Tag

,

-B’s Note- : Ini FF yang aku kirimin ke lomba yang diadain oleh KFFI yang udah ngalamin sedikit pengeditan *dikiiit banget, 98% ori*. Karena ini pertama kalinya aku ikut lomba, aku sadar masih banyak banget kekurangan yang bikin karya ini ga cukup layak dimasukin daftar ‘Pemenang’. Anyway, karena udah dibikin, dan ga niat difollow-upin untuk dikirim ke ajang yang lain, aku publish di sini, untuk nutup bulan ini. Hahaha, Mei itu bulan istimewa buat aku, jadi aku berusaha sebaik-baiknya di bulan ini *abaikan aja curcol gapen ini*. Satu lagi, biarpun mungkin ga cukup bagus, ini satu dari beberapa tulisanku yang aku suka banget. Aku sendiri ga tau karena apa. Mungkin karena proses pembuatannya, mungkin karena Kang Dongwon-nya, mungkin karena singkatnya (ahaha, lega bisa bikin karya yang ga melulu panjang2). As a bonus, here’s a piku bonus for readers, uri saranghaneun Kang Dongwon. *chu, Jagiya~*

 

KARYA

Judul                   :  TEMAN SEPERJALANAN

Daftar pemeran   :  Kang Dongwon (aktor dan model Korea) as himself; Bee as herself

Genre                  :  Romance

Disclaim              :  Ide cerita murni milik Bee. Belum pernah diterbitkan dimanapun.

Kang Dongwon melirik jam tangannya. Tepat waktu. Kereta ini berangkat sesuai dengan jadwal. Dia menghela nafas lega lalu mengetatkan topinya. Diliriknya jendela kereta. Bangunan stasiun perlahan mulai digantikan oleh rumah-rumah penduduk. Lalu pemandangan berganti menjadi hamparan tanah pertanian. Akhirnya semua itu pun tampak kabur karena kereta melaju makin cepat. Merasa agak pusing melihat pemandangan yang berkelebat cepat, Dongwon mengusap pelan matanya.

Bruk. Seseorang menempati kursi di sebelahnya. Jujur saja Dongwon merasa sedikit terganggu. Dia mengharapkan bisa duduk sendirian selama perjalanan. Hal pertama yang menjadi reaksinya adalah melihat sekeliling. Oke, dia mengakui, memang tidak banyak lagi tempat duduk tersedia. Tampaknya hari ini semua orang sedang menuju Berlin, sama seperti dirinya. Atau Lübeck, stasiun pemberhentiannya yang pertama.

“Ah, maaf. Di sini kosong kan?” tanya penumpang di sebelahnya dengan Bahasa Jerman. Ternyata dia adalah seorang gadis.

Kang Dongwon hanya melongo sebab dia tidak mengerti Bahasa Jerman sama sekali. “E, anu, e, saya tidak bisa Bahasa Jerman,” katanya dalam Bahasa Inggris yang terpatah-patah, lalu membatin, Bahasa Inggris aja gue patah-patah

Mata gadis itu lebar sekali. Matanya berbentuk elips dengan iris mata gelap besar. Sesaat Dongwoon mengira gadis itu mengenakan lensa kontak bulat yang sedang tren belakangan ini, tapi mata itu terlalu ekspresif, sehingga dia meralat pemikirannya sendiri. Lalu ketika gadis itu tersenyum, Dongwon sempat sedikit terpana. Tulang pipinya terangkat, giginya putih dan rata, bibirnya tertarik manis menyebabkan kerutan di sudut-sudut matanya yang dihiasi bulu mata yang tidak terlalu panjang namun lentik.

“Oh, baiklah,” gadis itu menjawab dalam Bahasa Inggris. Apakah Dongwon melihat sinar pengenalan di matanya? Apakah gadis itu mengenalnya? Pemikiran itu membuat Dongwon menurunkan topinya lebih dalam lagi dan berpaling.

Terdengar gadis itu berkata lagi, “Tapi kursi ini kosong kan? Tidak ada yang menempati?” Bahasa Inggrisnya sempurna. Sayang pemahaman Dongwon tidak sebagus itu. Dengan terpaksa dia menoleh, ekspresinya setengah bingung. Dia tahu “kursi” dan “di sini”, tapi selebihnya dia kurang paham. Gadis itu mengerti. Dia lalu menunjuk kursi yang didudukinya, “Ini, kosong?”

Kali ini Dongwon menangkap maksudnya. “Oh. Ya, kosong.”

