Tag

, ,

Tittle : The Morning After

Author : Bee

Main Cast : Donghae, Bee,  Eunhyuk

Rating : 17+

Genre : Romance

PS :  Ini adalah dark romance. Paling ga menurut Bee begitu. Dibuat karena pengin ngeliat Donghae punya ff happy-end. Yang ga suka dengan konsep karakter yang egois, sebaiknya ga usah baca.

OST : It’s Okay Even If It Hurts (Seohyun SNSD)

url: http://wp.me/p1rQNR-4t

^^^

Donghae membuka matanya dan mencium aroma yang yang sangat disukainya. Pipinya terasa geli oleh rambut seseorang. Ingatannya kembali ke kejadian tadi malam. Rasa bahagia mengembang di dadanya. Dengan malas dia mengetatkan pelukannya di pinggang Bee yang masih tertidur membelakanginya. Dia menciumi leher dan bahunya yang terbuka dengan penuh cinta.

Bee menggeliat sedikit merasakan ada yang membuatnya geli. Tapi matanya masih terlalu berat untuk dibuka. Maka dia melanjutkan tidurnya.

Donghae menumpangkan kakinya ke paha Bee sambil mengingat-ingat jadwalnya hari ini. Ketika pikirannya melayang pada pekerjaan, rasa bersalah membungkusnya lekat. Eunhyuk. Apa yang harus dia katakan pada temannya itu?

Pelukan Donghae di pinggang Bee mengendur. Perlahan dia beringsut menjauhi tubuh wanita itu. Sambil meletakkan tangan di belakang kepala dia memandangi langit-langit kamarnya. Ya ampun, apa yang sudah dia lakukan? Apa yang sudah mereka lakukan? Mereka benar-benar bejat, Donghae berpikir.

Semalam semuanya terjadi. Dia tidur dengan Bee. Itu terjadi begitu saja. Tahu-tahu mereka sudah berada dalam pelukan satu sama lain dan tidak mungkin dihentikan lagi. Sesuatu yang sangat indah kalau saja Bee bukanlah pacar Eunhyuk. Brengsek! Donghae memaki dirinya sendiri.

Bee berbalik karena kehilangan kehangatan yang dirasanya tadi. Tanpa sadar dia mencoba mencari sumber kehangatannya yang hilang. Begitu menemukan badan Donghae, refleks tangannya memeluk pinggang pria itu dan kembali tidur dengan nyaman.

Donghae membebaskan tangannya dari belakang kepala untuk mengelus wajah Bee.

Kenapa aku dulu melepaskannya? Aku tidak pernah berhenti mencintainya, tapi mengapa aku dulu berani membiarkannya pergi? Donghae bertanya-tanya penuh penyesalan. Dia dan Bee dulu adalah sepasang kekasih. Namun ketika Donghae semakin sibuk dengan karirnya, dia mengabaikan wanita ini. Akhirnya Bee lah yang memutuskan pergi darinya. Dan kesalahannya adalah dia tidak menghentikannya. Dia membiarkan Bee pergi.

Takdir apa yang mereka miliki sebenarnya? Mengapa hubungan mereka jadi rumit begini? Setahun yang lalu Eunhyuk, rekan sekaligus temannya di kantor membawa Bee kembali ke hadapannya. Sebagai pacarnya.

Saat itu baik Donghae maupun Bee sama-sama canggung. Mereka tidak mengatakan apa-apa pada Eunhyuk. Bahkan mereka berpura-pura baru saling kenal. Hati Donghae terasa nyeri namun dia mengabaikannya. Dia berusaha melihat Bee sebagai milik temannya, namun tidak pernah berhasil.

Sampai tadi malam, akhirnya dia menyerah. Dia tidak tahu apa alasan Bee membalas ciumannya, tapi dia langsung kehilangan akal sehat begitu bibir mereka bertemu lagi setelah bertahun-tahun berpisah. Eunhyuk yang sedang bertugas ke Jepang tiba-tiba bagai tak pernah hadir di antara mereka.

Donghae mengecup puncak kepala Bee. Harum. Aroma yang dia rindukan. Dulu dia begitu menyukainya. Dia sering membenamkan wajahnya di leher Bee hanya untuk menghirup aroma tubuhnya yang begitu manis. Donghae hampir tak percaya dia bisa menciumnya lagi sekarang.

Kesadaran Bee sudah mulai naik. Dia tahu sedang dipeluk seseorang. Aroma dan hangat tubuh orang itu membuatnya terlena dengan kenyamanan sehingga dia hampir terlelap lagi. Tapi akal sehatnya sudah keburu datang. Bee merasakan kulit di bawah telapak tangannya. Siapa yang dipeluknya? Bukankah Eunhyuk…

Bee membuka matanya terkejut. Tadi malam! Astaga!

Dia membuka matanya bersamaan dengan mendorong tubuhnya menjauh dari Donghae. “Aakh!” serunya kesakitan.

Donghae terkejut, lalu khawatir. “Wae? Dajinde eobseo?” tanyanya pada Bee.

Bibir Bee bergetar menahan sakit. Pangkal tubuhnya sakit sekali. Tadi malam Donghae memasukinya tanpa basa-basi. Padahal itu yang pertama baginya. Rasanya bagai dicabik. Pagi ini dia merasakan efek sampingnya.

Karena Bee tidak menjawab, Donghae semakin khawatir. Dibaringkannya Bee lagi. Gerakannya itu menyebabkan selimut wanita itu melorot hingga ke pinggang. Perhatian Donghae teralihkan sesaat oleh pemandangan ‘terbuka’ di hadapannya. Namun erangan Bee kembali menyadarkannya. Segera ditutupinya dada Bee dengan selimut dan dia kembali berkonsentrasi ke wajah Bee.

“Eodi? Eodi appeu?” Donghae berusaha menanyai Bee.

Bee tidak menjawab, tapi tanpa sadar tangannya bergerak ke area pribadinya dari atas selimut. Ketika Donghae melihatnya, matanya menggelap. Wajahnya langsung berubah keruh akibat rasa bersalah. Apakah dia menyakiti Bee tadi malam?

Donghae sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Jadi dia hanya menggenggam tangan Bee dengan erat.

Perlahan-lahan, rasa sakit di tubuhnya menghilang, Bee bisa merasakannya membaik. Mungkin akan datang lagi saat dia bergerak, tapi untuk sementara ini dia sudah lebih baik. Yang memburuk adalah perasaannya. Dia teringat Eunhyuk. Lalu dia melihat wajah Donghae dan itu membuatnya makin seperti pelacur.

Bee memaksakan diri untuk bangkit. Pelan disingkirkannya tangan Donghae. Dia bergerak pelan untuk duduk. Berhenti sebentar menahan nyeri yang melandanya lagi, lalu menarik selimut bersamanya untuk melangkah ke kamar mandi. “Aku akan segera pergi,” katanya pada Donghae.

