Tag

Author : Bee

Cast : Kau, Leeteuk

Rating : AAbK

Genre : Romance

Ps : Galau WGM tingkat Doktor dikuadratin.

url: http://wp.me/p1rQNR-da

>>>

 

 “Jadi kau pikir kau pantas untuknya?” suara itu mencibirmu.

Tubuhmu tentu saja meradang mendengarnya. Bagaimana mungkin orang yang tidak tahu apa-apa tentangmu, sepertinya, berani menantangmu seperti itu? “Bukan urusanmu,” desismu dengan kemarahan tertahan.

Kau berlalu dari hadapannya dan membiarkan kemarahanmu tampak jelas di mata orang-orang yang bukan dirimu. Kalau saja legal, kau sangat ingin melakukan pembunuhan, dan penculikan sekaligus. Hatimu saat ini benar-benar sakit dan terluka, jadi kau ingin dunia menderita dan luka sama sepertimu. Mereka semua bisa mengatakan bahwa kau gila dan maniak, tapi mereka tak ada yang berusaha mengerti kenapa kau jadi seperti itu.

Orang-orang berlalu lalang di depanmu. Semua punya tujuan dan tugas yang harus dituntaskan. Kau juga punya, tapi kau merasa tak sanggup melakukannya. Apalagi yang bisa kau selesaikan kalau tugasmu mematahkan hatimu?

Seruan dari suatu tempat di belakangmu makin menegangkan sarafmu yang sudah seperti senar gitar paling kencang sebelumnya. “Bagus sekali, Leeteuk ssi. Sekarang kalian boleh berganti kostum dan kembali lagi ke sini,” dengarmu.

Tiba-tiba dunia di hadapanmu kabur karena air mata. Kau tahu orang-orang memandangimu, tapi kau tak peduli. Kau hanya bisa merasa. Rasa itu menguasaimu, jadi bagaimana mungkin kau sempat memikirkan pandangan orang lain padamu? Kau langkahkan kakimu cepat-cepat menjauh dari tempat itu. Kau tidak butuh semua hal yang menyakitimu itu.

Di suatu pojok tersembunyi kau terjongkok dan bergetar menahan isakan. Sudah tidak mengejutkan lagi bagimu bagaimana kau bisa mencintai seseorang sebesar itu. Setiap kali ledakan rasa itu muncul, kau tahu bahwa rasa itu semakin besar. Awalnya memang menakjubkan dan sempat membuatmu khawatir, tapi lama-kelaman kau menerimanya begitu saja. Mungkin sudah nasibmu terjerumus begitu dalam.

Apa salah mencintai seseorang sebesar itu? Bukan kau tak punya otak, tapi kau tahu rasa itu tak bisa dihentikan. Kau tahu mencintainya datang begitu alami di dalam dadamu. Dia yang tak pernah menyadari keberadaanmu, kau yang tak pernah berhenti berharap, kau tetap mencintainya. Kau yang sibuk mengejarnya, dia yang tak punya waktu untuk bahkan mengurus dirinya sendiri akibat kesibukan bekerja. Kau mencintainya demikian dalam.

Kau tak lagi menganggap dirimu bodoh karena mencintai Leeteuk seperti itu. Kau sudah pasrah pada hatimu yang tak bisa diajak kompromi. Kau memang mencintainya, meski baginya kau hanya fan tak berwajah.

Niatmu datang ke sana adalah untuk memprotes agar Leeteuk tak bergabung dengan acara itu, We Got Married. Kau datang dengan gagah berani, penuh strategi, licik dan semangat berkobar-kobar untuk membuat Leeteuk tahu bahwa ada satu dari sekian banyak Angels-nya yang tidak rela dia bergabung dengan acara itu. Kau hanya mau membuatnya mendengarmu. Kau sama sekali tak punya bayangan hasilnya akan seperti apa.

Ternyata ini adalah hasilnya. Jangankan bertemu Leeteuk dan mengatakan apa yang kau rasakan, kau malah duduk jongkok di suatu sudut yang bahkan orang biasa tak bisa menemukanmu. Hatimu sangat perih saat kilasan demi kilasan senyum Leeteuk demi memenuhi tuntutan skenario melayang di depan matamu. Kau terpesona pada senyumnya sekaligus mati karena senyum itu hanya ditujukan untuk satu sosok, kamera.

Sial, kau tahu itu. Itu semua untuk kamera dan rating, tapi kau tetap saja ingin mengamuk di sana tadi melihat tangan Leeteuk menggandeng tangan pasangannya. Kau dengan jahatnya mendoakan agar acara itu nantinya memiliki rating yang sangat rendah. Kau tidak mau orang-orang senang melihat Leeteuk, yang selalu kau anggap sebagai Leeteuk-mu, memang pantas berpasangan dengan pasangannya.

