Tag

, ,

Author : Bee

Cast : Jung Yunho, Jagiya

Rating : AAbK

Genre : Romance

Ps : Jangan timpukin gw pakai sendal habis baca ini ya… Tapi gw terima timpukan Leeteuk, kok.

url: http://wp.me/p1rQNR-ab

 

>>>

 

“Jagiya… Mau minum apa?”

“…”

“Jagiya?”

“…”

“Hhh, Jagiya… istirahat dulu lah… Kamu sudah tidak tidur dua malam.”

“…”

“Aku sudah tidak memelukmu dua malam.”

“…”

“Hehe, akhirnya kau melihatku juga. Aku rindu padamu.”

“Berisik!”

“Jagiya!”

“Kau mau ribut terus begini?! Pulang sana ke asramamu! Jangan datang lagi! Mengganggu, tahu?!”

“…”

“Bagus kalau kau mengerti. Sekarang aku harus kerja lagi.”

“Berhenti bekerja! Tutup matamu dulu sebentar. Kalau kau terus melihat komputer begitu, tinggal masalah waktu sampai matamu rusak! Kau mau matamu rusak dan tak bisa menulis lagi?! Bisa tidak—“

“MWO?! Kau menyumpahi aku? Kau ingin mataku rusak?! Pacar macam apa kau ini?! Aku sedang panik dikejar deadline, kau malah mendoakan mataku rusak?!”

“Bukan begitu… kalau—“

“BUKAN BEGITU BAGAIMANA?! JELAS-JELAS KAU BILANG MATAKU RUSAK DAN AKU TAK BISA MENULIS LAGI!”

“KALAU KAU TIDAK ISTIRAHAT!!!”

“…”

“Jagiya, aku tahu kau dikejar deadline, tapi deadline juga pasti mundur kalau kau belum menyelesaikan tulisanmu… Kau tenang saja, mana mungkin mereka berani macam-macam denganmu? Penulis skenario terkenal, yang dramanya tidak pernah tidak mendapat rating tinggi. Memangnya mereka mau rugi kehilanganmu? Kau tinggal mengancam akan memutuskan kontrak kalau mereka terus mendesak dengan jadwal tidak masuk akal…”

“Memangnya aku Jae?!”

“Hhhh, Jagiya… Kenapa sih kau selalu membawa-bawa Jae? Jae tidak seburuk itu!”

“…”

“…”

“Yunho-ya…”

“…”

“Yunho-ya…”

“Jae tidak seburuk itu.”

“Arasseo, mianhae~”

“Aku hanya khawatir padamu. Kau terlalu stres. Terlalu keras pada dirimu sendiri. Tidak usah bangun, aku malas dekat-dekat denganmu.”

“Tadi kau yang memanggil-manggilku…”

“Tapi sekarang aku jadi kesal padamu.”

“Yunho-ya…”

“Terserah kau lah. Aku mau makan, kalau mau kau boleh bergabung.”

“Yunho-ya… aku minta maaf soal Jae…”

“Dia sahabatku, Jagi. Aku tahu dia lebih dari siapapun. Maaf, tapi bahkan kau, tak akan mengerti tentangnya.”

“…”

“…”

“Yunho-ya!”

“…”

“Eiissh. Arasseo. Aku minta maaf. Oke? Minta maaf. Jae sahabatmu, aku tidak kenal Jae, aku tidak boleh berkata buruk tentangnya.”

“Kau selalu mengulanginya. Setiap kali kau marah, kau menyerang Jae.”

“Aku wanita yang buruk, aku tahu. Maafkan aku.”

“…”

“Yunho-ya… jangan marah~”

“Jangan peluk-peluk aku. Kau tadi menyuruhku pergi, aku akan pergi sehabis makan. Apa yang kau lakukan?”

“Duduk di pangkuanmu.”

“Geureohnikka, kenapa kau duduk di pangkuanku?”

“Supaya kau tidak pergi.”

“Aku sudah tidak minat menemanimu.”

“Aaa, Yunho-ya… Jangan begitu… Mmmuah…”

“Jangan cium-cium! Aku bisa kehilangan selera makan!”

“Aku ingin mencium pacarku, kenapa tidak boleh?”

“Karena kau sudah mengusirku. Pekerjaanmu lebih penting.”

“Itu kan karena deadline.”

Fine. Deadline lebih penting dariku yang sudah bersabar menemanimu dua hari hampir tiga malam di sini. Diabaikan. Tidak dianggap. Hanya jadi perabotan. Tempatmu marah-marah. Tidak diliha—“

“Mmmuah!”

“Ciumanmu tidak mempan. Pokoknya aku pulang habis ini.”

“Aku suapin ya?”

“Tidak perlu. Aku bhuissa ma’an endi—“

“Ini, sama nasinya. Enak.”

“Entu ‘aja nak. Aku pesyan di resytorann.. Cukup! Ja’an jejali mulutku lagi! Masih penuh.”

“Suapi aku juga~”

“Eiish, kau pikir kalau kau pasang tampang aegyo begitu aku akan luluh?”

“O. Aku mau kacangnya!”

“Ini. … Kau pikir aku apa? Pelayanmu? Memesankan makanan untukmu, menyiapkan meja, sekarang menyuapimu. Memang kau tidak bisa makan sendiri? … Jangan pegang ikannya! Tanganmu kotor! Aaa, buka mulutmu. … Aigo, uri Jagi cantik sekali kalau sedang makan dengan lahap.”

