Tag

, , ,

Episode: Apart

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Yeppo (Beauty/Bee)

Genre: adult romance

PS: mengandung makna yadong (??), tapi ga ada adegannya.

OST: Timeless-Zhang Li Yin feat. Xiah Junsu

Url: http://wp.me/p1rQNR-7X

******************************************

 

Bee POV

Apa yang harus kulakukan kalau aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu?

Aku mengambil ponsel yang terabaikan di atas meja. Monitor laptopku menyala dan gelombang radiasinya memancar di kamarku yang menjadi satu-satunya ruangan yang masih terang. Kutatap apa yang ada di dalamnya. Kutatap dengan kosong. Pikiranku tak bisa kupaksakan tetap berkonsentrasi pada fakta yang kutemukan, yaitu bahwa rumput lautku ternyata salah satu makhluk invasif paling oportunis hampir di seluruh daerah yang diinvasinya.

Benak dan jiwaku justru terus menyerukan invasi seorang Jungsoo ke dalam hidupku. Setelah aku memaksa meninggalkannya di Seoul, aku memang menjadi lebih berkonsentrasi menulis, tapi aku melakukannya dengan kepayahan. Setiap kali aku memejamkan mata, aku hanya melihat sosoknya. Kalau aku ingin beristirahat sebentar, yang terjadi malah aku terbengong tanpa melakukan apapun kecuali mengingat kenangan akan dirinya.

Sungguh membuang-buang waktu.

Aku jadi tak berani beristirahat dan terus-menerus bekerja hanya agar tak mengingatnya. Karena setiap kali mengingatnya, hatiku dilanda semua gundah yang ada di dunia, tubuhku meradang ingin berdekatan dengannya. Semakin aku berkeras bahwa aku harus menyelesaikan tulisanku, semakin besar keinginanku berlari kembali ke pelukannya di Seoul sana. Menyebalkan.

Kuamati ponsel yang kini sudah terbuka di folder contacts. Jempolku sudah menempel di huruf J, bersiap mengetikkan kata Jungsoo. Telingaku menangkap desah nafas yang kukeluarkan dari mulut. Bunyinya sumbang penuh keraguan. Aku tak tahu apakah meneleponnya adalah langkah yang tepat. Kalau kutelepon dirinya, aku akan bingung harus bicara apa, padahal sejujurnya aku sangat ingin mendengar suaranya. Tarikan nafasnya saat berbicara, bunyi halus gerakan tubuhnya saat menerima teleponku, aku ingin menemukan itu semua.

Klek. Kututup kembali ponselku. Aku memutar kursi kembali menghadap layar monitor. Berusaha memahami kalimatku sendiri mengenai kandungan lipid pada Gracillaria textorii yang sejak dua tahun lalu telah kugauli. Ah, tapi kan lipid bukan kajian utamaku, sebaiknya aku membacanya nanti saja.

Aku kemudian menurunkan lembar kertas digitalku hingga menemukan bagian yang membahas mengenai kemampuan regenerasi fragmen G. textorii hingga mampu bertahan di area baru yang sama sekali berbeda kondisi lingkungannya.

Setelah satu menit menatap nyalang, aku sadar bahwa aku hanya menarikan setiap huruf yang sudah kuketikkan lama. Mereka mungkin membentuk kata, tapi di mataku mereka hanya menari dan jejingkrakan karena mataku tak menangkap maknanya sama sekali. Mereka tidak masuk dalam zona buta penglihatanku melainkan memposisikan diri sebagai figuran dalam zona kacau di otakku.

Figuran bagi bayangan Jungsoo.

Kubanting kasar punggungku menyentuh sandaran. Kuusap wajahku seenaknya. Lalu tanganku pun tak luput dari gerakan mengucek mata dengan penuh kekesalan. Aku sangat ingin berteriak menyalahkan Jungsoo, tapi sebenarnya aku sudah meneriaki diriku sendiri karena tak mampu mengenyahkan pria itu dari pikiranku.

Dengan erangan kalah aku meraih ponselku. Kubuka contacts. Kutekan tombol panggil. Kuletakkan ponsel di telinga. Kudengar sampai ada nada tunggu. Kumatikan pada secuil nada tunggu pertama.

“AAAAARGH!” aku berteriak sebal. Aku tidak bisa! Aku tidak sanggup! Kulemparkan teleponku ke atas kasur kemudian berbalik ke arah monitor.

Khou et al in 2007 reported that most fragments grew new fronds and/or new stolons and growth in some fragments occurred after only 1 day. Even though this was not the case with G. textorii, but the ability of the latest…” Kuputuskan untuk mulai membaca semua tulisanku sendiri keras-keras. Kalau memang aku butuh tambahan untuk meningkatkan konsentrasi, mungkin ini bisa berhasil.

Crap.

Tidak, ini sama sekali tidak berhasil. Selain mataku membuat tulisanku bertingkah aneh, telingaku malah menganggap suaraku sendiri sedang bermusik, bukannya membaca karya ilmiah. Lama-kelamaan aku kembali melihat Jungsoo.

Lelaki itu menyentuh pundakku yang terbuka. Tangannya menjalar turun ke arah perut. Kembali lagi mengelus lenganku. Menekan pundakku ke belakang, membiarkan bagian belakang kepalaku menyentuh perutnya yang rata dan bersandar dengan nyaman di sana. Kemudian kepalanya turun dan dia mengecupku singkat dan sayang di kening.

Kusentuh keningku. Kuraba. Dan aku tersenyum. Mulutku melengkung dan nafas pendekku mengantarkan sebuah frase singkat, “Terima kasih.”

Teori Khou terpampang jelas di hadapanku. Senyumku pun menghilang. Bayangan Jungsoo mencium keningku terasa sangat manis. Pernahkah dia melakukannya? Menciumku di kening? Roda ingatan berputar dan tak menemukan satu pun memori tentang itu. Tidak. Dia tidak pernah menciumku di kening. Setiap kami bertemu, pelepasan yang kami cari adalah bibir. Tak sekejap pun kami memikirkan tempat lain untuk melekatkan bibir kami. Yang di wajah, tentunya. Bagian tubuh lain itu hal yang berbeda.

Ada sengatan kecil terasa di hatiku. Dia begitu bernafsu padaku. Tak bisa dipungkiri aku pun begitu. Senyumku terbentuk sedikit dan Mr. Khou beserta teman-temannya langsung kuabaikan. Pemikiran untuk menyatakan tuntutan akan ciuman di kening membuatku bersemangat menelepon Jungsoo. Dengan menggelosor aku tengkurap di atas kasur. Tanganku sudah menggenggam ponsel. Sesaat kemudian aku sudah meletakkannya di telinga dan menunggu datangnya nada tunggu.

Yang langsung kumatikan pada secuil ujungnya seperti tadi.

What the hell am I doing?! Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?! Menelepon Jungsoo pada jam segini hanya untuk mengatakan aku ingin dia menciumku di kening saat kami bertemu?! Apa aku sudah gila?!

Pertama, aku harusnya membaca, membaca, membaca, dan belajar. Kedua, ini masih jam sibuk baginya, dia pasti sedang bekerja. Ketiga, siapa aku memintanya menciumku di kening? Hanya karena aku menganggapnya manis maka aku harus mengatakannya pada lelaki itu? Apa yang terjadi? Apa aku mulai bergantung padanya? Mengharapkannya? Mati saja!

Dengan kesal kubawa ponselku keluar kamar. Kugeledah dapurku dan kumasukkan benda itu ke dalam termos kopi yang kutemukan. Kuulir tutupnya serapat mungkin. Kumasukkan ke dalam kulkas. Beristirahatlah dengan tenang, Ponsel.

Langkahku menghentak ketika kembali ke kamar. Jok kursiku berhembus kencang sewaktu pantatku menghantamnya keras. Kutampar kedua pipiku beberapa kali lalu melipat tangan di atas meja. Cara duduk yang selalu diajarkan guru-guruku saat aku masih kelas 1 dan 2 SD dulu.  Mataku menyipit memperhatikan tulisan dan benakku mengancam Mr. Khou, jangan berani-berani untuk menari lagi, Mister! Aku akan mengutukmu dengan kekuatan ratu iblis kalau kau berani melakukannya. Bahkan bulan tak akan sanggup menghukumku!

Lima menit.

Sepuluh menit.

Sepuluh menit tiga puluh detik, lenganku mulai berkeringat.

Menit ke sebelas, daguku kuletakkan di atas lipatan tangan. Aku menyadari sesuatu.

Aku celaka!

Menyerah, aku meraih mouseku dan menghubungkan laptopku pada internet. Biasanya melihat-lihat koleksi foto teman-temanku yang dishare di internet bisa memulihkan semangat. Teman-teman yang sekarang ini tak kuketahui dengan jelas keberadaannya—karena mereka tersebar entah kemana di seluruh pelosok bumi ini—seringkali adalah ilmuwan sekaligus fotografer handal. Tidak sepertiku yang hanya bisa menulis, mereka memiliki kemampuan menyebarkan ‘penglihatan’ mereka pada dunia. Dari gambar yang terekam saat paus sperma meloncat hingga kibasan ekor krustasea mikro penghuni cangkang bivalvia kecil, mereka punya semuanya. Dan aku punya aksesnya. Jadi yang perlu kulakukan hanyalah mengkoneksikan jaringan internetku dan mengetikkan alamat website mereka.

