Tag

, , ,

Episode: Lost (Leeteuk’s version)

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Yeppo (Beauty/Bee)

Genre: adult romance

OST: Insa-Jaejoong

Url: http://wp.me/p1rQNR-9v

***

Memasuki musim semi 

Aku baru sadar kalau masakan di kamp militer sebenarnya tidak nikmat-nikmat amat. Lama-lama aku bosan juga dengan menu yang diulang-ulang. Mungkin dulu aku menganggap masakan mereka enak karena di masa itu aku selalu kelelahan latihan. Sekarang ini, lidahku seperti sudah mati rasa karena makanannya itu-itu saja. Seharusnya selain mengganti menunya, mereka juga harus mengganti kokinya sebulan sekali, agar cita rasa masakannya berubah.

Aaah, aku rindu jajan kue ikan di pinggir jalan!

Bagaimana kondisi Heechul ya? Begitu masuk, kami mendapat pos yang berbeda. Semoga dia baik-baik saja dan tidak menyebabkan masalah.

Kudengar suara perintah dari pintu ruang makan menyuruh kami bersiap-siap ke lapangan lagi. Huffft, melelahkan! “Aaak!” seruku bersamaan dengan yang lain menjawab perintah.

Dalam 5 menit kami sudah berhamburan menuju lapangan tempat latihan. Sempat kuperhatikan wajah teman-temanku yang rata-rata berusia lebih muda. Wajah mereka kelihatan lelah, tapi tidak seperti kemarin-kemarin, hari ini mata mereka bersinar. Aku tidak ragu wajahku memancarkan semangat yang sama. Semua itu karena mulai besok barak kami dapat libur selama 3 hari. Oh, betapa aku sudah tidak sabar menunggu sore ini saat kami diantarkan pulang!

 “Jungsoo-ya!” aku mendengar suara Inyoung Noona. Tapi dimana orang itu? Aish, harusnya dia mendekatiku, agar aku bisa melihatnya.

Tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang. “Noona!” aku terkejut melihat kakakku itu sudah berada di belakangku.

“Eish, dasar bodoh. Aku memanggilmu dari arah sini kenapa kau mencari-cari ke arah lain?!” dia menggerutu.

“Hehehe, mian Noona. Habisnya semua orang menjaemput dari arah sana, kenapa Noona malah menjemput dari arah sebaliknya?” aku berusaha membela diri di depannya.

“Ya! Aku kan harus memarkirkan mobil. Parkirannya ada di sebelah sana,” kakakku itu menjawab sambil menunjuk arah datangnya tadi.

Aku menggembungkan pipi, “Mwo? Jadi Noona baru datang? Benar-benar baru datang, baru memarkirkan mobil?” aku berusaha sebaik mungkin mengeluarkan nada kecewaku.

Inyoung Noona pura-pura tidak melihatku. Matanya entah melihat apa. Aku hampir bisa mendengar pengalihannya untuk membela diri, “Ah, langitnya cerah sekali ya?” Aku bersumpah kalau dia melakukannya, aku akan memanggulnya ke arah mobil agar dia malu.

Untung dia hanya berkata, “Ya, kau tidak mau memeluk kakakmu? Aku sudah sengaja meliburkan diri lho, untuk menjemputmu.”

Aku nyengir padanya. Pelukanku melayang padanya. “Ayo pulang, Noona. Aku lapar…” ujarku manja di rambutnya.

Noona menepuk punggungku keras-keras sampai aku terbatuk. “Kau ini! Bukannya menanyakan kabar, malah langsung menanyakan makanan. Memangnya kau tidak sarapan tadi di barak?” ujarnya sambil melepaskan pelukan dan membimbingku ke mobil.

“Sarapan, tapi untuk masakan Eomma selalu ada tempat di perutku,” jawabku sambil nyengir.

Tepat sebelum noona meluncurkan mobilnya, aku bertanya padanya, “Jadi? Bagaimana kabar Eomma?”

