Tag

, , ,

Episode: Seeing

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Yeppo (Beauty/Bee)

Genre: adult romance

OST: I’ll Protect You-Jaejoong

Url: http://wp.me/p1rQNR-aP

 

***

 

Bee’s POV

Aku tahu aku tidak mencintai Park Jungsoo tanpa alasan. Meski dulu aku tidak menemukan apa alasannya, kurasa aku tahu sekarang. Yaitu bahwa dialah alasanku memandang hidup sebagai sesuatu yang bisa dijalani dengan indah. Dia memberiku alasan untuk memandang kepahitan dengan suka. Bahkan saat kami tak lagi bisa bertemu seperti sekarang, aku tahu bahwa selama dia hidup bersemangat di luar sana dan menemukan hal yang dicintainya, aku mampu bertahan.

Apa namanya ini? Mendapati senyumnya setiap kali aku memejamkan mata? Membaui aromanya kala aku melamun? Merasa hatiku begitu dekat dengannya saat tahu kami terlalu berjarak?

“Bee!”

Aku melonjak mendengar panggilan itu. “Kau tidur?” Simon, dia menyikut lenganku. Membuatku mengeluarkan senyum basa-basi.

“Tidak, aku sedang melamun.”

“Masih ada waktu untuk melamun?” tanyanya menyindir. Tidak berubah, dia masih sosok serius yang tidak bisa melihat sesuatu di luar jalur pemikirannya sendiri.

Aku kembali melontarkan senyum. “Tentu saja… Aku menikmati hidup…”

Simon mendengus. Aku tahu dia agak meremehkanku kalau sudah berbicara mengenai kehidupan. Bagiku, kehidupanku terbagi-bagi menjadi banyak ruang. Ilmuku, karirku, keluargaku… cintaku. Bagi Simon, hidupnya adalah pekerjaannya. Sosialisasinya adalah dengan mereka yang bergelut di bidang yang sama dengannya. Keluarganya adalah semua penelitian dan jurnal itu. Cintanya adalah ekosistem. Aku memang mencintai lingkunganku, ekosistem laut yang menjadi tempatku mencurahkan segala pikir, tapi itu bukan cintaku. Mengerti perbedaannya?

Setelah bertemu Jungsoo aku mengerti bedanya.

“Ah, apa kau sedang bernostalgia?” Simon menanyaiku lagi, mengabaikan kertas-kertas berisi materi presentasi kami.

“Maksudmu?”

“Maksudku, aku baru ingat kau pernah tinggal di sini kan, dulu? Kau sedang mengingat-ingat masa itu?”

Aku terkekeh kecil. Salut dengannya yang masih sempat mengingat bahwa aku pernah tinggal di Korea Selatan ini untuk mengambil gelar master. “Bisa dibilang begitu,” ujarku berbohong. “Aku senang kembali ke sini dan makan kimchi lagi. Dan itu bukan dulu. Baru dua tahun yang lalu.”

“Dua tahun itu bisa kau habiskan untuk memproduksi satu set penelitian dan tambah setengah tahun lagi, kau dapat artikel untuk jurnal.” Simon berkomentar sambil meneliti kertas-kertasnya lagi.

“Penelitianmu, bukan penelitianku,” bantahku.

“Bisa saja penelitianmu kalau kau mau mengerjakan hal-hal di laboratorium.”

“Aku sudah cukup mengerjakan hal-hal laboratorium. Saatnya kerja lapangan.”

“Ckckck, itulah masalahmu. Kau tidak sabar…”

Mulutku terbuka mendengar komentarnya. Tapi tidak ada kejengkelan. Aku sudah terlalu mengenal Simon untuk merasa jengkel padanya. Dalam otaknya, pekerjaan apapun adalah menyenangkan. Tidak boleh ada kata bosan. Aku memakluminya, karena Simon selalu melakukan semua pekerjaannya penuh cinta. Apapun untuk lautan, adalah cintanya, jadi dia tidak pernah mengerti orang yang pilih-pilih pekerjaan. “Kurasa terendam di lab selama 5 tahun sudah cukup membuktikan kesabaranku, mengingat aku tidak menikah dengan eksperimenku, tidak seperti seseorang yang aku kenal.”

Simon menoleh, “Apa? Aku? Kau kira aku menikah dengan pekerjaan?”

“Kau sudah sempat mencicipi soju?” aku mengabaikannya, sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku sedang dalam mood keras kepala, jadi kalau kami meneruskan topik tadi, suasana di dalam mobil akan jadi canggung karena kami akan terus berdebat sampai tetes liur terakhir, khekhekhe.

Aku, tentu saja, tidak mau itu terjadi, sebab kami tidak sendirian. Seorang supir dari ketentaraan memegang kendali kemudi, sementara di sebelahnya duduk seorang pegawai sipil kantor urusan angkatan darat dari Seoul. Di belakang, terdapat rekan kami, seorang ilmuwan kelautan Korea Selatan dan mahasiswa yang menjadi asistennya.

“Aah, soju!” seru si mahasiswa S1 yang sudah tidak terlalu muda itu.

“Kalian belum sempat minum-minum?” tanya Seon Baeyeong, rekan kami yang ilmuwan sekaligus dosen di universitas tempat kami mengadakan hubungan kerja sama. Dia lebih banyak berkomunikasi dengan kami karena kemampuan bahasa inggrisnya sudah bagus, sementara Kim Jeonghui si mahasiswa itu hanya bisa menangkap kata sepotong-sepotong. Tentu saja, saat hanya denganku, kami bertiga akan berbicara dalam bahasa Korea.

Simon menjawab sambil menoleh, senyum profesionalnya terkembang, “Belum, aku belum. Mungkin Bee sudah.”

Aku memang datang seminggu lebih cepat ke Seoul dibandingkan Simon yang baru datang dua hari lalu. “Aku sudah tidak perlu diingatkan,” kataku dengan nada ringan pada Baeyeong. Yang kuajak bicara tertawa.

“Aku akan mentraktir kalian sepulang dari sini,” terdengar suara Kwok Ilsun, si petugas sipil dari kursi depan, dengan bahasa Korea. Lelaki itu bisa menangkap bahasa Inggris dengan baik, namun entah kenapa menolak bicara bahasa Inggris kecuali benar-benar terpaksa.