Wah, banyak juga foto-foto baru. Apa itu, Christine lagi-lagi menemukan Nudibranch cantik? Kulihat kapan dia terakhir kali mengunggah koleksi fotonya. Hah! Baru minggu lalu. Kubaca pengantarnya.

“Eksotis. Tak ada lagi kata yang lebih tepat. Kau datang ke sana, bertemu mereka yang tak bisa Bahasa Inggris, dan rasanya kau pulang ke tempat keluarga besarmu berada. Di daerah Kepulauan Seram di Indonesia, kau bisa menemukan apa yang kau pikir tak pernah ada sebelumnya. Masih ada, ragam biodiversitas yang selalu kita pikir telah punah, masih bisa kau temukan di sana. Aku mengatakannya karena aku telah melihatnya. Paling tidak, aku bisa memberimu sedikit buktinya melalui foto-fotoku.”

Wah sial, anak itu lagi-lagi ke Indonesia. Aku yang orang Indonesia saja sudah tiga tahun belakangan tak melihat tanah tercinta itu. Aku jadi merasa iri padanya. Kulihat koleksi foto-fotonya, dan mau tak mau aku tersenyum melihat 80% isinya adalah Nudibranch, si siput laut cantik yang tak bercangkang. Dasar maniak Nudibranch! Kucoba membuka situs lain. Semakin lama aku semakin tenggelam dalam penjelajahanku di internet.

Tulisanku sepenuhnya terlupa. Hanya saja yang parah adalah, Jungsoo tidak bisa terlupa. Gawat. Mungkin seharusnya aku meneleponnya mengatakan bahwa kami tak seharusnya bertemu lagi. Dia itu lebih mengerikan dari ganja dan nikotin! Saat aku menikmati indahnya foto-foto hasil bidikan temanku mungkin aku bisa lupa padanya. Tapi hanya sebentar kemudian, saat aku beralih ke laman-laman selanjutnya, ingatan mengenai Jungsoo menyerbu lagi. Bagai iklan keras kepala berbudget besar yang terus-menerus ditayangkan secara eksklusif dalam pikiranku. Sementara tesisku benar-benar kalah pamor.

Dengan putus asa aku alihkan bukaan window ku ke searching page by Mbah Google. Setengah melamun aku ketikkan nama lelaki itu. Jungsoo.

Tidak sampai satu menit, keluarlah 1.050.000 hasil yang mencantumkan nama Jungsoo. Bukan namanya yang tercantum di bagian paling atas, tapi dia menempati urutan ketiga. Kuulir terus halaman itu sampai ke bawah, dimana kutemukan penawaran gambar untuk Jungsoo oleh Mbah Google. Baru di sana aku menemukan wajahnya. Banyak. Banyak sekali.

Aku terkesiap menyadari bahwa dia bisa memiliki banyak ekspresi. Tersenyum. Serius. Ragu. Malu. Menangis. Aku bisa menemukan semuanya di internet. Kupikir-pikir lagi aku selama ini baru melihat wajah tersenyumnya. Oh, tapi aku juga pernah melihatnya benar-benar marah waktu itu, sewaktu dia mencemburui masa laluku. Lalu ekspresinya ketika kami berpisah di depan rumah temanku dua bulan yang lalu itu, ekspresi apakah itu? Terluka? Sepertinya bukan, tapi aku tidak yakin.

Sebuah fakta merasuk dalam benakku. Begitu banyak orang-orang yang mengamatinya. Begitu banyak wanita yang memperhatikan tindak-tanduknya. Lantas bagaimana denganku? Aku tak pernah memperhatikannya. Tapi haruskah aku? Aku tak pernah peduli pada pemberitaan tentangnya. Namun mestikah aku? Apa kapasitasku kalau aku melakukannya?

Aku hanya tahu kami menikmati interaksi kami. Dunia kami jauh berbeda. Urusan kami sama sekali tak sama. Apa yang kuanggap penting tidak sepenting itu di matanya. Kuat dalam perasaanku bahwa hubungan yang kami miliki hanyalah sebuah hubungan timbal balik. Simbiosis mutualisme.

Kami saling tertarik. Kami sudah dewasa. Kami menyalurkannya. Tapi kami tidak berkomitmen. Kami tidak saling memiliki. Hidupnya adalah miliknya, sementara hidupku milikku. Satu hal yang menjadi perjanjian kami, aku tidur hanya dengannya, sementara wanita yang ditidurinya saat ini hanya aku. Ekpresi kepuasan yang selalu kulihat saat kami tidur bersama, itu tidak ada wanita lain yang melihatnya. Paling tidak saat ini.

Benarkah demikian? Tunggu dulu, seingatku hanya aku yang berjanji padanya bahwa aku tak akan berpaling darinya selama kami masih tidur bersama. Dia tidak pernah mengucapkan hal serupa itu. Apa dia juga berhubungan dengan wanita-wanita lain?

Rasanya ada sebentuk perasaan mengganjal begitu aku memikirkan hal itu. Tubuhku menegang. Pinggulku telah sedikit terangkat hendak mengambil ponsel di kulkas. Namun rasa raguku menang. Siapa aku menuntutnya menjelaskan? Akulah yang menyerahkan diri tanpa syarat padanya. Lalu adakah alasan bagiku sekarang untuk menuntut keberadaannya hanya untukku?

Di depan monitor aku tercenung.

Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Selama ini kuanggap kebersamaan kami selalu memuaskan satu sama lain. Aku bahagia saat dengannya. Dia bahagia saat bersamaku. Setidaknya terlihat begitu. Belum pernah aku memikirkan apa yang dilakukannya saat tidak denganku.

Kucoba membayangkan Jungsoo bersenang-senang dengan wanita lain. Mereka sedang bekerja bersama. Lalu memutuskan malam masih terlalu dini untuk diakhiri. Keduanya sama-sama tak punya kesibukan lain. Wanita itu cantik dan menarik. Jungsoo lelaki sehat. Dan kuat—pemikiran itu membuat wajahku terasa agak panas. Satu dua gelas alkohol menemani percakapan mereka. Si wanita menyilangkan kakinya, mata Jungsoo menangkap isyarat itu. Sebagai lelaki bebas, tentu sah-sah saja bukan, menerima janji malam indah yang ditawarkan seorang wanita?

Bayanganku berhenti sampai di situ. Apakah yang kurasakan? Tak ada. Aku tak merasakan apapun. Justru aku bingung. Apakah Jungsoo akan memutuskan melakukannya di hotel atau di asrama seperti yang kami lakukan waktu itu?

Tapi bukan itu masalahnya kan?!

Aku menggelengkan kepala. Sekarang aku menopang daguku dengan satu tangan. Mataku kembali pada monitor sambil setengah menerawang. Ada satu gambar Jungsoo yang membuatku tersenyum. Membuat tanganku bergerak otomatis mengeklik gambar tersebut. Ingin melihat versi full sizenya. Gambar itu ternyata mengarahkanku pada situs berbahasa Indonesia. Dengan tertarik aku membaca situs tersebut.

15 menit. Itu yang kuperlukan untuk membacanya. Begitu selesai, aku menggeleng-geleng tak percaya. Apa yang kubaca adalah semacam cerita pendek. Ceritanya sedih, dan dari gaya bahasanya aku bisa menebak pengarangnya masih remaja. Anak yang menulis ini pasti memiliki daya imajinasi luar biasa. Dia membayangkan dirinya berpasangan dengan Jungsoo kemudian berani menuangkannya terang-terangan di internet? Wah, hebat. Aku baru tahu bahwa Jungsoo ternyata cukup berpengaruh untuk membuat seorang cewek berkhayal tentangnya.

Aku mengulirturunkan lagi halaman itu dan membaca komentar-komentar di bawahnya.

Huaaa, Jungsoo Oppa, kasian sekali dirimuuu.. Tenang aja, biar Minjung sama Donghae. Aku masih di sini untuk Oppa.. *hug*”

Hmm, ada lagi cewek yang mengkhayalkan Jungsoo rupanya.

Unniiiiee.. annyeong, aku reader baru. Waduh, jarang2 nih baca ff tentang appa (baca: Teukie Appa), abisnya biasku KyuPpa sih. Tapi kok endingnya begitu? Kasian dong appaku dibikin sedih.. Oh iya, bikinin ff tentang KyuPpa dong, Unnie..”

Reader baru? Jadi pembaca blog ini banyak? Well, dari indikasi jumlah komentar sih sepertinya begitu. Ff tentang Jungsoo? Apa sih ff itu?

Wah, daebak! Kelamnya nyata banget. Suka nih ff yang kelam-kelam begini. Apalagi kalo castnya Jungsoo. Lanjut, Thor!

Hmm, jadi pengarangnya namanya Thor. Nama Indonesia yang aneh. Tapi kata ff disebut-sebut lagi. Apa ya ff itu? Jemariku memindahkan kursor ke arah jendela pencarian Mbah Google. Kuketikkan kata cari:  “ff”.

Muncullah 753juta hasil pencarian mengenai ff. Tiga halaman pertama semuanya tentang Final Fantasy. Setahuku itu nama game. Tapi yang kubaca tadi tidak mungkin pengantar game, kan? Rasanya tidak pas. Lalu aku melihatnya. Entah di bagian keberapa, muncul sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan game fantasi itu. FFIndonesia.

