Tag

, , ,

Episode: Conceive

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Yeppo (Beauty/Bee)

Genre: adult romance

OST: Personal by Craig David

Url: http://wp.me/p1rQNR-eI

 

***

 

Leeteuk’s POV

Aku berusaha melakukan pekerjaanku sebaik mungkin secepat mungkin. Setelah ini masih banyak yang harus kulakukan. Tapi bagaimana ini? Saking rindunya aku melihat Yeppo lagi, rasanya pikiranku tak mau bekerja sama. Bukannya berkonsentrasi pada pekerjaan, malah dengan aktif simpul-simpul di dalam otakku selalu menampilkan wajahnya sebelum dia melaut lagi seminggu yang lalu.

Dia tampak lelah dan kurang tidur, tapi aku bisa melihat binar di matanya saat pandangan kami bertemu. Aku harus bertanya padanya apa saja pekerjaannya sampai matanya bengkak begitu. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan ruang gerak, aku tak punya cukup banyak waktu menanyakan apapun padanya selain apa kabar. Lagipula banyak sekali orang di sekitar kami, kami harus menjaga sikap. Alasannya terlalu banyak untuk dijelaskan.

Menurut jadwal, harusnya hari ini mereka kembali ke sini, Yeppo dan teman-temannya. Tapi sepertinya baru nanti malam mereka sampai. Jarak dari laut ke sini bukan sebentar dan memang biasanya kelompok orang pintar itu sampai hampir tengah malam di barak, kalau bukan dini hari. Aku harap bukan dini hari, sebab aku ingin bersama Yeppo selama beberapa saat lebih lama. Kalau mereka datang dini hari, mereka akan langsung istirahat dan saat hari terang mereka akan terburu-buru pulang ke Seoul. Itulah yang biasanya terjadi. Aku tahu ini egois, tapi aku ingin bersama Yeppo meskipun hanya menemaninya terlelap.

“Prajurit Jungsoo, bagaimana pekerjaanmu?”

Aku berhasil tidak terlonjak mendengar panggilan itu. Benar, pekerjaanku. Harusnya aku tidak memikirkan Yeppo. Pekerjaanku. Aku harus berkonsentrasi.

Apa kapal Yeppo sudah bergerak merapat?

 

Bee’s POV

Hari yang indah. Matahari bersinar sejak terbit dan tak ada awan sama sekali. Langit sangat bersih. Udara membawa aroma-aroma segar yang entah dari mana asalnya. Ini di tengah laut, namun angin beraroma. Satu-satunya hal yang kurang menyenangkan adalah kami belum melihat Wori sejak awal kami mengapung di sini. Itu artinya sudah seminggu Wori—paus sperma objek pengamatan kami—tidak kelihatan, bahkan di kejauhan. Simon sudah mulai tampak tidak sabar, begitu pula dengan Baeyeong. Jeonghui tidak terlalu peduli dengan kehadiran Wori, anak itu punya banyak hal yang mengalihkan perhatiannya; tugasnya sebagai pembantu umum dalam proyek ini membuatnya cukup sibuk mengurusi hal-hal yang tidak terpikirkan oleh aku, Simon maupun Baeyeong.

Memang menunggu Wori agak membuat worry, seminggu ini cuaca selalu baik kecuali beberapa gelombang yang agak tinggi di malam hari. Tapi kami semua tahu, di lautan, seminggu itu terlalu banyak untuk cuaca yang selalu bagus. Persediaan bahan makanan juga sudah menipis. Kalau Wori masih juga tidak muncul sampai nanti siang, terpaksa kami melapangkan dada untuk pulang tanpa mendapat hasil apapun.

Herannya aku tidak terlalu kecewa. Lalu kenapa kalau Wori tidak mau muncul? Sangat mungkin kan dia sedang tidak minat dengan manusia? Jam berapa kami akan sampai di darat nanti? Dari pantai ke kamp butuh waktu sekitar 3 jam. Apa lagi-lagi kami akan sampai di sana malam hari? Berarti baru nanti malam aku akan bertemu Jungsoo?

Aku membeku. Apa yang kupikirkan? Wori tidak muncul artinya hasil proyek kami tertunda, dan aku malah memikirkan Jungsoo? Ah, dasar bodoh.

Bulan kemarin setelah Jungsoo memelukku, dia tak mau melepasku lagi. Kami berada di tempat gelap itu sampai pagi menjelang. Aku sempat tertidur di pelukan Jungsoo, kurasa dia juga sempat tertidur, bagaimanapun hari itu cukup melelahkan bagi kami berdua. Saat bangun aku merasa punggungku pegal karena tidur dengan posisi tidak nyaman, tapi anehnya perasaanku senang luar biasa. Tak ada yang lebih luar biasa dibandingkan bangun menghirup aroma tubuh orang yang kau cintai.

Langit musim panas yang sudah sedikit memerah terbayang di ufuk. Dengan tangan di pinggang Jungsoo, aku berbisik di rahangnya saat tahu dia juga terbangun, “Selamat pagi.” Waktu itu dia hanya menatapku lama sebelum membisikkan kata yang sama kemudian mengetatkan pelukannya.

Lama berselang baru dia bicara lagi, “Kau benar-benar di sini, kau benar-benar pulang.”

Aku menjauhkan diri sewaktu mendengar kata-katanya itu, malam sebelumnya dia mengucapkan kata yang sama. “Pulang?”

