Tag

, , ,

Title: Miliknya

Author: Bee

Main Cast: Heechul, Leeteuk, Beauty

Genre: romance

PS: Maafkan sayah, pikiran saya meliar memikirkan Heechul, entah kenapa kepikiran terus sama isi kepalanya. Hee-ya, kamu harus tanggung jawab karena tesisku jadi molor!

Url: http://wp.me/p1rQNR-8e

******************************************

 

Aku melihatnya pertama kali di sebuah hotel mewah di Jejudo.

Dia tampak acuh dalam keramaian di sekitarnya. Matanya tak berkeliaran mencari keberadaan kami yang notabene adalah pusat perhatian hari itu. Dia justru lebih sering menunduk menatapi tangannya yang tertumpuk di pangkuan. Apakah tangannya sedang terluka? Kenapa rasanya dia begitu berkonsentrasi pada benda itu?

Aku tahu aku terpana menatapnya. Tapi aku tak peduli. Kyuhyun, Leeteuk, Siwon dan bahkan Sungmin pun sedang memperhatikan cewek itu. Malah kalau tidak salah tadi aku sempat melihat Sungmin mengambil gambar cewek itu. Ah, begitu di Seoul nanti aku akan minta ah.

Cewek itu memang memiliki aura mistis.

Sebagai lelaki normal, aku senang mengamati wanita. Mereka menarik bagiku. Tapi tidak semua wanita indah. Cewek itu indah sekaligus menarik. Sinar matahari seolah diciptakan untuk memberi kilau pada rambutnya. Udara seperti membersihkan diri di dekatnya. Kebisingan kalah oleh tatapannya. Dan yang lebih menarik, dia wanita asing!

Hahaha! Aku girang sendiri membayangkan seandainya aku berhasil menggaet wanita serupa dewi yunani itu sebagai kekasihku. Pasti seluruh Korea akan heboh karena aku pasti akan memamerkannya ke manapun. Dia cewekku. Cewekku. Hmm, khayalan yang indah.

Lalu aku melihat matanya berbinar menanggapi panggilan seseorang. “Bee!”

Aku melihatnya bangkit dengan antusias kemudian menyambut orang yang memanggilnya. Tak lama kemudian dia juga menyambut yang lainnya yang datang belakangan dengan—

WOW! Inilah yang kusukai dari wanita asing! Dia mencium dua lelaki yang datang belakangan! Ahahaha, kalau dia milikku, aku juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menciumnya terus-menerus. Bibir itu, tipis menggiurkan. Dagunya meruncing indah, seperti tersedia untuk dipasung dengan jari agar lelaki mudah menciumnya.

Jangan salahkan aku! Aku lelaki. Aku normal. Dan cewek itu indah.

Ketika dia melewati kami, aku memandangnya dengan tajam. Instingku mengatakan dia tidak seperti wanita kebanyakan. Senyuman manis tidak akan melelehkannya. Aku bahkan ragu dia akan menganggapku tampan. Kuduga aku pasti terlalu cantik baginya. Dia pasti menyukai lelaki yang aura kejantanannya memancar kuat. Yah, karena aku tidak bisa mengapa-apakan wajahku yang pada dasarnya cantik, aku akan meyakinkannya dengan tatapan mataku. Dan sikap tubuhku yang sengaja kubuat macho.

Tapi ternyata kesempatan itu tak pernah hadir untukku. Dia sama sekali tak melihatku.

Dia menatap seseorang di antara kami dengan kuat, tapi itu bukan aku. Ketika kuedarkan pandanganku, hatiku tergetar. Leeteuk. Sedang mengamati cewek itu dengan pandangan yang baru seumur-umur aku lihat.

Bertahun-tahun mengenal temanku itu, baru kali ini aku melihat matanya seolah memancarkan kilat. Tajam, menusuk, membara, pasti dan tak tergoyahkan.

Ketika aku menoleh lagi ke cewek itu, aku tahu Leeteuk telah mengambil semuanya dariku. Cewek itu tidak melepaskan tatapannya dari Leeteuk. Sama kuat, sama menusuk, sama membara.

Tatapan mereka yang pertama itulah yang membuatku merasa kalah. Pertama kalinya dalam hidupku, aku marah tanpa bisa meluapkannya.

Kemarahan yang ternyata tidak bisa dilenyapkan begitu saja. Sebab tak berapa lama, aku menemukan Leeteuk dan cewek itu sedang berciuman di depan toilet. Apa-apaan ini?! Pikirku geram waktu itu. Ya, aku memang geram sekali. Leeteuk pasti sudah gila, dan cewek itu pasti yang membuatnya gila.

Leader kami bukan orang yang bisa melalui hari tanpa memikirkan pekerjaan. Dia tidak lengah. Tipe yang sangat bertanggung jawab terhadap apapun yang sudah menjadi pekerjaannya. Makanya aku marah ketika memergokinya lengah hanya karena kecantikan seorang cewek. Berani taruhan seluruh kulit susuku, mereka bahkan belum saling kenal!

Aku terus mengamati tingkah mereka setelah ciuman itu. Sayangnya aku tidak punya banyak kesempatan mengamati cewek itu, sebab tidak lama kemudian dia harus pergi bersama teman-temannya. Sementara Leeteuk? Sepanjang sisa hari itu dia jadi lebih sering menerawang. Untung saja dia masih punya kesadaran dan melakukan pekerjaannya dengan baik, kalau tidak aku pasti sudah menonjoknya untuk membangunkan dia dari kegilaannya.

Oke, mungkin juga karena dia telah mengambil kesempatanku mencium cewek itu lebih dulu. Tapi hey, kan bukan dia saja yang terpana pada cewek itu. Kenapa harus dia yang mendapatkan ciumannya?! Sial, memikirkan itu aku jadi benar-benar kesal.

Kuberitahu kalian sesuatu yang lucu. Setelah hari itu, Leeteuk jadi orang asing. Dia tetap bekerja dengan baik, tapi dia benar-benar jadi jauh lebih pendiam. Percaya saja padaku, pokoknya dia begitu. Saat bersama kami, mungkin dia tetap seperti biasanya, tapi begitu ada celah sedikit saja, dia langsung tenggelam dalam pikirannya sendiri. Seolah di dunia nyata dia hanya berakting.

Aku tahu. Sebagai temannya bertahun-tahun, sebagai sesama lelaki, sebagai orang yang merasa tersaingi olehnya, aku tahu apa yang merasuki pikirannya. Aku tahu. Pasti si cewek asing liar itu. Dasar lemah, begitu saja dipikirkannya.

Akhirnya hari itu aku tak tahan lagi. Bukan cuma hari demi hari, tapi sudah dua bulan Leeteuk tidak juga keluar dari dunia autisnya. Hari itu aku menegurnya keras dan kami jadi bertengkar. Untungnya tidak ada yang menyadari. Well, Kyuhyun memang sempat melihat sedikit suasana tidak enak di antara kami, tapi anak itu sih tidak perlu dikhawatirkan.

Malam itu aku menyangka bahwa perang dinginku dengan Leeteuk tidak akan berlangsung terlalu lama. Aku menyadari mungkin aku terlalu ikut campur. Terlalu kasar juga karena mengatai cewek itu murahan padahal aku tidak mengenalnya, tapi toh cewek itu tidak akan muncul lagi di antara kami, jadi aku benar-benar berpikir bahwa itu hanya pertengkaran sesaat sampai Leeteuk mendapatkan kembali akal sehatnya.

Namun rupanya sangkaanku meleset. Setelah tidak berhasil menemukan Leeteuk saat akan pulang, paginya aku terbangun dengan kepala sakit dan kandung kemih yang berulah akibat banyak minum. Saat itulah aku melihat mereka. Leeteuk dan cewek itu. Sedang berciuman di depan pintu, hendak keluar dari tempat kami.

Bangsat! Jadi Leeteuk bahkan sampai membawanya kemari?! Apa haknya?! Ini tempat kami bersama! Berani-beraninya dia membawa wanita ke sini. Wanita yang tidak dikenal, pula!