Hmm, sepertinya Indonesia menjadi negara yang cukup populer di dunia Mbah Google. Kubuka link tersebut dan semakin aku membacanya, semakin mataku terbuka.

Dua jam kemudian mataku sudah perih karena terus membuka link demi link. Membaca cerita demi cerita. Sekejap saja aku tahu apa yang dimaksud dengan ff, Thor, reader, dan istilah-istilah lain yang sama sekali baru untukku. Sungguh, aku takjub bahwa ternyata orang Indonesia sekreatif ini. Kupikir mereka masih berlomba menulis buku. Ternyata, tak jadi buku, publish di internet pun jadilah.

Dalam waktu dua jam itu, aku terus menelusuri cerita-cerita dengan kaitkata Jungsoo dan Leeteuk. Mereka sungguh kaya akan imajinasi. Semua versi Jungsoo bisa kutemukan di sana. Dari versi dewasa dan bertanggung jawab, sesuai perannya sebagai leader kelompoknya, sampai versi Jungsoo yang egois dan jahat. Dari perannya sebagai anggota Super Junior, hingga perannya sebagai seorang ibu yang memiliki anak bernama Malin Kyundang dan suami seorang Kangin yang memperalat Utada Hikaru*. Cerita yang terakhir berhasil membuatku hampir terjatuh dari kursi saking lucunya.

Dan aku takjub. Melihat betapa banyak perhatian diberikan untuk Jungsoo melalui karya-karya anak Indonesia. Apakah di Indonesia banyak yang menyukai Jungsoo? Apakah perhatian itu juga datang dari seluruh dunia? Tiba-tiba pemikiran itu meresahkanku.

Baru aku sadar bahwa Jungsoo yang selama ini kukenal benar-benar memiliki dunia yang luas. Perhatian mereka pada Jungsoo itu nyata. Tidak seperti bayangan asal yang tadi coba kubangun. Ternyata begitu banyak orang yang mengharapkan Jungsoo menjadi bagian dari hidup mereka. Sementara aku hanya bagian hidupnya yang tertempel angin-anginan. Bayangan bahwa ada banyak cewek yang bersedia memberikan segalanya bagi Jungsoo membuatku jengah.

Akhirnya aku menutup semua jendela mengenai fanfiction yang sedang kubuka. Tiba-tiba saja nafasku sesak membayangkan aku sendiri sementara mereka berbanyak, dan kami sama-sama mengharapkan Jungsoo.

Benarkah aku mengharapkan Jungsoo? Yah, menurutku itu tidak sepenuhnya salah. Memang terkadang aku menginginkannya teramat sangat. Namun kadang aku juga nyaman tanpa keberadaannya. Yang terakhir rasanya semakin lama semakin terasa sebagai kebohongan. Aku jadi sering menginginkannya dekat denganku. Sejak kedekatan kami yang intens dua bulan yang lalu, aku selalu menunggu telepon darinya.

Sayangnya tidak begitu dengannya. Teleponnya sekarang datang paling cepat 4 hari sekali. Padahal sebelumnya dia menelepon hampir tiap malam. Mungkin dia sudah mulai bosan padaku. Sementara aku baru mulai benar-benar memikirkannya, mengharapkan suaranya menyapaku. Beberapa kali aku mencoba meneleponnya dulu, tapi keraguan selalu melanda. Kupikir dia pasti sibuk, jadi aku tak tahu kapan waktu luangnya agar kami bisa bicara dengan leluasa. Atau begitu waktu sudah malam, kupikir dia sudah tidur. Atau saat jam makan siang, aku tak ingin mengganggu waktu istirahatnya.

Pernah sekali aku benar-benar meneleponnya, dan kami bicara panjang lebar. Dia terdengar gembira. Aku ingat saat itu aku juga gembira mendengarnya gembira. Rasanya begitu menyenangkan. Tapi aku tak pernah melakukannya lagi. Selalu, keraguan lebih besar menguasai perasaanku.

Sekarang ini, aku sangat ingin mendengar suaranya. Haruskah aku meneleponnya? Setelah menemukan karya-karya itu, ada sekelumit rasa cemas yang tak mampu kuenyahkan. Aku ingin mendengar suaranya. Merasa dekat dengannya. Menyerap rasa bahagia yang selalu menelusup jika dia menanyakan keadaanku. Aku juga ingin tahu kabarnya. Sudah seminggu sejak terakhir kami bicara. Dia tak lagi meneleponku seperti yang—ternyata—selalu kutunggu-tunggu.

Dengan mata menerawang, aku bangun dari dudukku dan beranjak ke dapur. Aku butuh penenang. Aku akan minum dan memikirkan semuanya baik-baik sebelum memutuskan meneleponnya atau tidak. Ini cukup besar artinya untukku. Kalau aku menuruti keinginanku menghubunginya sekarang, aku tahu bahwa perasaanku akan bergerak satu langkah lebih maju. Makin membutuhkannya. Dan tak ada jalan kembali.

Maka aku harus memikirkannya baik-baik.

Selanjutnya aku hanya tahu bahwa aku sudah duduk di tepi tempat tidur, dengan ponsel melekat di telinga dan gelas kosong di satu tangan yang bebas. Tubuhku tegang menunggu nada tunggu di sambungan terputus oleh suara Jungsoo. Benar-benar tak ada lagi ingatanku akan tesis. Fakta bahwa besok pukul 9 pagi aku harus mempertanggungjawabkan tulisanku dalam acara yang  disebut Sidang Akhir, berubah menjadi hanya mimpi. Tidak nyata.

Hanya debaran perasaanku menunggu jawaban Jungsoo yang nyata.

 

Jungsoo POV

Pekerjaan sepertinya tak pernah ada habisnya. Latihan, rekaman, pemotretan, promosi, talkshow, manggung mengisi acara, badanku rasanya lelah sekali. Seperti hampir patah.

Kondisi itu rasanya tambah buruk karena kerinduanku pada Yeppo. Sedang apa wanita itu sekarang? Apa ada aku di pikirannya? Sedikit saja, aku ingin dia mengingatku. Meski rasanya itu terlalu berlebihan. Buktinya dia tak pernah meneleponku. Hanya sekali dia melakukannya, dan itu hampir membuatku kehilangan kendali saking senangnya. Aku hampir menangis ketika kami harus memutuskan sambungan telepon. Aku benar-benar lelaki payah.

Sejak dia kembali ke Jejudo dua bulan lalu, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak sering-sering meneleponnya. Alasannya banyak. Kesibukanku tidak termasuk di dalamnya. Dia tampak sangat frustasi dengan kemajuan tulisannya, sehingga aku tidak ingin merusak konsentrasinya. Dia juga sepertinya risih dengan tingkah lakuku yang ingin mengikatnya, jadi aku tidak mau mendesaknya. Selain itu aku ingin melihat sejauh mana aku bisa bertahan tanpa mendengar suaranya saat kami jauh, maka aku menahan keinginanku. Meski berat sekali rasanya, tapi kurasa aku melakukannya dengan cukup baik.

Pagi ini semua orang berangkat dalam diam. Sudah beberapa tahun kami selalu seperti ini. Kami sudah bersama terlalu lama, jadi sudah tahu apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Tidak, tentu saja kami tidak bertengkar. Tapi rasanya seiring makin lamanya kebersamaan kami sebagai suatu kelompok, semakin banyak hal yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Lagipula pekerjaan kami semakin banyak. Kami biasa terpisah-pisah dalam bekerja, jadi di awal hari kami biasa menyimpan tenaga dan baru menceritakan aktivitas kami pada malam hari saat kami berkumpul lagi di asrama. Aku senang mendengarkan semua orang membagi kisah hariannya. Membuatku merasa lengkap sebagai yang tertua.

Lalu biasanya dulu aku menceritakannya kembali pada Yeppo. Wanita itu cukup menanyakan satu kalimat, “Bagaimana harimu?” dan aku langsung bisa bercerita sepanjang malam padanya. Tanggapannya sangat nyaman untukku. Dia mendengarkan—benar-benar mendengarkan—dan tidak suka menyela. Dia tertawa manis ketika aku menceritakan hal lucu dan mendesah ketika aku bercerita hal-hal yang membuatku galau. Terkadang aku sampai lupa menanyakan padanya bagaimana harinya karena dia begitu baik sebagai pendengar. Terkadang dia memberiku solusi atas kesulitan yang muncul. Tidak semua solusinya berguna karena pola hidup kami berbeda sehingga apa yang dipikirkannya tidak selalu pas diterapkan dalam duniaku, tapi aku senang dia mencobanya. Aku senang dia cukup peduli padaku sampai mau memberikan pendapat.

Sekali lagi, itu dulu. Dua bulan belakangan tidak seperti itu. Begitu kerasnya aku menahan diri, aku sampai lupa menceritakan apa yang yang ingin kuceritakan padanya. Akhirnya kalau bertelepon, kami lebih sering terdiam dengan canggung. Kalau saja dia ada di sisiku, pasti aku sudah akan memanfaatkan kediaman itu dengan menggerayangi tubuhnya.

