Tag

-B’s Note- : Ini lagi2 FF yang gw kirimin buat lomba di FFL dan ga menang. Hehehe. Seperti kebiasaan, yang ga menang, gw publish di mari. Kebetulan ini tanggal 3, and gw seneng banget ama angka 3 #ganyambung. Yuk ah… Oh ya, bisa kasih masukan & kritikan tentang FF ini kenapa ga dilirik untuk menang? Ceritanya buat introspeksi, gitu… Mokasih bianget dah~ Love all Readersayang *chu*

 

Title       :    Somsatang
Author
  :    Beenim
Length
  :    Oneshot
Genre
    :    Romance
Cast
       :    Kang Daesung, Gadis Gila (aku/NN)
OST      :    Somsatang by Daesung Big Bang

 

***

 

“Tadi Kakak habis naik apa?” tanya ibuku pada salah satu dari kedua keponakan kembarku.

“Taik keyeta.”

“Sama sapa, naik keretanya?”

“Tama tante.. tama adek.. tama eyang..”

“Adek naik keretanya dari mana?” tanyaku kini kepada sang adik.

“Dayi ketakiun! Taik keyeta gede-gede!” jawabnya sambil loncat-loncat.

“Oh, dari stasiun ya? Keretanya gede? Bukan, bukan gede, tapi paaaaanjang!” aku membenarkan penggunaan kalimatnya sambil menahan geli.

Tiba-tiba dari sebelahku, supir kami bicara pada duo kembar, “Tuh, Dek, Kak, keretanya lewat tuh di atas! Tuh!” ujarnya sambil menunjuk KRL yang sedang melintas.

Kami semua di dalam mobil refleks melihat ke arah kereta yang sedang melaju kencang di rel yang terpasang di atas jalanan sekitar Stasiun Gambir. Kedua keponakanku berseru-seru senang melihat benda favoritnya melaju cepat dan gagah. Memanggil-manggil kami yang orang dewasa agar melihat apa yang mereka lihat, padahal kami juga sedang melihatnya. Kami semua tertawa melihat tingkah kedua bintang dalam keluarga kami yang baru berusia tiga tahun itu.

Lalu mendadak suara tawa itu tertutupi oleh suara benturan yang sangat keras. Terdengarlah bunyi klakson yang memekakkan. Aku tidak menyadari apa yang terjadi tetapi kepalaku berat sekali. Tubuhku tak bisa digerakkan. Aku memaksakan diri menoleh ke belakang. Di sana aku melihat semua orang terkapar, moncong busway tampak menyeruak di bagian belakang mobil yang sudah menganga. Suara tawa kembar dan ibuku tak lagi terdengar, begitu juga supirku yang setelah kulirik sudah terpuruk ke jendela samping yang sudah hampir semuanya tertutup darah. Hal terakhir yang kulihat adalah warna darah dimana-mana dan atap mobil yang terlipat-lipat.

 

***

 

Akhir musim panas. Di taman rumah sakit.

Aku melihatnya datang. Pria aneh yang datang dengan tubuh terselubung. Aku seperti mengenalnya, tapi aku tidak yakin. Ah, biarlah. Akan kunikmati saja dulu sinar matahari yang masih bersinar hari ini. Melihat gelagat musim tahun ini sih mungkin dua minggu lagi kemewahan seperti ini sudah tak akan lagi bisa kunikmati.

Kudengar suara kaleng berkelontangan di tempat sampah. Saat aku menoleh, aku melihat pria aneh itu sedang berpose seperti orang habis melempar bola basket.

Di tempat ini tidak ada orang lain. Hanya ada kami berdua. Jadi sewaktu dia tersenyum dan tubuhnya memancarkan sikap malu, aku yakin dia menujukannya padaku meskipun matanya tertutup kacamata dan sebagian besar wajahnya tertutupi syal. Yang jujur saja membuatku terkejut. Aku sudah berada di sini selama yang bisa kuingat, dan tak ada seorang pun yang mau menegurku—walaupun aku juga malas sih menegur orang lain duluan.

Dengan senang kubalas senyumnya. “Hampir meleset,” kataku ringan.

“Ehehehehe,” dia tertawa. Dan hanya itu.

Dia tidak tampak ingin berbicara lebih jauh, jadi aku memalingkan wajahku darinya dan menengadah menghadap langit. Kupejamkan mataku menikmati hangatnya sinar matahari. Tak menyadari kepergian pria itu.

Siangnya, aku melihatnya lagi. Dia sedang berdiri di loket administrasi. Dia tidak lagi menutupi wajahnya rapat-rapat sehingga sekarang aku yakin bahwa aku memang mengenalnya. Tapi aku lupa siapa dia. Haruskah aku mendekatinya? Bertanya padanya?

Kulongokkan kepalaku ke dalam kamar. Tidak ada siapapun. Cewek itu yang selama ini kutunggui masih tertidur dengan tenang. Mungkin aku bisa meninggalkan kamar ini dan mendekati si pria tadi. Aku ingin tahu apa yang dilakukannya.

Saat semenit kemudian aku menyandarkan kepala ke tiang loket administrasi, dia tidak menoleh. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. Maka aku diam saja. Baru saat dia memasukkan kartu kreditnya kembali ke dalam dompet, ketika matanya melihatku. Dia tersenyum. Matanya hilang.

