Tag

, , , , , ,

Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Leeteuk, Suju KRY

Rating : AAbK

Genre : Romance

url: http://wp.me/p1rQNR-6d

^^^

Plak!

Eunhyuk merasakan tamparan di pipinya. “Eunhyuk! Bangun! Kepalamu baik-baik saja? Eodi appeu?” telinganya mendengar suara Miho berseru dengan panik. Wanita itu lalu bangkit dengan buru-buru, tanpa sengaja menekan paha Eunhyuk dengan lutut, membuatnya nyeri. Erangan tertahan keluar dari mulutnya, membuat Miho semakin panik.

Eunhyuk masih tidak membuka matanya. Dia tidak sanggup menatap Miho sekarang. Sial. Dia hanya bermimpi. Sesaat tadi bayangannya mencium Miho seolah nyata dan membuatnya terlena.

Pada kenyataannya, bukannya meleleh dalam ciumannya, wanita itu kini sedang menyiksanya. Menamparnya, mengangkat-angkat kepalanya lalu dengan kasar menaruhnya lagi di lantai, sehingga dia kejedut-kejedut. Sepertinya malam ini dia akan punya aksesori baru berjudul ‘benjol’ di kepalanya.

Ketika siksaan Miho semakin tidak tertahankan, Eunhyuk mendesiskan mulutnya dengan kesal. “EEish! Aku ga apa-apa!” bentaknya pada Miho sambil membuka mata. “Kau mau membunuhku ya?!” galaknya melotot pada Miho.

Dibentak begitu, Miho terkejut. “Mwo?!” teriaknya pada Eunhyuk. “Bilang kek kalau emang ga papa! Aku itu khawatir sama kamu, tahu?! Ga usah ngebentak-bentak gitu deh!”

Yang dibentak balik jadi shock. Miho galak sekali! “Iya, tapi kamu kan ga perlu ngejedut-jedutin kepalaku ke lantai,” nada bicara Eunhyuk melunak setengah ketakutan melihat galaknya Miho. Dia beranjak bangun.

“Eh,” Miho menoyor bahu Eunhyuk. “Aku itu lagi meriksa kamu, tau. Bukan lagi nyelakain kamu!”

“Ciss!” Eunhyuk tetap bersungut-sungut sambil bangun dari lantai. “Liat nih, bajuku jadi basah semua begini. Padahal baru ganti,” dia protes pada Miho.

Miho mengikuti Eunhyuk bangun dari lantai. Dibenarkannya kaus yang agak tersingkap. Mulutnya berkata, “Siapa suruh kamu bikin aku jatuh.”

Eunhyuk melihat Miho agak terhuyung ke belakang ketika membersihkan bajunya, lalu spontan ditariknya tangan Miho hingga wanita itu berpindah ke sisinya. Dia sendiri membungkuk mengambil gelas yang hampir terinjak oleh Miho.

Merasa telah dilindungi, Miho mengurungkan omelan tambahannya. Tapi dia tak sudi bilang terima kasih.

Eunhyuk melihat sekelilingnya, “Aaagh, kacau deh nih dapur. Sekarang aku harus ngepel deh,” Eunhyuk berseru kesal.

Miho pura-pura tak mendengar dan malah celingukan menghindari wajah Eunhyuk. Tidak mau disuruh membantu ngepel. Bagaimanapun dia jatuh kan karena Eunhyuk. Kemudian matanya menangkap baju-bajunya yang berserakan. Oke, karena itu bajunya, maka dia akan mengambilnya. Bukan hendak membantu Eunhyuk lho…

Selagi Miho memunguti bajunya, Eunhyuk keluar dapur. Sebentar kemudian cowok itu sudah kembali dengan lap pel di tangannya. “Kayaknya airnya sampai ke bawah lemari deh,” Miho memberi tahu Eunhyuk. Yang diberitahu hanya memandangnya kesal. Yee, dikasih tahu malah sewot. Ya udah, mending gue pergi aja, pikir Miho.

Eunhyuk tidak menghiraukan Miho yang melangkah keluar dapur. Dia sedang sibuk. Sibuk mengepel, sibuk membereskan kekacauan yang dibuatnya sendiri, sibuk kesal, sibuk menenangkan hati yang berdebar-debar akibat membayangkan ciuman dengan Miho tadi, sibuk marah pada dirinya sendiri karena harus membayangkan yang tidak-tidak. Kalau bahan dasar orang yang—dalam bayangan—diciumnya adalah perempuan tulen sih, tidak masalah. Ini laki-laki, lho. Demi Tuhan, laki-laki!

