Tag

, , ,

Episode: Restart

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Yeppo (Beauty/Bee)

Genre: adult romance

OST: I’ll Protect You-Jaejoong

Url: http://wp.me/p1rQNR-cq

 

***

 

Bee’s POV

Carrier-ku menumpuk di belakang bersama dengan carrier milik Simon dan tas-tas besar lainnya. Tidak ketinggalan juga koper-koper dari bahan aluminium dan atom tempat beberapa set alat pengambil data di lapangan, ada di sana. Perjalanan kali ini lebih berat, lebih penuh, dan lebih penuh semangat.

Setelah sebulan kami mempersiapkan semua keperluan—itu artinya seminggu yang kuhabiskan di Jakarta mengurus visa dan tiga minggu sisanya membuatku bolak-balik Jakarta-Kopenhagen—kini akhirnya proyek kami siap dimulai. Di Seoul, Baeyeong dan Jeonghui membantuku dan Simon mengurusi masalah tempat tinggal dan urusan administrasi lain yang dibutuhkan.

Bukan hal yang mudah mengirim dan mengangkut semua alat yang dibutuhkan langsung dari Kopenhagen ke Seoul. Untungnya Korea Selatan punya kelengkapan yang memadai sehingga Simon dan aku hanya perlu membawa alat-alat yang memang secara spesifik telah dipesan organisasi untuk kepentingan seperti ini. Bukannya merendahkan, tapi aku tahu betapa sulitnya mendapatkan kepraktisan semacam itu untuk tim Indonesia. Percayalah, aku tahu.

Jip kami berguncang di setiap gundukan yang kami temui. Kali ini kami hanya berempat. Tidak perlu lagi pengawalan dari pusat angkatan darat di Seoul. Memang akibat barang2 yang memnuhi tempat, tidak ada bangku kosong untuk tentara yang akan mengawal kami nantinya, tapi Baeyeong sudah memastikan bahwa kamp akan menyiapkan kendaraan sendiri untuk personelnya.

Kami akan memasuki perairan dari titik yang lebih ke utara dari kamp. Itulah alasannya pengawalan tentara sangat diperlukan. Aku sama sekali tidak mengharapkan akan bertemu siapapun yang siap mengacungkan senjata demi Korea Utara, namun kalaupun harapanku itu dianggap mustahil, aku harap kami bisa bergerak dengan leluasa meskipun dikelilingi todongan senjata.

Jip memasuki belokan terakhir sebelum kamp dan aku mulai merasa jantungku berdegup lebih cepat. Akankah aku melihat Jungsoo langsung kali ini? Aku sangat ingin bertemu dengannya. Lagi.

Tidak bisa kupungkiri, sewaktu mengetahui salah satu stasiun pengamatan proyek ini adalah Korea Selatan, aku langsung mendaftar dengan keinginan bertemu Jungsoo lagi. Itulah langkah pertamaku mengejarnya setelah yakin bahwa tidak peduli berapa tahun pun aku meninggalkan Korea, aku akan selalu menginginkannya. Lowongan itu bagai jawaban atas doa-doaku selama ini. Aku memohon siang malam semoga mereka bisa melihat bahwa aku memiliki kualifikasi yang baik untuk ditempatkan di Korea. Tidak lupa aku menghubungi Simon yang memang teman lamaku agar langsung menghubungiku begitu keputusannya keluar. Fakta bahwa lelaki itulah yang menjadi partnerku merupakan bonus tersendiri, sebab kami sudah tahu ritme kerja masing-masing.

Sebulan lalu, saat aku benar-benar melihat Jungsoo, rasanya aku tidak mempercayai keberuntunganku sendiri. Aku tidak mengira akan melihatnya di tempat lain di Korea kecuali di Seoul. Kupikir masih akan berbulan-bulan ke depan saat Jungsoo keluar dari militer, baru aku akan dapat menemuinya lagi. Ternyata aku salah. Hidup memang aneh.

Derak suara ban di tanah keras terdengar lebih keras dari sebelumnya. Kami sudah sampai. Aku rasa bulu kudukku berdiri karena antisipasi.

Jungsoo. Jungsoo.

 

Leeteuk’s POV

Sudah sebulan. Sial, aku menghitungi satu demi satu hari sejak Yeppo pergi. Seperti tidak ada kerjaan saja.

Dan setiap hari aku terbangun dengan kegembiraan yang semakin besar.

Tapi sayangnya, sebulan itu ternyata hanya perkiraan. Mereka dari universitas di Seoul itu rajin sekali menelepon ke kamp hanya untuk memberitahu perubahan tanggal kedatangan. Apa sih maunya? Selalu dirubah, selalu diundur. Terakhir kali mereka bilang mereka akan datang hari ini. Aku berharap hari ini mereka akan menelepon lagi dan merubah tanggal menjadi besok atau lusa.

“Siap? Kita berangkat!” ujar seseorang di depan, memberi aba-aba dan truk kami mulai bergerak. Kumohon, jangan datang hari ini.

Karena pagi ini semangatku yang menggebu-gebu baru dipukul keras oleh perintah yang menyatakan bahwa aku harus ikut dalam tugas rutin berkeliling daerah pengawasan. Sial.

Matahari baru beberapa jengkal di atas tombak saat kami melaju ke titik pengawasan pertama. Dan aku hampir tidak bisa menahan keluhanku. Biasanya tugas ini selesai beberapa jam setelah matahari terbenam.

 

Bee’s POV

Tidak ada Jungsoo.