Aku terkekeh melihatnya.

Dia hanya tersenyum melihatku tertawa. Saat dia berbalik dan aku mengikutinya berjalan menuju pintu keluar, dia bertanya. “Kenapa tertawa?”

Aku masih cekikikan. “Matamu menghilang,” ujarku sambil menelengkan kepala ke arahnya.

“Ahahaha, itu kedengarannya seperti menghina,” tawanya lagi membentuk matanya menjadi bulan sabit.

Aku menggeleng. “Ani,” kataku. “Kau lucu saat tertawa. Wajahmu bersinar.”

Dia melambatkan langkahnya. Tawanya berubah menjadi senyuman lebar. “Terima kasih,” katanya tulus.

“Ne, cheonmaneyo,” anggukku.

Tepat di belakang garis pintu keluar aku berhenti. Dia juga berhenti untuk mengenakan syalnya lagi rapat-rapat. “Jogiyo, apa aku mengenalmu?” tanyaku.

Gerakannya mengenakan kacamata terhenti, matanya kini menatapku tajam. “Entahlah. Menurutmu?”

Tanganku masih terkait di belakang tubuh. Aku menggeleng. “Entahlah. Aku tidak ingat.” Bisa kurasakan keningku berkerut ketika aku berusaha mengingat siapa dirinya.

Lalu kudengar dia berkata, “Aku Daesung. Kang Daesung.” Matanya seolah menyuruhku mengingat sesuatu. Tapi aku benar-benar tidak ingat siapa dirinya.

Maka aku menggeleng. “Baiklah, Kang Daesung. Hati-hati di jalan,” kataku sambil melambaikan tangan. Dia tidak membalasku. Justru menatapku aneh. Kuberikan cengiranku padanya, lalu berbalik meninggalkannya yang tetap terpaku di depan pintu keluar.

 

***

 

Hari ini, cewek yang setiap hari kutunggui di RS itu masih tertidur. Seorang dokter dengan ciri fisik mirip seperti kami, orang Indonesia, mendatanginya dan memeriksa segala tanda vital tubuhnya. “Stabil,” ujarnya tampak puas. Lalu dokter itu mengelus kepala cewek invalid itu dan berkata lagi, “Cepatlah bangun, Sayang. Paman ingin segera bercerita-cerita lagi denganmu.”

Mendengarnya aku tersenyum. Kusentuh tangannya dan kukatakan, “Tenang saja, Paman. Dia baik-baik saja kok.”

Paman dokter itu menoleh ke arahku tapi tatapannya kosong, sepertinya dia tidak menyadari ada aku di sana. Dia kemudian berlalu tanpa berkata-kata. Saat paman dokter membuka pintu, aku melihat cowok itu melintas di depan kamar. Kang Daesung. Aku pun berlari mengejarnya.

Di Korea ini dia orang pribumi pertama yang mengajakku bicara, makanya aku senang melihatnya.

Aku berhasil menjajari langkahnya yang terburu-buru. Karena ingin menarik perhatiannya, aku berjalan mundur di sisinya agar selalu bisa menatap wajahnya. Ketika melihatku dia berhenti mendadak. “Hai, Kang Daesung!” sapaku padanya.

Dia menatapku tajam. Hari ini dia tampak berbeda. Rambutnya disisir a la orang culun. Kacamata pantat botol bertengger di hidungnya, lucunya, kacamata itu tanpa kaca. Bajunya rapat, kaos luarnya berhoodie yang disampirkan di atas kepala. “Kau!” katanya tanpa senyum.

Aku nyengir padanya.

Dia memalingkan wajahnya dan berjalan semakin cepat. “Aku tidak punya waktu. Tolong hargai privasiku.”

Aku juga berjalan mundur semakin cepat. “Hei, apa kau ke sini setiap minggu?” tanyaku mengabaikan kalimat Daesung sebelumnya. Hari yang sama minggu kemarin adalah saat kami pertama bertemu.

Dia tidak menjawab dan hanya menatapku tajam. “Tolonglah, bisakah kau tidak menggangguku hari ini?” tanyanya mendesak.

Tiba-tiba matanya membelalak, dia mengulurkan tangannya hendak meraihku, mulutnya berkata, “AWAS!”

Aku memiringkan tubuhku hingga tangan Daesung meleset dan membiarkan kereta makan itu lewat di belakangku. Tidak kena. Seperti yang sudah kuduga. Aku kan tahu kereta itu akan lewat.

Daesung terbelalak. Rupanya dia mengkhawatirkanku. “Save!” kataku sambil nyengir padanya. Petugas RS yang membawa kereta makan itu menoleh ke arah kami sambil melotot.

Daesung berhenti dari jalannya. “Bisakah kau berhenti mengikutiku?! Aku sedang sibuk! Dan jangan berjalan mundur seperti tadi! Kalau kau sampai benar-benar menabrak sesuatu bagaimana?!” bentaknya padaku tak mempedulikan si petugas.

Aku nyengir padanya sambil ikut menghentikan langkah. Kubungkukkan badan, “Terima kasih,” kataku sungguh-sungguh.

“Dan jangan bicara yang tidak masuk akal! Terima kasihmu itu tidak masuk akal! Untuk apa?!” dia masih berseru-seru padaku dengan emosi.