Appa dan eomma duduk berdampingan di lantai. Noona duduk belakangku yang sedang memberi hormat. Kutundukkan kepalaku di hadapan orang tuaku tercinta. Cukup sekali dan aku langsung duduk bersimpuh di hadapan mereka. Belum lagi posisi dudukku nyaman, eomma sudah merangsek ke arahku, memelukku erat. “Uri Jungsoo-ya… Eomma kangen…”

Aku bisa merasakan kerinduannya padaku meski mata beliau tetap kering. Padahal aku jarang menjenguknya selama ini, tapi memang rasanya berbeda. Saat aku bekerja di Seoul, aku bisa berhubungan dengan eomma kapan saja. Dia bahkan bisa marah-marah padaku setiap hari kalau mau. Dan kapanpun ada waktu, eomma bisa datang menjengukku.

Tapi pelatihan militer itu berbeda. Waktu kunjungan terbatas, terjadwal, dan terjatah. Telepon pun begitu. Hanya surat-menyurat yang mungkin bisa dibilang bebas. Tapi yang benar saja. Surat? Seperti kami ada waktu saja menulis surat. Oh, oke, aku juga sudah lupa bagaimana caranya menulis surat. Terutama yang bukan surat cinta.

Oke, oke, aku mengaku lagi, surat cinta juga bukan keahlianku. Puas?

Kembali ke eomma, dia tampak senang sekali melihatku. Appa pun tak kalah senang melihatku. Inyoung noona juga. Jadi intinya, mereka senang melihatku. Seperti aku senang sekali berkumpul lagi bersama mereka.

Kami berbagi cerita. Aku menceritakan keseharianku di kamp latihan, mereka menceritakan padaku kabar-kabar terbaru. Seputar keluarga, seputar lingkungan rumah kami, seputar kehidupan noona, juga seputar Super Junior. Aku senang keluargaku tidak mengabaikan Super Junior sehingga aku bisa mendengar cerita tentang mereka sedikit-sedikit. Aku merindukan dongsaengku.

Malam itu aku masuk ke kamar lamaku sambil tersenyum. Appa dan eomma memberiku ucapan selamat tidur yang hangat, dan badanku segar sekali karena sudah puas merasakan masakan eomma dan mandi air hangat sambil mendengarkan gumaman percakapan orang tuaku dari kejauhan. Inyoung noona sih, tidak usah ditanya. Dia langsung menghilang ke kamarnya sendiri sehabis makan malam.

Di atas kasur aku terlentang menatap langit-langit. Kamar lamaku, familiar dan hangat. Dipenuhi barang-barang kenangan. Foto-foto lamaku, poster-poster, dan komputer! Oh yeah! Aku tidak jadi tidur. Kuputuskan untuk menyalakan laptopku.

Setelah menyala, aku ragu. Apakah aku akan online malam ini? Tapi aku belum ingin meng-update apapun. Aku belum ingin bersosialisasi. Ah, sekedar mengecek saja kurasa tidak masalah. Kubuka minihompy-ku, twitterku, dan situs resmi ELF Korea. Hmm, sepertinya menarik.

Aku terlarut pada apa yang kulakukan sampai tidak sadar bahwa waktu sudah larut. Tahu-tahu saja punggungku sudah pegal dan mataku agak pegal. Mungkin sebaiknya aku tidur.

Kututup semua laman yang sedang kubuka hingga tinggal desktop yang terpampang. Mataku tiba-tiba terbuka lagi melihat gambar yang terpampang di sana. Aku ingat. Aku tidak sempat mengutak-atik laptop ini sebelum berangkat ke kamp. Jadi ini masih gambar yang sama sejak beberapa bulan yang lalu.

Aku termangu menatap laut kelabu di layar laptopku. Ingatanku kembali ke lebih dari setahun yang lalu, saat aku mengambil gambar permukaan laut yang agak bergejolak. Seolah aku bisa merasakan kembali angin yang kuat di pantai terpencil itu. Aroma laut dan dinginnya udara musim dingin seolah melingkupi kamar ini. Lalu suara teriakan itu, bagai tertangkap lagi oleh telingaku.