Aku tidak tahu dia dimana, tapi aku tidak berani bertanya. Bukankah pangkatnya harusnya sudah cukup tinggi untuk bisa menyusup sebentar dan sekedar menunjukkan ujung hidungnya padaku? Sekedar membuatku melihatnya saja. Sekedar melihatku sebentar saja.

Apa dia sedang banyak pekerjaan? Tidak. Kalau Jungsoo ada, pasti dia akan muncul walau hanya sekejap.

Tunggu, itu Jungsoo dua tahun yang lalu. Kali ini dia pasti punya lebih banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi. Dan seorang Beauty mungkin tidak sebegitu menarik lagi baginya.

Kenapa sih dia memanggilku Beauty? Hanya dua tahun, dan aku bukan Yeppo-nya lagi?! Lihat saja kau nanti, Leeteuk ssi.

“Kau terlalu banyak mengerutkan kening,” suara Simon mengagetkanku dari belakang.

Dia terlalu banyak ingin tahu. “Aku tahu. Tapi ini keningku,”

Ooops, somebody is in their period…” lelaki yang berjarak dua belas tahun dariku itu menyindir sambil mengangkat satu ransel berisi senapan bius.

Shut up!” desisku kesal.

Dia melotot lalu berbalik meninggalkanku. Aku mengikutinya dengan koper peralatan pengecek sampel darah di tangan kanan dan koper alat penganalisis jaringan di tangan kiri. Sesaat kemudian terdengar Simon mengejekku tanpa menoleh, “Woo, I’m scared…”

Aku menendang kerikil di depanku dan mengenai betisnya yang berbalut celana lapangan. “Ouch!” dia menoleh padaku dengan kesal.

Don’t start!” kesalku dalam nada pelan, mencegah ada orang yang mendengar perdebatan kami.

Okay… you grumpy witch!” Simon kabur.

 

Leeteuk’s POV

Hutan. Pos pengawasan VIII.

Kami menyebar berpasang-pasangan. Seorang bertugas menjaga komunikasi dengan radio transmitor, yang lain mengawasi sekeliling. Penyusuran medan secara horizotal dengan pengamatan ke arah garis depan.

Aku tahu artinya saat ditempatkan di kamp-ku sekarang. Artinya aku punya tanggung jawab besar untuk menjaga negaraku dari segala hal buruk, salah satunya adalah penyusupan. Daerah kami sekilas tampak tenang, tapi itu hanya di permukaan. Setiap orang yang ditempatkan dekat dengan perbatasan pasti menyimpan rasa khawatirnya di bawah kulit. Hati-hati dan waspada berakar bahkan hingga ke dalam mimpi kami.

Zona penyusuran, 500 meter. Kupandang temanku, yang memegang radio. Kuanggukkan kepala padanya. “Aman,” dia berkata pada radio saat menjawab anggukanku dengan anggukan juga. Saatnya kembali ke meeting point.

Aku lega negaraku sekali lagi aman.

Aku harap Yeppo tidak jadi datang lagi hari ini.

Aku prajurit yang buruk, karena memaki dua belas sisa pos pengawasan yang belum terjamah hari itu.

 

Bee’s POV.

Seratus dua puluh lima butir tabung ependorf, seratus lembar plastik bersegel, spidol-spidol anti air, dua boks sarung tangan lateks, botol-botol sampel 5 dan 10 mL, ember-ember, anti beku darah, formalin, dan bahan-bahan kimia lain berserakan di hadapanku. Di luar, Jeonghui sedang mengecek peralatan berat seperti perahu karet, pelampung, penyelamat darurat, dan segala macam tetek bengek lain. Simon dan Baeyeong sedang menemui entah-siapa-yang-berwenang-atas-pengawalan-kami untuk mendiskusikan rencana pemberangkatan.

Sebenarnya kemana Jungsoo? Aku sama sekali tidak melihatnya dari tadi. Sepertinya dia benar-benar tidak ada di dalam kamp. Padahal dia bilang akan menungguku, ingin menemuiku. Menyebalkan.

Kenapa aku sekesal ini padanya? Dulu aku santai-santai saja tidak bertemu dengannya selama berbulan-bulan… Akh, tapi ini kami sudah dua tahun tidak bertemu. Sebulan yang lalu itu tidak bisa dianggap pertemuan karena… karena… karena hanya begitu saja. Tak tahukah dia apa saja yang sudah kubayangkan kalau bertemu dengannya saat ini? Aku rasa aku tidak ingin penyesalanku datang seperti kemarin dan akan memeluknya erat.

Aku ingin memeluknya, membauinya, merasakan lagi dia nyata di dalam pelukku. Aku merasa bersemangat membayangkan apa yang bisa kami lakukan kalau ada waktu berdua saja.

Kuhentikan gerakanku mengelompokkan larutan-larutan kimia berdasarkan fungsinya. Pikiranku melayang pada apa yang mungkin terjadi kalau kami akhirnya benar-benar bertemu. Dua tahun, dan kami mengawalinya lagi dengan panggilan resmi. Dipikir lagi, saat kami berpisah dulu itu, bukankah kami sudah sepakat bahwa hubungan di antara kami sudah berakhir? Apapun namanya hubungan itu? Realisasinya adalah saat kami bertemu, kami tak memiliki apapun di antara kami. Kami hanya dua orang yang sempat saling mengenal dan bertemu lagi.

Kumasukkan alat-alat yang ukurannya kecil dalam tas-tas yang memang diperuntukkan untuk membawa mereka. Itu hanya tanganku yang bekerja secara otomatis. Benakku membayangkan sesuatu yang lebih nyata dari sekedar keinginan. Bukankah akan lucu jadinya kalau aku menghambur memeluk Jungsoo sementara lelaki itu hanya akan membalas dengan canggung? Semua prajurit yang melihat di sekitar kami pastinya akan berpikiran bahwa aku fans-nya. Aku mendengus. Bisa bangkit dari kubur Charles Darwin nanti kalau tahu aku jadi fans seorang idola.