“Terima kasih karena memikirkan keselamatanku. Baiklah, selamat sibuk, Kang Daesung,” aku menegakkan tubuh lalu tersenyum lebar padanya. Sesaat kemudian aku sudah melangkah pergi meninggalkannya.

 

***

 

“Eomma tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Kata dokter aku hanya perlu berlatih kesabaran dan mengkonsumsi pilku.”

Aku mengamati Daesung yang sedang berkutat mencari koin untuk membeli minuman di vending machine. Ponselnya terselip di antara telinga dan bahu. Seperti sebelumnya, dahinya berkerut.

Karena posisinya yang susah, akhirnya dia malah mengacaukan semuanya. Dompetnya terbuka terlalu lebar dan uang-uang receh menggelinding ke segala arah. Saat dia sedang mengambil sekeping yang tergelinding di depan telapak kakiku, dia menengadahkan muka dan tersenyum meminta maaf. Tapi senyumnya langsung menghilang begitu melihatku. Cepat-cepat diambilnya uang logam itu lalu berlalu tanpa mempedulikan senyum sapaanku.

Aku membiarkannya saja, tak berubah sedikitpun dari posisiku yang bersandar. Kuamati punggungnya yang tampak kaku.

Tiba-tiba dia berbalik dan berjalan ke arahku. Teleponnya sudah ditutup. Di depanku, suaranya tertahan, “Kau mengikutiku ya? Kau ini siapa? Fans gila?”

Aku mengamati penampilannya hari ini. Normal. Dia tidak tampak sedang menyembunyikan diri. Kalaupun iya, dia hanya memanfaatkan sebuah topi kali ini.

“Jawab!” sentaknya keras.

Aku menatap matanya lalu menggeleng. Kutunjukkan kaca di pintu kamar cewek itu dan kubiarkan dia mengintip. “Aku sedang menungguinya bangun,” kataku.

Daesung melakukannya. Mengintip ke dalam kamar itu. Matanya terbelalak ngeri. “Kenapa dia?” tanyanya padaku sambil bergidik.

“Terbakar,” jawabku.

“Sejak 3 minggu yang lalu kau selalu di sini menungguinya?”

Aku tersenyum. “Sejak 5 minggu lalu. Kau menghitungnya?”

Dia menoleh padaku. “Apa?”

“Waktu sejak kita pertama bertemu?”

Dia menatapku aneh. “Tiga kali kita bertemu. Dan aku hanya bertemu denganmu setiap aku pergi ke RS ini, yang memang sudah dijadwalkan setiap seminggu sekali. Tentu saja itu mudah untuk diingat, kan?”

“Kau benar,” gumamku dengan tersenyum. Ah, mukanya berkerut lagi. Kenapa sih dia suka sekali mengerut-ngerutkan muka?

“Kau belum jawab pertanyaanku,” desaknya.

“Yang mana?” aku tak ingat pertanyaannya.

“Apa kau fans gila?”

“Fans siapa?”

Sejenak dia terdiam. Mukanya tampak malu. Kerutannya menghilang digantikan tatapan mata yang gugup. Aku jadi tertawa melihatnya.

“Fans-ku. Kenapa kau tertawa?!” kesalnya.

Aku mengulurkan tanganku ke dahinya. Dia tampak terkejut. “Kau suka sekali mengerutkan kening. Kau jadi tampak lebih tua.”

Daesung meremas kaleng minumannya yang kini sudah kosong. “Sudahlah, sepertinya kau bukan fans-ku. Tapi kau memang tampak gila,” katanya sambil pergi meninggalkanku.

Aku hanya tertawa melihatnya pergi.

 

***

 

Minggu berikutnya kami bertemu lagi. Kali ini dia tersenyum padaku lebih dulu. Seperti saat kami pertama bertemu. “Aku memang sepertinya tak bisa menghindarimu ya? Padahal aku sudah mengambil jalan memutar. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menungguinya dioperasi,” jawabku sambil membalas senyumnya.

“Operasi?” tanyanya kemudian duduk di sebelahku.

Aku mengangguk, lalu menjelaskan, “Hari ini operasinya yang ketiga. Operasi plastik. Karena luka bakarnya hampir di seluruh tubuh.”

“Apa yang terjadi padanya?” dia bertanya penuh perhatian. Tangannya bersatu di depan lutut.

Aku mengangkat bahu. “Kecelakaan,” hanya itu yang kutahu. Saat kulihat matanya, dia tampak ngeri. Aku bertanya padanya, “Apa kau menemui doktermu lagi? Kau sakit apa?”

Dia bersandar dan memandangku. Tatapannya jahat. “Aku sakit jiwa. Aku ke sini untuk berobat ke psikiater,” jawabnya seperti ingin menantangku apakah aku akan lari darinya atau tidak.

Aku berbinar menatapnya. “Wah, aku baru pernah berteman dengan orang sakit jiwa.”

“Hahaha, siapa bilang kita berteman? Kita hanya bertemu saat ketemu.”

Aku memonyongkan mulut. “Menurutku itu namanya berteman. Baiklah, begini saja, kita berteman saat kita ketemu. Bagaimana?”

Dia menyipitkan matanya yang sudah sipit. “Apa kau yakin kau bukan fans-ku? Tingkahmu mencurigakan.”