Mereka tidak butuh kata-kata apapun. Sudah jelas dia dan Donghae bersalah karena berselingkuh. Kata-kata tidak akan memperbaiki apapun. Dia berjalan tertatih-tatih karena rasa sakit yang tak kunjung mereda. Namun dia bertahan, menganggap ini adalah hukumannya.

Di tempat tidur, Donghae terpaku menatap setitik kecil noda di penutup kasurnya. Hatinya berdegup kencang melihatnya. Dia tidak bodoh, dia tidak naif, tapi dia mungkin saja salah. Kalau dugaannya benar, perasaannya akan semakin buruk. Kalau noda itu adalah seperti yang dikiranya, itu menjelaskan kesakitan yang dialami Bee pagi ini. Harus diakui tadi malam dia berlaku agak kasar karena tidak sabar. Dan kalau itu yang pertama untuk Bee, maka…

Donghae tak sanggup memikirkan kelanjutannya. Dia segera mengejar Bee yang sekarang sedang menutup pintu kamar mandi. Secepat kilat dia berlari agar dapat menahan pintu itu.

Bee terkejut melihatnya. Donghae tidak peduli dan memaksa masuk ke dalam kamar mandi. Matanya terus melekat di wajah Bee. “Apakah itu yang pertama?” dia bertanya tanpa basa-basi.

Jawabannya langsung terlihat. Mata Bee bersinar panik. Gadis itu mencoba menghindari tatapannya. Namun Donghae tidak mau melepaskannya, “Katakan padaku. Aku sudah tahu. Tapi aku butuh kau mengatakannya padaku.”

Dengan kalut Bee menunduk. Bagaimana ini? Dia tidak mau Donghae merasa terperangkap, tapi dia juga tidak bisa berbohong pada Donghae. Pria itu memang sudah tahu. Ekspresi wajahnya membenarkan perkataannya.

Akhirnya Bee memutuskan menghindar. Dia memaksa melepaskan tangannya dari Donghae. “Keluarlah. Aku mau membersihkan badan,” katanya mengabaikan pertanyaan Donghae.

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Aku mau mandi.”

“Aku harus mendengarnya dari mulutmu!” nada suara Donghae mulai meninggi.

“Donghae-ya~” Bee berusaha membujuk pria itu.

“Katakan padaku!” Donghae memaksa.

“YA! YA! YA!” Bee akhirnya balas membentak. “Itu yang mau kau dengar? Ya, itu yang pertama untukku! Bahkan kau tidak mau membiarkanku mengatakannya dengan layak?! Paling tidak ijinkan aku membersihkan diri dan sedikit bermartabat ketika mengatakannya! Itu pun tidak mau kau lakukan?!”

Donghae menarik tangan Bee hingga tubuh gadis itu terlempar membentur tubuhnya. Dengan kasar dia mencium bibir Bee. Selimut terjatuh di antara mereka dan Donghae makin merapatkan tubuh mereka berdua. Tangannya menahan apapun gerakan Bee. Dia tidak peduli dengan Eunhyuk. Emosi menguasainya saat ini. Dan memang hanya saat inilah yang dirasanya penting.

Bee terkejut dengan ciuman Donghae. Tubuhnya masih nyeri, ditambah lagi Donghae memaksanya bergerak dengan cepat. Rasanya sakit sekali. Apalagi kemudian dia mendengar Donghae bertanya, “Kenapa?”

Bee membelalak. Apa maksud Donghae ‘kenapa’ ?

“Kenapa sekarang?” Donghae mendesah di leher Bee. Kepalanya tertunduk lemah.

Badan Bee menggigil karena marah. Kenapa? Kenapa, katanya? Apa pria itu tahu jawaban pertanyaannya sendiri? Bee rasa tidak. Kenapa pria itu menciumnya semalam? Kenapa mereka tidak bisa melepaskan diri semalam? Kenapa semuanya masih begitu kuat di antara mereka? Semua itu terjadi begitu saja, dan Donghae bertanya seolah dia sudah menggodanya!

Kasar dilepaskannya pelukan Donghae. PLAK! Keras ditamparnya pipi lelaki itu. “Kurang ajar!” desisnya marah. “Aku tidak pernah berniat menggodamu, kalau itu yang kau maksud. Seingatku itu terjadi begitu saja, dan biar kuingatkan padamu, KAU yang menciumku dulu! Kau bahkan tidak mabuk tadi malam. Tanyakan ‘kenapa’ itu pada dirimu sendiri. Keluar!”

Donghae berusaha meraih tubuh Bee lagi, tapi Bee mengelak hebat. Dia lebih memilih merasakan nyeri akibat mengelak daripada harus kembali bersentuhan dengan pria itu. “KELUAR!” teriaknya histeris.

Donghae menatapnya tanpa daya, lalu menurutinya. Dia melangkah lunglai keluar kamar mandi.

***

Donghae menjemput Eunhyuk di bandara. Meski Eunhyuk agak kecewa karena Bee tidak datang bersama Donghae, tapi dia gembira sudah kembali ke Korea. Satu bulan di Jepang terasa lama sekali. Apalagi dia sudah tidak sabar hendak memberi kejutan pada Bee. Tangannya menyentuh kotak cincin di sakunya.

Lalu Eunhyuk melihat wajah Donghae. Dia bertanya-tanya ada apa dengan temannya itu. Kenapa mukanya kusut sekali. “Kau kenapa, Teman?” tanyanya sambil menepuk pundak Donghae.

Donghae terkejut dan hanya menatap Eunhyuk sekilas. Pikirannya sedang kacau. Kemarin Bee meninggalkannya begitu saja. Gadis itu tampak marah sekali dan kelihatan kesakitan. Donghae menawarkan mengantarnya tapi Bee menolak. Karena tidak tega akhirnya Donghae mengikuti dengan mobilnya dan terus-menerus membujuknya masuk ke dalam mobil yang hanya diabaikan oleh Bee. Rasanya dulu Bee tidak sekeras kepala itu.

Sekarang ini perasaan Donghae makin memburuk melihat wajah Eunhyuk. Perasaan bersalah menghempasnya setiap kali dia melihat Eunhyuk, sehingga dia tidak bisa menatap temannya itu lama-lama. Syukurlah Bee menolak datang bersamanya hari ini.

Eunhyuk tidak berlama-lama memikirkan Donghae. Benaknya kini sibuk memikirkan skenario untuk melamar Bee. Itu harus dilakukan secepatnya. Belakangan ini Bee bertingkah aneh. Eunhyuk merasa pacarnya itu menarik diri darinya. Entah apa alasannya. Tapi mungkin sebenarnya Eunhyuk tahu kenapa.