Dia melepaskanku kemudian berdiri, menarikku bersamanya. “Kau dalam pelukanku lagi,” jelasnya menyelipkan sejumput rambut di belakang telingaku.

Aku mendengus, sebenarnya agak malu, “Museun… apaan tuh?”

Dia merangkum wajahku dan sudah akan menciumku saat terdengar derap langkah mendekat. Jungsoo mengerang, “Patroli akhir malam…” membuatku terkikik geli.

Dan di waktu sekarang Jeonghui memandangiku dengan heran. “Bee ssi, anda kenapa?” tanyanya keheranan melihatku tertawa-tawa sendiri di anjungan.

Aku sebenarnya kaget, tapi untung angin membuat rambutku menutupi wajah sehingga memberiku waktu berbenah ekspresi. Begitu menatap Jeonghui lagi aku berkata, “Ani, aku pikir Wori malu.”

Jeonghui mengerutkan keningnya dalam-dalam. Aku tahu aku terdengar sangat, sangat aneh, tapi yah… mau bagaimana lagi.

 

Leeteuk’s POV

Harusnya jadi tentara tidak sesibuk ini. Ada saja pekerjaan untukku. Aku tahu aku memang bukan yang terlalu bisa diandalkan untuk kerja lapangan, tapi masa sih pekerjaan administrasi ketentaraan sebanyak ini juga? Rasanya seperti tiba-tiba pekerjaan itu bermunculan entah dari mana.

Aku mengernyitkan kening. Kuurutkan kegiatanku sejak bangun tidur. Biasa saja. Sungguh, biasa saja. Kuingat-ingat lagi, itu semua pekerjaan rutin. Lalu kenapa hari ini rasanya pekerjaan-pekerjaan itu sangat membebaniku? Lebih baik aku beristirahat sebentar, putusku lalu berpamitan pada rekan seruanganku.

Aku berjalan mengelilingi kamp, sekedar melancarkan peredaran darah. Ini masih belum jam 10 pagi, tapi rasanya konsentrasiku sudah setara dengan konsentrasi manusia pada pukul 10 malam yang tidak istirahat sepanjang hari. Pikiranku terus berlari-lari entah kemana. Aku terus melupakan hal-hal.

Di suatu pojok di dekat pintu gerbang aku berhenti. Di sini, di bawah pohon yang tidak mencolok, aku berdiri menatap gerbang yang sepi. Di sana prajurit jaga tak bergerak. Tiba-tiba angin berhembus mengacaukan debu tanah. Membawaku pada debu tanah yang beterbangan seperti saat Yeppo bersiap berangkat minggu kemarin.

Gila, barang bawaannya banyak dan berat sekali. Apa saja sih yang dilakukan empat orang itu di laut sampai membawa begitu banyak barang? Aku tahu karena aku membantu mereka berkemas. Awalnya aku hanya terjebak dalam kelompok itu karena aku terlalu ceroboh membiarkan keinginanku dekat dengan Yeppo terlihat jelas. Tapi lalu aku bersyukur aku membantunya. Alat-alat itu luar biasa. Bukan luar biasa dalam arti yang baik, tapi hanya… Pokoknya aku tak akan pernah membiarkan Yeppo mengangkatnya seorang diri.

Dia hanya mendengus kecil ketika aku menggumamkan pikiranku itu. Aku tahu dia hendak tertawa, tapi menahannya. “Aku sudah terbiasa,” bisiknya pelan di telingaku saat tak ada yang memperhatikan. Saat itu dan juga saat ini, aku masih nanar mendengar kata-katanya itu. Saat aku melihatnya pertama kali, dia tampak sangat rapuh di ujung batas air. Seolah bisa remuk kapan saja ombak menerjangnya. Untungnya tidak, dia hanya basah.

Aku tersenyum mengingat tampangnya saat itu. Bahkan sekarang, aku masih menganggap dia yang saat itu adalah orang gila. Ada bagian dari dirinya yang selalu jadi gila. Saat dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan, laboratorium dan tulisan. Dia gila kerja dan membuatku gila karenanya. Di situlah letak kekuatannya. Ah satu lagi, saat marah. Saat marah dia menjadi sangat kuat, pikirku teringat beragam pot yang ditata Yeppo saat kami berada di rumah temannya.

Ah, aku merindukannya.

Kira-kira sekarang ini dia sedang dimana? Masih di atas lautkah? Atau sudah bergerak menuju daratan? Atau malah sedang dalam perjalanan ke sini? Sepertinya yang terakhir paling kecil kemungkinannya.

Serombongan prajurit lewat dan aku tak sengaja mendengar percakapan mereka. “Jadi kita berangkat pukul 16 nanti? Aish, bukankah kita sudah pasti pergi? Kenapa kelompok kita masih diberi tugas lain lagi? Harusnya para pemimpin itu menyuruh yang lain saja untuk menjemput tamu dari Seoul. Bukankah kita sudah jadi kelompok tetap pengawal para ilmuwan itu?” salah seorang dari mereka yang kulihat pangkatnya di bawahku bicara.

“Ya, benar. Bukankah masih banyak prajurit yang lain? Kenapa harus kita?” temannya menimpali.

“Untuk apa membawa truk sebesar itu kalau hanya berisi enam orang?” yang pertama menggerutu lagi.

