Tag

, , , , , ,

Author : Bee

Main Cast : Matsumoto Jun, Go Miho

Support Cast : Lee Sungra, Kim Raena, Choi Hyunjoon, Ayako (Masami) Matsumoto, Lee Taemin, Jo Kyuhyun, (in the shadow) Choi Seunghyun.

Cameo: Shim Changmin, Kim Jongwoon

Rating : AAbK

Genre : Teen Romance

Ps : Ini untuk geng (eh?) 2-5 ciptaannya Lee Sungra. Maaf kalo Miho dan Jun-nya bikin muntah~. Maaf kalo sudah memfitnah Miho jadi cantik. Dan buat anak-anak 2-5’s Sungra yang super heboh, hehe maap yak, kalo ada yang ga sesuai… *cengir chasire*

url: http://wp.me/p1rQNR-cx

 

>>>

 

From: Jun-nyan
Massage: Pagi, HoChan… Kangeeeen >.<

Miho terkikik geli. Dasar kekanakan. Tek tek tek, dia membalas:

To: Jun-nyan
Massage: Pagi, uri Jun-ie~ Aku biasa saja…

Lalu Miho terkikik lagi. Kikikannya belum berhenti ketika ponselnya berbunyi lagi.

From: Jun-nyan
Massage: Awas kau nanti! Aku lumat sampai habis!

Miho menggigit bibir. Apa ruginya bagi dia dilumat Jun-nya? Tek tek tek, dia membalas lagi:

To: Jun-nyan
Massage: Wuuu, takuut… Mauuu.. 😀 😀 😀

Miho memasukkan ponselnya ke saku, lalu membenahi rambutnya. Sudah siap. Tinggal berangkat. Hari ini indah, seperti biasa. Seperti keindahan luar biasa yang dirasakannya setiap pagi sejak Jun-nya datang.

Miho terkejut saat ponselnya berbunyi. Jun! “Yoboseyo?” tanyanya.

Di seberang sana Jun tidak mengatakan apapun. “Yoboseyo?” ulang Miho. Kening Miho berkerut karena hanya mendengar desah nafas Jun. “Jun-nyan? Yoboseyo?”

Lalu Jun mendesah seolah hendak berbicara, tapi tidak. Jun hanya terdiam, membuat Miho memandangi teleponnya dengan heran. Indikator sinyal tampak penuh, sambungan sepertinya jernih, suaranya tidak bergema, lalu kenapa Jun-nya tidak berkata apapun? “Jun-nyan? Aku mau keluar, harus berpamitan—“

“Kencan!” suara Jun memutus perkataan Miho.

“Eh?” Miho kebingungan.

“Ayo kita kencan sepulang sekolah. Aku ingin berdua denganmu.” Jun berkata cepat-cepat.

Miho menggigit bibirnya menahan cengiran. Dia di tangga, ibunya ada di bawah, begitu juga ayahnya. Bisa gawat kalau mereka melihatnya cengar-cengir tidak jelas di tengah tangga, menyender pada pegangan tangga. Miho buru-buru menaiki tangga yang sudah separuh dituruninya. “O,” jawabnya singkat pada Jun.

Miho seolah bisa melihat Jun melonjak kegirangan, sementara dia meraih ke dalam lemari pakaian mengambil baju ganti. Kencan. Sepulang sekolah. Harus ada baju ganti.

“Ho-ya…” Jun akhirnya berkata lagi setelah beberapa saat tidak terdengar suaranya.

“Mmm?” Miho sibuk memilih-milih baju.

“Cepat datang! Aku ingin melihatmu!” Jun berkata lalu buru-buru menutup ponselnya.

Kali ini Miho membiarkan tawa kecil terlepas dari mulutnya sebelum menutup ponsel. Sebentar lagi, Jun Sayang… jawabnya dalam hati.

>>>

Jantung Miho berdegup. Apa Jun sedang menunggunya? Tanpa bisa dicegah senyum Miho terkembang, sekarang dia terpaksa pura-pura melakukan sesuatu hanya agar orang-orang tidak mengira dia sedang gila.

Miho melihat Jun langsung berpaling begitu dia memasuki pintu kelas. Saat pandangan mereka bertemu, Miho bersyukur atas hidupnya hari ini. Ini masih pagi tapi dia tahu hari ini akan sempurna. Jun-nya, di sana, membalas senyumnya dan sudah hendak bangun menghampirinya ketika Hyukjae menarik tangan pacarnya itu kembali duduk dan kembali bercerita dengan asyiknya sambil diamini Taemin. Jun tidak bisa berbuat apapun kecuali memandang Miho dengan memelas. Miho melemparkan senyum mengerti kemudian beranjak mendekati mereka.

Baru dua langkah, seseorang menarik tangannya. “Miho-ya!”

Terkejut Miho menoleh dan mendapati Sungra memandangnya dengan mata lebar, penuh semangat pagi. Yeeiy, hidup masa muda! Miho menggumam tidak antusias dalam hati saat Sungra menariknya ke arah tempat duduk temannya itu. “Pagi, Ra-ya…” Miho menyapa Sungra menyindir.

“Itu tidak penting!” Sungra membalas tanpa menoleh.

Miho memutar matanya dan suara seseorang di belakangnya menjawab sapaan terbuangnya dengan nada geli, “Pagi, Ho-ya…”. Raena.

Miho nyengir pada Raena yang tampaknya baru datang. Temannya yang paling dewasa itu mengikuti mereka berdua sambil masih menggendong tas di bahunya. “Pagi Kim Raena!” seru Miho ceria disambut cekikikan Raena.

Beberapa bangku sebelum bangku Sungra, Raena berhenti dan meletakkan tasnya di sana. Itu memang bangku Raena. Lalu Miho melihat Raena membongkar tasnya, mengeluarkan sebuah buku. Sebelum Sungra sempat menarik perhatiannya lagi, sekilas Miho melihat Jongwoon mendekati Raena.

“Miho-ya, lihat! Ini darurat!” desakan suara Sungra membuat Miho melupakan Raena dan Jongwoon.

“Apa?” tanya Miho bingung.

Sungra membuka tasnya dan mengeluarkan dua kantong plastik dengan ribut. Kantong plastiknya menjijikan karena sudah berkeriput-keriput, tapi sepertinya cukup bersih karena dari dalam keduanya Sungra kemudian menghamburkan beberapa potong pakaian beraroma wangi. “Ya, Sungra-ya… Apa sekarang kau jualan di sekolah?” Miho terpana melihat pemandangan kacau di hadapannya.

Tingkah Sungra menarik perhatian beberapa anak lain di sekitar mereka, tapi Sungra tidak peduli. “Yang mana?” tanya anak itu tidak jelas.

“Heh?” Miho kebingungan.

“Lihat,” Sungra mengangkat sepotong baju laki-laki, “Kau pikir baju ini bagus?”

Miho memperhatikan baju di tangan Sungra dan menelengkan kepalanya. Lumayan. Trendi. “Tidak buruk. Keren kok. Kenapa?” dia menjawab Sungra.