Seorang kru yang sudah menyadari keberadaanmu sebelumnya sebagai penyusup berbahaya membantumu menjaga kewarasan dengan terus membuatmu jengkel. Sebenarnya kau merasa agak berterima kasih padanya karena dia mengalihkan kemarahanmu pada acara itu ke komentar-komentarnya yang sinis tentang fan gila dan delusional. Tapi persetan, bukan itu masalahnya sekarang.

Setelah anak brengsek itu membuat Leeteuk seolah memiliki keluarga bahagia dengan empat wanita—dia bahkan bukan orang Indonesia itu yang bisa menikah dengan empat wanita sekaligus!—sekarang kau harus bertahan lagi untuk satu wanita yang akan berperan murni sebagai istrinya? Mereka pasti iblis! Hatimu tidak sekuat itu!

Kau ingin mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kau harus mengumpulkan kesadaranmu dan melupakan segala kegilaan ini, tapi tidak bisa. Kau sudah pernah mencoba mengontrol otakmu agar menguasai hatimu, bilang bahwa itu bukan hal yang normal untuk jatuh cinta pada idola. Namun semuanya sudah terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Tahu-tahu saja kau menyukainya sebesar itu dan otakmu sudah lumpuh. Bagaimana lagi? Leeteuk tidak pernah tidak muncul dalam hari-harimu. Suaranya di radio, wajahnya di jalanan, beritanya di televisi, artikelnya di majalah, sementara kau ini manusia biasa pengkonsumsi televisi, radio, majalah, dan pengguna jalanan akut. Dia masuk begitu saja dan kau jatuh cinta begitu saja.

Sangat kejam bagaimana seseorang mengharapkan dicintai dan didukung untuk mencintai orang lain. Dia pasti sudah hilang akal, pikirmu sesenggukan. Sungguh, kau ingin membunuh Leeteuk karena keegoisannya itu.

Jadi apa yang harus kau lakukan sekarang? Sampai matipun kau tak bisa merelakan permainan rumah-rumahan Leeteuk yang direkam dan disiarkan itu, tapi kau juga tahu Leeteuk membutuhkan pekerjaan ini. Yang membuatmu berhenti tadi bukan karena kau takut dipenjara setelah membuat keributan di studio—kau bahkan rela ditendangi semua orang lewat di pinggir jalan kalau itu demi Leeteuk—tapi karena kau melihat Leeteuk membungkuk-bungkuk berterima kasih pada para kru saat seharusnya semua orang berterima kasih pada pria itu karena mau bergabung dengan acara mereka. Senyum yang dipaksakan yang tampak di wajah Leeteuk yang kau kenali sudah sangat lelah membuatmu menyadari bahwa Leeteuk melakukan ini karena suatu alasan, alasan yang sangat memotivasi pria itu.

Lalu kau berpikir, aku bagaimana? Kau pun punya alasan untuk menyatakan perasaanmu, ketidaksetujuanmu. Kau sadar sepenuhnya bahwa alasanmu mungkin gila, tapi itu cukup kuat untuk membuatmu merasakan kegemasan yang tak berujung dan membuatmu sibuk menurunkan tekanan darah. Kau harus bagaimana dengan keinginanmu sendiri yang sudah hampir jebol?

Dengan tubuh masih gemetar karena kesal dan masih ingin bertemu, kau menyeka air matamu ketika kau sadar ada orang sedang mendekati tempatmu. Kau berdiri dan berusaha menyembunyikan wajah ketika mengenali suara Leeteuk, “Ah, lelah sekali. Jam berapa ini berakhir? Aku benar-benar ingin tidur.”

Air matamu masih mengalir, nafasmu masih berhembus, dan suara langkah kaki dua orang itu masih mendekatimu, namun kau entah bagaimana tiba-tiba menjadi patung. Suara lelaki lain menjawab Leeteuk, “Tahan saja dulu. Tidak terlalu lama, tapi juga tidak sebentar lagi. Mungkin kau bisa tidur dulu di ruang ganti selama lima belas menit.”

Kedua orang itu berhenti bicara dan melewatimu dari arah belakang. Saat kau melirik, kau melihat Leeteuk memijiti tengkuknya dengan raut sangat lelah. Mulut lelaki itu mengeluarkan desahan saat kepalanya tertengadah.

Mereka tidak melihatmu!

Mereka tidak melihatmu yang sudah berada di lokasi itu sama lamanya dengan mereka! Keterlaluan. Mereka berjalan begitu saja dan bahkan tidak berusaha menyadari ada orang lain yang sedang mereka lewati.

Kau menggigit bibirmu gemas ketika melihat punggung mereka makin menjauh. Kau tidak bisa terima diabaikan. Bukan karena kau merasa kau orang penting, tapi karena kau ada di sana dengan maksud Leeteuk menyadari keberadaanmu. Kenyataan bahwa Leeteuk tetap tidak menyadari keberadaanmu bahkan setelah seharian kau berusaha menarik perhatiannya—yang kau sadari bahwa usaha itu hanya berakhir dengan kegagalan—membuatmu jengkel. Meski aneh, kau punya alasan berada di sana.