“Wah, soju harus dimakan dengan daging, Ilsun ssi,” Jeonghui berkata dengan nada agak terlalu tidak formal. Mungkin efek usia.

Care to explain?” Simon bertanya padaku karena semua orang mendadak bicara bahasa Korea.

“Ilsun akan mentraktir kita makan daging dan minum soju setelah urusan kita selesai,” jawabku padanya.

Oh, really? That sounds like a plan!” Simon terdengar gembira. Ilsun menanggapinya dengan acungan jempol.

Aku tersenyum. Lalu Simon bertanya lagi padaku, “Kau sudah yakin kau mengingat semua yang harus kau katakan?”

Aku menoleh menenangkannya. “Sudah. Aku bahkan bisa melihat slidenya dalam kepalaku sekarang.”

“Bagus. Aku tidak mau ini gagal. Ini sangat penting, kau tahu. Para paus ini sudah menjadi incaran banyak sekali nelayan. Kalau kita berhasil menginventarisasinya dengan lengkap, aku yakin tindakan perlindungan yang sesuai dapat kita terapkan. Mereka, para Jepang itu, tidak boleh terus-menerus berpesta pora membunuhi makhluk lemah itu.” Simon berkata serius.

Paus sperma sama sekali jauh dari kesan lemah. Tapi kelimpahan mereka di alam memang semakin menyedihkan dilihat dari hitungan statistik. Saat ini dunia, proyek kami terutama, sedang berperang melawan proyek penelitian dari Jepang yang punya prinsip: ‘bunuh saja pausnya agar dapat datanya’. Sudah banyak ilmuwan memprotes hal ini, namun masih ada banyak ilmuwan Jepang yang mendukung prinsip itu, sehingga keberadaan paus-paus itu tidak hanya terancam oleh para nelayan rakus, tapi juga oleh para peneliti yang seharusnya melindungi mereka.

We’ll work it out…” ujarku kalem menggenggam tangan Simon sebentar lalu melepasnya lagi.

We better be,” hanya itu jawabannya, lalu dia tenggelam lagi dalam kertas-kertasnya.

Aku berpaling darinya dan menatap keluar jendela. Semangat kami semua untuk mengobrol sudah menurun sejak lama. Perjalanan ini lama. Dari Seoul hingga ke ujung utara daratan Korea Selatan, hampir ke daerah perbatasan Korea Utara.

Tujuan kami adalah pos angkatan darat yang paling besar di ujung utara. Kami harus melapor pada mereka mengenai keberadaan kami mengingat kami akan bersinggungan dengan daerah perbatasan. Saat proyek ini direncanakan, Baeyeong sudah mengusahakan sebisanya agar ijin mudah diberikan, namun pihak militer tetap meminta kami memberikan penjabaran formal mengenai kegiatan ini. Baik kepada angkatan laut, yang nantinya akan mengawal kami, maupun kepada angkatan darat, yang akan mengurusi kepentingan kami selama masa persiapan.

Proyek internasional ini diadakan oleh LSM independen yang berpusat di Denmark, dan Simon mewakili organisasi pusat. Sementara aku, aku terpilih melalui seleksi setelah memutuskan melepaskan pekerjaanku sebagai dosen, dan mengajukan lamaran menjadi sukarelawan. Untung aku masih dosen honorer, jadi aku bisa bebas menentukan apa mauku. Nantinya aku, Simon dan Baeyeong yang tergabung dalam stasiun pengamatan Korea Selatan akan bekerja sama mengelola proyek ini selama beberapa tahun ke depan. Minimal tiga tahun.

Aku masih ingat saat mengantarku ke bandara, Papa menunjukkan raut khawatir karena tahu aku akan pergi ke dekat perbatasan, tapi untung dia tidak tenggelam dalam kekhawatirannya dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja, seperti kataku. Yah, semoga benar-benar tidak ada hal buruk yang terjadi.

Pemandangan pegunungan hijau tiba-tiba berubah menjadi lebih terbuka. Mobil kami agak berguncang ketika menuruni aspal dan memasuki pelataran tanah. Suara ban berderak-derak di atas tanah keras memenuhi mobil. Kami semua langsung duduk lebih tegak. Sudah sampai.

Aku bisa melihat bangunan itu, tampak membosankan dengan cat berwarna pasir pantai, tapi memang harus kuakui, cukup luas. Perkampungan kurasa agak jauh dari sini. Tempat ini seperti meneriakkan “kami terletak di ujung dunia!”.

Seorang petugas mengecek wajah kami satu per satu sambil mencocokkannya dengan dokumen masuk kamp yang diserahkan oleh supir kami. Dia tidak langsung menyuruh kami masuk, melainkan menelepon dulu baru kemudian membolehkan kami masuk.

Di dalam, kami berhenti dan mulai turun dari mobil. Kesan pertamaku adalah, tempat ini mungkin terletak di ujung dunia, tapi jelas ujung dunia yang ramai. Para tentara berkeliaran di sekitar kami, aku bisa merasakan semangat mereka—atau mungkin semangat yang dipaksakan, entah sudah berapa lama mereka ditempatkan di sini. Beberapa kelompok sedang berlatih, beberapa tampak lebih santai, hanya membersihkan barak, sementara ada juga yang hilir mudik dengan lebih leluasa dan seragam yang berbeda, kurasa yang terakhir ini adalah mereka yang berpangkat lebih tinggi.

Aku takjub. Di Indonesia saja aku belum pernah benar-benar memasuki kamp militer, kali ini aku melihatnya di negeri orang.

Banyak pasang mata mengamati kami ketika seorang prajurit mengarahkan kami ke sebuah gedung yang tampak paling baru di antara lainnya. Berada di tempat dimana lelaki menjadi makhluk yang mendominasi tak urung membuatku inferior. Namun tidak ada waktu untuk larut dalam rasa itu sebab Simon sudah berjalan dengan langkah cepat dan lebar-lebar. Aku pun mengingatkan diriku sendiri, aku berada di sini untuk meyakinkan orang-orang, aku tidak boleh tampak tidak yakin.

