Tag

, , ,

Episode: Lost (Bee’s version)

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Yeppo (Beauty/Bee)

Genre: adult romance

OST: Holding Back The Tears-DB5K

Url: http://wp.me/p1rQNR-9k

***

Jepara, awal Maret 

Kutunggu shaker bergoyang. Sebentar kemudian aku matikan alat itu dan puas melihat endapan di dalam erlenmeyer sudah terbentuk. Kumasukkan tetesan KOH-KI ke dalamnya dan dengan sabar kutunggu hasil yang keluar. Setelah satu menit tak terjadi perubahan apapun, aku mendesah lega. Paling tidak kali ini reaksinya tidak berbalik. Syukurlah.

Kututup erlenmeyer itu dengan kertas aluminium dan kumasukkan ke dalam lemari pendingin. Sewaktu kulirik jam, ternyata sudah pukul 7:00. Aku harus bergegas kalau tak mau ketinggalan kapal. Sore ini aku harus jadi menyelam. Kesempatan terakhirku.

Keluar dari lab aku menyipitkan mata melihat sinar matahari yang memancar miring. Seorang petugas kebersihan berjalan mendekat. “Pagi Bu,” sapanya begitu kami berpapasan.

Aku tersenyum melihatnya. “Pagi, Pak Darmin. Wah, udah keringetan nih, Pak,” balasku.

“Ahaha, iya nih Bu. Abis ngebersihin lantai 2.”

Aku hanya mengangguk padanya kemudian mulai melangkah. Agak jauh baru aku berseru, “Saya duluan, Pak Darmin!”

“O iya Bu!” serunya balik.

Kuraih kunci motor dari saku jeansku. Kendaraan yang belakangan sudah menjadi pacarku itu terparkir manis di halaman samping sejak matahari belum terbit tadi. Sekarang, kami berdua sudah siap berkencan lagi menuju tempatku. Oh, aku kangen menyelam.

Di depan rumah yang kukontrak, aku memarkir motorku asal.

Terburu-buru aku mengecek lagi kondisi rumah yang sudah kurapikan sejak semalam, memastikan semua jendela sudah tertutup rapat, kompor tak menyala, air sudah dimatikan, dan tak ada sambungan apapun ke terminal listrik. Terakhir kumasukkan motorku ke ruang tamu, mengunci ban depannya, dan aku siap. Saatnya memanggil Pak Rodingun, tukang ojek tetangga untuk mengantarkan aku ke dermaga.

Angin laut menghembuskan poniku. Untung aku sudah mengikat rambut, sehingga yang mengganggu wajahku hanyalah poni yang tidak terlalu panjang. Kupandangi penginapan yang akan menjadi tempatku menginap selama dua malam ini.

Seseorang berwajah familiar memanggilku, “Mbak Bee, mau langsung nyelam sekarang atau besok, Mbak?”

Aku tersenyum pada pemuda yang selalu menjadi *buddy langgananku jika aku kemari. “Sekarang dong, Pul. Aku udah kangen banget nih~”.

Ipul tertawa mendengar kata-kataku. “Ya udah, saya siapin dulu ya Mbak, alat-alatnya. Mbak beberes aja dulu. Entar kita ketemu di dermaga jam 3?” tanyanya.

Aku mengiyakan. Untunglah hari ini cerah. Aku jadi bisa menyelam sore hari. Melihat pengaturan waktunya sih sepertinya aku akan bisa menyaksikan matahari tenggelam tepat dari permukaan air.

Kurapikan barang-barangku di dalam kamar yang kusewa, lalu aku segera keluar untuk mencari makan siang. Di bawah jajaran pohon ketapang aku melangkahkan kaki menuju sebuah warung. Sejak dikontrak sebagai dosen honorer oleh sebuah universitas negeri di Semarang beberapa bulan yang lalu, aku sudah sering ke sini. Entah itu untuk membawa mahasiswaku praktikum, maupun untuk menyelam sendiri. Fasilitas di tempat ini sudah familiar untukku, bahkan aku kenal dengan sebagian besar orang-orangnya. Sehingga aku tak perlu lagi bingung kalau mau datang. Tinggal telepon atau sms, orang-orang ini akan langsung siap.

