Tag

Author : Bee

Cast : Jung Yunho, Aku

Rating : AAbK

Genre : Romance

Ps : Semoga ga bikin bingung ya… Khekhekhekk.. Cuma tiba-tiba lagi jazzy.

Ost : The Girl From Ipanema (Nat King Cole), Keep Your Head Down (TVXQ), My Romance (Carly Simmons), My One and Only Love (Sting), Besame Mucho (Diana Krall), La Vie En Rose (Tony Bennett & KD Lang).

url: http://wp.me/p1rQNR-9M

***

 “Kau tahu Jazz?”

“Hah?” dia menatapku dengan bingung. Gelas gin di tangannya tampak tak bergerak.

Aku memutar tubuh, kembali membelakanginya. Tanganku menyentuh piano klasik rumahan di hadapanku. Di satu tutsnya kupencetkan jariku. Sol. “Jazz.”

“Jazz seperti dalam ‘musik jazz’?” tanyanya.

Aku tak menjawab. Hanya kembali memencet tuts yang lain sementara kakiku menginjak pedal tanpa benar-benar bermaksud menginjaknya. Setengah-setengah.

“Atau Jazz yang lain?”

“Aku tak tahu jazz yang lain,” kataku mulai berminat memainkan sesuatu.

“Kalau tidak salah, aku seorang penyanyi.”

The Girl From Ipanema yang sedang kumainkan dengan tempo super smooth sontak terputus, disambung oleh suara tawaku. Aku menoleh melihatnya dari balik bahu. “Kau tahu, tidak baik mengatakan sesuatu tanpa bukti.”

Dia memutar gelasnya hingga cairan tanpa warna berhias irisan limau di dalamnya sedikit membentuk pusaran. “Kau benar,” ujarnya lalu meletakkan gelasnya. Dia bangun dari kursi bersandaran tegak yang tadi didudukinya, lalu berjalan ke satu tempat di belakangku yang tidak bisa kulihat kecuali kalau aku memutar tubuhku.

Sayangnya aku tak ingin memutar tubuhku. Itu artinya aku tak melihatnya.

Kumainkan lagi tuts piano, mengulang The Girl From Ipanema dari awal. Aku tak bermaksud menyanyikannya, hanya memainkannya dengan piano.

Dan lagi-lagi permainanku terhenti karena tiba-tiba terdengar suaranya,

(wae?) nal geureoke swipge tteonanni
(wae?) naega swiwo boyeotdeon geoni
(wae?) nae gaseumeun jjijeojijanha

Kali ini aku memutar tubuh. Mataku terbelalak menatapnya. Hampir aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Dia sedang menyanyikan lagunya dan tubuhnya menari dengan enerjik. “Ciss, hentikan. Tak bisakah kau tenang sekali-sekali?” kataku pura-pura marah dan malu.

Dia membeku mendengar ucapanku. “Apa maksudmu? Aku sedang memberimu bukti kalau aku memang penyanyi.”

Kuputar mataku, berusaha sebaiknya memasang tampang oh-ayolah-aku-tak-berniat-bercanda, membuatnya melipat lengan dan memiringkan kepala dengan tersinggung.

“Aku tahu kau penyanyi. Tapi aku kan tidak sedang memintamu menyanyi. Aku hanya bertanya apa kau tahu musik jazz,” akhirnya aku berkata dengan nada lebih lunak.

“Wae? kupikir kau mau aku menyanyi untukmu.”

“Aku sudah bosan mendengarmu menyanyi. Kau menyanyi di jalan, menyanyi di kamar, menyanyi di dapur, menyanyi di kamar mandi…”

Dia tiba-tiba kembali ke tempat duduknya dan menyesap sedikit minumannya. “Kau pasti tak percaya kalau kubilang aku selalu menyanyikan itu semua untukmu,” katanya dari balik gelas.

Aku melemparkan pandangan memperingatkan, “Kalau begitu kau sedang menyindirku waktu menyanyikan Cooking Cooking?”

“Cooking Cooking?” dia tampak bingung.

“Super Junior? Trot?”

“Ah!” dia menghindari tatapanku. “Cooking Cooking…” gumamnya pelan.