Dia terlalu sibuk belakangan ini. Bee pasti merasa diacuhkan. Tapi dia sudah bertekad. Dia akan mengikat gadis itu sehingga tidak ada alasan bagi Bee untuk merasa takut ditinggalkan olehnya. Eunhyuk tersenyum-senyum senang dengan kejeniusannya.

Mobil Donghae berbelok. “Ah, bisakah kau mengantarku ke tempat Bee, Donghae-a?”

Tangan Donghae otomatis mencengkeram kemudi lebih erat. “Bukankah kau lelah dan ingin pulang dulu?”

Eunhyuk tertawa ringan, “Ahahaha, aku memang lelah. Tapi aku yakin lelahnya akan langsung hilang begitu melihatnya. Tolonglah, Donghae-a.”

Donghae menatap temannya itu dan tersenyum kecut. Rasa tidak rela menyusup di dadanya. Lebih besar dari yang biasa dia rasakan setahun belakangan jika melihat Eunhyuk dan Bee bersama. Dia menarik nafas dan menelan rasa kesalnya. “Baiklah,” katanya seringan mungkin. Lalu dia mengambil jalur ke arah apartemen Bee.

Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di sana dan Donghae menolak ajakan Eunhyuk untuk ikut masuk bersamanya. “Ada yang harus kulakukan di kantor,” katanya.

Eunhyuk tidak memaksa. Toh dia setengahnya hanya berbasa-basi. “Oke, sampai jumpa besok di kantor kalau begitu. Terima kasih atas tumpangannya,” katanya sambil menepuk pelan badan mobil.

Pria itu memandangi mobil Donghae yang menjauh lalu dengan girang menaiki apartemen Bee. Betapa rindu dia pada wanita itu.

Di depan rumah Bee, Eunhyuk memencet bel. Sekali. Tidak ada jawaban. Dua kali, terdengar suara dari dalam “Sebentar. Nuguseyo?”

Eunhyuk tetap diam, tapi memencet bel lagi. “Ne, ne, sebentar. Aku datang. Nugu—“

Pintu terbuka dan Eunhyuk langsung menyergap Bee. Mulutnya mencium wanita itu dalam, tidak memberinya kesempatan menyelesaikan kalimatnya. Awalnya Bee terkejut dan tampak menolak, namun begitu sadar siapa yang menciumnya, wanita itu melemaskan tubuhnya dan menerima ciuman Eunhyuk yang bertubi-tubi.

Sambil menenteng tasnya, Eunhyuk mendorong Bee memasuki rumah. Di dalam dia melemparkan tasnya begitu saja lalu meraih pinggang Bee dan setengah mengangkatnya agar mempermudah Bee membalas ciumannya. Sekarang wanita itu mulai membalas ciumannya. Tangannya terulur membelai kepala Eunhyuk kemudian menekannya sehingga ciuman mereka makin dalam.

Eunhyuk sangat bahagia. Bee merindukannya sama seperti dirinya merindukan wanita itu.

Bee bingung. Dia hanya tahu dia membalas ciuman Eunhyuk untuk menekan rasa bersalahnya.

Sebagian hatinya lega Eunhyuk sudah kembali karena itu berarti dia akan memperoleh kewarasannya lagi dan tidak terus-menerus memikirkan Donghae. Tetapi sebagian lainnya merasa berat harus membalas ciuman Eunhyuk. Rasa Donghae masih terlalu kuat.

Ketika akhirnya ciuman mereka terlepas, tatapan keduanya diliputi kabut. Kabut bahagia di mata Eunhyuk, dan kabut galau di mata Bee.

“Kau merindukanku?” bisik Eunhyuk sambil merapatkan tubuhnya pada Bee.

“Ya,” setidaknya itu benar. Dia memang merindukan Eunhyuk. Keceriaannya. Senyum lebarnya. Tingkah cerobohnya. “Ya,” ulangnya lagi sambil mengeratkan pelukannya di leher Eunhyuk.

Tanpa terasa air mata Bee meleleh. Kenapa, kenapa di saat dia lega Eunhyuk sudah pulang, hatinya terus memanggil-manggil nama Donghae?

Eunhyuk yang melihatnya salah mengartikan air mata itu. “Ssst. Kenapa menangis? Apa kau merindukanku sampai sebegitunya?” tanya pria itu sambil mengusap air mata Bee.

Bee makin terisak mendengarnya. Dia membenamkan wajahnya di leher Eunhyuk. Ada suara tangis di telinga kirinya, “Mengapa ini bukan leher Donghae?”. Di saat yang bersamaan, suara isakan di telinga kanannya berbunyi, “Aku sangat merindukanmu, mengapa kau lama sekali baru pulang, Eunhyuk?”.

Eunhyuk menelan ludahnya. Sangat terharu karena Bee tampak begitu menderita berpisah dengannya. Hatinya makin bulat untuk melamar wanita ini secepatnya. Mungkin besok. Atau kalau perlu malam ini.

Lembut Eunhyuk menggendong Bee seperti menggendong seorang putri. Pria itu bisa merasakan keterkejutan Bee, tapi wanitanya itu rupanya memilih tetap diam dan malah membenamkan wajahnya makin dalam ke lehernya. Tawanya terlepas pelan. “Kalau kau terus mendesakkan wajahmu seperti itu, bisa-bisa aku kehilangan kontrol diri,” dia berkata pada Bee.

Bee segera menarik wajahnya dari leher Eunhyuk. Mukanya merah sekali. Eunhyuk jadi tertawa makin keras. Dia senang saat Bee tampak malu-malu begini. Sangat menggemaskan. Pria itu menempelkan bibirnya lagi kuat-kuat di bibir Bee dan tidak melepaskan ciumannya sampai mereka mencapai sofa.

Eunhyuk mendudukkan Bee di sofa dan menahan dirinya sendiri dalam posisi tetap membungkuk. Dia harus menjaga jarak. Kalau tidak entah apa yang akan dilakukannya pada wanita itu. Dia sudah menahan diri selama ini dan bertekad akan tetap menahan dirinya sampai pernikahan yang diyakininya tinggal sebentar lagi. Sesuai keinginan Bee.

Dia melepaskan ciumannya. Lalu berkata, “Aku rindu masakanmu. Bolehkan aku makan malam di sini?”

Serta-merta senyum Bee terkembang lebar meski berkas air mata masih tampak jelas di pipinya. “Akan kumasakkan makanan kesukaanmu,” bisiknya.

“Kalau begitu aku numpang mandi ya?” Eunhyuk menegakkan tubuhnya.

Bee ikut berdiri, lalu mengangguk.

Eunhyuk mengecup singkat bibir Bee sebelum beranjak mengambil handuk di lemari penyimpanan Bee. Sementara Bee sendiri segera menuju dapur menyiapkan masakan kesukaan Eunhyuk, sup danhobak.

