Tag

,

Author : Bee

Main Cast : Yunho, Changmin

Category : Yaoi

Rating : all age (PG)

OST : Say Goodnight and Go by Imogen Heap

Inspired by : Say Goodnight and Go (Imogen Heap), The Shilla Duty Free CF A Version, B Version and C Version

Url : http://wp.me/p1rQNR-8q

Ps : Untuk YunJae shipper, saya minta ampun. Untuk Changmin biased, saya mohon maaf. Untuk fans Yunho, jangan bunuh saya. Untuk Cassie (DB5K), silahkan bash aja saya kalau ga berkenan. Untuk Saya, saya mencintaimu yang mencintai HoMin *chu*

~~~

Say goodnight and go.

Kututup pintu kamar perlahan. Tapi aku tak mampu beranjak dari pintunya. Kusandarkan punggungku di sana, mencoba menangkap suara apapun yang dibuat Hyung di baliknya. Kudengarkan gesekan langkah kakinya di lantai menjauhi kamarku. Bruk, kudengar juga jaketnya yang dilemparkan ke sofa. Aish, sudah berapa kali kubilang padanya agar menjaga kerapihan tempat ini? Sepertinya dia tak pernah memperhatikanku. Lalu pintu kamarnya tertutup.

Kutunggu beberapa saat sebelum kemudian melangkah keluar. Kuraih jaketnya dari sofa dan membawanya ke lemari penyimpanan sambil kuhirup aroma tubuhnya yang tersisa di sana. Aromanya enak. Kugantungkan jaket itu dan kurapikan. Tanganku mengusapnya pelan penuh perasaan. Senyumku terkembang miris. Hanya jaketnya yang bisa kuraba begini. Haha.

Kulangkahkan kaki kembali menuju ke kamar. Saat pegangan pintu kutekan, Hyung mengagetkanku dengan membuka pintu kamarnya kasar. Sial, dari sudut mataku aku bisa melihatnya hanya mengenakan celana pendek dan kaus dalam.

“Oh!” aku mendengar suaranya saat kakiku sudah setengah memasuki kamar.

“Kau merapikan jaketku, Changmin-a?” Aku sudah berada di dalam kamar. Kutahan pintu di depan tubuhku. Aku menatapnya dingin, berkebalikan dengan rasa hangat yang menjalari tubuhku saat melihatnya hanya berpakaian seadanya begitu.

Seperti yang kuharapkan, dia mengira aku jengkel padanya karena dia berbuat tidak rapi. Dia nyengir, “Mian. Aku lupa.”

Aku masih menatapnya dingin. Tatapannya berbinar, mencoba membujukku, “Ah, kau memang istri yang baik, Changmin-a~”

Brak! Kututup pintu dengan kasar. Langsung kukunci dan aku melemparkan tubuh ke tempat tidur. Menelungkup, menekan apapun yang sedang berusaha mengembang di bawah sana. Suaranya, cengirannya, kulitnya, otot lengannya, tatapan matanya, bagaimana aku bisa bertahan di depannya? Istri? Kalau saja benar, aku pasti sudah menyiksanya karena tak mau menuruti kata-kataku menjaga kerapihan rumah. Dan aku pasti sudah mengikutinya ke kamar mandi, mengecap rasanya.

Kututup mataku rapat-rapat berusaha menghalau gema suaranya yang tertinggal menggoda meski sudah dari tadi dia mengatakan, “Selamat tidur, Changmin-a. Mimpi indah ya!”

 

Skipping beats
Blushing cheeks

I am… struggling..

Tanganku di pinggang wanita ini. Satu lainnya meraba pipinya. Wajahku mendekat pada wajahnya. Bibirku hampir menyentuh bibirnya. Lalu, “Cut!”

Selesai. Adegan ini selesai juga akhirnya. Dengan tubuh dingin kulepaskan wanita itu dari pelukanku dan menoleh. Mendapati wajahnya. Wajah yang menunjukkan kebanggaan padaku. Jempolnya terangkat memuji aktingku. Begitu aku mendekat padanya, dia merangkul bahuku hangat. “Kerja bagus, Changmin-a! Kau berhasil melakukannya.”

Kalau bukan karena wartawan yang dijadwalkan akan mewawancarai kami seusai syuting iklan ini, aku pasti sudah melepaskan tangannya kasar-kasar. Saat bicara wajahnya terlalu dekat denganku. Tubuhnya yang berkeringat karena syuting bagiannya yang berisi adegan lari, membuatku mendadak gerah. Padahal dengan model wanita tadi aku baik-baik saja biarpun tubuh kami melekat erat.

Aku tahu jantungku berdegup lebih cepat, semoga dia tidak menyadarinya. Apakah pipiku memerah? Semoga tidak, paling tidak, semoga dia tidak memperhatikannya. I am struggling, berusaha merangkak menjauh dari pesonanya yang menjebak. Dia terlalu nyata untukku.

 