Gadis itu tersenyum lagi, “Turis?” tanyanya sambil melepas tas dan menaruhnya di pangkuan. Karena Dongwon tidak bereaksi, dia mengulangi sambil menunjuk Dongwon, “Turis?”

Dongwon berusaha memalingkan mukanya agar gadis itu tidak melihat seluruh wajahnya. “Ya,” jawab pria itu singkat.

“Sendiri?” tanya gadis itu lagi. Dongwon hanya mengangguk tanpa melihat gadis itu.

Lalu diam. Gadis itu tidak bertanya-tanya lagi padanya. Syukurlah. Dia bukan terlalu percaya diri, tapi bagaimanapun dia tidak mau menanggung resiko ada orang yang mengenalinya. Meskipun kecil kemungkinan itu akan terjadi di kota kecil seperti ini. Apalagi Eropa belum termasuk dalam daerah pemasarannya sebagai seorang top model dan aktor Korea.

Dongwon melihat lagi keluar jendela. Menikmati pemandangan yang terus berkelebat. Tapi lama-lama dia pusing lagi, jadi dia menundukkan kepalanya.

“Kau harus melihat ke depan,” gadis itu tiba-tiba berkata padanya.

Serta-merta Dongwon menoleh. Gadis itu sedang melihatnya balik dengan matanya yang ceria. Karena dia menghadap matahari, Dongwon melihat matanya beberapa tingkat lebih terang. Tiba-tiba gadis itu bangkit sedikit dari duduknya, lalu mencondongkan tubuh ke arahnya. Membuat Dongwon terbelalak. Dia takut gadis ini mengenalinya. Ternyata gadis itu hanya bergerak mendekati jendela. Tangannya terulur ke depan, ke arah kereta melaju. “Lihat. Sana,” gadis itu berkata singkat.

Dongwon mengikuti arah pandangannya dan memahami apa maksud gadis itu. Pria itu pun mengangguk dan tersenyum berterima kasih pada si gadis. Segera dia mendekatkan wajahnya ke jendela dan mengikuti saran gadis itu. Dia tampaknya puas Dongwon menerima sarannya. Lalu Dongwon kembali larut dalam pikirannya, mengabaikan teman sebangkunya. Lama-lama, goyangan halus kereta membuatnya mengantuk dan jatuh tertidur.

Dia terbangun lama kemudian ketika merasa seseorang bergerak di sampingnya. Ketika matanya terbuka, gadis itu sedang condong ke arahnya. Wajah mereka dekat sekali. Tangannya terulur. Mata mereka bersitatap. Dongwon melihat sinar mata terkejut dan malu di mata gadis itu. “Oh, maaf, kau terbangun? Aku hanya ingin membuang sampah.”

Dongwon melihat ujung tangan gadis itu yang terulur ke dekat pahanya. Di sana ada tempat sampah. Rupanya gadis itu hendak membuang sampah. Dongwon tersenyum kaku karena masih terkejut, lalu membenarkan posisi duduknya. Pria itu lalu mengusap mukanya.

“Kau mau?” kata gadis itu tiba-tiba mengulurkan sekotak permen padanya. Dongwon menggerakkan tangannya sebagai isyarat menolak. Gadis itu hanya mengangkat bahu, lalu memakan permennya sendiri. “Kau mau kemana?” tanyanya.

“Berlin,” jawab Dongwon langsung memahami pertanyaan sederhana itu.

Gadis itu nampak terkejut. “Bercanda! Aku juga mau ke sana!” Dongwon hanya tersenyum ragu-ragu, membuat gadis itu mengeluarkan tiketnya, “Lihat. Berlin. Aku juga,” kata gadis itu.

Gadis itu ramah sekali, membuat senyum Dongwon melebar, tidak sadar dia terlarut dalam antusiasme gadis itu karena bertemu orang yang satu arah dengannya. “Kau pakai RE atau ICE?” gadis itu bertanya lagi. Nah, yang ini membuat Dongwon mengerutkan kening.

“Tiketmu. Coba lihat,” pinta gadis itu.

Ragu-ragu Dongwon mengambil tiketnya dan menunjukkannya pada gadis itu. Begitu melihat tiketnya, mata gadis itu membelalak. “Aku tidak percaya ini! Kita mengambil rute yang sama persis!” dia menoleh ke arah Dongwon, lalu menunjukkan jadwal kereta yang ada di tiket mereka. Sama persis.