Ruangan yang ditunjukkan pada kami adalah sebuah ruangan kaku yang maskulin. Warna dindingnya putih sementara perabotnya berupa meja dan kursi ditata melingkar. Sebuah proyektor menggantung di langit-langit, dengan podium berdiri di sudut kiri. Ruangan itu kosong, kami yang pertama ada di sana. Pengantar kami mempersilahkan agar kami duduk, kemudian berpamitan untuk memberitahu mereka yang berwenang mendengarkan kami.

Ilsun dan Jeonghui langsung menuju ke podium untuk mengatur perangkat keras yang hendak kami gunakan untuk presentasi. Berdasarkan kata-kata prajurit yang mengantar kami, para petinggi kamp ini akan datang sekitar lima belas menit lagi dan kami dipersilahkan untuk beristirahat sebentar. Kami memang tidak datang kemari untuk berbasa-basi, dan aku benar-benar merasakan hal itu sekarang.

Aku dan Simon berdiskusi sebentar untuk terakhir kalinya mengenai materi presentasi kami, lalu aku yang bertugas menyampaikan seluruh presentasi beranjak untuk merapikan diri dan mencari kamar kecil.

Di luar, aku kembali dihadapkan pada pemandangan kering berdebu yang penuh dengan tentara yang berkeliaran menyelesaikan urusan mereka. Aku bertemu dengan seorang tentara baru—terlihat dari sikap tubuh dan parasnya yang masih sangat muda—dan bertanya padanya letak toilet untuk tamu. Dia bilang dia akan mengantarku dengan nada yang kaku dan canggung. Aku pun mengikutinya. Sesampainya di depan toilet, aku mengucapkan terima kasih padanya dan dia mengangguk dengan wajah merah.

Setelah menyelesaikan urusanku dengan tempat pembuangan di dalam biliki-bilik kecil toilet, aku memutuskan mengamati wajahku sebentar di depan cermin yang ada. Toilet ini bukan toilet mewah, hanya toilet biasa yang ditata agar berfungsi dengan efisien. Dua bilik kecil, satu tempat cuci tangan dengan cermin di atasnya.

Kuoleskan lipstik dan merapikan rambut serta membubuhkan bedak di wajah. Aku harus membuat penampilanku meyakinkan agar mereka mendengarkanku, namun tanpa melupakan nilai estetika. Tidak ada peserta presentasi yang tidak menyukai presenter yang tampil rapi dan menarik. Kugembungkan pipi lalu berbalik. Aku siap. Paus-paus sperma cantik, doakan kami agar kami bisa bertemu denganmu di masa depan.

Di luar toilet aku berbelok ke kanan ke arah ruang pertemuan dan sesuatu menahanku. Aroma ini, bukan, tidak tepat kalau kubilang aroma. Aku tak mencium apapun. Udara ini, aku mengenalnya. Aku tahu rasanya. Ini udara yang sangat nyaman untukku. Hampir seperti… entahlah.

Telingaku menangkap gumaman di balik punggung. Saat aku menoleh, aku bergetar. Dua orang itu kulihat sedang berjalan bersama dan saling menimpali perkataan satu sama lain. Lalu mereka berbelok ke kiri dan menghilang dari pandanganku. Kenapa, kenapa rasanya aku ingin berlari mengejar mereka berdua? Apa yang mereka bicarakan? Apakah ini firasat buruk? Apakah kondisi perbatasan sedang memanas? Apa? Apa yang dibicarakan mereka berdua? Kenapa aku begitu ingin tahu?

 

Leeteuk’s POV

Hari yang seperti biasanya. Panas, cerah, menyilaukan. Dari bilik kamar yang tidak seberapa luas ini aku mengintip keluar. Setelah mendapat kemewahan berupa waktu tidur siang selama 30 menit, kini aku siap bekerja lagi. Kuambil seragamku dari gantungan dan mengenakannya. Sebagai salah satu staf bagian humas di kamp militer, waktu luangku cukup membuat mereka yang sepangkat denganku iri. Aku bisa mencuri-curi waktu tidur siang paling tidak dua kali dalam seminggu.

Departemen humas atau yang anak-anak sering bilang, Departemen Artis, memang tidak terlalu banyak pekerjaan di tempat terpencil seperti ini. Di daerah yang menjadi objek wisata, kadang kamp militer dilewati jalur wisata dan seringkali ada kegiatan kecil seperti menghias kamp sebaik-baiknya agar para turis itu puas mengambil foto dari bus pariwisata. Tapi itu tentu saja bukan di sini.

Di sini, adalah ujung dunia. Tidak ada hiburan, dikelilingi gunung, dan akses masuknya sangat susah. Hanya orang-orang tangguh yang bisa mencintai tempat ini. Sayangnya ini mungkin akan jadi kamp terakhirku sampai masa wajib militerku berakhir. Mengingat itu rasa antisipasi mendatangiku. Masih lebih dari enam bulan lagi, dan aku sudah hampir mati bosan.

Untung hari ini sepertinya akan menyenangkan. Kami akan kedatangan tamu. Entahlah, aku tidak dilibatkan dalam urusan itu, tapi aku senang karena akan ada yang berbeda dari biasanya hari ini. Kupatut-patut diriku di depan cermin separuh badan, dan begitu yakin sudah rapi, aku segera berjalan keluar. Entah apa urusan tamu-tamu itu, tapi aku senang mereka datang ke sini.

Sekelompok prajurit baru melintas di depanku saat aku sedang menuju kantor. Mereka sepertinya baru saja selesai makan siang. Dengan sikap sempurna mereka segera siaga dan memberiku hormat, sementara aku membalasnya dengan lebih santai.

“Kau melihatnya?” aku mendengar salah satu dari mereka berkata di belakangku.

“O! Yaaah, wanita luar negeri memang beda! Dia santai sekali padahal semua di sini laki-laki!” yang lainnya menjawab.

“Yang datang dengannya juga semuanya laki-laki! Dia tampak tidak peduli. Menurutmu mereka suami istri? Si kulit putih itu dan si cewek itu?” suara yang lain dari dua suara sebelumnya menimpali.

Apa para tamu itu sudah datang? Kulit putih? Ada wanita? Haha, selamat datang pemandangan bagus. Kuharap sih pemandangannya benar-benar bagus, karena di sini membosankan sekali tanpa wanita. Hanya ada bibi-bibi penduduk kampung yang terkadang datang menjual beberapa keperluan harian setiap dua minggu sekali. Tapi kalau istri orang… hmm, sebaiknya aku tidak terlalu berharap.