“Yunho-ya…”

“Mmm?”

Deadline-ku malam ini. Besok kita jalan-jalan?”

“Kemana? … Mmm, sayurnya enak sekali!”

“Tentu saja enak. Aku yang menyuapimu. Kita jalan-jalan ke tempat Jaejoong.”

“Kenapa kau mau ke tempat Jaejoong?”

“Karena kau rindu Jaejoong.”

“Aku tidak rindu Jaejoong.”

“Kita pergi sama Changmin juga.”

“Tapi Changmin belum tentu mau.”

“Pasti mau, kita suruh Jae memasakkan makanan kesukaan Changmin banyak-banyak agar anak itu mau ikut. Aww! Kenapa kau memukulku?!”

“Tujuan aslimu mau makan enak kan?”

“Tidak. Aku mau kau senang bertemu Jae.”

“Aku senang sekarang. Tidak perlu bertemu Jae.”

“Kau perlu bertemu Jae. Kau kangen Jae.”

“Aku tidak kangen Jae.”

“Dasar teman jahat. Melupakan Jae begitu saja. Aku akan bilang pada Jae. Aku mau tahunya~”

“Ya, bisakah kau turun? Sampai kapan kau mau makan di pangkuanku?”

“Aigoo, uri Yunho bibirnya seksi. Mmm, rasa kimchi!”

“Ya! Kenapa kau makan bibirku?! Makan tahumu!”

“Bibirku rasa tahu tidak?”

“Geureosse… Coba kucicipi lagi…”

“Mmm, bilang saja kau ingin menciumku.”

“Kau yang tanya rasa bibirmu!”

“Tahu yang dibuat Jae lebih enak rasanya.”

“Mmm. Kau benar.”

“Kan? Kau kangen Jae kan? Aku akan telepon Changmin… Kenapa kau ambil teleponku!!!”

“Makan dulu.”

“Kan bisa sambil telepon! Kembalikan!”

“Tidak. Penyakitmu adalah suka mengalihkan masalah. Makan, lanjutkan pekerjaanmu, baru telepon Changmin.”

“Tadi kau yang menyuruhku beristirahat! Sekarang kau menyuruhku kembali bekerja!”

“Aaa…”

“Aemm… Pokoknya aku mau makan masakan Jae!”

“Ajik?! Sudahlah, berhenti membicarakan Jae!”

“Cemburu?”

“Tidak. Ini ikan, aaa…”

“Aaa, wae wae wae? Kenapa tidak cemburu? Kau tidak cinta lagi padaku?”

“Percuma aku cemburu pada makanan. Kau mengincar masakan Jae, bukan mengincar Jae.”

“…”

“Kenapa diam?”

“Ikannya enak.”

“Geurae? Suapi aku.”

“Aaa…”

“Mmm, benar! Tahu begini aku pesan dua porsi.”

“Yunho-ya,”

“Wae?”

“Baumu enak.”

“Aku belum mandi.”

“Issh!”

“Ya! Kenapa memukul kepalaku?!”

“Kenapa mengaku?”

“Mengaku apa?!”

“Mengaku belum mandi!”

“Aku kan hanya bersikap jujur. … Ya! Kenapa memukulku lagi?!”

“Kenapa baumu enak padahal kau belum mandi?!”

“Naega jalmothesseo?!! Itu salahku?! Kenapa kau memukulku?!”

“Uri… mandi bareng yuk?”

“Eiish, tidak baik mandi sambil makan… aww! Iish, kenapa kau suka sekali memukulku?!”

“Habis makan, bodoh!”

“Tidak baik mandi habis makan.”

“Kalau begitu habis tidur… aww! Kau berani memukulku?!!”

“Jadi kau mau tidur habis makan, lalu habis itu mandi? Itu buruk sekali!”

“…”

“Tidak usah merajuk. Bibirmu tidak usah maju-maju begitu!”

“Jadi kau mau aku bagaimana?! Semua usulku kau tolak! Sudah, aku malas makan denganmu. Aku mau bekerja!”

“Eeeiish, bukan begitu. Kalau bibirmu maju begitu aku jadi tidak selera makan.”

“MWO?!

“Jangan marah… aku jadi selera yang lain maksudnya. Ayo kita habiskan dulu makanannya.”

“Ciissh, byeonthae!”

“Kau yang mengajakku mandi bersama.”

“Tetap saja kau yang laki-laki!”

“Jadi maksudmu kalau laki-laki byeonthae, kalau perempuan bukan byeonthae?”

“Yunho-ya… bibirmu seksi.”

“Urineun… haruskah membakar lemak sekarang?”

“…”

“Kenapa diam?”

“Eotteohke? Aku tiba-tiba mendapat ide. Mian Yunho-ya. Kita bakar lemaknya nanti malam saja ya. Sekarang aku harus bekerja lagi.”

“Ya! Habiskan makanannya dulu!”

“Kau saja yang habiskan!”

“Ini masih banyak!”

“BERISIK! DIAM ATAU KAU PULANG SAJA!”

“… Aaakh, mulai lagi! Padahal kupikir dia mau istirahat. Dasar maniak kerja. Aku kan jadi harus menghabiskan sendiri makanan ini. Ah, aku tahu, lebih baik aku… Mmmm… Ah, halo! Changmin-a?! kemarilah, banyak makanan di sini! O, palli!”

 

KKEUT.


Iklan