Daydreaming
Bed scenes in… the corner café

Namun dia malah mengusap keringatku. Apa dia menggodaku?

Karena tak tahan kuraih tengkuknya. Kutarik kepalanya ke arahku. Bibirnya kupaksa menempel di bibirku. Dia mencengkeram pundakku. Awalnya berusaha menolak, namun ketika jemariku menelusuri kulit kepalanya, dia justru mendesah. Kubawa tubuhnya sementara aku berusaha duduk di kursi yang disediakan untukku. Kuatur posisinya agar menduduki pangkuanku. Perlahan kuperdalam ciumanku dan kami tidak peduli pada staf yang menyaksikan aksi gila kami.

Ah, bukan, aksi gila bayanganku. Di waktu kerja. Bermimpi di siang hari bolong.

And then I’m left in bits recovering tectonic…
Tremblings

You get me every time

Kulepaskan rangkulannya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Aku tidak butuh kekacauan saat ini. Sudah cukup dia membuatku tak karuan saat mengajariku adegan ciuman ini tadi pagi. Dia terus berceloteh membeberkan detil yang harus kulakukan agar adegan ciumanku bisa tampak ‘berjiwa’. Tentu saja sambil mempraktekkannya. Tangannya di pipiku, lengannya di pinggangku, nafasnya yang hangat dan menderu karena dia terus berkata-kata, pinggang kami yang menempel, sampai sekarang masih membuatku bergetar. Dan semakin bergetar akibat pelukannya barusan. Selalu, dia berhasil menguasaiku.

 

Why d’you have to be so cute? It’s impossible to ignore you..

Dia menjauh dariku, mengambil minuman untuknya sendiri, saat sutradara memintaku berakting close up di depan kamera. Adegan saat aku harus berekspresi penuh karisma seolah sedang membujuk kekasihku dengan aura jantan. Sebelum kamera rolling aku sudah siap di depan benda itu. Sementara menunggu aba-aba sutradara, mataku menangkap gerakannya. Dia menyapa salah satu staf. Wajahnya dibuat memelas meminta minum. Tangannya mengacak-acak sedikit rambut di tengkuknya. Dia manis sekali.

Must you make me laugh so much? It’s bad enough we get along so well..

Lalu sutradara memberi aba-aba agar aku mulai berakting. Bersamaan dengan dia yang datang memperhatikan. Di tangannya terdapat dua gelas minuman yang mengepul hangat. Aku tahu pasti satunya untukku. Dia selalu melakukannya sejak hanya tinggal kami berdua yang tersisa. Dia selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Kecuali saat dia mengacaukan adeganku seperti sekarang. Wajahnya mengerut-ngerut lucu. Matanya jadi juling. Bibirnya mencibir-cibir berlebihan. Giginya ditonggos-tonggoskan. Aku lepas kendali. Tawaku meledak tak bisa ditahan.

Sial, dia terlalu menarik untuk diabaikan.

Say goodnight and go

Mungkin seharusnya aku tidak tinggal lagi bersamanya. Menjauh darinya.

 

Follow you home,
You’ve got your headphones on

And you’re dancing

Mobilku berhenti di sebelah mobilnya. Kami memutuskan untuk memakai mobil masing-masing hari ini. Lalu pulangnya, seperti biasa aku selalu mengekor di belakangnya, membiarkan dia memutuskan rute perjalanan kami. Hanya saat di lampu merah seperti inilah aku bisa sejajar di sisinya. Aku mengamatinya mengamati lampu merah dengan tidak sabar. Kepalanya melongok-longok ke atas setiap 3 detik, seolah dengan begitu lampu akan langsung berubah hijau. Dia memang selalu tak sabaran di lampu merah. Sementara aku? Aku berharap lampu merah berpendar lebih lama agar waktuku mengamatinya juga jadi lebih lama. Sayang harapanku dan harapannya tak pernah terkabul. Lampu merah itu tetap menyala sesuai program. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Statis. Seperti kami.

Berjalan menuju tempat kami, aku memasang earphoneku tanpa memutar musiknya. Hanya agar dia tak mengajakku bicara. Aku tak ingin mendambakan suaranya malam ini. Cukup membayangkan sosoknya dan membiarkannya berputar bagai film bisu. Cukup mengamatinya tenggelam dalam musik yang sedang didengarkannya sendiri. Cukup merasa senang melihatnya menari mengikuti irama entah apa. Sampai kami di dalam rumah.