“Entahlah, mereka berdua kelihatan dekat,” suara para juniorku semakin lirih karena mereka kini semakin jauh.

Aku menemui persimpangan. Aku harus berbelok untuk menuju kantorku. Apakah aku akan berdiam diri di sini, berharap bisa menguping pembicaraan mereka sedikit lebih lama? Atau aku harus melupakannya dan bergegas ke kantorku? Tubuhku memberikan jawabannya. Dengan ringan kakiku berbelok dan langkahku semakin cepat saat menuju kantor. Biarlah, aku pasti akan bisa melihat para tamu itu nantinya. Toh kantorku searah dengan ruang pertemuan tempat mereka berada. Untung kami sudah diberitahu sebelumnya bahwa mereka akan langsung bekerja, makanya kami tidak menyiapkan ruang lain selain ruang pertemuan.

Di kantor, suasana agak lengang. Aku tahu sebabnya. Sebagian dari kami ada yang belum kembali dari makan siang, ada pula yang sedang sibuk mempersiapkan beberapa hal. Minggu depan adalah hari kemerdekaan Korea Selatan, jadi kami cukup sibuk di sini. Salah satu tugas pokokku sejak kemarin adalah menunggui informasi dari pusat kalau-kalau ada kepentingan yang mengharuskan kami menyiapkan beberapa orang untuk pergi ke Seoul. Entah itu untuk sekedar mengikuti upacara kenegaraan, ataupun untuk yang lainnya.

Seorang rekan menepuk pundakku, “Jungsoo ssi, kau sudah kembali?” tanyanya.

Aku menoleh, tersenyum dan mengangguk menjawabnya. Dia membalas senyumku ringan, “Bagus,” katanya. “Ini,” dia menyerahkan setumpuk berkas padaku.

“Apa ini?” tanyaku padanya.

“Sebagai persiapan kenaikan pangkat, kita harus mulai menyeleksi para prajurit baru itu. Departemen SDM meminta kita membantu mereka memberikan penilaian. Aku harus mengurusi para tamu itu, dan di sini hanya kau yang belum mendapat jatah pekerjaan. Oke?”

Aku tertawa mendengar penjelasannya. Dengan menggoda kukatakan padanya, “Kalau kau mau, aku bisa membantumu mengurus para tamu itu, dan kau bisa bersantai mengerjakan ini.”

Wajahnya mengerut tanda tak setuju. “Tidak. Aku tidak mau melewatkan kesempatan bertemu dengan wanita.”

Aku melontarkan tawaku. “Jadi benar ada wanita?” tanyaku padanya.

“O. Cantik. Aku tadi mengantarnya ke ruang pertemuan.”

“Ohohohoho!” aku tertawa mendengarnya, ikut bersemangat. “Kalau begitu aku juga mau bertemu dengannya,” pintaku.

“Tidak bisa. Para jenderal sudah berangkat ke sana dan aku harus mendampingi mereka. Sudah, kau kerjakan tugasmu,” jawab temanku sambil pergi meninggalkanku.

Sial, kenapa bukan aku yang dipilih menjadi asisten ajudan para jenderal itu? Pikirku iri sambil mulai membuka berkas satu per satu.

Sedang berusaha melenyapkan kebosanan di tengah pekerjaan monoton itu, seseorang menyapa dari belakangku. “Jungsoo ssi.”

Aku menoleh dan mendapati rekanku yang lain sedang memandangku. “Bantu aku mengecek peralatan upacara. Jenderal Hansong menunggu laporannya sore ini.”

Kulirik pekerjaanku dan memutuskan membantu temanku lebih penting. Yah, lebih tepat sih kalau dibilang, lebih menarik. Aku pun membereskan berkas-berkas itu dengan cermat sebelum bangkit. “Ayo,” ujarku padanya setelah selesai beberes.

Sambil berjalan menuju gudang, kami bercakap-cakap mengenai banyak hal. Kondisi di sini cukup baik. Tidak ada perseteruan pribadi yang menyebalkan di kamp ini. Secara kebetulan tampaknya orang-orang yang ditempatkan di sini adalah mereka yang mampu menahan diri dan berkompromi, sehingga tidak ada pertentangan urat yang butuh usus panjang untuk menghadapinya. Aku dan temanku ini contohnya. Kami bukan sahabat dekat, tapi kami bisa dengan bebas mengatakan apa saja sebab saling merasa nyaman satu sama lain.

“Sial, aku ingin bertugas menemani tamu-tamu itu. Kudengar ada wanitanya,” dia memulai topik mengenai tamu-tamu itu.

“Ah, aku juga ingin bertemu dengan mereka. Kudengar mereka orang asing kulit putih?”

“Entahlah, aku hanya tahu mereka orang asing. Wanita asing!” temanku itu tampak tidak terima saat mengatakannya. Memancing tawaku lagi.

“Wanita asing biasanya cantik-cantik,” ujarku memanasinya.

“Ah sial kau! Kau sih enak sudah pernah pergi-pergi ke luar negeri, bertemu banyak wanita asing. Benarkah mereka cantik-cantik?”

“O!” aku makin bersemangat menggodanya.

“Hei, dari semua wanita asing yang pernah kau temui, wanita mana yang paling cantik? Kudengar di Thailand wanitanya benar-benar cantik…”

Indonesia, hatiku tiba-tiba menyeletuk. “Perancis,” mulutku menjawab berbeda.

“Benarkah? Yah, wanita Eropa memang berbeda. Kudengar tamu itu dari Denmark. Itu di Eropa juga kan?”

“O. Eropa. Tapi Perancis itu beda. Mereka sangat modis.”

“Ah, benar… Standarmu sudah kelewat tinggi. Kalau tidak sebanding dengan Han Gain, tentu saja tidak menarik bagimu kan?”

Aku tertawa mendengar nama artis wanita yang pernah menjadi favoritku itu disebut-sebut. “Kau harus mengumpulkan uang untuk berjalan-jalan keliling dunia dan menentukan sendiri wanita daerah mana favoritmu. Tiap orang punya selera yang berbeda,” aku mencoba berdamai dengannya sambil menunjuk belokan. Kami harus belok kiri di sini.