Kumasuki warung makan milik Mbak Parti, yang biasa menyediakan keperluan konsumsi anak-anak kalau kami praktikum. Dia menyambutku dengan sumeh—menurut deskripsi yang dijelaskan padaku, itu artinya sikap tertawa lebar dan tampak senang sekali bertemu—dan menanyakan kabarku dengan berlebihan. Tanpa bertanya tak perlu meminta, dia membuatkanku es teh sambil menanyakan kabar-kabar dosen yang lain.

Terbawa oleh pembawaannya yang riang, aku menjawab semua pertanyaannya dengan senyumn lebar terkembang. Tak perlu waktu lama bagi kami untuk terjun dalam percakapan seru. Tentang kampus, mahasiswa, laut, musim, suaminya, pacarku…

“Aku ga punya, Mbak,” jawabku sambil menyeruput es teh yang kini tinggal separuh gelas.

Walah, wong ayu-ayu kok ra nduwe pacar tho? Apa Mbak Parti cariin? Di sini banyak yang nggantheng-nggantheng lhooo…” lalu dia meralat, “Eh, tapi itu kalo Mbak Bee-nya mau ya? Wong di sini cowok-cowoke kabeh yo mambu iwak. Mbak Bee siang auayu ngene opo gelem karo karo wong gutheng tukang golek iwak? Opo ra nono dosen ngganggur, po Mbak, nang kampus?

Aku sedikit tersendat mencerna kata-kata Mbak Parti. Aku memang sudah cukup lama tinggal di Semarang, tapi Bahasa Jawaku belum selancar itu untuk memahami ucapan Mbak Parti yang secepat motor peserta GP 500 cc yang sedang dipacu. Aku hanya menangkap cepat kalimat terakhirnya. Membuatku tertawa, “Ah Mbak Parti ini. Mana ada dosen nganggur. Ya semua pasti kerja to Mbak!” sanggahku setengah bercanda setengah mengelak dengan potongan Bahasa Jawa yang *wagu.

E lhadalah! Maksudnya itu yang belum punya istri gitu lho, Mbak. Ini cabenya mau diulek apa di*sigit?”

Aku tahu maksudmu, Mbak Parti. Tapi apa kau paham maksudku yang tak ingin membicarakan hal itu? Dalam hati aku bertanya pada wanita beranak tiga itu. “Tak sigit aja, Mbak,” jawabku sambil memperhatikan dia yang asyik mengulek bumbu kacang untuk sambal tempe yang kupesan.

Wanita itu mengurungkan niatnya memasukkan cabe rawit kemudian melihat mulutnya mulai terbuka lagi, aku buru-buru bertanya, “Tapi sopnya ada kan, Mbak?”

Mbak Parti terkikik. “Ada, ada. Tenang aja. Begitu tahu Mbak Bee mau dateng, saya langsung potong ayam, nyiapin sop ceker kesukaannya Mbak Bee.”

Aku jadi ikut tertawa setengah malu. “Makasih ya Mbak. Nanti aku pesen es jeruk ya? Pengin yang seger-seger nih, Mbak. Es tehnya udah abis,” ujarku sambil menggoyangkan gelasku. Sendok di dalam gelas kosong menimbulkan dentingan yang meningkahi deru angin di luar bangunan sederhana tersebut.

Aku melihat keluar jendela dan terkesima melihat keindahan alam di sekitar pulau. Pulau ini mungkin tidak terlalu istimewa, tapi tetap saja kesempurnaan alam tak pernah gagal mempesonaku. Langit biru luas dan bersih sekali. Udara bergerak. Angin semilir dan gelombang panas bergantian menerpa wajahku. Warung Mbak Parti yang setengahnya berdinding anyaman bambu menambah asyik suasana. “Mbak, aku makan di luar aja ya?” kataku pada Mbak Parti.

Tanpa menunggu jawabannya aku berdiri dan melangkahkan kaki menuju ke samping warung yang langsung menghadap pantai berpasir putih menyilaukan. Kupasang kacamata hitamku dan kuhempaskan diri di bentangan tikar pandan di bawah pohon. Di sana bukan bagian dari warung. Mbak Parti biasa menisik jala untuk suaminya atau melakukan pekerjaan sambilannya menggosok pandan untuk dianyam. Karena aku sudah dikenal, jadi dia tidak keberatan aku duduk di sana.