Satu lagi kelemahanku. Tubuhnya. Mengapa dia begitu menarik hingga membuatku tergila-gila? Padahal kalau dipikir-pikir, kami hanya bertemu setiap beberapa bulan sekali, tapi bayangan akan tubuhnya yang terasa hangat dan meleleh di bawah sentuhanku tidak pernah meredup sedikitpun sekalipun aku sedang di tengah pertunjukan. Parahnya, tubuh wanita lain seolah tidak berarti di mataku walau mereka termasuk kategori cewek luar biasa seksi. Kurasa ini sudah tidak sehat. Aku terlalu terobsesi padanya.

Kuletakkan naskah yang sedari tadi kugenggam di tangan. Kupandangi Heechul dan Eunhyuk yang sedang lahap menyantap makanannya masing-masing. Sejenak pikiranku teralihkan pada keduanya. Dua orang yang sama-sama tidak senang diganggu saat makan. Dua biang keributan yang menjadi luar biasa diam ketika berdampingan. Dua orang yang sama jahil tapi berbeda level kesabaran. Yang satu akan memilih diam dan menangis saat menemui kemarahan dan yang satunya lagi akan menyebabkan kiamat lokal ketika tersinggung.

“Ya, neo wae geurae? Tidak makan? Sudah, letakkan dulu script itu. Ini waktunya makan siang!” The King of Evil, si Kulit Susu, Kim Heechul menegurku. Aku tersenyum sedikit padanya lalu kembali mengangkat sumpitku. Baru satu suapan, terdengar lagi suaranya, “Kau sudah mengembalikan formulirnya?”

Deg. Hatiku mencelos. Antara aku dan Heechul ada satu pembicaraan yang tidak mungkin ditimpali oleh yang lain. Yaitu pembicaraan mengenai wajib militer. Awal tahun ini alamat kami didatangi oleh surat berisi formulir yang harus diisi data diri untuk kepentingan wajib militer. Sesuai rencana, kami memang akan bergabung dengan militer di akhir tahun ini. Rencana yang sudah lama sekali, tanpa aku memperhitungkan kehadiran Yeppo dalam hidupku.

Sekarang aku benar-benar gelisah. Kupandang Heechul sekilas dan kukatakan bahwa aku sudah selesai mengisinya tapi belum kukembalikan pada negara. Heechul meminum airnya lalu berkata, “Kalau begitu kita kirim bersama saja. Ada yang tidak kumengerti. Nanti bantu aku mengisinya, ya?”

Aku mengangguk.

Nafasku tercekat. Memikirkan Yeppo.

Tanganku gatal. Ingin memencet nomor telepon Yeppo.

Perasaanku galau. Ingin memeluk Yeppo.

Bagaimana ini?

Sepanjang makan siang aku tak bisa merasakan kehadiran diriku sendiri. Aku hampir masuk militer. Kewajibanku harus dijalankan selama lebih kurang dua tahun setengah. Selama itukah aku harus berpisah dengan Yeppo? Rasanya makananku dibuat dengan salah. Tak ada rasanya.

Apakah Yeppo masih menginginkanku nantinya? Bisakah wanita itu menungguku? Aku bisa mengambil libur setiap 3 bulan, meski hanya sebentar. Maukah dia membantuku menghabiskan jatah itu? Apakah setelah dua tahun setengah kami masih akan berhubungan? Atau haruskah aku melupakannya saja? Aduh, rasanya saat ini itu bukan pilihan yang bisa kuambil. Perasaanku padanya terlalu kuat, walau aku tidak tahu apa tepatnya nama perasaan ini.

Yang jelas bukan sekedar nafsu. Kalau itu saja, sudah dari dulu aku mengganti fungsi wanita itu dengan gadis-gadis lain.

Tunggu dulu. Bagaimana kalau Yeppo malah pulang ke Indonesia? Pada saat aku sedang di lapangan? Bagaimana Korea ini jadinya tanpa dia? Kenapa aku jadi cemas sekali?!

Tanganku merogoh saku dengan gugup. Saat ponselku sudah menyala dan siap untuk beroperasi menelepon Yeppo, aku ragu lagi. Ini masih jam makan siang. Mungkin dia sedang makan siang sekedar melepas lelah untuk sesaat. Apakah aku tega mengganggunya?

Lagipula, apa yang harus aku katakan? “Aku mau masuk militer,” begitu? Memang dia akan menjawab apa? Aku ingin memberitahunya, tapi kalau dia hanya menganggap ini berita tidak penting, apa yang harus kulakukan? Siapkah aku jika mendapat jawaban acuh darinya?

“Hyung! Kenapa lama sekali makannya? Kita sudah ditunggu di studio, cepatlah!” suara Eunhyuk membangunkanku dari kerumitan pikiranku sendiri.

“O? O. Sebentar lagi. Biar kuhabiskan dulu nasinya,” jawabku gugup sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam saku.

Aku tidak boleh panik. Masih ada waktu. Jangan siang ini. Mungkin nanti malam lebih baik.

Tetapi menunggu malam itu ternyata sangat menyiksa. Aku terus melakukan kesalahan, meski aku bisa menutupinya dengan mudah. Tidak sia-sia juga pengalamanku selama ini. Aku jadi terbiasa berimprovisasi mengelabui pemirsa dan kamera.

Meski tidak semudah itu menyembunyikannya dari anggota yang lain. “Ada yang sedang kau pikirkan, Hyung?” Eunhyuk menanyaiku dengan penasaran di tengah waktu break.

Aku menggeleng. “Ani, gwaenchana,” jawabku sambil meninggalkannya. Aku tidak ingin menjelaskan padanya bahwa aku sedang memikirkan perempuan. Tapi aku juga tidak sanggup tidak memikirkannya.

Sekarang ini aku sedang menyembunyikan diri dari yang lain, menatap satu-satunya penghubung terpercaya antara aku dan Yeppo. Ponselku. Hatiku terus-menerus berdebat dengan kepalaku. Aku sangat ingin menghubunginya, menceritakan kegelisahanku—terutama hal militer itu, juga menanyakan rencananya—rencananya hari ini, besok, dan masa depannya. Tapi isi kepalaku selalu berhasil melontarkan kalimat-kalimat pembungkam. Tidak ada pentingnya aku bercerita pada Yeppo. Kegelisahanku bukanlah kekhawatirannya. Kalau aku masuk militer, dia tak terpengaruh apapun. Hidup wanita itu tetap berjalan dengan baik meski tanpa aku di dekatnya. Rencana wanita itu tidak berhubungan denganku. Dia akan menjelajahi dunia melalui sudut pandangnya, sementara aku akan berada di atas bumi yang sama dan berkutat dengan hal yang sama sekali berbeda. Intinya, aku tidak ada kaitannya dengan Yeppo.

Lalu kenapa sekarang aku sedang menunggu teleponku tersambung? Rasanya aku bahkan sampai tuli akibat berdebar-debar menantikan suaranya terdengar.

Telepon yang anda tuju, sedang tidak aktif. Silahkan tinggalkan pesan atau tunggulah beberapa saat lagi untuk menelepon kembali.

Dan begitulah. Penantianku ternyata dijawab oleh tante-tante sok sibuk yang suka menyuruh-nyuruh orang meninggalkan pesan dan menunggu.

Merasa kalah aku menyimpan lagi ponselku ke dalam saku. Mungkin sekarang ini memang bukan waktu yang tepat. Mungkin dia sedang ada di lab. Atau sedang mengetik. Atau di area tanpa sinyal. Atau baterainya habis. Atau, lebih baik lagi, sedang mengisi baterai. Atau tidak mau diganggu. Atau menghindariku. Atau tidak mau bicara padaku.

Brengsek!

Press the reset. Press, press the reset~~” tiba-tiba teleponku berdering. Hampir saja membuatku membuangnya karena kaget.

Hatiku melonjak. Yeppo! “Yoboseyo?”

Aku harus tenang, suaraku tidak boleh terdengar terlalu gembira. Harus menunjukkan pada wanita itu bahwa aku tidak peduli siapa yang menelepon. Aku kan sedang sibuk.

Yeah, sibuk merindukannya.

“Hyung, eodinya?!” kujauhkan telingaku dari ponsel mendengar suara Yesung yang tiba-tiba berteriak.

Dasar bodoh! Untuk Yeppo kan aku sudah mengatur nada deringnya dengan nada yang berbeda. Tentu saja ini bukan Yeppo. “Nan?” balasku kesal dan gugup. Takut Yesung bisa mendeteksi pengharapan dalam suaraku.

“Kamdoknim sudah marah-marah! Hyung ini dimana sih?! Kita harus rekaman sekarang!”

“O? O! O! Perutku! Perutku sakit banget, Jong Woon-a. Ini baru selesai. Aku masih di toilet. Sekarang juga aku ke situ. Sekarang.”

Brengsek. Kerjaanku.

Kubuka pintu bilik toilet yang sedari tadi kuhuni. Tanpa melakukan apa-apa lagi aku segera beranjak keluar dan berlari-lari ke tempat rekaman. Aku terpaksa menunduk-nunduk minta maaf sesampainya di sana dan menerima semua pandangan memarahi. Memang aku yang salah.

Salahkulah kenapa tak bisa berhenti memikirkan Yeppo.

Ketika itu, setelah percintaan kami yang terakhir di depan pintu rumah temannya, aku bisa merasakan bahwa Yeppo tidak ingin dikekang. Bukannya aku ingin mengekangnya, hanya saja rasanya aku ingin kami memiliki sebutan yang sama akan apa yang kami jalani saat ini. Karena aku peduli padanya lebih dari sekedar partner tidur.