Aku berkedip mendengarnya. Aku memang tahu akan ada tamu dari Seoul, tapi aku tak tahu bahwa pengawal kelompok Yeppo jadi kekurangan orang karena tugas itu. Otakku tiba-tiba memberi gambaran kantor yang terlalu banyak orang. Terlalu banyak pegawai administrasi di kantor kan?

 

Bee’s POV

“Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Terus terang saja aku agak khawatir. Menurutmu mungkin tidak, ada nelayan atau peneliti Jepang yang mengincarnya?” Simon bertanya dari sebelahku.

Aku tertawa pelan. “Ini masih perairan Korea, Simon. Kemungkinan kapal Korea Utara muncul dan mengancam kita masih lebih besar daripada kemunculan orang-orang Jepang yang menginginkan Wori,” sahutku.

Simon tampak skeptis. “Tapi ini sudah seminggu…”

“Mungkin kita yang lengah tak melihatnya,” aku memberi kemungkinan lain.

“Seharusnya kita tag saja dia waktu itu,” Simon setengah menggerutu. Saat pertama kali kami bisa sangat dekat dengan Wori, sempat terpikir oleh kami semua untuk memberi tanda pada hewan itu. Namun karena keterbatasan waktu—Wori mendekat saat kami sudah akan pergi—kami tidak jadi melakukannya. Mengingat itu aku sekali lagi tertawa.

“Bulan ini sama artinya dengan kita menggigit angin,” Simon mendesah kecewa.

Sekarang sudah pukul 16 dan kami memutuskan untuk mengakhiri pengamatan. Tak akan ada yang terjadi. Kami sudah kehabisan waktu dan energi. Simon benar, bulan ini kami pergi untuk mendapatkan kesia-siaan. Wori tidak muncul.

Kapal kami sedang bergerak kembali menuju daratan. Kapal riset khusus milik militer ini bisa kami gunakan sebulan sekali, kami sudah dapat ijinnya. Simon berwajah keruh sejak pagi dan sekarang wajahnya bagai langit di ujung horizon, gelap. Ya, akhirnya cuaca buruk datang juga. Kali ini cuaca sangat baik pada kami, memburuk baru setelah kami hendak pergi, seolah dia menjadi polisi waktu bagi kami. Di posisi kami saat ini hujan rintik-rintik menimbulkan percikan-percikan tercerabik di muka air. Permukaan laut tenang dan tak bergelombang, namun dari kilatan-kilatan petir di kejauhan kami tahu badai sedang mengejar kami. Menurut Kapten kapal, seharusnya kami sudah sampai di daratan saat badai mencapai tempat kami sekarang.

Aku menepuk-nepuk punggung Simon, berusaha menceriakannya. Dengan campuran bahasa Inggris dan Korea aku berkata padanya, “Aigoo… uri Simon… It’s alright, I’m sure Wori too, urineun bogoshippeo…”

Simon memandangku ngeri lalu meninggalkanku setelah menyeringai prihatin melihat tingkahku. Aku menertawakannya.

Sepergian Simon, aku kembali menatapi langit kelabu yang terus meneteskan air hujan. Temperatur turun beberapa derajat, dan aku merasa sejuk sekaligus terlindungi di balik mantel yang kukenakan meskipun wajahku basah kuyup. Ada rasa hangat yang tak ada hubungannya dengan temperatur tubuh menyelinap menghangatkanku ketika daratan dan kamp penuh berisi prajurit-prajurit lelaki muncul dalam benak. Aku memeluk tubuhku sendiri sambil bergumam, “Jungsoo… bogoshippeo…”

 

Leeteuk’s POV

Atasanku tidak terlalu memperhatikan ketika menjawab pertanyaanku tentang regu pengawal ilmuwan yang dikurangi. Masih sibuk dengan apapun yang dikerjakannya sendiri, dia berkata bahwa tamu dari Seoul lebih penting daripada segerombolan ilmuwan yang tak jelas bekerja apa.

Aku diam lalu meneruskan pekerjaanku. Berlagak hanya mencari bahan pembicaraan sementara aku bekerja bersamanya, aku bertanya-tanya lagi tentang rombongan ilmuwan itu. Apa pendapatnya mengenai mereka, sampai kapan tepatnya mereka akan bergantung pada kamp kami, apa dia mengerti tentang apa yang sedang dilakukan ilmuwan itu. Balasannya hanyalah dia memandangku dingin. Kurasa pertanyaan terakhirku agak menyinggung egonya.

“Apa hebatnya berenang-renang di lautan sana? Kalau ada kapal musuh yang datang kau tak akan bisa lari ke manapun. Mereka cari-cari masalah saja!” katanya membuatku beku. Benar, bagaimana kalau ada kapal musuh? Bagaimana kalau mereka diserang? Bagaimanapun mereka berada terlalu dekat dengan perbatasan.

Aku bertanya setengah tak sadar, “Bukankah itu artinya kita harus memperketat pengawalan?”

Atasanku menyahut, “Itu urusan Angkatan Laut. Kita hanya mengawal mereka di daratan.”

Mulutku tiba-tiba gatal dan menjadi banyak bicara, “Kenapa tidak berkonsentrasi pada para tamu dari Seoul itu dan mengutus regu yang lain untuk mengawal mereka kembali ke sini? Bukankah kita punya banyak personil di sini? Bukankah bagus untuk melatih mereka yang masih baru untuk terbiasa dengan berbagai tugas?”