Tak lama kemudian Mbak Parti datang membawakan nampan berisi nasi putih, sambal tempe, sup ceker ayam, dan segelas es jeruk untukku. “Makasih, Mbak,” cengirku padanya.

Dia membalas dengan tawa ramah dan kembali ke warungnya. Kunikmati makanan wajibku di pulau ini. Sungguh nikmat. Aku ditemani angin, sinar matahari, deburan ombak, serta aroma laut. Sepotong memori masuk dalam benakku.

Ansan. Aku juga pernah makan sendirian sambil memandang laut begini. Sewaktu aku tersesat. Rasanya damai meski sebenarnya aku sedang dalam masalah. Tapi menyadari bahwa aku ada di daratan yang sama dengan Jungsoo, tak ada yang kukhawatirkan ketika itu.

Nasiku tiba-tiba berhenti di tengah tenggorokan. Kuraih gelas es jerukku dan meneguknya. Rasa tercekat itu tidak mau pergi. Kuletakkan piringku di tikar, dan aku mengambil nafas beberapa kali. Kupandangi makananku, dan kuambil sepotong cabe rawit dari piring kecil. Awalnya aku ragu, tapi kemudian kugigit cabe itu langsung semuanya.

Rasa panas luar biasa menyerang lidahku seketika. Hampir menyakitkan. Aku segera mengambil sesendok nasi putih yang belum terkena sambal dan mengunyahnya untuk menetralisir rasa pedas yang menjalari mulutku. Lumayan, sedikit berkurang, tapi air mata tetap mengalir dari sudut mataku. Sentakan rasa pedas tadilah penyebabnya. Mungkin.

Tenggorokanku tak tercekat lagi. Air mataku sudah keluar. Terima kasih cabe rawit.

Kuacungkan jempolku ke atas, dan Ipul merespon dengan gerakan yang sama. Di bawah sini gelap sudah mulai merayap meski aku yakin saat kami sampai di permukaan nanti sinar matahari masih berkilauan di permukaan air.

Beberapa menit kemudian kurasakan kepalan tanganku bersentuhan dengan udara kering, dan kepalaku pun muncul dari bawah muka air. Setelah leherku berada sepenuhnya di atas air, kubuka maskerku dan kuhirup udara dengan bebas tanpa bantuan regulator. Kuputar kepalaku untuk memastikan dimana letak perahu dan mencari Ipul. Ternyata anak itu baru muncul.

Begitu dia membuka maskernya, aku berkata padanya, “Langsung naik, Pul?”

Dia nyengir. “Entar deh, Mbak. Mau nikmatin sunsetnya dulu.”

Kami berdua berenang mendekati perahu kemudian melepas pemberat, BCD dan tabung scuba. Pak Jagur, nelayan yang perahunya kusewa untuk membawa kami ke titik penyelaman membantu kami mengangkat serta menyimpankan alat-alat itu di atas perahu.

Selanjutnya aku dan Ipul sibuk memotret setiap perubahan yang tampak ketika matahari menggelincir turun dengan kamera underwater kami masing-masing. Bukan hanya matahari tenggelam yang menjadi objekku. Aku berusaha menangkap siluet Pak Jagur, mengambil gambar Ipul, sampai selca pun aku lakukan. Mungkin kemampuan memotretku bukan kategori ‘baik’, tapi saat ini aku senang bisa mengabadikan semua yang kuanggap indah.

Hidungku tepat berada di atas air. Kutarik nafas dan sedikit menununduk hingga kini mataku saja yang berada di atas air. Dari sudut itu kuamati langit dalam diam. Tanganku sudah berhenti memotret. Ipul berada di belakangku. Hanya matahari dan setitik cahaya kemerahan yang tampak di kaki cakrawala yang terbentang di hadapku kini.

Indah sekali. Keheningan yang ada, suara air, dingin, udara yang ringan, semua jadi satu. Memang indah.

Jungsoo, kau melihatnya?” bisikku di bawah air.

Dan tenggorokanku tercekat lagi. Sial, padahal aku tidak sedang makan.

Aku menenggelamkan diri kemudian cepat-cepat keluar lagi dari air. Beberapa gambar kuambil lagi kemudian berkata pada Ipul, “Aku naik, Pul.”

Ipul hanya mengiyakan, tapi tidak ikut naik. Rupanya dia masih ingin memotret. Kubiarkan saja.