Dia mendecak dan memprotes, “Enak saja kau bicara begitu…” lalu kata-katanya seolah tenggelam.

Apa ini? Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dadaku berdegup tak karuan? Kuperhatikan sekeliling kami, semuanya biasa saja. Koridor itu masih seperti biasanya. Lalu kenapa tengkukku meremang? Kenapa sesuatu mengatakan padaku bahwa aku harus berbalik dan kembali? Apakah ini tanda bahaya? Ada apa di gudang yang membuat diriku memberi peringatan? Kenapa kakiku tiba-tiba tak mau melangkah lebih jauh?

“Jungsoo ssi?” temanku berbalik setelah menyadari aku tidak mengikutinya. “Kau tidak apa-apa?”

Aku ingin menjawabnya, namun mulutku kaku. Yang kuinginkan hanya berbalik dan memastikan aku tidak melewatkan sesuatu saat berjalan tadi. Perasaan ini demikian kuat, tidak mungkin tidak ada sesuatu. Namun rasa ini hampir hilang, aku bisa merasakannya. Ada di sana, namun hampir lenyap.

Tanpa menjawab pertanyaan temanku, aku berbalik dan kembali ke arah kami datang tadi. Saat kakiku menapaki koridor yang kami lewati sebelumnya, tidak ada apapun atau siapapun di sana. Rasa itu menghilang. Lenyap. Rasanya aku hanya bermimpi, tapi tidak, aku yakin itu bukan mimpi. Tapi apa?

“Kenapa?” tahu-tahu temanku sudah ada di sebelahku.

“Tidak, tidak apa-apa. Kurasa aku menjatuhkan sesuatu tadi,” jawabku berbohong. “Ayo,” aku menarik lengannya menuju gudang.

Aneh.

 

Bee’s POV

“Jadi proyek ini semata-mata untuk kepentingan ekosistem. Kami menekankan di sini bahwa tidak ada alasan lain yang membuat kami ingin melakukan kegiatan ini di Korea Selatan. Migrasi makhluk hidup yang luar biasa ini tidak mengenal sistem politik maupun perbedaan bangsa. Mereka bergerak mengikuti insting, menuju alam yang lebih menjanjikan bagi kehidupan mereka. Oleh karena itu kami berharap mendapat dukungan sepenuhnya dari pemerintah Korea Selatan untuk mengikuti mereka. Demi kepentingan ilmu pengetahuan dan kelestarian spesies.” Aku berkicau menjabarkan penutup dari presentasiku dalam Bahasa Korea.

Sebelum memberikan salam penutup aku memperhatikan satu per satu wajah mereka yang hadir dan aku berani bertaruh seluruh akhir pekanku untuk mencuci piring di tempat ini bahwa mereka sebenarnya bosan setengah mati. Dasar manusia-manusia sialan, sepanjang bukan urusan politik, mereka menganggap hal lain tidak penting untuk diurusi. Untung presentasiku tidak lebih dari dua puluh menit. “Demikianlah, kami berharap mendapatkan dukungan dan perlindungan serta bantuan negosiasi dari kamp ini untuk kelancaran proyek kami.”

Baeyeong memulai tepuk tangan yang kemudian diikuti oleh yang lainnya. Aku turun dari podium dan bersiap menerima banyak pertanyaan. Seperti telah diduga sebelumnya, pertanyaan mereka tidak jauh-jauh dari intrik politik. Mereka masih belum yakin bahwa kami datang untuk kepentingan pengetahuan, bukan untuk mengintervensi kebijakan militer apapun. Apalagi untuk memprovokasi Korea Utara.

Kwok Ilsun menanggapi pertanyaan-pertanyaan politik tajam dengan santai. Kalau boleh kubilang, orang itu orang ekonomi yang sedikit mengerti pentingnya kegiatan kami. Itu menguntungkan kurasa, mengingat dia bisa membantu kami melakukan pendekatan pada para pejabat militer itu dari jalur yang berbeda yang lebih bisa diterima oleh otak mereka yang sudah selalu diasah dengan pemikiran politis dan militer.

Aku sendiri sibuk menerjemahkan jalannya diskusi pada Simon. Sesekali saat Simon merasa dia harus menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkan, aku menerjemahkan maksudnya pada orang-orang itu. Keberadaan Baeyeong juga menguntungkan karena mereka bisa melihat bahwa bahkan ilmuwan Korea Selatan ada yang ikut andil dalam proyek ini, jadi ini bukan campur tangan pihak internasional saja.

Secara keseluruhan, meski menurutku diskusi yang kami lakukan agak sedikit konyol dan menyebalkan karena perbedaan sudut pandang, aku lega pada akhirnya kami mencapai satu kata sepakat. Yaitu bahwa mereka akan mendukung kami, dan keberadaan kami di sekitar daerah perbatasan akan ditunjang dengan pengawalan beberapa prajurit bersama kami. Kegiatan ini masih belum akan diadakan hingga bulan depan, namun menurut mereka itu waktu yang cukup untuk menyiapkan beberapa orang untuk kepentingan kami. Mereka hanya mengajukan syarat agar kami tidak terlalu mendekati daerah perbatasan. Baeyeong dengan senang mengatakan bahwa kalaupun kami berada di perbatasan, kami akan berada di tengah laut, dan urusan pengawalan akan dilakukan oleh angkatan laut. Mereka tampak lega.

Satu jam setengah sudah berlalu sejak presentasi dimulai dan akhirnya kami bersiap pulang. Suasana diskusi yang tadi agak menyebalkan mulai mencair karena kami sudah meninggalkan topik yang sensitif. Para petinggi kamp itu sekarang sudah tertawa-tawa bersama kami. Bahkan Simon tampak tertarik mendengarkan segala percakapan yang diterjemahkan oleh Baeyeong sementara aku membereskan file dengan dibantu oleh Jeonghui.

“Itu tadi lumayan,” Jeonghui berkata pelan sambil menyimpan kabel-kabel laptop.

“”Ya. Lumayan,” aku menanggapi singkat.