Di ruang tengah, Miho berusaha menaruh baju-bajunya di tempat yang terkena sinar matahari, sebab baju-baju itu agak basah terciprat air tadi. Tiba-tiba dia mendengar suara Eunhyuk menggelegar, “Miho-ya!”

Terkejut, Miho menoleh ke arah datangnya suara. “Hyung!” protesnya pada Eunhyuk sebelum melihat lebih jauh penyebab Eunhyuk berseru begitu keras.

“Terserah!” cowok itu berteriak tapi entah pada siapa. Sebab meskipun Miho berdiri di depannya, dia memalingkan wajahnya yang merah padam ke arah lain. Miho melihat ke arah tangannya yang terulur dan langsung paham kenapa anak itu merah padam. Di sana ada bh Miho yang terjuntai. Mau tidak mau, muka Miho ikut memerah. Bagaimana bisa Eunhyuk memegang bh-nya? “Tadi terjatuh di bawah lemari!” seperti bisa membaca pikiran Miho, Eunhyuk menjelaskan.

Cepat-cepat Miho menarik benda itu dari tangan Eunhyuk. Namun karena terlalu terburu-buru, talinya jadi tersangkut di jari Eunhyuk, dan mereka berdua harus menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperlukan untuk memindahkan barang itu dari tangan Eunhyuk ke tangan Miho. Keduanya berpikiran sama, “Aaah, kacau banget sih?!”

Saat mereka berdua sedang berusaha melepaskan benda itu, pintu depan tiba-tiba terbuka. Suara ribut beberapa orang menghentikan pergulatan tangan Miho dan Eunhyuk. Di sana berdiri trio KRY.

Yang pertama melihat Eunhyuk dan Miho adalah Kyuhyun. Cepat-cepat keduanya menyembunyikan bh Miho di balik badan Eunhyuk. Sementara tangan kiri Eunhyuk memegang gagal pel, tangan kanannya tersembunyi di belakang dan Miho berusaha mengurai tali bh-nya dari tangan Eunhyuk tanpa melihat. Mata keduanya tampak bersalah dan gugup memandangi trio KRY.

“Kalian sedang apa?” tanya Kyuhyun dengan nada curiga melihat Eunhyuk dan Miho berdiri rapat.

Suara Kyuhyun menarik perhatian kedua hyungnya, Yesung dan Ryeowook. Mereka akhirnya menyadari keberadaan Miho di dalam asrama mereka. Sejak mereka melihat sikap genit Miho di gedung SME beberapa waktu lalu, ketiganya tidak pernah tenang jika bertemu Miho. Selalu merasa ada yang salah. Mereka takut ‘digoda’ lagi oleh Miho. Bukan apa-apa, masalahnya Miho terlalu mirip wanita, mereka setengah tidak percaya pada Miho dan setengahnya lagi tidak percaya pada diri mereka sendiri.

Kyuhyun melangkah mendekati Eunhyuk dan Miho, begitulah yang dipikirkan keduanya. Sebenarnya sih Kyuhyun hanya mau menyeberangi ruangan menuju televisi. Melihat langkah Kyuhyun, otomatis Eunhyuk dan Miho bergeser bersamaan. Gerakan yang lantas malah mengundang kecurigaan trio KRY, “Kalian kenapa?” tanya Yesung.

“Ahahahahaa, apa maksudmu? Kami tidak kenapa-kenapa, ya kan Mihyung?” Eunhyuk tertawa gugup dan mencurigakan.

“Mihyung?” Ryeowook mengulangi panggilan Eunhyuk untuk Miho.

“O. Miho Hyung. Mihyung,” ulang Eunhyuk pendek-pendek penuh kegugupan.

“AH!” Miho berseru mengagetkan semua orang. Dia menemukan akal. Kebetulan saat ini mereka berdua berdiri dekat pintu dapur, sehingga dengan mudah Miho bisa mendorong Eunhyuk ke dalam dapur untuk menyembunyikan tangannya.

“Kau ambil es krimnya di freezer, Hyuk!” perintah Miho asal pada Eunhyuk sementara dia sendiri berjalan mendekati meja. “Aku membawa oleh-oleh untuk semuanya,” kata Miho sambil menunjuk kotak bekal di atas meja. Dalam benaknya dia berharap Eunhyuk berhasil melepaskan bh-nya di dapur lalu menyembunyikannya dulu untuk sementara dimana saja.

Miho senang karena mengira siasatnya berhasil. Ryeowook dan Yesung sekarang mendekati meja sambil berseru kesenangan mengetahui ada makanan menanti mereka. Baru saja Miho hendak mengatakan bahwa es krim di freezer juga bawaannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Eunhyuk dari pintu dapur, “AAAHH!”