Mata Dongwon membelalak. Jarinya bergantian menunjuk dirinya sendiri dan gadis itu. “Bersama?”

“Ya!” gadis itu tertawa. Membuat Dongwon terpengaruh sehingga ikut tertawa.

Tiba-tiba gadis itu mengatakan sesuatu dengan cepat, lalu mengulanginya lagi jauh lebih lambat karena melihat Dongwon kebingungan. Ternyata mereka sudah hampir sampai di stasiun pemberhentian mereka yang pertama. Lübeck.

Sepuluh menit kemudian mereka sudah berlarian di stasiun Lübeck, mengejar pintu kereta kedua yang hampir tertutup karena waktu transit mereka memang tidak lama. Baru saja melompat masuk ke dalam kereta, pintu kereta langsung menutup di belakang mereka. Mereka bertatapan terkejut lalu tertawa lega karena berhasil mengejar kereta. Tawa yang mengundang tatapan orang-orang, tapi mereka tidak peduli.

Kali ini keduanya tidak bisa mendapatkan tempat duduk yang layak, dan harus duduk di bagian orang biasa membawa sepeda. Mereka menduduki kursi lipat yang kurang nyaman, namun masih lebih baik daripada tidak duduk sama sekali. “Hanya sebentar. Paling lama satu jam setengah sampai kita sampai di Hamburg,” gadis itu menjelaskan pada Dongwon.

Satu jam setengah bukanlah waktu yang lama jika kau punya teman seperjalanan, pikir Dongwon. Apalagi jika obrolan dilakukan dengan lambat karena masalah bahasa. Tapi toh Dongwon tampak menikmatinya. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk menjelaskan alasan keduanya pergi ke Berlin. Dongwon salut pada gadis ini karena tidak pernah kehilangan kesabaran menjelaskan semuanya. Malah beberapa kali Dongwon yang menyerah menjelaskan karena merasa frustasi tidak menemukan kata-kata yang tepat, namun berulang kali gadis itu mendorongnya untuk terus berusaha. Sepanjang percakapan itu pula Dongwon yakin bahwa gadis itu tidak mengenalinya. Dia hanya gadis ramah yang baik.

Sampai di Hamburg, Dongwon sudah jauh lebih percaya diri untuk bicara dalam Bahasa Inggris. Selain itu telinganya sekarang sudah makin terbiasa mendengar kata-kata dalam Bahasa Inggris. Terutama yang diucapkan oleh teman barunya dengan logat yang lucu. Gadis itu mengatakan bahwa dia bukan orang Jerman. Dia orang Indonesia. Sepertinya Dongwon tahu negara itu. Ada hubungannya dengan Bali, kan? pikirnya.

Di Hamburg mereka memiliki lebih banyak waktu menunggu kereta dibandingkan Lübeck. Mereka memanfaatkan itu untuk melihat-lihat toko suvenir, dan menikmati makan siang di pusat makanan. “Kau harus mencoba Bratwurst,” gadis itu menyarankan. Lalu dia menunjukkan sebuah kedai kecil penjual sosis panggang dengan roti. Tanpa diminta, gadis itu membeli dua potong bratwurst dan membungkusnya. “Untuk di kereta,” ujarnya melambaikan kantung bratwurst di depan wajah Dongwon.

Saat kereta mereka datang, mereka cepat-cepat naik dan berhasil mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Gadis itu terus berceloteh pelan-pelan pada Dongwon, mengatakan berapa lama perjalanan, jam berapa mereka akan sampai, dan sebagainya. Keceriaan gadis itu membuat Dongwon lebih santai. Dia sudah lupa sama sekali niatnya menyembunyikan wajah, dia bahkan melepas topinya. Karena sikap gadis itu yang biasa-biasa saja, Dongwon menjadi yakin bahwa dia bisa memperoleh privasi di Jerman ini, sebab tidak banyak orang akan mengenalinya. Buktinya, sampai di sini semuanya aman-aman saja, tak seorang pun nampak mengenalinya.

“Jadi, kau benar-benar sendirian dalam perjalananmu?” gadis itu melontarkan pertanyaan.

Dongwoon mendengus mengingat Manajer Noona-nya. “Tidak. Aku bersama seorang teman, tapi dia ingin menelusuri Berlin sementara aku memilih melihat-lihat daerah lain,” jawab Dongwon tanpa menatap gadis itu.