Jeonghui tidak berkata apa-apa lagi dan aku menyadari aku kehilangan pointerku. “Jeonghui ssi, kau melihat pointerku?” tanyaku pada pria yang usianya tidak jauh berbeda denganku itu.

“Pointer? Bukankah dari tadi kau yang memegangnya?” dia malah balik bertanya.

Tapi itu masuk akal, sebab aku memang tidak menyerahkannya pada siapapun. Satu-satunya yang menyentuh pointer itu adalah aku dan aku seorang. Dimana benda itu?

Saat Ilsun memanggil kami untuk berpamitan, aku masih belum menemukan pointerku. Kukatakan hal itu pada salah satu prajurit yang tampak seperti ajudan di dekatku dan dia berjanji akan menyimpankannya untukku kalau benda itu berhasil ditemukan, toh kami akan kembali lagi ke tempat ini. Aku pun mengucapkan terima kasih padanya.

Kami berlima kemudian keluar ruangan, langsung menuju tempat parkir tempat supir dan mobil kami menunggu.

 

Leeteuk’s POV

Perintah dari Seoul akhirnya datang juga. Jenderal Hansong dan Jenderal Sukchul mendapat perintah untuk berada di Seoul pada hari kemerdekaan. Mereka mengirimkan berkas yang harus ditandatangai yang sekarang ada di tanganku. Aku berjalan menuju ruang pertemuan membawa-bawa berkas itu. Dari informasi yang kuterima, para tamu itu sudah pulang, namun para Jenderal yang kubutuhkan tanda tangannya masih berada dalam ruangan.

Di depan ruang pertemuan, rasa itu datang lagi. Semakin menguat saat aku melihat rombongan tamu itu melangkah pergi. Tapi aku tidak tahu mengapa demikian. Dan aku tidak melihat seorang wanita pun dalam rombongan itu, keempat orang tamunya semua lelaki. Dari mana orang-orang itu mendapat kesimpulan bahwa ada wanita yang datang?

“Jungsoo ssi?” salah seorang ajudan menegurku dan karena posisi pangkatnya yang lebih tinggi dariku, aku menegakkan tubuh dan memberinya hormat. Dia hanya membalasnya dengan anggukan.

“Saya kemari membawa dokumen untuk ditandatangani Jenderal Hansong dan Jenderal Sukchul,” ujarku sambil menyerahkan dokumen-dokumen di tangan. Dia menerimanya dan membaca isinya.

“Masuklah,” ujarnya menyuruhku masuk ke ruang pertemuan.

Di dalam ruangan aku melihat para petinggi masih berdiskusi sementara seorang teman sepangkatku sedang berjongkok di satu sudut. Aku menghampirinya setelah melihat dokumenku akan dipegang lama oleh orang-orang penting itu. “Yah, apa yang kau lakukan?” aku menyapa temanku.

Dia terkejut melihatku dan mendengus. “Wanita itu kehilangan sesuatu dan dia,” temanku itu menunjuk ajudan Jenderal Hansong dengan dagunya, “menyuruhku mencarinya.”

“Biar kubantu. Apa yang kau cari?”

“Pointer untuk presentasi.”

Aku lalu berjongkok di sekitar kursi-kursi yang ada. Dengan suara pelan aku bertanya padanya, “Aku tidak melihat ada wanita di luar tadi.”

“Isseo~” temanku menjawab. “Dia wanita cantik dan pintar. Bodinya seksi. Bahasa Koreanya bagus,” lanjutnya memuji.

“Geurae?” aku bertanya tak percaya.

“Tapi sebagai wanita dia terlalu berani. Bukan seleraku. Masa dia mau mengejar-ngejar paus di laut. Wanita yang sekolah terlalu tinggi memang tidak bagus.”

Deg. Aku berhenti mencari. “Mworago?” aku bertanya padanya.

“Ah, wanita itu terlalu pintar. Sekolahnya terlalu tinggi.”

“Bukan, kau tadi bilang dia mengejar-ngejar paus di laut?”

“Ya. Pekerjaan wanita itu di rumah, merawat suami dan anak, bukan malah kejar-kejaran dengan paus di laut. Aku tidak mau punya pacar yang sekolahnya mempelajari laut. Bisa-bisa dia hilang waktu sedang praktikum. Ah… ketemu. Jatuh di sini rupanya.”

Wanita asing. Berbahasa Korea bagus. Mempelajari laut. Tapi paus? Bukankah Yeppo mempelajari rumput laut? Lalu perasaan ini apa?

“Jungsoo ssi?”

Aku menoleh dan hampir terantuk meja. Ajudan Jenderal Hansong berdiri menjulang di hadapanku. “Jenderal Hansong berkata mungkin dia akan butuh waktu untuk membaca dokumen itu, jadi kau bisa kembali ke tempatmu sekarang, biar aku nanti yang mengantarnya ke Departemen Humas.”

Aku tak bisa menepatkan rasaku. Informasi dari temanku dan pekerjaanku, semua bercampur aduk di kepalaku. Yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk mengerti.

“Pak, pointernya sudah ketemu,” temanku berkata dari belakangku.

“Oh, geurae?” ajudan itu mengalihkan perhatiannya pada temanku. “Mungkin mereka belum jauh, bisa kau kejar mereka dan mengembalikannya pada wanita itu?” dia memerintah.

“Baik, Pak,” temanku menjawab sigap dan berlari keluar ruangan.

Wanita itu ada. Wanita itu wanita asing. Dia berurusan dengan laut. Dan walaupun kemungkinannya satu di antara sejuta, wanita itu mungkin Yeppo. Kupandangi temanku yang sudah beranjak keluar ruangan. “Pak, saya permisi,” ujarku pada ajudan Jenderal Hansong. Setelah mendapat ijin, aku berderap keluar, menahan diri tidak membuat keributan sampai di luar ruangan.

Di luar ruangan aku merasakan dadaku bagai dipacu. Aku berlari menyusul temanku. Biarpun mungkin aku akan kecewa, meskipun bukan Yeppo, aku harus memastikannya dengan kepalaku sendiri. Aku harus tahu bahwa dia memang bukan Yeppo. Kumohon.

Kutepuk dari belakang pundak temanku yang sedang bergegas. Saat dia menoleh, kuambil pointer dari tangannya. “Biar aku yang mengembalikan,” ujarku langsung berlari meninggalkannya, mengabaikan seruannya yang penuh keheranan.