Di atas perahu kuraih tasku dan mengambil handuk kecil untuk mengeringkan air yang menetes-netes dari ujung rambut. Pak Jagur diam saja, hanya mengamatiku dan Ipul berganti-ganti. Orang itu memang pendiam.

Setelahnya, sambil menunggu Ipul naik, aku duduk di tepi perahu. Langit sudah gelap. Warna merah yang tersisa hanya semburat. Perlahan aku merasakan angin mulai mengeringkan tubuhku. Terdengar suara Ipul dari belakangku, “Ayo Pak, kita pulang sekarang.”

Lima menit kemudian kami sudah meluncur menuju pulau. Hembusan angin saat perahu melaju mengingatkanku akan Jejudo. Dan Jungsoo.

Stasiun Gambir sangat ramai. Turun dari kereta yang membawaku dari Semarang, aku bergegas menuruni peron menuju lantai dasar. Sengaja aku tidak memilih pesawat karena aku baru saja menghabiskan dua hariku menyelam. Dan tidak lama lagi juga aku akan harus naik pesawat.

Di depan pintu masuk peron, kulihat sosok lelaki yang memancing senyumku lebar-lebar. “Papah!” seruku merangsek dalam pelukannya.

Papaku membalas pelukku dengan sama eratnya. Tiba-tiba dari belakang aku merasakan seseorang memeluk kami dengan brutal. “Waaaa! Reuni!” seru suara itu keras dan memalukan.

“Aaaa!” jeritku kesakitan karena terdesak di antara dua tubuh lelaki.

Lelaki yang memeluk belakangan melepaskan kami dan aku langsung berbalik menjitaknya. “Auch!” protesnya.

“Gue hampir mati, tau!” aku mendelik padanya.

Dia menoyor kepalaku, “Lebay deh lo! Mana sini tas lo! Udah untung gue mau ngejemput!”

“Itu mah kewajiban! Ga usah sok deh!” kataku pura-pura merendahkannya sambil menyerahkan tas.

Dia menudingkan telunjuknya ke mukaku, “Eh, lo pulang sendiri ya!”

Aku hendak menantangnya, tapi papaku keburu menengahi, “Udaah! Malu ah! Malvin! Lagian kamu ini adik baru dateng kok disiksa.”

Aku langsung menggelendot manja pada papaku dan mencibir pada Malvin kakakku. Dia membalas dengan pura-pura hendak menjitakku. Dasar. Sudah tua tapi kelakuannya masih kayak ABG!

Tak lama kemudian kami sudah berada dalam mobil, meluncur menuju rumah kami di bilangan Menteng. Aku bertanya pada papaku kenapa mama tidak ikut, dan kata papaku itu karena mama sedang menyiapkan makanan kesukaanku. Aku memutar mata. Sejak kapan mama memasak masakan Indonesia?

Sampai di rumah mama menyambut kami dengan heboh. Gayanya keibuan sekali dengan apron melekat di tubuhnya. “Let me see you!” seru mama melonggarkan pelukannya dariku. “What happened to you?! Baking yourself?! I’ve told you stop—“

“Mamah, I miss you!” aku menyela ceramahnya tentang kulit hitamku dengan pelukan erat. Mama memang suka berjemur, tapi dia selalu menjadi ‘terlalu’ prihatin melihat kulitku yang cenderung sangat cokelat.

“Mamah masak apa?” tanyaku pada wanita yang tampak tidak rela kehilangan kesempatan menasihatiku tentang kecantikan.

“Ah, Mamah masak gurami asam pedas kesukaanmu!”

Aku tertawa. “Mamah apa Bik Cece yang masak?” aku melihat Bik Cece, pembantu yang bekerja pada kami sejak aku SMA sedang mondar-mandir antara dapur dan ruang makan tempat kami berkumpul.

Mamaku tampak terluka. “Yah, tapi kan Mamah yang kasih itu perintah ke dia,” katanya membela diri.

Aku tertawa saja. Aku kangen mama. Kupeluk lagi wanita itu, menghirup aroma tubuhnya yang selalu wangi lotion. Dia membalas pelukanku dengan sayang dan berkata, “Pokoknya Mamah tahu kamu pasti suka.”