Kegiatan memasaknya sudah hampir rampung ketika tiba-tiba dari belakang ada tangan yang memeluk pinggangnya. Aroma sabun yang segar menguar mengelilinginya. “Hmm, aku suka melihat sosokmu yang sedang memasak. Aku harap aku bisa melihatnya selama sisa hidupku,” suara Eunhyuk terdengar dari balik telinga Bee.

“Benarkah? Kau pasti akan jadi pria paling bosan di dunia,” jawab Bee sambil terkekeh. Eunhyuk sudah mengatakan hal itu ratusan kali sepanjang hubungan mereka.

Eunhyuk mengabaikan godaan Bee dan malah bertanya, “Maukah kau tetap melakukan ini untukku di sepanjang sisa hidupmu?”

Pertanyaan ini baru sekali itu Bee dengar. Dia menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh ke arah Eunhyuk. “Maksudmu?”

Eunhyuk menunduk. Dia harus menahan diri. Masa dia akan melamar dengan tubuh setengah telanjang begini? Memang saat ini Eunhyuk hanya mengenakan celana pendek. Kausnya belum sempat dipakai karena dia sudah sangat ingin memeluk Bee. “Geunyang… Aku selalu ingin makan makanan buatanmu, kau tahu itu kan?” elaknya.

Bee tersenyum tipis. Hatinya tadi sempat berdebar kalau-kalau Eunhyuk akan menyebutkan kata itu, ‘menikah’. Jujur saja, dia tidak tahu akan bagaimana reaksinya kalau memang benar itu yang terjadi. Karena lega, dicubitnya hidung Eunhyuk sambil berujar, “Pabbo. Bukannya kau memang selalu datang ke sini di waktu menjelang makan? Kecuali kalau kau sedang makan enak di restoran dan aku tidak diajak,” Bee pura-pura cemberut di akhir kalimatnya.

Eunhyuk tertawa pelan. Lalu Bee melanjutkan kegiatannya memasak. “Supnya hampir matang. Bisakah kau menyiapkan mejanya?” pinta Bee pada Eunhyuk.

“Oke!” Eunhyuk dengan cepat melepaskan pelukannya dan memakai kausnya. Setelah itu dengan luwes dia menyiapkan meja untuk makan mereka berdua. Dia sudah sering melakukan itu dan sudah hapal letak penyimpanan alat-alat makan di rumah Bee.

Ketika akhirnya supnya matang, Bee mengangkatnya ke meja.

Eunhyuk memiringkan kepala. Bee berjalan dengan aneh. Tapi lalu dia tidak sempat melihatnya lagi karena Bee sudah duduk dan bersiap mengambilkan makanan untuknya. Ah, mungkin hanya perasaannya saja, Eunhyuk berpikir sambil menerima mangkok yang diulurkan Bee.

Sore itu keduanya makan dengan damai.

***

Keesokan harinya, Bee terbangun masih dengan nyeri di pangkal tubuhnya. Ini sudah dua hari, tetapi nyerinya belum hilang juga. Untung tadi malam Eunhyuk tidak mengajaknya keluar dan hanya menikmati malam di rumahnya, jadi mereka kebanyakan hanya duduk di sofa, saling bertukar cerita, bercengkrama. Sepertinya Eunhyuk tidak menyadari cara jalannya yang aneh. Dia tidak bisa memikirkan jawaban yang bagus kalau Eunhyuk sampai menanyainya.

Bee meraih telepon dan melepon tempat kerjanya, meminta ijin untuk tidak masuk karena harus ke dokter hari ini. Ya, dia berniat pergi ke dokter. Dia belum pernah mendengar ada orang yang mengalami nyeri sampai dua hari setelah berhubungan, jadi dia takut ada yang salah dengan tubuhnya.

Setelah menelepon tempat kerjanya, dia menelepon membuat janji dengan dokter, dan mendapat giliran pukul 11 siang. Sekarang masih pukul 9, jadi masih banyak waktu untuk bersiap-siap.

Pukul 10, Bee sudah berada di halte bus, menunggu bis ke arah rumah sakit. Dia berjalan dengan menahan nyeri di setiap langkahnya. Memang tidak seburuk dua hari yang lalu, tetapi tetap saja membuatnya tidak nyaman sepanjang perjalanan.

Busnya berhenti tepat di depan rumah sakit. Namun demikian dia masih harus berjalan beberapa meter ke arah pintu utama. Pelan dia melangkah dan akhirnya ketika mencapai tujuannya, dia menarik nafas lega. Dia menuju loket pendaftaran untuk mengkonfirmasi janjinya dan langsung disuruh menunggu di depan ruang dokter.

Dia sedang duduk menatap lantai di sana ketika tiba-tiba ada suara menyapanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

Bee mendongak dan mendapati Donghae. Tangan pria itu berbalut perban. Seketika hati Bee diliputi kecemasan. Dia bangun dari duduknya, mengernyit merasakan nyerinya karena sesaat tadi dia lupa bahwa dia juga sedang menahan sakit. “Kau kenapa?” tanyanya khawatir.

Donghae melihat kernyitan di dahi Bee. Apakah itu rasa khawatir? Atau gadis itu sedang sakit? Sakit apa? Lelaki itu mengedarkan pandangannya mencari petunjuk, dan menemukannya. Ini ruang tunggu dokter spesialis kelamin. Sekarang pandangan Donghae tak kalah khawatirnya dari pandangan Bee. “Apakah—“ dia tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.

“A, aku tidak apa-apa,” Bee terbata menutupi sakitnya. “Kau kenapa?”

Donghae tersenyum masam. “Aku menabrak tong sampah,” jawabnya mengecilkan keadaan. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut bahwa tong sampah yang dimaksudnya adalah bak sampah permanen yang terbuat dari beton di tempat daur ulang sampah. Tidak usah tanya mengapa dia bisa ada di sana. Juga tidak ada keinginannya membiarkan Bee tahu bahwa itu terjadi kemarin setelah dia mengantar Eunhyuk ke rumah Bee, dan bahwa rasa cemburunyalah yang menyebabkan dia tidak berhati-hati. “Kau benar tidak apa-apa?” tanyanya mengalihkan perhatian Bee.

Bee mengangguk gugup. Berkebalikan dengan panggilan yang ditujukan padanya dari pintu ruang periksa. Dengan ekspresi tertangkap basah, Bee melirik Donghae. “Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku,” kata wanita itu lirih sambil beranjak menuju ruang periksa.

Donghae bangun dan menggamit lengan Bee dengan tangannya yang tidak terluka. “Kita masuk bersama,” putusnya tegas.

Bee terjebak antara rasa malu, tegang dan senang mendengar keputusan Donghae.