Pria itu menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya dia kabur dari manajer yang dianggapnya sudah sangat keterlaluan. Wanita itu sangat aneh sejak mereka sampai di Jerman. Dengan seenaknya dia memadatkan seluruh jadwal Dongwon. Dia bahkan tidak diberi waktu istirahat makan siang sementara di malam hari dia hanya diberi waktu 3 jam untuk tidur. Setelah tiga hari diperlakukan seperti mesin, Dongwon memutuskan akan memberi pelajaran pada manajernya itu. Saat seharusnya tidur, dia menyelinap berbekal uang dan sedikit baju ganti, lalu mengambil kereta pertama yang bisa didapatkannya.

“Aku hanya pergi sesuai kata hatiku. Asal naik kereta,” dia nyengir seenaknya ke arah teman barunya. Tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa dia tersesat. Gadis itu tiba-tiba tersedak. Sepertinya agak berat, karena matanya sampai berair dan mukanya merah sekali.

“Hey, kau tidak apa-apa?” tanya Dongwon terkejut sekaligus khawatir. Pria itu seperti mendengar gadis itu menjawab, “Gwenchanha,” tapi ah, itu tidak mungkin.

Gadis itu terus terbatuk-batuk hingga Dongwon benar-benar khawatir. Dia mulai menepuk pelan punggung si gadis. Beberapa saat kemudian barulah batuknya reda. Setelah itu si gadis seolah menghindari pandangannya. “Hey, kau benar-benar tidak apa-apa?”

Gadis itu menjawab, “Ya, aku baik-baik saja,” sambil menyingkirkan tangan Dongwon dari bahunya.

“Akh!” Dongwon berseru tertahan. Membuat si gadis terkejut.

“Kenapa?” gadis itu sekarang nampak mengkhawatirkannya.

Dongwon tersenyum malu. “Haha, sepertinya tadi di kereta pertama aku salah tidur. Sekarang pundakku kaku dan kepalaku sakit jika menoleh.”

Gadis itu mengernyitkan keningnya prihatin. Lalu dia bertanya hati-hati, “Kau mau aku pijat? Aku bisa melakukannya sedikit-sedikit.”

Keragu-raguan di wajah gadis itu membuat Dongwon luluh. Gadis ini begitu sopan. Dia malah jadi ingin dipijat melihatnya ragu-ragu begitu. Dengan senyum lebar dan mata berbinar memohon, dia berkata, “Tolong…”

Wajah gadis itu sedikit memerah, tapi Dongwon kurang yakin, sebab warna kulitnya tidak terlalu terang, sehingga dia tidak yakin apakah benar wajahnya bersemu atau tidak. Yang jelas, gadis itu sekarang mulai menyentuh pundaknya. Gerakannya mantap dan pasti, perlahan-lahan mengarah ke tengkuknya. Ketika tangannya menyentuh kulit Dongwon, pria itu meresapi rasa kulit gadis itu yang dirasanya sangat lembut. Bagaimana mungkin tangan selembut ini bisa memberi pijatan yang mantap seperti ini. Jujur saja, pijatannya enak sekali.

Gadis itu terus memijat Dongwon. Sudah lama mereka berhenti bercakap-cakap. Sekarang Dongwon mulai terkantuk-kantuk merasakan tekanan tangan gadis itu di area leher dan punggungnya. Pijatannya sudah bukan lagi hanya di area yang sakit, tapi kedua pundaknya sudah terkena sentuhannya. Begitu juga punggungnya. Kini pria itu hanya bisa berkonsentrasi agar tidak jatuh tertidur. Tapi tantangannya terlalu berat, pada akhirnya dia tetap tertidur, meski tidak sadar bahwa dia tengah tertidur.

Dia menyadari bahwa dirinya tertidur ketika kereta agak bergoncang. Dia merasakan bahwa kepalanya sedang bersandar dengan nyaman di bahu teman barunya. Meski demikian dia tidak ingin membuka matanya cepat-cepat sebab dia mendengar gadis itu sedang menggumamkan sesuatu yang dia ketahui. Gadis itu menggumam dalam Bahasa Korea! Ini membuatnya penasaran, sebab tadi gadis itu mengaku bahwa dirinya tidak bisa berbahasa Korea. Sekarang ini, gadis itu lancar sekali menyanyikan lagu Sung Si Kyung, Joultende. Mengapa gadis ini berbohong?

Kecurigaan dengan cepat merasuki pikirannya. Dia merasa ada yang tidak tepat. Benarkah gadis ini tidak mengenalinya? Dia sedang sibuk menerka-nerka ketika kepala gadis itu menempel di kepalanya. Lama-kelamaan dia bisa merasakan beratnya kepala si gadis. Rupanya dia tertidur!