Aku bukan tipe yang bisa dengan mudah membohongi diri sendiri. Sejak awal aku tak mungkin tidur dengannya kalau rasaku padanya hanya sekedar ketertarikan biasa. Ini lebih dari itu. Aku selalu merasa kehilangan saat kami berjauhan. Ketika suaranya kudengar di malam hari sebelum tidur, esoknya aku bisa bangun dengan semangat, merasa bahwa hari itu sekali lagi bisa kulalui dengan berusaha sebaik-baiknya.

Meski aku sering mengeluh padanya bahwa hanya aku yang rajin menghubunginya, tapi aku tak bisa menghentikan kebiasaan itu. Merasakan bahwa dia ada di ujung sana, menanggapiku, menerima kebutuhanku akan dirinya, membuatku kecanduan. Dia membiarkanku bersandar padanya dengan harapan yang tak pernah dikecewakannya. Kalau ada kekecewaan yang kurasakan, itu datangnya dari diriku sendiri. Aku yang sering berharap terlalu jauh. Dia sendiri tak pernah menjanjikan apa yang tak bisa ditepatinya.

Semakin aku mengenalnya, aku semakin tahu bahwa dia orang menghargai kata-kata. Kalau dia bilang bahwa dia akan datang, aku yakin dia pasti datang. Kalau hanya ketidakpastian yang bisa dijanjikannya, dia akan mengatakannya dengan jujur. Begitu pula dengan ketidaktahuan. Oleh karenanya aku percaya sekali pada kata-katanya yang mengatakan bahwa dia tak akan berpaling selama aku bersamanya.

Yang membuatku kelabakan adalah jiwanya yang bebas. Aku tak bisa dengan mudah menyatakan bahwa dia adalah milikku. Sementara kalau ada yang bertanya, aku akan mudah keceplosan mengatakan bahwa aku adalah miliknya.

Ya, dia sudah memiliki aku. Kepala beserta pikiranku. Tubuh beserta emosiku. Semua sudah menjadi tak sanggup berpisah darinya. Maka dari itu aku lebih dari resah membayangkan masa-masaku di militer nanti. Dan aku kelimpungan berpisah darinya. Semakin hari semakin kelimpungan.

Malam ini aku kembali harus menelan rasa itu. Selain karena pekerjaanku yang baru selesai lewat sepertiga malam, juga karena secara emosional aku merasa lelah sekali. Benakku mengatakan tak ada gunanya aku memikirkan Yeppo. Sebaliknya hatiku mengatakan tak ada gunanya aku menolak bayangannya.

Untuk menghindari ledakan emosi yang bisa kurasakan akan muncul sewaktu-waktu, aku langsung membenamkan diri di bawah selimut dan memejamkan mata, bahkan tanpa berganti baju. Ketika Eunhyuk tiba-tiba masuk untuk mengecek apa yang sedang kulakukan, aku pura-pura tertidur lelap. Membiarkan dirinya melepaskan jaket yang malas kulepas. Berterima kasih padanya dalam hati ketika dia membuka ikat pinggangku. Bersyukur waktu dia menutupiku lagi dengan selimut sampai ke dagu.

Terima kasih, Eunhyuk-a. Selamat malam, batinku. Lalu aku melarut dalam kegelapan yang membelai lembut.

Sampai dering telepon membangunkanku.

Brengsek! Siapa sih yang tega menelepon tengah malam begini? Aku baru tidur 10 menit, demi Tuhan!

“Yoboseyo!” dengan kesal kujawab teleponku.

 

Bee POV

Aku menelan ludah. Apa yang harus kukatakan? Suara Jungsoo di telepon tidak terdengar baik. Apa dia sakit? Kenapa suaranya serak begitu? Apa itu tidak mempengaruhi pekerjaannya? “Gwaenchana?” tanyaku penuh keraguan padanya.

Kenapa dia tidak menjawab?

Karena resah aku memutuskan untuk duduk. Seorang teman melintas dan menyapaku. Mengucapkan selamat, kemudian begitu dia menyadari aku sedang menelepon, dia mengisyaratkan tanpa suara bahwa dia akan pergi duluan. Kuanggukkan kepala dan tersenyum. Mulutku membentuk ucapan “Gomawo” juga tanpa suara.

“Yep, Yeppo-ya?” suara Jungsoo dari seberang telepon mengembalikanku pada urusanku dengannya.

Sepertinya dia benar-benar sakit. Suaranya berat sekali. Aku cemas.

Apa? Aku cemas? Aneh, tapi ya, aku cemas. “Kau tidak apa-apa?”

“Eh?” dia terdengar bingung.

“Apa kau kecapekan bekerja?”

Dia tidak menjawab tapi aku mendengar dia bergerak.

“Kau sakit?”

“Mwo—”

Sial, dia mau bingung sampai kapan sih? “Kau sudah minum obat?”

Dia diam. Lalu saat aku hendak bertanya lagi, dia bicara, “Kau meneleponku…”

Aku tidak tahu apakah dia bertanya atau membuat pernyataan. Nadanya membingungkan. Dan aku bingung karena masih cemas. “Jungsoo-ya, gwaenchana? Eodie appeu?”

“Sakit? Aku tidak sakit.”

“Kenapa suaramu begitu?”

“Begitu bagaimana?”

“Seperti suara orang sakit. Serak, berat, seperti susah berbicara.”

“Aku tidak sakit.”

“Kau harus menjaga kesehatan. Jangan sampai sakit. Sakit itu tidak enak. Kau tidak bisa melakukan apa-apa. Pekerjaan juga—” Jungsoo memotong ucapanku.

“Kau meneleponku,” nadanya menggantung.

Aku mengernyitkan kening. Lalu kenapa kalau aku meneleponnya? Seperti kami tidak pernah— Ah! Aku meneleponnya. Aku jadi sadar apa yang telah kulakukan. Akibatnya aku tak tahu harus berkata apa.

“Dan kau mengkhawatirkanku,” Jungsoo berkata lagi. Kali ini aku bisa mendeteksi nada tanya dalam kalimatnya.

Aku terdiam. Aku harus bilang apa? Memang aku mengkhawatirkannya kan?

“Kau meneleponku, mengkhawatirkanku. Tengah malam begini— Astaga! Apa terjadi sesuatu? Kau dimana? Tidak apa-apa kan?” Jungsoo tiba-tiba terdengar panik.

Sementara aku jadi bingung. Tengah malam? Kulihat langit yang terang. Matahari yang terik. Sejak kapan matahari terbit di malam hari? Dan pertanyaannya itu. Apa dia mengkhawatirkanku? “Apa..” tanyaku mengabaikan pertanyaannya.

Jungsoo diam.

“Apa kau sedang mengkhawatirkanku?” tanyaku ragu-ragu. Entah kenapa rasanya aku malu karena menyadari aku mengharapkannya benar-benar mengkhawatirkanku.

Aku menunggu jawabannya. Dia terus diam. Kami tak berbicara.

Sampai akhirnya dia bertanya, “Kau baik-baik saja kan? Ada apa telepon tengah malam begini?”

Dia sibuk sekali sih mengajukan pertanyaan? Pertanyaanku yang pertama saja belum dijawabnya. “Kau sendiri, kenapa suaramu begitu?” tanyaku balik agak kesal.

Dia mendesah. “Wajar kan, namanya tengah malam. Waktunya orang tidur. Suaraku begini karena aku terbangun dari tidur.” Akhirnya. Pertanyaanku terjawab.

“Kau baru bangun? Kau tidak kerja?”

“Aku baru pulang. Baru saja aku tidur.”

“Heh?! Mereka memaksamu bekerja 24 jam? Kau benar-benar tidak tidur sejak semalam?” tiba-tiba ada rasa tidak terima yang muncul di dadaku. Aneh. Kenapa aku yang harus tidak terima kalau Jungsoo yang kerja keras?

“Tidak, tidak. Aku tidak bekerja 24 jam…”

Aku memotongnya, “Lalu kenapa kau baru pulang jam 2 siang begini?!?”

Dia diam. “Kau ini bicara apa? Aku pulang jam 3 kok. Sekarang juga baru jam 3 lewat—Astaga!”

Aku menunggu kata-katanya yang terputus sendiri.

“Yeppo, kenapa jam 3.30 pagi ada matahari?”

Aku ternganga, “Ini jam 2 siang, Jungsoo-ya.”

“Tidak mungkin. Rasanya aku baru tidur tidak sampai 10 menit yang lalu!”

“Jam berapa kau berangkat tidur?”

“Jam 3 pagi.”

“Artinya kau sudah tidur hampir 12 jam.”

Jungsoo diam. Lalu membantah, “Tidak mungkin.”

“Mungkin saja. Kau kelelahan. Jangan begitu. Kau bisa sakit kalau terus bekerja begitu.”

“Kau mengkhawatirkanku lagi. Apa aku melakukan hal yang baik semalam?”

“Hah?” Apa lelaki ini masih setengah tertidur? Kenapa omongannya kacau sekali sih? Kami kan sedang membahas tentang jam tidurnya, kenapa tiba-tiba loncat ke masalah siapa mengkhawatirkan siapa? Apa pula itu kaitannya dengan perbuatan baiknya? “Kau masih tidur ya?”

“Aniyo. Katakan padaku, Yeppo. Kau mengkhawatirkanku. Benar kan?”

