Tag

, , ,

Penulis: Beauty

[Semoga ini bisa diterima sebagai pengganti serial Oneshot Attraction yang bulan ini tidak publish.]
Recommended OST: Same Dream by Alex Chu

http://wp.me/p1rQNR-ec

>>>

Wajahnya berbentuk telur dengan dagu yang lebih lancip sedikit. Di pipi kirinya terdapat satu lesung berbentuk aneh, seolah dipaksakan untuk berada di sana. Matanya lumayan lebar, hasil operasi pengangkatan lipatan mata. Namun yang paling luar biasa menarik perhatianmu adalah bibirnya yang merah. Dalam hatimu kau menyumpah sekaligus terlena, lalu menyumpah lagi karena merasa rendah akibat rasa kagum yang kau rasakan bersama rasa iri. Sebagai wanita kau merasa itu tidak adil karena seharusnya bibir seindah itu adalah milik wanita. Sebagai kekasihnya kau tidak bisa tidak tertarik pada bibir itu.

Dia menatapmu, kau melengos. Di kepalamu berputar bayangan saat nanti di rumah dia menasihatimu untuk tidak bertindak gegabah. Baginya, kau memandanginya di muka umum adalah tindakan ceroboh yang bisa membuat hubungan kalian berdua berantakan dan publik berpesta cibiran. Namun kau tak bisa menahannya. Dia kekasihmu, kau tak bisa mencegah rasamu sendiri yang begitu mengaguminya.

Tepukan membahana dari pintu masuk saat sesosok wanita cantik nan anggun bergerak mulus memasuki ruangan tanpa cacat. Kau mengaguminya dan sungguh menyukai apa yang kau lihat. Namun dentuman kagum di dadamu segera berubah menjadi dentuman kesakitan saat melihat wanita itu mendatangi kekasihmu. Tangan besar yang anehnya tampak cantik milik wanita itu dengan luwes melingkari lengan kekasihmu. Jemarimu melingkari kaki gelas semakin ketat.

Pembawa acara mengumumkan sekarang adalah saatnya upacara. Adik-adik kekasihmu saling bersuit-suit riang. Satu di antara mereka menempatkan diri di sebelahmu. Kau tak perlu menoleh untuk tahu bahwa dia sedang memandangimu dengan waspada dan iba. “Hyungeun…” lelaki itu memulai lirih, Abang… katanya.

“Hajima, jangan katakan,” putusmu sama lirihnya. Kau benci kemampuanmu bersandiwara. Kau lontarkan senyum penuh binar pada lelaki itu dan bisa kau lihat di matanya bahwa dia meragukan pemikirannya sendiri. “Aku mengerti,” ucapmu lagi.

Upacara pernikahan pun dimulai. Penuh gelak tawa, suka cita, musik dan champagne. Tidak khidmat, namun ceria. Yang paling luar biasa dari semua itu adalah kau tersadar. Dengan semua rasa sakit yang kau rasakan, matamu terbuka dan kering. Kau berharap kau merasa hampa, namun dirimu tidak sebaik itu, kau tetap sadar saat kau bagai digodam berkali-kali.

Adik kekasihmu yang lain menghampirimu, “Noona, Kak, kau tidak apa-apa? Kuambilkan makanan untukmu ya?” Kau menelan minumanmu dengan susah payah agar menghasilkan anggukan kepala. Dia pun pergi.

Memandang punggung calon adik iparmu kau ingin ikut melangkah pergi namun tak sanggup. Kau harus memandang ke arah lain agar penderitaanmu tak mengambil alih kontrol kelenjar air mata dari otakmu.

Matamu menangkap sosok anak itu, anak kekasihmu, kau pun menghampirinya. Anak itu sedang digendong oleh salah satu ibunya, “Kyumin…” kau memanggil anak itu dengan pelan.

Kyumin menoleh dan memandang tak kenal padamu. Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi anak kecil memang selalu lupa. Kau ulurkan tangan menawarinya gendongan. Hatimu mencelos gembira saat anak itu langsung menyambutnya. “Omo, Eonnie! Kakak! Kyumin suka padamu!” Hyorin, salah satu ibu—ah, maksudnya salah satu penyanyi yang berperan sebagai ibu—Kyumin berseru senang melihatmu cepat akrab dengan Kyumin.

Kau tersenyum membalas senyuman polos Hyorin dan kemudian beralih menatap Kyumin. Kau tepuki punggungnya pelan dan anak itu mulai mempermainkan antingmu.

Tiba-tiba dari belakang kau merasa pundakmu ditepuk. “Hati-hati, antingmu bisa ditariknya,” kau dengar suara kekasihmu pelan. Kau menggigit lidahmu agar teralihkan dari rasa tidak rela yang menyeruak tiba-tiba. Yang kau lakukan kemudian adalah tersenyum terlalu lebar ke arah Kyumin. Senyum balasan dari anak itu menghiburmu sedikit. Namun rasa sakitmu menguat lagi saat kau dengar kekasihmu berbisik lirih sambil pura-pura mendekati Kyumin, “Kalian berdua tampak sempurna, andai saja kau yang jadi ibunya.”