Aku mengangguk, sengaja tidak mengatakan bahwa gurami asam pedas itu sebenarnya kesukaan Malvin, bukan kesukaanku. Toh aku tahu Bik Cece pasti sudah menyiapkan sup gurami spesialnya untukku. Itu baru kesukaanku.

Mama mengawalku menuju kamar setelah aku menyapa Bik Cece. Di sana dia menunjukkan sebuah koper yang tampak sudah rapi. “Mamah udah siapin everything you need. Well, almost all of them, not really everything. Tapi pokoknya kamu nanti tinggal masukin apa yang kurang. Di sana udah ada baju, alat mandi plus make-up, sama tetek bengek lain kayak sepatu…”

Mama terus mengatakan padaku apa yang sudah disiapkannya untuk kepergian kami besok. Aku mendengarkan sambil memperhatikan kamarku. Sudah berapa bulankah sejak terakhir aku memasuki tempat ini? Rasanya cukup lama. Natal, itu terakhir kalinya aku pulang. Benar, hari natal. Bahkan tahun baru aku sudah tak di sini. Kamar ini tidak berubah, kuperhatikan. Semua masih di tempatnya.

Lalu mama keluar kamar, membiarkanku mengatur waktu untukku sendiri. Saat pintu kamar menutup di hadapan punggungku, aku bergerak menuju kamar mandi. Menjadi bersih dan wangi adalah hal yang tubuhku rindukan.

Besok malam kami akan terbang ke Slovenia, menemui *Babica. Hanya aku, mama, dan Malvin. Papa tidak bisa ikut karena kantornya tidak bisa ditinggal. Yah, yang jelas aku harus ikut, karena Baba—panggilanku untuk Babica—sudah meneleponku langsung mengharapkan aku datang di hari ulang tahunnya. Kami toh tidak akan lama di sana, jadi aku bisa meminta izin 10 hari tidak ke kampus. Lagipula aku tidak kebagian kelas. Tanggung jawab utamaku masih di bagian praktikum dan saat ini sudah bukan masa praktikum.

Selesai mandi kubuka lemari, mencari baju santai untuk siang ini. Kutelusuri rak kausku. Mereka kaus-kaus lama yang selalu kusukai. Nyaman karena sudah usang. Kalau hanya untuk berkumpul bersama yang lain seperti hari ini, aku tak pernah melirik bagian lemariku yang lain. Tanganku menelusuri satu per satu tumpukan kaus itu. Berhenti di sebuah kaus berwarna putih yang membuat debar dadaku bagai berhenti sesaat.

“Woy! Cepetan! Ditungguin Mamah tuh buat makan siang!” tiba-tiba suara Malvin keras memenuhi kamarku.

Aku menoleh padanya cepat. Kupererat pegangan di handuk yang sedang melilit tubuhku. “Brengsek lo! Ga ngerti artinya ketok pintu ya?!”

Malvin nyengir, “Sori deh. Cepetan! Gue laper nih!”

“Iya, iya! Buruan keluar, gue mau pake baju!” kataku pada pintu yang sedang melayang menutup. Saat sudah sepenuhnya menutup kudengar suara Malvin berseru menyuruhku cepat sekali lagi.

Kusambar asal satu kaus teratas dan mengenakan celana pendek. Dalam sekejap aku sudah sedang menuruni tangga menuju ruang makan.

Kami berempat makan dengan riang. Papa sangat merindukanku. Dia terus-terusan menyuruhku bercerita tentang apa saja, meskipun cerita itu sudah berkali-kali kuulang. Malvin sampai menggerutu dan memohon agar jangan lagi menceritakan cerita yang sama. Tapi papa tidak peduli, dia malah memelototi Malvin. Sementara mama sesekali menimpali sambil tertawa. Siang itu suasana sangat hangat dan menyenangkan.

Sesudah makan siang papa berangkat ke kantor. Aku dan Malvin duduk santai di depan televisi, berbagi cerita, menikmati es teh lemon buatan Bik Cece, dan membiarkan televisi menonton kami. Mama sibuk di dapur membereskan—lebih tepatnya mengomando Bik Cece membereskan—alat-alat dapur yang tadi digunakannya memasak.

Rasa kenyang, santai, dan keceriaan karena berkumpul lagi bersama keluarga melenakanku dalam kenyamanan. Tak lama kemudian kantuk dan lelah mendatangi sehingga aku terpaksa meninggalkan Malvin dan menuju ke kamar.