“Lelah, Bee ssi?” suara Jeonghui mengagetkanku.

Aku menoleh cepat. “Ah, ani. Bukan. Aku lupa hitunganku,” jawabku sekenanya.

Jeonghui cengar-cengir bodoh menertawai ‘alasanku’ lalu duduk bersila di hadapanku. “Biar kubantu,” katanya ringan.

“O, gomawoyo,” aku menjawabnya setengah hati. Senang ada yang mau membantuku berjelimet ria dengan barang-barang kecil yang jumlahnya laknat ini, tapi juga agak menyesali kebaikan hatinya yang tidak sengaja membuatku kehilangan waktu merenung.

Jeonghui tidak menyahut, tapi dia mengatakan sesuatu yang lain, “Kudengar di kamp ini ada selebriti.”

Aku berhenti berpikir, berhenti mencoba berpikir. Aku mulai menatapnya lurus. “Ne?” tanyaku hati-hati.

“Apa kau pernah dengar tentang Super Junior? Kurasa waktu kau masih sekolah di sini mereka sedang sangat naik daun…” dia tampak berpikir memperkirakan waktu.

“Ya, aku tahu Super Junior,” jawabku sedatar mungkin, membuat Jeonghui tertawa.

“Ahahaha, aku tahu apa pikirmu. Idola. Yah, status itu memang konyol kedengarannya, membuat banyak orang tergila-gila pada mereka. Kuakui mereka memang tampan dan menarik dan menyenangkan, tapi kalau sampai tergila-gila pada mereka, aku rasa itu berlebihan. Apalagi untukmu, kurasa idolamu jelas bukan orang-orang seperti mereka, ya kan?” Jeonghui tergelak dengan pemikirannya sendiri.

Memang dia pikir idolaku siapa? Apa mencintai idola sama dengan mengidolakan idola?

Jeonghui berkata lagi, “Dua dari anggota Super Junior sedang bergabung dengan militer sekarang. Ah, tiga, kalau tidak salah tahun lalu ada lagi satu yang masuk militer. Dua orang yang pertama kusebut tadi harusnya sudah hampir keluar dari kemiliteran. Mereka sudah dua tahun lebih menjalankan wajib militer mereka.”

Aku memiringkan kepala. Tidak yakin apa yang harus kukatakan. Rupanya Jeonghui menganggapku meminta dia menjelaskan lebih detil lagi karena dia kemudian melanjutkan, “Kim Heechul, Park Jungsoo—ah, mungkin kau mengenalnya dengan nama Leeteuk—mereka yang sudah hampir keluar.”

Aku mengangkat bahu dan tersenyum, “Sepertinya aku pernah mendengar nama mereka.”

“Saat mereka keluar, para gadis di luaran sana pasti akan menjerit sampai terpingsan-pingsan. Sial, dunia ini tidak adil. Saat aku keluar dari militer, yang menangis bahagia hanya ibuku. Bahkan dia membawakanku tahu. Memangnya aku keluar dari penjara?!” Jeonghui melanjutkan dengan gerutuan di ujung kalimat, membuat senyumku berubah jadi senyum tulus.

“Mungkin ibumu menganggap akhirnya kau jadi dewasa…” godaku.

“Ya! Aku sudah dewasa jauh sebelum mereka menyadarinya!” Jeonghui protes lalu tampak malu karena sudah me-ya!-kanku. “Choisonghamnida,” lanjutnya menyesal, lalu nadanya berubah lagi, “Aku sudah bekerja keras dan cukup berhasil tidak meminta uang sekolah pada orang tuaku selama satu tahun. Mereka saja yang tidak menyadarinya, ciss…”

“Hahaha, kau anak yang berbakti. Ibumu pasti bangga padamu sekarang. Kau kan ikut proyek hebat.”

“Khekhekhe… aku tahu. Tapi adikku lebih bangga lagi. Dia masih di SMA sekarang, dan sedang hobi menyebarkan berita kemana-mana bahwa aku sedang bekerja sebagai ilmuwan penting di kamp yang sama dengan Super Junior Leeteuk.” Jeonghui terkekeh.

Aku menunduk, menyembunyikan wajah. Tidak yakin bagaimana aku akan berekspresi mendengar nama Jungsoo diucapkan dengan begitu gamblang oleh orang yang hampir tidak kukenal. Padahal itu bahkan bukan namaku. “Geureosse…” gumamku.

“Pokoknya, kalau aku benar bertemu dengan Super Junior Leeteuk, aku akan minta foto dan tanda tangannya, lalu memamerkannya pada adikku. Mungkin aku akan meminta satu foto dirinya khusus untuk adikku itu,” Jeonghui tampak girang dengan idenya.

“Semoga berhasil,” timpalku setengah berakting tenang dan setengah benar-benar senang untuk adiknya.

 

Leeteuk’s POV

Matahari sudah terbenam. Tinggal satu pos pengawasan terakhir. “Gaja!” seruku dengan semangat yang semakin meningkat di tiap langkah. Hampir berakhir. Tidak pernah aku merindukan kamp-ku seperti yang sedang kurasakan sekarang.

 

Bee’s POV

Sluurrp. Tlek. “Aaakkhh!” seruku menunjukkan cara minum soju di warung-warung usus pada Simon. Orang Korea lain menertawakan sikapku yang seperti ahjumma tukang main mahyong, sementara Simon menganga dengan mata jelas-jelas memujaku. Jamuan ini tampaknya semakin menarik.