“Selamat siang,” seorang dokter pria menyapa dengan ramah dari balik mejanya di dalam ruang periksa. “Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

Bee melepaskan tangannya dari Donghae dan mengambil tempat di salah satu kursi yang terdapat di hadapan meja sang dokter. Donghae menyusul di belakangnya kemudian duduk di sebelahnya. “Begini, Dok…” Bee mengawali dengan ragu. Mukanya merah sekali.

“Saya,” dia tidak sanggup menatap muka si dokter, lalu terpaksa menunduk. Kemudian dia membuka mulutnya, tapi kata-katanya langsung lenyap begitu melihat lagi wajah sang dokter. Ya ampun, apa yang harus dia katakan? Bagaimana dia harus bercerita pada dokter itu? Bagaimana dia harus mengawalinya?

“Saya dan istri saya berhubungan badan, Dok,” tiba-tiba Donghae bersuara. Bee menatap pria itu terkejut.

Si dokter hanya mengangguk sekali. Donghae berdeham melancarkan tenggorokannya, lalu, “Kami, berhubungan badan, eng… mungkin saya, eh… waktu itu…” dengan muka mulai memerah dia menatap Bee. Wanita itu jadi ikut bingung dan malu.

Bee berpaling menatap dokter yang tidak menunjukkan ekspresi apapun kecuali senyum. Dia memperoleh keberaniannya. Sedikit. “Kami waktu itu…” dia tercekat lagi.

Si dokter kemudian tertawa kecil. “Apa anda berdua baru pertama kali datang ke sini?” tanyanya.

Bee dan Donghae sama-sama tidak menjawab, kecuali mengangguk.

Si dokter tertawa lagi, “Saya tidak akan bisa membantu kalau kalian tidak bercerita. Jadi tenang saja, saya akan mendengarkan ceritanya untuk memberi solusi, bukan untuk menghakimi,” katanya dengan nada bijaksana.

Donghae menggenggam tangan Bee. “Begini, Dok,” dia memulai. “Saya dan istri saya berhubungan yang agak terburu-buru…, eh, itu, eng, malam pertama kami,” Bee bisa merasakan genggaman Donghae di tangannya semakin kuat ketika mengatakannya. Namun pria itu ternyata terus melanjutkan, “Sa, saya pikir saya agak kasar kepadanya, lalu, dia terus merasa kesakitan hingga hari ini,” akhirnya dia menyelesaikan penjelasannya.

“Sudah berapa hari?” tanya dokter itu.

“Dua hari, Dok,” kali ini Bee yang menjawab.

“Apa setelah itu kalian berhubungan lagi?”

“Tidak!” jawab keduanya serempak. Terlalu cepat, terlalu keras, terlalu tegas. Membuat si dokter tertawa, namun tidak mengatakan apa-apa selain menyuruh Bee duduk di ranjang periksa.

Bee menurut dan membiarkan dokter itu mengamati daerah pribadinya. Saat itu terjadi, dia memandang tak berdaya ke arah Donghae. Jujur saja dia sebenarnya malu sekali.

Donghae luluh melihatnya. Ekspresi Bee terlalu kacau, dan hatinya ikut kacau melihatnya begitu. Pria itu lalu mendekati Bee dan meraih tangannya. Dia terus memandang Bee sementara dokter melakukan pemeriksaan. “Gwenchanha,” katanya tanpa suara ke arah Bee.

Bee merasakan kekuatan mengalirinya begitu Donghae mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Keberadaan Donghae menghilangkan rasa malunya. Dalam sekejap dia merasa semuanya beres. Dia hanya harus percaya pada dokternya.

Dari balik lututnya yang tertekuk, dokter bertanya pada Bee, “Apa Anda melakukan aktifitas yang berat setelah berhubungan itu?”

Bee kurang paham, “Maksud Dokter?”

“Yah, seperti mengerjakan pekerjaan rumah yang cukup melelahkan, atau berolah raga?”

Dia menatap Donghae, “Apa berjalan jauh termasuk aktifitas berat, Dok?”

“Seberapa jauh Anda berjalan? Lebih dari dua kilometer?”

Donghae lah yang menjawab pertanyaan itu. Matanya tidak lepas dari mata Bee, “Ya, lebih dari itu.”

Si Dokter mengakhiri pemeriksaannya. “Anda boleh duduk kembali,” katanya mempersilahkan Donghae dan Bee kembali ke tempat duduk.

Dokter itu mengikuti mereka, lalu menjelaskan bahwa memang, ada yang robek akibat gerakan yang kasar selama berhubungan. Sebenarnya itu tidak terlalu parah kalau saja Bee tidak kemudian berjalan jauh. Sekarang lukanya cukup lebar, tapi pasti akan pulih dengan sendirinya. Tidak perlu dilakukan tindakan serius, sebab luka itu sudah mulai menutup. Dokter hanya menawarkan obat penghilang rasa sakit yang ditolak oleh Bee.

“Kau yakin?” tanya Donghae pada Bee.

“Ya,” jawab wanita itu singkat kepada dokter.

“Baiklah, saya tidak akan memberi obat apapun, tapi anda harus beristirahat dengan baik. DAN, jangan berhubungan dulu sampai benar-benar sembuh. Ya?” Dokter itu menasihati.

Donghae dan Bee menggeleng-geleng keras seperti anak kecil. Muka keduanya mulai memerah lagi, membuat si dokter tersenyum geli. Kemudian dokter itu mempersilakan keduanya keluar. Mereka berdua menurut sambil bergandengan tangan. Dokter itu tersenyum simpul, ah pasangan baru yang manis, pikirnya.

Di luar, Donghae masih menggenggam tangan Bee. Wajahnya keruh. Bee sendiri salah tingkah. “Maafkan aku,” Donghae berkata tiba-tiba. Tatapannya jatuh pada tangan mereka yang bersatu.

“Mwoya~” Bee mencoba menghindari topik itu.

Tapi Donghae tidak mau menghindarinya. “Maafkan aku. Aku melukaimu. Lagi.”

Kata ‘lagi’ yang diucapkan Donghae membuat Bee tertegun. “Hey,” ujarnya menarik tangan Donghae lembut. “Memangnya kapan kau pernah melukaiku sebelum ini?”

Donghae menatap Bee, membuat wanita itu terkejut karena melihat matanya berkaca-kaca, “Hey, hey, kau kenapa?” Refleks Bee melepaskan genggamannya dan segera membingkai wajah Donghae dengan kedua tangannya seperti yang biasa dilakukannya dulu kalau Donghae sedang kalut.

Posisi ini membuat Donghae teringat masa lalu mereka dan penyesalannya semakin besar. Karena tak tahan, akhirnya dia merengkuh Bee dalam pelukannya. Masih bolehkah dia menunjukkan cintanya pada wanita ini? Wanita yang sekarang berstatus ‘milik temannya’? Mengapa dia tidak bisa menghentikan rasanya untuk Bee? Mengapa dia dulu menyakiti perasaannya demi karir sehingga harus kehilangannya? Semua rasanya menghujam begitu dalam menyebabkan air matanya tak tertahan lagi. Apakah karmanya begitu buruk, sehingga harus mengalami kesedihan serupa ini?