“Hya! Leeteuk ssi!” panggilmu kasar. Kedua orang itu berhenti berjalan.

Jarak di antara kalian sudah lebih dari 10 meter ketika akhirnya Leeteuk menoleh dan melihatmu berdiri di sana. Kau melangkah maju dengan menghentak-hentak. Kau marah, apapun rasa lain yang menyertai kemarahanmu, pada intinya kau marah.

Tiga meter dan kemarahanmu menguap entah kemana, membuatmu berhenti. Tiba-tiba yang tersisa padamu hanyalah air mata yang terus mengalir.

Dahi Leeteuk berkerut antara heran dan kesal dengan gangguan yang kau akibatkan. Tapi itu tidak membuatmu jengkel. Siapapun akan kesal kalau orang tak dikenal tiba-tiba muncul di hadapan mereka sambil berteriak Hya! dan berurai air mata aneh.

Pria di sebelah Leeteuk membuka mulutnya, “Nugu—“

“Diam!” bentakmu memotongnya. Tanpa memandang orang itu kau terus menatap Leeteuk dengan air mata yang tak berhenti mengalir. “Aku tidak bicara padamu, aku hanya akan bicara pada Leeteuk!”

Leeteuk sepertinya tersinggung dengan ucapanmu. Dia lelah dan butuh tidur, tapi kau berani membentak asistennya. Atau manajernya. Atau temannya, entahlah, kau tidak peduli siapa orang itu. Lelaki tampan itu kemudian memutar tubuhnya menghadapimu sepenuhnya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketenangan yang berbahaya.

Bibirmu gemetar. Leeteuk bicara padamu. Kata ‘ada apa’ itu milikmu. Itu untukmu. Tapi kau tidak bisa berhenti di situ. Kau bukan fans gila. Kau hanya wanita yang kebetulan jatuh cinta padanya. Kau harus mengatakannya.

Dengan wajah memerah karena campuran berbagai rasa, kau membuka mulutmu, “Aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu sampai hampir gila. Tapi aku tidak gila. Dan aku berhak punya cinta untukmu meski tidak bisa kuraih. Aku juga…” bibirmu mulai bergetar sangat hebat.

Kau merasa begitu perih mengetahui kemana arah omonganmu ini, tapi kau harus mengatakannya. Kau akan mati karena menyesal kalau tidak mengatakannya. Kau gigit bibirmu keras sekali untuk menghentikan getarannya. Kenapa bibirmu rasanya asin dan berbau seperti besi?

Tidak penting, kau harus mengatakannya pada Leeteuk sekarang atau semuanya akan berlalu. “Aku mencintaimu dan aku tidak setuju kau ikut acara ini. Hatiku sakit sekali melihatmu berpasangan dengan wanita itu. Kau boleh bilang aku jahat karena tidak memberimu dukungan, tapi kalau aku mendukungmu, siapa yang akan mendukungku? Apapun alasanmu mengikuti acara itu, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku terluka. Terlepas dari semua hukum dunia yang materialistis, yang membuat kita harus bekerja agar bisa hidup, aku terluka saat kau bersama wanita lainhik!” ucapmu dengan isakan tidak bisa ditahan.

Leeteuk membuka mulutnya dan kau mengangkat tanganmu, “Aku belum selesai!” kau terisak sekali dan seolah seluruh hidupmu bergantung pada hal itu, kau memaksakan diri bicara lagi meski tenggorokanmu sudah sangat sakit karena air mata. “Aku tak akan menyuruhmu mundur karena siapalah aku ini, kau bahkan tak tahu aku ada sampai saat ini. Aku hanya mau kau tahu, aku sakit hati dan ingin kau berhenti. Tapi aku tahu apa yang aku inginkan tidak selalu apa yang aku dapatkan. Aku mencintaimu. Selamat tinggal!”

Kau berbalik dan berlari meninggalkannya. Semakin kau mengatakan sesuatu, semakin kau sadar betapa egoisnya dirimu. Kau semakin tidak menyukai dirimu sendiri karena itu.

Kau lega karena sudah mengatakan isi hatimu. Tapi kau juga terluka karena membiarkan orang yang kau cintai melihat sisi dirimu yang egois dan membuatnya tahu bahwa dia kehilangan satu pendukung padahal kau tahu dia sangat ingin diberi semangat dan dukungan.

Kau benci dirimu sendiri, tapi apalagi yang bisa kau lakukan? Kau mencintai Leeteuk dan mencintai itu bukan perkara sederhana. Jatuh cinta itu rumit.

 

 

KKEUT.


Iklan