Tag

, ,

Cast: Bee, Chitose

Reality : fiction = 10 : 90 (%)

Setting: Oldenburg, end of Spring

Synopsis: It’s end of spring, and everyone’s leaving. Who’s staying to survive the heavy summer?


“Apa rencanamu hari ini?” Bee bertanya pada Chitose yang duduk di depannya sambil menyatap setangkup toast dengan ham.

“Ah, yes, hari ini aku akan berjalan-jalan mengambil foto. Karena ini hari terakhir aku di sini,” Chitose berkata dengan logat Jepangnya yang kental.

Bee menggigit rotinya sendiri, mencegah agar bibirnya tidak mencebik. Dia agak sebal karena merasa sedih harus berpisah dengan si bodoh di depannya ini. Well, secara akademik sebenarnya Bee lebih bodoh sih… Hanya saja, Chitose itu… terlalu baik dan menyenangkan sehingga dia sedih harus tidak bertemu dengannya selama 6 bulan. “Boleh aku bergabung?” Bee bertanya memaksakan sebuah senyum.

“Ah, yes. Tapi… aku akan berjalan saja,” dia memandang Bee ragu, mengingat cewek itu paling tidak hobi berjalan kaki. Kebalikan dari dirinya yang segalanya serba ditempuh dengan berjalan kaki.

“Tidak masalah. Kan aku berjalan bersamamu,” kata Bee. Oh sial, dia hampir menangis. Hari ini akan jadi perjalanan mereka yang terakhir. Tidak akan ada musim panas bersama Chitose!

“Ah, baiklah,” Chitose menyahut sementara tangannya membelah sepotong lagi roti kemudian melengkapinya dengan ham dan keju.

Bee memandang keluar jendela di sebelah meja tempat mereka makan. Langit sudah terang, meski belum terlihat banyak aktifitas manusia di jalanan di bawah sana. Dari tempat mereka berada sekarang, di lantai 4, mereka bisa melihat langit luas yang bercahaya keemasan karena matahari pagi. Tampaknya hari ini akan menjadi hari yang cerah, hari yang baik untuk jalan-jalan.

Bee melihat bangku di sebelah tempat Chitose duduk. Biasanya Henry bergabung bersama mereka di situ. Tapi pria itu pun sudah kembali ke Hongkong. Sungguh, Bee sebal dengan liburan musim panas kali ini. Semua orang pulang. Tapi tidak dirinya. Bahkan di institut pun dia akan sendirian. Semua orang pergi berlibur. Dengan kesal gadis itu bangkit merapikan bekas sarapannya.

Sambil mencuci piring dia berkata pada Chitose, “Hey! Berarti aku bisa menyalakan musik sekeras yang aku mau sampai kalian pulang ya?”

Chitose tertawa menimpali dengan mulut penuh, “Hahaha, ya. Kau tidak perlu memikirkan kami lagi. Kau bisa berdansa sesukamu di ruang mana saja. Oh ya,” dia menelan rotinya, “kau juga bisa telanjang ke kamar mandi sesukamu karena kami tidak ada.”

Mau tidak mau Bee tertawa. Dia pernah lupa membawa handuk dan terpaksa mengendap-endap kembali ke kamarnya hanya dengan menempelkan baju atasan di bagian depan tubuhnya. Saat hendak membuka pintu kamar, ternyata Chitose baru keluar dari kamarnya yang terletak di sebelah kamar Bee. Pagi itu, hari mereka diawali oleh teriakan Bee. Mengingat itu dia tertawa malu, berbalik menghadap Chitose dan melemparkan busa sabun padanya. “Ya! Dasar kau mesum!”

“Ahahahaha,” Chitose tertawa renyah.

Bee kembali ke tempat duduknya setelah selesai mencuci piring. “Jadi jam berapa kau mau pergi?” tanyanya pada Chitose.

Chitose memandang jam dinding di dapur. “Sekitar jam 10,” jawabnya.

Ini masih jam 8, pikir Bee sambil juga melihat jam dinding. “Baiklah, sebaiknya aku menyelesaikan pekerjaanku dulu sebelum kita pergi. Sampai ketemu nanti,” Bee berpamitan pada Chitose.

“Sampai nanti,” jawab cowok yang dua tahun lebih muda dari Bee itu.

***

Pukul 11.00. Bee dan Chitose sedang berjalan di city sambil melihat-lihat kemungkinan tempat makan. Mereka tadi sarapan cukup pagi, dan setelahnya berkeliling kota untuk menikmati hari yang panas. Chitose sibuk mengambil banyak gambar, memancing Bee untuk mengikuti tindakannya. Mereka pergi ke arah danau di depan Rathaus* mengambil gambar bebek-bebek yang berenang di atasnya. Juga bunga-bunga teratai putih yang banyak bermekaran, tanda puncak musim semi. Beberapa orang juga berjalan-jalan santai dengan pakaian yang lebih terbuka. Tidak ada lagi mantel ataupun jaket, selembar kaus dan celana pendek sudah cukup sekarang ini.

“Aku bisa mencium aroma musim panas,” Bee bergumam ketika melihat semua itu.

Chitose menimpali sambil menghirup udara Oldenburg yang mulai hangat, “Yah, kau benar. Musim panasnya akan kuat kali ini.”

Bee menendang sebuah batu kecil, “Dan aku akan menjalaninya sendirian,” ujarnya memberengut.