“Apa aku pernah mengatakan bahwa aku bukan fans-mu?”

Dia bangun terkejut dari sandarannya. “Jadi kau fans-ku?”

“Memang kau punya fans?” aku menatapnya penasaran. Aku masih belum berhasil mengingat siapa dirinya.

“Namaku Kang Daesung,” dia tiba-tiba membuat pernyataan konyol.

“Bukankah kau sudah pernah memberitahuku?”

“Kau tidak terkejut?! Kau tidak tahu siapa aku?!”

Aku tersenyum memohon maaf padanya. “Ah, maaf, aku masih belum ingat siapa kau. Aku sudah mencobanya, tapi aku tetap tidak bisa menemukan jawaban siapa dirimu.”

Senyum Daesung miring. Dahinya berkerut lagi. “Bagaimana mungkin kau tidak tahu aku? Apa kau tahu Big Bang?”

“Ah, maaf, aku lemah di pelajaran Sains…” jawabku. Dahinya semakin berkerut mendengar jawabanku. “Berhentilah merasa kesal!” seruku padanya.

“Hah?” dia bertanya heran padaku.

“Apa sih yang selalu membuatmu kesal? Kau selalu tampak mengerutkan keningmu. Membuatku selalu ingin menyeterikanya,” kataku mengelus kerutan dahinya.

“Bagaimana kau tahu aku selalu merasa kesal? Bisa saja kan aku mengerutkan kening karena sedang berpikir?”

“Tapi tidak, kan? Aku tahu saja kalau kau sedang kesal.”

Dia diam lalu bangun. “Aku rasa aku akan benar-benar gila kalau meneruskan percakapan ini denganmu,” katanya sebelum pergi meninggalkanku.

 

***

 

Aku menghampirinya yang sedang termenung di taman RS. “Apa kau sedang marah lagi?” tanyaku.

Dia terdongak terkejut lalu mendengus begitu melihatku. Tapi dia menjawab serius, “Ya.”

“Kenapa?” tanyaku.

Dia menggeser duduknya. Tangannya menyuruhku duduk di sebelahnya. “Aku marah karena aku selalu merasa kesal pada apapun. Kalau aku tak berhasil mengendalikan amarahku, aku marah. Kalau aku tak berhasil menyanyi dengan baik, aku marah. Kalau aku tak sependapat dengan orang, aku marah. Kalau aku gagal melakukan gerakanku, aku marah. Kalau aku harus ke RS ini setiap minggu, aku marah. Kalau aku harus minum pil penenangku, aku marah. Jiwaku sakit karena selalu merasa marah. Dan selalu menahannya di dalam hati.”

“Kau frustasi.”

“Ya, aku frustasi.”

“Kau penyanyi?”

“Ya, aku penyanyi.”

“Kalau begitu mungkin sekarang saatnya kau mendengarkan dan berhenti bernyanyi untuk sejenak.”

“Eh?” dia menatapku bingung.

Aku kemudian menyanyikan sebuah lagu yang selalu menjadi kesukaanku. Iramanya tak pernah lepas dari kepalaku.

ddaseuhan jeo haessalgwa hamkkae geudae soneul jabgoseo / lalalalla norel bureumyeo dalkomhan date / geudaeran maeumeh seoltang han seupoon / eoneusae kuraemcheoreom keojin nae maeum / geudaeneun somsatang nae maeumi nogayo / mongshil mongshil geudae bogoman isseodo nogayo

Daesung menarik tanganku kasar. “Kau pembohong!” dia membentakku. Aku menatapnya tak mengerti. “Kau bilang kau tak mengenalku. Bagaimana kau bisa menyanyikan laguku?”

“Ini lagumu? Benarkah?” aku benar-benar kaget. “Eeeish, jangan bercanda!” aku memprotesnya.

“YA!” dia malah semakin keras membentakku. Membuatku terdiam. Bentakannya membuatku takut. Melihat reaksiku, dia membenamkan wajahnya dengan kasar di kedua tangan. “Kau jangan mempermainkanku. Lebih baik kau mengaku saja kalau kau memang fans-ku. Aku sudah capek merasa marah pada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Aku tak ingin tambah marah lagi karena dibohongi.”

Aku tidak bohong. Bagaimana aku bisa menjadi fans-nya kalau lagu kesukaanku saja aku tak tahu bahwa dia yang menyanyikannya. Tapi aku diam saja.

Tiba-tiba aku mendengarnya bernyanyi. Lagu kesukaanku yang baru saja kunyanyikan. Somsatang.

Di tengah lagu dia mengangkat wajahnya menatapku. Mulutnya tetap bernyanyi, tapi matanya tampak lelah. Aku tak tega melihatnya. Ku potong nyanyiannya. “Kang Daesung, biarkan aku menyanyi untukmu.” Tanpa menunggu jawabannya aku bangkit dari dudukku dan mulai bernyanyi sambil menari di hadapannya.