“Keren?” tanya Sungra, membuat Miho mengangguk memastikan jawabannya. Lalu Sungra mengangkat satu kemeja pria, “Bagaimana dengan yang ini?”

Lebih formal, Miho melepaskan satu tali ranselnya dan duduk di bangku sebelah meja Sungra dan Taemin. “Ung, resmi.” Miho menjawab jujur.

“Kalau begitu ini,” Sungra mempertahankan baju formal itu dengan satu tangan kemudian mengambil sepotong gaun untuk dijejerkan di sebelahnya dengan satu tangan yang lain, “dengan yang ini, cocok tidak?”

Miho menghela nafas. “Ra-ya… apa kau sedang meminta pendapatku untuk baju pasangan?” tanya Miho menyelidik.

“O!” Sungra mengiyakan.

Miho menunduk dengan dramatis. Lalu saat mengangkat kepalanya, sebuah cengiran lebar terlihat di wajahnya, “Apa, kapan, siapa, dresscode?” Miho bertanya.

“Acara pernikahan sepupuku, Janghyuk Oppa, kau tahu kan? Akhir pekan ini. Aku dan Taemin, tentu saja. Dresscode? Molla~ yang penting aku dan Taem bisa tampil wajar.” Sungra menjawab.

“Taem tidak akan suka kemeja yang sedang kau pegang,” Miho menunjuk kemeja laki-laki di tangan Sungra. “Terlalu bapak-bapak. Biar kutebak, Taem mau memakai ini?” Miho mengambil baju cowok yang tadi pertama ditunjukkan Sungra. Anak itu mengangguk kesal.

Miho tertawa, “Ibumu tidak akan suka dia pakai ini.”

“Iya kan? Eotteohke~” Sungra putus asa.

Miho melihat ke tumpukan baju yang dibawa Sungra. Matanya menemukan sebuah kemeja formal yang cukup modis, asal dipadukan dengan aksesoris yang tepat. “Kau mau pakai gaun itu?” Miho menunjuk gaun di tangan Sungra.

“Baru rencana,” jawab Sungra agak berharap melihat Miho sudah tampak serius melihat tumpukan baju yang dibawanya.

Miho bangun dari duduknya lalu mengaduk-aduk baju yang sudah berserakan di atas meja itu. “Aku tidak percaya kau memperlakukan bajumu seperti ini. Ya ampun, bahan seperti ini kan susah sekali disetrika, kenapa kau menggulungnya asal begini! Pastikan kau menyetrika ini semua begitu sampai di rumah! Kasihan sekali baju-bajumu! Cham! Bagaimana kau bisa membawa baju-baju Taemin?!” Miho tiba-tiba tampak penasaran dan skeptis sekaligus.

“Dia menelusup ke kamarku saat aku sedang mandi.” Suara Taemin mengagetkan Miho. Dia menoleh pada Taemin lalu menoleh kembali pada Sungra dengan tidak percaya. “Kau itu cewek! Biarpun rumah kalian bersebelahan bukan—“

“Dan bisa dicapai hanya dengan melompati balkon,” Taemin menyela.

“Dan bisa dicapai hanya dengan melompati balkon,” Miho membeo, “Bukan berarti kau bisa seenaknya masuk ke kamar pacarmu yang sedang mandimmph…” Miho dibekap Sungra.

“Kau mau mati?!” ancam Sungra. Bagaimanapun dia malu kalau ketahuan suka melompati balkon.

Miho berjuang melepaskan diri dari Sungra, “Tetap saja!” dia tidak mau mundur. Kadang-kadang Sungra memang pantas dimarahi.

“Ah sudahlah, yang penting aku tidak suka berdua-duaan seperti kau dengan Matsujun-mu itu! Entah apa yang kalian lakukan di tempat terpencil yang tidak ada orang!” Sungra menuduh.

“Namanya Jun! Matsu itu nama keluarganya, Matsumoto Jun. Aish, sampai kapan kalian akan memanggilnya Matsujun?! Kenapa kalian tidak memanggil Ayako dengan MatsuAyako, padahal dia kembaran Jun-nyan?!” protes Miho.

“Aku? Aku kenapa?” suara cewek terdengar dari belakang Taemin. Ayako berdiri di sana dengan tangan memegang penghapus papan tulis. Rupanya ini hari piketnya. “Aw, Ra-ya, itu gaunmu? Manis sekali…” mata Ayako tampak berbinar melihat gaun di tangan Sungra.

Sungra mengabaikan Ayako, “Sudahlah, yang penting, berikan saranmu untuk kami!” desak Sungra pada Miho. “Baju yang mana? Yang mana?” Sungra menatap tumpukan bajunya bingung.

Lalu bel masuk berbunyi. Mereka bertiga bertatapan sambil ditatapi Ayako yang tidak tahu apa-apa. “Istirahat,” akhirnya Miho memutuskan. “Kita bicara lagi saat istirahat nanti. Aku sudah lihat bajumu, biar aku pikirkan dulu.”

Sungra mengangguk. Tidak ada yang bisa diperbuatnya. Sudah waktunya masuk, dan gara-gara pembagian bangku mendadak minggu lalu, mereka berlima—dia, Miho, Ayako, Raena dan Hyunjoon—tidak bisa lagi ngerumpi sepanjang pelajaran karena tempat duduk mereka terpisah sekarang. Yah, kalau dipikir sebenarnya dia masih beruntung, masih sebangku dengan Taemin. Tidak seperti Hyunjoon yang tiba-tiba harus duduk dengan Changmin sementara Miho mengambil alih Kyuhyun-nya. Jun juga sengsara karena terpisah dari Miho dan sekarang duduk dengan Ayako. Untung Hyukjae duduk tepat di belakang mereka, sehingga mood Ayako tidak buruk-buruk amat. Sementara Raena… Sungra menatap Raena yang masih saja tampak tidak nyaman duduk di depan Jongwoon.

Miho duduk di bangkunya dan melirik menyesal ke arah kanan depan. Beberapa baris dari bangkunya, Jun-nya sedang sibuk mengobrak-abrik tas mencari buku pelajaran pertama. Ah, pasti tas cowok itu berantakan sekali, pikir Miho menyesal karena nasibnya tidak seberuntung Sungra. Dia bahkan tidak punya kesempatan bicara dengan Jun sebelum pelajaran dimulai. Pertukaran bangku sialan!

“Memang menyebalkan,” suara Kyuhyun mengejutkan Miho dari sebelahnya.

“Mwo?” Miho tidak ingat dia mengatakan apapun, kenapa tiba-tiba Kyuhyun menyambar jalan pikirannya?

“Jangan kau kira hanya kau yang sebal dengan pertukaran bangku ini. Aku juga tersiksa!” gerutu Kyuhyun tidak peduli meskipun anak-anak lain sudah mulai mengeluarkan buku. Cowok itu tidak melepaskan matanya sekejap pun dari PSP di tangannya.