Di kamar, saat tubuhku hampir menerjang kasur, aku teringat kaus yang tadi membuatku tercekat. Kubuka lemari dan mengeluarkan kaus itu dari dalamnya. Kubawa ke tempat tidur.

Sambil berbaring miring, kugelar kaus itu di atas kasur. Sepotong kaus putih sederhana berkerah bulat, dengan tulisan Armani Jeans 1981. Kaus yang kebesaran untukku, tapi pas di tubuh Jungsoo.

Malam itu, malam terakhir kami bersama, aku tak bisa menemukan atasan yang awalnya kupakai karena dibuang sembarangan oleh Jungsoo ketika kami sama-sama tak sabar menyentuh kulit satu sama lain. Karena tak ada waktu lagi, Jungsoo cepat-cepat meraih kausnya dari lemari dan menyuruhku mengenakannya. Aku pun mengenakannya tanpa protes.

Ingatanku akan malam itu kembali melayang jelas. Dia memelukku erat sekali di depan pintu kamarnya. Kami berdua bersikap konyol. Aku tahu. Sama-sama tak ingin melepas, tapi juga tak berusaha lebih keras untuk bersama. Aku terlalu keras kepala untuk membiarkan diriku mengalah menunggunya, dia terlalu lemah dijajah oleh ketidakpastian.

Bohong kalau kukatakan bahwa aku tak menyesal memutuskan untuk tidak kembali ke Korea. Setelah sampai di Indonesia, kesempatan untuk kembali ke sana memang tak pernah datang padaku, tapi aku juga tak berusaha mencarinya. Saat itu hatiku terlalu kaku, otakku terlalu logis. Apa yang bisa kudapatkan di sana? Masa depan seperti apa yang menungguku di sana selain hubungan diam-diam dengan sosok sorotan publik? Bukankah mungkin saja semua hanya sementara? Bagaimana kalau setelah aku memutuskan bersamanya, semua tidak berjalan baik dan aku mengalami kepahitan yang lebih dari ini?

Kubelai kaus di sampingku seolah tubuh Jungsoo sedang memenuhi rongga di dalamnya. Aku sangat merindukannya. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegah pandanganku mengabur karena air mata.

Tapi aku tak mau menangis. Itu tindakan sia-sia. Aku di Indonesia, dengan pekerjaanku, dengan kehidupanku, mahasiswaku, lab-ku, mama, papa, Malvin. Sementara dia di entah-dimana, dengan kehidupannya sendiri. Mungkin sedang berjaga di pos saat ini, aku ingat bahwa sudah entah berapa bulan sejak dia memenuhi panggilan wajib militer.

Mataku terpejam. Menghalau air mata yang hampir bergulir. Bahkan saat jauh dari Klaas aku tak memikirkannya sampai begini lama. Perpisahan tidak pernah menjadi hal yang mudah, namun perpisahan dengan Jungsoo seolah merenggut separuh hidupku. Sampai berbulan-bulan kemudian aku belum berhasil merebutnya kembali.

Pesawat kami mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Aku dan Malvin tertawa-tawa riang karena bisa pulang, tapi mama tampak sedikit gloomy. Yah, walaupun ketika di rumah Baba mama selalu kesal karena nenekku itu terus megungkit-ungkit fakta bahwa mama sudah ‘diculik’ oleh pengusaha asal Purwakarta, dan tidak pernah mengunjungi ibunya itu di Ljubjlana, tapi saat kembali ke Indonesia, mama tak urung sedih juga. Maklum, Baba sudah 87 tahun. Tentu saja mama khawatir tak ada yang menjaganya.

Di bagian imigrasi aku memeluk mama dari belakang, “Mah, tanang aja. Kan ada Anja dan Basa *Teta…” kataku menenangkannya dengan menyebutkan kedua tanteku. Ketika kulihat mama hanya tersenyum lemah, aku membujuknya lagi, “You really have to stop worrying, you know. Or we will start aging, worrying about you being this way.”

Mendengar itu akhirnya mama tersenyum. Suasana hatinya sedikit terangkat dan meskipun antrian di imigrasi selalu menyebalkan saking panjangnya, mama tampak sedikit terhibur dan terus-terusan berusaha melakukan kontak fisik denganku dan Malvin. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Pasti dia berpikir bahwa meskipun dia harus meninggalkan ibunya, dia memiliki kami sebagai gantinya. Itulah yang biasa dia katakan pada kami.