Kuhela nafas. “Ya. Aku mengkhawatirkanmu. Apalagi kau mengigau begini.”

Kudengar suara tawanya. “Sudah kubilang, aku sudah bangun. Jadi aku tidak mengigau. Aku hanya senang dibangunkan oleh suaramu,” jelasnya bersemangat, lalu berlanjut dengan lebih lirih, “Kemudian dipedulikan olehmu…”

Aku menunduk memandang ujung kakiku. “Apa ada alasan aku tak boleh mengkhawatirkanmu?”

Dia menjawab sebentar kemudian, “Ani. Ada alasan kau tak boleh mengkhawatirkanku?”

Kugigit bibir. Aku takut. Tapi aku tak sabar ingin mengatakannya. “Karena wanita lain?”

Jungsoo terdiam. Kenapa ini rasanya menyakitkan? Aku sudah mengira akan merasa tidak nyaman, tapi tidak menduga bahwa ini juga akan menyakitkan. Bayangan Jungsoo memikirkan perasaan wanita lain saat  menjawab pertanyaanku sekarang membuatku mual.

“Apa kau tak ingin bertemu denganku lagi?” jawaban Jungsoo mengagetkanku.

“Hah?” sepertinya lelaki ini memang masih tertidur.

“Kau mulai menanyakan wanita lain. Apa kau ada pria lain?”

“Aku yang penasaran kenapa kau yang bertanya?”

“Apa kau mau kita tidak berhubungan lagi?”

“Kau ini bicara apa sih?”

“Katakan saja kalau kau ingin mengakhirinya. Aku tidak suka basa-basi. Apalagi harus bertengkar karenanya.”

“Jungsoo…”

“Kau mengharapkan ada wanita lain yang bisa dijadikan alasan agar kau tak perlu berkewajiban memikirkanku lagi kan? Tenang saja. Ada atau tidak ada wanita lain itu bukan urusanmu. Kalau kau mau ini diakhiri, ayo kita lakukan saja. Lebih cepat lebih baik.” Kata-kata Jungsoo bagai peluru yang melukai perasaanku. Dia tak menganggap ini penting? Dia ingin ini berakhir? Apapun namanya ‘ini’?

“Jadi kau ingin ini berakhir?” tanyaku.

“Kukira kau yang ingin ini berakhir,” balasnya dingin.

Aku menghela nafas. Sial, suaraku bergetar. Pergilah jauh-jauh, rasa sedih. “Aku tak ingin ini berakhir. Tapi kalau kau sudah merasa tak nyaman—“

“Lalu kenapa kau menanyakan tentang wanita lain?”

Iya ya, kenapa tiba-tiba aku menanyakan tentang wanita lain padanya? “Geunyang… Aku hanya penasaran.”

Kami berdua terdiam selama beberapa saat.

“Apa kau ingin aku menjawab jujur?” Jungsoo bertanya padaku.

“Terserah kau,” jawabku.

“Brengsek, Yeppo. Sekali-sekali mintalah sesuatu padaku! Katakan apa yang kau harapkan dariku! Jangan biarkan aku berjalan sendiri!”

“Apa aku boleh mengharapkan sesuatu darimu?”

“Ne! Banyak-banyak!”

“Jangan ada wanita lain selama kita masih mau tidur bersama,” jawabku.

“Kau tahu itu tidak pernah ada—“

“Tidak. Sayangnya aku tidak tahu itu, Jungsoo. Aku tidak tahu. Awalnya aku tidak mau tahu, tapi tadi malam aku menyadari betapa banyak wanita menginginkanmu. Aku jadi kacau. Apalagi aku mungkin akan pulang ke Indonesia sebentar lagi. Aku tiba-tiba cemas. Aku sakit hati membayangkan wanita lain di sekitarmu.” Akhirnya aku tak sanggup menahannya lagi. Percuma saja aku menutupinya dari Jungsoo. Sia-sia kalau aku mencoba menipu diriku sendiri. Arti Jungsoo bagiku sudah jauh lebih besar dari yang bisa kutangani.

 

Leeteuk POV

Yeppo cemburu? Haruskah aku tersenyum? Tapi kenapa aku tak bisa tersenyum? Ah aku ingat. Itu karena, “Kau akan pulang ke Indonesia?”

Dia terdiam.

“Yeppo, jawab!”

“Ne.”

“Kapan?”

“Tidak tahu. Secepatnya?”

“Ngapain?”

“Pulang kampung.”

“Lalu, ngapain lagi?”

Kenapa dia diam saja??!!

“Jangan bilang kau punya kekasih di Indonesia!”

“Jungsoo!” kudengar nadanya menyentak. “Sudahlah! Tidak ada lelaki lain. Dari awal aku sudah berjanji padamu!”

Ah, aku meragukan kata-katanya. Maaf Yeppo. Aku sempat lupa bahwa kau orang yang memegang erat kata-katamu. Semuanya karena masalah pulang ke Indonesia itu. “Lalu kenapa? Kenapa kau harus pulang?” aku melembutkan nadaku sedikit.

“Karena…” dia terdiam sesaat, “Karena aku sudah lulus.”

Aku sadar mulutku ternganga. “Eh?”

“Aku sudah lulus.”

Aku dengar itu. Maksudku bagaimana kau bisa lulus? “Kapan?”

“Apanya?”

“Kapan kau lulus?”

“Baru saja.”

“Baru saja?”

“Baru saja.”

“Bagaimana?”

“Aku baru selesai Sidang. Dan aku dinyatakan lulus.”

Kami terdiam.

“Jadi begini saja?” tanyaku tak sadar.

“Hah?”

“Jadi kau lulus dan pulang. Begitu saja? Mian, Yeppo. Aku bahagia kau lulus, tapi aku…” Aku apa? Nyatanya aku malah tambah kacau.

“Apa kau mau ini dibiarkan begini saja?” suara Yeppo terdengar pelan sekali. Apa kegundahannya sama denganku? Atau hanya karena dia takut melukai perasaanku? Hah, seperti dia tahu saja seberapa besar perasaanku.

“Kau?” tanyaku balik. Aku tidak mau mengakuinya kalau hanya untuk ditinggal pergi.

Dia diam. Aku tak mau bicara. Meski tak sabar, aku akan menunggunya bicara. Aku mau dia bicara. Aku mau dia mengatakannya dulu padaku. Apa yang dia inginkan. Apa rencananya. Bagaimanapun juga aku baru bangun tidur. Egoku masih setinggi jagat raya!

“Tak bisakah kau hanya berbahagia untukku, Jungsoo?” aku mendengar suaranya agak terisak.

“Apa kau menangis?”

“Hampir.”

“Kenapa?”

“Sial kau! Karena aku bahagia. Akhirnya aku menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Akhirnya aku bisa melangkah maju. Akhirnya aku memperoleh apa yang kucita-citakan dari dulu!”

“Tapi suaramu tidak terdengar begitu.”

“Karena kau.”

Aku tahu apa maknanya itu. Aku bukan bagian dari rencananya, tak pernah ada dalam cita-citanya. Sama seperti posisinya untukku.

“Pulanglah. Pulang ke Indonesia. Aku bahagia untukmu. Selamat,” ucapku pedih.

“Brengsek kau! Tak bisakah kau mengatakan jangan pergi?! Jadi aku cuman alatmu melampiaskan nafsu?!” marahnya.

“Tadi kau bilang kau ingin aku berbahagia untukmu!” aku berteriak padanya. “Asal kau tahu saja, aku tidak bisa! Karena itu artinya aku bahagia kau pulang! AKU TIDAK BAHAGIA KALAU KAU PULANG! Kau puas?!”

Dia terisak.

“Tapi aku juga tak bisa menahanmu,” lanjutku lagi.

Dia masih terisak.

“Aku mau, tapi aku tak bisa. Sial, sampai kapan kau mau menangis?! Aku juga ingin menangis kalau begini caranya!”

“Maaf, Jungsoo. Aku sangat rindu padamu. Kau sudah jarang meneleponku. Kau bahkan tidak mengangkat teleponmu ketika aku berusaha menghubungimu sejak semalam. Dan sekarang saat aku berhasil bicara denganmu, kita harus bicara perpisahan. Aku tidak tahu mengapa begini, tapi air mataku mengalir sendiri. Aku tak bisa menghentikannya. Kenapa kau begitu menguasaiku, Jungsoo?”

“Aku tidak tahu.”

Kami terdiam lagi.

Lalu aku memutuskan tak ada gunanya menyimpannya, lebih baik kukatakan juga ganjalanku, “Aku harus mengikuti wajib militer tahun ini.”

Kudengar Yeppo terkesiap. Aku berkata, “Makanya kubilang, kau pulang saja. Mungkin kita…” aku tak sanggup meneruskannya.

“Jadi tak ada gunanya aku menangis?” dia bertanya dengan suara sengau.

“Tidak,” jawabku.

“Kau mau aku pulang?”

“Kurasa itu lebih baik.” Aku menelan ludah lalu, “Apa maumu?”

“Apa ini artinya kita berhenti bertemu?”

Aku ingin berteriak, “Tidak!” tapi itu tidak mungkin. “Memang hanya itu kan jalan satu-satunya?” akhirnya aku menjawab.

“Aku mungkin tak akan kembali ke Korea.”

“Ya.”

“Aku mungkin akan melupakanmu.”