Dan cewek itu! Setelah kukira akhirnya aku bisa lepas dari kekesalanku yang tidak masuk akal terhadapnya, tiba-tiba dia muncul lagi di depan mataku. Melihatnya dan Leeteuk bermesraan sementara kepalaku berdenyut-denyut habis mabuk bukanlah hal yang kuharap akan kulihat di pagi buta. Dasar murahan!

Sejak saat itu aku benar-benar malas melihat wajah Leeteuk. Syukurlah, pekerjaan yang harus kami lakukan bersama tidak banyak. Belakangan dia jauh lebih banyak berurusan dengan Yesung dan yang lain sementara aku sibuk sendiri dengan jadwal-jadwal variety dan talk show dan siaranku sendiri.

Lalu Leeteuk mengambil libur.

Saat itu aku sedang syuting di luar Seoul karena ada reality show yang harus kuikuti. Begitu pulang dan mampir ke asrama, aku mendapati Leeteuk berwajah ceria. Dia sedang dikelilingi oleh yang lain dan berbagi cerita mengenai liburan singkatnya.

Aku yang terkejut mendengar dia liburan langsung memintanya mengulang cerita. Akhirnya bukan dia yang cerita, tapi Yesung yang mengatakan dengan nada iri bahwa Leeteuk berhasil memaksa manajer membuatkan jadwal libur untuknya selama dua hari. Dari anak itu pula aku tahu bahwa selama itu Leeteuk menghilang. Sampai sekarang tak ada yang pernah tahu kemana dia pergi.

Entah kenapa aku punya dugaan kuat bahwa dia pergi ke Jejudo, menemui cewek asing itu. Mungkin aku menduga begitu karena melihat wajahnya yang lebih bersinar-sinar dari biasanya. Dia tampak… hmm, bagaimana mengatakannya ya? Dia… memancarkan aura kesenangan yang luar biasa. Seperti remaja cowok baru gede yang sangat antusias di pagi hari karena malamnya diijinkan menonton video porno koleksi ayahnya. Ah, mungkin kau tidak akan paham, tapi begitulah menurutku!

Dugaanku semakin kuat ketika aku sering memergoki atau mencuri dengar dia menelepon tengah malam. Bukan aku sengaja memata-matainya—yah, kadang-kadang memang sengaja sih—tapi dia jadi punya kebiasaan masuk kamar lebih dini. Kemudian setelah pintu kamarnya menutup, aku melihat dari celah di bawah pintu lampu kamarnya tetap menyala sampai lama kemudian.

Aku menyimpan ini untuk diriku sendiri, tapi aku pernah terbangun hendak ke toilet dan melihatnya sedang duduk dalam gelap di depan televisi. Dia terkejut melihatku keluar dari kamar. Raut mukanya seperti maling yang terpergok. Di tangannya tergenggam ponsel yang menempel di telinga. Meski dia nyengir konyol, aku masih bisa mendeteksi rasa tidak nyaman yang berusaha disembunyikannya. Waktu itu aku pura-pura cuek dan ngeloyor ke kamar mandi, namun begitu selesai, aku mengendap-ngendap dan berusaha menguping isi pembicaraannya.

“Jadi kau menyelam lagi untuk mengambil sampel yang lain?” katanya waktu itu.

“Jangan sampai kelelahan, kau juga harus beristirahat. Waktu aku di tempatmu, rasanya kau bekerja terlalu keras. Masa malam-malam akhir pekan kau tetap pergi ke lab?” nadanya penuh perhatian.

“Beauty, anu… menurutmu kita bisa… melakukannya lagi…?” kali ini nadanya terdengar ragu.

“Ya, berlibur bersama. Aku belum tahu kapan. Saat ini aku masih sibuk, tapi kalau aku bisa mengadakan waktu, menurutmu kau bisa menemaniku? Kita ke tempat lain, jangan hanya di Jejudo.”

Benar kan dugaanku! Dia memang ke Jejudo menemui cewek bernama norak itu.

Kudengar dia bicara lagi, “Aku harap kau bisa ke Seoul dan kita bertemu di sini. Aku ingin kau mengunjungiku…”

Dia gila ya?! Kalau sampai ada yang melihat mereka, apa dia pikir reputasi kami akan selamat?! Dasar egois!

Aku tak tahan lagi. Mendengar itu aku langsung kembali ke kamar dengan berisik. Aku tahu dia terkejut, tapi aku pura-pura tidak melihatnya.

Di dalam kamar rasa kantukku sudah menghilang entah kemana. Yang tersisa adalah rasa kesal yang menggumpal-gumpal. Aku sendiri heran kenapa aku harus sekesal ini pada Leeteuk dan Beauty. Kalau mereka sudah berhubungan, itu urusan mereka, aku tidak ada hubungannya. Lalu kenapa aku kesal?!

Semakin hari aku semakin terganggu dengan kekesalanku sendiri. Bukan apa-apa, masalahnya aku tidak bisa seminggu saja tidak melihat Leeteuk. Pekerjaan yang memaksaku untuk selalu melihatnya di sekitarku. Setiap kali melihatnya, rasa kesal itu datang lagi. Bayangan dia dan cewek itu berciuman berkelebat lagi. Keinginan menonjok Leeteuk kumat lagi. Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa begini.

Setelah beberapa minggu aku mengamati bahwa Leeteuk mulai berubah lagi. Tadinya dia selalu ceria sejak liburannya waktu itu, kini dia mulai uring-uringan lagi. Tidak seperti sebelumnya dimana dia lebih banyak melamun, kali ini perangainya jadi lebih buruk. Aku tidak suka. Yah, selain karena aku tidak suka karakternya yang jadi mudah marah, aku tidak suka imageku sebagai anggota Super Junior dengan karakter paten yang paling gampang marah terebut olehnya. Dia punya karakternya sendiri, dan juga tanggung jawabnya sendiri sebagai penengah. Masa sebagai penengah dia juga mau emosian? Siapa nanti yang akan melerai kalau aku dan Donghae bertengkar? Atau saat aku dan Shindong saling bersitegang? Atau saat— Ah, pokoknya aku tidak suka dia berubah!

Aku mencoba mencari tahu mengapa dia berubah. Awalnya aku pikir aku akan membiarkannya saja, dan menegurnya kalau dia sudah sangat keterlaluan, tapi aku mulai berpikir ada yang benar-benar tidak beres ketika dia menegur Yesung keras-keras karena sesuatu. Yah, yah, aku tahu, Yesung memang bukan tipe yang bisa diberi tanggung jawab terlalu besar sebab dia sangat gampang panik, tapi kurasa sikap Leeteuk yang memarahinya keras-keras di asrama hanya karena anak itu lupa berimprovisasi bukanlah tindakan bijaksana. Aku benar-benar kasihan pada Yesung waktu itu. Wajahnya menjadi luar biasa aneh selama beberapa hari hanya untuk mempelajari lebih banyak teknik improvisasi. Padahal kalau mau jujur, anak itu sudah jauh lebih baik sekarang ini. Leeteuk memang keterlaluan.

Sayang tampaknya dia tidak sadar bahwa dia sudah berubah. Dia tidak menyesali kemarahannya seperti biasa. Dia hanya bertingkah luar biasa normal sehingga malah membuat curiga. Leeteuk itu, tipe yang akan memikirkan kembali kata-katanya saat marah setelah kemarahannya surut. Setelah itu biasanya dia akan merasa bersalah dan menjadi berlembut-lembut pada orang yang dimarahinya. Tapi belakangan ini tidak. Dia seperti lupa pada apa saja yang sudah dilakukannya. Dia hanya bereaksi untuk saat itu saja. Sesudahnya, dia seperti orang amnesia.

Ketika kuamati, aku menyadari sesuatu, yaitu bahwa dia sering menghilang. Ketika akhirnya aku menemukan tempat persembunyiannya, aku sering melihatnya mengamati ponsel. Awalnya aku pikir ada masalah dengan keluarganya yang seringkali hanya bisa dihubungi melalui telepon, tapi hari itu aku tahu, masalahnya benar-benar masalah terbrengsek yang pernah kuketahui.