Aku berlari dan semakin lama semakin cepat. Aku harus bergegas. Aku harus cepat. Tempat parkir. Dia mungkin Yeppo. Kumohon, jangan pergi dulu.

Dia mungkin bukan Yeppo. Persetan. Aku harus berlari.

Debu mengepul dari ban belakang mobil yang sangat tidak sesuai berada di kamp ini. Mobil itu, mobil van berwarna hitam mengkilat, membawa seorang wanita yang pointernya hilang. Wanita yang mungkin—atau bisa jadi bukan—adalah Yeppo. “Tunggu,” seruku dengan nafas tersengal-sengal.

Tapi aku rasa aku terlambat. Mobil itu sudah semakin dekat ke pintu gerbang.

Tidak, aku tidak boleh terlambat. Kupercepat lagi lariku. “Tunggu! Jebal!”

Mobil itu tidak melambat kecuali di pintu gerbang saat menunggu portal dibuka. Itu kesempatanku. Aku semakin semangat berlari.

Tapi bahkan itu pun tak cukup. Saat aku sampai di portal, mobil itu sudah menjauh. Aku terus berlari hingga keluar gerbang, lalu berhenti saat menyadari mobil itu tidak mungkin berhenti.

Aku menunduk, mengatur nafas, tidak mempedulikan prajurit jaga yang melihatku dengan heran. Kedua tanganku menyangga di atas lutut dan dengan kesal aku mengambil kerikil dan melemparkannya ke arah mobil itu. Tidak kena. Menyebalkan.

Mengesalkan.

Membuatku putus asa.

“Jebal~” bisikku.

Dan kulihat lampu rem mobil itu menyala.

 

Bee’s POV.

Aku tidak bisa tenang. Tidak. Ada yang salah. Pasti ada yang salah. Kenapa perasaanku begini resah? Aku tak menemukan satu alasan pun untuk merasa resah. Lalu apa yang tidak benar?

Di sebelahku, Simon terus mengoceh, mengejekku yang tampak galau hanya karena kehilangan sebuah pointer. Tidak, bukan itu. Pointerku bukan masalahnya. Ada sesuatu yang lain, yang membuatku tak ingin—belum ingin—meninggalkan kamp ini. Aku tidak tahu apa, tapi aku tahu harusnya aku tidak pergi begitu saja.

Mobil bergerak makin menjauhi gerbang dan entah kenapa aku merasa ada yang memintaku menghentikan mobil. “Tolong hentikan mobilnya,” ujarku membuat diam semua pria yang sedang sibuk berbicara di dalam mobil.

“Ne?” tanya supir kami.

“Tolong, kurasa aku menjatuhkan sesuatu,” aku memberi alasan. Alasan bodoh, karena tak sekalipun aku membuka jendela untuk mengeluarkan apapun.

Supir itu tampak ragu, tapi mobil mulai melambat. “Tolonglah, sebentar saja,” pintaku mendesak.

Dia berkata, “Ada yang mengejar kita,” ujarnya ragu sambil melirik kaca spion.

Itu dia! Aku tidak tahu siapa, tapi aku tahu ada yang menyuruhku menghentikan mobil ini. “Pointerku!” seruku membuka pintu bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti.

Aku meloncat keluar dan agak oleng karena mobil masih belum stabil dan langkahku bagai sudah ditentukan.

Di sana, beberapa meter di depan gerbang yang portalnya sudah diturunkan lagi, seorang pria berseragam membungkuk terengah-engah. Dari tempatku sekarang, dengan sinar menyilaukan yang dipantulkan tanah kering, jantungku bagai diremas melihat sosoknya. Tidak, tidak mungkin Jungsoo.

Tapi itu sangat Jungsoo.

Aku tahu segala keanehan yang kurasakan dari tadi tidak terjadi tanpa alasan. Hatiku sudah mengetahuinya dari awal, tapi aku tidak menyadarinya.

Perlahan aku melangkah mendekatinya. Aku ingin berteriak, “kau bukan Jungsoo,” namun aku tahu itu dia. Wajahnya tak terlihat, tubuhnya membungkuk sehingga aku tidak mengenalinya, tapi aku hanya tahu itu Jungsoo.

Dua puluh meter.

Lima belas meter.

Sepuluh meter. “Jungsoo-ya…”

 

Leeteuk’s POV

Oksigenku kembali. Dia kembali. Aku yang kepayahan bernafas karena berlari mengejarnya, kini mengalami hiperventilasi. Lima meter. Dia berdiri lima meter di depanku dan aku tahu dialah alasan hiperventilasiku. “Yeppo…” tanpa sadar aku berbisik.

Empat meter.

Tiga meter.

Dua meter. “Pointer…” aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku.

Dia berhenti.

Bisakah seseorang menghadirkan begitu banyak oksigen di satu tempat seperti yang dilakukan wanita ini?

“Terima kasih,” ujarnya.

Suaranya. Itu suaranya. Itu wajahnya. Itu rambutnya. Pendek. Tidak sepanjang dulu.

Aku mengulurkan tangan menyerahkan pointernya. “Terjatuh… di… bawah… meja… Akutidakbisabernafas…” ucapku kacau.

Dia mengulurkan tangannya, meraih pointer di tanganku. Dan jemarinya menyentuh telapak tanganku. Dan aku kehilangan akal. Dan aku sangat ingin ditembak saat ini.

“Benda penting,” ujarnya tersenyum tipis. “Terima kasih… Leeteuk ssi…”

Tembakan itu melubangi kepalaku. “Ne, cheonmaneyo, Beauty ssi.” Leeteuk ssi? Sejak kapan dia memanggilku begitu? Apa sekarang…

“Bee?!” suara berat seorang pria terdengar berseru memanggilnya dari mobil, memutus pemikiranku.

Dia tak mengalihkan tatapannya dariku. Aku tak bisa menatap ke arah lain. Seluruh tubuhku meremang. Merindukannya. Sekaligus takut mendekatinya.

Just a moment!” dia berseru menjawab orang itu.

