu teringat dia sedang di New York. Saat ini, berbaring dalam pelukannya, aku sadar hal itu ternyata cukup menyiksa.

Biasanya aku mengubur diri dalam pekerjaan. Kalau tak ada Yunho aku cukup produktif. Naskahku selesai dengan cepat, revisi lancar, semua pihak senang, dan aku biasanya tidur nyenyak karena seharian kecapekan berpikir. Namun sekarang, berada di sisi Yunho, aku tahu itu semua hanya upayaku membohongi diri. Aku merindukannya, kangen saat dia merajuk karena tak kuperhatikan, ingin mendapat kejutan darinya yang tiba-tiba menelepon kemudian tahu-tahu sudah di depan rumah, rindu bermain ke tempatnya sekedar memasak bersama dan bercanda dengan Changmin. Dengan Yunho berbaring di sebelahku, aku sadar panik dikejar deadline lebih membahagiakan dibandingkan bekerja tanpanya.

“Apa kau sedang memikirkanku?” Yunho menggumam malas. Aku mengangguk.

Merasakan itu Yunho meraih daguku dan membuatku mendongak demi menatapnya. “Aku ingin bercinta lagi, tapi aku malas bergerak,” katanya polos.

“Kau mau aku yang bergerak?” tanyaku benar-benar bertanya.

Dia menggeleng, “Aku tak mau melepaskanmu.”

Aku tertawa tanpa suara, “Tapi kalau kita melakukannya kan aku tak harus lepas darimu.”

Dia menggeleng lagi, “Tidak. Aku ingin memelukmu seerat ini, tak mau kau bergerak sedikitpun.”

“Ya sudah, tidak usah melakukannya kalau begitu,” pancingku.

“Mmm,” gumamnya mengiyakan. Lalu dia mencium bibirku lembut. “Menciummu sudah cukup,” katanya setelah bibir kami terlepas.

Aku menatapnya. Sekarang aku mulai khawatir. “Jung Yunho, ada apa?” tanyaku serius.

Dia menatapku. Di sana aku bisa melihat dia bukan ingin menyembunyikan apapun, hanya tidak bisa mengatakannya. Seolah-olah apa yang hendak dikatakannya tertahan di ujung lidah. Jadi aku berkata, “Jawab saja aku, oke?”

Akhirnya Yunho mengangguk. Aku membuka mulut, “Kau salah gerakan?” Yunho mengernyit. Aku menjelaskan maksudku, “Sewaktu di New York, apa kau melakukan kesalahan?”

Mulutnya terbuka sedikit menangkap maksudku. “Tidak,” jawabnya.

“Kau bertengkar dengan Changmin?” aku meneruskan pertanyaanku.

Dia menggeleng ragu, “Tidak.”

“Kau mengkhawatirkan Changmin?”

Yunho menerawang sedikit, “Kira-kira.”

“Bukan hanya itu?”

Dia menatapku lalu wajahnya berubah penuh permohonan, “Ya.”

“Aku bisa membantumu?”

“Aku tidak tahu,” balasnya tanpa berpikir.

“Kau bisa menceritakannya padaku?” aku mengulangi pertanyaanku.

“Tidak tahu.”

Aku kehabisan tebakan. Lalu aku mengucapkan tebakan terkonyol yang bahkan aku sadar itu sangat konyol, “Kau ketemu cewek yang naksir Changmin habis-habisan tapi sebenarnya kau naksir padanya?”

Yunho melotot. “TIDAK!” jawabnya tegas. “Aku mencintaimu,” protesnya.

Aku juga tahu itu. Tapi, “Astaga, ternyata memang berat. Kau bahkan tidak tertawa pada leluconku,” kataku khawatir.

“Apa aku harusnya menjawab iya?” Yunho malah bertanya bingung.

“Yah, kalau begitu paling tidak aku tidak perlu ragu membunuhmu,” jawabku menaikkan posisi. Kini mataku sejajar dengan matanya.

“Kau sadis,” katanya sambil mengerang. “Aku sedang tidak bisa bercanda. Apalagi yang sadis-sadis.”