Aku pura-pura merengut, berputar lagi di kursiku menghadap piano. “Maaf kalau aku tak bisa memasak. Tak bisa menyajikan makanan enak untukmu. Tak bisa menyaingi Jaejoong—“

“Hey!” serunya. “Tidak adil! Kenapa bawa-bawa Jaejoong?!”

“Kenapa tidak boleh?” tanyaku menyembunyikan senyum. Aku senang kalau dia sudah merasa terpojok.

“Apa pertanyaanmu tentang musik jazz tadi?” dia mencoba menghindar.

Aku harus memutar kepalaku agar dia tak mendeteksi senyum geliku. Baru sesaat kemudian aku menatap lurus lagi. Kali ini menghadap piano benar-benar.

My romance~
Doesn’t have to have a moon in the sky

Nyanyiku lagi-lagi dengan tempo super lambat.

My romance~
doesn’t need a blue lagoon standing by

Aku menoleh padanya. Mata almond-nya melebar mendengar suaraku. Dan dia tak pernah gagal membuatku tersenyum ketika dia membelalakkan matanya seperti itu.

Laguku terus mengalir. Aku menikmati temponya yang lambat, matanya yang membuatku berdebar lebih cepat, sinar lampu kuning yang hangat.

Sephia. Ruangan ini bernuansa sephia. Dia masih belum melepas jasnya sejak datang dari acara penghargaan sesuatu—entahlah, aku tak terlalu mengikuti kegiatannya. Rambutnya masih rapi. Dan dia tetap tampan seperti biasanya. Apalagi perlahan senyumnya terbentuk. Bibirnya yang mungil menghangatkan hatiku, sesuatu yang hanya bisa dilakukan olehnya.

“Jazz yang ini?” tanyanya.

Aku berkedip, mengiyakan pertanyaannya. Kemudian berkonsentrasi pada pianoku.


My romance doesn’t need one thing but you…

Kuakhiri laguku dengan mata terpejam.

Dan kami terdiam. Hanya nafasnya yang kudengar. Aku tahu matanya tak lagi memperhatikanku. Sudah terpejam.

Aku bangun dan berjalan menghampiri perangkat pemutar musikku. Di rak di bawahnya, kucari CD dari bagian yang tidak terlalu sering tersentuh. Aku mengoleksi banyak CD dari berbagai jenis lagu, termasuk lagu-lagu dari benua lain, termasuk lagu-lagu yang tidak kusukai, termasuk lagu-lagu yang hanya kudengarkan sekali kemudian kulupakan. Sekarang ini aku mengambil sekeping CD berisi kompilasi lagu-lagu jazz.

Sambil berkutat memasang CD itu aku berusaha mencari penyebab kenapa tiba-tiba aku ingin mendengarkan musik jazz. Biasanya aku memutarnya hanya kalau punya alasan kuat seperti ingin mulai menulis sesuatu yang romantis, atau sedang mengundang teman-temanku yang penyuka jazz, tapi kali ini tampaknya aku tak punya alasan apapun. Hanya ingin.

Begitu melihatnya berdiri di depan pintuku lewat tengah malam tadi, aku hanya ingin memutar musik jazz. Begitu dia masuk dan memelukku yang hanya bermantel tidur, aku hanya ingin mendengar jazz. Begitu dia meracik minumannya di bar pribadiku, aku hanya ingin jazz menemani kami.

Sting menyanyikan My One and Only Love pelan dan tenang. Aku melangkah ke belakangnya. Tanganku meremas pundaknya sambil berdiri, lalu berlanjut memijatnya. Kudengar dia mendesah. “Kau lelah?” tanyaku pelan. Dia meremas tanganku sebagai jawaban.

“Lepaskan jasmu,” kataku. Pundaknya cukup tebal, sehingga aku ragu pijatanku bisa dirasanya.

Dia menurut. Gelasnya kini sudah diletakkan lagi di meja di samping kursi, sementara tubuhnya menegak, membiarkanku membantunya melepas pakaian mengesankan itu. Kusampirkan jasnya di lengan kursiku yang lain lalu kembali lagi ke belakangnya. Saat tanganku mulai menyentuhnya lagi, dasi kupu-kupunya sudah menghilang entah kemana dan tiga kancing teratasnya sudah terbuka.