Got lucky;
Beautiful shot

You’re taking everything off

Watch the curtains wide open

Dan dia melepaskan semuanya. “Gerah!” serunya lantang. Lalu seperti kebiasaannya, dia buru-buru menuju kamar mandi hanya dengan celana pendek dan handuk tersampir di leher. Meninggalkanku sendirian yang geram dengan semua kekacauan yang dibuat olehnya.

Kutata sepatunya yang berantakan. Dan rasanya aku puas. Kukumpulkan pakaiannya yang berserakan, kulemparkan ke dalam kamarnya sembarangan. Dan aku lega. Kupungut tasnya, kuletakkan di sofa dengan rapi. Dan aku senang. Bagaimana mungkin mengurus seseorang bisa membuat geram sekaligus menyenangkan seperti ini? Hanya akulah yang berkuasa atas barang-barangnya. Aku yang menatanya. Aku yang bisa marah pada keteledorannya. Aku senang mengurusnya sekalipun itu melelahkan.

And you’re following the same routine;
Flicking through the TV, relaxed and reclining

Lalu aku senang karena saat aku selesai membersihkan diri, dia sudah duduk santai di depan televisi. Duduk melepas lelah lengkap dengan banyak makanan kecil yang jadi kegemaranku. Aku menghampirinya dan dia menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dan malam itu berlalu seperti yang sudah-sudah. Menyamankan aku berada di sisinya. Membuncahiku dengan suka menghirup aromanya. Melegakanku mendengar suara nafasnya yang berat dan celetukannya pada apapun yang sedang ditontonnya.

Menyerikanku dengan luapan rasa peduli. Yang tak pernah diketahuinya ada.

And you think you’re alone..

 

Oh, why d’you have to be so cute?
It’s impossible to ignore you,

Must you make me laugh so much?

It’s bad enough we get along so well..

Lalu dia mulai mengantuk. Dan aku tahu dari kuapannya yang semakin sering timbul. Tapi aku tak ingin dia tidur. Aku masih ingin bersamanya. Kalau tidur kami harus berpisah. Dia ke kamarnya, aku di kamarku. Maka aku menahan tubuhnya. Menindihnya agar tak bangun dari duduknya. Ah, aku tahu! Lebih baik berpura-pura akulah yang tertidur.

Tindakanku tepat. Dia membiarkanku bersandar di tubuhnya. Kepalaku terkulai ke samping. Dan dia bergeser, menatanya agar bersandar di bahunya. Aku bisa merasakan kelelahannya, tapi aku tidak mau tahu. Aku masih ingin dekat dengannya.

Sampai akhirnya dia tak tahan lagi dan membangunkanku. Tapi aku lagi-lagi tak mau tahu. Yang aku tahu selanjutnya dia menopang satu lenganku. Dan merangkulku, menyeretku ke kamar. Di sana dia melemparkanku ke kasur. Tapi aku tak mau tahu lagi, kuseret dia bersamaku saat tubuhku ambruk ke kasur.

Berpura-pura setengah tertidur, aku silangkan kakiku ke pahanya. Lenganku memeluknya. Aku tak mau tahu yang lain, hanya mau apa yang kutahu kuinginkan. Yaitu agar dia tak pergi.

Say goodnight and go.

Sebelum matanya menutup, dia mengacak rambutku. “Geurae, kita tidur bersama saja kalau begini. Selamat malam, Changmin-a.” Dan dia meninggalkanku bersama dengkurannya.

Kemudian membangunkanku tak lama kemudian dengan desahannya karena keberatan tertindih setengah tubuhku. Kubuka mata dan kuamati sosoknya yang sudah pulas. Saat kantukku datang lagi, kukatakan padanya, “Selamat malam, Hyung.”

Aku senang wajahnya yang terakhir kulihat hari itu.

 

One of these days,
You’ll miss your train,

And come stay with me…

Ada saat dimana dia akan melakukan hal yang sebaliknya padaku. Yaitu saat dia menjadi benar-benar manja dan tidak ingin melakukan apapun. Saat-saat seperti itu, dia akan menyerahkan semuanya padaku. Dari menjadi supirnya kemana-mana sampai menentukan menu makan kami seharian. Saat-saat seperti itu sangat menyulitkan untukku melepaskan diri dari belitan rasa.

Sekaligus memompaku hingga melayang-layang karena senang. Hatiku akan berdebar-debar seharian dan tawaku akan berkumandang tak surut. Lalu biasanya dia akan mengomentari dengan agak kesal, “Aigooo, uri Changmin sedang senang hari ini? Tentu saja kau tidak merasakan Hyungmu ini sedang kecapekan ya? Kenapa sih kau?”