Pointer itu terselip di antara tangan kami. Kulit kami bersentuhan, namun aku tahu aku tak bisa menariknya dalam pelukan, seberapapun inginnya aku. Tidak, ada yang berbeda kali ini. Dia dan aku tidak lagi sama.

“Pacarmu?” aku bertanya lirih.

Dia melangkah maju satu langkah. Kini aura tubuhnya sangat jelas kurasa. Inilah yang kurasakan dari tadi. Perasaan yang datang dan menghilang. Pasti kami sudah sempat begitu dekat sebelumnya, tapi tak menyadari apa yang terjadi. Bodohnya aku, tidak berpikir bahwa hanya dia yang bisa membuatku begini.

Tapi kebodohan memang bisa tercipta setelah dua tahun berusaha meyakinkan hati bahwa dia tak akan kutemui lagi, kan?

Mulutnya terbuka, “Dia pacaran dengan laut.”

Syukurlah. “Ahahaaha,” kenapa aku hanya bisa tertawa?

Aku tak bisa merengkuhnya dalam pelukan, tapi tak bisa melepaskan tangannya juga. Bahkan aku memanggilnya Beauty. Padahal aku ingin mendesahkan Yeppo.

“Kau gagah,” dia bicara lagi.

“Aku tahu.”

“Hehehe…” ya Tuhan, tawa itu.

“Untukku?” tanyaku tak tahan lagi. Aku ingin tahu apakah dia kembali untukku.

Dia tersenyum kecut, “Untuk paus sperma.” Dan dia masih mengerti hatiku tanpa perlu mulutku mengucapkannya. Entah aku harus kecewa atau tersanjung dengan fakta itu. Bukan untukku, tapi dia masih mengerti aku.

Kueratkan genggaman tanganku. “Barang pentingmu, jangan jatuh lagi.”

Dia diam saja. Matanya masih selebar dulu. Tapi kenapa mata itu hanya menatapku? Apakah aku tak bisa lagi membaca perasaannya dari sana? Apakah ini yang mencegahku menariknya dalam pelukan? Bahwa aku kehilangan kemampuanku mengerti dirinya meski tak sedikit pun aku ragu bahwa aku masih sangat mencintainya.

Mungkinkah karena dia tak mencintaiku lagi? Sehingga matanya tak lagi penuh perasaan padaku? Bagaimanapun dua tahun tidak sebentar. Bagiku itu dua senturi.

“Maafkan aku,” entah kenapa aku mengucapkannya.

“Eh,” matanya melebar.

Aku menggeleng. Tak tahu kenapa aku mengucapkannya. “Sampai kapan?” aku mengalihkan topik.

Dia tersenyum. Tanganku makin erat menggenggam tangannya. “Lusa aku pulang ke Indonesia. Bulan depan aku kembali, menemui paus-paus itu.”

“Ke sini?”

“Ke sini.”

“Aku ingin menemuimu.”

“Kalau begitu tetaplah di sini sampai bulan depan.”

“Bawakan aku minuman, kau yang traktir.”

Dia diam. Lalu temannya memanggil lagi. “I’m coming!” serunya. Lalu dia berkata lirih padaku, “Bangapseumnida…”

“Bangawoyo…” balasku.

Lalu tangan kami terlepas. Kami tahu kami harus melepasnya sekarang. Sekarang. Sekarang. Aku tidak mau tapi aku harus melepasnya sekarang.

Dan aku tak sanggup melihatnya pergi lagi, jadi aku berbalik meninggalkannya setelah melemparkan senyum tipis. Di belakangku, aku mendengar langkahnya yang juga menjauh.

Sekarang. Kenapa begitu menyakitkan? Kutundukkan kepala dan menekan mata yang mengancam akan berontak menangis. Ah, aku tidak pernah berubah, Yeppo… Aku masih cengeng.

Dan aku benci sekarang. Cepatlah kembali.

 

Bee’s POV

Mobil berguncang menaiki aspal. Simon menatapku penasaran, “Benar-benar penting ya, pointermu itu?” tanyanya.

Aku menatapnya kosong. Aku ingin mengucapkan beribu kata padanya. Bahwa pointer itu penting sekarang. Setelah Jungsoo mengantarkannya kembali padaku. Bahwa mulai sekarang, aku tak akan menggunakannya lagi, melainkan akan menyimpannya dalam kotak berharga dan kupandangi karena mendapat satu lagi kenangan dengan Jungsoo. Bahwa aku menyesal mengapa hanya menggenggam pointer itu tadi dan melepaskan kesempatan memeluk lelaki paling kurindukan di dunia.

Tapi aku hanya tersenyum pada lelaki di sebelahku. “Ya,” jawabku pelan.

“Kau membuatku jantungan! Kau meloncat saat mobil bahkan belum berhenti!”

Senyumku melebar, “Aku hebat kan?”

“Kau mengenal pria tadi? Kau bicara agak lama dengannya.”

“Dia hanya mengembalikan pointer dan aku bertanya padanya dimana alat ini ditemukan,” dustaku.

“Oh,” Simon mengangguk.

Dan sunyi. Tak ada orang yang berniat bicara lagi. Mungkin mereka merasakan perubahan hatiku, sehingga suasana dalam mobil jadi canggung. “Jadi, kita jadi minum-minum, Ilsun ssi?” aku mencoba mengalihkan topik.

Di belakang Jeonghui berseru gembira mendengar topik itu diangkat. Baeyeong tampak menyetujui dan mulai menjelaskan tradisi minum di Korea Selatan pada Simon. Aku senang mereka telah kembali menemukan bahan pembicaraan.

Tolong, bicaralah kalian. Biarkan aku sendiri, pintaku dalam hati. Pelan aku membalikkan kepala menghadap jendela, menyembunyikan wajahku dari semua orang. Mataku tertutup dan Jungsoo kembali bermain dengan jelas di kegelapan.

Kerinduanku memuncak. Entah kenapa kami tadi begitu canggung. Bisakah kerinduan seperti ini dihalangi oleh waktu? Apakah karena dua tahun yang meregang di antara kami? Kenapa aku tak bisa memanggilnya Jungsoo dengan lantang? Dan kenapa aku menyesal sekarang?

Jungsoo, akankah sebulan berlalu dengan cepat? Tanyaku merasakan pipiku perlahan basah.

 

 

KKEUT.


Iklan