“Geureohnikka, kenapa kau mengusulkannya?” Miho berkata sebal, hampir melayangkan bukunya ke arah kepala Kyuhyun yang minggu lalu tiba-tiba mengusulkan kepindahan bangku pada wali kelas mereka. Entah setan apa yang menguasainya, dia ngotot sekali, dan kalau sudah begitu, dia pasti jadi tukang meyakinkan orang nomor satu. Bahkan Hyunjoon tidak sebanding dengan Kyuhyun kalau cowok itu sudah niat. Catatan, Hyunjoon itu selalu nomor satu di kelas dalam hal kepandaian.

“Aku sedang bertengkar dengan Hyunjoon waktu itu,” akhirnya Kyuhyun meletakkan PSPnya dan mulai mengeluarkan buku. Dengan kesal Miho memukul kepala Kyuhyun dengan buku di tangannya. “Ya!” Kyuhyun mendesis marah sambil melotot, tidak berani keras-keras karena guru pertama mereka sudah datang.

“Siapa suruh kau bertengkar dan merugikanku?!” desis Miho balik. Karena postur tubuh mereka yang tinggi, Kyuhyun dan Miho duduk di deretan belakang, sehingga yang perlu mereka lakukan hanyalah menunuduk untuk menyembunyikan percakapan mereka.

“Kalau bukan cewek, sudah kujitak balik kau!” Kyuhyun masih memelototi Miho, tapi suaranya tidak seemosi tadi.

“Aku tidak takut padamu! Haaa~ Jun-nyaaaannn…” Miho merajuk manja sambil menoleh kangen ke arah Jun. Sudah satu minggu mereka kehilangan intensitas pertemuan yang sifatnya pribadi. Kalau bukan karena tugas, pasti mereka ramai bersama-sama yang lain.

Kyuhyun mendesis, “Ciss… aku heran punggung Matsujun tidak lecet kau pandangi terus!”

Miho tidak menanggapi Kyuhyun, menoleh saja tidak, tapi tiba-tiba terdengar suara Kyuhyun menjerit tepat saat ketua kelas memberi komando salam selamat pagi, “AAAAA!!!”

Miho pura-pura terkejut lalu menoleh pada Kyuhyun, “Kyuhyun-a, gwaenchanha?” tanyanya dengan suara sengaja dikeraskan.

Kyuhyun hanya mendelik pada Miho lalu meringis kepada seluruh kelas sambil mengelus-elus lengannya yang terasa pedih dicubit Miho. Kekuatan Miho bukan untuk main-main. Kyuhyun harus berpikir dua kali kalau mau menantang Miho lain kali. Dari arah depan terdengar suara guru mereka, “Mimpi buruk, Jo Kyuhyun? Yakin kau sudah bangun sekarang?”

Seisi kelas tertawa dan Kyuhyun menyepak kaki Miho di bawah meja. Miho melebarkan matanya lalu dengan cepat menginjak kaki yang baru saja menyepaknya. “Aa!” Kyuhyun menjerit tertahan, cepat-cepat menutup mulut sebelum kembali menarik perhatian kelas yang sudah kembali ke guru mereka.

Miho melepaskan kakinya lalu melirik merendahkan pada Kyuhyun, membuat yang dilirik bersungut-sungut. “Awas kau Miho! Kubilang pada Matsujun nanti kalau kau sebenarnya jorok!”

Miho tidak menjawab, malah mengulurkan tangan. “Mwo?” Kyuhyun bertanya sebal.

“Tugas biologiku! Mana?” Miho bertanya angkuh.

Kyuhyun manyun. “Ada di Hyunjoon. Nanti saja bisa kan? Toh itu pelajaran terakhir,” Kyuhyun menjawab kesal.

“Tadinya aku mau menunggu sampai sebelum waktunya saja, tapi karena kau sudah bertingkah sangat menyebalkan, aku mau mengambilnya sekarang! Aku khawatir kau menghilangkannya…” Miho berkata ringan sambil membuka buku sesuai instruksi guru mereka.

Kyuhyun hanya menggumam menggerutu tak jelas. Dia tidak punya kesempatan membalas karena guru mereka menyuruhnya mengartikan kalimat dalam buku teks. Bahasa Mandarin sialan!

>>>

Istirahat. Sungra menarik tangan Miho lagi ke bangkunya, tapi baru sebentar mereka di sana, semua orang sudah memelototi mereka. Semua orang itu maksudnya Hyunjoon-Kyuhyun, Ayako-Hyukjae, Raena, Jun, dan Taemin. “Arasseo, arasseo!” akhirnya Sungra mengalah. “Baiklah, kantin. Ayo!” Sungra terpaksa menuruti semua orang.

Miho terkikik geli melihat itu. Sungra tampak sebal karena keinginannya belum juga terpenuhi, tapi apa boleh buat. Miho mengangkat wajahnya dan melihat Jun sedang menatapnya. Tawa Miho langsung berubah jadi senyuman bahagia. Dia beranjak menghampiri Jun dengan senang.

Tapi terpaksa kecewa karena Jun ditarik dari belakang oleh seseorang. “Jun, kau dipanggil ke kantor. Entahlah, kau dan Ayako,” Jongwoon bersuara memberitahu.

Miho membuka mulutnya dengan kecewa, ingin protes, tapi keburu disela oleh Ayako, “Ah! Nii-chan! Suratnya!” lalu cewek itu segera menarik tangan Jun meninggalkan kelompok mereka.

“Jadi, kalian mau ke kantin?” Jongwoon menggosok-gosokkan tangannya, lalu nyengir. Miho yang kecewa tidak mempedulikan Jongwoon, tapi Raena mendekat padanya dan memeluk bahunya.

Saat Miho menoleh, Raena sedang tersenyum padanya. Lebar. “Kau lapar kan, Miho?”

Miho mengangguk sambil berpikir bahwa senyum Raena terlalu lebar. Dan Raena terlalu menempel padanya.

>>>

Jun tidak kembali sampai bel masuk berbunyi. Begitu juga dengan Ayako. Entah, sepertinya ada surat kepindahan yang harus diurus. Atau itu berkaitan dengan keterangan kependudukan untuk urusan kantor orang tua mereka? Tidak tahulah, Miho kurang paham, walau Jun sudah pernah bercerita sekali. Ternyata jadi murid pindahan antarnegara itu rumit.

Miho sedang melamun sendirian dan bukannya mengerjakan tugas mandiri yang diberikan guru mereka sebelum orang dewasa itu meninggalkan kelas mereka,ketika pundaknya ditepuk dari belakang. Raena berdiri di hadapannya, tersenyum padanya dengan setumpuk buku. “Aku duduk di sini ya?” ujar anak itu menunjuk bangku Kyuhyun yang kosong. Yang punya bangku sedang sibuk mengobrol dengan Taemin dan Jongwoon.

Miho mengangguk dan mencoba tersenyum. “Kau sudah sampai mana?” Raena melongok ke pekerjaan Miho.

Miho manyun. “Kau tahu kan, aku benci Sejarah?” Miho menyodorkan bukunya yang penuh tulisan. Tulisan soal. Belum satupun dia mengerjakan tugasnya.

“Kau benci apapun yang membutuhkan membaca untuk mengerti. Bisa dibilang kau benci semua pelajaran,” Raena terkekeh.