Mataku meredup. Dalam foto itu tidak terlihat, tapi kalau aku ada di sana, aku hanya perlu menoleh sedikit, dan kurasa aku bisa melihat lagi dia yang berlari menerjang batas air kemudian menggila dengan kerumitan otaknya.

Ada yang menyengat dalam hatiku. Ada yang menusuk-nusuk mataku. Aku pasti lelah. Aku harus tidur.

Kumatikan laptop dan merangkak menuju tempat tidur. Kupejamkan mata dan merasa aku sedang bermimpi. Gerai rambutnya, isak tangisnya, bisikan pelannya menyadari keberadaanku. Wanita misterius yang menyita pikiranku, dia datang lagi dalam mimpiku.

Aku melingkarkan tubuh di bawah selimut, berusaha memeluk diri seerat dia memelukku.

Awalnya kabur, tapi lalu aku melihat seseorang sedang tersenyum padaku. Tunggu, kenapa aku disenyumi oleh diriku sendiri?

Kubuka mataku lebar-lebar. Lalu bangun dan menguap. Tak lupa merentangkan badan. Oke, aku sudah bangun. Mimpi apa aku semalam? Ingatku sambil melirik foto lamaku.

“Dasar jelek,” gumamku malas melihat diri sendiri yang cengar-cengir di dalam foto. Aku tidak bohong. Dalam foto itu aku memang jelek. Rambutku tegang menusuk ke atas. Dahiku yang lebar jadi terpampang dengan tidak indahnya. Herannya aku masih dengan percaya dirinya memamerkan senyum iklan pasta gigi. Dasar remaja.

Kulangkahkan kaki keluar kamar sambil melirik jam dinding. Astaga! Sudah jam 14:00! Berapa lama aku tidur?!

Kuraih handuk yang semalam kuletakkan asal di sandaran kursi, secepat kilat aku menuju kamar mandi. Niat awalku untuk hanya gosok gigi dan mencuci muka langsung berganti dengan semangat untuk mandi. Kenapa eomma tidak membangunkanku? Kenapa noona tidak menyerbuku ke kamar seperti biasanya?

Di bawah shower, perlahan kesadaran menenangkanku. Kenapa aku harus terburu-buru? Toh aku tidak harus membersihkan halaman barak ataupun berbaris latihan pagi. Daaan, ahahaha! Aku bisa mandi lama-lama! Dan sendirian di kamar mandi!!!

Ini hebat.

Setelah mandi aku langsung menuju dapur. Perutku lapar. Di sana aku tidak menemukan siapapun. Baru setelah ke ruang keluarga, aku menemukan appa dan eomma sedang duduk berdampingan, bergumam mengomentari acara televisi.

Mereka menyenangkan sekali untuk dilihat. Keduanya tidak sadar bahwa aku sedang mengamati dari pintu. Eomma menggumamkan sesuatu dan appa menimpali. Lalu appa tidak terima dengan apa yang didengarnya di televisi, dan eomma hanya tertawa. Lalu sesuatu yang lucu muncul di layar dan kedua orang tuaku itu terbahak-bahak. Dengan alami eomma merapatkan tubuh pada appa dan tangan appa tanpa sadar mengelus bahu eomma. Beginikah damainya masa tua?

Aku tersenyum senang karena aku sudah menghasilkan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan orang tuaku. Bagaimanapun, akulah anak lelaki mereka. Aku yang bertanggung jawab untuk mereka.

Lalu renunganku buyar ketika eomma menoleh dan melihatku sedang mengamati dia dan appa. “Kau sudah bangun, Jungsoo-ya?”

Kulebarkan senyumku dan kudekati mereka. Aku memeluk eomma dari belakang dan berkata manja, “Eomma, aku lapar…”

“O? Baiklah, ayo Eomma siapkan makanan untukmu.”

Kami lalu berjalan bersama menuju ruang makan. Eomma memenuhi meja dengan nasi dan segala kelengkapannya. Aku makan dengan lahap. “Eomma tidak makan?” tanyaku.