Hari itu aku mengintipnya bersembunyi. Lalu tiba-tiba untuk pertama kalinya aku melihat dia melakukan sesuatu dengan ponsel itu. “Yoboseyo,” katanya di ponsel.

Kudengarkan, lalu aku mendengarnya berkata, “Bogoshippo. Kau sedang apa sih? Bicara sebentar saja. Berhentilah bermain air!”

Jujur, aku terkejut. Nadanya campuran antara kesal, putus asa, dan… apa ya? Entahlah, seperti dia satu-satunya orang yang menahan rindu di dunia. Dasar cowok sinting! Jadi selama ini dia bertingkah keterlaluan karena ‘bogoshippo’?!

Lalu kudengar dia berkata lagi, “Yeppo, kau sudah makan?”

Yeppo?! Dia memanggil orang di telepon itu ‘yeppo’???

Seolma—

Ani, kuharap dugaanku salah. Nama cewek itu memang Beauty, tapi kalau sampai dipanggil Yeppo… Euuwh, itu menjijikan!

“Kau tidak bisa ke Seoul lagi? Apa Jejudo tidak membosankan?! Berliburlah, aku ingin bertemu…”

Satu kata saja: EUWH!

Bagaimana dia yang biasanya begitu tegas dan tertata tiba-tiba menggelepar seperti agar-agar begitu?! Dan lagi-lagi hanya karena wanita sialan itu!

Perlahan kuperhatikan raut wajahnya berubah. Dia memang tampak kecewa dan sedih tapi raut capek dan kesal yang selama ini selalu menggelayut di wajahnya tiba-tiba menghilang. Matanya menerawang, hampir sama seperti saat dia belum membawa cewek itu ke asrama, hanya bedanya kali ini tidak terlihat setidakjelas itu. Ah, susah kalau harus menggambarkannya dengan kata-kata! Pokoknya dia itu jadi terlihat lebih tenang setelah menelepon cewek itu, mengerti?!

Ketika dia kembali berkumpul dengan kami, moodnya menjadi lebih baik. Kekesalannya tidak mudah meledak seperti sebelumnya, dan kesabarannya kembali. Meski kalau tidak ada yang mengajaknya bicara dia akan menerawang lagi.

Aku jadi heran. Sebenarnya cewek itu sudah melakukan apa sih pada Leeteuk?!

Aku memutuskan untuk membiarkan saja temanku itu bertingkah aneh. Selama dia masih memikirkan Super Junior, itu sudah sangat cukup untukku, untuk kami. Kurasa. Yah, kupikir harusnya begitu sih.

Hari ini, kami sedang syuting video klip untuk mini album. Syuting yang kacau. Waktunya molor sampai lebih dari satu jam. Menyebalkan. Padahal tadi malam aku tidak cukup tidur. Aaaggh, ini benar-benar buruk untuk kulitku! Awas saja kalau sampai kulitku kusam! Akan kuomeli semua orang! Memang mereka pikir aku mendapatkan kulit seperti ini dengan mudah?!

Kulihat semua orang sama kesalnya sepertiku. Tidak ada yang berwajah ceria. Kalaupun bukan raut jengkel, minimal mereka tidak lagi tersenyum. Aku rasa semua orang benar-benar frustasi dengan proses syuting ini yang sepertinya tidak mendapat berkat. Siapapun yang memberkati.

Aku makin kesal melihat di tengah semua kekesalan itu, ada satu cengiran menyebalkan yang tidak surut dari pagi. Leeteuk. Sejak bangun tidur tak sekalipun dia menutup mulutnya. Dia tak tahu bahwa hari ini kami semua berniat mengerjainya dengan membuat ulah di lokasi syuting dalam rangka ulang tahunnya. Terima kasih kepada situasi syuting yang seperti neraka, kami tidak perlu bersandiwara. Kacau!

Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, tapi dia luar biasa gembira hari ini. Wajahnya berseri-seri seperti habis digosok bubuk mutiara. Berkilau. Sikapnya menyenangkan dan perhatian. Dia sangat kooperatif dan membantu semua orang. Terberkatilah dia!

Sebelum syuting dimulai lagi, kurasa ada baiknya aku menjauh dulu dari keramaian. Sekedar memberi waktu bagi diriku sendiri agar lebih tenang. Maka aku melangkah keluar setting.

Huh, hari mendung. Para fans berkeliaran dengan kamera mereka. Apakah mereka melihatku? Kalau iya, aku tak peduli. Mereka bisa ambil ekspresi kesalku kalau mereka mau.

Aku mengarah ke suatu tempat yang agak tersembunyi. Tidak terlalu tertutup sih, tapi toh aku memakai kacamata gelapku, bersikap santai, jadi kurasa kalau ada yang memergokiku, mereka paling hanya akan berpikir bahwa aku sedang beristirahat.

Sedang begitu, aku melihat ada rambut coklat kemerahan yang menarik perhatian. Rambut itu nampak bergelombang di bawah topi rajut bulat yang menutupinya. Lalu saat kepala tempat rambut itu menempel berputar, dadaku mencelos.

Itu dia. Cewek sialan dari Jejudo itu. Apa yang dia lakukan di sini?! Apa maksudnya tampak secantik itu?!

Dia mengenakan pakaian santai, jeans dan t-shirt beserta rompi rajutan. Kacamata besar menutupi sebagian wajahnya, tapi aku mengenalinya dalam sekali pandang. Itu memang dia, si cantik sialan. Melihatnya aku langsung teringat Leeteuk yang sudah berubah jadi gila beberapa bulan ini. Otomatis aku mengutukinya, “Cewek sialan. Tukang sihir. Pengacau. Tidak tahu malu. Liar. Murahan. Uhuk uhuk…” aku terbatuk.

Karena tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Dan dia tidak bergerak. Wajahnya mengarah padaku. Ekspresinya tidak berubah. Aku tidak tahu matanya melihatku atau tidak karena tertutup kacamata, tapi kok sepertinya dia sedang menatapku. Apa dia tahu aku sedang mengutukinya? Tidak mungkin. Jarak kami lebih dari 100 meter! Aku melihatnya dari dalam lokasi syuting, dan aku hanya berbisik! Apa dia benar-benar penyihir?!

Sial, dia melangkah kemari. Apa yang harus kulakukan?! Dia sepertinya benar-benar mendengar cacianku untuknya!

Petugas keamanan mencegahnya melangkah lebih jauh. Kuhembuskan nafas yang tanpa sadar kutahan dari tadi. Tidak, dia tidak mungkin mendengarku. Aku hanya paranoid. Dia wanita biasa. Hanya wanita biasa. Walau aku merasa kecantikannya agak sedikit beraura mistis. Sial, dia orang mana sih, bisa secantik itu?!

Petugas keamanan yang mencegatnya mendatangiku. Mwoya?! Apa dia mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku?! Hah, berani sekali dia! Mau dihajar fans kami ya?!

“Jogiyo, perempuan di sana mengatakan anda mengenalnya dan dia ingin berbicara dengan anda,” kata petugas keamanan itu begitu sampai di depanku.

Aku pura-pura terkejut. “Oh?! Wanita?”

Si petugas keamanan menunjuk si cewek mistis itu. “Ya,” katanya. “Dia agak aneh. Bahasanya aneh sekali. Saya kurang paham dia bicara apa, tapi kalau tidak salah tangkap dia bilang bahwa anda sudah menatapnya dari tadi.”

Dasar petugas bodoh! Kalau aneh, kenapa malah kau turuti kata-katanya?! Bagaimana cewek itu tahu aku sudah menatapnya dari tadi?

“Tapi dia tidak memaksa. Katanya cepat atau lambat, anda akan menemuinya juga, jadi dia meminta pada saya untuk menyampaikan ini pada anda,” petugas itu menyambung lagi.

Aku menelan ludah. Percaya diri sekali cewek itu. Memang siapa dia berkata bahwa aku akan mau menemuinya?! “Oh, memang saya kenal. Suruh saja dia masuk, Ahjussi.”

Bagus. Sepertinya aku memang tersihir olehnya.