Teriakan itu disusul oleh teriakan terkejut Kyuhyun,“Ige mwoya?!!!” Tenyata anak itu dari tadi memperhatikan ada yang disembunyikan di balik punggung Eunhyuk, sehingga saat Miho dan hyungnya itu lengah, dia mengambil kesempatan untuk merebut benda di tangan Eunhyuk.

Kini, terpampanglah bh Miho yang tergenggam erat di tangan Eunhyuk. Sebenarnya tadi dia tidak menggenggamnya seerat itu, tapi gara-gara paksaan Kyuhyun, secara otomatis dia mempererat genggamannya sebagai mekanisme pertahanan diri—entah dari apa. Dan heninglah ruangan itu selama 5 detik yang sangat canggung.

Bagi Miho dan Eunhyuk, ini sangat memalukan. Bagi trio KRY, mereka tidak tahu situasi ini dinamakan apa. Kalau Miho seorang cewek tulen, mereka pasti sudah akan bersuit-suit menggoda Eunhyuk. Tapi karena sepanjang pengetahuan mereka Miho bukan perempuan, perasaan mereka terhadap Eunhyuk bercampur aduk antara ingin mengejeknya, kasihan padanya, dan geli padanya karena kok bisa-bisanya… dengan Miho yang…

“Y, y, ya! Kalian salah paham!” Eunhyuk yang pertama angkat bicara. “Ini, ini, ini ga seperti yang kalian pikirkan!” dia berseru sambil berkutat melepaskan bh Miho dari tangannya. Hal itu membuat Miho ikut tersadar dan sekarang berusaha membantu Eunhyuk.

Dasar sedang sial, barang itu tidak lepas-lepas juga, akhirnya mereka menariknya dengan paksa. Saat tangan Eunhyuk berhasil terlepas, tekanannya terlalu kuat dan daya pegas yang bekerja tidak kalah besar. Akibatnya tangan Eunhyuk terlontar ke depan dan menampar dada Miho keras sekali. Gadis itu langsung sempoyongan ke belakang sambil memegangi dadanya yang panas dan sakit.

Tubuh Miho terjatuh di lantai dengan tangan yang memegang bh terulur ke arah baju-baju yang tadi sengaja dijemurnya di lantai, lengkap dengan bawahan pasangan bh-nya, alias celana dalamnya, yang juga sedang terjemur dengan indah. Suju KRY yang tadinya tidak memperhatikan hal itu jadi sadar apa yang tersebar di lantai asrama mereka. Sebagai yang tertua dan merasa sebagai pemilik tempat, Yesung akhirnya meledak, “APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

Eunhyuk cepat-cepat menjawab, “Ani, Hyung! Kami tidak melakukan apa-apa! Benar! Itu baju Mihyung yang hendak kukembalikan, ya kan Mihyung?” katanya berusaha mencari dukungan dari Miho.

Tapi Miho tidak mampu bergerak. Dadanya sakit sekali kena pukulan Eunhyuk. Dia terus memeganginya untuk mengurangi rasa sakit. Tidak menyadari bahwa pakaiannya bagian atas telah tersingkap sehingga perutnya terbuka sebagian dan celana pendeknya juga menggulung ke atas, hampir memperlihatkan daerah batas yang bisa ditoleransi untuk dipamerkan.

Kyuhyun bergerak lebih cepat dari Eunhyuk. Anak itu langsung berjongkok di depan Miho. “Gwenchanha?” dia membantu Miho duduk dan tangannya bersentuhan langsung dengan kulit perut Miho.

Bagi Kyuhyun, itu hanya tindakan refleks, tidak menimbulkan pikiran apapun, tapi bagi Miho, sentuhan di tempat yang jarang tersentuh seperti perutnya itu memicu ingatan tidak enak, sehingga gadis itu langsung berjengit menjauhi Kyuhyun.

Yang diajuhi heran dan hanya bisa melongo sewaktu Miho mencoba berdiri sambil berkata, “Aku tidak apa-apa,” kata gadis itu sambil masih memegangi dadanya.

Eunhyuk sebenarnya khawatir. Dia melihat raut Miho agak berubah, meski kelihatannya gadis itu berusaha sekuat tenaga menahannya. Eunhyuk bisa mendeteksi ketakutan yang hampir sama seperti malam itu. Jadi dia berusaha mengalihkan perhatian trio KRY padanya.

“Hyung,” panggilnya pada Yesung. “Kami tidak melakukan apa-apa kok. Itu cuman kecelakaan. Tanganku terbelit…terbelit…terbelit… eissh,” Eunhyuk kesal karena susah sekali mengucapkan nama benda penyebab kekacauan ini. “Terbelit itu!” akhirnya dia memutuskan menggunakan kata pengganti, “waktu hendak mengembalikannya pada Mihyung. Kau ingat kan dia kemarin lupa membawanya sewaktu pulang?” lanjut Eunhyuk.

