Tag

, ,

Author : Bee

Main Cast : Jo Kyuhyun, Choi Hyunjoon (aka. Neni)

Support Cast : Shim Changmin, Go Miho

Cameo: Sulli dan Luna f(x)

Rating : AA

Genre : Teen Romance

Ps : Ini untuk Neni Dongsaeng yang udah request ff-nya Kyu. Semoga enjoyable.

url: http://wp.me/p1rQNR-3K

***

Kyu memandang Hyunjoon yang sedang tertawa lebar. Aish, cantiknya.

Semua orang mengatainya gila karena menyukai cewek yang hobi telat itu, tapi Kyu tidak peduli. Meski dia bingung bagaimana bisa menyukai Hyunjoon, dia tetap saja tidak bisa mengalihkan minatnya pada cewek lain. Nih ya, ciri-ciri Hyunjoon itu, tidak pernah tidak telat, selalu berambut pendek riap-riap sebatas tengkuk, kalau ketawa lebar sekali—juga lepas sekali, kalau bicara keras sampai semua orang bisa mendengarnya, dan prestasinya di sekolah? Sama sekali tidak ada.

Lantas bagaimana bisa Kyu menyukainya?!

Entahlah, mungkin teman-temannya benar, Kyu sudah gila. Entah sejak kapan, cewek yang tidak pernah main ke kelasnya itu selalu menjadi perhatiannya. Lihat? Bahkan mereka tidak pernah sekelas, tapi dia sudah menyukainya begitu saja. Saat pelajaran membosankan, Kyu bisa langsung teringat Hyunjoon, sedang apa ya cewek itu? Apa ya yang dilakukannya? Saat istirahat, Kyu ingin cepat-cepat keluar dari kelas agar bisa melihat cewek itu keluar kelas. Saat pulang sekolah, Kyu selalu memboroskan uang sakunya di tempat sewa komik agar bisa memperhatikan cewek itu menyewa komik, lalu berjalan mengikutinya pulang, meski hanya sampai 200 meter, sebab Kyu harus berhenti di halte bis untuk naik bis pulang ke rumahnya.

Entah sejak kapan Kyu menyadari bahwa makanan kesukaan Hyunjoon adalah asinan nanas. Hobinya adalah berganti-ganti hobi. Temannya tidak pernah tetap. Olahraga adalah pelajaran yang dibenci cewek itu. Dan dia sering membolos apel pagi dan bersembunyi di ruang kesehatan. Seperti kali ini.

Seperti biasa, Kyu mengikuti jejak Hyunjoon, membolos apel pagi. Toh dia benci menghadap sinar matahari pagi yang menyilaukan. Seperti biasa juga, Hyunjoon hanya menatapnya sebentar lalu kembali larut dalam komiknya. Sepertinya komiknya itu lucu sekali. Dia terpingkal-pingkal, mulutnya melebar bagai gua. Kyu jadi ikut tersenyum. Dia melihat mata Hyunjoon yang mengerut kecil hampir hilang ketika kepalanya mendongak ke belakang akibat tawa. Apa lucu sekali, komiknya itu? Hahaha, wajahnya ceria sekali.

Sepertinya Hyunjoon bisa membaca pikirannya karena cewek itu lalu memandanginya. Ah, Kyu menyukai matanya. Kenapa? Entahlah. Suka saja. Senyum tiga jarinya muncul ketika dia bertatapan dengan mata Hyunjoon.

Apa itu? Apakah pipinya memerah?! Kyu terkejut melihatnya. Baru sekali ini dia melihat ekspresi malu-malu Hyunjoon. Dia menyukainya. Sangat.

“Waeyo?” Hyunjoon bertanya ragu. “Ah, tawaku terlalu keras ya?” cewek itu menyadari kebiasaan buruknya.

Kyu tidak menjawabnya. Dia terus memandangi Hyunjoon dengan mata berbinar dan senyum terkembang. Tiba-tiba dia melontarkan sesuatu yang membuat keduanya terkejut, “Jadilah pacarku, Hyunjoon-a.”

Mulut Hyunjoon terbuka, tapi tidak ada yang bisa dikatakannya selain, “Mwo?”