“Bagaimana kau melakukannya? Kau yakin kau orang Indonesia?”

“Ya, Imma! Apa kau bilang?!” aku memukul belakang kepalanya membuat lelaki itu melotot marah dan yang lain tertawa semakin keras.

Aku miris. Maafkan aku Simon, aku memang sedang ingin memukul seseorang. Salahkan nasibmu yang jadi orang asing di sini dan duduk di sebelahku. Dan salahkan mereka yang mengirim Jungsoo bertugas lapangan seharian ini.

Oh tidak, kupikir aku mulai mabuk.

 

Leeteuk’s POV

Mereka berpesta! Dan kami ditinggalkan! Bagaimana kalau ada serangan dari utara?!

Dan bagaimana mungkin mereka membiarkan tamu yang mereka jamu keluar duluan kembali ke kamarnya?!

Aku berderap kesal menuju Sayap Beruang. Entah kenapa bagian kamp yang itu diberi nama Sayap Beruang. Semua tamu yang datang ditempatkan di sana. Penataannya khusus, dan letaknya bisa dibilang ada di salah satu titik teraman di kamp ini. Kerapian dan kebersihannya selalu diwanti-wanti untuk dijaga oleh kepala kamp, meski sedang tidak ada tamu. Aku jarang pergi ke sana.

Tapi malam ini aku tidak punya tempat lain yang ingin kutuju kecuali tempat itu.

Aku berbelok dan melihat jajaran kamar yang ada. Empat di antaranya menyala oleh sinar lampu dari dalam. Yang mana kamar Yeppo? Aku penasaran. Perlahan-lahan aku mulai mendekati kamar-kamar itu dan berusaha menebak tamu yang menempatinya.

Dengungan percakapan agak keras terdengar dari salah satu kamar. Begitu sampai di depannya, aku dikagetkan oleh pintu kamar yang membuka. Mataku terbelalak.

Yeppo. Menggelayut manja pada si kulit putih. Manusia tinggi yang merangkulnya erat dan menyerocos dalam bahasa asing. Manusia yang matanya memperhatikan Yeppo penuh kepedulian, kemudian menangkap keberadaanku dan terkejut. “Oh! Hello~” sapa lelaki itu.

Sedetik aku tak tahu apa yang kulakukan di sana. Apa mayat-mayat merasa sekebas ini saat mereka diawetkan sebelum dimakamkan?

Yeppo menoleh dan matanya yang sayu melebar. Dia terkejut. Tapi tidak melepaskan rangkulannya dari pria itu. Aku tahu yang harus kulakukan.

Kupasang senyum kamera terbaikku, lalu aku menjawab, “Hello. Saya hanya lewat.”

Si kulit putih itu terlihat kebingungan, mungkin dia tidak bisa bahasa Korea. Yeppo mengedipkan matanya berkali-kali. Aku tersenyum lagi. “Baiklah, saya permisi.”

Dan aku melanjutkan langkahku. Semakin berat karena kemarahan yang tak terlampiaskan di setiap langkahnya. Di ujung koridor aku berbelok ke kiri dan mulai mempercepat langkah hingga setengah berlari. Tanganku terkepal sangat kencang hingga kalau kukuku panjang, pasti sudah melukai telapak tangan.

Aku memutari Sayap Beruang dan merasakan udara malam berhembus pelan sekali. Malam kini sudah semakin panjang meski masih relatif singkat. Dalam gelapnya aku bersyukur aku tidak melihat Yeppo dan pria itu di siang hari. Matahari bukan sumber panas yang bisa dianggap sepele, bisa-bisa aku hangus saking marahnya.

Aku meloncati selokan kecil dan terhenti.

“Jungsoo-ya…” wanita itu ada di hadapanku sekarang. Tampak ragu. Matanya masih sayu.

“Oh, Beauty ssi,” sahutku singkat, masih berusaha mengendalikan amarah.

Yeppo tampak tegang mendengar jawabanku. Lalu perlahan dia menyunggingkan senyum. Senyum palsu. Aku benci menyadarinya. Aku benci memahaminya bahkan setelah dua tahun.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya dingin.

“Kenapa kau di sini?” balasku tak kalah dingin.

“Aku bertanya dulu,” dia melipat tangan di depan dada. Dada yang agak terlihat karena kancing bajunya terbuka dua. Apa itu sebuah tanda? Yang memerah di dada kirinya itu?

Aku tidak butuh melihat itu! “Urusanku. Kenapa aku harus mengatakannya padamu?!” ujarku ketus hampir tak mampu menahan ledakan kemarahan membayangkan apa yang dilakukan Yeppo dan laki-laki itu di dalam kamar sampai menghasilkan ruam kemerahan begitu.

Yeppo menganga. Dia menurunkan tangannya. “Sepertinya ada seseorang yang harinya sedang buruk,” ujarnya kalem. Oh tapi tidak begitu dalam tangkapanku. Dia tersinggung. Aku tahu dan benci karena tahu itu.

“Berjaga dan mengawas sepanjang hari bukan kegiatan yang paling menarik sedunia. Dan jelas sangat melelahkan. Permisi,” kataku menyerah pada emosi. Aku harus memukul sesuatu. Samsak di tempat latihan akan babak belur malam ini.

Aku berjalan melewatinya dan dia diam saja. Tiga langkah dan kudengar suaranya, “Kau baik-baik saja?”