Kulihat dia melangkah santai ke arahku. Aku tak bergerak. Mungkin bagi orang lain, aku terlihat angkuh dan berkuasa karena tidak menyambutnya sama sekali. Tapi yang sebenarnya adalah aku tidak mampu bergerak. Cewek itu berjalan bagai kucing. Tenang. Wajahnya tidak berpaling dariku. Aku seperti dipaku di tempatku berdiri. Untuk menguatkan diriku sendiri aku melipat tangan di depan dada.

Tiba-tiba angin berhembus mengacaukan rambut cewek itu. Tapi dia hanya menekan topinya dan kecepatan langkahnya tidak berubah sedikitpun. Ekspresinya tidak berubah. Dan semakin dia mendekat sepertinya udara di sekitarku semakin menipis.

“Hai,” sapanya ringan begitu kami berhadapan.

Jujur, aku kehabisan nafas. Dalam jarak sedekat ini aku bisa mencium aroma rambutnya. “Ha-hai,” jawabku. Kenapa aku harus terbata gugup di depannya?!

Dia tersenyum. Dan aku ingin seseorang menonjokku. Aku tidak sudi terpesona pada senyumnya!

“Aku bisa bahasa Korea kok. Tidak perlu gugup karena harus berbahasa Inggris denganku,” dia menerangkan masih dengan senyumnya.

“Siapa yang bilang aku gugup?!” balasku defensif. Memangnya aku bodoh?! Bahasa Koreanya baik-baik saja, kenapa ahjussi tadi bilang bahasanya aneh?! Warna kulitnya namanya apa ya?

KENAPA AKU BERTANYA-TANYA?!

Dia tertawa kecil. Lalu menunduk. Untuk pertama kali sejak melihatnya berbulan-bulan lalu aku melihat sikapnya yang tidak yakin. “Maaf aku mengaku-ngaku kau mengenalku. Mungkin kau sudah lupa padaku. Tapi—“

Gerakan tangan menyelipkan rambut di belakang telinga kan gerakan yang biasa ya? Kenapa jadi semenarik itu kelihatannya kalau dia yang melakukan? “Sebaiknya kita masuk,” potongku.

Sepertinya dia terkejut. Bagus. Jadi sekarang aku tahu bahwa dia bisa berekspresi juga. Dan aku benci merasa senang mengetahui hal itu.

Aku berjalan mendahuluinya. Sambil jalan aku berkata, “Banyak fans di luar. Aku takut mereka salah paham.” Dia tidak menjawab. Tapi aku bisa mendengar langkahnya yang mengikutiku.

Kami berjalan terus memasuki dekorasi syuting hingga hampir sampai di spot utama. Di sana aku berhenti, tepat sebelum kami memasuki spot utama. “Kau mau bertemu Leeteuk kan?” tanyaku berbalik menatapnya.

Dia mendongak. Haha, hal ini membuatku senang. Ada kepuasan tersendiri melihat dia masih kalah tinggi dariku, posisinya masih berada di bawahku. Membuatku yakin bahwa aku bisa dengan mudah memeluknya.

AKU PASTI SUDAH GILA. BUAT APA AKU MEMELUKNYA?!

Daripada menjatuhkan diri dalam jurang ciptaan si cewek mistis ini, sebaiknya aku segera menemui Leeteuk, memanggilnya.

Tapi kenapa dia malah menarik tanganku?! Hey, tangannya tidak sehalus dugaanku. Agak kasar. Tapi kecil dan rasanya enak dicengkeram oleh tangan kecil begitu.

SIAPAPUN TOLONG AKU MENJAUHI PENYIHIR INI!

“Jangan panggil dia!” cewek itu berbisik tegang padaku. Membuatku menoleh terkejut.

Aku melemparkan tatapan bertanya padanya. Ah bodohnya aku. Aku kan masih memakai kacamataku, bagaimana dia bisa tahu?

Tapi dia tahu. Karena dia berkata lagi. “Jangan panggil dia. Aku ingin bicara denganmu.”

Aku mengangguk. Sok inggris aku menjawabnya, “Okay~”

Kubalik posisi kami. Sekarang aku menghadap spot utama. Punggungku menyentuh dinding buatan dan aku membiarkan diriku bersandar di sana. Tanganku terlipat di depan dada dan kepalaku menunduk memfokuskan pengamatan pada wajahnya.

Dia berbalik menghadapku. Sebelum memulai kata-katanya, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeans. Sesaat dia menunduk dan bertumpu pada kedua tumitnya. Aku membayangkan ada seorang fotografer di sekitar kami yang mengabadikan posenya itu. Dia sungguh indah. Rambutnya jatuh melewati bahu, kostumnya menyenangkan untuk dinikmati, posturnya sempurna.

“Marebwa,” aku menyuruhnya bicara untuk menghapus pikiranku yang melantur.

Dia mengangkat wajahnya. “Anu,” mulainya ragu-ragu. “Besok Jungsoo ulang tahun, bukan?”

Aku mengangkat alis, tapi kurasa karena kacamataku cukup besar dia tidak melihatnya. “Kau tahu juga rupanya.”

Dia melemparkan rambutnya ke balik pundak. Ah, sayang sekali, padahal rambut itu tampak bagus sekali melekat di lehernya. “Anu, aku, ingin minta bantuanmu,” ujarnya padaku.

Oke, ini baru berita. Cewek tak dikenal, tidak kusukai—kecuali daya tarik seksualnya, tak diketahui latar belakangnya, datang dengan tiba-tiba, meminta bantuanku?

Dia melepas kacamatanya. Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar terkejut. Matanya tampak lelah sekali. “Kau tidak apa-apa?” refleks aku bertanya.

Dia tersenyum. “Aku hanya sedikit lelah. Tersesat mencari kalian. Ah, maksudku—“ dia mengalihkan pandangan, apakah dia malu-malu? Kenapa menggemaskan sekali? “Maksudku, tersesat mencarinya,” koreksinya sambil menggedikkan kepala ke arah Leeteuk berada.

Aku mendengus. Tak tahu apakah itu dengusan menghina atau tawa. Aku sendiri yang tak tahu, dia mungkin tahu. Bagaimana mungkin cewek misterius seperti dia bisa tersesat? Pasti dia hanya melebih-lebihkan. Sayangnya aku tidak bisa mengetahuinya karena dia kemudian berkata mengalihkan fokusku, “Dia tidak tahu aku kemari.”

Aku menegakkan tubuh. Sepertinya aku harusnya sudah bisa menebak maksudnya, tapi nyatanya belum. Petunjuknya masih kurang. Ulang tahun Leeteuk, dia minta bantuan, Leeteuk tidak tahu mengenai keberadaannya. Tidak, aku masih butuh satu fakta kunci lagi untuk bisa menebak keinginannya. “So?” sekali lagi aku sok Inggris.

So, I want to give him a surprise. Can you gimme a hand on it?” jawabnya.

Itu artinya hanya satu: aku mempermalukan diri sendiri. Aku tak tahu sama sekali apa yang diucapkannya. Dia bicara cepat sekali!

Demi menghilangkan malu aku hanya mengangguk-angguk.

Keputusan yang tidak kusesali karena aku melihat matanya kemudian berbinar dan tawa di mulutnya melebar. “Awesome!” serunya tertahan.

Dia bilang aku ganteng kan? Yah, aku memang tampan sih, hanya kaget saja bahwa dia ternyata menyadarinya. “Yes, I’m handsome, of course.”

Dia mengernyit. “What?

Kusentuh daguku dengan telunjuk dan ibu jari, berusaha menunjukkan kualitasku sebagai seorang pria di hadapannya. “I know I’m handsome.”

Dia tertawa aneh. “Well, ya… oke. Kalau kau pikir begitu.”

“Apa? Semua orang juga berpikir begitu!” protesku.

Dia memandang kanan dan kiri. “Oh…” jawabnya ragu-ragu, kelihatan tak yakin harus menjawab apa.

“Jujur saja, katakan padaku, gantengan aku atau Leeteuk?” aku tidak terima dia menarik pujiannya.

“Leeteuk,” jawabnya tegas dan cepat.

Aku hampir mati tersedak ludahku sendiri. Bagaimana bisa dia menjawab sepasti itu setelah tadi memujiku ganteng?!