Hyorin ikut mendekat, “Kyumin-a… Appa, Ayah, sekarang sudah menikah. Sekarang Kyumin hanya tinggal berlima bersama kami, Sistar Eomma-deul…” ujar gadis muda itu pura-pura protes karena pasangannya dalam acara merawat bayi kini menikah.

Kekasihmu mengambil Kyumin dari gendonganmu dan membantah Hyorin. Akhirnya mereka bercanda mengabaikanmu. Kyumin mengulurkan tangan berusaha meraih antingmu lagi, tapi kau menggeleng dan berjalan menjauh.

Sungguh, ini semua terlalu menyakitkan. Setelah memiliki anak dengan empat wanita yang berbeda sebagai ibu anaknya, kekasihmu akhirnya memutuskan menikah. Dan apapun alasannya, melihat pernikahan mereka sangat menyakitkan untukmu. Tuhan tahu seberapa keras usaha kalian untuk menutupi hubungan kalian dari publik karena posisi suamimu sebagai artis. Dan di atas semua itu, dia menikahi wanita lain.

“Noona,” seorang adik suamimu memanggilmu yang berjalan agak terlalu cepat menuju balkon. Kau menoleh dan mendapati Sungmin, adik suamimu yang paling perhatian. Dia sudah melihat matamu dan kau tahu tak ada gunanya mengelak. Untungnya Sungmin mengerti. Yang dilakukannya hanyalah mengikutimu sampai di balkon. Di sana kalian berdiam diri memandangi gelap malam. Rasanya kau ingin berterima kasih pada angin malam yang dingin karena membuat perasaanmu sedikit membaik.

Akhirnya Sungmin berkata, “Ini hanya acara, hanya pura-pura.”

Kau menunduk, “Ara… Aku tahu…”

“Tapi tetap sakit ya?” Sungmin menebak.

Kau tak berani menjawab ataupun menoleh karena air matamu sudah turun. Kau hanya mengangguk. Rupanya Sungmin tahu. Akhirnya dia diam membiarkanmu menangis. Saat kau pikir sudah bisa menguasai diri, kau berucap lirih, “Bagaimanapun aku yang ingin menikah dengannya.”

“Kalian akan menikah, Noona. Suatu hari nanti. Ini, acara We Got Married ini, hanya pertunjukan. Semuanya direkayasa, tidak sungguhan. Leeteuk Hyung milikmu.” Sungmin meyakinkan.

“Benar,” anggukmu. “Milikku yang bahkan tak boleh kusebut namanya di depan siapapun selain kalian,” lanjutmu diiringi tawa miris. Kalau hanya menikah untuk pertunjukan rasanya kau tidak akan sesakit ini. Namun berada dalam hubungan super rahasia sudah menjadi bisul di pantat yang sudah berkembang sangat menyakitkan bagimu. Ini semakin tak tertahankan. Memikirkan itu kau menggigil.

Angin dingin menjadi terlalu dingin untukmu. Bahkan kakimu sudah sangat dingin. Kau jadi ingin buang air kecil. Rasanya mendadak tak bisa lagi kau pertahankan…

Kau membuka matamu dan cepat-cepat berlari ke kamar mandi. Setelah lega, kau keluar dengan kesadaran tak jelas. Di depan pintu kamar kau berhenti termangu menyadari apa yang baru terjadi. Kau tidur siang dan bermimpi. Kau bermimpi hadir di pernikahan Leeteuk dan Kang Sora. Rasanya menyakitkan dan pedih. Kau terlalu memuja Leeteuk untuk merasa bahagia bagi pernikahan pura-puranya di acara We Got Married. Kau terlalu mendambakannya. Kau terlalu cemburu pada Kang Sora.

Namun kau hanyalah seorang fans. Leeteuk bahkan tak mengenalmu. Kalian bahkan tidak menjejak tanah yang sama. Semuanya hanya impian. Masih syukur kau jadi kekasihnya di dalam mimpi, bagaimana kalau kau hanya jadi taplak meja di pesta itu. Tak bisa bergerak, tertumpahi anggur, mungkin dikunyah oleh Kyumin, anak Leeteuk di acara merawat bayi yang berjudul Hello Baby. Masih untung kau sempat jadi kekasihnya, pikirmu sambil duduk di tepi ranjang.

Pikiranmu kosong. Wajah bahagia Leeteuk dalam balutan tuksedo tergambar di matamu. Dan air matamu menetes. Kau menyadarinya, kau merasakannya. Meski itu hanya mimpi, meski kau hanya seorang fans, kau merasakannya.

Itu sakit, kau menyadari tanpa mampu menghentikan tangisan yang tak kau harapkan hadir.

KKEUT.

 

 

PS: Ini cerita yang saya kirimkan untuk proyek 11Projects11Days milik penerbit NulisBuku. Pada dasarnya ini songfiction berdasarkan tema hari ke-8, yaitu Cemburu (by Dewa). Berkebalikan dengan lagunya yang menggebu-gebu, entah kenapa rasa cemburu saya pada Kang Sora rasanya sunyi karena itu cemburu yang tidak beralasan *kondisi yang menyedihkan*. Terima kasih sudah mau membaca. DAAANN… *jejeeeng* setelah pengumuman, ternyata cerita ini kepilih untuk dimasukin bukunya. Judul bukunya: CEMBURU. Cerita ini masuk di buku #2. Yuuuk, pada beli bukunya… *ajak2*

Iklan