“Aku tidak benci olahraga.”

Raena mengangguk, lalu melengos. “Benar, kau suka olahraga. Tidak seperti seseorang,” mata Raena menatap ke arah dimana Kyuhyun berada. Tatapannya melankolis dan… berat.

Miho menoleh ke arah yang sama dan langsung berujar, “Oh tidak! Tidak, Rae-ah… Kau tahu kan itu tidak boleh? Tidak! Apapun yang pernah kau rasakan untuknya, itu harus dihentikan. Kupikir kau sudah melupakannya dengan berhubungan dengan Seunghyun Sunbae!”

Raena menoleh cepat. “Melupakannya? Kau gila ya? Bagaimana aku melupakannya kalau dia selalu ada di sekitarku?! Dia yang mendekatiku!” Raena berseru kesal.

Miho terkesiap. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, “Rae-ah… maafkan aku. Maafkan aku,” ujarnya memeluk Raena. “Aku tidak tahu perasaanmu pada Kyuhyun sedalam itu. Lupakan, oke? Demi kau, demi Kyu, demi kita. Demi Hyunj—“ Miho berhenti karena Raena melepaskan pelukannya kasar.

“Mwo?”

“Rae-ah… aku mengerti. Aku tahu rasanya bertepuk sebelah—“

“Kyuhyun?! Miho, otakmu kemana sih?!” Raena berseru sebal. “Lihat! Siapa saja yang di sana?”

Miho menoleh dan karena asumsinya, sosok Kyuhyun tampak paling jelas. “Kyuhyun,” jawabnya.

“Lalu?”

Miho melihat Taemin, “Taem dan… Hhh!” Miho terkesiap. Dia menatap Raena cepat, “Jongwoon!”

“Geurae! Jongwoon, Kim Jongwoon!” sentak Raena tertahan.

Miho mengekeret di bangkunya. “Mianhae, Rae-ah~” ujarnya lirih.

“Iiish, michigetta! Kenapa Kyuhyun kau bawa-bawa?! Kau mau aku dibunuh Hyunjoon?! Dulu aku memang patah hati, tapi sekarang aku lebih takut dicincang Hyunjoon!”

“Eehee…” Miho tertawa garing menutupi rasa tidak enaknya.

“Eottehke, Miho-ya~ Jongwoon tidak mau menjauh dariku. Aku masih teringat Seunghyun Oppa.” Raena cepat mengabaikan Miho dan mulai tenggelam sendiri dalam kegalauannya.

Karena Miho diam saja, Raena melanjutkan, “Kau ingat kan tadi dia bahkan mulai mengikutiku ke kantin? Kenapa harus begitu? Kenapa dia tidak bisa memberiku waktu? Kalau dia terus berada di sekitarku aku seperti sedang mengkhianati Seunghyun Oppa!”

Miho perlahan melupakan rasa malunya dan mulai mendengarkan Raena. Dia menimpali, “Tapi bukannya kau dan Seunghyun Oppa…”

“Sudah putus, arra… Tapi kan tidak bisa begitu! Mana bisa dia memutuskan semuanya sendiri! Aku tidak bilang mau putus, dia yang terus-terusan bilang ini demi kebaikanku. Huh, baik apanya, memang dia pernah bertanya perasaanku?!” Raena menggerutu.

Miho membuka mulutnya. Bukan hendak bicara, hanya tanda mengerti. Benar juga, dari cerita Raena, semua diputuskan oleh Seunghyun Sunbae. “Tapi Rae-ah… Kalau dibilang tidak salah… kau tidak bisa begitu juga… Kau kan… umm…” Miho melirik hati-hati.

“Apa?” Raena melirik penasaran.

“Kau kan juga tidak tegas,” sambung Miho. Karena Raena diam saja, Miho melanjutkan, “Kalau kau tidak setuju seharusnya kau mengatakan dengan tegas, apa maumu. Jadi Seunghyun Sunbae tidak mengambil keputusan untukmu.”

“Lalu Jongwoon?” Raena bertanya bingung.

“Loh, memang kau dan Jongwoon ada hubungan apa? Bukannya kau sendiri yang bilang pada kami bahwa Jongwoon sudah menyuruhmu jangan memikirkan pengakuannya?” Miho tampak aneh.

“Itu kan hanya kata-katanya. Nyatanya, dia terus berkeliaran di sekitarku. Memperhatikanku. Tidak kentara, tapi dia ada. Kalau begini lama-lama aku bisa suka padanya.”

“Jadi kau sekarang tidak suka padanya?”

“Aku tidak membencinya.”

“Yah mungkin Jongwoon lebih baik dari Seunghyun Sunbae…”

“Miho!”

“Wae?” Miho memprotes. “Benar kan? Kalau kau terus menggantungkan diri pada Seunghyun yang semudah itu melepaskanmu—“

“Miho!” Raena berseru mencengkeram lengannya.

“A wae?! Kau harus mendengarkanku dulu! Aku belum selesai bi—“

“Miho! Lihat!” Raena menunjuk ke suatu arah di belakang Miho.

Kyuhyun dan Changmin sedang berhadapan. Suasana di antara mereka tidak bagus. Sama sekali tidak bagus. “Kami tidak ngapa-ngapain!” desis Changmin marah, cukup keras untuk didengar semua orang di kelas yang sudah hening karena tegang.

“Kau sedang mengambil kesempatan! Aku tahu!” Kyuhyun gemetar, tampak sekali karena marah.

“Tidak! Kami mengerjakan tugas, bukan ngobrol seperti kalian!” Changmin meninggikan nada bicaranya, mengejek menatap Taemin dan Jongwoon.

“Lalu kenapa kalian duduk dekat sekali?! Jangan kau pikir aku sudah lupa kalau kau pernah—“

“Kyu!” seruan marah Hyunjoon mengagetkan Kyuhyun, Changmin dan anak-anak lain. “Kerjakan tugasmu!” perintah Hyunjoon. Wajahnya memerah karena malu. Semua anak di kelas tahu Changmin dan Kyuhyun berteman, tapi mereka juga tahu dengan jelas bahwa kalau tentang Hyunjoon, ada persaingan tidak terlihat di antara keduanya. Biarpun Hyunjoon dan Kyuhyun sudah dikenal dimana-mana sebagai pasangan.

Kyuhyun menggeram kesal, lalu dia berjalan mendekati Hyunjoon, tangannya mencengkeram tangan pacarnya itu dan menariknya ke bangku Sungra. Di sana dia mendudukkan Hyunjoon dengan paksa lalu kembali ke meja Hyunjoon dan mengambil semua buku tugas di atas meja Hyunjoon, dibawa ke tempat anak itu berada. “Kerjakan di sini!” katanya marah pada Hyunjoon.

Sorakan anak-anak sekelas mengejutkan Kyuhyun. Dia baru sadar bahwa tindakannya telah diamati oleh seluruh kelas. Tapi terlambat, sekarang semua orang tahu dia sedang cemburu. Miho melihat wajah Hyunjoon dan Kyuhyun sama merahnya, sementara Changmin tersenyum masam. Kasihan.