Yesung mendengar penjelasan Eunhyuk, tapi tetap tidak senang melihat jajaran baju perempuan—lengkap dengan dalamannya—berserakan di lantai. Untung saat itu Miho segera bertindak mengangkat baju-bajunya dari lantai. Dalam sekejap lantai itu telah bersih dari pemandangan ‘mengganggu’ yang disebabkan oleh baju-bajunya. Miho segera beranjak ke arah sofa untuk mengambil tas punggungnya.

Yesung dan Ryeowook menyingkir secara otomatis. Sebenarnya kemarahan Yesung sudah reda, tapi dia, Ryeowook dan Kyuhyun sekarang mempunyai rasa tidak enak yang sama. Mereka bertiga bisa melihat bahwa Miho benar-benar kesakitan karena terus memegangi dadanya. Meskipun itu bukan salah mereka, tapi mereka juga tidak sepenuhnya merasa tidak bertanggung jawab. Pertanyaan yang sama berkecamuk dalam pikiran mereka, “Apakah silikonnya rusak? Apakah dadanya tidak akan bergeser?

Eunhyuk memiliki kekhawatirannya sendiri. Lebih dari kesakitan fisik yang dialami Miho, Eunhyuk memperhatikan raut muka Miho yang semakin kusut. Bibir Rubah itu tampak mulai bergetar. Ini hampir sama dengan malam itu. “Mihyung, gwenchanha?” dia bertanya khawatir pada Miho.

Bagi Miho, suara Eunhyuk seperti panggilan yang memaksanya keluar dari kabut yang mulai menggelapkan pandangannya. Dia menoleh ke arah Eunhyuk dengan mata sayu. Tidak yakin apakah benar Eunhyuk yang memanggilnya atau bukan.

Melihat pandangan Miho, Eunhyuk segera melepaskan lap pel yang sedari tadi masih setia berada dalam genggamannya, kemudian segera menyambar Miho dan menarik wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Di sana dia mendudukkan Miho di kasurnya, lalu berjongkok di hadapannya. Seperti yang dilakukannya kemarin malam, dia meraih tangan Miho dan menggosok-gosoknya dengan cepat. Seperti yang diduganya, tangan wanita itu dingin, meski tidak sedingin malam seminggu yang lalu. Mulutnya terus menghembuskan nafas hangat ke tangan Miho sambil memanggil-manggil namanya, “Mihyung.. Mihyung.. ireona.. Mihyung…”

Eunhyuk menarik nafas lega karena dua menit kemudian dia sudah melihat kembali sinar di mata Miho. Gadis itu lalu berkata lemah pada Eunhyuk, “Tampar aku,” katanya.

Gerakan Eunhyuk terhenti. Dia tidak yakin telinganya mendengar dengan benar. Tapi Miho kemudian mengulangi permintaannya, “Tampar aku. Keras.”

Eunhyuk melihat ke dalam mata Miho dan teringat apa yang dilakukan oleh Euncha malam itu dan efeknya pada kesadaran Miho. Lalu dengan membulatkan tekad, dia menepuk pipi Miho agak keras. Miho agak menggeleng, tapi reaksinya masih lemah. “Lebih keras, jebal,” Eunhyuk mendengar bisikannya.

Akhirnya Eunhyuk menampar Miho kali ini. Tidak sekeras yang dia bisa, tapi cukup keras untuk membuat pipi Miho memerah. Setelah itu Eunhyuk melihat Miho menarik nafas dan matanya sudah kembali normal meski sorotnya kelabu. Seulas senyum dipaksakan terlihat dari bibir Miho, “Terima kasih,” katanya pelan.

“Terima kasih,” kata Miho lagi sambil menatap Eunhyuk sungguh-sungguh. Dua kali. Dua kali sudah cowok di hadapannya ini berhasil menariknya dari mimpi buruk. Padahal dia bukan siapa-siapa. Bagaimanakah Miho harus berterima kasih dengan layak padanya?

^^^

“Istirahatlah,” Eunhyuk berkata pada Miho di dalam mobil.

Begitu Miho sadar tadi, keduanya langsung berbaur dengan yang lain di ruang tengah. Miho bersyukur tidak satupun dari mereka bertanya-tanya mengenai reaksi anehnya, meski sudah dua kali mereka melihatnya. Malah mereka sibuk meributkan masalah bh dengan tujuan menggoda Eunhyuk sambil berebut kue beras yang dibawakan Miho. Hal itu membuat Miho lebih rileks dan bisa bersikap wajar di hadapan mereka. Seterusnya dia menjadi semakin akrab dengan mereka meskipun selain Eunhyuk, Trio KRY tampak masih geli dan takut-takut untuk dekat dengannya.