“Yunho-ya…” aku memanggilnya karena dia memalingkan wajahnya dariku.

“Mmm?” jawabnya masih tidak menoleh padaku.

“Kenapa kau datang malam ini?” tanyaku.

“Karena aku kangen padamu,” jawabnya tanpa sedikitpun nada ragu.

“Kenapa kau bercinta denganku malam ini?”

“Karena kau bikin aku bernafsu.”

“Aku tidak melakukannya,” protesku. “Seingatku aku bertampang acak-acakan dan belum mandi dari pagi waktu kau datang, dan itu tidak mungkin memancing nafsumu,” lanjutku mencoba menganalisa.

“Kau membuatku terangsang. Begitu saja. Sesimpel itu. Aku kan Mr. Simple.”

Aku mencubit pipinya gemas, “Kau Superstar, Leeteuk Oppa Mr. Simple.”

Yunho mengerang jengkel kemudian mencium mulutku panas. Dia baru melepaskanku saat akhirnya kami berdua kehabisan nafas. “Berhenti mengidolakan Leeteuk Hyung di hadapanku!” marahnya.

Aku masih menatap kepingin ke arah bibirnya, “Habis dia leader terbaik kan?”

Yunho menegang kemudian berbaring telentang. Aku merasakan semangatnya yang tadi sudah sedikit naik, sekarang turun lagi. Aku mengguncang dadanya, “Yunho? Apa ini tentang TVXQ?” tanyaku pelan. Yunho memejamkan matanya. Mulutnya terbuka dan dia tampak sangat banyak pikiran. “Yunho…” rintihku pedih melihatnya sekacau itu.

Yunho membuka mata mendengar suaraku. “Kenapa kau?” tanyanya malah kaget melihat wajahku.

“Maafkan aku.” Aku tahu apapun itu bukan salahku, ada hubungannya saja tidak, namun rasanya hanya itu yang bisa kukeluarkan dari mulut.

“Kenapa? Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Yunho setengah khawatir setengah waspada.

“Aku tidak tahu,” akuku. “Apa aku menyakitimu?” tanyaku sedih.

Mulut Yunho terbuka saat raut pengertian melintas di wajahnya. Dia merangkum wajahku kemudian menciumku penuh rasa sayang. “Jangan dipikirkan, aku hanya terlalu sensitif,” jawabnya. Dia menatapku dan tersenyum melihat aku tampak makin menderita karena tahu aku memang sudah menyakitinya. Dia berkata, “Aku sedikit merasa gagal. Gagal sebagai Hyung, gagal sebagai leader… Waktu di New York… Sudahlah…”

Ternyata benar, dia sedih karena aku mengungkit-ungkit masalah leader terbaik. “Yunho-ya…” aku merangkak ke atas dadanya. Sungguh aku ingin sekali memberinya keringanan, tapi sepertinya apapun yang kulakukan tak akan terlalu berarti. Yunho, TVXQ dan SME selalu tidak pernah sepenuhnya kupahami.

“Bisa aku minta tolong?” tanya Yunho. Aku menatapnya bertanya. Dia menjelaskan, “Lakukan seperti yang biasa kau lakukan. Kemarilah…” dia memintaku mendekatkan kepala padanya.

Aku menurut, dan Yunho langsung menempatkan kepalaku di lekukan lehernya yang nyaman dan sangat kusukai. Tubuhku dan tubuhnya saling menyesuaikan lekuk masing-masing dan sebentar kemudian kami sudah berpelukan dengan nyaman. “Nyanyikan lagu untukku,” pintanya.

Aku merapatkan bibir mencegah senyum yang hendak muncul. “Jazz?” tanyaku setengah menggoda.

“Apa saja,” ujarnya meletakkan pipi di kepalaku.

Aku menghela nafas. Sepertinya Yunho benar-benar sedang merasa susah, dia bahkan tidak pilih-pilih lagu. Akhirnya aku memutuskan menyanyikan lagu anak-anak untuknya. Aku hanya menggumam, yang penting bersuara. Tangan Yunho menepuk-nepuk lenganku yang terbuka. Sesekali suaranya menggumam mengikuti lagu yang kunyanyikan.

