Sudah lama sekali aku tidak pulang ke kost. Katakanlah… dua abad? Oke, itu berlebihan. Tapi yang jelas cukup lama untuk melewatkan beberapa fase kehidupan, rutinitas, serta peristiwa-peristiwa yang sempat terjadi. Tidak perlu kukatakan semua karena aku tidak mengetik cerita ini untuk menjabarkan semua itu. Aku hanya ingin menceritakan satu kisah sedih di hari Sabtu yang baru saja kusadari.

Peristiwanya mungkin tadi malam, jadi sebenarnya aku tak tahu pasti. Tapi sebelum menceritakan hal itu, aku akan memulainya dengan menceritakan sedikit latar belakang.

Sudah lama aku ingin punya hewan peliharaan. Top rated pet dalam daftarku adalah kucing, lalu yang kedua kelinci, dan yang ketiga adalah burung. Sampai hidupku hari ini, aku mendapatkan ketiganya dalam kronologi beralur mundur. Peliharaan pertama yang muncul adalah burung—beo, kalau kalian perlu tahu—yang kupelihara saat SMU. Kemudian yang kedua adalah sepasang kelinci yang menjadi almarhum-almarhumah tak lama kemudian; itu saat akhir masa studi S1-ku. Yang ketiga, aku mendapatkan apa yang paling kuinginkan selama ini. Kucing.

Sebenarnya tidak tepat kalau kubilang aku memeliharanya. Kosku selalu didatangi oleh banyak kucing kampung liar (ini adalah fenomena yang baru aku temui setelah menetap di Bogor, di sini banyak sekali kucing!). Sebelumnya mereka hanya datang, mengeong-ngeong, lalu pergi untuk kapan-kapan kembali lagi. Sampai suatu ketika datang seekor kucing muda yang tampak rapuh. Di antara banyak sekali kucing lain, dia satu-satunya yang paling malas. Malas mencari makan, malas bercengkerama dengan lainnya, malas pergi-pergi. Satu-satunya hal yang rajin dilakukannya adalah tiduran di keset depan kamarku sambil mengeong minta makan kalau melihat orang lewat (ya, bukan hanya aku, dasar kamu kucing tak setia).

Waktu berlalu, dia masih tetap kurus, namun orang-orang yang ditemuinya sudah berubah. Penghuni kosku bertambah. Banyak orang baru yang datang dan lebih perhatian padanya. Karena semakin banyak yang peduli padanya, aku memberikan usul untuk menamai kucing itu dengan nama: Supri. Nama lengkapnya adalah Suprihatin karena dia sangat prihatin (kalau tidak boleh disebut malas) dalam hal makan. Kadang namanya berubah jadi Supriono meskipun jelas jenis kelaminnya adalah betina. Kenapa Supriono? Karena panggilannya bisa dengan semena-mena kurubah jadi Oon. Ya, dia memang oon karena setiap ada makanan dia akan melenggang santai dan akhirnya kalah oleh kucing lain, atau kadang dia tidak mampu menggigit makanannya sendiri, kurang oon apalagi?

Aku suka melihat Supri. Berbeda dengan yang lain, dia suka duduk anggun di atas kaki belakangnya sehingga bagian dadanya mengembang indah. Dia memang hanya kucing kampung, tapi selera makan dan sikapnya membuat dia tidak terlalu kampungan seperti yang lain. Selain itu karena lebih sering di rumah, dia juga sedikit lebih bersih dari yang lain.

Sampai akhirnya tiba waktunya bagi betina muda itu berkembang biak. Aku masih ingat waktu itu sangat ribut. Pejantannya adalah pembangkang yang berbulu putih kotor. Setiap diusir, dia akan membalas dengan bunyi kasar yang seolah bilang, “Berhenti menggangguku! Aku mau kawin!” Uuugh, dia sangat menyebalkan.

Sebagai seorang pengamat Supri, aku tidak rela kucing muda mungilku kawin dulu. Dia masih harus bertumbuh, tidak boleh pacaran dulu *apa deh…* Apalagi aku kurang suka dengan calonnya. Sayang sekali rangkaian penelitian yang kulakukan menyita lebih banyak perhatianku daripada Supri, sehingga akhirnya bisa ditebak: Supri hamil! Oooh, tidaaaak! Goncang dunia persilatan!