Di luar papa menjemput kami dengan senyum lebar. Ah, betapa aku beruntung dilahirkan di keluarga ini. Perbedaan yang disatukan oleh cinta membuat keluarga kami utuh. Aku ingin keluargaku sendiri esok tak sedikit pun kurang dari ini.

Bayangan Jungsoo tiba-tiba melintas di benakku. Dan hatiku memberat.

Aku dan Malvin memutuskan langsung pulang dan tidak menunggu sampai Festifal Java Jazz ini berakhir. Kami bertiga memang khusus datang untuk menyaksikan Clazziquai Project yang kali ini berpartisipasi dalam ajang musik Jazz populer itu.

Meski aku dan Malvin sering berdebat, tapi soal musik, tak ada pasangan manapun yang mengalahkan kekompakan kami. Clazziquai Project adalah favorit kami. Aku tergila-gila pada Alex, sementara Malvin memuja Horan. Kami berdua terpesona pada musik mereka.

Malvin sudah lama menyiapkan tiket ini untukku sebagai hadiah ulang tahunku yang jatuh pada pertengahan Maret. Papa dan mama tak pernah lupa menyiapkan acara untukku, tapi Malvin selalu menyiapkan sesuatu yang berbeda. Tahun ini adalah Clazziquai Project.

Aku sangat terkejut ketika setelah menjauh dari panggung, Malvin tiba-tiba menarikku ke arah belakang panggung. Dia bilang, kejutan ulang tahun untukku ada di sana.

Di belakang panggung, aku melihat seorang teman lama Malvin yang aku sudah lupa namanya sedang menanti kami. Dia berkata bahwa kami harus buru-buru, karena ‘mereka’ sepertinya tidak berniat lama-lama di belakang panggung. Entah siapa pun yang dimaksudkannya dengan ‘mereka’.

Aku baru tahu beberapa menit kemudian ketika teman Malvin itu mengantar kami ke suatu kelompok yang sedang mengemasi peralatan panggung mereka. Ya Tuhaaan, itu Clazziquai Project!

Teman Malvin ternyata salah satu kru dan dia menjelaskan pada musisi pujaan kami itu bahwa kami adalah fans mereka. Ahahaha, lucu sekali caranya menjelaskan. Sebenarnya ini bisa dibilang tidak sopan karena dia sama sekali tidak memberi tahu mereka sebelumnya bahwa kami akan mendatangi mereka di balik panggung.

Malvin memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris sama seperti temannya, sekaligus membual bahwa aku pernah sekolah di Korea. Matanya berulangkali memandangi Horan. Yah, harus kuakui, Horan memang cantik sekali malam itu.

Alex, Horan dan DJ Clazzi melebarkan mata mendengar penjelasan Malvin tentangku. Mereka memandangku dengan tertarik. Mau tidak mau aku membungkuk dan menyapa mereka, “Annyeonghasimnikka, Bee-imnida,” ujarku. Mereka langsung membalas sapaanku sambil tertawa-tawa dan mulai bertanya-tanya padaku dalam bahasa Korea, menyebabkan Malvin langsung memandangku bete.

Selanjutnya percakapan terjadi dalam dua bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Korea. Saat itu perasaanku berkecamuk. Rasanya sudah lama sekali sejak aku bercakap-cakap menggunakan bahasa Korea. Rasa rindu pada negara itu  melandaku. Tanpa bisa dicegah, semua kenanganku saat di sana datang kembali. Termasuk kenanganku bersama Jungsoo. Kenangan yang tanpa sadar membuat mataku berkaca-kaca.

Tidak lama kemudian kami berfoto bersama. Mereka memberiku dan Malvin tanda tangan. Rupanya Malvin sudah sengaja membawa album koleksi kami untuk ditandatangani. Dasar. Dia menggunakan ulang tahunku sebagai alasan. Tapi aku senang juga sih. Hehehe.

Mereka bertiga tampak terkejut mendengar bahwa Malvin menjadikan mereka sebagai kejutan bagi ulang tahunku dan secara spontan mereka memberiku ucapan selamat secara acapella oleh Alex dan Horan. Aku tak bisa mengelak, rasanya menyenangkan. Mereka lalu mempertanyakan harapanku untuk ulang tahun kali ini. Sejenak aku terdiam berpikir.