Ketika tiba saatnya Eunhyuk harus berangkat kerja, cowok itu mengajak Miho pulang bersamanya. Dia mengatakan terang-terangan bahwa dia akan mengantarkan Miho pulang. Karena Miho sendiri memang sudah berniat pulang maka dia menyetujuinya.

Saat ini mobil Eunhyuk sudah berhenti di depan rumah Miho dan wanita itu sedang bersiap-siap turun. Miho ingin mengatakan terima kasih kemudian turun begitu saja, tapi dia ingat ada yang harus dikatakannya pada Eunhyuk. Hal yang sudah beberapa hari ini ditahannya.

Miho menatap Eunhyuk. “Eunhyuk ssi—“

“Eissh,” Eunhyuk memotong ucapan Miho. “Panggil aja aku Hyukkie, atau Hyuk, seperti yang lain,” katanya pada Miho.

“Hyuk…” Miho berkata ragu sambil tersenyum malu, tidak menyadari debaran hati Eunhyuk yang semakin cepat mendengar suara dan melihat senyumnya. “Aku… Aku tadi sebenarnya hendak mengucapkan terima kasih,” lanjutnya sambil menunduk.

Miho berhenti sebentar, menyibakkan rambutnya, lalu mengangkat wajahnya dan bicara lagi, “Minggu kemarin, kamu mungkin tidak tahu, tapi karena kamu, aku bisa pulih. Lalu tadi, ternyata juga begitu. Kamu harus tahu bahwa…” Miho berpaling menatap Eunhyuk sungguh-sungguh, “… bahwa aku sangat berterima kasih padamu.” Akhirnya dia menyelesaikannya.

Awalnya Eunhyuk sibuk memperhatikan ekspresi Miho, tapi justru ekspresi itu juga yang membuat kesadarannya kembali. Rubah tampak sangat serius. Dia cukup kaget mendengar apa yang dikatakan Miho. Akhirnya munculah sebuah pertanyaan di benaknya karena pernyataan terima kasih Miho. “Mihyung,” panggilnya ragu-ragu pada Miho, “Boleh aku bertanya?”

Miho sebenarnya bisa menduga apa yang hendak ditanyakan oleh Eunhyuk, tapi dia membiarkan pria itu meneruskan pertanyaannya dengan memberikan anggukan.

Eunhyuk memutar tubuhnya hingga menghadap Miho. Satu lengannya diangkat ke sandaran kursi Miho, “Kalau kamu ga ingin memberi tahu, ga apa-apa, tapi aku penasaran dan tetap akan menanyakannya. Kamu, kenapa sih? Apa kamu punya penyakit tertentu?”

Untung Miho sudah menyiapkan jawabannya. Tersenyum dia menjawab pertanyaan Eunhyuk, “Aku punya fobia. Takut pada kondisi dengan banyak orang. Sekarang ini aku sudah jauh lebih baik, tapi kalau ada orang yang belum begitu kukenal menyentuh atau mengamatiku dengan intens, rasa panik bisa menyerangku tiba-tiba dan kamu tahu sendiri seperti apa aku kalau serangan itu datang.”

Eunhyuk tampak berpikir dan berusaha menyerap informasi yang diberikan Miho. “Tapi, kamu kan pengin jadi artis, Hyung. Artis itu diamati dan kadang-kadang disentuh banyak orang.”

Miho memalingkan pandangannya dari Eunhyuk, tidak mau cowok itu menyadari ada yang disembunyikannya, “Makanya tadi aku bilang kan, aku sudah jauh lebih baik saat ini dibandingkan beberapa tahun yang lalu.”

“Lalu yang kemarin itu?” Eunhyuk bertanya mengacu pada peristiwa seminggu yang lalu.

Miho juga sudah menyiapkan jawaban untuk ini, jadi dia berani menoleh lagi pada Eunhyuk. “Saat itu aku lelah sekali seharian, kondisiku kacau, perutku lapar, dan aku habis diserang, jadi sewaktu tiba-tiba melihat banyak sekali orang setelah hanya melihatmu dan Teuk Oppa, aku kaget dan langsung panik. Itulah yang belum bisa kukuasai. Sekali rasa panik datang, aku tidak akan bisa mengendalikannya.”

Eunhyuk terlihat menerima penjelasannya. Miho melanjutkan, “Lagipula sepertinya waktu itu aku udah keracunan bau bajuku sendiri.”