Oke, sudah terlanjur basah. Kyu tidak mau mundur lagi. “Jadilah pacarku,” katanya.

Jawaban Hyunjoon adalah pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Kyu senang karena masih bisa terkejut oleh perilakunya, “Kapan?”

“Ahahahaha,” tawa Kyu meledak. Dari semua pertanyaan yang mungkin, Kyu tidak pernah membayangkan seseorang akan bertanya padanya kapan masa pacaran akan dimulai. “Sekarang,” jawabnya langsung.

“Wah, aku belum siap,” Hyunjoon menjawab panik.

Kyu merubah posisinya di ranjang ruang kesehatan. Kini kakinya menjuntai ke lantai, “Nanti siapnya sambil jalan,” ujarnya antusias. Dia makin bersemangat membujuk Hyunjoon.

Hyunjoon menekuk halaman komik yang sedang dibacanya. Lalu menggaruk belakang kupingnya, membuat rambutnya agak acak-acakan.”Kamu siapa? Aku ga tau kamu,” ucap cewek itu.

Senyum Kyu mengembang. “Kyu, anak kelas sebelah. Sudah lama aku mengamatimu, ani, menyukaimu.”

Mata Hyunjoon melebar mendengar jawaban itu. “Sejak kapan?”

Kyu terpaksa menunduk memikirkan jawaban untuk pertanyaan ini. Dia tidak tahu. Sejak kapan ya? Ditatapnya Hyunjoon, berusaha mencari jawaban dalam ekspresinya. “Sejak…” dia diam sebentar, “…aku ga ingat sejak kapan. Tahu-tahu aku sudah menyukaimu.”

Mata Hyunjoon berputar-putar cepat, memandang ke sana kemari menyiratkan kebingungan. Sebelum cewek itu menemukan alasan untuk menolaknya, Kyu berkata lagi, “Ayolah, aku tahu kau tidak sedang menyukai siapapun.” Lalu melanjutkan, “Dan tidak ada cowok di sekolah ini yang sedang menyukaimu kecuali aku.”

Bujukannya itu membuatnya dipelototi oleh Hyunjoon, tapi dia malah tersenyum semakin lebar. Seperti iblis dia turun dari ranjang dan mendekati Hyunjoon. Begitu sampai di depannya, dia meletakkan kedua tangannya yang panjang di samping tubuh Hyunjoon, menjebak cewek itu di antaranya. “Sudah, jadi pacarku saja,” katanya dengan kepercayaan diri tingkat Namsan Tower.

Karena mereka begitu dekat, Hyunjoon terkejut sampai tersedak. Dia terbatuk-batuk kepayahan akibat ludahnya salah masuk ke saluran nafasnya. Dengan kurang ajar Kyu memanfaatkan kesempatan itu untuk menepuk-nepuk punggungnya dengan sikap tubuh memeluk. Hyunjoon yang masih belum sadar terus berusaha melancarkan tenggorokannya. Ketika akhirnya batuknya berhenti, dia mengucapkan terima kasih yang tulus pada Kyu, “Aku udah ga papa. Terima kasih.”

Tapi Kyu tidak bergerak. Meski tubuh mereka tidak menempel, tapi lengannya sudah melingkari tubuh Hyunjoon. Satu tangan menempel seenaknya di pinggang Hyunjoon, sementara yang lain masih terus mengelus-elus daerah di bawah tengkuk cewek itu. Wajahnya dekat sekali dengan wajah Hyunjoon. Sambil tersenyum puas, Kyu berkata, “Jawab saja iya. Lalu kita pacaran.”

Awalnya mata Hyunjoon memancarkan sinar malu, tapi karena dilihatnya Kyu tidak akan bergeming, mata itu berubah ekspresi menjadi seperti sedang berpikir. Sesaat kemudian Kyu mendapatkan apa yang dimauinya. Hyunjoon mengangguk sambil tersenyum malu-malu.

“Yes!” girang Kyu. Dia memajukan wajahnya hendak mencium Hyunjoon. Tapi rupanya Hyunjoon sudah lebih waspada sekarang. Cewek itu menundukkan kepalanya menolak.