Aku tak ingin apapun. Karena tak ada apapun yang bisa menghalau galau di hatiku karena Jungsoo. Maka aku pun menatap mereka dan entah dapat logika darimana—kurasa otakku tidak bekerja dengan benar saat itu—aku berucap, “Kalau kalian kebetulan bertemu Park Jungsoo ssi, bisakah kalian sampaikan salamku untuknya? Tolong katakan Yeppo merindukannya?”

Awalnya mereka terdiam. Dan kupikir mereka tidak paham siapa yang kumaksud, jadi aku hanya tersenyum sambil berkata, “TIdak usah dipikirkan, itu hanya—“

“Leeteuk ssi anira?” tiba-tiba DJ Clazzi  menyeletuk ke arah dua anggota yang lain. “Super Junior Leeteuk, kan?” tanyanya lagi padaku.

Aku tersenyum padanya sambil mengangguk.

“Waa! Kau mengenalnya? Tapi bukankah dia sedang wajib militer sekarang ini?” Alex bertanya padaku.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Aku tidak tahu apakah itu ide yang bagus membiarkan mereka tahu aku mengenalnya.

“Kau fans-nya?” tanya Alex lagi.

“Ah, tidak. Aku lebih ngefans sama kalian,” jawabku pasti, mengundang tawa ketiganya. Dalam hati aku menambahkan dengan pahit, aku hanya mencintainya.

“Ah, sebentar. Coba hadap sini,” Alex menyuruhku melihat padanya. Tiba-tiba saja dia sudah mengambil gambarku dengan ponselnya. Dia berkata, “Kalau bertemu dengannya, akan aku tunjukkan gambarmu lalu bilang: Ini fans-ku yang menitipkan salam untukmu. Begitu?”

Mau tidak mau aku tertawa mendengar kata-katanya. Dia sungguh baik. “Kamsahamnida,” ujarku.

Tak tahu dari mana datangnya, rasa haru menyeruak dalam hatiku. Rasanya ada satu saluran kecil yang membuat perasaanku mengalir dan hatiku jadi lebih ringan. Seperti ada satu harapan kecil bahwa melalui mereka aku bisa membuat Jungsoo merasakan kehadiranku. Kukerjapkan mata, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba muncul. “Namaku Beauty, karena itu tolong sampaikan padanya bahwa Yeppo merindukannya,” kataku setengah serak. Tanganku meraih Malvin mencari pegangan.

Saat mereka bertiga akhirnya pergi, Malvin bertanya padaku, “Lo kenapa? Segitu senengnya ketemu mereka? Mereka ngomong apa sih sampe lo terharu begini?”

Aku menggeleng. “Ga papa. Gue seneng aja ketemu mereka.”

Malvin mempererat rangkulannya di bahuku. “Hebat kan gue? Gue emang pemberi hadiah terbaik. Jadi lo harus nurut ama gue!”

Aku hampir tersedak tawaku sendiri. Kubalas pelukannya. “Iya, lo kakak paling baik sedunia. Untung kakak gue itu elo. Jadi gue bisa ketemu mereka. Makasih, Malvin sayang…”

Malvin terkekeh ke-ge-er-an. Tapi lo boleh ge-er sepuasnya kok, kakakku sayang. Lo ga tau seberapa berharganya kejutan ulang tahun ini buat gue. Lo ga akan pernah bisa nyangka. Gue janji, hanya lo orang yang akan gue panggil sebagai The Bestest Kakak in the world.

KKEUT.

Footnotes

Buddy: partner menyelam.

Walah, wong ayu-ayu kok ra nduwe pacar tho:
Cantik-cantik kok ga punya pacar?

cowok-cowoke kabeh yo mambu iwak:
…semua cowoknya bau ikan

Mbak Bee siang auayu ngene opo gelem karo karo wong gutheng tukang golek iwak:
Mbak Bee yang cantik ini emangnya mau sama orang hitam pencari ikan?

Opo ra nono dosen ngganggur, po Mbak, nang kampus:
apa ga ada dosen yang nganggur, di kampus, Mbak?

Wagu: aneh, ga pas.

Sigit: gigit

Tak sigit: kugigit

Babica: nenek.

Teta: tante


Iklan