Aku menoleh dan terkejut melihat wajahnya melembut. “Harimu melelahkan?” tanyanya menawarkan senyum perdamaian dan itu nada bicaranya yang biasa kudengar di telepon saat menanyakan hariku.

Dua tahun lalu. Aku harus ingat, lebih dari dua tahun lalu. Sekarang ini dia tidak lagi sama. Pemikiran itu membasahi perasaanku. Rasa yang tadinya berbalut amarah, kini diguyur sakit. Pelan, menyiksa. Mungkin samsak di tempat latihan bisa menunggu sampai aku agak pulih.

Perlahan aku memutar lagi badanku menghadapnya. Dia tampak… sangat terbuka. Tanpa pertahanan sama sekali. Baju tipis, celana pendek, ekspresi jujur, rambut acak-acakan, aura mengajak berdamai, memohon berdamai.

Jujur aku sangat lelah. Berpatroli bukan kegiatan yang bisa disela dengan tidur siang. Apalagi kalau melakukannya dengan diselingi pengharapan, lalu menemukan kenyataan bahwa pengharapanmu ternyata tidak pada tempatnya. Lelah, hampir terlalu banyak untuk bisa kutanggung. “Lelah,” jawabku jujur pada Yeppo.

“Apa kau sedang tugas jaga sekarang ini?” dia bertanya polos.

Aku sakit hati padanya, tapi kepolosannya membuat amarahku melempem. “Tidak. Aku sedang mencari kamarmu.”

Dia membelalak. Aku meneruskan, “Maafkan aku. Aku harusnya tidak mengganggu kalian. Kembalilah padanya, dia mungkin sedang menantimu,” kataku pahit.

“Hah?” Yeppo tampak tersesat untuk sesaat.

“Aku hanya ingin menyapamu. Aku sudah bilang kan, aku ingin bertemu lagi denganmu, tapi aku malah bertugas lapangan. Jadi begitu mereka bilang mereka menempatkanmu di sini malam ini dan akan pergi pagi-pagi sekali besok, aku putuskan menyapamu malam ini juga. Aku lega sudah melihatmu. Pergilah tidur.”

“Oh…” dia tampak mengerti. Tapi tidak beranjak kemanapun.

“Bagaimana… ah, tidak. Tidurlah. Aku tidak ingin membuatmu bangun kesiangan. Aku pergi dulu,” ujarku melontarkan senyum padanya setulus yang aku bisa, lalu berbalik.

Lima langkah, suaranya mencicit menghentikanku, “Kau tidak mau menemaniku minum?”

Kusiapkan cengiran lebar sebelum berbalik, “Aku tidak akan kuat bangun besok kalau minum sekarang. Artinya lusa aku akan harus mendapat kompensasi.”

Dia menatapku lurus-lurus, lalu perlahan mulai melangkah mendekatiku. “Kau tidak mau menceritakan padaku tentang harimu? Tidak usah pakai minuman.”

Aku menatapnya. Tidak yakin apa yang kudengar. Tidak yakin apa yang dimaksudkannya. Tangannya terulur menarik lengan seragam lapangan yang kugulung hingga ke siku. “Ayolah… Kita punya banyak hal untuk dibagi kan? Dua tahun kehidupan teman selebritiku pasti menarik untuk didengarkan…” katanya membujuk.

Kudapati aku hanya tersenyum menanggapinya.

 

Bee’s POV

Kami seperti maling. Duduk berdua dalam gelap di balik sebuah bangunan, saling bercerita dengan suara rendah. Kadang kepalanya menoleh setelah dia menyuruhku diam sebentar untuk memastikan suara yang didengarnya bukanlah suara orang mendekat.

Aku sedang bercerita padanya tentang kegiatanku sebagai dosen dan sesekali ceritaku disela kekehannya yang tertahan mendengar tingkah mahasiswaku. “Kau senang?” tanyanya mempertanyakan kegiatanku saat menjadi dosen.

Aku memandangi wajahnya dengan senyum penuh. Aku senang melihatmu tersenyum, Jungsoo-ya. Melihat kemarahanmu lenyap. Senang tahu bahwa prasangkamu sudah bisa kualihkan. Tapi dia masih menunggu jawabanku, jadi aku mengangguk. “Kalau bagian itu aku senang. Aku senang membawa mereka menyelam atau sekedar snorkeling, tapi aku kurang suka kalau harus mengajar di depan kelas dengan materi yang sudah ditentukan sebelumnya,” aku menjawab sambil menunduk membetulkan letak celana pendekku, menahan keinginan menyandarkan kepala di lengannya.

Jungsoo memutar kepalanya menatap lurus ke depan. “Aku tidak bisa membayangkan kau mengajar di depan kelas. Pasti para mahasiswa itu terus memelototi kakimu. Kebalikan denganmu, mereka pasti senang dapat dosen seksi sepertimu.”

Tanganku melayang ke kepalanya. “Enak saja!” Dia meringis dan menatapku tidak terima. “Di Indonesia pakaian seperti ini tidak diperbolehkan untuk dikenakan ke kampus. Apalagi oleh dosen. Sekalipun di sana panas, baik dosen maupun mahasiswa diwajibkan mengenakan pakaian resmi seperti kemeja dan celana panjang atau rok. Rok paling pendek yang diijinkan hanya sebatas lutut.”

“Benarkah? Apa kalian tidak merasa panas mengenakan pakaian itu?”

“Tentu saja panas. Tapi kami sudah terbiasa. Bukan masalah besar,” aku geli mendengar responnya.

“Kau? Mengenakan celana panjang dan kemeja resmi? Seperti pegawai-pegawai kantor pos itu?” dia memberi contoh. Aku membayangkan diriku sendiri memakai seragam, dan tersengal geli.