“Dengar,” dia tampaknya hendak memulai argumennya. “Apa hubungannya antara aku meminta bantuanmu dengan kau ganteng?”

Hah? “Bukannya kau yang bilang tadi aku ganteng? ‘Handsome!’, begitu!” aku menirukan nada bicaranya saat memujiku.

Dia berusaha mengingat dan sedetik kemudian dia tampak malu. “Maaf, jeongmal mianhaeyo. Aku rasa aku tidak bicara dengan jelas. Aku bilang ‘awesome!’ Maksudnya aku berterima kasih karena kau mau membantuku.”

Awesome itu bukan terima kasih! Terima kasih itu—“ aku berhenti memprotes. Siapa aku mengajarinya bahasa Inggris? Tapi aku masih tidak paham maksudnya.

“Ne, majayo,” jelasnya menyela sambil sedikit tertawa. Apa dia menertawaiku?! “Tadi itu kau bilang mau membantuku, jadi aku bilang ‘awesome!’ Semacam seruan seperti ‘johda!’ begitu.” Dia melanjutkan penjelasannya.

Aku menyerap penjelasannya. Sial, dua kosong untukku dalam skor mempermalukan diri. “Tapi aku tidak bilang mau membantumu!” sentakku mengalihkan rasa malu.

Dia terpana. Haha! Kena kau sekarang. Melongolah sepuasmu!

Dia tersenyum canggung. “Oh, maaf. Kupikir kau mengangguk tadi artinya iya. Maaf, kurasa aku terlalu percaya diri.”

Aaagh! Ini pasti gara-gara bahasa Inggris sialan itu! “A, aku juga tidak bilang aku menolak kan?”

Dia membuka mulutnya. Mukanya kebingungan. Sebelum dia berkata sesuatu lagi yang bisa membuatku terjebak, sebaiknya aku segera mengambil alih situasi. “Sebenarnya kau mau minta tolong apa? Jelaskan padaku, baru aku bisa memutuskan bisa tidaknya memberimu bantuan,” kataku dengan nada bos. Dia tidak boleh tahu bahwa sebenarnya aku mulai gugup bicara dengannya.

Dia mengangguk pelan, lalu mulai bicara. Dia ingin tahu jam berapa acara kami selesai. Dia juga ingin tahu apakah akan ada acara khusus untuk Leeteuk dalam rangka perayaan ulang tahunnya, sebab dia ingin memberi temanku itu kejutan. Kejutannya ya dia sendiri. Sampai situ aku akhirnya paham sejelas-jelasnya.

Cewek ini, cewek yang rela tersesat mencari kami hanya untuk memberi kejutan pada Leeteuk di malam ulang tahunnya. Dia kelelahan, tapi matanya berbinar-binar memikirkan rencananya. Dia bilang ingin merayakan ulang tahun Leeteuk berdua. Lalu dengan ragu menambahkan, “Itu kalau ada waktu dan tidak mengganggu jadwal kalian.”

Sesaat aku hanya mampu memikirkan betapa kerasnya usaha cewek ini. Lalu aku bertanya padanya, “Memang apa sebenarnya rencanamu?”

Dia tersenyum. “Aku akan tinggal di rumah temanku selama beberapa hari, jadi aku ingin mengajaknya makan malam di sana. Tapi aku tidak tahu jam berapa jadwal kalian selesai, jadi aku perlu mengetahuinya. Itulah kenapa aku di sini.”

Pikiranku seketika menerawang. Beruntung sekali Leeteuk. Padahal ulang tahunku hanya selang beberapa hari darinya, tapi hanya dia yang dipikirkan oleh cewek secantik ini. Sial, anak itu benar-benar mengalahkanku kali ini.

Kupandangi cewek di hadapanku. Bertanya-tanya dalam hati kenapa dia mau melakukan ini. Karena Leeteuk anggota Super Juniorkah? Karena benar-benar menyukainyakah? Karena ingin populerkah? Motivasinya benar-benar misteri menggoda bagiku.

“Sebenarnya,” tiba-tiba dia bicara lagi, “Tadi malam kami bertelepon. Dia tahu aku sudah meninggalkan Jejudo, tapi dia tidak tahu bahwa aku akan ke Seoul. Aku harap kau merahasiakan hal ini. Aku benar-benar ingin mengejutkannya lewat kemunculanku,” dia mencibir sedikit, “dan berharap itu membuatnya senang.”

Melintaslah wajah Leeteuk seharian ini di benakku. Cerah, ceria, mood yang baik, menyenangkan, luar biasa kooperatif. Dan itu karena semalam mereka saling bertelepon. Luar biasa! Jadi memang cewek ini tukang sihirnya!

Kuamati cewek itu dari kepala sampai ujung kaki. Kali ini rasa iriku pada Leeteuk sudah melewati segala batas. Termasuk batasan yang membuatku berdebar-debar di depan cewek ini. Semua pujianku untuknya sudah tenggelam oleh keinginanku diperhatikan seperti Leeteuk. Aku hanya bisa memandang cewek ini dingin.

Aku tak suka melihat Leeteuk yang kelimpungan. Sungguh menyebalkan melihatnya sering kehilangan konsentrasi saat bekerja. Suasana juga jadi tidak enak kalau dia sudah mulai merindukan cewek ini. Benar, itulah yang terjadi. Leeteuk dan cewek ini memang sudah tidak bisa dipisahkan. Kok bisa-bisanya aku baru menyadari hal itu.

“Kau menyebalkan, kau tahu?!” sungutku pada tukang sihir di depanku. Mataku beralih memperhatikan Leeteuk di spot utama. “Kau membuatnya uring-uringan karena tidak datang-datang ke Seoul. Kami selalu jadi pelampiasannya. Sekarang seenaknya saja kau minta kami memberikan Leeteuk padamu di malam ulang tahunnya?! Yang sudah bersama dengannya bertahun-tahun itu kami, bukan kau!”

Dia tampak kaget. Tapi aku memang tidak ingin membuatnya senang. Kulanjutkan kata-kataku, “Kalian sudah tidur bersama, kan?! Dasar liar! Bagaimanapun yang seperti itu harusnya tidak terjadi. Biarpun begini kami semua masih memandang tinggi nilai tidur bersama setelah menikah. Sebagian besar dari kami bahkan saling berjanji akan hal itu. Kau!” aku menuding hidungnya, “Datang tiba-tiba, merayunya, menghasutnya, mencemarinya, membuatnya gila. Aku benci itu, kau tahu?!”

Dia ternganga.

“Aku benci padamu. Menciumnya di pertemuan pertama kalian. Bagaimana mungkin ada wanita sepertimu di sekitar kami?! Kau itu terlalu menggoda! Paling tidak kalau mau begitu jangan tinggal jauh-jauh darinya! Dia itu lelaki yang selalu haus diperhatikan. Kau harusnya tahu itu kalau mau dekat dengannya! Jangan menyiksanya begitu!”

Kami berdua terdiam.

Lalu suaranya lirih terdengar, “Apa kau membenciku karena Leeteuk kurebut?”

“Enak saja!” protesku. “Memang kau pikir aku anak kecil?!”

Dia malah tertawa. “Kau ternyata lucu!” dia seperti baru menyadari karismaku yang menyenangkan. Tapi entah kenapa aku tidak suka dia menertawaiku begini.

“Ya! Kau mau mati, hah?! Menertawaiku begitu?!” hardikku.

Dia memiringkan kepalanya, tersenyum lebar, kemudian mengacak juntaian rambutnya asal. Membuatku jadi mencium lagi aroma rambutnya yang aneh. Dia pakai sampo apa sih?! Sepertinya aku tidak pernah menciumnya. “Arasseoyo,” jawabnya masih sambil tertawa.

Pandanganku tiba-tiba menangkap lambaian tangan seseorang. Leeteuk. “Ayo pergi. Dia melihat kita. Semoga dia belum sadar ini kau,” ujarku menggamit lengannya. Pada Leeteuk aku memberi kode bahwa aku akan bergabung dengan dia dan yang lainnya sebentar lagi.

Lengan yang kuseret kecil sekali di genggamanku. Apa Leeteuk sudah berulangkali melilitnya?