Tiba-tiba air mataku mengalir sendiri. “Ya,” anehnya suaraku tenang-tenang saja.

“Aku mungkin akan terpuruk patah hati,” nadanya miris.

“Jangan begitu. Kau wanita kuat. Akulah yang akan lebih kehilanganmu. Tapi kita harus kuat,” ujarku sambil memejamkan mata, membiarkan air mata turun lebih deras.

“Selamat tinggal, Jungsoo.”

“Aku akan masuk militer,” entah kenapa aku mengatakannya. Sebagian diriku berharap dia mendengarnya kemudian luluh dan memutuskan tetap tinggal di Korea. Menemaniku paling tidak sampai aku masuk militer.

“Visaku sudah habis. Aku hampir dideportasi,” balasnya. Membuatku menarik nafas. Jadi masalah seperti itu pun ada di antara kami.

“Jadi intinya, kita harus berpisah, kan?” tanyaku sakit hati.

Dia tidak menjawab. Jadi aku bicara lagi, “Yeppo, sebelum kita benar-benar mengakhiri ini aku—“

“Jangan!” dia berseru. “Apapun yang hendak kau katakan, jangan. Ini sudah cukup menyakitkan, Jungsoo.”

Dia benar. Kalau aku berani mengatakan bahwa aku mencintainya, artinya aku berani berharap. Berharap di saat kami tahu tidak ada jalan keluar. Tindakan bodoh. “Baiklah.”

 

Bee POV

Kututup telepon. “Aku benar-benar jatuh cinta padamu,” bisikku sambil mengusap air mata.

Dengan penyesalan bahwa aku harus mengalami jatuh cinta tepat sebelum harus pulang ke Indonesia, aku meninggalkan tempat aku duduk menelepon Jungsoo tadi. Setengah hatiku menyesali keputusanku menelepon Jungsoo. Tapi kalau aku meninggalkan pria itu begitu saja, aku akan menyesalinya seumur hidup. Paling tidak dengan begini aku bisa menyadari bahwa kami sempat memiliki sesuatu yang lebih berharga dari sekedar seks.

Memang menyakitkan, tapi toh itu indah.

Sejak itu aku memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Jungsoo. Pria itu juga tak pernah lagi menghubungiku. Hari demi hari aku lalui dengan menyibukkan diri mempersiapkan kepulanganku. Kuputuskan aku tidak akan mengikuti upacara kelulusan. Visaku menjadi alasan ampuh agar aku dapat kembali ke Indonesia secepatnya, sehingga aku diperbolehkan melewatkan upacara itu.

Dua hari sebelum kepulanganku, aku memutuskan untuk mengumpulkan semua memori yang berserakan di Jejudo ini. Sejak saat pertama aku datang ke tempat ini, menjalin pertemanan, menjadi gila akibat penelitian, putus asa, menahan rindu pada tanah air, mengikuti perayaan, melihat kembang api, bertemu lagi dengan teman-teman lama, semuanya menjadi kenangan indah. Tempat ini telah menambah satu lagi pelajaran dalam hidupku.

Kuambil foto banyak-banyak. Kurekam suasana awal musim gugur yang sendu. Laut yang sedikit kelabu. Aku terus berjalan merekam semua tempat yang pernah kulalui.

Di akhir hari, aku ke sana. Ke pantai milikku dan Jungsoo. Tempat yang mempertemukanku dengan Jungsoo. Tempat kami pernah bercinta dengan dibumbui rasa marahnya. Tempat dimana aku menyadari untuk pertama kalinya aku telah terjun bebas. Tempat yang dinginnya justru mengingatkanku akan hangat pelukannya. Rasanya seolah aku bisa melihat sosoknya di sana.

Mengambang di permukaan air.

Haha, bahkan alam pun sepertinya memutuskan bahwa aku harus melupakannya. Saat ini laut pasang tinggi, sehingga tak sedikitpun permukaan pantai yang nampak. Namun otakku menolak menghapus Jungsoo. Aku bisa memperkirakan tempat-tempat dimana kami dulu pernah menapakinya bersama.

Lalu aku turun ke tangga. Air laut sudah merendam tangga itu hingga sepertiganya. Aku duduk membiarkan kakiku hampir di tepi air. Tempat kami duduk memandang matahari terbenam waktu itu sudah tertutup air. Bahkan itu pun aku tak bisa menjangkaunya.

Tiba-tiba mataku memanas. Kenapa untuk mengingatnya saja aku disusahkan? Dengan marah aku memotret ujung kakiku yang dijilat ombak. Itu jarak terjauh yang bisa kujangkau. Biarlah hanya kakiku di sana. Di masa depan, saat aku melihat foto ini aku akan selalu teringat bahwa di bawah air, ada satu anak tangga yang berharga. Yang menjadi tempatku dan Jungsoo duduk berdampingan.

Kuhabiskan sore itu dengan menangis di tangga. Merindukan Jungsoo. Putus asa karena tak bisa menemuinya.

Malamnya aku memandangi apartemenku untuk yang terakhir kali. Banyak kenangan melintas di kepalaku, termasuk kenangan akan sosok Jungsoo yang merecokiku ketika dia tiba-tiba datang.

Tak mau menangis lagi, aku pun menarik koperku keluar. Kuletakkan kunciku di bawah pot, seperti perjanjianku dengan Pemilik Tempat. Selamat tinggal. Terima kasih sudah menjadi rumahku selama ini, bisikku merasakan sekelumit rasa kehilangan.

Malam ini aku akan terbang ke Seoul. Walau baru besok malam aku pulang, tapi aku masih harus belanja oleh-oleh, jadi aku sudah menghubungi temanku di Seoul untuk menumpang semalam di tempatnya.

Lewat tengah malam aku sudah sampai di Seoul. Temanku menjemput di bandara dan memelukku erat. Dia seorang lelaki yang sangat ramah dan baik. Profesinya sebagai DJ di sebuah klub malam memungkinkannya memiliki tempat yang cukup luas untuk kutumpangi inap. Dan orangnya sangat baik, sehingga dia langsung membolehkanku menginap di permintaanku yang pertama. “Besok akan kutemani kau jalan-jalan mencari oleh-oleh,” katanya tanpa kuminta.

Kami memang sudah berteman lama sekali untuk saling tahu keinginan masing-masing. “Terima kasih,” ujarku padanya. Bersyukur memiliki teman sebaik dirinya.

Malam itu kami bercerita-cerita. Kami makan malam sesukanya, sambil membiarkan televisi menyala. Kami berbagi tawa dan saling mengungkapkan bahwa kami pasti akan kehilangan satu sama lain saat aku sudah pulang ke Indonesia. Lalu mataku terpaku pada layar televisi.

Temanku melihatnya dan berkomentar, “Ah, sekarang ini idola pun masuk berita. Kurasa negara kami ini sudah berhasil menjadi penjajah di dunia. Kami menjajah negara-negara lain dengan K-pop.”

Aku tidak mendengarkannya. Aku hanya terpaku pada wajah Jungsoo di televisi. Dia tampak sangat tampan dengan jas. Rambutnya yang kecoklatan ditata rapi. Senyumnya tak pernah pudar membuat lesung pipinya terus terpampang. Matanya berbinar-binar. Bahasanya tertata baik ketika menjawab pertanyaan. Meski nampak jelas dia bukan dari kalangan akademisi, namun auranya hangat dan menyenangkan sehingga memancing respek siapapun yang melihatnya.

Pikiranku menjadi kosong. Seolah semuanya tersedot olehnya. Aku yang tidak menyukai televisi, sekarang terpaku menatap layar pemuncul berita itu.

Karena Jungsoo ada di sana. Karena rasaku bergejolak lagi. Karena aku merindukannya.

Ketika akhirnya tayangan itu berakhir, aku baru sadar bahwa temanku sedari tadi diam saja di sampingku. Ketika menoleh ke arahnya aku terkejut sewaktu dia membelaikan tangannya di pipiku. “Ada apa?” tanyanya lugas.

Suaranya kering dan tenang. Tangannya menyadarkanku bahwa aku menangis. Aku hanya sanggup berkata, “Dia tampan sekali. Besok aku tak bisa bernafas di udara yang sama dengan idolaku lagi.”

Kebohongan yang payah. Aku yakin temanku juga menyadarinya, tapi untung dia tak mendesakku. Dia hanya merangkul bahuku dan menyarankan sebaiknya aku tidur. Yang langsung kuiyakan walau tak yakin aku bisa benar-benar tidur.

 

Leeteuk POV

Syukurlah hari ini aku tidak ada jadwal malam. Rasanya aku hanya ingin mendekam di kamar. Tidur. Tidak melakukan apa-apa. Hal yg selalu kuinginkan beberapa hari terakhir ini sejak mendengar Yeppo memutuskan sambungan telepon kami.

Apakah wanita itu sudah di Indonesia sekarang? Aku sedikit sedih bahwa dia ternyata tidak mengucapkan sepatah pun kata perpisahan. Tapi aku bisa apa? Apakah rasa sedihnya akan hilang kalau dia melakukannya? Kurasa tidak. Toh kami berdua tetap akan merasa sedih.

“Wah, enak sekali hari ini. Jadwal kita longgar!” Heechul berseru di sebelahku. Aku hanya tersenyum sekilas padanya lalu menatap lagi keluar jendela.