“Aku tidak memakai seragam, kalau itu yang kau bayangkan. Tapi ya, kalau kau butuh detil, tidak boleh pakai jeans, atau sandal. Harus pakai sepatu dan celana kain kalau di kampus. Kalau di lapangan, aku boleh pakai sesukaku, tapi aku tidak mau pakai hot pants seperti sekarang, malu sendiri. Nanti mereka tidak menganggapku dosen, malah menganggapku teman mereka…”

Sekarang dia memandangiku dengan seksama. Lirih kedengaran gumamannya, “Wow, pekerjaan memang membuat seseorang berbeda ya? Rambutmu? Kau tidak memanjangkannya lagi?”

Sekarang ini rambutku memang hanya sebatas bahu, jauh lebih pendek dari rambutku sebelumnya. Aku ceritakan padanya alasan mengapa aku menjaga rambutku pendek, “Rambutku rusak. Di sana aku kebanyakan menyelam. Terlalu asyik, sampai kadang lupa diri. Ujung-ujungnya mati dan bercabang seperti medusa. Jadinya jelek sekali dan aku terpaksa memotongnya.”

Bibirnya memagut. “Padahal kau cantik berambut panjang,” ujarnya jelas tidak rela.

“Ayahku juga bilang begitu. Ibuku juga. Malvin juga.”

“Malvin?” tanyanya.

“Oppaku. Kau belum pernah tahu ya? Aku punya seorang oppa, namanya Malvin. Dia sudah bekerja di Jakarta.”

Jungsoo menekuk lutut dan melipat tangan di atasnya kemudian kepalanya diletakkan bersandar di sana, miring untuk menatapku. “Belum, aku belum pernah tahu. Lalu kau punya saudara perempuan?”

“Tidak,” gelengku. “Aku magnae. Mamah dan papah khawatir padaku karena sebagai perempuan aku belum juga menikah, dan oppaku senang aku belum menikah karena bisa diajaknya mengacau kemana-mana.”

“Mamah dan papah?” dia tampak bingung.

“Mama itu eomma, papa itu appa.”

“Kalau oppa?” tanyanya lagi.

“Kakak.”

“Kalau noona?”

“Kakak.”

“Kakak…” Jungsoo tampak ragu.

“Iya, sama saja. Panggilannya kakak. Kalau oppa itu namja kakak, kalau noona itu yeoja kakak.”

“Geureom eonnie-neun?”

“Geunyang, kakak.”

“Ka…kak…” dia mengulangi ucapanku. “Aku punya yeoja kakak. Aku juga magnae.”

“Geurae?” aku mengamati lesung pipinya. “Kau yang tertua di Super Junior, padahal sebenarnya kau Jungsoo si bungsu.” Jemariku gatal ingin mengelus pipinya. Pipi itu tidak tampak semulus dulu, tapi masih sangat menarik untukku.

“Jungsoo ssi mwo?”

Aku tergelak pelan, “Jungsoo ssi anira… Jungsoo, Si Bungsu. Bungsu itu magnae, si itu…” aku bingung. Apa ya si itu? Aku menatap langit yang gelap, berpikir.

Aku menoleh karena merasa ada yang bergerak. Wajah Jungsoo. Dekat sekali.

 

Leeteuk’s POV

Aku suka rambut panjangnya, tapi aku bisa melihat rambutnya rusak. Biarlah, meski rambutnya pendek, dia tetap cantik di mataku. Toh bagiku dia tak pernah tidak mempesona. Seperti saat ini, tidak ada cahaya bulan atau lampu yang menyinari wajahnya, tapi aku bisa melihat siluetnya. Rahang itu masih secantik yang dulu, begitu pula dengan hidungnya yang sangat mirip hidung orang barat, kecil, runcing dan mancung. Dari samping bibirnya seolah merekah maju minta dicium.

Lalu dia menoleh dan aku sadar aku sudah maju terlalu dekat padanya. Matanya menelanku, dan aku bisa membaca arti tatapannya kali ini. Dia berdebar-debar, sama sepertiku. Namun tanda tanya lebih mendominasi di sana. Bayangan si kulit putih itu kembali melintas.

Aku menyipitkan mata, “Apa sekarang matamu sudah berkerut? Cepat sekali kau menua,” kataku mengalihkan perhatiannya, mengalihkan rasa marahku.

Matanya melebar lalu dia tampak kesal. Haha, wanita. Tidak ada satu wanita pun yang senang diberitahu mereka sedang menua. Kalau dia bersamaku, aku tak akan melepaskannya sampai tua dan aku akan membiarkannya tahu bahwa dia menua setiap hari dengan cantik. Akan kutunjukkan padanya bahwa menua bersamanya adalah hal terbaik yang bisa dimiliki seorang pria. Bukan, bukan hanya seorang pria, itu hal terbaik yang bisa aku peroleh. Beranjak tua, berbagi hidup dengannya.

Dia mengalihkan wajahnya cepat-cepat. “Kau ini!” hardiknya. “Tidak semua manusia itu artis yang kegiatan utamanya pergi ke salon menjaga penampilan!”

Aku mundur. Lega, karena dia tidak melihat kemarahanku. Kehilangan, karena harus menikmati wajahnya di bawah bayang-bayang lagi.

“Kau sendiri? Lihat ini, pori-porimu melebar, ini di ujung bibir, kenapa ada kerutan begini? Kau yakin perawatan salon bisa memperbaiki penampilanmu saat kau kembali nanti?” dia membalasku.