“Aigoo, tinggal kau yang belum makan. Kami semua sudah makan. Dasar tukang tidur.”

“Kenapa tidak membangunkan aku? Aku biasanya bangun pagi di kamp.”

“Tentu saja kau harus bangun pagi. Kau pasti sudah dihajar oleh seniormu kalau bangun lewat tengah hari begini.”

“Ehehe,” tawaku dengan mulut penuh. “Noonaneun?” aku menanyakan keberadaan kakakku.

“Dia berangkat pagi-pagi sekali ke Seoul. Pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Dia berpesan agar kau menyusulnya nanti malam.”

Aku menyodorkan mangkuk kosongku pada eomma, meminta tambah. Masakan eommaku memang nomor satu. “Nanti malam?”

Eomma menyodorkan mangkuk yang sudah penuh nasi lagi padaku. “O. Aigoo, padahal eomma masih ingin melihatmu di rumah.”

Sesaat aku menatap eommaku. Kuputuskan akan berbicara pada noona nanti setelah makan. Dan aku melanjutkan makanku tanpa berkata apa-apa lagi.

Setelah makan, aku mencuci piring bekas makanku sementara eomma membereskan meja makan. Setelahnya aku berpamitan ke kamar sebentar dan eomma bilang dia dan appa akan ada di ruang keluarga kalau aku membutuhkan mereka. Aku mengangguk dan segera berlari ke kamar mengambil telepon genggam. Sambil berjalan turun ke ruang keluarga, aku mengetik pesan untuk noona.

Di ruang keluarga aku tersenyum lebar melihat orang tuaku sedang menonton acara komedi. Acara itu sudah lama sekali dan aku yakin ratingnya tidak seberapa tinggi. Tapi penontonnya stabil, karena orang-orang tua menyukainya. Sebenarnya aku juga menyukainya. Gurauan yang mereka tayangkan rata-rata gurauan lama yang tetap mengundang tawa karena membawa serta memori-memori hangat. Menonton itu seperti sedang bernostalgia. Aku pun bergabung dengan kedua orang tuaku, dan duduk di lantai, bersandar dekat kaki keduanya.

Eomma langsung tanpa sadar memijat bahuku. “Apa kau lelah, Jungsoo-ya?” tanya eomma menanyakan latihanku di kamp.

Aku menggeleng. “Ani. Menyenangkan di sana. Teman-temanku masih muda, jadi rasanya seperti kembali ke asrama Super Junior dulu. Kami bersenang-senang.”

Kudengar ayahku tertawa. “Appa senang kau menikmatinya. Pelatihan sekarang lebih lembek. Di masa Appa dulu, tidak ada waktu untuk tersenyum.”

Aku menoleh pada appa. “Siapa bilang lembek? Kami juga capek kok. Kami latihan semua dasar militer. Sungguh!”

“Ya, tapi jaman kami dulu lebih berat,” appa menjawabku.

“Bagaimana Appa tahu? Appa kan tidak ikut latihan kami?”

“Tahu saja.”

Aku tertawa tidak percaya. Bagaimana mungkin ada orang tua yang tidak mau kalah dari anaknya? “Kami berlari 10 km setiap hari sambil membawa-bawa ransel berat, lalu salah sedikit kami kena push-up. Belum lagi latihan ketahanan fisik yang lain. Masih ada kelas, lalu tanggung jawab untuk masing-masing barak. Itu tidak lembek, Appa!” protesku.

“Itu sih biasa. Kalian tidak harus mengendap-endap berlatih menembak di malam hari, kan? Belum lagi menjaga pos tanpa bergerak semalaman, kemudian berpatroli di perbatasan.”

Aku memutar mata. “Appa, kami masih prajurit tingkat rendah. Kami baru menyelesaikan masa pelatihan awal. Itu kan nanti, kalau kami sudah naik pangkat!”

Appaku terkekeh, senang karena berhasil membuatku sedikit teriritasi. Untung ibuku mengalihkan perhatianku, “Jadi kapan kau harus kembali?”

“Lusa,” jawabku sambil membelai tangannya yang masih berada di pundakku.