Awalnya Daesung menatapku ngeri, lalu melihat sekeliling, merasa malu kalau-kalau ada yang melihat. Tapi karena aku terus menari dan menyanyi tanpa mempedulikan apapun, dia akhirnya tertawa melihat tarianku yang kacau. Aku mengambil sebilah ranting rontok dan berpura-pura bahwa itu adalah Somsatang. Dengan ranting layu itu kusentuh puncak hidungnya, kugoda tangannya, dan kuacak-acak rambutnya. Dia menggerutu tapi sebentar kemudian tertawa lagi karena aku tetap bernyanyi.

“Nogayo~” akhirnya aku mengakhiri lagu sambil duduk lagi di sebelahnya.

Tawa Daesung masih berderai. Aku juga tersengal-sengal karena capek menyanyi. Di tengah nafasku yang sepotong-sepotong aku bertanya padanya, “Bagaimana nyanyianku?”

Dia menatapku takjub. Suara tawanya perlahan menghilang. Dengan khidmat dia menjawab pertanyaanku, “Luar biasa mengerikan.”

 

***

 

Minggu ini aku menunggu Daesung di pintu masuk utama RS. Minggu kemarin kami mengobrol lama sekali. Aku jadi tahu bahwa dia sedang dalam masa penyembuhan untuk memperbaiki emosinya yang labil. Aku juga jadi mengenali sifatnya yang terlalu keras pada diri sendiri. Dibalik semua senyum yang ditebarkannya untuk orang-orang di luar sana, dia menyimpan cambuk untuk memicu dirinya agar selalu lebih baik. Kasihan, dia tertekan sekali. Tidak pernah merasa cukup baik untuk dirinya sendiri.

Dia sekarang juga tahu bahwa aku berasal dari Indonesia, dan cewek itu masuk ke RS ini karena rekomendasi sang paman yang bekerja sebagai dokter di sini. Dia tidak mempercayaiku bahwa aku benar-benar tidak mengenalnya. Yah, mungkin sebagian itu disebabkan oleh karena aku juga tidak begitu yakin. Aku seperti pernah mengenalnya, tapi rasanya itu hal yang mustahil. Bagaimana aku bisa mengenalnya kalau selama ini dia hidup di Korea sementara aku tinggal di Indonesia.

Tapi aku tahu, aku bisa mengenalinya dengan mudah. Termasuk juga berbicara padanya dengan mudah, padahal aku bukan termasuk orang yang mudah akrab dengan orang asing. Dia mengatakan bahwa di depanku dia entah kenapa merasa gila. Tapi dia merasa kegilaannya normal-normal saja dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Sore itu percakapan kami benar-benar bukan percakapan berarti, tapi efeknya bagi kami berdua sangatlah besar. Dia mencurahkan segala tekanan batinnya, dan aku bisa merangkak keluar dari kebosananku selama beberapa minggu terakhir ini.

“Gadis Gila!” kudengar suaranya menyapaku, menarikku kembali dari kilas balik seminggu yang lalu. Aku tersenyum padanya. Dia tidak pernah sekalipun menanyakan namaku dan malah memanggilku dengan sebutan yang diciptakannya sendiri, yaitu Gadis Gila.

“Daesung-a,” balasku.

“Hari ini kita mau kemana?” tanyanya padaku. Minggu lalu aku berjanji padanya bahwa aku akan mengajaknya jalan-jalan.

“Sudah, kau ikuti aku saja,” kataku penuh rahasia.

Aku mengajaknya ke taman dalam RS. Menunjukkan padanya tempat-tempat terpencil yang jarang diketahui orang. Selama lebih dari dua bulan aku tertahan di RS ini, tentu saja aku harus tahu seluk-beluk di dalamnya kan? Masa kerjaanku hanya menunggui cewek itu di kamar? Dia kan belum bangun dan tidak bisa bicara, jadi tentu saja aku merasa bosan.

Lalu aku menunjukkan bagian-bagian RS itu satu per satu. Di tiap lantai. Tak ada yang terlewatkan. Baru setengah perjalanan dia sudah menggerutu, “Kau bilang mau mengajakku jalan-jalan, kenapa tak bilang kalau jalan-jalannya di dalam RS?”

Aku menoleh padanya dan tersenyum jahil. “Karena kau pasti menolak kalau aku mengatakannya. Hahaha..”

Keningnya berkerut lagi. Dia tampak kesal. “Eeeiissh!” dia menggerutu makin kencang dan berusaha meraihku untuk dijitak.

Tapi aku menghindar. Aku malah berlari di lorong RS yang seharusnya tak boleh dibuat berisik. “Kau tak akan bisa menangkapku, weeekk..” godaku padanya.

Dia melihatku dengan geram, tapi mulutnya membentuk senyuman tertantang. “Kau tak akan bisa lari,” katanya mulai mengejarku.

Kami mulai berlarian di lantai itu. Entah lantai berapa, aku sudah lupa. Aku menyelinap ke sebuah ruangan dan dia melihatnya, jadi kuurungkan niatku bersembunyi di dalam ruangan tersebut. Aku berlari lagi dan kali ini memasuki ruangan yang berisi cairan-cairan pembersih. Rupanya Daesung tahu, jadi dia ikut masuk ke dalamnya berniat menangkapku. Tepat saat dia hampir menangkapku, pintu ruang itu terbuka dari luar. Kami berdua refleks terdiam bersembunyi. Kami menahan tawa yang hampir meledak sampai wajah kami berdua semerah botol cairan pembersih di sebelah kami. Kami berdiri begitu dekat hingga hampir bersentuhan. Tapi tidak, kami tidak bersentuhan.