Aku menahan senyumku. Sebagai selebriti aku harus menunjukkan padanya bahwa aku terluka dengan pertanyaannya. Aku tidak berniat menunjukkan perasaanku padanya sebagai Park Jungsoo. Dia tidak butuh Park Jungsoo yang mencintainya, karena sudah ada orang lain. Aku akan menjadi Park Jungsoo yang adalah temannya. Seorang selebriti. “Ya!” kuhardik dia, kusingkirkan jarinya yang meraba pipiku. “Kau menghina ahli kulitku? Aku sudah bersamanya bertahun-tahun, dan dia ahli kulit terbaik di dunia, dia pasti bisa membuatku lebih muda seperti sebelum aku masuk militer.”

Dia menusuk pipiku hingga kepalaku terpaksa menoleh ke samping membelakanginya. “Waktu itu pun kau sudah tua.”

“Mwo?!” aku menepis tangannya dan tak melepaskannya. Mataku terarah tepat ke matanya.

“Waktu itu semua orang bilang, sudah waktunya kau masuk militer. Beberapa bahkan bilang sudah waktunya kau menikah. Beberapa fans memanggilmu dengan sebutan ahjussi.. Ah. Juh. Ssi. kau sudah tua,” ejeknya.

“Kau!” kata-kataku terputus karena tak tahu mau bilang apa lagi. “Aku masih muda!” akhirnya aku menyangkal bulat-bulat.

Tangannya di dalam genggamanku membalik, telapak tangan kami bertemu. “Maumu,” jawabnya dengan senyum mengejek.

“Aku masih muda! Masih berjiwa muda!” aku berkeras. Entah kenapa aku merasakan desakan menjalinkan jemariku di sela jemarinya.

“Jiwa muda tidak sama dengan penampilan muda…” dia tidak mau mengalah, menyesuaikan jemarinya di antara jemariku.

“Aku akan tampil muda lagi saat aku kembali,” kataku penuh dendam. Dendam? Hahaha… Aku meremas tangannya.

Dia menekuk lutut, meletakkan kepala di sana, balas meremas tanganku dan bergumam lirih, “Kalau kau tampak lebih muda malah orang-orang akan berpikir kau tidak ada kemajuan…” tatapannya sayu.

Aku meniru sikap tubuhnya, menghadapnya. “Begitukah?” hanya itu yang mampu kukatakan. Tiba-tiba semua hal menghilang, kata-kata lenyap. Hanya ada dia di hadapanku, tangannya dalam genggamanku.

 

Bee’s POV

Kami terdiam. Tangan kami terpaut. Aku menatapnya lama. Aku tak ingat kami pernah melakukan ini sebelumnya. Hanya mengamati wajah masing-masing. Kalau kami masih sama seperti dua tahun yang lalu, aku yakin saat ini kami sudah tidak lagi berpakaian dan sedang membelai satu sama lain. Selalu tak pernah ada waktu untuk sekedar mengamati wajah masing-masing. Menyenangkan juga bisa mempelajari setiap liku wajahnya seperti ini sementara dia melakukan hal yang sama padaku.

Aku menggigit bibir, merasakan jarinya bergerak mengelus permukaan tanganku. Aku membiarkannya. Aku juga membiarkannya mengamati bibirku. Aku tahu ada gairah di sana, tapi aku tak berani menanggapinya. Sebelum ini dia tampak berusaha agar tak menyentuhku. Sentuhanku selalu disingkirkannya. Dia tak ingin kami bersentuhan, aku bisa merasakannya. Ada penghalang di balik sikapnya yang menanggapi permintaanku.

Penghalang itu menghentikanku di usaha yang kesekian. Aku terus berusaha menunjukkan padanya aku ingin mendekat padanya. Aku ingin berada dalam lengannya, memelukku, tapi dia seolah tak menyadarinya dan justru membuatku menjauh. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang membuatnya tak ingin dekat denganku. Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah? Apakah karena posisiku yang sedang berpelukan dengan Simon tadi?

“Jung…” haruskah kupanggil dia Jungsoo? Atau Leeteuk?

“Panggil Leeteuk saja kalau kau merasa lebih nyaman begitu,” katanya saat melihat kataku terhenti.

“Ng…” aku menatapnya ragu. Lalu menatap tangan kami. “Kau mau kupanggil Leeteuk?”

Dia mengangkat kepalanya dan menyenderkannya di dinding tempat kami bersandar. Diam. Aku terus menunggunya. Aku tak akan mengatakan apapun sampai dia bicara.

Akhirnya setelah entah berapa menit dia bicara, “Aku akan menoleh apapun panggilanmu untukku. Asal kau memanggilku, aku akan menanggapi.”

“Jungsoo-ya..” sambarku langsung.

Dia menoleh, tersenyum. “Hmm?”

“Leeteuk!”

Senyumnya melebar, “Hmm?”

“Jungsoo ssi?”

“Ya?”

“Leeteuk ssi?”

“O?”

“Park Leeteuk?”

Dia tertawa. “Itu bukan namaku!”

Aku menggigit bibir malu.

“Namaku Park Jungsoo. Atau Leeteuk. Atau Teukie-teukie angel.”

“Kau bilang tadi, ‘apapun’ panggilanku untukmu…” aku mengingatkannya.

Ditariknya tanganku dan disimpannya di depan perut, kini kedua tangannya menggenggam tangan itu. Kepalanya tengadah menghadap langit. Setelah semua penolakan sebelumnya, aku tak mau merusak hadiahku. Kubiarkan tanganku tertanam dalam genggamannya. “Baiklah,” dia menjawab, “Apapun. Sekarang aku punya nama baru, Park Leeteuk.”