“Cepat sekali!” serunya kecewa.

“Ya, hanya tiga hari jatah kami libur,” jawabku tak menyembunyikan kekecewaanku sendiri. Kurasakan telepon genggamku bergetar di saku celana. Kubuka dan kubaca balasan dari noona.

“Lalu apa rencanamu?” eomma bertanya lagi.

“Aku ingin ke Seoul, mengunjungi asrama. Jalan-jalan dengan mereka, siapa tahu bisa bertemu Heechul,” jawabku sambil memasukkan lagi ponsel ke dalam saku.

“Kau berangkat sore ini? Jangan lupa pesan Noona-mu,” eomma mengingatkan.

Aku berbalik menghadap kedua orang tuaku. “Eomma! Bagaimana kalau kalian ikut denganku sore ini? Kita makan malam di Seoul.”

Appa dan eommaku saling berpandangan mendengar usulku. “Kau tidak akan menginap di Seoul?” tanya eomma.

“Ani, kalian menginap di tempat Noona, aku bisa tidur di asrama. Besok sore kita kembali ke sini bersama-sama. Bagaimana?” jelasku.

Kulihat orang tuaku saling berpandangan ragu. Kumajukan bibirku, kugembungkan pipiku. “Ayolah, aku ingin bersenang-senang dengan kalian. Sudah berapa lama kita tidak jalan-jalan bersama? Ya? Noona juga sudah setuju. Ya?” bujukku.

Kupasang ekspresi membujukku yang paling manis. Biasanya eomma paling tidak tahan denganku kalau sudah begitu. Lalu appa hanya tinggal mengikuti kalau eomma sudah oke.

Eomma tertawa, mencubit pipiku. “Kau masih begini saja, tidak berubah. Apa kau tidak sadar sikapmu ini sudah tidak pas untuk lelaki yang umurnya sudah pantas menikah?”

Senyumku membeku. Menikah? Aku kan baru masuk kamp. Keluar masih dua tahun lagi kurang sedikit. Kenapa eomma mengungkit hal itu? “Eomma~” aku merajuk.

“Ya! Kau ini laki-laki! Kau ini tentara!” appa berkata tegas padaku. Memang appa kurang suka jika aku menunjukkan sikap aegyo. Terutama belakangan ini.

“Arasseo,” rajukku dengan sikap remaja nakal yang tidak pedulian. “Tapi kalian mau kan?” tanyaku lagi.

“Arasseo, arasseo. Sore ini kan? Jam berapa kita harus berangkat?” eomma akhirnya mengiyakan.

Aku bersorak senang. “Jam 5 saja, agar sampai di Seoul tepat waktu makan malam. Biar Noona yang memilihkan restorannya,” kataku sambil mengirim pesan pada noona.

Eomma membelai kepalaku. Dia bergumam, “Malah kami yang harus pergi-pergi ke Seoul. Harusnya kau yang repot membawa wanita kemari untuk dikenalkan pada kami.”

Telepon genggamku hampir meluncur jatuh. Tapi untung aku bisa menguasai diri. Aku pura-pura sibuk mengirim pesan dan tidak memperhatikan gumaman eomma.

Selanjutnya yang aku tahu aku menonton televisi bersama mereka. Tawa mereka menjadi sinyal untukku tertawa. Namun sungguh, aku sama sekali tak tahu apa yang kutertawakan. Hatiku berulang kali menggumamkan kalimat yang sama, “Maaf Eomma. Aku tak bisa memperkenalkan wanita kepadamu. Karena aku tak tahu dimana dia sekarang.”

“Hati-hati, Jungsoo-ya. Jangan tidur sampai larut. Ingat, besok kita pulang ke rumah,” eomma berpesan padaku sebelum kami berpisah di depan restoran.

Aku mengiyakan semua perkataannya. Aku melambaikan tangan ke arah mereka sambil berpesan pada Inyoung Noona, “Hati-hati, Noona!” Setelah itu aku meluncur sendiri ke arah asrama.