 

Bee’s POV

Kedinginan di luar, aku memasuki kabin kerja dan bergabung dengan tiga rekanku yang lain, menganalisis apapun yang sudah kami dapat pada ekspedisi sebelumnya. Program-program statistik dan analisis biokimia terpampang di depanku sementara pikiranku sudah berkonsetrasi penuh pada makna hasil-hasil analisis terkomputerisasi yang muncul di layar.

Kami semua sedang diam larut dalam pikiran masing-masing ketika terdengar derap kaki cepat dari ruang kontrol. “Wori!” salah seorang kru kapal berseru antusias memberitahu kami.

Entah siapa yang paling cepat, yang terjadi kemudian adalah kegaduhan saat semua berusaha keluar menuju palka. Kapal riset ini bukan kapal riset besar. Dari banyak kapal riset yang dimiliki angkatan laut, ini adalah yang paling kecil. Ukurannya kira-kira sebesar Wori. Dan Wori ada di sana, diam, tak menyembur, tak bersuara, namun sangat dekat dengan kapal kami. Biasanya kami menurunkan perahu karet untuk bisa sedekat mungkin dengannya, namun tanpa persiapan apapun seperti sekarang, kami tak bisa berbuat apapun kecuali berseru-seru kesenangan, “Wori! Wori!”

Wori berenang diam, seolah dia sedang menikmati mandi shower eksklusifnya. Justru Simon yang tampak sangat bersemangat sampai-sampai mirip panik. Dia berulang kali berkata tentang menyiapkan peralatan tapi lalu membatalkannya secepat kata itu keluar dari mulutnya. Rupanya keterkejutannya akan kehadiran Wori yang tak disangka-sangka membuat simpul-simpul berpikirnya agak kacau.

Setelah puas menyapa Wori aku menertawakan Simon yang masih tampak aneh, campuran antara senang akhirnya melihat Wori dan kesal karena tak bisa melakukan apapun untuk mengambil sampel. Simon memelototiku dan aku makin menggodanya. Dia kemudian menjauhiku, meninggalkan aku sendirian.

Lambat-laun kegaduhan itu menjadi tenang. Kami tak lagi berseru-seru melainkan hanya bergumam-gumam. Aku cepat-cepat kembali ke anjungan setelah mengambil kamera. Menghindari banyak orang, aku menuju ke ujung depan kapal dan mulai memotret Wori dari sana. Rasanya ingin berseru, “Wori, cheese~” pada makhluk menakjubkan itu, tapi aku sedang tidak berminat dibilang gila lagi oleh Simon. Aku hanya terus dan terus mengambil gambarnya.

Tetes air hujan membasahi kameraku yang sudah dilindungi pelapis anti air. Sengaja aku tidak menggunakan kamera underwaterku karena berdasarkan pengalaman di ekspedisi-ekspedisi sebelumnya, kamera itu tidak memberikan hasil yang maksimal. Lebih baik aku repot sedikit namun hasil yang kuperoleh memuaskan.

Tiba-tiba kapal menurunkan kecepatan dan aku mendengar percakapan serius di sisi kapal. “Hanya 15 menit. Itu saja,” kudengar Simon berkata.

Saat aku sampai di sana, kapten kapal berkata pada Simon, “Sepuluh menit. Lima belas menit sudah termasuk mengangkatmu dari air. Badai semakin dekat, kita tidak mempersiapkan diri untuk itu,” ujarnya tegas. Aku tahu, bahkan si keras kepala Simon enggan membantah si kapten karena nada bicaranya yang final. Mungkin kalau kapten itu tidak bisa bicara bahasa Inggris, Simon masih akan mendesak sedikit lagi lewat pengantar bicaranya.

“Ada apa?” tanyaku pada Baeyeong.

“Simon mau turun,” jawabnya singkat.

Itu gila, menurutku. Tapi aku justru tergoda ingin ikut. Kami belum terlalu dekat dengan Wori. Dengan kata lain, hewan itu tentu masih asing dengan kami meski saat ini sikapnya lunak, tapi mendekati Wori tanpa perahu karet sangat berbahaya. Bukan karena Wori berbahaya, tapi lebih karena tubuhnya yang besar bisa membuat manusia yang berenang di dekatnya terseret arus kalau dia tiba-tiba memutuskan menyelam. Dengan badan sebesar itu, manusia hanya ujung gigi bagi Wori, meskipun dia tak benar-benar bergigi sih.

“Aku ikut,” kataku mengejutkan semua orang, termasuk diriku sendiri.

Simon langsung menggeleng, “Tidak. Waktunya hanya sepuluh menit. Dua orang terlalu memakan waktu.”

Aku memasang tampang kecewa, Simon memutar bola matanya dan semua orang menolak memandangku.

 

Leeteuk’s POV.

Kenapa mereka tidak mempedulikan para ilmuwan itu? Bukankah orang-orang pintar itu melakukan riset demi kepentingan Korea Selatan juga? Walau aku tidak mengerti dimana letak poin pentingnya penelitian kelautan ini, tapi aku tahu informasi penelitian internasional bisa berguna bagi banyak bidang. Bukan semata-mata bidang ilmiah, tapi juga politik, terutama yang menyangkut kerja sama dengan negara lain; kurasa bidang ekonomi dan pertahanan juga akan terpengaruh meski tidak terlalu langsung.