Aku tersenyum. “Kau.”

Dia menoleh, “Apa?”

“Aku memanggilmu kau. Kau yang kupanggil. Dirimu yang kupanggil. Kau.” Aku menyuarakan apa yang selalu kupikirkan selama dua tahun belakangan. Memanggil-manggilnya.

Sekarang dia menghadapkan seluruh tubuhnya ke arahku. Pahanya terlipat menyentuh tanah. Dia menatapku serius, “Ada apa, Beauty ssi?”

Aku kecewa. Dia masih memanggilku Beauty. Tidak sepertinya yang tidak masalah dipanggil apapun, aku ingin dia memanggilku Yeppo. Hanya dia yang memanggilku begitu. Dia yang memberiku panggilan itu, kuharap dia masih mengingatnya. “Apa yang kau pikirkan?” aku bertanya padanya.

“Maksudmu?” dia jelas tidak paham kemana arah pertanyaanku.

“Akka… kau melihatku dan Simon—“

“Jadi namanya Simon?” Apa perasaanku saja atau memang matanya tampak lebih gelap?

Aku mengangguk menjawabnya. Sebelum aku sempat mengatakan apapun lagi, dia berkata, “Berapa tahun jaraknya darimu? Dia tampak jauh lebih tua…” gumamnya sambil melepaskan tanganku.

Aku kecewa dan berusaha menjelaskan, “Jungsoo, aku tidak tahan lagi.”

“Apanya? Menungguku? Kupikir aku yang sedang menunggumu…” dia tertawa miris, “Tidak tahu apakah kau akan kembali atau tidak, aku terus menunggumu. Harusnya kalau ada yang tidak tahan itu aku.”

Kusentuh bahunya. “Bukan…”

“Apa?” tanyanya tajam.

Aku terkejut. Dia rupanya benar-benar marah. Hampir sama seperti saat dia marah padaku di tepi laut waktu itu. Di sana dia menghukumku, menyatukan tubuh kami sampai kami berdua basah kuyup karena diguyur ombak. Apakah sekarang dia akan menghukumku dengan cara yang sama? Apakah seks selalu menjadi media hukuman di antara kami?

“Lebih baik kau tidur. Kudengar besok kau berangkat pagi-pagi sekali.” Jungsoo menegakkan tubuhnya.

“Tunggu!” aku menahan bahunya, tidak mau dia pergi.

“Aku mengerti, Beauty. Sudahlah. Hidupmu itu hidupmu. Hidupku—“

“Tidak!” aku berseru. Menatapi segala arah aku berusaha menata kata-kata yang berkumpul kacau di ujung lidah, “Kau salah. Aku tidak tahan begini, kau harus mendengarkanku. Aku kebanyakan minum. Aku limbung, dia membantuku. Itu saja. Dia punya obat penghilang mabuk di kamarnya. Dia seperti guru untukku. Aku sudah mengenalnya lama sekali. Dia pembimbingku. Dia guruku. Dia bukan seperti itu. Dia guruku. Dia orang yang kuhormati. Dia guru.. aku sudah mengatakannya tadi… Jungsoo…” aku mendongak karena dia diam saja.

Dia tampak berharap. “Dia tak lebih dari guruku…” akhirnya aku mengatakannya lagi, pelan.

Dia kembali menyender. Aku menyentuh telapak tangannya, berusaha menggenggamnya lagi. Dia diam saja tak membalas. Begitu selama beberapa saat sampai aku tak tahan lagi. “Kumohon katakan sesuatu,” pintaku.

Jungsoo menghela nafas dalam-dalam. “Dari seminggu yang lalu, temanmu yang dari universitas itu terus menelepon, memundurkan jadwal kedatangan kalian. Terakhir kemarin dia bilang kalian akan datang hari ini. Aku sudah begitu gembira sampai bangun tidur aku mendapat panggilan untuk bergabung dalam patroli. Aku menyumpah-nyumpah seharian, dalam hati. Aku sudah sangat menunggu hari ini, dan aku harus patroli! Aku menyela sumpah serapahku dengan doa semoga kalian tidak jadi datang lagi, dan yang kudapatkan adalah kau sudah pergi kembali ke kamar setelah mereka menjamumu. Kau harus pergi pagi-pagi besok. Aku harus apel pagi besok. Kau pikir bagaimana perasaanku melihatmu dalam pelukan lelaki itu setelah seharian yang kacau begitu?” Jungsoo mengatakannya dengan nada datar, tapi tangannya kini sudah menggenggam erat tanganku.

“Jungsoo…”

Dia menoleh. Aku ingin menangis. Sungguh akhirnya air mataku keluar setelah sebulan lebih menyesaki tenggorokan. “Jungsoo, bisa kau memelukku?” pintaku pelan.

Dia melepaskan tanganku dan menarik lenganku cepat sekali. Dalam sekejap aku sudah berada dalam peluknya. Kepalaku dia benamkan dalam lekukan lehernya. Aku menyesuaikan tubuhku, merangkak menaiki pangkuannya. Lalu kedua lenganku melingkari pinggangnya.

“Yeppo…”

Aku terisak. “Yeppo…” panggilnya lagi mencium keningku. Basah.

Aku bergetar mendengar suaranya. Suaraku sendiri tak bisa keluar. Segala kerinduanku meleleh. Aku mendapatkannya lagi dalam pelukku. Dia nyata lagi.

Dia berbisik di pelipisku. “Kau pulang… kau pulang, Yeppo… Kau pulang…”

 

KKEUT.

 


Iklan