Mata Eunhyuk membulat mendengar itu, lalu Miho bisa melihat deretan gusinya karena cowok itu nyengir mendengar lelucon Miho yang garing. Tanpa sadar Eunhyuk membelai rambut Miho. Sebentar saja, sampai dia sendiri tidak sadar telah melakukannya. Dia mengembalikan posisi duduknya menghadap depan. “Jadi begitu,” gumamnya sambil mencengkeram setir.

“Ya, begitu.” Miho membenarkannya sambil melepaskan sabuk pengaman. “Baiklah, sebaiknya aku turun. Jangan sampai kau terlambat lagi gara-gara aku,” dia bersiap-siap turun.

“O,” Eunhyuk mengangguk.

Tepat sebelum turun, Miho membalik badannya lagi dengan satu kaki sudah menapak di jalan, “Terima kasih sekali lagi, Hyukkie,” ujarnya.

“Sudahlah. Hanya begitu kok,” jawab cowok itu dengan ringan.

Miho benar-benar turun sekarang. Dalam hatinya wanita itu bergumam, kalau saja kau tahu seberapa besar artinya ‘hanya begitu’ itu bagi kepulihanku, Hyuk…

Wanita itu menutup pintu mobil, tapi lalu Eunhyuk menurunkan kacanya. “Cham!” serunya dari dalam mobil membuat Miho menunduk untuk bisa melihatnya. “Tentang ini, apa kamu juga menceritakannya pada Leeteuk Hyung?”

Miho terheran-heran. Kenapa dia harus menceritakan hal ini pada Leeteuk Oppa? Kan tidak ada hubungannya. Miho menggeleng.

Reaksi Eunhyuk hanya cengiran bodohnya yang biasa, lalu, “Oke, aku pergi dulu ya. Istirahat,” katanya berpamitan.

Miho mengangguk kemudian menegakkan tubuhnya. Ketika mobil Eunhyuk meninggalkannya, dia melambaikan tangan sebentar, lalu memasuki rumah.

Eunhyuk memperhatikan kaca spionnya dan dengan puas melihat Miho memasuki rumah. Perasaannya senang. Miho tidak menceritakan penyakitnya pada Leeteuk. Artinya, ada hal khusus tentang Miho yang hanya diketahuinya. Rasanya dia ingin melompat-lompat. Ah, dia ingin menari!

^^^

Di studio Leeteuk menatap teleponnya. Perasaannya agak kecewa. Dia baru saja menelepon Miho, mengharapkan agar wanita itu bisa datang ke studio bersama Eunhyuk, tapi ternyata wanita itu sudah agak lama sampai di rumah. Untuk menyuruh Miho datang sendirian ke studio, dia tidak tega. Terpaksa harus ditahannya keinginannya.

“Hyu~ng,” dari belakang Leeteuk terdengar suara seseorang memanggilnya dengan ceria. Leeteuk menoleh dan melihat Eunhyuk baru datang, tampak segar dan senang sekali. Entah apa yang terjadi pada Eunhyuk sehingga dongsaengnya itu terlihat begitu gembira sampai-sampai menghampirinya sambil menari.

“Ya. Kau kenapa? Kesambet ya?” tegur Leeteuk. Mau tidak mau moodnya terangkat oleh keceriaan Eunhyuk.

Eunhyuk berpikir sejenak sebelum mengangguk-angguk lucu. “Ya. Aku habis ditempeli makhluk,” katanya tertawa mengingat Miho sambil meninggalkan Leeteuk untuk minta naskah pada pengarah acara.

Leeteuk mengikutinya dari belakang dan begitu dekat, ditepuknya pelan kepala Eunhyuk dengan gulungan naskah di tangannya. “Setan, keluarlah!” katanya bercanda.

Eunhyuk hanya nyengir sebentar lalu tak peduli. Dia lagi-lagi menari untuk menghampiri pengarah acara. Jiwa main-main Leeteuk tersenggol, sehingga dia ikut menari-nari gaje bersama Eunhyuk. Sayang, kesenangannya tidak berlangsung lama. Manajer mendatanginya entah dari mana dan mengajaknya bicara serius.

Mereka berdua akhirnya berbicara pelan-pelan di sebelah Eunhyuk yang sedang dirias. “Kau sudah melakukan sesuatu, Jungsoo-ya?”

Leeteuk tidak mengerti, “Hah?”

“Tentang wanita itu, Go Miho. Aku tadi baru ditegur oleh Sajangnim. Kita harus bertindak cepat,” kata pria itu dengan nada mendesak.

Leeteuk tidak suka hal ini. Kenapa sih seseorang harus dipaksa-paksa? Kenapa mereka yang harus repot membujuk Miho? Apa tidak ada tim lain yang bisa disuruh untuk melakukan hal itu? Padahal pekerjaan mereka kan banyak, kenapa Sajangnim tidak menyuruh orang lain saja?