Miho merasakan cengkeraman di tangannya dan dia tahu Raena yang melakukannya. “Ayo kerjakan tugas kita, Miho-ya.”

“Eh?” Miho kaget. Dia tidak menyangka Raena akan mengajaknya mengerjakan tugas. Normalnya kan, mereka akan mendatangi Hyunjoon dan menenangkan anak itu, eh maksudnya, menuntut Hyunjoon bercerita dari awal. Oke, itu normalnya Miho sih…

“Kerjakan tugasmu, Miho.” Raena berkata lebih serupa perintah. Miho menatap temannya sebal, tapi lalu sadar bahwa Raena sedang berusaha membuatnya duduk diam dengan satu posisi tertentu. Mata anak itu bolak-bolik melirik ke satu arah dan saat Miho mengikuti arah lirikannya, tahulah Miho apa penyebab sikap aneh Raena. Ternyata Jongwoon sedang duduk tenang di bangkunya, terus menatap Raena.

Miho menghela nafas. Dasar pencari udang di balik batu. Bisa tidak sih Jongwoon lebih jantan dan mendekati Raena lebih tegas? Dalam hal ini sepertinya Miho lebih salut pada Kyuhyun. Eh, tunggu dulu, kalau mengingat sifat Raena, sifat gamblang seperti Kyuhyun tadi sepertinya tidak cocok. Dalam taraf pendekatan pasti Raena sudah kabur duluan. Aaah, sekarang Miho berpikir bahwa Jongwoon lumayan cerdas. Dia melebarkan matanya saat Jongwoon tidak sengaja mengalihkan pandang padanya. Dengan niat memuji, Miho nyengir pada Jongwoon lalu mengikuti tingkah Raena yang sudah (sok) sibuk mengerjakan tugas.

Sebelum fokusnya pada buku mencapai seratus persen, Miho sudah menguap. Saat menguap dia bertemu pandang dengan Jun. Jun-NYA! Miho ingin berlari ke arah cowok itu dan menghambur memeluknya, tapi ini di kelas, jadi tidak mungkin. Lagipula Raena… menjaga ketat posisinya.

Jun nyengir dan dengan sigap membereskan bukunya. Tidak sampai lima menit cowok itu sudah sampai di hadapan Miho dan menarik kursi duduk di sebelahnya. “Hai,” sapa Jun.

Senyum Miho lebar sekali. Untuk menjaga agar bibirnya tidak robek, Miho menggigit bibir bawahnya. “Hai,” balasnya.

“Hai, Jun! Makan apa kau tadi?” suara Raena membuat Miho menoleh. Temannya itu sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari buku, tapi mulutnya bergumam tidak jelas.

“Makan surat!” Jun menggerutu. Miho menoleh dan menatap kasihan pada pacarnya. Tangannya menggenggam tangan Jun.

“Kasihan, uri Jun-ie…” desisnya prihatin.

“Gwaenchanha,” Jun membalas tanpa suara.

Miho meremas tangan Jun dan hendak bertanya, “Ken—“

“Apa tugas kalian sudah selesai?” tiba-tiba terdengar suara guru dari pintu.

Siaaaaaal! Miho memaki keras-keras dalam hati. Ada apa sih dengan hari ini?!!!!

Jun mengangkat tangan Miho ke bibir dan menciumnya diam-diam sebelum kembali ke bangkunya. Kita bicara nanti, kira-kira begitu arti tatapan Jun pada Miho sebelum pergi.

Dunia Miho berguncang. Separo karena Jun, separo karena anak-anak di sekitarnya sedang gelagapan kembali ke bangku mereka masing-masing. Setengah alam bawah sadar Miho sempat menyadari bahwa Kyuhyun hampir bertubrukan dengan Raena saat kedua anak itu berlarian kembali ke bangku masing-masing.

>>>

Sesaat sebelum jam pelajaran biologi, Miho pias. “Tapi kan aku sudah memintamu membawakannya, Joon-ie…” suara Kyuhyun memelas dan dia menatap Miho dan Hyunjoon bergantian, merasa bersalah.

“Kau tidak mengatakan apapun padaku! Kapan kau melakukannya? Memintaku membawakannya?” Hyunjoon berdiri di hadapan Kyuhyun dan Miho sambil melipat tangan di depan dada. Jelas-jelas jengkel pada pacarnya, dan kasihan pada temannya.

Kyuhyun bilang dia meninggalkan lembar tugas yang dia pinjam dari Miho di rumah Hyunjoon agar cewek itu membawanya. Alasannya apalagi kalau bukan karena Kyuhyun sangat teledor dan takut merusak barang Miho. Tapi Hyunjoon ingat dengan jelas tadi malam Kyuhyun pergi begitu saja begitu selesai minta diajari menggambar anatomi ikan sesuai gambar Miho. Anak itu bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal dan langsung sibuk dengan PSPnya.

“Aku mengatakannya. Tadi malam. Sungguh.” Kyuhyun tampak makin merasa bersalah.

Hyunjoon menggulung lembar kerjanya sendiri dan memukul kepala Kyuhyun. “Anikkotdeun! Kalau kau mengatakannya aku pasti ingat. Dan aku tidak mungkin membiarkannya di kamar begitu saja kalau memang gambar itu ada di sana. Aku ingat hari ini hari pengumpulan tugas itu!”

Hyunjoon kebagian menggambar anatomi katak, berbeda dengan Kyuhyun dan Miho yang satu kelompok, tapi toh mereka harus mengumpulkannya di waktu yang sama. “Bagaimana ini?” Miho terduduk di kursinya dengan lemas. “Tidak mudah menggambarnya, dan sekarang hanya tinggal sepuluh menit sebelum Shin Seonsaeng datang…” lemasnya.

“Ada apa? Kenapa?” Jun tiba-tiba datang dan langsung berjongkok di sebelah Miho.

“Anak ini menghilangkan tugas Miho.” Hyunjoon menjewer kuping pacarnya.

“Eh?” Jun tampak terkejut. “Tugas Biologi?”

“Aku tidak menghilangkannya!” Kyuhyun menyangkal. “Sudahlah, gambar lagi saja, Miho. Aku yakin gambar itu akan dikumpulkan di akhir pelajaran. Kau kan pintar menggambar… Aww!” Kyuhyun berseru ketika Hyunjoon memukul lengannya keras. “Sakit!” dia mendelik pada Hyunjoon.

“Kau tadi tidak dengar? Menggambarnya tidak mudah! Miho saja sampai bilang begitu, pasti benar-benar rumit! Kau sudah ditolong malah—“ ucapan Hyunjoon terputus oleh kata-kata Jun.

“Aku bantu,” Jun meremas tangan Miho. “Kau masih punya kertasnya?”

Mata Miho berkaca-kaca menatap Jun. Kepalanya menggeleng. Jun mendesah, lalu bangun. “Aku akan bertanya pada yang lain, mungkin mereka masih punya kertasnya, dan kita akan menggambarnya bersama.” Kertas untuk menggambar tugas itu memang khusus.