Kembali ke cerita, Supri adalah kucing hamil yang ribut. Si pejantan beberapa kali mendatangi Supri lagi entah untuk apa, tapi sejak perutnya menggembung Supri hanya makin dan semakin malas. Dan aku makin dan semakin sibuk hingga menelantarkan Supri. Maafkan aku, Supri.

Akhirnya, setelah masa yang aku lupa kapan tepatnya, aku melihat Supri selalu diintili—diikuti, kalau kalian tak tahu artinya; hey, ini tulisanku, jadi enjoy the writing aja deh—oleh tiga kucing kecil jelek yang lebih mirip pejantan tidak sopan itu. Selain penampakannya, sikap dan tingkah lakunya juga lebih mirip dengan si bapak. Suka menggeram—mencicit, waktu usianya lebih kecil, penakut, dan luar biasa lincah. Pokoknya sangat tidak keibuan sekali, maksudku sangat tidak keSuprian sekali. Mereka bertiga tidak ada cantik atau anggun-anggunnya sama sekali, bikin pusing liatnya karena selalu berlarian, dan sooooo adorable (sindrom nenek yang bangga; oh tidak! Aku menua!).

Waktu berlalu dan Supri tampak semakin matang. Anaknya semakin ga jelas, meski masih tidak sopan. Dan aku semakin sering ke Jakarta untuk satu dan lain urusan. Intinya, aku jarang bertemu Supri.

Lalu akhirnya aku datang lagi ke Bogor. Aku melihat Supri bersama satu anaknya yang sudah besar tapi masih selalu minta nenen. Aku pikir ini adalah si bungsu yang belum bisa lepas, jadi aku tidak terlalu perhatian. Menurutku tingkah mereka biasa saja. Sampai aku mendengar cerita itu.

Teman sebelah kamarku bercerita, “Kasian banget lho si Supri. Masa kapan itu anak-anaknya dimasukin ke karung sama si Mang Gondrong terus dibuang ga tau kemana. Supri manggilin anaknya terus semaleman.”

Sekedar informasi, Mang Gondrong itu penjaga kosan yang disebut seperti itu karena dia gondrong, literally. Dan biasanya dia yang bertanggung jawab akan banyak hal tidak menyenangkan di kosan seperti keran yang bocor, lampu mati, nyiram taneman, ngurusin taman, buka gerbang kalo ada mobil masuk, dan hal-hal serupa itu lah…

Cukup tentang Mang Gondrong, mari kembali ke Supri karena cerita ini tentang dia. Setelah itu aku memandang Supri dengan berbeda. Aku kasihan padanya. Setelah dibuang, temanku itu bercerita, hanya satu anaknya yang berhasil kembali, yang dua entah kemana. Aku sungguh kasihan padanya.

Lima hari berlalu dan sekarang aku selalu berusaha memikirkan makanan Supri dan anaknya yang tinggal satu. Memikirkan tidak sama dengan memberi makan ya, kalau tukang sayur tidak lewat atau lewat tapi pas ga bawa ikan, ya otomatis Supri harus mencari makanannya sendiri (lagi, maafkan aku, Supri).

Hari ini, hari Sabtu yang cerah dan cantik. Angin berhembus sejuk, matahari bersinar cerah demi mengeringkan jemuran, kendaraan di Bogor tidak banyak (oh yeah, itu adalah anugerah karena kami bebas dari macet), aku tidak kemana-mana. Aku duduk di pinggir jendela. Bukan, bukan untuk melamun, lebih untuk melanjutkan menulis apa yang belum kulanjutkan, ini karena meja tulisku ada di pinggir jendela.

Aku sedang berkonsentrasi mengetik ketika kemudian kudengar Supri mengeong-ngeong menyebalkan seperti suaranya kalau mau kawin. Aku melirik ke luar, kucari pejantan mana lagi yang sedang menggoda Supriku (huh!). Tapi tidak ada. Tidak ada satu pejantan pun dan Supri sedang mengeongi udara kosong.

Dia sendirian. Sikap tubuhnya mengharap, sementara seonggok makanan kesukaannya yang berbau amis berada tepat di hadapannya. Ada apa ini? Makanan ada, kesukaannya karena tidak pedas, tapi kenapa bukannya makan dia malah mengeong-ngeong merana begitu?