Jepret! Terdengar suara lemah kamera digital dioperasikan. Chitose mengambil gambar wajah Bee yang tertekuk dengan latar belakang danau yang kehijauan. Bee terkejut, “Eeeh?! Gambar apa yang kau ambil?!”

Chitose memberinya senyum jahil yang di mata Bee tampak sebagai tanda bahwa dia sudah mendapatkan gambar yang cukup bagus untuk bahan ejekan. Setengah kesal dan setengah lucu, Bee berusaha mengambil kamera Chitose, tapi Chitose mengelak. Akhirnya mereka malah berkejar-kejaran di pinggir danau kota seperti anak kecil. Sepasang suami-istri melintas di dekat mereka diiringi seekor husky yang nampak riang. Husky itu tertarik melihat Bee dan Chitose, lalu ikut bergabung bersama mereka. Salakannya terdengar mengiringi teriakan Bee yang meminta kamera pada Chitose. Melihat itu, suami-istri tadi tertawa bersama. Sungguh hari musim panas yang indah.

Mengabaikan si husky, Bee berlari dengan gaya menyeruduk ke arah Chitose ketika dilihatnya perhatian cowok itu teralihkan oleh pasangan yang menonton mereka. “Yaaak!” serunya ketika sudah dekat sekali dengan Chitose. Karena tidak siap, cowok itu terhuyung dan jatuh ke belakang. Bee dengan puas tertawa karena berhasil menyerang Chitose. Perihal kamera itu sudah dilupakannya sama sekali. Si husky sibuk menyalaki mereka yang sekarang saling tumpang tindih di atas rumput.

Bersama-sama mereka tertawa, tergelak. Si husky yang masih terus menunggu keduanya untuk kembali berkejaran terpaksa mengaing kecewa. “Sorry Boy, we’re tired,” ujar Bee ramah pada husky itu. Dia bangun dan duduk. Dengan tangannya dipanggilnya si anjing. Begitu dekat, dengan sayang digaruk-garuknya belakang telinga anjing itu dan mendapat balasan jilatan lembut di telapak tangannya.

“Tommy, komm*!” terdengar suara pemilik husky itu memanggil. Patuh, Tommy menghampiri pemiliknya diikuti oleh pandangan Bee yang segera merasa kehilangan. “Tschüs*,” si istri melambaikan tangan tanda perpisahan.

Bee tersenyum dan melambai, “Tschüs”.

Dari belakang Chitose mendekatinya lalu duduk di sebelahnya. “Apa kau sedang sedih karena kami tinggal?” cowok itu bertanya sambil memperlihatkan gambar yang tadi diambilnya tanpa izin.

Bee melihatnya dan dengan enggan mengangguk. Lalu dirasanya tangan Chitose merangkul pundaknya. Cowok itu tidak berkata apa-apa, hanya mengelus bahunya lembut. Bee meletakkan kepalanya di bahu Chitose. Mereka duduk seperti itu hingga beberapa saat, kemudian Bee berkata, “Jangan liburan lama-lama. Ingatlah, anggota tim kalian ada yang bekerja sendiri di sini.”

Chitose tertawa pelan. Bee juga ingin tertawa, sebab bagaimanapun sudah ditetapkan bahwa mereka akan pulang selama 6 bulan. Sangat kecil kemungkinannya mereka akan pulang sebelum itu. Tawa yang ingin Bee keluarkan adalah tawa pahit mengingat kesepiannya beberapa bulan ke depan.

Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bee dengan ketakutannya akan kesepian, Chitose dengan perasaan sedikit bersalah karena akan meninggalkan sahabatnya itu tanpa teman. Cowok itu membuka mulutnya, mengingat sesuatu, “Ah, apakah kau tidak bisa berkumpul dengan teman-teman Indonesia-mu?”

Bee menggeleng lemah di bahu Chitose. “Tidak. Kami hanya bertiga di sini. Yang satu sedang pulang karena istrinya melahirkan. Satunya lagi sedang sibuk ujian. Kecuali aku pergi ke Bremen atau Berlin, aku tidak akan menemui orang Indonesia lain. Turis pun tidak,” sesalnya memikirkan kenapa Oldenburg terlalu membosankan untuk dijadikan kota wisata. Lalu dia berseru tertahan, “Aaargh! Kenapa dulu aku tidak memilih ke Bremen saja?!”

Chitose tergelak mendengar lagu lama sahabatnya itu. Pelan dijitaknya kepala Bee. “Setiap ada masalah kau pasti menyesali keputusanmu terdampar di sini. Kau serius menyesal bertemu kami?” tanyanya. Dia tahu itu tidak benar, jadi dia hanya menggoda Bee saja.

“Ya. Aku menyesal bertemu kalian, sebab kalian hanya meninggalkan aku sendiri di sini,” Bee merajuk.

Chitose menarik rambut Bee pelan, “Bee, apa kau merasa kau imut kalau bicara begitu?”

Jawaban Bee adalah degungan di kepala Chitose. Lalu mereka berdua tertawa bersama, kembali melanjutkan menikmati taman yang terlalu cantik untuk diabaikan. Setelah beberapa saat keduanya lalu sadar bahwa mereka sedang lapar sehingga keduanya sepakat untuk berburu makan siang. Dengan damai keduanya meninggalkan taman.

Besok mereka akan berpisah cukup lama, jadi hari ini akan mereka manfaatkan sebaik-baiknya untuk berbagi.

***

Note:
Rathaus: balai kota
Komm: kemari
Tschüs: dah

Iklan