Sebelumnya, maaf hari ini saya ga publish POK ataupun Luka. Hehe, belum selesai terjemahinnya, mian *bow*. Yang ini dulu ya… Yang suka silakan menikmati, yang ga suka, ga dibaca ya gpp 🙂

N A R S I S

Penulis: Bee

http://wp.me/p1rQNR-f5

 

 

Sha jatuh cinta. Apapun yang sedang terjadi dalam hidupnya, hatinya meluap-luap karena jatuh cinta. Sebentar lagi dia akan menemui cintanya. Tadinya dia sedih karena harus berhenti bertemu untuk sesaat, namun segera, segera, dia akan bertemu lagi dengan belahan jiwanya.

Sha menggoyangkan kakinya dengan tidak sabar menunggu kereta listrik datang. Dia duduk di stasiun Bekasi yang relatif sepi. Jam segini yang ramai itu stasiun-stasiun di Jakarta, sebab orang-orang berebut hendak cepat pulang. Dari Bekasi, penumpangnya relatif sedikit. Sepinya stasiun, angin sejuk berhembus. Sha bahagia.

Perjalanannya ke stasiun tidak bisa dibilang mudah. Hampir tertabrak tukang ojek, merayap keluar dari angkutan umum pendek penuh penumpang dengan seabrek barang, terciprat genangan air di depan stasiun yang membuat celana dan sepatunya kotor, itu semua sungguh menyebalkan. Lalu Sha ingat bahwa dia sedang jatuh cinta. Tadi sebelum berangkat belahan jiwanya sempat bilang, “Hati-hati, agar kita cepat bertemu lagi.” Sha bahagia, sungguh. Dia tersenyum saat aroma tanah basah merasuki hidungnya.

Kemarin Sha dimarahi oleh bosnya. Entah setan apa yang menempeli bosnya itu hingga kemarin level kesadisannya jauh melebihi yang biasanya. Lalu Sha bertemu belahan jiwanya di rumah, mereka saling mempertemukan tangan dan bibir. Dunia Sha langsung berubah seceria siang meskipun saat itu malam baru saja menurunkan hujan. Indahnya dunia Sha.

Secercah sinar matahari menerobos di sela awan abu-abu. Cantik sekali. Tukang pulung melewati Sha lengkap dengan aroma badannya yang menyengat, lalu aroma rumput basah entah dari mana mengikuti samar. Nyaman sekali. Bangku stasiun keras dan kaku, lalu Sha menjulurkan kakinya lurus-lurus. Santai rasanya. Suara deringan klakson kendaraan di kejauhan tertangkap di telinga Sha, ditingkahi suara tawa ibu dan anak-sekitar-lima-tahunnya di peron yang sama dengan Sha. Mengapa dunia begini indah? Sha tak bisa menghentikan senyumnya.

Lamunan Sha mengembara. Hatinya merindukan belahan jiwanya. Perasaan rindu yang indah sebab sejauh apapun mereka terpisah, Sha akan selalu bisa menemukannya. Perasaan rindu itu membuatnya galau. Rasa galau yang membangkitkan antusiasme sebab Sha tahu mereka merasakan perasaan yang sama. Sha belum lama menyadari perasaannya, tapi dia tahu kekuatan rasa itu dimiliki olehnya maupun belahan jiwanya. Mereka sangat memahami satu sama lain.

Dering bel peringatan datangnya kereta membuat Sha memejamkan mata. Sebentar lagi keretanya datang, namun itu bukan prioritasnya. Saat ini, dalam kesendirian, Sha merasa bebas menikmati bayangan belahan jiwanya. Mereka saling tersenyum sebelum berpisah karena Sha harus berangkat.

Stasiun kereta dalam benak Sha berubah menjadi properti tak terpakai yang hanya dikunjungi oleh dia dan belahan jiwanya. Melangkah saling merangkul pinggang. Menikmati aroma alam terbengkalai yang menyela aroma tubuh masing-masing. Merasakan basah pucuk rerumputan di kaki mereka. Membiarkan titik hujan seimut embun terus turun. Menatapi berkas cahaya matahari di balik awan yang seperti sorotan senter luar biasa besar dari langit. Senyumnya mengembang semakin lebar, mengundang tatap terpana seorang penjual asongan yang sedang menunggu datangnya kereta yang sudah terlihat bagian depannya.

Si penjual asongan menatap Sha dengan takjub. Sulit sekali menemukan orang yang masih mau tersenyum-senyum bahagia di muka umum tanpa kewaspadaan sama sekali. Dia tahu kalau mau dia bisa saja mengambil tas tangan Sha dengan mudah, namun bahkan pencopet pun tak akan tega merusak senyum semurni itu. Senyum naif yang tanpa perlindungan. Dia tak bisa membayangkan hal sebagus apa yang dialami oleh perempuan aneh itu.

Sha tahu keretanya sudah datang, namun dia menolak bergegas masuk. Masih banyak orang lalu lalang. Dia sebaiknya menunggu sampai semuanya turun dan dengan santai menata semua barang bawaannya di dalam kereta. Bawaannya tidak sedikit.

Satu per satu orang lewat. Kepala Sha bergerak-gerak mengikuti pergerakan mereka. Lalu perlahan aliran manusia itu menipis. Sha menunduk dan bersiap meraih tasnya. Dia terkesiap saat menyadari apa yang barusan ditangkap matanya.

Diangkatnya kembali kepala dan menatap lurus-lurus gerbong kereta di hadapannya. Dia tidak percaya dia akan melihat kekasihnya di sana. Secepat ini. Sebesar ini rasa rindunya, yang baru bergejolak setelah melihat lagi sosok itu. Sha melupakan barang-barangnya dan matanya berkaca-kaca melihat sosok di depannya tersenyum.

Lalu stasiun kereta itu kembali menjadi miliknya di dalam benak. Seekor lalat hijau besar terbang melintas di depan wajah Sha, namun Sha bertanya-tanya, mungkinkan lalat itu sebenarnya kupu-kupu? Tampak lebih kecil karena luapan cinta Sha demikian besar untuk sosok di hadapannya?

Sebutir air mata bergulir di pipi Sha. Air mata bahagia sekaligus frustasi. Betapa dia ingin menghambur ke pelukan belahan jiwanya, namun dia tahu itu tak mungkin. Dia tahu dia harus segera memasuki kereta, namun kakinya seolah menjadi karet yang terlalu liat untuk diputus namun terlalu lembek untuk dibuat berdiri. Tidak, dia tidak ingin berpisah dari kekasihnya. Bibir Sha bergetar menahan tangis dalam kebimbangan.

Si pedagang asongan melupakan misinya mendapat uang sore itu. Dia semakin terpana dan syok melihat si wanita naif itu menangis dengan cantiknya di depan gerbong kereta. Menatapi bayangannya sendiri di kaca gerbong.

 

-KKEUT-

 

PS: Ini adalah tulisan yang saya kirimkan untuk ultah NulisBuku di hari kelima. Temanya MENARI, berdasarkan lagu Maliq & D’Essentials. Hasilnya? Boleh dong saya senyum-senyum geje? Karena tulisan ini masuk di buku Menari #1. Yorobuuun, yang tertarik silakan beli bukunya yah, royaltinya untuk amal loh~ Yuk, beramal yuk~



Iklan