Setelah beberapa lagu berlalu Yunho mulai menyela nyanyianku, “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Ini menyusahkan, tapi…”

Aku berhenti bernyanyi karena dia berhenti berkata. Kudongakkan kepalaku ke arahnya, “Tapi?”

Yunho menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. “Tapi lalu aku datang padamu dan rasanya separuh bebanku terangkat,” lanjutnya pelan seolah baru menyadari hal itu.

“Geurae?” aku bertanya.

Seolah baru mengenalku, dia menjauhkan tubuhku sedikit kemudian menatapku lama sebelum mulai bicara, “Geurae.” Dia berdecak, lalu, “Aku tidak bilang bahwa kau membawa pergi semua masalahku. Juga menurutku bertemu denganmu tidak membuat semuanya baik-baik saja. Tapi yang jelas, melihatmu sekarang ini, merasakanmu tadi, aku tahu masih ada yang berjalan baik di dunia ini. Aku lega meski pikiranku masih sarat beban. Kau… Aku…” Yunho tampak kehilangan kata-kata. “Mian, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya,” dia agak cemberut saat tak berhasil meneruskan kalimatnya.

“Aiy, mwoya~ Lanjutkan…” aku pura-pura merajuk, senang melihat dia makin kebingungan. Begitulah Yunho-ku. Dia pasti sekarang merasa tidak enak padaku karena mengira aku benar-benar mengharapkan kata-katanya.

Satu menit berlalu dengan wajahnya yang semakin lama semakin bingung hingga akhirnya aku tak tahan lagi menahan tawaku. Kuangkat tanganku dan menjalinkan jemariku dengan miliknya. “Yunho…” panggilku hendak mengatakan sesuatu.

“Eh?” dia menjawab.

Aku menatapnya dan merasakan tepat apa yang dia bilang dirasakannya tadi, kehilangan apa yang ingin kuucapkan. Tapi memang begitu adanya. Kami tak perlu kata-kata, aku hanya perlu melihat dan bersamanya dan menjadi bahagia. Saat bahagia, kerisauan yang dibuat oleh si masalah tak akan berarti.

Aku tersenyum pada Yunho. Senyum sempurna dari hati. “Tak perlu dilanjutkan. Aku mengerti. Sungguh.”

Awalnya Yunho hanya terpana tapi lalu aku bisa melihat ekspresi pengertian di wajahnya. “Geurae? Begitu ya? Tentu saja,” jawabnya meremas balik tanganku. Kami lalu tertawa bersamaan.

Lagi-lagi kami membuang waktu hanya untuk saling menatap. Sampai akhirnya Yunho memutuskan kontak mata kami dan bertanya, “Cium aku?”

Aku mengangguk lalu menciumnya lama. Ciuman apa adanya yang menyatakan bahwa keberadaannya melengkapi duniaku. Hal-hal boleh berpusar kacau, orang-orang bisa membuatku gila, semua bisa meleset dari rencana, tapi bersama Yunho bisa membuatku bahagia apapun yang sedang kuhadapi.

“Haruskah aku bilang terima kasih?” tanya Yunho setelah melepaskan bibirku.

“Tidak perlu,” aku berkata serak sambil menelusuri bibirnya dengan ujung jariku yang bebas.

“Apa kau merasakan hal yang sama?” tanya Yunho memastikan.

“Apa kau bisa merasakan rasaku?” aku malah bertanya balik.

“O,” jawabnya singkat.

“Jadi apa yang kurasakan?”

“Senang… Aju joha… Bahagia…”

Jariku berpindah ke dahinya yang berkerut. “You are Superstar,” gumamku tak jelas.

Yunho tersenyum dan aku mendapatkan bintangku. Aku bertanya padanya, “Jadi… Kau mau ke Han Gang sekarang? Aku punya banyak cola dan bir kalengan di kulkas.” Aku teringat kebiasaannya dulu sewaktu masih punya banyak waktu untuk memikirkan masalahnya di tepi Sungai Han sambil diam meneguk cola.