Saat akhirnya petugas kebersihan itu keluar dan langkahnya tidak terdengar lagi, aku kembali melarikan diri saat Daesung mengira aku sudah akan berhenti karena kecapekan. Tapi aku kan belum capek, jadi tentu saja aku lari lagi. Sengaja kutunggu Daesung di pintu tangga darurat hanya agar dia tahu kemana aku berlari. Aku berlari terkikik-kikik menuruni tangga ketika tahu dia sudah melihatku.

Aku terus berlari hingga kami kembali ke taman dalam RS. Langsung kucari tempat yang paling strategis untuk bersembunyi. Aku sudah aman ketika mendengar suara Daesung memanggilku. “Yha! Gadis Gila! Kau dimana?! Sialan!”

Aku terkikik melihatnya kebingungan mencariku. Hahaha, keningnya berkerut lagi!

“Yha! Kau dimana? Jadi ini artinya jalan-jalan untukmu?! Awas saja kalau ketemu nanti!”

Aku hampir tak bisa menahan diri mengamati raut wajahnya saat ini. Dia benar-benar kesal. Wajahnya memerah, nafasnya tersengal. Sama seperti aku. Kami sama sekali tak merasakan dinginnya hawa musim gugur yang sudah datang.

Lalu aku mendengar suara ponsel berbunyi. “Yoboseyo!” terdengar suara Daesung menerima teleponnya. Dia berhenti mencariku dan berkonsentrasi menerima teleponnya. Sambil terus mendengarkan dia berbalik dan tampak hendak kembali memasuki gedung RS.

Lalu aku bagaimana? Masa aku diabaikan? Aku keluar dari persembunyianku dan membeku ketika Daesung tiba-tiba menoleh mengedarkan pandangan mencariku.

Tapi hanya itu. Dia berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya memasuki RS. “Daesung-a!” panggilku. Dia tidak melihat ataupun mendengarku.

“Daesung-a!” sekali lagi aku memanggilnya. Kali ini lebih keras. Tapi dia tetap tak mendengarku.

Dia masih tak mendengarku ketika aku berlari mengejarnya ke pintu. Begitu aku sampai di dalam gedung RS, aku sudah tak melihat Daesung dimanapun. Cepat sekali pria itu berjalan!

Sambil manyun aku kembali ke kamar cewek itu. Begitu sampai di depan kamar cewek itu, aku mendengarnya memanggilku. Sebelum ini aku pasti akan langsung menghambur masuk ke dalam kamar dan menjumpainya. Tapi selama ini dia tak pernah memanggilku, dan sekarang aku ingin melakukan sesuatu yang lain. Instingku mengatakan Daesung berada tak jauh dari sini.

Sejenak aku terpaku. Haruskah aku menuruti panggilan cewek itu? Atau sebaiknya aku mencari Daesung? Aku ingin melihat Daesung, putusku. Maka aku menatap ke dalam kamar dan berkata dalam hati bahwa aku akan kembali secepatnya begitu Daesung kutemukan.

Aku berlari. Kulihat papan-papan nama dokter dan begitu sampai di salah satu ujungnya, hatiku berdebar lebih kencang. Tertera di sana bahwa itu adalah ruang seorang psikiater. Tergema dalam hatiku bahwa Daesung ada di dalamnya. Kulihat jajaran bangku tunggu dan kuputuskan untuk menunggu di sana.

Aku tak tahu berapa lama tepatnya aku menunggu, tapi kurasa tidak lama. Tiba-tiba pintu ruang itu terbuka dan aku melihat Daesung. Pria itu ternyata juga melihatku. “Kau meninggalkanku!” untuk pertama kali sejak mengenalnya, aku mengungkapkan protesku.

Tapi dia hanya terdiam, lalu tersenyum. Dia bergerak cepat ke arahku. Aku menghindar. Dia nyengir lebar. “Mian. Aku juga harus periksa, kau ingat? Tadi dokterku menyuruh segera naik karena dia ada janji lain setelah memeriksaku,” katanya sambil menunjuk ruang tempat dia baru saja keluar.

Aku masih manyun.

“Hahaha! Kau kesal ya? Sekarang gantian kau yang kesal. Padahal aku sedang senang sekali. Dia,” katanya sekali lagi menunjuk ruang si psikiater, “mengatakan bahwa aku bisa menghentikan konsumsi pil-ku. Katanya emosiku sudah mulai stabil. Kurasa aku harus berterima kasih padamu!”

Aku bingung. “Kenapa?” tanyaku.

“Katanya aku sudah bisa menikmati hidup. Energi marahku tersalurkan ke sesuatu yang ceria. Aku ingat gara-gara tingkahmu minggu kemarin aku bisa bersikap lebih rileks dalam menghadapi hidupku seminggu ini. Dan setiap aku kesusahan, aku teringat orang yang kau tunggui itu, dan aku jadi tahu bahwa bukan hanya aku yang memendam rasa tidak puas dalam hidup ini. Kau juga. Dia yang sedang kau tunggui pasti juga begitu. Aku jadi lebih bisa menerima kelemahanku sendiri.” Panjang lebar Daesung bercerita padaku, membuat hatiku menghangat karena melihat tawanya yang tampak benar-benar senang.