Meski kecewa, Kyu membiarkan saja penolakan itu. Masih banyak waktu. “Jadi kamu pacarku ya?”

“Ya,” kata Hyunjoon mengangkat wajahnya lagi.

“Istirahat nanti kita ketemu di kantin ya?” ajak Kyu.

Hyunjoon tampak berpikir, membuat Kyu gemas. “Ya,” jawab cewek itu singkat disambut oleh tawa Kyu.

“Hahahahaha!” Hyunjoon mendengarnya bagai tawa iblis. Tapi entah kenapa hatinya menghangat mendengar tawa itu.

***

“Kyu,” panggil Hyunjoon di depan pintu kelas Kyu.

“Kyu! Pacarmu datang!” seorang teman sekelas Kyu memberitahu kedatangan Hyunjoon sambil berteriak.

Kyu mendongak dari PSPnya lalu tersenyum lebar melihat Hyunjoon sedang memandanginya dari pintu kelas. Segera dia berlari mendekati Hyunjoon, “Ada apa, Hyunjoon Sayang?”

Hyunjoon tertawa sambil menyentuh wajah Kyu mesra, “Matematika…” ujarnya dengan sikap manja.

Ciss, pikir Kyu. Jadi mau minta diajari matematika? “Sekarang?”

Hyunjoon mengangguk.

“Baiklah. Dimana?”

Hyunjoon tampak bingung. Akhirnya Kyu yang mengambil keputusan, “Sudah, di sini aja.”

Dia menarik tangan Hyunjoon memasuki kelasnya, mengajaknya duduk di bangkunya yang terletak di sebelah jendela. Dengan tega mengusir temannya yang sedang tidur. Meminta maaf ketika temannya itu protes meski tetap menurut pergi begitu melihat Hyunjoon. Lalu dengan sabar mulai mengajari Hyunjoon matematika.

Mereka sudah berpacaran selama 6 bulan. Pelan-pelan mereka mulai saling mengenal sifat masing-masing. Seingat Kyu, mereka pernah bertengkar sekali saat istirahat sekolah akibat kesalahpahaman mengenai tempat bertemu, tapi langsung berbaikan lagi di waktu pulang sekolah. Seperti yang sudah Kyu duga, Hyunjoon berjiwa bebas, tidak suka peraturan, dan benci belajar. Kyu sendiri secara mengejutkan lebih menyukai belajar sejak mereka mulai berpacaran, sebab Hyunjoon seringkali memintanya untuk mengajari seperti sekarang.

“Ahahahahaa,” kyu tertawa tanpa sebab. Seperti biasa, setiap memandangi Hyunjoon, Kyu sering tidak mampu menahan tawanya. Ada rasa puas tersendiri karena dia berhasil menjadi pacar Hyunjoon. Karena sudah terbiasa, Hyunjoon tidak lagi heran, bahkan dia tidak lagi mendengar ketika Kyu tertawa seperti itu. Cewek itu tanpa sadar sudah menganggap bahwa tawa itu adalah miliknya, jadi dia sudah tidak terlalu takjub dengan hal itu.

“Pulang nanti, ayo kita kencan, Kyu,” usul Hyunjoon.

“Geurae? Kemana?” Kyu bertanya antusias.

Hyunjoon mengangkat wajahnya dari buku latihan matematikanya. “Kemana aja, terserah kamu,” dia menjawab Kyu dengan senyum tercerianya. Kyu pernah bilang bahwa dia menyukai senyum manis Hyunjoon, tapi dia lebih tergila-gila kalau Hyunjoon tersenyum/tertawa ceria.

“Kalau begitu, ke hotel?” usul Kyu jahil.

Sontak Hyunjoon menyentil jidat Kyu. “Andweh! Kita masih SMP!”

Kyu manyun sambil mengelus-elus jidatnya. Sakit. Dengan Hyunjoon, pukulan antar kekasih tidak pernah tidak serius. Tapi sejenak kemudian dia tersenyum, untuk Hyunjoon, sakitnya bukan apa-apa.

“Geureom, nonton?” usulnya lagi.

