Tag

, , ,

Cast: Chitose as Aku; Annika as Gadis itu; Henry (being mentioned)

Reality : fiction = 1 : 99 (%)

Category : Gracillaria (not ff), kids to all ages

Setting: Akeshi, Hokkaido; the beginning of fall

Synopsis: On the way to the tip of the island, an untold love rose up in several years. Yet, it’s not ended. Still waiting for a tomorrow.

***

 

Goncangan bus yang kosong menggerakkan kepalaku. Dalam udara bertemperatur 25°C aku tak merasakan sedikit pun panas. Musim gugur sudah di depan mata namun udara masih nyaman untuk dinikmati tanpa jaket. Mataku tak lepas dari rambut coklat yang bergoyang di depanku.

Suara debur ombak di kejauhan tertangkap oleh telingaku. Menciptakan alunan nada yang mengiringi teriakan burung camar di tepi pantai. Gadis itu memindahkan rambutnya ke salah satu pundak dan aku bisa melihat lehernya dengan jelas saat dia melakukannya. Sekali lagi burung camar memekik dan hembusan angin yang menampar jendela bus membuatku ingin bernyanyi bersama mereka yang terbang bebas di udara. Namun tak seperti mereka yang hanya terikat pada lokasi ikan-ikan malang di kolom air, aku terikat gaya gravitasi, dan terikat bentuk tubuh yang tanpa sayap. Aku tak bisa terbang, aku bukan berada di luar sana, aku ada di dalam bus, orang-orang akan menganggapku aneh kalau tiba-tiba aku menaiki kursi untuk menyanyikan lagu para camar. Untuknya yang membuat nyanyian camar kuanggap indah.

Kukedipkan mata sekali dan aku melihatnya mengangkat lengan ke sandaran di sebelahnya. Henry mengatakan aku gila. Menyukai gadis yang sama bertahun-tahun. Menyukai gadis yang tak pernah berani kutanyakan namanya. Aku tak mengerti bagaimana orang menganggapku gila hanya karena menyukai orang lain. Bagiku merekalah yang gila karena menganggapku gila sementara aku selalu merasa waras saat aku menyukai gadis itu.

Bagaimana kau bisa menjadi gila saat nyanyian camar, angin dan ombak begitu indah mengalun di telingamu? Orang gila tak akan meresapi keindahan, begitulah teoriku. Bersamanya, semua keindahan itu datang. Saling berbenturan membawa ketenangan. Aku tuli dari semua hal kecuali suaranya, suara gerak tubuhnya, dan suara burung dan angin dan udara. Aku terhempas ke dasar bumi saat keberadaannya membuatku melayang. Aku menjadi buta kecuali untuk melihatnya. Bumi berputar untuknya. Bumiku. Dan itu indah.

Lalu aku masih mencari jawaban bagaimana saat gadis itu muncul aku akan berhenti bernafas sekaligus mengalami hiperventilasi. Aku ingin mengatakan dialah oksigenku, namun aku tahu dia tak selalu berada di sekitarku untuk bisa disebut oksigen. Selain itu saat ini semuanya baik-baik saja karena dia membelakangiku, namun aku akan terbakar saat aku mendapati wajahnya di hadapanku. Rasanya seperti dipanggang. Semua yang kuketahui bisa menjadi hangus dan aku masih sadar itu terjadi, hanya karena tubuhku demikian panas saat menghadapinya.

Keberadaannya membuatku ingin terdiam dalam teriakan. Aku ingin menanyakan semua penyebab keanehanku padanya, aku mengharapkan jawaban selain fakta bahwa aku menyukainya. Di saat yang sama aku tak mampu bicara karena semua perasaan yang menguasaiku begitu indah untuk dinikmati. Menyukainya sudah berubah jadi mencintainya, dan mencintainya berarti merasakan hal-hal yang menenggelamkanku dalam berjuta tanya.

Tentang dirinya, tentang sukanya, tentang senyumnya, tentang sekolahnya, tentang pasta giginya, tentang udara di sekitarnya, tentang apa yang dilakukannya padaku, pada udara di sekitarku, pada sekolahku, pada senyumku, pada sukaku, pada diriku. Kalau tak malu aku akan menanyakan pendapatnya tentang pasta gigiku. Ini tidak masuk akal. Mungkin Henry benar, ada kegilaan yang berperan. Namun aku masih bersikeras bahwa aku tidak gila. Hanya ada hal yang gila saat kau benar-benar menyukai seseorang sampai bisa menyebutnya sebagai jatuh cinta.

Kegilaan ini sudah berlangsung lama untukku. Meninggalkanku mengambang pada pilihan akan mengakhirinya atau meneruskannya. Kalau mengakhirinya, apa aku akan mengakhirinya dengan kepergian atau tinggal dengan akhir apapun jadinya. Kalau aku memutuskan untuk pergi, aku belum memutuskan apakah aku akan kembali lagi setelah percaya diri atau selamanya tak menoleh lagi. Kalau aku kembali lagi, aku harus menganyam beberapa tahun lagi untuk berani bertanya padanya hal yang sama dengan yang baru akan kulakukan kalau aku memutuskan mengakhiri kegilaan ini. Lagi.

Pada kenyataannya setiap hari aku selalu membuat pilihan yang sama. Aku sudah hafal daeral ini. Sebentar lagi bis akan mengikuti jalan menikung dan bertemu dengan halte pertama setelah halte sebelumnya. Gadis itu akan turun sambil tetap menunduk membaca, atau mungkin mengganti saluran di alat musik portabelnya, atau membenarkan tasnya, apapun yang bukan menoleh padaku.

Pilihan itu kuambil tanpa berpikir. Selalu membiarkan waktu dan keadaan yang membuatkannya untukku. Gadis itulah yang akan mengakhiri pilihanku hari itu sama dengan hari-hari sebelumnya.

Bus berhenti di halte dan pilihanku hari itu sudah dibuat. Dia bangun dari kursinya, berjalan menunduk mengutak-atik pemutar musik portabel di tangannya, menuruni tangga keluar bus, dan tanpa menoleh melangkah ke jalan menanjak menuju rumahnya yang belum pernah kuketahui selama bertahun-tahun duduk di belakangnya di bus yang sama.

Hari itu sekali lagi aku masih menginginkan esok hari. Pilihanku tak pernah kusesali meski menyisakan sedikit kegeraman kenapa aku selalu mengandalkan hari esok untuk benar-benar memilih keputusanku sendiri. Aku selalu tahu bahwa esok tak akan datang karena apapun yang kulakukan akan selalu terjadi di hari ini. Esok selamanya menjadi esok. Esok yang lebih baik hanyalah imaji manusia akan harapan. Realisasi terdekat dari pencapaian keinginan.

Waktu yang paling sebentar untukku mengakui semua perasaanku padanya. Meski tak pernah terjadi. Karena itu selalu: esok.

Bus pun bergerak kembali, mengantarku lebih dekat ke rumahku sendiri. Aku mendesah. Tiba-tiba camar tak lagi bernyanyi, begitupun dengan udara dan angin. Mereka hanya berteriak riuh rendah. Yang tak kudengarkan tentu saja, karena otakku sudah sibuk menyusun nadanya sendiri. Membayangkan apa yang akan kulakukan pada gadis itu.

Esok.

 

 

KKEUT.
http://wp.me/p1rQNR-dF


Iklan