Lalu aku menyadari sesuatu. Dimana anaknya? Anak yang tadi malam sebelum tidur masih ngeringkel nenen ke ibunya, anak yang setiap melihat manusia berlari menjauh tapi langsung mendekat begitu tahu bahwa sang manusia membawakannya makanan—oh ya, dia semenyebalkan itu, anak yang selalu mengobrak-abrik tumpukan piring kotor di depan kamarku sehingga setiap kali habis makan aku harus berjalan jauh ke tempat cucian piring hanya agar teras depan kamarku tidak kotor menjijikan. Dimana dia? Si anak?

“Meoooong~ Meoooong~” Supri terus mengeong tanpa menghiraukan makanannya.

Tetanggaku bergumam pelan, “Kayaknya anaknya ketangkep lagi deh, dibuang lagi.”

Aku yang sedang memegang handuk habis cuci muka langsung berhenti bergerak. “Begitukah?” pikirku dalam hati. Aku harap itu tidak benar. Aku harap sepulang aku belanja nanti, anak Supri sudah ada lagi mengganggu ibunya.

Aku pun pergi berbelanja. Sepertinya kejadian aku lupa bawa dompet yang berisi uang dan mempermalukan diriku sendiri di kasir dengan tidak jadi membeli beberapa item adalah firasat untuk sesuatu yang tidak baik yang akan terjadi. Saat aku sampai di kos lagi, Supri sedang duduk memandangi pintu masuk. Matanya tidak lepas dari sana, terkadang suaranya terdengar. Sedih. Memanggil dan memanggil, namun tak ada yang datang.

Aku tidak mendekatinya. Saat itu aku tidak belanja ikan untuk memberinya makan, jadi rasanya kejam kalau aku mendekatinya. Dia akan mengira aku hendak memberinya makan padahal aku hanya mau mengelusnya.

Supri duduk di tempatnya yang biasa. Di bawah jendela, di atas kesetku yang sudah kupindah tidak lagi di depan pintu kamar. Dari dalam aku memandangnya iba. Ternyata diceritain dan menyaksikan sendiri seekor ibu kucing yang kehilangan anaknya sangat berbeda rasanya. Yang terakhir aku bisa merasakan kesedihan Supri dengan lebih intens. Dia kesepian. Dia mencoba berbaring di sana tapi lalu duduk lagi. Mungkin rasanya tidak sama. Kemarin dia masih berbaring di sana, bergelung bersama anaknya yang tinggal satu. Sekarang dia sendirian.

Mungkin dalam benak Supri, “Pintu masuknya itu kan? Kenapa sosok anakku tak kunjung kelihatan? Kemana dia? Aku sudah memanggilnya berkali-kali untuk makan. Orang-orang ini sibuk memasak sarapan dan punya jatah untuk kami, kenapa dia malah tak kunjung muncul? Apa dia main bersama ayahnya? Bukankah ayahnya sudah tak pernah kelihatan lagi? Anakku, dimana kamu?”

Sungguh, Supri sangat kasihan.

Aku tidak tahu apa tepatnya yang kurasakan. Supri mungkin hanya kucing kampung liar yang tidak pernah dibawa ke salon, tapi dia tetap makhluk bernyawa yang meskipun tak diberi akal namun diberi perasaan. Kenapa mereka (Mang Gondrong dan bosnya alias induk semangku) tega sekali memisahkan anak dari induknya? Supri tidak pernah mengotori kos ini dengan pupnya. Dia punya tempatnya sendiri untuk pup. Dia juga tidak pernah mengganggu mereka; kalau ada yang terganggu itu harusnya kami karena dia selalu mengeong-ngeong minta makan di depan kamar kami, tapi kami toh tidak keberatan. Lalu kenapa? Kenapa mereka tega sekali? Dibuang kemana lagi sekarang anak si Supri?

Supri, yang sabar ya…

 

 

PS: saat ini Supri sedang bunting lagi. Semoga rombongan anak kloter ke-2nya tidak mengalami nasib yang sama seperti kakak-kakak mereka.

 

KKEUT.
http://wp.me/p1rQNR-e3

 

Iklan