“Di sini seharusnya aman,” ujarku sambil melepaskan tangannya. Sebelum dia bicara apa-apa lagi, aku berkata, “Dengar, syuting akan dimulai sebentar lagi. Nanti malam kami memang ada acara. Aku akan mengantarnya padamu setelah kami selesai. Berikan saja alamatmu padaku. Aku akan menghubungimu kalau kami sudah dekat rumahmu, jadi berikan juga nomor teleponmu padaku.”

“Jadi kau mau membantuku?” matanya melebar. Aish, bikin dadaku berdebar saja.

“Aku tidak membantumu! Aku membantu kami agar bisa hidup lebih nyaman dan tidak terganggu oleh Leeteuk yang uring-uringan!” sentakku.

Dia hanya nyengir. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu berkata, “Berikan nomormu. Aku akan mengirimimu pesan berisi alamat rumah temanku. Nanti dari situ sekalian kau bisa simpan nomorku.”

Aku menyebutkan nomorku padanya. Dia menyimpannya.

Setelah selesai, dia nyengir lagi ke arahku. “Gomawoyo,” katanya tulus.

“Aish, jangan membuatku merinding dengan basa-basi tidak penting begitu. Pergilah!” usirku padanya. Jangan sampai dia melihatku malu.

Dia mengangguk lalu berpaling pergi.

Kenapa rasanya aku tidak rela ya? “Hey!” panggilku padanya sambil menyiapkan ponsel.

Dia menoleh, dan jepret! Aku berhasil menangkap posenya yang sedang memutar kepala. Kutatap wajahnya yang sedang memandangku dengan raut bertanya-tanya. “Aku benci menghapal nama orang tanpa mengingat wajahnya. Jangan lupa beri namamu di pesan nanti!” ketusku.

Tanpa menunggu jawabannya aku berbalik pergi. Syuting hendak dimulai. Kabar menyebalkannya adalah, sekarang aku harus terpecah konsentrasi akibat memikirkannya.

Tapi tidak. Aku tidak mau jadi seperti Leeteuk. Aku belum mau jadi orang gila. Dia tidak akan bisa menyihirku seperti yang dilakukannya pada Leeteuk!

Kuberi tahu kalian sesuatu. Itu semua, hanya bualanku.

Bahwa aku tidak akan tersihir olehnya, bahwa aku tidak mau memikirkannya, bahwa aku tidak mau jadi cowok bodoh, semua itu kebohongan besar.

Sampai sore, pesan darinya berisi alamat tempat tinggalnya di Seoul menjadi hal terpenting untukku hari itu. Nomor ponselnya yang sudah kusimpan tiba-tiba terlalu sering kupandangi. Foto dadakannya sebentar-sebentar kubuka. Aku bahkan sudah lupa akan kesebelanku pada Leeteuk. Kini aku tak peduli lagi padanya.

Perasaan ini aneh. Seperti antiklimaks yang tidak tepat. Aku akhirnya menyadari bahwa di antara cewek itu dan Leeteuk memang ada sesuatu. Aku menerimanya. Sekaligus menolak kenyataan itu. Tidak, menolak tidak tepat, mungkin ‘seperti menolak’ lebih tepat. Aku menerima Leeteuk berhubungan dengan cewek itu, tapi keberadaan cewek itu di dalam benakku tidak sepenuhnya berarti dia milik Leeteuk. Aku merasa memiliki momenku sendiri dengannya.

Kalau kupikirkan lagi, aku sendiri kebingungan dengan situasi ini. Bahkan ketika beberapa dongsaengku mengingatkan akan pesta kejutan untuk Leeteuk malam ini, ada bagian dari pikiranku yang hilang.

Tertangkap olehku wajah Leeteuk. Dan aku tahu aku harus bisa menekan pikiran bingung dari otakku. Leeteuk lebih penting artinya bagiku daripada cewek ga jelas yang baru kali ini bicara denganku.

Sebelum bergabung dengan yang lain, aku mengetik pesan: Hari ini kami akan selesai larut. Mungkin makan malammu akan berubah jadi makan dini hari. Kutunggu sesaat. Terkirim. Bagus. Sekarang saatnya bekerja.

Sisa malam itu kami habiskan dengan bersenang-senang. Yang menyebalkan, gara-gara janjiku pada cewek itu, aku tidak bisa mabuk malam ini. Padahal harusnya kami bersenang-senang.

Saat akhirnya kami pulang, semua orang sudah terkapar di dalam van akibat kecapekan. Kecuali Leeteuk. Untung tadi aku sudah sempat kongkalikong dengan supir kami, sehingga sekarang kami tidak perlu mengatur rencana di depan mata Leeteuk, yang lagi-lagi sedang menerawang.

Aku berpura-pura tertidur. Padahal sebenarnya aku sedang mengamati jalanan yang kami lewati. Begitu mendekati alamat yang dituju, kubuka ponsel dan kukirimkan pesan pada si cewek aneh itu bahwa kami sudah dekat.

Di sebuah tikungan, supir kami berhenti dan mengatakan bahwa kami telah sampai di alamat yang tadi kusebutkan. Kubuka pintu di sebelah Leeteuk dan kudorong dia keluar. Dia terjungkal jatuh ke jalanan. “Awas kalau kau pulang malam ini!” seruku padanya.

Tepat saat kututup pintu van sambil berseru pada supir kami untuk segera jalan, aku melihat sesosok bayangan keluar dari kegelapan. Perasaan merinding karena kaget langsung berubah jadi merinding karena nafsu begitu melihat siapa sebenarnya sosok itu.

Brengsek! Apa dia pikir semua lelaki itu santa?! Dengan dress super mini begitu apa dikiranya ada lelaki yang akan tetap berakal sehat melihatnya?! Untung saja van kami sudah berjalan pergi jadi aku tidak perlu keterusan melihat adegan sesudah Leeteuk menyadari siapa yang mendekatinya. Kuacuhkan pertanyaan-pertanyaan penasaran dari yang lain dan aku kembali pura-pura tidur. Ketika mereka tidak berhenti juga, aku membentak semuanya, menyuruh mereka tidur. Mereka pun terdiam. Bagus. Paling tidak mereka masih punya rasa takut padaku.

Malam itu aku tidak bisa langsung tidur. Kutunggu-tunggu suara pintu depan terbuka, berharap Leeteuk yang masuk, meskipun aku tahu itu sia-sia. Aku sendiri yang menyuruhnya jangan pulang. Ketika akhirnya aku tertidur, aku bahkan tidak menyadarinya.

Kegelisahanku terus berlangsung selama beberapa hari. Bayangan cewek itu dalam mini dressnya sering mendatangiku, terutama di malam hari sebelum aku berangkat tidur. Tapi semakin hari, bayangan itu semakin memudar. Pada satu titik aku bahkan sudah menggantikannya dengan bayangan Kirsten Stewart.

Sampai hari itu.

Secara mendadak Leeteuk menjadi murung. Kali ini benar-benar murung. Aku bisa melihat bahwa dia sedang menghadapi masalah. Kupikir itu masalah yang cukup serius sebab dia bahkan seperti tidak mampu melampiaskannya pada yang lain. Sewaktu kutanya alasannya, dia tidak menjawab. Hanya tersenyum kemudian mengalihkan pembicaraan. Biasanya kalau sikapnya sudah begitu, itu artinya dia menghadapi masalah yang benar-benar personal. Dia bukan introvert, tapi ada masalah-masalah yang tidak pernah dibaginya dengan orang lain.

Jujur saja aku sedih. Aku tidak tega melihatnya begitu. Dia seperti orang yang melarikan diri ketika melakukan pekerjaan. Dia melakukan semuanya dan seolah melakukannya sambil bermimpi. Ada kalanya aku memergoki dia duduk sendirian di ruang tengah saat semua orang sudah tidur dan lampu sudah dimatikan. Awalnya kupikir dia sedang menelepon cewek itu, tapi ternyata dia hanya duduk melamun di sana.