Telunjuk dan ibu jariku bekerja sama menyentuh ototnya yang kaku. Dia menunduk, memberiku lebih banyak ruang untuk bergerak. Aku berkonsentrasi memijatnya. Selama beberapa saat hanya suara desahannya yang mengisi ruangan ini. Lalu dia berbisik, “Kau pintar memijat. Jadi tukang pijat saja.”

Sialan, memang dia pikir jariku tak punya pekerjaan lain? Naskahku masih menumpuk dalam otak, menunggu jariku mengejar ketinggalannya untuk mengetikkan kata-kata.

Aku membungkuk dan mencium bagian belakang kepalanya. “Maaf, tapi aku sudah punya pekerjaan,” bisikku.

Kudengar tawa kecilnya. Tangannya menghentikan gerakanku. Dia menarik keduanya ke depan hingga sekarang aku merangkul lehernya dari belakang. Telapak tanganku diciumnya. “Tak bisakah kau bekerja sambilan?”

Menyandarkan daguku di bahunya, aku bergumam. “Aku sudah kaya. Waktuku sudah penuh disewa penerbit dan rumah produksi. Jadi kurasa, tidak. Tidak ada kerja sambilan.”

“Ayolah,” bujuknya. “Seorang bintang besar ingin menyewa jasamu sebagai tukang pijat pribadinya.”

Kutarik dia menyandar ke belakang, lenganku kini lebih posesif memeluknya. “Siapa bintang besarnya? Mungkin aku harus mempertimbangkannya,” tanyaku.

Dia menjawab sambil mengusap-usap lenganku. “Lee Soo Man,” jawabnya singkat.

Aku terlonjak dan melepaskan pelukanku darinya. Meski ingin tertawa, tapi aku sebal mendengar nama orang itu disebut-sebut. Tidak ada yang personal, hanya malas saja mendengar namanya saat kami sedang berdua begini.

“Hahaha…” dia tertawa mengetahui kejengkelanku.

Kupandangi puncak kepalanya dan perlahan berjalan memutar ke depannya. “Bagus, tertawa saja terus!” ujarku pura-pura marah. Yah, tawanya itu sangat menular. Aku tak bisa terus jengkel kalau di hadapannya. Sekarang aku sudah sibuk menahan tawaku.

Saat aku sampai di hadapannya, dia menarik tanganku. Aku menurutinya dan duduk di pangkuannya. “Ahaha, atau kau lebih memilih Park Jin Young?” tawarnya.

Aku tertawa kecil di depan wajahnya. “Mungkin itu lebih baik. Paling tidak Jin Young Oppa punya selera.”

“Jin Young Oppa?” dia melebarkan mata mendengar ucapanku.

Aku mengangkat bahu. “Dia yang menyuruhku memanggilnya Oppa.”

“Jadi aku harus memanggilmu apa?” tanyanya. “Noona? Ahjumma?”

“Ya!” kupukul pundaknya kesal mendengar kata ahjumma. Begitulah dia memanggilku saat kami pertama bertemu. Padahal aku lebih muda darinya satu tahun.

Dia tertawa lagi. Ditariknya tubuhku hingga sekarang kami saling menempel. Dia menyembunyikan wajah di leherku. “Aku capek,” desahnya pelan.

My One and Only Love kini sudah berubah jadi Besame Mucho. Aku menyusurkan tanganku ke punggungnya. Memijatnya perlahan. Dan dia bicara lagi, “Serius, bintang besar Jung Yunho ingin menyewamu menjadi tukang pijat pribadinya.”

“Mmm,” aku menjawab tak berminat.

Dia diam lalu bertanya hal yang sama sekali lain. “Kenapa jazz?”

“Entah,” jawabku.

“Aku jadi mengantuk.”

“Ini pukul setengah tiga pagi. Tentu saja kau mengantuk. Changmin pulang ke mana?”

“Ke asrama.”

“Kau mau tidur di sini?”

Dia mengangkat kepalanya. “Aku malas menyetir pulang.”

“Oke,” kataku. Kini tanganku memijat belikatnya.

“Kau sedang mencoba membuatku tidur ya?” tanyanya curiga.

“Kok tahu?”

“Ciss,” dia membuang muka. “Padahal aku masih ingin bersamamu.”

