Warning: K.E.L.A.M. Bukan cerita yang menyenangkan.

100% fiksi.

Dedicated to: jiwa nyalang yang marah dalam diri.

^^^

Ibuku ada dua. Ibuku yang satu, dan ibuku yang satunya lagi. Keduanya adalah ibuku. Mereka bertindak seperti ibu-ibu. Berkata sebanyak ibu-ibu. Berhitung secermat ibu-ibu. Bersuami seperti ibu-ibu.

Ibuku yang satu memarahiku karena aku duduk di depan pintu. Pagi hari saat embun masih turun. Tetesannya membasahi paru-paruku. Basahnya membuatku batuk. Kemudian batukku membuat ibuku kehilangan banyak duit. Maka ibuku memarahiku. Akibat aku tak berhenti terbatuk. Saat aku tertidur, ketika aku terbangun. Itulah sebabnya ibuku memarahiku. Karena tak pernah tidur mendengar batukku. Dengan keningnya berkerut sakit setiap aku terbatuk.

Ibuku yang satunya lagi menangis kehilanganku. Di depan orang dia mewek-mewek. Air matanya memalukan. Hanya karena aku pergi sekolah. Tak habis heran aku dibuatnya. Malu aku melihatnya. Ibuku meraung saat aku berangkat, suaminya menahan di sampingnya. Kenapa bersedih? Anakmu akan kembali kok, kata lelaki itu. Padahal aku hanya berangkat sekolah. Untuk 6 tahun ke depan.

Ibuku yang satu tersenyum padaku. Memujiku atas uang yang kuperoleh. Lewat barang-barang yang kujual. Saat kupamerkan lembaran uang ribuan itu di mukanya, dia tersenyum. Bangga dia padaku. Uangku banyak. Tak perlu lagi memintanya untuk beli buku. Tapi dia tetap tersenyum. Lalu menangis saat aku tidak melihat.

Ibuku yang satunya lagi ngambek padaku. Sewaktu aku bercerita pekerjaanku susah. Rentetan kata-katanya bikin kuping pedas! Cerewet dan menyebalkan. Katanya aku harus sekolah saja. Katanya aku tak usah bekerja. Dia ngambek karena aku tak menurutinya. Pergi meninggalkannya ketika bicara. Kemudian memberiku segepok uang besoknya. Sambil menyuruhku cepat pulang.

Ibuku yang satu mendatangiku sambil tersenyum. Di tangannya terjinjing seluruh makanan yang dipikirnya kesukaanku. Sandalnya bernoda bekas injakan. Wajahnya kepanasan, kelelahan, dan kegirangan saat melihatku.

Ibuku yang satunya lagi sakit. Karena aku tak datang-datang. Kulitnya makin mengeriput. Sorot matanya nelangsa sangat. Berjalannya berpegangan pada pembantu. Memberengut mulutnya sewaktu aku datang. Lalu malamnya minta kutemani tidur.

Ibuku yang satu membekaliku dengan doa. Memaksaku menghapal doa. Menciumiku dengan doa. Membagi rahasianya sambil berdoa. Mendoaiku. Mengirimiku pesan berisi doa. Mengawasiku dari jauh dengan doa. Meminta orang lain mendoakanku. Berdoa tak habis untukku.

Ibuku yang satunya lagi membawakanku bekal makan siang. Menyuruhku tidur dengan cukup. Meneleponku seperti minum obat. Mengorek-ngorek hidupku mencari teman untukku. Menghabiskan energi untuk mengontrolku. Menentukan apa kebutuhanku.

Ibuku yang satu bertanya saat kami di toko, “Kau tak mau apa-apa?”, “Kau tak ingin kain itu?”, “Kau tak minat beli sepatu?”. Lalu ibuku yang satunya lagi berkata, “Kau harus beli itu.” “Kau hanya cocok dengan rok yang ini.” “Kau tak boleh beli makanan itu.”

Aku ingin pergi dari sana. Tak ingin menjawab keduanya. Hidupku jadi bising.

Ibuku yang satu memaksaku menunduk untuk mencium pipiku. Ibuku yang satunya lagi menundukkan aku agar aku mencium pipinya.

Ayolah, hanya menunduk saja kan? Pikirku malas.

Ibuku yang satu berbinar-binar saat aku memberinya barang. Menggunakannya di depanku. Memamerkannya pada orang lain. Menikmatinya meski tidak menikmatinya.

Ibuku yang satunya lagi menyimpan pemberianku rapat-rapat. Dia melupakannya. Tersudut barang itu entah dimana. Lalu dia memberiku barang, memaksaku memakainya, mengatakan itu bagus untukku meski nyatanya tidak. Kemudian suatu hari, dia membuka lemarinya dan melihat barang pemberianku. Matanya melembut.

Ibuku yang satu menunduk menahan tangis. Ibuku yang satunya lagi sudah hampir pingsan. Keduanya duduk di hadapanku. Keduanya sakit hati. Perih rasa. Tertusuk jiwa. Baru saja tadi aku berkata, “Aku hamil. Dia ayah anakku. Dia atheis.”

Kedua ibuku menatap dia dengan kabur. Dia makin menjadi pias. Kalau tak kurantai tangannya dengan nasibku, kuyakin sudah lari dia dari tadi. Apalagi kedua suami ibuku baru saja menghajarnya.

Kedua ibuku menatapku. Aku makin menjadi hilang. Kalau tak kuingat anakku, sudah lari saja aku. Apalagi kedua ayahku baru saja mengatakannya.

Mengatakan kalimat yang sudah kunanti lama, “Dasar anak binal tak tahu diuntung! Kau dan ibumu yang pembantu itu sama saja! Sia-sia kami merawatmu sampai sebesar ini!”

Ibuku yang dua kehilangan akal mereka. Sebuah vas dan asbak melayang ke kepala dan perutku. Senyumku merebak. Dan anakku menghilang. Akhirnya mereka memukulku. Untuk pertama kalinya. Bersamaan pula.

Sebelum mataku menutup, aku berterima kasih pada keduanya karena telah menjadi ibuku. Sekarang ijinkan aku bertemu ibu kandungku. Sambil membawa serta anakku.

KKEUT.

Ini tercipta karena Djenar. Membaca tulisannya aku marah karena tak bisa menebak isi kepalanya.

Iklan