Oke, aku akui, kepentingan pribadiku lebih besar, yaitu menemui Yeppo; tapi masa mereka tidak mengindahkan alasanku yang masuk akal? Bukankah benar kalau kita mendukung kegiatan penelitian meskipun kita adalah pihak militer? Sebagai orang yang bekerja dengan banyak orang, aku tahu kesempatan menjalin relasi di segala bidang itu penting. Kenapa sekarang kelompok ilmuwan itu malah diacuhkan?

Setelah akhirnya atasanku lelah dengan kecerewetanku, dia menyuruhku membentuk regu kecil berisi empat orang untuk menggantikan regu pengawal asli yang pergi menjemput tamu dari Seoul. Atasanku mengira dia sedang menghukumku dengan tugas tidak menyenangkan karena sudah membuatnya tidak senang dengan pertanyaanku yang terlalu banyak dan kurang saringan. Itu tentu saja aman untukku, tapi ternyata masalahnya bukan hanya di situ. Rekan-rekanku menganggap tugas ini benar-benar tidak menyenangkan sehingga aku terpaksa mencari orang lain.

Susah payah aku mencari dua prajurit yang tadi kucuri dengar percakapannya. Sayang, ternyata aku kalah cepat. Segera setelah ‘menghukumku’ atasanku memerintahkan mereka pergi menyusul penjemput tamu dari Seoul. Sial, sekarang aku harus mendekati para junior.

 

Bee’s POV

Ombak sudah semakin tinggi. Kapal terombang-ambing tidak nyaman diiringi gerutuan kapten yang tanpa henti. Waktu sepuluh menit yang diberikannya tadi molor menjadi dua puluh menit karena Wori ternyata tidak setenang yang diharapkan. Dia memilih waktu yang tepat sekali untuk menyelam ke dalam lautan, yaitu saat aku dan Simon sudah berhasil meraihnya. Kalau saja kami tidak berpegangan pada tali penanda yang sengaja diulur, kami pasti sudah terbawa pusaran kuat akibat gerakan jantan besar itu.

Mwo, bagaimanapun itu pengalaman yang menakjubkan. Aku bisa merasakan getaran lembut air saat Wori mengeluarkan suaranya yang dalam dan pelan. Aku dan Simon benar-benar menikmati waktu kami sampai Wori menimbulkan gelombang yang hampir mengacaukan segalanya. Butuh waktu lebih dari yang diperkirakan untuk kami kembali ke atas kapal sebab tali penanda terulur terlalu panjang dan kami terpaksa berenang agak jauh untuk mencapai kapal.

Saat ini badai sudah sangat dekat di belakang kami namun aku dan Simon tersenyum puas karena meski tak mendapat sampel apapun, kami berhasil mengambil gambar Wori dari dekat. Sekarang kami sedang bersama-sama mengamati rekaman itu. Kru kapal sibuk tegang di sekeliling kami, berusaha sebaik-baiknya membawa kapal menyelinap pergi dari ekor badai yang sudah menjilat-jilat. Gemuruh terdengar di kejauhan.

 

Leeteuk’s POV

Rasanya seperti saat aku melarikan diri untuk berlibur sebentar di Pulau Jeju. Saat itu benakku hampa saking penuhnya perasaan. Perasaan antisipasi yang sangat kuat karena hendak bertemu Yeppo, bingung tentang apa yang akan dilakukan saat sudah bertemu, serta penasaran tentang reaksinya adalah rasa yang paling dominan. Minggu kemarin juga begini. Ketika aku tahu Yeppo sudah di jalan menuju kamp, aku kelimpungan sendiri. Pekerjaanku tiba-tiba banyak yang salah, aku mendapati diriku bolak-balik pergi ke toilet yang jauh, yang melewati tempat parkir tamu, hanya setengah menyadari ada harapan aku melihat mobilnya datang. Aku benar-benar seperti remaja bodoh.

Namun disuruh mengulang berapa kali pun akan kulakukan. Mau menjadi bodoh sampai idiot pun akan kujalani. Perasaan saat akhirnya benar-benar melihat wanita itu dan dekat dengannya melebihi apapun di dunia. Merasa bahwa dia hanya sepenggalan tangan, hanya perlu berlari untuk melihat wajahnya, itu luar biasa. Kurasa dua tahun tak mengetahui keberadaannya membuatku begini.

Kami sampai di desa tepi laut itu tiga jam kemudian. Sebenarnya kalau diurutkan desa itu tidak terlalu jauh dari kamp, tapi kami harus memutari gunung untuk sampai ke sana, itulah yang membuat perjalanan jadi lama. Matahari yang sudah lemah, tersembunyi di balik gulungan awan hujan. Aku tahu di lautan badai sudah terjadi, aku bisa melihatnya dari tempat kami menunggu sekarang ini; yaitu sebuah bangunan di tepi dermaga penuh kapal-kapal pencari ikan.

Menurut informasi dari regu penjemput asli, kelompok ilmuwan selalu diturunkan di sana, bukannya di dermaga khusus militer. Ini karena peralatan yang mereka bawa juga harus diturunkan dan dermaga militer jauh sekali jaraknya dari jalanan utama.