Perlahan Bee memeluk pinggang Donghae, bingung dengan perubahan emosi laki-laki itu yang tiba-tiba. “Donghae-ra, aku tidak apa-apa. Sakitnya sudah mulai hilang, kok…” katanya pelan, berusaha menenangkan perasaan Donghae. Apakah Donghae begitu mengkhawatirkannya? Kumohon jangan biarkan aku berharap lebih, Donghae-ra… batin Bee.

Donghae-ra. Hanya Bee yang memanggilnya begitu. Hanya Bee-nya. Ingatan masa lalu kembali menguasai pikirannya, membuatnya semakin mengetatkan pelukannya terhadap Bee.

Mereka berdua terus berada dalam posisi begitu sampai entah berapa lama. Beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka dengan penasaran, terutama terhadap Donghae yang terlihat jelas sedang menitikkan air mata. Untunglah ini rumah sakit, sehingga selalu ada alasan untuk seseorang menangis di sini.

***

Donghae dan Bee sedang menikmati makan siang mereka bersama. Mereka mengunjungi warung makan kecil tempat mereka dulu biasa makan bersama.

Setelah tadi akhirnya Bee berhasil membujuk Donghae agar menghentikan kesedihannya, mereka berdua memutuskan akan menikmati kebersamaan ini sedikit lebih lama. Keduanya merasakan perasaan ringan ketika melangkah bersama keluar dari rumah sakit. Bee bahkan menurut saja ketika Donghae mengatakan akan mengantarnya pulang. Dia malah mengusulkan agar mereka makan siang dulu bersama, yang kemudian disetujui oleh Donghae dengan antusias.

Benak mereka dipenuhi kenangan-kenangan manis saat mereka masih berhubungan dulu. Termasuk kenangan di warung makan kecil ini. Dulu, makan di sini adalah kenikmatan tersendiri. Rasanya hangat meski hanya makanan murah. Mereka saling mencintai dan saling memiliki. Sekarang ini situasinya berbeda, tapi keduanya sama-sama tidak mau memikirkan hal itu dulu. Mereka ingin menikmati kebersamaan ini dulu sebelum kembali ke realita.

Namun sepertinya hal itu pun tidak boleh. Telepon genggam Donghae berbunyi dan ketika dia melihat siapa yang meneleponnya, wajahnya langsung mendung. Bee langsung bisa menebak siapa yang meneleponnya. Itu pasti Eunhyuk.

“O, Eunhyuk-i?” sapa Donghae langsung. Membenarkan tebakan Bee.

“Nan? Sedang makan,” … “Sen— ani, dengan Bee ssi,”

Bee terbelalak mendengarnya. Apa maksud Donghae, berterus terang seperti  itu?

“Tadi aku bertemu dengannya selesai memeriksakan tanganku,” … “Tidak, kami bertemu di luar rumah sakit,” … “Tidak, tidak, dia tidak ke rumah sakit,” Donghae menatap Bee. Kali ini dia berbohong.

“Ya, datanglah. Kami menunggumu di—“ pria itu lalu menyebutkan nama warung makan tempat mereka makan.

Donghae menutup teleponnya. Tanpa menatap Bee dia berkata, “Dia akan datang,” katanya.

Bee tidak tahu apa yang dirasanya. Dia hanya tahu hatinya langsung dingin begitu memikirkan tak bisa lagi menikmati suasana ini berdua saja dengan Donghae. Donghae sendiri berusaha sekuat tenaga menahan sakit di hatinya yang bagai diremas-remas. Mereka kehilangan selera menghabiskan makanan mereka. Selama beberapa menit keduanya hanya terdiam tak berani menatap satu sama lain.

Donghae merasa tenggorokannya kering dan dia meraih gelasnya, meminum isinya, kemudian meletakkannya kembali dengan kasar. Saat itulah tangannya menyentuh tangan Bee yang tergeletak lemas di atas meja. Dipaksakannya dirinya tersenyum, kemudian dia meraih tangan Bee lembut. Bee yang merasa tangannya digenggam, menatap Donghae. Di sana dia melihat senyuman tersedih yang pernah dilihatnya.

“Nan…” Donghae memulai kata-katanya. “Aku… Masih mencintaimu,” Donghae menyelesaikan kalimatnya dengan pelan. Kemudian lelaki itu bangkit dari duduknya dan mencium bibir Bee lembut. “Maafkan aku, membuatmu begini,” katanya setelah melepaskan bibirnya.

Air mata mengambang di mata Bee. Kenapa? Kenapa dia mengatakannya? Wanita itu menarik tangannya dari genggaman Donghae, kemudian karena tak kuat lagi menahan tangisnya, dia bangun, permisi ke kamar mandi. Dia tak mempedulikan Donghae yang menatapnya pilu.

Bee menumpahkan semuanya di kamar mandi. Kenapa? Kenapa dulu dia memutuskan untuk meninggalkan Donghae? Kenapa dia tidak bersabar? Kenapa pria itu tidak menahannya? Air matanya bercucuran. Air mata penyesalan karena tak mungkin memiliki cinta yang tak pernah pergi dari dirinya. Tak seorang pun pernah berhasil mengusir Donghae dari memorinya. Bahkan dengan segala kebaikan Eunhyuk, cintanya pada Donghae tetap tak bisa pupus. Sekarang dia harus bagaimana?

Semua salahnya. Karena tak mau bertahan sedikit lagi di sisi Donghae pada waktu itu. Semua salahnya. Karena tak berterus terang pada Eunhyuk ketika pria itu memperkenalkannya lagi pada Donghae. Semua salahnya. Karena tak kuasa menahan diri sehingga malam itu dia tidur dengan Donghae. Semua salahnya. Salah hatinya yang lemah. Eunhyuk-i, Eunhyuk-i, maafkan aku… rintih Bee dalam hati.

***

Eunhyuk merasa gugup sekali. Malam ini, dia akan melamar Bee. Dia akan melakukannya di atap kantornya. Dia sudah meminta ijin pada kantor untuk menggunakan atapnya selepas jam kantor malam ini. Dia juga sudah mengatakannya pada Donghae saat mereka bertemu di warung kecil tempat Donghae dan Bee makan bersama. Saat itu Bee masih di kamar mandi. Dia meminta—akh, setengah memaksa sih, hehe—temannya itu untuk membawa Bee ke atap kantor, sementara sorenya dia akan mempersiapkan atap.