Saat itulah Dongwon memutuskan untuk membuka matanya. Dia tidak langsung bangun, melainkan menunggu hingga beberapa saat hingga gadis itu benar-benar terlelap, baru dia mulai mengangkat kepalanya. Dibiarkannya kepala gadis itu menyandar di bahunya sementara Dongwon mencoba meneliti barang bawaan gadis itu. Matanya menangkap iPhone di genggaman si gadis, lalu perlahan ditariknya benda tersebut, dan dia berusaha melihat isinya. Untunglah tidak diproteksi, sehingga dia bisa melihat-lihat dengan mudah.

Jantungnya sesaat berhenti berdetak ketika menelusuri folder-folder penyimpanan dalam iPhone tersebut. Banyak sekali foto dirinya! Sepertinya foto-foto ini diunduh dari internet. Dia terus menelusuri folder itu, mencari tahu siapa tahu gadis ini sudah mengambil gambarnya diam-diam. Beberapa saat kemudian dia bernafas lega karena tidak menemukan apapun yang ditakutinya. Tapi jangan-jangan gadis ini mengambil gambarnya dengan kamera? Pelan Dongwon meraba-raba ke dalam tas gadis itu, lalu kembali bernafas lega ketika tidak menemukan kamera.

Dengan agak kesal Dongwon memindahkan kepala gadis itu ke jendela dan membiarkannya menyender ke sana. Kemudian cepat-cepat dia bangun dan pindah ke gerbong lain. Dia merasa dibohongi. Gadis itu tahu siapa dia! Dan demi mendekatinya, berpura-pura tidak mengenalnya. Entah kenapa dia kesal sekali. Kekesalannya tidak seperti biasanya. Sepanjang sisa perjalanan dia berusaha menahan kekesalannya. Bersumpah tidak akan lagi melepas topinya.

Sambil terus memandangi jendela, Dongwon masih terus merasakan kekesalan dalam dadanya. Dia sendiri heran kenapa dia bisa sekesal ini, tapi dia hanya mampu merasakannya. Pikirannya tidak bisa dijernihkan. Sedang begitu, matanya menangkap gerakan seseorang. Gadis itu! Sial! Gadis itu mencarinya. Segera Dongwon memutuskan untuk bangkit dan bersembunyi di toilet.

“Hey,” terdengar suara gadis itu memanggilnya. Tapi dia tidak peduli. Dia pura-pura tidak mendengar. Cepat-cepat dia berjalan ke arah toilet. Sialnya, gadis itu mengejarnya. Dia mencoba mengintip dari balik bahu, dan sialnya pandangan mereka bertemu. Ditatapnya gadis itu dengan marah, lalu dia meneruskan berjalan ke toilet. Kalau gadis itu tidak mengerti maksud pandangannya, berarti gadis itu dungu!

Dia menutup pintu toilet dengan hati berdebar-debar. Harap-harap cemas gadis itu akan mengikutinya. Lalu terdengar ketukan di pintu toilet, “Dongwon ssi.” panggil gadis itu lembut. Padahal dia tidak pernah menyebutkan nama, jadi memang benar gadis itu mengenalnya! Dasar gadis gila.

“Dongwon ssi… Mian.” Lalu diam. “Aku pergi,” terdengar suara gadis itu lagi disusul langkah kakinya menjauhi pintu toilet.

Begitu Dongwon tidak mendengar apa-apa lagi, dia memberanikan diri membuka pintu toilet. Ketika dia tidak melihat gadis itu dimanapun, dia bernafas lega dan berjalan kembali ke bangkunya. Tidak menyadari pandangan sedih seorang gadis mengikuti punggungnya yang menjauh.

Dua jam kemudian kereta Dongwon sampai di Berlin. Sambil menunduk pria itu berjalan keluar dari kereta. Sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya. Berlin kota besar dengan populasi warga keturunan asia yang cukup besar pula. Di sini dia akan lebih mudah dikenali. Berhati-hati dia menuju ke arah toilet pria untuk menelepon manajernya.

Begitu diangkat, dia mendapati suara manajernya itu menangis. “Dongwon-a, maaf. Kamu dimana? Aku khawatir setengah mati. Maafkan aku, Dongwon-a. Kemarin begitu sampai aku mendapat telepon anakku masuk rumah sakit, sehingga aku ingin cepat kembali ke Korea, aku tidak memikirkan kondisimu. Maafkan aku, Dongwon-a,” manajernya itu langsung menyerocos, tidak memberi kesempatan Dongwon untuk menjawab.