Aku memandangi jajaran kapal dan tahu bahwa mereka belum sampai. Seseorang menghampiri kami, menanyakan orang yang bertanggung jawab dalam kelompok kami, aku pun maju. Lelaki itu mengatakan padaku bahwa dia adalah penjaga radio komunikasi dengan kapal riset militer itu, dan mereka memberitahunya bahwa sekarang ini kapal itu sedang berusaha melepaskan diri dari badai. Ada sesuatu yang terjadi dan mereka tidak bisa menghindari badai secepatnya.

Angin yang luar biasa kencang menerpa kami dan aku tiba-tiba membayangkan seperti apa kacaunya berada dalam kapal yang terus naik turun dipermainkan gelombang. Setengah melamun aku ucapkan terima kasih pada lelaki itu. Kupikir dia akan pergi, ternyata dia menemani kami di sana, tangannya memegang radio komunikasi yang bergemirisik kacau, sekacau perasaan khawatirku yang tiba-tiba memuncak.

Lelaki itu terus memandangi lautan dan dia berkata ringan padaku, tidak sesuai dengan wajahnya yang kaku, “Mereka sudah dekat. Harusnya beberapa menit lagi kita bisa melihat kapal itu.”

Entah apa maksudnya mengatakan itu, aku tidak peduli, sama seperti aku tak peduli seragamku yang sudah mulai basah akibat terpaan air hujan yang sangat lebat meskipun aku telah mengenakan mantel. Air merembes ke dalam dadaku melalui celah di leher mantel, wajahku basah kuyup, namun rasa dingin yang kurasakan bukan karena itu semua, melainkan karena aku tak juga melihat apa yang kuharapkan terlihat, yaitu titik kecil kapal militer yang mendekat.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Di suatu waktu saat mataku untuk kesekian kalinya terasa perih akibat tusukan air hujan, aku mendengar seruan si penjaga radio. “Mereka datang!” teriaknya mengalahkan suara angin.

 

Bee’s POV

Aku girang luar biasa melihat daratan. Bukan hanya karena akhirnya kami bisa mendapat tempat datar untuk berpijak, tapi juga karena bayangan jarak antara aku dan Jungsoo yang semakin mengecil telah mengangkat kegembiraanku seketika.

Tadi begitu diberitahu bahwa kami akan merapat dalam lima menit, aku segera memasukkan semua barangku dengan asal ke dalam ransel. Alat-alat penelitian kami sudah rapi menanti di anjungan, siap dipindahkan ke daratan. Jeonghui sudah berjaga di sisi kapal itu dan siap meloncat ke dermaga kapanpun kapal sudah cukup dekat.

Semua memang ada hikmahnya. Setelah tahu bahwa kami akan pulang sia-sia, semua peralatan langsung kami masukkan, dan itu sama rapinya dengan saat kami membawanya, sebab tidak ada muatan tambahan yang perlu dipindahkan dengan ekstra hati-hati. Itu jelas lebih praktis dan memudahkan pekerjaan kami, terutama dalam cuaca yang tidak bersahabat seperti sekarang. Kami selesai berbenah lebih cepat dan kemunculan Wori di saat terakhir tadi benar-benar bonus yang luar biasa.

Kurasakan guncangan kapal saat bertemu dengan dinding dermaga. Dari apa yang kudengar sepertinya para kru sepakat akan menunggu di dermaga publik ini sebelum kembali ke dermaga militer. Menanti badai berlalu lebih masuk akal dibandingkan dengan menerjangnya.

Seperti biasanya, aku akan turun paling belakangan, memastikan semua peralatan telah diturunkan, mengecek untuk yang terakhir kalinya meski tanggung jawab utamaku hanyalah kotak penyimpan sampel yang saat ini kosong. Saat akhirnya aku menginjakkan kaki di dek, barang-barang sudah diangkut semua ke truk penjemput kami dari angkatan darat. Aku mengedarkan pandangan mencari truk kami itu dan pemandangan yang kudapati hampir membuat kakiku bengkak kejatuhan kotak sampel.

Untung Jungsoo menahan kotak itu untukku, “Hati-hati,” ujarnya di sela-sela deru angin.

 

Leeteuk’s POV

Aku bisa merasakan tatapan Yeppo yang terus terarah kepadaku di kabin depan truk. Sebagai satu-satunya wanita dia mendapat tempat duduk di depan bersamaku, pemimpin regu penjemputnya, dan supir kami. Di belakang, rekan ilmuwannya yang lain berdesakan dengan sisa regu kami dan peralatan yang luar biasa banyak itu. Untuk mengurangi kecanggungan, aku memancing percakapan basa-basi dengannya—juga agar prajurit yang menyetir truk ini tidak curiga.

Pertanyaan-pertanyaanku dijawabnya dengan lugas dan singkat, membuatku kesusahan memancing percakapan yang lain. Akhirnya aku hanya diam dan berusaha tidak balik memandangnya meskipun ingin sekali. Suaranya terdengar sangat heran, membuatku hampir tersenyum, “Kenapa kau yang datang?”

Aku mengoreksi ucapannya secara halus, “Saya, mendapat perintah membawa regu penjemput pengganti karena regu penjemput pertama sedang bertugas ke Seoul.”

Mulutnya terbuka dan dia tiba-tiba tampak malu. Kulirik sekilas juniorku di balik kemudi, lalu setelah yakin dia tidak memperhatikan, aku memberi Yeppo kedipan cepat penuh arti. Yeppo memalingkan wajahnya cepat-cepat lurus ke arah depan. Lalu kami bertiga terdiam.