Donghae tampak terkejut, pikir Eunhyuk. Lalu dia mengingat bahwa selama ini memang dia tak pernah menceritakan pada siapa-siapa mengenai niatnya melamar Bee. Jadi wajar saja kalau Donghae terkejut. Akh, dia akan membuat kejutan yang manis untuk Bee malam ini, tekadnya sambil memandang puas hasil karyanya di atap.

Di bawah, mobil Donghae berderum meninggalkan kantor setelah pengemudinya mengantarkan wanita yang paling dicintainya ke pintu atap, untuk dilamar pria lain. Terima kasih, dengus Donghae dalam hati. Takdir yang cantik sekali, pikirnya sarkastik entah ditujukan pada siapa.

***

Bee terkejut menatap penataan atap yang begitu cantik. Lampu-lampu kecil berkedip-kedip bagai bintang kecil di langit malam. Di tengah atap terdapat dua buah kursi berpita dan berhias balon berwarna baby blue dan pink. Di sebelah kursi-kursi itu, berdirilah Eunhyuk. Sikap tubuhnya formal, satu tangan tertekuk di punggung, sementara satunya lagi teracung pada Bee agar wanita itu menyambutnya.

Bee melakukannya. Dia mengikuti tuntunan Eunhyuk ke arah kursi. Di sana dia didudukkan di salah satu kursi. “Eunhyuk-i?” Bee mencoba bertanya pada Eunhyuk.

“Hmm?” pria itu menyahut lembut.

Bee merasa curiga. “Ada apa ini?”

Eunhyuk melihat Bee dengan pandangan seolah berkata, tidak-ada-apa-apa-aku-hanya-ingin-duduk-di-sini-bersamamu. Lalu mulutnya berkata, “Tunggulah sebentar, ada yang ingin kutunjukkan. Mungkin 5 menit lagi.” Dia melirik jam tangannya.

Sementara menunggu 5 menit berlalu, Eunhyuk membelai rambut Bee pelan. Menyusupkan helainya di balik telinga, lalu berbisik di telinga Bee, “Kau cantik.”

Mau tidak mau Bee tersenyum mendengarnya. Tumben sekali Eunhyuk bisa menciptakan suasana khidmat begini. Biasanya kan pria itu selalu saja meramaikan suasana. Bee menoleh menatap Eunhyuk dan ucapan terima kasih tertelan lagi melihat binar di mata pria itu. Ya Tuhan, dia sudah mengerti apa yang hendak dilakukan Eunhyuk.

Pandangannya berubah. Matanya menjadi lebih gelap. Eunhyuk tidak boleh melakukannya. Ini salah. Bee menelan ludahnya hendak mengakui semua isi hatinya, “Eunhyuk-i…” panggilnya lemah.

Eunhyuk masih menatapnya dengan tersenyum, “O?” tanyanya pada Bee ketika gadis itu tak kunjung melanjutkan bicaranya.

“Eunhyuk-i, nan…”

“Bee-ya, lihat itu!” Eunhyuk setengah berseru memalingkan wajahnya dari Bee. Tangannya menunjuk pemandangan di kejauhan di hadapan mereka. Refleks Bee mengikuti arahan pria itu dan terkejut melihat apa yang ada di depannya.

Lampu jembatan Wonhyo mulai menyala satu demi satu, menimbulkan jejak cahaya yang kemudian menerangi kilau hitam permukaan Han Gang di bawahnya.

Bee sesaat terpaku melihatnya, sampai tidak sadar bahwa Eunhyuk sudah menggenggam tangannya serta menyematkan sebuah cincin di jarinya. Sesaat kemudian baru dia menyadarinya karena tangannya tertahan dalam genggaman Eunhyuk, membuatnya menoleh.

Eunhyuk mengecup tangannya pelan, memastikan cincin itu terlihat oleh mata Bee. Dia sudah memperhitungkan semuanya. Dan dia yakin dirinya tidak akan gagal. Dengan pasti, mulutnya berucap, “Jadilah istriku, Bee. Karena aku mencintaimu, dan merasa akan jatuh cinta padamu setiap hari seumur hidupku.”

Mata Bee nanar menatap Eunhyuk. Mengapa terjadi lagi? Tak bisakah dia mencegah seseorang lebih tersakiti lagi? Kenapa? Kenapa Eunhyuk melamarnya malam ini? Air matanya menetes karena keputusasaan.

Tapi Eunhyuk mengartikannya berbeda. Pria itu mengira Bee terharu. Jadi kemudian dia menciumnya manis dan lama. Sesuai dengan cintanya yang akan bertahan lama dan manis untuk Bee.

***

Donghae membuka pintu depannya dengan malas. Siapa yang bertamu tengah malam begini dan menggedor pintunya dengan tidak sabar seperti itu? Malamnya sudah sangat kacau tanpa tambahan pengacau. Jadi kalau si tamu mau macam-macam, Donghae bersumpah akan membunuhnya saat itu juga.

“APA?!” bentaknya pada si penggedor pintu.

Yang dilihatnya di sana membuat detak jantungnya berhenti.

Bee berdiri di sana. Rambutnya berantakan, wajahnya penuh air mata. Belum sempat Donghae bereaksi apapun, wanita itu sudah masuk memukuli dadanya. Pukulannya penuh amarah dan keputusasaan. Tapi Donghae tidak terlalu memperhatikan itu. Apa yang dilakukan wanita ini di sini? Bukankah dia seharusnya ada di atap bersama Eunhyuk? Makan malam romantis atau apalah itu?

Tapi wanita itu memang ada di hadapannya, menangis hampir histeris dan terus menerus menyerangnya. Meracaukan kata-kata tidak jelas. Apa Eunhyuk menyakitinya? Apa Eunhyuk memaksanya? Astaga, Bee kan sedang sakit…

Donghae mencoba menahan pukulan Bee. Melihat tanda-tanda luka bekas paksaan. Susah, sebab Bee terus bergerak tak memberinya kesempatan untuk mengamatinya.

“Brengsek kau, Lee Donghae!”

Samar Donghae dapat mendengar apa yang diucapkan Bee di sela isak tangisnya.

“Bajingan kau! Kau bukan manusia! Apa maksudmu, hah?! Kau bebal! Bodoh! Tak punya otak!”

Tak salahkah yang didengarnya? Benarkah Bee sedang memaki-makinya? “Ada apa? Kau kenapa? Dia menyakitimu? Apa dia memaksamu?”

Bee memandangnya marah, “Menyakitiku?! Dia bukan kau, Lee Donghae! Orang yang bisa meniduriku sekaligus menyiksaku hanya kau! Orang yang tak punya hati membuangku setelah puas mendapatkan apa yang dia mau, itu kau! Bukan dia! Kau bajingaaaaan!!!” Bee terus meracau tidak jelas. Dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia hanya tahu bahwa dia merasa kesal sekali saat ini. Putus asa dan pedih jadi satu. Semuanya hanya gara-gara satu makhluk berjudul Lee Donghae. Bajingan tak berperasaan.