“Kan kau memang—“

“Yang dengan sadar. Tidak tidur,” sambungnya buru-buru.

Aku tertawa. Kurangkum pipinya. “Bangunlah.”

“Apa?”

Aku berdiri dari pangkuannya. Kutarik dia bersamaku. “Ayo bangun. Kita berdansa.”

“Kenapa tidak kau saja yang berdansa untukku?”

Aku memutar bola mata.

“Striptease?” di sinar matanya ada permohonan.

Aku menatapnya menghujam.

“Baiklah, baiklah,” dia mengalah dan bangun dari duduknya.

Tangan kami bertemu, lalu tubuh kami merapat. Sebentar kemudian dia sudah memindahkan lenganku ke lehernya. Wajahnya menunduk menatap wajahku yang hanya setinggi dadanya. “Kau puas?” tanyanya.

“Kita bahkan belum bergerak!” aku tak percaya dia membuat seolah-olah aku mengancamnya untuk berdansa. Aku kan hanya meminta dengan sangat.

Dia mengetatkan pelukannya di pinggangku dan kami mulai bergerak. Lututnya menyentuh pahaku. Dagunya menempel di kepalaku. Sesekali dia menggeser wajahnya hingga bibirnya mencium pelipisku. Pelan sekali kami bergerak. Mengikuti alunan lagu yang juga pelan.

Dia menopangkan tubuhnya pada tubuhku sementara aku memberinya tekanan yang sama. Kuturunkan lenganku dan ganti memeluk pinggangnya. Aku menghirup aroma tubuhnya yang tercium dari balik pakaian. Kami mendesah bersamaan. Rasanya seperti sudah sampai di rumah.

Lucu sekali, mengingat kami sedang di rumah.

“Sekarang aku tahu kenapa jazz,” bisikku malas.

“Kenapa?” tanyanya.

“Agar kita berdansa.”

Dia terdiam agak lama sebelum menjawab, “Agar aku bisa memelukmu?”

“Sambil tidak tidur.”

Kurasakan senyumnya di pelipisku. “Agar kita bisa bergerak bersamaan?”

“Sambil berpakaian.”

“Kau sedang malas melakukannya?”

“Aku sedang ingin hanya memelukmu.”

Lagi-lagi dia terdiam.

Aku penasaran. “Apa kau ingin melakukannya?”

“Aku laki-laki. Selalu ingin.”

Aku mendeteksi nadanya yang belum final. “Tapi?”

“Tapi aku juga capek sekali.”

Ganti aku yang terdiam. Mungkin aku terlalu memaksanya untuk terjaga. “Kau mau tidur sekarang?” tanyaku ragu melepaskan pelukanku dari tubuhnya.

Dia menarikku kembali dalam pelukan. “Selesaikan dulu lagunya,” dia berkata.

Kupingku menangkap La Vie En Rose baru mulai dinyanyikan oleh Tony Bennett dan KD Lang. “Press me to your heart…” bisikku.

“Apa?” tanyanya bingung.

I’m in a world where roses bloom…” desahku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku padanya.

Kurasakan dengan tubuhku bahwa dia bingung dengan ucapanku. Aku pun hanya meneruskan mengulangi tiap bait dari lagu romantis yang sedang mengalun itu. Ah, aku tidak tahu bahwa aku bisa punya keinginan menjadi romantis bersamanya.

Lambat laun tubuhnya menjadi rileks. Saat kudengar suaranya, aku bisa merasakan senyumnya. “Kau mengikuti lagu ini?”

Aku mengangguk di dadanya.


Give your heart and soul to me
And life will always be
La vie en rose

Akhirnya lagu itu berakhir. Aku melepaskan pelukanku darinya. Kutengadahkan kepala dan menatapnya. Di sana aku bisa melihat wajahnya dibayangi kelelahan. Matanya memerah menahan kantuk. Pelupuk matanya hanya terbuka setengah.

Dan bibirnya tersenyum, entah kenapa di mataku dia terlihat bahagia.

“Ayo tidur,” ajakku padanya.

Dia tersenyum. “Ayo,” bisiknya menggandeng tanganku.

Di belakang kami, ruang tengahku mengumandangkan lagu selanjutnya.

Selamat malam.

 

KKEUT.


Iklan