“Semuanya sejak aku bertemu dan bicara denganmu,” katanya lebih lembut. Tangannya bergerak ke atas hendak membelai kepalaku, tapi aku menghindar lagi.

“Tetap saja tadi kau meninggalkanku!” aku pura-pura masih marah.

Kepala Daesung terlontar ke belakang ketika tawanya lepas. “Arasseo, arasseo! Salahku! Aku akan menebusnya! Kubelikan kau somsatang. Mau?”

Ah, bujukannya manis sekali. Aku memanyunkan bibirku, melipat tanganku di depan dada, dan bangun berdiri dari duduk. “Somsatang?! Kau pikir aku anak kecil?! Tentu saja aku mau! Ayo!” ujarku mendahuluinya menuju pintu keluar.

Dia tertawa lagi. Lalu dalam sekejap sudah berhasil menyusulku. Aku sekarang tersenyum di sampingnya.

Lewat di depan kamar cewek itu, aku berseru lagi dalam hati, “Setelah ini. Tunggulah sebentar. Setelah yang satu ini saja..”

Di pintu keluar Daesung berjalan mendahuluiku, tapi aku terpaku di tempatku. Kutatap sosoknya dengan menyesal. “Daesung-a, mian…” ujarku saat dia bertanya lewat pandangannya mengapa aku tak mengikutinya.

“Wae?”

“Aku tak bisa meninggalkannya,” sahutku pelan.

Senyum Daesung berkurang sedikit. “Sebentar saja. Hanya membeli somsatang lalu kembali lagi kemari. Aku akan mengantarmu.”

Aku menggeleng. “Kau tidak mengerti. Aku tidak bisa. Dia sendirian.” Senyumku menyesal dan sedih.

Lalu dia masuk lagi dan berdiri di hadapanku. “Baiklah. Aku mengerti. Tunggu di sini, aku akan kembali secepatnya dengan somsatang.”

Aku menatapnya gembira. Senang dia mau melakukannya untukku. “Terima kasih, Daesung-a. Aku menunggumu.”

“Oke! Tunggu ya!” ujarnya langsung berlari meninggalkanku.

Aku menatap kepergiannya dengan hati berdebar-debar. Dia akan membelikanku somsatang. Somsatang yang manis menghangatkan. Sebaiknya sekarang aku menunggunya dengan manis juga.

Namun Daesung tidak juga kembali. Langit sudah lama gelap. Aku sudah mulai capek dan lemah. Dia menungguku. Meski aku hanya ingin menunggu Daesung di sini, tapi aku tak punya kuasa kalau tubuh cewek itu semakin melemah.

Akhirnya, saat tinggal kekuatan terakhirku saja yang tersisa, aku menatap pintu masuk untuk terakhir kalinya. “Maafkan aku, Daesung-a. Aku tak bisa menunggumu lagi. Aku harus pergi,” bisikku. Entah kenapa air mataku menetes. Dengan lemah kuseret langkah kakiku menuju kamar cewek itu.

Tepatnya menuju tubuhku yang tergeletak tanpa jiwa.

 

***

 

Aku menatap wajahku lagi untuk terakhir kalinya. Itu bukan aku. Aku sudah berubah. Operasi plastik yang kujalani mengubah total diriku. Wajahku sendiri tak kukenali. Tubuhku, kulitku, semuanya berubah. Meski tidak menyukai bentukku yang baru, aku mengakui bahwa hasilnya bagus. Aku bahkan bisa bilang bahwa wajahku sekarang jauh lebih cantik dari wajah asliku.

“Siap?” bibiku bertanya padaku.

Setelah pemulihan berminggu-minggu, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Pamanku sempat terkejut dengan kesembuhanku yang tergolong sangat cepat. Dia pikir ketika aku koma selama berbulan-bulan setelah kecelakaan itu, aku tak akan bisa bangun lagi. Hanya dengan berbekal harapan yang sangat tipis bahwa suatu saat aku akan bangun, dia meminta rekannya untuk melakukan semua rangkaian operasi plastik itu. Begitu dia selesai bercerita, aku tersenyum berterima kasih padanya. Tak terbayang rasanya jika sekarang aku masih berpenampilan seperti daging panggang setengah matang.

Saat ini aku bisa merasakan bahwa tubuhku sudah benar-benar kuat. Hanya hatiku yang masih seringkali mencelos saat melihat wajah asliku yang sudah menghilang. Secara keseluruhan, aku bisa merasakan aku sudah sembuh total. Siap menyambut tahun baru yang pergantiannya tidak kusaksikan karena saat itu aku masih harus diterapi di rumah sakit.

Haha, menjadi penghuni di tempat ini selama kurang lebih setengah tahun ternyata tidak membuatku kehilangan, saat harus pergi. Syukurlah.

“Ayo, Ayah-Ibumu sudah menunggu di rumah,” ajak bibiku sekali lagi.

Aku tersenyum pada wanita yang selama ini senantiasa merawatku saat koma. Tak bisa kupikirkan cara yang paling baik untuk membalas budi bibi dan pamanku ini. Mungkin hanya dengan menjadi keponakan yang berbakti.