Yang memukul telak Donghae bukanlah tangan Bee, tetapi kata-kata gadis itu. Ya Tuhan, apakah Bee menceritakan semuanya pada Eunhyuk? Apakah Eunhyuk meninggalkannya? Gadis bodoh! Seharusnya dia diam saja.

Ya, dialah yang salah karena sudah meniduri gadis itu. Dialah yang salah karena mengambil kesempatan di saat Eunhyuk pergi. Bahkan dia mengakui perasaannya pada Bee. Lelaki macam apa dia. Padahal dia sudah tahu Bee dan Eunhyuk saling mencintai. Tidak bisakah dia merelakan wanita itu? Mengapa dia selalu menyakitinya?

Bee terus memukuli Donghae dengan putus asa. Mengapa? Mengapa lelaki ini tega sekali padanya? Mengapa dia tidak bisa menolak pesonanya? Ada apa dengan Lee Donghae sehingga membuatnya gila seperti ini?

Akhirnya Bee merosot karena kelelahan. Dia terduduk di lantai sambil sesenggukan. Donghae berdiri tegak di hadapannya dengan wajah tak kalah menyedihkan. Satu tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Bee sehingga satu lengan wanita itu terangkat ke atas. Perasaan putus asa melanda keduanya.

“Apa kau menceritakannya pada Eunhyuk?” Donghae bertanya pada Bee dengan lirih ketika yang tersisa di antara mereka hanya tinggal isakan Bee.

Bee tidak menjawab, hanya mengangguk. Melihatnya, Donghae kemudian berjongkok di hadapan wanita itu. Mungkin dia pantas mati karena meskipun hatinya sakit melihat Bee terluka seperti ini, dia bahagia mengetahui lamaran Eunhyuk tidak berakhir manis. “Kau bodoh,” kata Donghae lirih.

Plak. Tangan Bee mendarat di pipinya. “Lakukan lagi, karena aku akan mengatakannya lagi, kau gadis bodoh.”

Plak. Bee menampar Donghae lagi. “Bodoh,” bisik Donghae lagi.

Bee mengangkat tangannya tapi tak mampu menampar Donghae lagi. Semakin dia menyakitinya, semakin perih perasaannya. Pria ini kejam sekali. Pergi memberikan dirinya pada Eunhyuk setelah menyatakan cinta padanya. Tak bisakah sekali saja pria itu memperjuangkannya? Tak bisakah Bee menjadi berharga baginya?

“Maafkan aku,” Donghae berbisik. Seharusnya dia tidak menyatakan perasaannya, sehingga Bee tidak perlu merasa ragu. Wanita ini berhak bahagia dengan Eunhyuk. Harusnya dia tidak menginterupsi hubungan keduanya.

“Berhentilah meminta maaf!” Bee berseru kesal. “Bertindaklah jantan sekali-sekali!” Bee menatap Donghae nanar. “Kenapa kau selalu melarikan diri? WAE?! Bertanggung jawablah atas perkataanmu! Jangan mengatakannya untuk kemudian bersembunyi. Beginikah caramu mencintaiku? Melemparkan aku pada orang lain? Tak adakah sedikit saja keinginanmu mendapatkan aku? Sebegitu tak berartinyakah aku untukmu?!” Bee meneriakkan semua kekesalannya.

“Tapi aku hanya ingin kau bahagia! Kalau kau bahagia dengan Eunhyuk, maka kau harus bersama Eunhyuk!” Donghae ikut berteriak.

Tangisan Bee mulai keras lagi. “Apakah kau tak bisa bertanya dulu padaku? Apa yang membuatku bahagia, tak bisakah kau menanyakannya padaku dan bukan memutuskannya sendiri? Kenapa kau egois sekali?”

Donghae tercenung. “Bukankah kau mencintai Eunhyuk?” akhirnya pria itu bertanya pelan setelah merenungkan kata-kata Bee.

Bee mendengus jengkel. “Ternyata memang serendah itu kau menilaiku. Kau pikir aku bisa tidur sembarangan dengan orang yang tidak kucintai?” tantangnya sedih.

“Cin—“ Donghae merasakan harapan di hatinya mulai terbit. Dia tidak salah dengar kan? Tangannya terulur mencengkeram lengan Bee. “Kau tidak sedang mempermainkanku, kan?” tanyanya gugup.

“Pabbo Donghae-ra. Aku berhubungan dengan Eunhyuk lebih dari satu tahun, dan aku malah tidur denganmu, apa itu terlihat seperti aku sedang mempermainkanmu?” Bee mendesah putus asa.

Donghae menggeleng-geleng masih takut kenyataan ini hanya mimpi.

“Aku mencintaimu, demi Tuhan!” Bee bergerak tak sabar. Dia merengkuh pria itu dalam pelukannya lalu menciumnya dalam.

Donghae masih terkejut sehingga tidak mampu bereaksi apapun. Tiba-tiba saja air matanya meleleh. Tubuhnya mendadak merasakan capek yang luar biasa. Penantiannya, penantiannya telah menemui ujung. Bee mengatakannya. Mereka saling mencintai. Mengapa mereka terus berputar-putar selama ini? Dia ingin balas memeluk Bee, tapi tubuhnya tak mampu bergerak. Dia hanya mampu melingkarkan diri, menangis dalam pelukan Bee. Tempatnya seharusnya berada. “Pabbo… Pabbo…” katanya di sela-sela isakannya.

“Kita berdua memang bodoh,” Bee membalas pelan sambil menimang Donghae dalam pelukannya.

“Aku tak mau kehilanganmu lagi,” Donghae berkata sesaat kemudian dengan suara sengau. Dia berusaha mengendalikan emosinya.

“Makanya jangan biarkan aku pergi lagi,” bisik Bee sambil menatap Donghae.

“Tidak akan,” Donghae memberikan janjinya.

Mereka saling menatap lalu mempertemukan bibir mereka.

***

Bee dan Donghae saling berpelukan di depan jendela. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin bicara. Mereka ingin menikmati ketenangan ini. Tapi ada satu pertanyaan dalam benak Donghae. “Bee-ya,” tanyanya.

“Mmm?” Bee menjawab malas.

“Eunhyuk-i, bagaimana?”

Bee menghela nafas. Lalu berkata, “Kurasa besok dia akan mulai merencanakan pembunuhan terhadapmu.”

KKEUT.

Akhirnya! Akhirnya! Aku bikin ff yang Donghae bahagia! Sebodo, mau Eunhyuk menderita, mau egois, yang penting akhirnya Donghae bahagia! YES! Aaaakh, geje banget nih ff. Lebai. Menyeh-menyeh. Sebodo teuing ih! 


Iklan