Hyunjoon membungkuk ketika Jun sudah pergi, menyamakan matanya sama tinggi dengan mata Miho, “Ho-ya, aku akan membantu mengulur waktu. Maafkan aku. Pasti sebenarnya tidak hilang, ada di rumahku, aku saja yang tidak teliti. Maafkan aku.”

Miho sudah panik. Dia hanya bisa menggeleng lemah. Bagaimanapun dia sudah berusaha keras untuk itu. Dalam kelompok mereka yang hanya berdua orang, karena Miho tidak bisa membedah ikan, maka Kyuhyun yang melakukannya. Karena Kyuhyun tidak terlalu pintar menggambar, maka Miho yang menggambarnya pertama agar nanti Kyuhyun tinggal mencontohnya. Melakukan itu bukan hal mudah sebab Miho harus menahan keinginannya muntah berkali-kali. Itu kerja keras. Membayangkan harus melakukan itu semua lagi, membuatnya lemas. Meski dia tinggal menyalin gambar Kyuhyun, tapi itu juga bukan pekerjaan mudah, sebab gambar Kyuhyun… yah, kalau situasinya tidak seperti ini, Miho pasti sudah tertawa terbahak-bahak melihat gambar Kyuhyun.

Kyuhyun berjongkok di depan Miho, di sebelah Hyunjoon. “Maafkan aku, Miho-ya. Aku bersalah…”

“Kalau begitu pikirkan sesuatu!” desis Hyunjoon kesal.

“Apa?” Kyuhyun malah bertanya.

“Ho-ya! Kau juga belum mengerjakan tugasmu?” Ayako datang dengan tiba-tiba. Jun mengikuti di belakangnya.

Cowok itu berkata meralat, “Bukan belum mengerjakan. Hilang oleh bocah sialan ini,” Jun menyepak kaki Kyuhyun, lalu, “Memangnya Miho itu kau?” dia memandang adiknya mengejek.

“YA!” Kyuhyun dan Ayako sama-sama membentak Jun.

“Wae?!” Jun malah menantang.

“Sudah!” Hyunjoon menengahi. “Kau dapat kertasnya, Jun?” tanyanya pada Jun.

Wajah Jun berubah, “Tidak, maaf. Tidak ada yang punya sisa.”

Mendengar itu Miho menarik rambutnya yang hari itu dikuncir dua keras-keras, “Aaaahaaa~ eotteohkeeee~???” tangisnya putus asa.

“Eotteohke, Joon-a???” Kyuhyun ikutan panik. Bagaimanapun dia yang menyebabkan masalah ini.

“Ayo kita ke ruang kesehatan saja, Ho-ya!” Ayako mengusulkan dengan antusias.

“Apa maksudmu?!” Hyunjoon yang mendengar itu langsung bertanya tidak setuju, sudah bisa meraba arah pembicaraan Ayako yang ingin bersembunyi.

“Lalu bagaimana?!” Ayako balas bertanya. “Aku sibuk menyiapkan kepentingan untuk surat-surat kepindahan kami sampai lupa tidak mengerjakannya. Punya Miho dihilangkan oleh Kyuhyun. Menurut kalian Shin Seonsaeng mau mengerti itu?!” dia tampak tidak sabar.

“Aku akan membantu memberi alasan,” Hyunjoon berkata. “Kalian bicara jujur saja. Jangan bohong, jangan melarikan diri.”

Ayako merengut lalu menggaruk tengkuknya. Mati Hyukjae nanti. Sebenarnya Hyukjae sudah berjanji hendak mengerjakan tugas itu untuk Ayako, kebetulan mereka punya objek yang tidak jauh berbeda, sama-sama tumbuhan. Tapi Hyukjae lupa! Dasar tidak bisa diandalkan. “Baiklah,” hanya itu yang bisa dikatakannya.

Miho mengerang lagi lalu menelungkup di atas meja. Harusnya hari ini sempurna kan? Kenapa jadi begini?!

>>>

Waktu pulang, Miho menunduk di atas mejanya, menghadapi kertas selebar 60 cm x 40 cm. Kertas itu masih kosong, sementara manekin anatomi tubuh manusia terpampang di depannya. Ayako sibuk ribut menggambar dengan Hyukjae di sebelah Miho. Sebagai hukuman karena tidak mengumpulkan tugas mereka hari itu, Miho dan Ayako harus mengumpulkan gambar tugas mereka ditambah gambar anatomi tubuh manusia, pada hari Senin. Tadi Hyunjoon membantu memberi alasan pada Shin Sonsaeng sehingga kelalaian mereka bisa sedikit dimaafkan.

Sekarang, Hyukjae sibuk menggambarkan tugas Ayako sebelumnya, sementara Ayako sibuk menggambar anatomi tubuh manusia. Hyunjoon sudah pulang dulu diantar Kyuhyun untuk mencari tugas Miho yang hilang. Sungra dan Taem mengatakan akan menggantikan tugas piket Ayako siang itu. Ditukar dengan jadwal piket mereka minggu depan. Raena ada urusan yang harus dilakukan. Dia sepertinya hendak berbicara serius dengan Seunghyun.

Miho merana melihat Ayako yang sibuk bertengkar dengan Hyukjae. Meski kedua orang itu ribut sekali saling marah, tapi Ayako sangat beruntung sebab Hyukjae ada di sampingnya. Jun-nya entah ada di mana.

Miho memperhatikan manekin jelek di depannya kemudian melempar pensilnya. Mereka sudah janji akan kencan siang ini! Seharian dia tidak punya kesempatan berdekatan dengan Jun! padahal mereka sekelas! Padahal mereka pacaran! Bahkan si brengsek Kyu yang menyebabkannya menjadi tahanan sepulang sekolah sudah pulang bersama Hyunjoon. Sungra dan Taem selalu lengket seperti telur rebus dengan kulit arinya. Bahkan Raena kalau tidak bersama Seunghyun, bersama Jongwoon! Kenapa sepertinya hanya dia dan Jun yang selalu kesulitan bersama?!

Harinya harusnya sempurna! Diawali dengan janji kencan, diakhiri dengan kencan! Kenapa dia malah berakhir menggambar patung menyedihkan yang porno itu! Siapa sih yang menciptakan manekin begitu?! Pasti kalau ada sekolah estetika nilainya buruk!

“Miho-ya… gwaenchanha?” Ayako bertanya takut-takut melihat Miho melempar pensilnya.

“Angwaenchanha!” teriak Miho menghentakkan kakinya. Dia kangen pada Jun! Dia ingin Jun! “Huhuhu~” Miho merasa dia hanya sendirian di dunia. Paling malang, paling kasihan, dan yang menyedihkan adalah, dia menyadari bahwa dia bersikap paling berlebihan.

“Ya… Miho-ya… Kau kenapa?” Ayako menghampirinya dengan panik.

Miho masih merengek. Dia benci pada dirinya yang lemah. Dia benci menyadari bahwa dia adalah anak cengeng yang manja. Tapi dia butuh Jun! “Jun kemana?” tanyanya di sela tangisnya.