Beberapa saat kemudian aku terkejut saat merasakan bahuku dibebani sesuatu. Yeppo tertidur. Juniorku rupanya melihat itu dan dia nyengir penuh arti. Meski tidak suka dengan arti cengirannya yang seolah berkata wow, Senior, kau dapat jackpot!, aku tak tak bisa marah juga karena itu malah akan mencurigakan. Akhirnya aku hanya memberinya kode tanpa suara untuk terus menyupir dengan baik. Berlagak gentleman aku membenarkan letak kepala Yeppo di bahuku. Hidungku mengenai puncak kepalanya dan dengan lihai aku berpura-pura membenarkan letak kemejanya hanya agar bisa mencium puncak kepala yang kurindukan itu.

 

Bee’s POV

Hari ini benar-benar sempurna. Sejak turun dari kapal wajah Jungsoo tak pernah lepas lama dari pandanganku. Aku heran sendiri kenapa aku tak bisa puas memandanginya. Bahkan sekarang, saat kami semua duduk santai di kantin untuk makan malam. Kami, kelompok ilmuwan dan regu penjemput terpaksa terlambat makan malam karena baru datang, namun itu membuat suasana makan lebih santai. Rupanya regu penjemputku ini terdiri dari mereka yang masih junior. Jungsoo satu-satunya senior di sana, jadi dia yang paling berwenang. Di bawah komandonya, makan malam kali itu terasa santai dan mudah dicerna karena dia memperlakukan semua orang dengan santai.

“Mereka benar-benar membuat kami khawatir,” Baeyeong berkata di sela-sela ceritanya tentang pengalaman kami tadi.

Aku yang duduk di ujung yang berlawanan dengan Jungsoo menangkap pandangannya yang tajam. Dia memperhatikanku sekilas sebelum kembali menatap Baeyeong, “Memang kenapa?” tanyanya.

Baeyeong lalu menceritakan apa yang terjadi—apa yang kami lakukan—di saat-saat terakhir sebelum kami akhirnya benar-benar pergi menuju daratan. Selama dosennya bercerita, Jeonghui mengeluarkan kamera dan memperlihatkan rekaman kami tadi pada yang lain.

Kuperhatikan wajah Jungsoo perlahan menggelap dan keras. Dengan gaya rambutnya saat ini hilang sudah kesan lembut yang selalu tampak di saat dia masih seorang penampil. Aku jadi ingat saat dia marah padaku di pantai di ujung Jejudo entah kapan itu. Wajahnya sungguh kaku dan dia tampak berusaha keras mengembalikannya ke ekspresi datar ketika Baeyeong menatapnya.

Aku memilih menghindari tatapannya kali ini. Bertingkah mengikuti Simon, aku berkonsentrasi pada makanan di hadapanku. Bukan berarti aku tidak menyadari tatapan tajam Jungsoo yang sesekali terarah padaku. Sementara para juniornya sibuk ber-waah dan oooh, aku tahu dia sama sekali tidak tersenyum.

Baeyeong benar-benar tahu penutup yang sempurna untuk makan malam yang sempurna.

 

Leeteuk’s POV

Mereka sudah kembali ke kamar masing-masing. Setelah makan malam kami semua berpisah dan aku harus melanjutkan sedikit pekerjaan yang tertunda tadi siang. Aku tak bisa mengantarkan Yeppo ke kamarnya. Mungkinkah saat ini dia sudah sedang beristirahat? Membaringkan tubuhnya yang hampir terseret ke dalam lautan bersama paus besar itu?

Aku menggigil mengingat penuturan Profesor Baeyeong saat makan malam tadi. Kenapa, di dunia sebesar ini, Yeppo memilih melakukan tindakan beresiko sebesar itu? Bayangan aku tak melihatnya lagi sungguh membuatku tidak nyaman.

Perlahan aku memasuki blok tempat mereka menginap dan aku langsung terpaku melihat kamar Yeppo gelap. Apa dia sudah tidur? Aku menghampiri dan mengetuk pintu kamarnya perlahan. Sepi, tidak ada jawaban.

Sesaat aku tertegun di depan pintu. Mungkin Yeppo benar-benar kelelahan. Aku harus membiarkannya beristirahat, putusku sambil membalik badan dan mulai melangkah pergi. Baru dua langkah, kudengar pintu kamar membuka. Aku berbalik dan melihatnya.

Matanya setengah terpejam, rambutnya acak-acakan, bercelana pendek dan kaos kebesaran, dia mencoba menatapku, “Jungsoo?” tanyanya memastikan.

Aku tersenyum ke arahnya. Seketika kejengkelanku akibat kenekatannya lenyap. Hanya ada rasa sayang yang demikian besar membuncah, sampai membuatku khawatir. Aku mendekatinya. “O. Na-ya.. Sudah tidur?”

Dia hanya mengangguk, menoleh sedikit ke dalam kamar, “Mau masuk?” tanyanya serak.

Aku mau sekali. Tapi dia kelelahan, jadi aku menggeleng. “Hanya ingin melihatmu sebelum tidur,” aku berdalih. Sekarang matanya sudah terbuka, tapi aku tahu dia masih sangat mengantuk. “Lelah sekali ya?” tanyaku masih dengan suara pelan.

Dia tidak menjawab dan malah memelukku. Kepalanya diletakkan di dadaku. “Dia cantik sekali, Jungsoo-ya…” gumamnya lirih.