Sekali lagi kulirik kamarku, dan mataku menatap jendela yang menghadap ke halaman dalam RS. Aku ingin ke sana. Kukatakan keinginanku pada paman dan bibiku. Mereka awalnya keberatan, tapi setelah kukatakan bahwa aku hanya akan sebentar di sana, mereka menyetujui keinginanku. “Sebentar saja ya. Kami akan menunggu di mobil,” kata pamanku tegas.

Aku mengangguk. Tanpa membuang waktu aku berlari. Kupilih rute melalui tangga darurat untuk menuju ke sana. Hehe, aku ingin tertawa saat melakukannya. Perasaanku senang. Entah kenapa.

Sesampainya di taman dalam, aku berjalan pelan mengitarinya, lalu begitu menemukan sebuah bangku, aku duduk di atasnya. Bangku itu dingin karena sebelumnya tertutup salju. Kutengadahkan kepalaku ke langit dan kuhirup udara yang terasa bersih. Meskipun dingin, hari ini matahari bersinar dengan leluasa.

Tiba-tiba terdengar kelontangan kaleng di dekatku. Ketika mataku menemukan asal suara kaleng itu, aku terkesiap. Di sana berdiri seorang Daesung, personil Big Bang. Salah satu penyanyi kesukaanku.

Kulihat dia berjalan untuk memungut kalengnya. Begitu dia sampai di dekatku, dia nyengir dan aku tertawa. “Meleset,” kataku melihat kalengnya yang gagal memasuki tong sampah.

Dia tertawa dan tanpa bisa ditahan aku mengatakannya, “Matamu hilang!”

Tawanya sontak berhenti. Dia menatapku lekat. Aku jadi grogi dibuatnya. “Eh, eh, anu, itu, aku tidak menghina kok. Menurutku kau bersinar saat tertawa,” ujarku takut-takut.

Perlahan pria itu tersenyum. “Apa… kau suka somsatang?”

Pertanyaannya sama sekali tidak kuduga. Mataku berbinar menatapnya. Aku mengangguk pasti. “Ne! itu lagu kesukaanku!”

Mata Daesung melebar. Lalu dari dalam jaket lebarnya dia meraih sesuatu. Kulihat sebuah somsatang kecil kini ada di tangannya. “Kalau kuberi kau ini, maukah kau menyanyikannya untukku?”

Aku terperangah.

Tangannya masih terulur ke arahku memegang somsatang, matanya menatapku penuh harap.

Setengah sadar kuambil somsatang itu dan mulai bernyanyi di depannya. Awalnya pelan dan ragu-ragu, namun begitu kulihat wajahnya mulai bersinar senang, aku mulai menyanyikan lagu itu dengan lebih percaya diri. Bahkan aku menari sedikit dengan somsatang di tanganku. Aku ingin melihat senyum Daesung lebih lebar lagi. Rasanya seperti déjà vu yang menyenangkan.

Di tengah lagu, Daesung tiba-tiba merengkuhku dalam pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di rambutku, “Nyanyianmu mengerikan. Kemana saja kau selama ini, Gadis Gila?”

Dan saat itulah segala ingatan itu datang padaku.

Gadis Gila, panggilan Daesung untukku. Pertemuan pertama kami dan kaleng itu. Tangga darurat tempat kami berkejaran. Lalu somsatang.

Daesung menepati janjinya padaku. Dia memberiku somsatang. Kurasa sebenarnya tanpa sadar aku telah menunggunya selama ini. Perasaan semanis somsatang yang dibawakannya untukku. Aku menunggunya.

Tanganku terangkat, terulur balas memeluknya. “Daesung-a…” panggilku mencoba sekali lagi memanggil namanya. Rasanya hampir seperti mistis, memunculkan kembali semua ingatan tentangnya selama 7 kali pertemuan kami dalam 7 minggu. Aku pun menjawab pertanyaannya, “Aku di sini. Menunggumu.”

Dia melepaskan pelukannya. Kemudian menatapku lekat. “Terima kasih. Karena menungguku.”

Aku tersenyum. Kubuka bungkus somsatang pemberiannya lalu kucomot sedikit filamen gula-gula berwarna pink itu dengan bibirku. “Manis,” ujarku padanya. Lalu aku melanjutkan, “Terima kasih. Karena sudah membawakan somsatang untukku.”

Dia ikut menggigit somsatang itu, dan tanpa diduga mengecup bibirku selama sedetik yang sangat penuh perasaan. Begitu bibir kami terlepas, dia berkata, “Manis.”

 

 

KKEUT.

http://wp.me/p1rQNR-92

 

 

Lirik lagu Somsatang by Daesung

ddaseuhan jeo haessalgwa hamkkae geudae soneul jabgoseo / lalalalla norel bureumyeo dalkomhan date / geudaeran maeumeh seoltang han seupoon / eoneusae kuraemcheoreom keojin nae maeum / geudaeneun somsatang nae maeumi nogayo / mongshil mongshil geudae bogoman isseodo nogayo

 

Memegang tanganmu di bawah hangatnya sinar mentari / kita bernyanyi lalalala selama kencan kita yang manis / hanya berbekal satu sendok gula dan hatimu, hatiku telah mengembang sebesar awan / Kau seperti gula-gula kapas / hatiku meleleh / Hanya melihat wajahmu, aku meleleh.

 


Iklan