Ayako menelan ludah sebelum menjawab, “Ano… karena aku di sini mengerjakan tugas, dia yang harus mengantarkan surat kami ke kantor Papa. Suratnya penting dan mendesak.”

“Kenapa tidak kau saja yang pergi?! Kenapa harus Jun?!” Miho merajuk.

“Ya! Miho-ya! Aku juga harus mengerjakan ini sepertimu!” Ayako tersinggung mendengar perkataan Miho.

“Tidak peduli! Aku mau Jun!”

“Ayako! Kami sudah selesai!” Sungra berseru dari pintu dan menghampiri mereka. Tidak menyadari suasana yang sedang tidak enak, Sungra bertanya keras-keras, “Ho-ya! Kau masih berhutang padaku! Cepat beritahu aku baju apa yang harus kami kenakan! Kau jangan mengelak ya! Jangan-jangan kau mau melarikan diri tidak mau membantu kami ya?” Sungra menuduh asal dan tidak nyambung sambil duduk di tempat yang ditemukannya.

Ayako tampak panik. “Sssh!” ujarnya memperingatkan Sungra.

“Ah, wae?! Itu kan masalah gawat! Darurat! Kalau tidak kami tidak bisa pergi bersama!” Sungra masih tidak menyadari situasi hati Miho.

“YA!” akhirnya Miho membentak. “Terserah kau mau pergi atau tidak! Pilih saja bajumu sendiri! Kalau begini caranya lebih baik aku tidak punya pacar! Kalian menyebalkan!” Miho berlari keluar kelas setelah menyambar tasnya.

Dia benar-benar kesal. Kenapa, setelah bersabar sekian lama, kenapa yang didapatnya hanya begini?! Mungkin bagi mereka tidak penting, tapi Miho butuh Jun. Hanya Jun yang bisa menenangkannya di saat seperti ini. Cowok itu mengerti dirinya dengan caranya sendiri. Mereka sih enak karena masih bisa bersama-sama terus, tapi Miho? Dia dan Jun sudah seminggu tidak bisa berdua. Gara-gara surat yang katanya sangat penting itu, Jun selalu tidak punya waktu sekedar menemani Miho di halte bus. Di kelas mereka selalu diganggu oleh yang lain. Kapan mereka bisa berdua saja?!

Miho tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke taman di dekat sekolah. Di sana dia duduk di salah satu bangku dan menangis jengkel. Dia jengkel terutama pada dirinya sendiri. Bagaimanapun dia pelajar, masa dia harus menangis hanya gara-gara gagal berkencan? Dan apakah itu salah teman-temannya? Yah, mungkin Kyuhyun memang butuh disiksa, tapi temannya yang lain kan tidak. Kenapa dia harus memarahi mereka? Sekarang Miho benar-benar menyesal. Ditambah lagi dia tidak jadi mengerjakan tugas tambahannya dan malah melarikan diri.

Ternyata berlari cukup ampuh untuk menurunkan emosi.

Miho menghabiskan rasa frustasinya di taman selama beberapa saat kemudian membulatkan tekad untuk kembali ke kelasnya. Dia sudah memutuskan untuk meminta maaf pada teman-temannya besok, terutama Ayako dan Sungra, karena sekarang mereka pasti sudah pulang. Hari ini dia akan menyelesaikan gambarnya sebisanya, lalu melanjutkan lagi pagi-pagi sekali besok. Gambarnya memang tidak bisa dikerjakan di rumah karena manekin itu tidak boleh dibawa pulang.

Sesampainya di kelas, Miho memandang ruangan yang kosong. Benar saja, teman-temannya sudah pulang semua. Tentu saja begitu, matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat. Dengan berat hati Miho melangkah masuk dan duduk di bangkunya. Pensilnya sudah diletakkan kembali di meja, entah oleh siapa. Miho benar-benar merasa tidak enak pada teman-temannya.

“Miho fighting!” dia berseru setelah menarik nafas. Kemudian dia mulai menggambar. Mungkin ini adalah salah satu tujuan kenapa dia diciptakan dengan bakat pandai menggambar. Sebentar saja sketsa di kertas Miho sudah terbentuk, meski belum sempurna.

Menit demi menit berlalu tanpa disadari Miho. Sekarang penerangan di kelasnya hanya diperoleh dari lampu. Ketika akhirnya sketsanya hampir selesai, Miho dikagetkan oleh suara yang memanggilnya, “Miho!”

Miho menoleh dan melongo melihat Jun berdiri di pintu kelas. “Jun-nyan?”

“Syukurlah, Miho!” Jun berlari menghampiri Miho kemudian memeluknya setelah dekat. “Kau di sini? Dari tadi di sini?”

“Oh, mengerjakan ini,” Miho menunjuk gambarnya.

“Kenapa ponselmu kau matikan?!” Jun tampak gemas.

“Eh? Aku tidak mematikan ponselku,” Miho menjawab sambil meraih tasnya mencari ponsel. Saat dia menekan tombolnya, tidak ada yang terjadi. Layarnya tetap hitam. “O! Baterainya pasti habis. Aku tidak menyadarinya.”

“Ya! Kau tahu betapa khawatirnya aku?!” Jun membentak Miho.

“Jun-nyaan…” Miho mengkeret.

“Ayako menghubungiku, bilang kau pulang sambil nangis. Dia menyuruhku menemuimu jadi aku ke rumahmu. Ternyata kau belum pulang. Orang tuamu jadi tahu kalau kami semua sudah pulang, tapi kau belum. Mereka panik sekarang. Apalagi ponselmu tidak bisa dihubungi! Kau kemana saja?! Kenapa tiba-tiba ada di sini?!” Jun berseru-seru sambil tersengal.

“A.. ak.. aku… Aku…” Miho tiba-tiba menyadari akibat perbuatannya. Dia tidak bisa memberi alasan karena merasa sangat bersalah.

Telepon Jun berbunyi, “Yoboseyo? O, Rae-ah. Aniyo, sudah ketemu. Dia bersamaku sekarang… ya, tidak apa-apa, dia baik-baik saja… Ya, aku akan memberitahu orang tuanya… Ya, terima kasih.” Jun mengakhiri percakapannya. “Raena ikut membantu mencarimu,” gumam Jun menjelaskan sambil berusaha menghubungi orang tua Miho.

“Yoboseyo… Ne… Tidak apa-apa, dia sudah ketemu… Sedang di sekolah, mengerjakan tugas… Aniyo, sendirian… Mianhamnida… Aniyo, kalau saya tadi bersamanya ini tidak akan terjadi… Ne, saya akan mengantarnya pulang… Ne.” Jun menutup ponselnya lagi.

“Lihat, ibumu panik sekali,” Jun bicara pada Miho.

Miho berkaca-kaca. “Harusnya kau biarkan aku bicara pada ibuku…” katanya bergetar.

“Sudahlah, mereka sudah tenang, tahu bahwa aku sudah menemukanmu,” Jun mengusap kepalanya.

“Aku.. aku…”

Ucapan Miho berhenti saat Jun merangkum pipinya. “Miho-ya… kau tidak apa-apa kan? Kenapa kau lari sambil menangis? Apa ada yang gawat?” cowok itu bertanya pelan.