Dongwon sendiri tertegun sesaat. Jadi itu alasannya. “Harusnya Noona bilang,” katanya lembut setelah mendapatkan kesempatan bicara. Manajernya hanya terus meminta maaf sambil menanyakan keberadaannya. Lama kemudian baru dia bisa menjelaskan keberadaannya sebab manajernya itu tidak berhenti bicara. Mereka sepakat bahwa Manajer Noona akan menjemputnya di stasiun dan dia akan menunggu.

Dia keluar dari toilet dan merasa lapar. Gadis itu benar, perjalanan tadi memang panjang. Dia tidak sempat memakan bratwurst yang tadi dibelikan oleh gadis asing itu, jadi dia sekarang merasa lapar. Dia kemudian mencari orang yang menjual bratwurst karena bagaimanapun juga dia ingin tahu rasanya.

Akhirnya dia menemukannya setelah berkeliling. Segera saja dia mengantri untuk membeli sepotong bratwurst. Ketika dia sedang membayar, tiba-tiba ada kilatan lampu dari sampingnya. Ketika dia menoleh, di sana terdapat gerombolan remaja, “Kyaa! Benar ini Kang Dongwon!” mereka berseru.

Dongwon panik karena tertangkap basah. Dia harus bagaimana? Dia tidak dalam kondisi prima untuk menghadapi fans. Tiba-tiba salah seorang di antara remaja itu menggandeng tangannya, memaksa berfoto bersamanya. Saus dari bratwurst mulai menetes ke lantai, sementara Dongwon dengan terbata-bata meminta agar fotonya tidak diambil. Tapi mereka tidak mau mengerti. Mereka terus saja mengerubunginya dan bahkan makin berani menyentuh-nyentuh tubuhnya, menarik perhatian orang-orang lain. Kini mereka sudah jadi tontonan banyak orang.

“Dongwon ssi! Di sini kau! Kita cepat pergi!” terdengar seseorang berseru dengan Bahasa Korea yang buruk sekali dari balik punggungnya. Dia menoleh dan mendapati teman setengah perjalanannya berdiri dengan muka dibuat serius. Dia dengan tegas menghalau para remaja itu dalam bahasa Jerman. Nadanya tegas sekali sehingga mereka mundur dan melepaskan Dongwon.

Sekejap kemudian, tangannya sudah digenggam gadis itu dan dia menarik Dongwon pergi. “Patuhilah aku, aku jaga kamu,” bisik gadis itu masih dengan Bahasa Korea yang buruk.

Dongwon menoleh ke arah para remaja yang masih terbengong-bengong lalu salah seorang di antara mereka berseru. Saat itulah gadis itu menarik tangannya dan berseru, “Lari!”

Dongwon yang tangannya ditarik ikut berlari di belakang gadis itu. Membuat para remaja ribut tadi mengejar mereka sekarang. Sebentar saja mereka sudah berganti posisi, Dongwon yang menarik tangan gadis itu. Dia memimpin pelarian mereka dengan arahan yang diberikan gadis itu. Di belokan terakhir, mereka menemukan pangkalan taksi. Gadis itu membawa mereka berlari menuju taksi yang diparkir paling depan, lalu keduanya segera menaiki taksi. Gadis itu menyerukan sesuatu pada supir taksi dan segera saja mereka melesat meninggalkan gerombolan remaja yang berteriak-teriak di belakang mereka.

Gadis itu menanyakan nama hotelnya dan kemudian menyampaikannya pada supir taksi. Setelahnya, gadis itu sibuk mencari tisu untuk mengelap baju Dongwon yang kotor akibat saus bratwurst. Mukanya bersemangat dan ceria. Tidak nampak sama sekali bahwa dia adalah pembohong. Meski demikian, Dongwon menyadari dia lebih nyaman ketika dibohongi oleh cewek ini dibandingkan dielu-elukan oleh fansnya yang barusan.

Senyum lembut terbit di wajah Dongwon. Tangannya menghentikan gerakan si gadis yang sibuk membersihkan bajunya. “Namamu siapa?” Dongwon bertanya lembut padanya.

Kali ini pria itu yakin bahwa pipi gadis itu memang bersemu merah ketika dia menjawab dengan malu, “Bee.”

….

KKEUT.

http://wp.me/p1rQNR-7z

Iklan