Aku ingin membantunya, tapi aku sendiri punya masalah. Aku merasa belum siap melakukan kewajibanku mendaftar wajib militer. Aku hanya bergantung pada Leeteuk yang juga mendaftar bersamaku. Itu agak mengurangi keraguanku. Tapi yang kujadikan sandaran malah sedang tidak jelas begitu. Aish, bikin tidak tenang saja.

Dia menepati janjinya untuk membantuku melengkapi dokumen, tapi sepertinya dia tidak terlalu perhatian ketika melakukannya. Aku sempat menegurnya, marah padanya, dia ikhlas tidak sih, membantuku?! Tapi kemarahanku langsung surut seketika waktu dia hanya menunduk memohon maaf.

Akhirnya aku bertanya padanya mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Aku tidak menerima pengelakan. Kudesak terus dia, dan dia memberiku sebuah pertanyaan, “Menurutmu, apakah wanita akan mau menunggu kita sampai wajib militer ini selesai?”

Aku hampir tersedak saking leganya. Jadi semua ini hanya masalah wanita?! Lagi-lagi cewek itu? Di tengah kerjaan kami yang menumpuk, kewajiban kami yang menanti, dia risau karena cewek?! Kutonjok lengannya kesal.

Dia kaget dan tersinggung. Dia bertanya mengapa aku melakukannya. “Kau sudah gila?!” jawabku. “Kalau dia mencintaimu, wajib militer tidak ada artinya! Lagipula lihat Youngwoon! Dia masih bisa jalan-jalan keluar! Jadi kau masih bisa menemuinya! Wajib militer bukan penjara!” aku mendengus. Setengahnya karena bangga aku bisa bicara begitu. Padahal aku sendiri sedang sama kalutnya membayangkan hari-hari berat itu.

Leeteuk menerawang. Lama kami terduduk dalam diam sampai kata-katanya terdengar lagi, “Haha, cinta?” tawanya garing. Kemudian dia melanjutkan dengan kalimat yang berbeda, “Tapi dia bukan orang Korea. Menurutmu dia akan mengerti?”

“Kau tidak bisa membuatnya mengerti?” aku mengajukan pertanyaan bernada tantangan padanya.

Dia makin tertunduk. Jemarinya mengusap alis. Entah kenapa aku merasa dia sedang sangat putus asa. “Kau, tidak akan membatalkan wajib militer ini kan?” tanyaku hati-hati.

Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum, tapi tidak menatapku, “Tentu tidak. Aku akan melakukannya.”

Aku terdiam. Kulingkarkan satu lenganku ke bahunya, lalu berkata, “Kau tahu? Kau bisa menceritakannya padaku kalau kau mau.”

Dia diam saja. Tidak menolak rangkulanku, tapi juga tidak menerimanya.

“Apa dia seistimewa itu?” tanyaku pelan.

Dia mengangguk sama pelannya.

“Cewek liar begitu?” aku mencoba menggodanya.

Berhasil. Dia menoleh cepat ke arahku, pandangannya penuh kemarahan. “Hajima,” geramnya marah.

Kutatap dia dengan pandangan melecehkan, “Wae? Kau sudah menelantarkan kami waktu cewek itu di sini selama beberapa hari. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan kalau sedang bersama. Aku juga punya imajinasi, tau? Menurutku jauh lebih baik saat kau tidak sedang bersamanya.”

Dia menyipitkan matanya marah, kemudian melepaskan rangkulanku dengan kasar. “Inilah kenapa aku tidak bisa menceritakannya padamu!”

“Geureom marebwa!” aku mulai tersulut emosiku sendiri. “Kalau kau benar-benar peduli padanya, coba jelaskan padaku apa yang membuatnya istimewa, sehingga aku bisa ikut melihatnya dan tidak menentangmu seperti ini! Inilah masalahmu. Kau menyimpan semuanya sendiri!”

Dia menatapku selama beberapa saat. “Dia cantik,” jawabnya singkat.

Aku mendengus mendengarnya. “Han Ga In juga cantik,” balasku kesal.

“Kau tidak akan mengerti…” erangnya putus asa.

“Dia nikmat,” sambungku cepat yang langsung disambar oleh pandangannya yang mengancam.

“Wae?!” bentakku. “Kau sudah tidur dengannya! Kalau kau mau bicara masalah fisik, maka itu juga harus dimasukkan sebagai alasan! Tapi yang risau sekarang ini hatimu! Perasaanmu! Bukan fisikmu! Jadi jangan memberiku lebih banyak alasan untuk melihat cewek itu dari segi fisik semata!”

“Gila!” desisnya.

“Kau yang gila!” balasku.

“Memang aku yang gila. Kau juga gila. Dia gila. Semua sudah gila! Dia tidak bisa menungguku! Kami berpisah! Kau puas?!” katanya marah.

Aku tak sanggup bicara. Sebab di balik kemarahannya jelas sekali aku melihat sakit hatinya. Dia benar-benar terluka.

Akhirnya kami hanya saling diam. Lama sesudahnya aku berkata lirih, “Boleh aku memakinya?”

“Kubunuh kau kalau melakukannya,” jawabnya langsung dan tegas.

Dan masalah wajib militer pun menggantung tidak tuntas di antara kami.

Aku tak berani lagi mengusiknya selama beberapa hari. Entah kenapa menurutku kali ini luka hatinya agak terlalu rumit untuk kupahami. Ada hal yang aku tidak mengerti terkait hubungan keduanya. Leeteuk tipe lelaki yang akan menyerah saat menyadari wanita incarannya tidak bahagia dengannya, hatinya terlalu hangat untuk melihat wanita yang dicintainya tersiksa, jadi dia lebih banyak mengalah dalam suatu hubungan, kemudian melangkah pergi dengan tegar. Tapi dengan cewek itu, ada sesuatu yang membuat untuk bergerak pun Leeteuk sepertinya tidak mampu. Seolah dia dipaksa menyerah.

Jawabannya aku dapatkan dua hari kemudian.

Saat pulang bersama Leeteuk, dari dalam mobil aku melihat cewek itu. Bersandar kuyu di pagar. Dia tidak melihat mobil kami yang memasuki gerbang. Sepertinya dia sedang melamun. Dan dia sudah berubah. Tubuhnya makin kurus.

Menaiki elevator, kuamati Leeteuk. Wajahnya lelah, dia tampak menyedihkan. Di dalam apartemen pun dia hanya duduk pasrah setelah semua orang pergi. Cewek tadi punya ekspresi yang hampir sama.

Tunggu dulu. Kata Leeteuk mereka sudah berpisah, lalu apa yang dilakukan cewek itu di sini?!. Dia juga tidak seperti gadis-gadis lain di luar sana yang siap sedia dengan kamera mereka. Dia tidak tampak menunggu Leeteuk datang. Malah hanya melamun. Kalau hanya melamun, kenapa harus di depan gerbang kami?

Apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang ini?!

Kuraih telepon dan mencoba menghubungi pos penjaga. Leeteuk sepertinya tidak sadar aku sedang melakukan apa. Seperti biasa dia sedang tenggelam dalam lamunannya. Wajahnya menghadap jendela. Kuminta penjaga menyuruh cewek itu naik. Lalu sesudahnya aku menelepon cewek itu dan memintanya naik. Kubilang saja bahwa aku ada di rumah dan melihatnya, dan ada yang ingin kubicarakan dengannya. Dia mengiyakan dan sebentar kemudian dia bilang bahwa dia sedang naik. Aku pun masuk ke kamar untuk berganti baju.

Sedang berganti baju, bel pintu berbunyi.  Tak lama kemudian aku mendengar pintu dibuka. Lalu sunyi.

Sewaktu aku keluar, kulihat Leeteuk dan cewek itu sedang menatap satu sama lain. Keduanya tampak sama-sama kaget, raut mereka sama-sama bercampur aduk. Terpana, itu yang paling jelas.

“Wasseo?” tanyaku pada cewek itu. Sial, dia mengacuhkanku. Tatapannya hanya pada Leeteuk. “Ya! Kau tak tahu terima kasih ya? Padahal sudah kuundang kau masuk!”

Kurasakan Leeteuk menatapku penasaran. “Mwo?! Aku melihatnya bersender di pagar. Menyedihkan sekali. Seperti anjing yang dibuang. Jadi aku minta kepada penjaga untuk mengijinkannya naik!”