Di perjalanan aku menelepon asrama dan senang mendengar suara Ryeowook menjawab. “Ada siapa di asrama?” aku langsung bertanya tanpa basa-basi saking senangnya.

“HYUNG!” Ryeowook terdengar terkejut sekaligus gembira.

“Ada siapa saja di situ, Wookie?” ulangku sambil tertawa. Senang rasanya mendengar suaranya yang hangat.

“O. Ada Kyuhyun dan Sungmin dan Donghae Hyung juga. Kenapa? Hyung dimana sekarang? Bolehkah telepon malam-malam begini dari kamp? Kapan Hyung libur? Pokoknya Hyung harus mengunjungi kami di sini!” Ryeowook memberondongku dengan pertanyaan. Persis seperti gadis kecil ceriwis.

Jadi Donghae benar pindah ke bawah. Tentu saja. Dengan perginya aku dan Heechul, mana mungkin dia betah sendirian di apartemen atas.

“Wookie, kalian semua sehat?” tanyaku sambil memberhentikan mobil di sebuah toko. Aku hendak membawakan kejutan untuk mereka, yah walaupun hanya makanan dan minuman. Di mobilku sudah ada makanan dan snack yang kupesan dari restoran tadi. Sekarang tinggal soju dan soda dan jus untuk Donghae. Dan Eunhyuk, saat dia pulang nanti. Dan Yesung kalau dia mampir.

Aku terus mengajak Ryeowook mengobrol sementara mobilku melaju semakin mendekat ke asrama. Aku benar-benar sudah tidak sabar bertemu lagi dengan semuanya. Semua yang ada.

“Waaa! Jadi kalian semua pergi ke Taiwan?!”

“O!” jawab Sungmin menjawab pertanyaanku yang menyela cerita Donghae tentang promosi 5Jib.

Sewaktu aku datang tadi, semua orang terkejut. Donghae memelukku erat sekali lalu mengusap matanya. Sekilas aku menangkap bulu matanya yang agak basah. Itu kujadikan bahan ejekan. Tapi aku lalu berhenti ketika dengan serius mengatakan, “Aku rindu sekali padamu, Hyung. Sepi sekali tidak ada kalian bertiga!”

Aku mengerti yang dia maksud itu aku, Heechul, dan Kangin.

Aku terharu, tapi kutahan emosiku dan kurangkul dia menuju ruang tengah. Di sana kusebarkan semua barang bawaanku. Makanan, snack, dan minuman yang barusan kubeli. Segera saja rasa haru berubah jadi keriangan.

“Ceritakan lagi padaku tentang kolam renang di hotel itu!” Sekarang ini aku sudah mendengar banyak cerita tentang perkembangan Super Junior selama aku di kamp militer.

Kyuhyun terlihat bersemangat menceritakannya padaku. “Eunhyuk benar-benar bodoh. Dia pikir Taiwan itu negara tropis. Sudah jelas-jelas tidak ada yang berenang, dia malah cengar-cengir kegirangan dan menceburkan diri ke kolam renang. Padahal kami semua beramai-ramai menuju jacuzzi di di sebelahnya.”

“Ahahaha!” Donghae tertawa sampai hampir terguling. “Hyung! Kau harus melihat wajahnya. Dia langsung teriak kedinginan. Dan kejang-kejang keluar dari kolam! Lucunya lagi, saking kedinginannya, dia terpeleset di jacuzzi. Bayangkan, masa dia tenggelam di kolam yang airnya cuma setengah meter?! Setengah meter, Hyung! Dan dia tenggelam!”

Tawa Ryeowook lebih terkontrol, tapi suaranya keras ketika melanjutkan cerita Donghae. “Memalukan. Kami semua berpura-pura tak mengenalnya! Dia kewalahan bangun dari kolam.”

“HYUNG!” kudengar suara dari arah pintu.

Saking serunya bercerita, tak satupun dari kami mendengar pintu yang terbuka. Ternyata Eunhyuk sudah pulang. Dan dia sendirian.

“Eunhyuk-a!” seruku berdiri.