“Aku mendengar sudah beberapa agensi mencoba mendapatkan informasi kontak Miho dari kita, jadi kau harus bisa mendapatkannya secepatnya,” Manajer Hyung menatap Leeteuk tajam.

“Tapi tidak semudah itu, Hyung…” Leeteuk mencoba mengelak.

Manajernya tidak menunjukkan sikap mau mengerti. “Kau kan hanya tinggal menghubunginya!”

“Iya, tapi—“

“Wae geurae?” Eunhyuk muncul tiba-tiba di sebelah Leeteuk.

Manajer tampak terkejut lalu buru-buru berpaling sambil mengusap-usap lehernya. “Tidak apa-apa,” katanya canggung. “Kalian kerjalah yang benar. Pulang nanti tidak usah menungguku. Aku ada rapat dengan Sajangnim,” katanya lalu cepat-cepat berlalu.

Eunhyuk dan Leeteuk hanya memandangi kepergian manajernya itu dengan masam. Keduanya merasa diabaikan begitu saja. Sepertinya akhir-akhir ini manajernya itu jauh lebih sibuk daripada mereka.

Eunhyuk menoleh pada Leeteuk. “Kau disuruh apa oleh Manajer Hyung?” tanyanya tajam pada hyungnya itu.

Leeteuk terkejut, reaksi pertamanya adalah menghindar. “Disuruh apa? Aku ga disuruh apa-apa kok.”

“Jangan bohong, Hyung. Aku denger semuanya tadi. Ada hubungannya sama Miho, kan?”

“Apa? Ga ada kok. Udahlah, ga ada hubungannya sama kamu. Siap-siap sa—“

Eunhyuk mendengus keras. “Udahlah Hyung. Sikapmu ini malah bikin aku yakin. Kau disuruh Manajer Hyung buat ngebujukin Miho masuk SME kan?” desisnya pelan, takut ada orang lain yang mendengar.

Eunhyuk sebenarnya hanya pura-pura yakin. Tapi dugaannya kuat sebab dia mendengar semua percakapan antara Manajer dan Leeteuk. Sebagai hasilnya, tebakannya itu langsung mendapatkan jawaban positif dari sikap Leeteuk yang tampak terkejut. Dalam benak Eunhyuk langsung terngiang lagi penjelasan Miho mengenai fobianya. Kalau reaksi gadis itu menghadapi member Suju saja seheboh minggu kemarin, bagaimana dia bisa bertahan di SME?!

“Ya!” Leeteuk menukas Eunhyuk sambil melihat kanan kiri. “Ini rahasia! Jangan beri tahu siapa-siapa ya?!”

“Aku ga setuju, Hyung!” Eunhyuk tidak mempedulikan peringatan Leeteuk. “Dengar, pokoknya, sejak melihat Miho kejang-kejang seperti minggu kemarin itu, aku ga yakin dia bisa tahan di SME. Sebaiknya ga usah maksain dia supaya masuk sini deh.”

Leeteuk menyadari kebenaran kata-kata Eunhyuk. “Aku juga ga setuju. Aku ga pernah menyanggupi permintaan Hyung, tapi dia terus memaksaku,” keluh Leeteuk.

Eunhyuk terdiam. Melihatnya, Leeteuk melanjutkan, “Katanya Sajangnim yang memaksanya.”

Wah, kalau ini sudah jadi kemauan Lee Sooman, masalahnya bakal alot nih, Eunhyuk merasa tidak tenang. Tapi kenapa juga dia harus merasa tidak tenang?

Ani, dia kan hanya merasa kasihan pada Miho. Wajar dong kalau dia merasa kasihan pada orang yang lebih lemah?

^^^

“Kau tidak pernah berkirim pesan lagi dengan Eunhyuk, sekarang?” Leeteuk bertanya pada Miho di telepon sambil tidur-tiduran malas di kasurnya.

“Bagaimana Oppa tahu?” Miho menahan halaman yang sedang dihapalnya dengan tangan. Perhatiannya agak teralihkan dengan pertanyaan Leeteuk.

Leeteuk sedang meneleponnya seperti yang sering dilakukannya akhir-akhir ini. Mereka bercakap-cakap ringan seperti biasanya. Miho sekarang sudah terbiasa dengan telepon di waktu-waktu tidak normal yang dilakukan Leeteuk. Memang hanya itu waktu-waktu luang si leader Suju.

“Tahu lah~ kan dia ga pernah minta aku ngetikin password lagi.”

“Oh iya, ya… hihi, bener juga.”