Meski dibilang longgar, tapi tetap saja kami pulang setelah matahari terbenam. Sekarang ini sudah pukul 8. Ah, rasanya aku tidak jadi bersyukur, ingin kerja lagi saja. Malam ini akan lama sekali rasanya. Aku akan memiliki terlalu banyak waktu memikirkan Yeppo.

Kurasakan Heechul bergerak mengamati jendela dari sisinya ketika kami memasuki gerbang tempat tinggal kami. Aku tahu apa yang dilakukannya. Dia sedang mengamati fans-fans kami yang seringkali menunggu kami di luar gerbang. Tak jarang dia mengeluarkan komentar-komentar seksis khas pria ketika ada fans kami yang agak “kinclong”. Haha, enak sekali dia, bisa bebas menikmati keindahan wanita tanpa terbebani. Kalau saja aku bisa, aku ingin seperti dia.

Tapi aku tidak bisa. Wajah wanita-wanita di sekitarku menjadi sama semua sejak aku dan Yeppo memutuskan untuk berhenti saling menghubungi. Semua satu level, tak kulihat ada bedanya.

Begitu turun, asisten-asisten kami membantu membawakan perlengkapan kami ke dalam rumah, lalu 30 menit kemudian, rumah sudah sepi lagi. Kudengar Heechul bicara di telepon sambil menelepon seseorang. Yesung juga sudah kembali ke lantainya. Tinggal aku sendiri di ruang tengah.

Rasanya aku tidak ingin masuk kamar. Kalau aku melakukannya aku akan tergoda untuk menggeletak di kasur kemudian berbaring nyalang memikirkan Yeppo. Aku mendengus. Tapi duduk begini pun aku juga memikirkannya.

Kutatap langit gelap yang terpampang dari pintu kaca yang mengarah ke balkon. Apa yang kucari di sana? Wajah Yeppo tidak ada di sana. Hatiku bagai diremas. Kenapa kami memutuskan mengakhirinya sebelum benar-benar berakhir? Harusnya aku membujuknya untuk tetap bersamaku sampai pesawatnya terbang. Kenapa aku tidak melakukannya?

Tiba-tiba terdengar suara bel pintu.

Siapa? Apakah anak-anak tidak membawa kunci mereka? Sebaiknya kubuka saja.

Dan aku terpana.

Hampir saja kututup pintu kalau Heechul tidak muncul di belakangku. “Wasseo?” tanyanya pada tamu tak diundang tersebut.

Yang ditanya tak memandang Heechul sama sekali. Membuat dongsaengku itu tersinggung, “Ya! Kau tak tahu terima kasih ya? Padahal sudah kuundang kau masuk!”

Aku menoleh pada Heechul. Heechul balik menatapku. “Mwo?! Aku melihatnya bersender di pagar. Menyedihkan sekali. Seperti anjing yang dibuang. Jadi aku minta kepada penjaga untuk mengijinkannya naik!”

“Terima kasih,” tamu yang tidak lain adalah Yeppo itu bersuara untuk pertama kalinya.

“Kalian mau bicara di pintu saja? Tidak mau memanfaatkan kesempatan dengan masuk dan bicara layak…” katanya sambil membentuk tanda petik dengan jarinya, “… di dalam?”

Tanpa bicara aku mempersilahkan Yeppo masuk.

Yeppo melangkah masuk dan keharuman tubuhnya membuat pertahananku jebol. “Kenapa kau ke sini? Kupikir kau sudah…” sial, suaraku bergetar.

Wanita itu mengabaikanku. Sepertinya dia butuh konsentrasi ekstra untuk melepaskan sepatunya.  “Yeppo…” bisikku sambil menyentuh bahunya.

Dia berbalik dan aku melihat pantulan mataku sendiri di matanya. Kesedihan kami menggelayut. Kami tak bisa menutupinya lagi. Sambil mengerang aku meraih tubuhnya dan memeluknya erat. Tak mempedulikan Heechul yang masih berdiri mengamati kami, sesaat kemudian aku mencium bibirnya.

Tak lama bagi kami untuk merubah ciuman kami terasa asin. Aku tahu aku menangis, dan dari telapak tanganku di pipinya, aku tahu dia juga menangis. Tubuhnya mendekat ke arahku dan dengan satu tangan aku raih pinggangnya agar semakin melekat ke tubuhku. Aku membutuhkannya.

Lama kemudian baru kami saling melepaskan diri. Aku terkejut menyadari bahwa Heechul masih mengamati kami. “Yha!” hardikku padanya sambil menghapus sisa-sisa air mata.

Mata Heechul berkilat-kilat. “Aku menunggu kelanjutannya.”

“Ciss, kau gila!” aku mendesis sambil menarik tangan Yeppo ke ruang tengah.

Heechul mengikuti kami. “Yha! Bukannya berterima kasih, kau malah mengumpat? Sopan sekali kau!”

“Lalu kau pikir kami ini apa?! Film porno?!” bentakku tanpa menatapnya. Kuajak Yeppo duduk lalu aku sendiri berdiri di tengah-tengah antara dia dan Heechul.

“Boleh juga sih kalau dianggap begitu,” Heechul tampak sinis ketika mengatakannya.

“Bajingan. Kau pikir dia tontonan?” aku mulai marah karena Heechul masih tidak bisa menghargai Yeppo.

“Kalau kalian tidak suka ditonton kenapa kalian tidak bersabar sebentar untuk masuk kamar?!” sinis Heechul lagi sambil menghempaskan tubuh ke sofa di hadapan sofa panjang tempat Yeppo duduk. Matanya menatap Yeppo tajam.

“Bukan urusanmu! Kau tidak tahu apapun!”

“Urusanku! Kau kayak orang mati beberapa hari terakhir ini. Dan melihat betapa kurusnya dia sekarang,” Heechul menggedikkan kepala ke arah Yeppo, “orang-orang akan mengira dia penderita bulimia. Kalau kalian memang saling rindu begitu kenapa tidak bersatu saja?!”

Heechul menunjuk Yeppo. “Kau! Kau buat leader kami jadi orang aneh. Pekerjaannya banyak yang terbengkalai gara-gara memikirkanmu!” Heechul sekarang menatapku, “Sudah begitu kau bilang ini bukan urusanku?! Super Junior itu urusanku! Kau adalah bagian dari Super Junior! Jadi kau juga urusanku!”

Aku sudah akan membantahnya ketika Yeppo mencengkeram tanganku. “Pesawatku berangkat pukul 4 besok pagi,” katanya lemah.

Semua ucapan Heechul langsung menghilang. Aku memandang Yeppo yang menerawang. Merasa kalah aku menghempaskan diri di sebelahnya. Kudongakkan kepala dan kuusap wajah dengan frustasi.

“Pesawat?” Heechul bertanya.

Kami berdua mengabaikannya. Malah Yeppo mengelus rahangku. “Jungsoo-ya.. Jungsoo-ya..” panggilnya dengan suara memelas.

Aku menoleh dan lagi-lagi melihat matanya berlinangan air mata. Kupikir dia bukan tipe yang mudah menangis. Mengapa sejak tadi dia hanya menangis?

Kurangkulkan lenganku ke tubuhnya. Dia segera merangsek memelukku. Tubuhnya bergetar. “Aku tak bisa, Jungsoo-ya.. Tak bisa.. Aku melihatmu di televisi dan aku tak bisa mengacuhkanmu. Hari ini aku berjalan di kota seharian untuk belanja oleh-oleh, tapi aku malah seperti orang hilang. Hanya teringat padamu. Tahu-tahu sudah berada di depan rumahmu. Aku ingin pergi saja, tapi rasanya aku tak sanggup. Tak bisa meninggalkanmu tanpa bertemu lagi denganmu. Tolong katakan ‘jangan pergi’ padaku, Jungsoo-ya..” ucapnya di leherku.

Aku menutup mulut dengan tangan. Tapi kalau dia di sini aku pun hanya akan meninggalkannya. Dan aku tahu dia mengatakannya tanpa kuasa untuk tetap tinggal. Dia akan tetap pergi meninggalkanku. “Kalau aku mengatakannya, kau tetap akan pergi kan?”

Tubuhnya berguncang karena emosi. Tidak menjawab, tapi aku tahu dia mengiyakan. Kami berdua tidak berdaya. Perpisahan kami di depan mata.

Tiba-tiba saja dia menengadahkan wajahnya. Matanya terluka. Dia menciumku di bibir. “Ayo kita ke kamar, Jungsoo-ya. Menghabiskan apa yang tersisa.”

Kutatap dia. Pesawatnya pukul 4 pagi. Artinya dia harus berangkat dari Seoul tepat tengah malam. “Padahal ini bukan cerita Cinderella,” bisikku sedih.

Brak! Tiba-tiba terdengar pintu kamar terbanting. Heechul sudah pergi. “Kamarku?” ajakku padanya.

Dia hanya merangkul leherku dengan erat sambil mengangguk.

Kuajak dia berdiri, meresapi semua rasanya. Hanya untuk beberapa jam terakhir. Bibirku mencium bibirnya dan kami melangkah bersamaan ke dalam kamar. Tahu bahwa tepat tengah malam nanti kami harus menutup cerita kami dengan kepedihan.

Walau tak terucap, aku akan mencintainya. Sampai detik terakhir hari ini.

 

KKEUT.

 

*fanfiction karya Cho Ahna / Marcella Cho


Iklan