“Terima kasih,” cewek itu akhirnya berbicara juga. Tapi tidak terlihat tanda-tanda dia akan masuk. Leeteuk juga tidak terlihat ingin mengajaknya masuk.

Yah, aku ingin mereka masuk. Memangnya aku mau ada orang melihat keduanya hanya berpandangan sepanjang masa selama hayat dikandung badan di depan pintu?! Namun melihat ekspresi mereka aku tak sampai hati mengeluarkan kata-kata sadisku, “Kalian mau bicara di pintu saja? Tidak mau memanfaatkan kesempatan dengan masuk dan bicara layak di dalam?”

Cewek itu akhirnya mengambil inisiatif memasuki tempat kami.

Leeteuk sepertinya tidak tahan lagi. Dia memanggil cewek itu dengan suara bergetar, menanyakan alasan kedatangannya kemari, dan dalam sekejap mereka berdua sudah melekat satu sama lain. Karena ini bukan pertama kalinya aku melihat mereka berdua berciuman, aku sudah tidak heran lagi. Sebenarnya, aku malah agak ingin tahu kenapa cewek itu menyukai Leeteuk. Ingin tahu bagaimana Leeteuk menciumnya sampai mereka berdua tidak bisa melewatkan waktu bersama tanpa bersentuhan intim satu sama lain. Jadi aku berdiri di sana mengamati mereka dengan tertarik.

Hampir saja aku kelepasan tertawa melihat Leeteuk kaget menyadari aku masih melihatnya kalau dia tidak keburu membuatku tersinggung dengan membentakku, “Yha!”

Dengan jengkel aku menantangnya. Kulipat tangan di depan dada dan berkata, “Aku menunggu kelanjutannya.”

“Ciss, kau gila!” Leeteuk mendesis sambil menarik tangan cewek itu ke ruang tengah.

Kuikuti mereka, “Bukannya berterima kasih, kau malah mengumpat? Sopan sekali kau!”

“Lalu kau pikir kami ini apa?! Film porno?!” bentak Leeteuk sambil berusaha membatasi jarakku dengan cewek itu. Ciss, lagipula siapa yang ingin dekat-dekat dengannya?!

“Boleh juga sih kalau dianggap begitu,” kutanggapi kemarahan Leeteuk dengan sinis.

“Bajingan. Kau pikir dia tontonan?” aku bisa mendengar kemarahan Leeteuk mulai memuncak.

“Kalau kalian tidak suka ditonton kenapa kalian tidak langsung saja masuk kamar?!” balas kubentak si Leeteuk. Dengan kesal aku duduk di sofa menghadapi cewek itu. Dasar cewek liar.

“Bukan urusanmu! Kau tidak tahu apapun!” Leeteuk mencoba mengusirku.

Bukan urusanku?! Bukan urusanku dia bilang?! Setelah apa yang kulakukan untuknya dan cewek ini, dia bilang bukan urusanku?! Setelah semua perasaan yang kutekan dalam-dalam baik perasaan untuk cewek mistis ini maupun perasaan mengalah ketika dia uring-uringan setiap saat, dia bilang ini bukan urusanku?! Setelah semua tindakanku menahan diri tidak menonjoknya, dia bilang bukan urusanku?!

“Urusanku!” akhirnya aku berteriak juga. “Kau kayak orang mati beberapa hari terakhir ini. Dan melihat betapa kurusnya dia sekarang,” kugedikkan kepala ke arah cewek itu, “orang-orang akan mengira dia penderita bulimia. Kalau kalian memang saling rindu begitu kenapa tidak bersatu saja?! Jangan bikin repot orang di sekeliling kalian!” Dasar pasangan bodoh!

Cewek ini juga, menyebalkan sekali dia. “Kau!” tudingku padanya, “Kau buat leader kami jadi orang aneh. Pekerjaannya banyak yang terbengkalai gara-gara memikirkanmu!”

Kutatap lagi Leeteuk, “Sudah begitu kau bilang ini bukan urusanku?! Super Junior itu urusanku! Kau adalah bagian dari Super Junior! Jadi kau juga urusanku!”

Leeteuk seperti hendak mengamuk kumarahi begitu, tapi cewek itu bertingkah seolah aku tidak ada di sana. Dia meraih tangan Leeteuk dan berkata pelan, “Pesawatku berangkat pukul 4 besok pagi.”

Mendengar itu dan melihat ekspresi mukanya, aku serasa disiram air es. “Pesawat?” tanyaku. Sesuatu yang tidak enak mulai merambati perasaanku.

Mereka berdua mengacuhkanku. Cewek itu mulai mendesakkan tubuhnya ke arah Leeteuk sambil menangis. Ini pertama kali aku melihatnya menangis, dan jujur saja rasanya belum pernah aku melihat orang yang begitu menderita dengan tangisan yang seperti anak cengeng begitu.

“Aku tak bisa, Jungsoo-ya..” dia mulai terisak-isak. “Aku melihatmu di televisi dan aku tak bisa mengacuhkanmu. Hari ini aku berjalan di kota seharian untuk belanja oleh-oleh, tapi aku malah seperti orang hilang. Hanya teringat padamu. Tahu-tahu sudah berada di depan rumahmu. Aku ingin pergi saja, tapi rasanya aku tak sanggup. Tak bisa meninggalkanmu tanpa bertemu lagi denganmu. Tolong katakan ‘jangan pergi’ padaku, Jungsoo-ya..” ucapnya di leher Leeteuk.

Aku tak bisa mengalihkan tatapanku darinya. Dia akan pergi? Kemana? Naik pesawat, jauhkah? Aku tak lagi mendengar apa yang dikatakan Leeteuk. Tapi aku sudah terlanjur terpusat pada kata-katanya tadi yang membuat rasa gelisahku memuncak. Bahwa dia akan pergi.

Aku terus menatapnya. Tubuhnya yang bergetar karena tangisan. Diamnya yang pilu. Lalu kata-katanya yang meluncur begitu saja dari bibir yang sudah basah oleh air mata, “Ayo kita ke kamar, Jungsoo-ya. Menghabiskan apa yang tersisa.” Kata-kata yang meluncur disertai kecupan di bibir Leeteuk.

Rasanya dari semua ciuman mereka yang pernah kusaksikan, ini yang paling membuatku sakit hati.

Belum lagi pulih kekagetanku menyadari cewek itu akan pergi, kesadaranku datang, membuatku menduga-duga mungkinkah ini yang membuat Leeteuk begitu terpuruk beberapa hari belakangan? Bahwa cewek ini akan pergi dan mungkin tak akan kembali?

Lalu aku bagaimana? Entah kenapa pertanyaan itu muncul. Dari semua hal yang mungkin kupikirkan, aku tidak tahu mengapa pertanyaan itu yang muncul di benakku. Apa pula hubungan kepergian cewek itu denganku? Kenapa aku harus bertanya-tanya tentang diriku sendiri yang dikait-kaitkan dengan kepergiannya?!

Aku tak tahu. Tak mau tahu.

Hanya satu yang kutahu. Itu pun karena sudah terlanjur tahu. Bahwa tiba-tiba aku merasa tidak aman. Rasaku gelisah. Aku seperti kehilangan pijakan. Kalau sekarang aku sudah bisa melihat mereka berdua bermesraan, kenapa harus ada ujian baru lagi? Kenapa dia harus menjauh? Kalau Leeteuk saja menyerah untuk berdekatan dengannya, apa artinya aku tak punya kesempatan sama sekali merasakan dia bernafas di udara yang sama denganku?

Kenapa aku bisa merasa begini? Bukankah aku sudah melupakannya?

Suara pintu kamar Leeteuk yang ditutup membangunkanku dari rasa bingung. Sejak kapan aku ada di kamarku? Apa mereka sedang bercinta sekarang? Dan setelah itu cewek itu akan pergi kah?

Lalu aku bagaimana?

Kutekan dadaku yang tiba-tiba terasa sakit. Kurasa aku tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Aku butuh minuman.

 

 

KKEUT.


Iklan