“Michyeosso? Musim dingin begini?” protesnya sambil bergerak cepat membalikkan keadaan kami. Sekarang dia menindih tubuhku di bawah selimut.

“Siapa tahu udara dingin bisa membangkitkan otakmu mencari solusi,” jelasku. Berkebalikan dengan apa yang aku sarankan dia lakukan, lenganku menjebak lehernya agar tak kemana-mana.

“Ada hal lain yang sudah bangkit dari tadi, dan itu tidak ada hubungannya dengan udara dingin,” jawab Yunho sambil tangannya meremas satu payudaraku.

Aku memandang bibirnya dengan tatapan menggoda, “Aku pikir kau sedang malas bergerak.”

“Aku sudah rajin. Entah-siapa membuatku bersemangat,” kakinya menggesek bagian dalam pahaku.

Tanganku turun, kini membelai dadanya yang kencang. “Siapa ya?”

“Mmm…” dia melumat bibir bawahku, “Kasih tau nggak ya…

Kasih tau dong…” kakiku terangkat melingkari pinggangnya.

“Kau mau bayar berapa?” tanyanya sebelum mencium basah satu titik di bawah telingaku. Aku tergesa meraih satu tangannya yang sudah berpindah ke bagian lain tubuhku. Kuangkat dan kuletakkan kembali di dadaku.

Kubawa mulutku mendekat ke telinganya, “Pakai ini,” bisikku sengaja mengeluarkan suara serak, kemudian menggoda telinganya habis-habisan dengan lidahku. Tangannya di dadaku menegang, kemudian memainkan puncaknya sebagai balasan tindakanku. Aku melenguh, dia mengerang.

Kami kemudian bergumul sibuk di bawah selimut. Sesekali selimut kami tertarik sehingga udara dingin membelai kami yang kepanasan. Saat kami berhenti untuk menarik nafas, Yunho menatapku lalu berkata, “Kadang kau sangat menyebalkan, lalu kau juga seenaknya, lalu kita bertengkar, lalu aku putus asa padamu, tak mengerti dirimu.” Dia berhenti dan menyiapkan tubuhnya tepat di depanku.

Mataku hampir silau karena gairah, menantinya. Kedua lengan Yunho tampak tegang menahan tubuhnya, dia berusaha bersikap serius meski waktunya sangat tidak tepat. Aku hampir menariknya turun kalau dia tidak cepat-cepat melanjutkan, “Dan aku hanya butuh satu perjalanan kemari untuk membuatku bersyukur aku memilikimu. Tak peduli kemanapun, aku menginginkanmu—“

“Yunho~” aku mengerang karena Yunho ternyata tampak masih hendak berkata agak panjang.

Dia malah menarik diri dan membawaku bersamanya. Kini kami duduk berhadapan di atas kasur. Tubuhku telanjang dan mulai kedinginan sementara selimut kami melapisi punggungnya, membiarkan bagian depan tubuhnya terbuka. “Sebentar, aku harus mengatakan ini. Aku harus.”

Aku melihat kesungguhan di wajahnya dan memilih mengalah. Memeluk diriku sendiri aku menatapnya menyuruhnya melanjutkan.

Yunho menelan ludah, kemudian, “Kau… kau satu hal yang tak bisa rusak. Tak peduli seberapapun kacau hidupku, pada akhirnya aku selalu menemukanmu sempurna dan itu menguatkanku.”

Aku mengernyit.

“Aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu. Karena kau ada,” ucapnya dengan nada tuntas.

Rambut Yunho acak-acakan, bibirnya lembab, dahinya berkerut, dan aku menjawabnya, “Aku ada karena kau mau mendekat. Terima kasih, Yunho-ya…” Yunho tersenyum, meraih tanganku dan menjalin jemari kami. Aku membalas senyumnya, “Kalau begitu rasakan keberadaanku. Sekarang.”

Yunho menarikku dalam pelukan dan kami kembali digulung gairah. Apa aku tadi sudah bilang bahwa selimut kami akhirnya benar-benar lepas dari tubuh Yunho? Oh, sudahlah, toh kami tak benar-benar membutuhkan selimut itu.

Selamat bercinta!

 

 

KKEUT.


Iklan