It’s always say goodnight and go
We’ll have drinks,

And talk about things and,

Any excuse to stay awake with you…

Lalu aku akan mengajaknya bicara semalaman, menahannya dengan beberapa kaleng bir, memancingnya bercerita. Bertanya apa yang membuatnya kesal, kenapa dia kecapekan, lalu kadang kalau sedang beruntung, aku bisa lebih dekat dengannya meski hanya sekedar memberi pijatan ringan di tengkuknya. Kalau itu yang terjadi, biasanya aku belingsatan sendiri karena dia akan menggeliat-geliat keenakan dan aku jadi tergoda untuk menjamahnya lebih jauh.

Tapi tetap saja semua tak berubah di antara kami. Aku tetap berada di persimpangan dengan lampu merah yang statis. Sementara baginya, jalan kami adalah jalan lurus dengan aku yang selalu berada di belakangnya sebagai seorang dongsaeng.

Terkadang ingin kuguncang tubuhnya keras-keras agar dia menyadari perasaanku. Kalau perlu kutonjok dia. Aku toh tak peduli kalau dia sampai marah, dia seksi kalau marah. Tapi aku tak bisa menemukan jaminan bahwa setelah itu aku tak akan kehilangan dirinya. Ketiadaan hyungku yang lain sudah cukup buruk bagi kami berdua, kalau sampai aku kehilangannya juga, itu akan menjadi tambah buruk. Ani, itu adalah situasi terburuk untukku.

Jadi hanya itu saja. Jenis hari-hari yang indah menyesakkan seperti itu akan berakhir seperti biasanya.

You’ll sleep here,
I’ll sleep there,

But then the heating may be down again,

Dia akan merangsek ke pelukan kamarnya yang berantakan, dan aku terpuruk di kesendirian kamarku.

Aku akan harus memadamkan gejolak apapun yang sempat timbul hanya agar esoknya aku masih bisa bertemu lagi dengannya dalam hubungan yang normal. Lebih baik daripada tidak bisa menemukannya dimanapun. Biasanya pada malam-malam seperti itu, tidurku tidak tenang saking inginnya berada di sisinya. Tapi toh aku masih hidup sampai sekarang walau rasanya rindu itu begitu mematikan.

At my convenience…
We’d be good,

We’d be great together…

Kalau saja dia menyadari rasaku. Andai saja dia tahu inginku. Lalu memiliki hal yang sama untukku. Kurasa kami akan baik-baik saja selamanya. Pekerjaan kami toh sudah sama. Kami toh memang tak bisa lepas dari yang lain. Jadi kami memang sudah ditakdirkan bersama. Kami pasti bisa menjadi pasangan yang hebat!

 

Go

Hah~ aku tahu khayalanku terlalu tinggi.

 

Why d’you have to be so cute? It’s impossible to ignore you,
Must you make me laugh so much?
It’s bad enough we get along so well..
Say goodnight and go.

Dia menguasaiku. Hatiku. Pandanganku. Fokusku. Pikiranku. Hari-hariku. Tak ada yang bisa lepas dari sosok maupun bayangannya. Hari demi hari keberadaannya di sisiku semakin menambah arti dirinya untukku. Aku tak tahu lagi bagaimana melepaskan diri darinya. Paling tidak untuk lepas tanpa terluka.

Tak tahu kapan berawalnya, aku hanya tahu tiba-tiba saja aku menyadarinya. Perasaan yang sangat menguasaiku ini. Nafasku sesak ketika tak bisa menemukannya. Sekedar sapaan kasar di telepon, “Kau sedang apa?!” itu sudah cukup untukku. Asal itu darinya.

Mengejutkan—bahkan untukku sendiri—tapi sudah tak terelakkan. Aku tak pernah tahu aku bisa merasakan hal seperti ini. Terhadap seorang hyung. Terhadap hyungku.

Maka itu setiap malam aku harus menelan kepahitan karena tak mungkin memilikinya.

 

Why is it always always
goodnight and go?

Lalu malam ini, dia kembali mengetuk pintu kamarku. “Selamat malam, Changmin-a. Tidurlah yang nyenyak.”

 

Oh, Darling not again,

Nafasku melonjak mendengar suaranya tepat di balik pintu tempatku bersandar. Kugigit bibirku sedikit. Kuhela nafas.

Selamat malam Yunho Hyung. Semoga kau memimpikanku malam ini karena aku pasti akan menemuimu di sana.

Goodnight and… go…

 

KKEUT.


Iklan