Eunhyuk berlari menuju ke arahku dan langsung memelukku erat. “Kapan kau datang, Hyung?” tanyanya setelah melepaskan pelukan.

“Sudah agak lama. Aku membawakan kalian makanan. Itu masih ada,” tunjukku pada bawaanku yang sudah berkurang banyak.

Mata Eunhyuk berbinar-binar semangat. Tanpa teringat cuci tangan, dia langsung mencomot makanan. “Jadi, bagaimana pelatihannya, Hyung? Menyenangkan?” tanyanya sambil mengangkat-angkat alis.

Aku tertawa. Aku sudah menceritakannya tadi pada yang lain, tapi aku sedang senang. Jadi aku tak keberatan mengulang lagi ceritaku.

Malam itu berlalu dengan hangat dan ceria. Tak terasa kami sudah mengobrol sampai berjam-jam. Aku terkejut ketika melihat jam tangan, ternyata sudah pukul 3 pagi. Ryeowook sudah bersikap melankolis sejak lama akibat soju. Karena sebab yang sama Kyuhyun juga sudah sejak tadi senyum-senyum terus meski tidak ada yang lucu. Jus dan soda sudah hampir habis, dan mata Eunhyuk sudah merah.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi tidur. Kuputuskan aku akan menumpang tidur di asrama bawah karena toh tidak ada orang di atas. Eunhyuk menawarkan berbagi kamarnya karena sekarang Ryeowook tidur dengan Donghae. Aku menerima saja. Sebentar kemudian ruang tengah sudah gelap dengan bekas makanan berserakan dimana-mana.

Aku mengaduh dan terbangun ketika kaki Eunhyuk tiba-tiba melayang ke pinggangku. Sial, tidur dengan Eunhyuk ternyata tidak bisa tenang. Ada saja ulahnya yang membuatku tidurku tidak jadi lelap.

Aku menoleh ke arahnya dengan kesal. Kuamati wajahnya yang tampak pucat di bawah berkas lampu luar yang sama pucatnya. Dan hatiku seperti diremas.

Di sini, tepat di kamar ini, aku pernah melihat sosok lain. Yang malam itu tampak begitu sempurna. Di atas ranjang ini, aku pernah memeluk seorang wanita yang berjanji tak akan berpaling dariku. Kami bercinta untuk pertama kalinya. Aku bersatu dengannya dalam magis. Semuanya terputar jelas sekali di benakku sekarang ini.

Teringat lagi rasanya saat akhirnya aku bisa memeluknya. Setelah dua bulan dibuat gila olehnya, akhirnya dia berada dalam lenganku. Menyerah di bawah ciumanku.

Kusentuh dadaku, rasanya ada yang berdebar lebih cepat. Dan ada rasa kehilangan yang kuat tiba-tiba menghantam.

Kuangkat tanganku memasuki berkas cahaya. Seolah aku melihat helaian rambutnya tersangkut di sela jariku. Seperti malam itu, ketika nafasnya dan nafasku saling mengejar.

Kutolehkan wajahku ke arah Eunhyuk, dan aku tahu, aku tak bisa tidur di sini.

Aku pun bangun dan melangkah keluar. Aku akan ke atas. Aku yakin ruanganku akan rapi dan bersih karena ahjumma tukang bersih-bersih pasti datang setiap dua hari sekali. Kakiku melangkah gontai sementara mataku seolah bisa melihat bajuku dan baju Yeppo berserakan di lantai seperti saat Eunhyuk menemukan kami keesokan harinya.

Kumasuki apartemenku. Sunyi. Gelap. Dan aku bersyukur. Aku tak bisa melihat apapun yang bisa mengingatkanku akannya. Tanpa berniat memberi diriku penerangan, aku menuju kamarku.

Di atas selimut aku roboh. Aku bahkan tak punya niat menyusup di balik selimut. Kenangan bersama Yeppo datang bagai petir. Tanpa peringatan, mengaburkan semua logika, dan menyakitkan. Kupikir aku sudah berhasil mengatasi kehilanganku, tapi ternyata tak sesederhana itu. Ada sesuatu dalam otakku yang bagai dibekukan. Itu adalah bagian otakku yang menyimpan memori tentang Yeppo.