“Coba kau benar-benar trainee di SME, jadi kita bisa dengan leluasa berhubungan lewat internet.” Leeteuk agak berdebar mengatakannya. Dia benar-benar tidak suka melakukan hal ini, tapi manajernya terus mendesak.

Miho menghela nafas mendengar kalimat Leeteuk. “Oppa, aku punya alasanku sendiri kenapa aku ga pengin gabung sama SME,” kata wanita itu mengambang.

“Kenapa? Apa kau lebih tertarik masuk yang lain? Apa? YG? JYPE?” mau tidak mau Leeteuk penasaran juga. Setahunya, SME satu dari agensi paling besar di industri entertainment Korea Selatan. Kalau ada yang menolak tawaran dari SME, pasti ada alasan yang sangat kuat kan? Misalnya tawaran yang lebih menggiurkan dari perusahaan sejenis yang sama kuatnya dengan SME.

Miho tertawa pelan. “Tidak, bukan itu. Aku udah ditolak juga kok sama JYP,” Miho berkata ringan. “Alasannya pribadi, Oppa,” terang-terangan dia menolak menjelaskan alasan yang dimilikinya pada Leeteuk.

“Oh, begitu. Baiklah,” Leeteuk melepaskan topik itu dengan mudah. Dia tidak ingin mendesak Miho. “Kau sedang apa sekarang?” tanyanya mengalihkan perhatian.

“Sedang mambaca naskah,” jawab Miho singkat.

“Naskah?”

“Ya. Aku mau main drama.”

“Waah! Akhirnya kau berhasil! Drama apa? Siapa lawan mainmu? Apa kau tokoh utama? Kau melakukannya tanpa agensi?”

Miho tertawa mendengar serbuan pertanyaan dari Leeteuk, “Hahahaha, bukan drama tv, Oppa. Drama teater.”

“Te—aaa! Bukan yang ditayangkan di tv ya?”

“Bukan,” Miho membenarkan sambil tersenyum.

“Okelah. Sebaiknya aku tidak mengganggumu lebih lama lagi,” kata Leeteuk berniat mengakhiri teleponnya.

“Kau ga mengganggu kok, Oppa. Cuman bikin rusak konsentrasi aja.”

“Ya! Neo~!” Leeteuk pura-pura marah, disambut oleh tawa Miho. “Sudahlah,” katanya pura-pura kesal, “Aku tutup. Jaljayo!” lalu dia benar-benar menutup teleponnya.

Lalu pria itu tersenyum memandangi teleponnya. Selalu menyenangkan ngobrol sebentar dengan Miho. Moodnya untuk berangkat tidur jadi enak. Baru hendak ditariknya selimut, terdengar suara dari ponselnya. Leeteuk melihat, ada sms. Ternyata dari Miho.

“Selamat tidur. Mimpikan aku jadi artis terkenal ya… biar nanti aku bisa memberimu tanda tangan dalam mimpi.”

Jisssh, wanita ini. Kenarsisannya bahkan lebih dari Kyuhyun!

^^^

Di kamarnya, Eunhyuk menimang-nimang ponsel dengan resah. Apa sebaiknya aku menelepon Miho? Pikirnya.

Kenapa kau harus menelepon Miho?! Logikanya mencoba mendebat.

Sekedar menanyakan kondisinya, jawab hatinya santai.

Memang siapa dia sehingga kau harus tahu kondisinya? Logikanya masih memprotes.

Kau kan temannya, hatinya berkata lagi.

Logika Eunhyuk mengejek, kau yakin hanya teman? Kenapa kau selalu memikirkannya?

Hati Eunhyuk mulai berkeras, karena peduli, kan? Apa salahnya peduli pada teman?

Yeah, yeah, yeah, teman yang membuatmu berdebar-debar. Sang logika akhirnya habis-habisan menyerang. Apa kau sudah berubah selera sekarang, Hyuk? Kalau memang iya, terserah kau saja. Kalau kau laki-laki sejati, letakkan ponselmu dan tidurlah sekarang juga! Kau bisa mendapatkan wanita sejati dalam mimpi nanti!

Baiklah. Begitu saja. Wanita tulen jauh lebih baik walau hanya dalam mimpi, daripada wanita jadi-jadian dalam kehidupan nyata. Putus Eunhyuk sambil membalik badannya mencoba mengusir kegalauan.

Dia memejamkan mata, berkonsentrasi untuk tidur. Tepat saat kakinya menapaki alam bawah sadar, hatinya berseru, sampai bertemu Miho dalam mimpi, Hyuk..

Malam itu Eunhyuk berkencan dengan Miho dalam mimpinya.

-cut-


Iklan