Aku melihat sekeliling. Mungkin lebih baik aku masuk. “Kita masuk saja,” aku merubah keputusan.

Dia melepaskanku, menatapku, meraih tanganku, lalu menarikku masuk. Aku melarangnya saat hendak menyalakan lampu. “Biar saja. Kau butuh tidur. Ayo berbaring lagi, aku temani kau tidur,” kataku menyuruhnya tidur lagi di atas hamparan kasur di tengah ruangan.

Awalnya dia ragu, tapi begitu aku memaksanya, dia menurut. Kami berbaring bersisian. Dari jarak sedekat ini aku bisa mengamati bayangan wajahnya karena lampu terang di luar kamarnya. Dia memperhatikanku yang sedang memperhatikannya. Kutata poni tak beraturan di dahinya dan aku berbisik, “Selamat datang…”

Dia tersenyum lalu memelukku erat, kepalanya berbantal lenganku. “Aku pulang…” balasnya. Di dadaku dia berbisik, “Wori luar biasa, Jungsoo-ya.”

“Wori?” tanyaku sibuk membelai kepalanya dengan satu tangan sementara tangan lain memeluk tubuhnya.

“Paus kami. Dia tidak muncul-muncul selama seminggu, membuat kami putus asa, tapi lalu di saat terakhir…” aku mendengarnya mulai bercerita. Suaranya sangat riang dan bersemangat seolah dia bukannya baru bangun tidur. Dia menggambarkan Wori, menggambarkan keputusasaannya menunggu hewan itu, menceritakan degup jantungnya saat terjun ke laut setelah memaksa semua orang, berbagi rasa saat Wori hanya lima meter di depannya, mendeskripsikan tinggi gelombang dan siraman hujan, memperdengarkan suara petir, menggerak-gerakkan tangan saat melakukan semua itu. “Akhirnya dia pergi, tapi aku senang,” tutupnya.

Aku diam beberapa saat. Seiring ceritanya berkembang, rasa khawatirku semakin besar. Petir, gelombang tinggi, hewan raksasa, laut tak berdasar. Tanpa bisa dicegah aku berkata, “Tapi aku khawatir.”

Dia terdiam. Kepalanya mendongak menatapku. Aku mengerjap dan memutuskan aku harus mengatakannya. Aku mau dia tahu seberapa penting dia untukku, “Aku hampir berteriak-teriak memanggilmu di dermaga tadi saat tak kulihat juga kau keluar dari kapal. Padahal aku tahu kau ada di sana, tapi setiap aku berbalik dari meletakkan barang di truk dan kau masih belum muncul, rasa gugupku makin memuncak. Uri Yeppo eodina? Kenapa tak keluar juga? Aku hampir melayang saat melihatmu. Aku kangen padamu,” jelasku merangkum wajahnya.

“Nado…” balasnya langsung. Matanya sudah lebih dulu memberitahuku.

“Aku belum selesai,” kataku. “Saat mendengar si profesor itu bercerita dan saat melihat rekamanmu, rasanya seluruh makan malamku langsung disedot di dalam perut. Aku lemas dan hampir menaiki meja untuk meraih dan memelukmu. Rasanya menempatkanmu dalam pelukan seperti ini sangat mendesak. Aku membutuhkannya terutama setelah bayangan bahwa aku mungkin saja kehilanganmu…”

“Jungsoo…” tangan Yeppo terangkat ke wajahku. Aku menyambutnya dengan mencium ujung-ujung jemarinya.

“Tolong jangan membuatku khawatir lagi. Menunggumu saja sudah cukup buruk, tolong jangan tambahi dengan membuatku mencemaskanmu. Aku tidak sanggup,” aku hampir bisa dibilang memelas.

Yeppo meraba wajahku. “Aku memikirkanmu,” katanya akhirnya setelah sekian lama. Aku hanya menatapnya. Dia membuka mulut lagi, “Di sana aku memikirkanmu setiap saat. Aku ingin pulang, aku ingin kembali ke daratan, begitu. Kalau aku bisa mendapat hasil kemudian pulang dan bertemu denganmu, itu adalah cita-cita yang tercapai. Aku ingin kembali ke sini, menemuimu, membawa hasilku. Itu bagus kan?”

Kenyataan bahwa dia memikirkanku, ingin kembali ke sisiku, seketika mengangkat beban yang kurasakan. Aku mungkin khawatir, aku mungkin cemas, namun dia juga berusaha. Berusaha mendapat apa yang diinginkannya sekaligus berusaha kembali ke dalam pelukku. Memikirkan itu membuatku memeluknya erat. “Itu bagus sekali,” aku memuji usahanya.

Kami lalu terdiam. Nafas kami seolah saling melengkapi. Tanganku tak berhenti bergerak menyusuri punggungnya. “Tidurlah, wanita cantik… tidurlah…” gumamku pelan setengah sadar.

Yeppo tak menjawab, hanya tangannya yang kemudian terulur ke leherku dan pipinya melesak di dadaku. Aku mencium pelipisnya penuh rasa sayang. Tidurlah.

Lebih larut malam itu, aku melepaskan diri darinya setelah yakin dia tertidur nyenyak. Mengendap-endap aku keluar dari kamarnya dan kembali ke tempatku sendiri. Selamat tidur.

 

 

KKEUT.


Iklan