Suaranya membayang. Lengannya yang memeluk pinggangku, terasa. Tekstur kulitnya di bawah telapak tanganku, teringat. Aroma rambutnya, terhirup. Dan saat mataku menutup, aku melihat semuanya. Bagai gelembung-gelembung sabun yang memantulkan tiap potongan gerak, aku melihat Yeppo memutar kepalanya menghadapku, matanya yang berbinar mendengar suaraku, tubuhnya yang otomatis merapat ke arahku, mulutnya yang ramah menerima kecupan-kecupanku.

“Yeppo…” desahku tanpa sadar.

Aku tak sadar bahwa aku sangat merindukannya. Bagaimana mungkin setelah semua kesibukan, semua pelatihan yang berat dan keras, semua semangat nasionalisme yang terus dipanas-panasi selama di kamp pelatihan, aku masih berakhir dengan mengingatnya?

Bukankah aku tak ingat lagi rupanya? Dia cantik. Tak mungkin aku masih mengingat senyumnya kan? Menghangatkan, senyumnya itu. Tubuhnya, harusnya aku sudah lupa. Pas, sempurna melekat di tubuhku sendiri. Aromanya? Campuran aroma sabun dan matahari.

“Ya Tuhan…” bisikku sesak ketika ingatan tentangnya menghambur keluar bagai pesta kembang api di tahun baru. Ulang tahunku. Jejudo. Telepon. Pantai. Air matanya. Pelukannya. Ekspresinya. Merah lehernya. Tahu. Ombak. Matahari terbenam. Deadline-nya. Kelulusannya. Penantiannya. Ketidaksabaranku. Tawanya. Semua hal acak tentangnya. Bajunya.

Astaga! Kubuka mata dan langsung menghambur ke lemari. Kunyalakan lampu dengan tidak sabar. Kuaduk-aduk lemariku dan di rak kesekian yang kubuka, aku mendesah lega. Rasanya bagai menemukan harta karun.

Kutarik kaus feminin berwarna merah salem dari tumpukan kausku yang lain. Baju yang terakhir dipakainya saat kami bertemu untuk mengucapkan perpisahan. Kaus yang baru kutemukan keesokan harinya dalam kekacauan pikiran. Helaian kain kecil yang tak sanggup kutaruh di mesin cuci karena terus kuhirup aromanya. Miliknya. Miliknya yang tak bisa kulepas sampai berminggu-minggu. Satu-satunya yang ditinggalkan olehnya untukku.

Kupeluk kaus itu sambil berjalan kembali ke kasur. Lagi-lagi aku tak merasa perlu menyusup ke bawah selimut. Kubentangkan kaus di tanganku di atas bantal. Perlahan kubelai bahan elastis itu.

Harusnya ada dia di dalam kaus ini. Mestinya dia merespon belaianku. Tapi ini hanya selembar kaus. Tak ada dia di bawahnya. Tak ada hangatnya yang kurasa. Bahkan aromanya sudah berganti.

“Yeppo,” bisikku seiring melebarnya setitik noda gelap di permukaan kaus itu.

Aku tahu aku menangis. Aku tahu aku payah. Aku sadar aku menyedihkan. Tapi apa yang bisa kulakukan kalau rasa ini menghantam begitu saja?

Orang tuaku bisa memelukku. Noona-ku bisa menghiburku. Dongsaengku menceriakanku. Fansku mengangkat mood-ku. Latihanku menguras tenaga dan pikiranku. Benakku menipuku dengan mengatakan dia sudah terlupakan.

Tapi hatiku tak bisa dibohongi. Dan tak mampu berbohong.

Ada yang hilang. Ada yang tak terpenuhi dari semua penghiburan. Ada yang terlewatkan dari semua tawa. Ada yang terabaikan dari semua pengalih perhatian.

Dia tak bisa diusir. Dan tak bisa kembali.

Dia Yeppo-ku.

KKEUT.


Iklan