Mendapat perlakuan selembut itu Miho malah jadi ingin menangis. Dia memeluk Jun erat-erat, “Huwaaaaa… aku rindu padamu… aku ingin kencan denganmu… aku ingin jalan berdua denganmu… tapi kenapa semuanya salah hari ini… huwaaa…” Miho menangis keras-keras di dada Jun.

Jun melongo mendengar itu. Dia tidak salah dengar kan? Miho melarikan diri hanya gara-gara tidak jadi kencan?! “Kau ingin kencan?” hanya itu yang sanggup dikatakan Jun.

“Waaa… Aku sudah menyiapkan baju ganti, aku sudah merencanakan hendak kemana, makan apa… Aku sudah membayangkan akan bergandengan tangan denganmu, jalan berdua, tapi gara-gara si Kyutilan itu aku tidak bisa pulang! Gara-gara surat pentingmu itu kau tidak bisa menemaniku!” Miho melanjutkan meracau.

Jun menghela nafas. “Tapi Miho, kalau tidak hari ini kan kita masih bisa kencan besok… Besok kan hari Sabtu. Kita bisa jalan seharian…” Jun berkata campuran antara gemas dan geli.

“Tapi kan kau mengajakku kencan hari ini!” Miho protes dan mengangkat mukanya yang basah ke arah Jun. Wajahnya menuntut. Dia sudah berharap, Jun tidak bisa—tidak boleh—menyalahkannya karena berharap!

Melihat mata Miho yang berkilauan karena air mata dan pipi serta bibirnya yang basah, Jun kehilangan kata-katanya dalam sekejap. Dia hanya bisa berkata, “Arasseo… Maafkan aku,” sambil memeluk Miho lebih erat.

“Kenapa kau minta maaf?” Miho bertanya bingung.

Jun mengalihkan pandangannya kemanapun selain Miho. Kalau diteruskan bisa-bisa Miho berada dalam bahaya. Karena dirinya. “Itu… Ah! Karena gagal berkencan. Maafkan aku karena kita tidak jadi kencan!” tangannya menepuk-nepuk lengan Miho gugup.

Miho membersit hidungnya, lalu merengut, membuat lutut Jun lemas. Dia melepaskan pelukannya dari Miho lalu bertanya, “Lalu bagaimana gambarmu?” tanya Jun.

Miho memisahkan diri dari Jun, yang langsung merasa lega sekaligus kehilangan. “Sudah selesai untuk hari ini. Besok pun kita tidak bisa kencan, karena aku harus menyelesaikan ini…” ujar Miho sedih.

Mendengar kesedihan Miho Jun jadi merasa iba. Dia menoleh dan menatapi pacarnya yang tampak capek dan acak-acakan tapi tetap menggemaskan. “Kemarilah,” panggilnya pada Miho.

Miho menurut dan mendekat. Jun mengangkat dagu Miho. “Kalau tidak besok, kita kencan Minggu. Kalau tidak Minggu, Senin, sepulang sekolah. Kalau bukan Senin, ya Selasa. Aku menjanjikanmu kencan setiap hari. Bagaimana?”

Miho terkejut mendengar itu. “Kau berlebihan,” ujarnya malu.

Jun tersenyum. “Aku datang ke sekolah, melihatmu, mendapatkan senyummu, makan di sebelahmu saat istirahat, itu sudah seperti kencan untukku,” lanjutnya sambil memeluk Miho lagi dan meletakkan dagu di puncak kepala cewek itu.

Miho tidak menjawab, hanya melingkarkan tangannya ke pinggang Jun.

“Tapi kalau kau mau dandan cantik sekali untukku besok juga aku tidak menolak,” sekarang Jun merenggangkan pelukan mereka.

“Sudah kubilang tidak bisa, sebab besok aku harus menyelesaikan ini,” Miho menunjuk gambarnya.

“Kita kencan di sekolah saja. Kau bawa bekal, aku temani kau menggambar. Dandan yang cantik. Bagaimana?”

“Ehehe…” Miho hanya bisa tertawa geli. Air matanya sudah kering, dan dia sangat menyadari bahwa wajah Jun dekat sekali dengan wajahnya.

Jun ikut tertawa. Miho-nya, tawanya selalu menular. “Sudah sana, bereskan barang-barangmu,” suruhnya melepaskan Miho.

Miho mengangguk dan membereskan barang-barangnya. Sambil bekerja dia berkata, “Aku tahu semuanya akan baik-baik saja kalau ada kau. Saat aku mendengar suaramu di telepon, aku pikir hari ini akan sempurna, tapi lalu semua kekacauan ini datang. Aku tidak bisa mendekatimu, kau selalu sibuk…” Miho memutar badannya menatap Jun. Mata lebarnya mempesona Jun saat dia berkata, “Tapi lalu aku tahu, kekacauan itu menyempurnakan hariku karena pada akhirnya kau datang. Hari ini memang sudah ditakdirkan berakhir sempurna, karena ada kau…” Miho tersenyum senang.

Dia tidak menyadari pengaruh rasa senangnya itu pada Jun. Perlahan cowok itu mendekati Miho lalu menariknya mendekat. Tanpa berkata apa-apa, bibirnya menyentuh bibir Miho ringan. Meski awalnya terkejut, Miho lalu tersenyum. Kemudian mereka berdua malah saling membalas ciuman.

>>>

Di pintu kelas.

“Menurutmu kita harus memberitahu mereka kita ada di sini?” Kyuhyun bertanya pada Hyunjoon yang sama-sama sedang menyaksikan kemesraan Miho dan Jun.

Setelah menelepon ke rumah Miho dan diberitahu bahwa Miho masih di sekolah, Hyunjoon dan Kyuhyun memutuskan kembali ke sekolah, untuk menyerahkan tugas Miho yang akhirnya berhasil mereka temukan. Di sekolah mereka malah menemukan ‘pemandangan’ yang sedang mereka saksikan saat ini.

Hyunjoon yang membelakangi Kyuhyun tersenyum dan menjawab, “Tidak usah.”

“Tapi tugas Miho…” Kyuhyun memprotes.

“Ya! Jo Kyuhyun! Setelah kau mengacaukan hari Miho, sekarang kau mau mengganggu kesenangannya juga? Kau mau mati dulu di tanganku?!” Hyunjoon menoleh dan menatap Kyuhyun mengancam.

“Bukan begitu…”

“Diam. Ayo kita pulang!” Hyunjoon menarik tangan Kyuhyun menjauhi kelas.

Kyuhyun menatap tangan Hyunjoon yang menariknya, lalu, “Joon-ie…” panggilnya.

“Tidak bisa, kau tidak boleh mengganggu mereka.” Hyunjoon berkata tegas.

“Bukan itu… maksudku… Itu, anu…” Kyuhyun gelagapan.

“Apa?!” Hyunjoon menoleh.

“Boleh… poppo?” akhirnya Kyuhyun melontarkan pertanyaannya.

Hyunjoon melotot… Lalu… (isilah titik-titik itu sesukanya).

 

 

KKEUT.


Iklan