“Emang ada film apa hari ini?” Hyunjoon menjawab sambil kembali menunduk menghadapi bukunya.

“Molla. Aku kan cuman usul,” Kyu menjawab ringan. Padahal dalam hatinya dia bersorak girang. Hyunjoon tampaknya tidak keberatan. Cowok itu langsung merencanakan sesuatu begitu melihat gelagat Hyunjoon akan menurutinya. Dia akan mencium Hyunjoon di tempat nonton film nanti.

Saat ini Kyu sedang gencar-gencarnya merencanakan aksi mencium Hyunjoon. Sekalipun dia belum pernah berhasil. Hyunjoon selalu berhasil menghindar atau mencegahnya ketika Kyu hendak menciumnya. Ciss, padahal mereka sudah jalan 6 bulan.

“Kalau begitu kita lihat nanti. Kalau filmnya menarik, kita nonton ya? Kalau ga?” seperti biasa, Hyunjoon selalu punya pemikiran lain di balik pemikiran satunya.

Yes, Kyuhyun bersorak dalam hati sambil berdoa agar semua film jadi menarik di mata Hyunjoon. “Geunyang, jalan-jalan saja, gimana?” usul Kyu atas pertanyaan Hyunjoon.

“Baiklah. Coba koreksi ini, Kyu. Kayaknya sih udah selesai, tapi aku ga yakin,” kata Hyunjoon sambil menyerahkan buku latihannya untuk dilihat Kyu.

Kyu menerimanya lalu mulai memperhatikan jawaban Hyunjoon dengan seksama. Dengan mata berbinar, Hyunjoon memperhatikan Kyu yang sedang mengoreksi jawabannya. Dia memperhatikan tulang pipinya yang tinggi, bibirnya yang tebal, dan bentuk hidungnya yang sempurna. Kadang dia sangat bangga dengan dirinya sendiri karena mau berpacaran dengan Kyu saat dia belum mengenalnya. Dan sekarang ini jujur saja dia merasa lega karena Kyu telah menjadi pacarnya. Sebab—Hyunjoon mengakui—Kyu itu ternyata tampan. Mungkin belum ada yang menyadarinya, tapi cowok itu memiliki wajah malaikat paling manis sedunia. Penemuan Hyunjoon akan karakter Kyu juga semakin membuatnya suka pada cowok itu. Tidak pernah mengekang, selalu mendukung, menasihati tanpa menggurui, dan meskipun semua orang bilang bahwa biasanya cewek lebih matang secara emosional dibandingkan cowok, dengan Kyu dia selalu merasa Kyu punya sifat yang lebih matang dibandingkan cowok-cowok lain.

Kyu adalah pacarnya, sahabatnya, oppanya, teman ngerumpinya, dunianya saat ini.

***

“Hyunjoon-a, mian!” Kyu berseru sambil menghampiri Hyunjoon.

Hyunjoon menoleh. Ditekannya tombol pause PSPnya. Kyu kini sedang membungkuk sambil terengah-engah di sampingnya. “Mian, aku tadi… hhh… tiba-tiba di…hhh…suruh Pak Guru membersihkan… lab…” katanya terputus-putus.

Hyunjoon mengambil tisu dari tasnya lalu mengelap peluh di pelipis Kyu. “Aigoo, uri namja kasihan sekali. Capek?” tanyanya sayang.

Kyu mengangguk manja. Memang sejak mereka masuk SMA, mereka jadi hanya bisa bertemu sekali setiap akhir pekan, sebab mereka masuk sekolah yang berbeda. Dan hari ini adalah akhir pekan, hari dimana mereka berjanji untuk pergi ke karaoke untuk berkencan. Tadi Hyunjoon sudah menunggu selama tiga puluh menit. Waktu yang terasa singkat jika digunakan untuk main game di PSP. Gara-gara pengaruh Kyu, cewek itu kini ketularan jadi maniak game.

“Gaja,” Kyu meraih tangan Hyunjoon, mengajaknya pergi.

Hyunjoon menyimpan PSP dalam tasnya dan mengangguk tersenyum pada Kyu. Bagaimanapun waktu bersama Kyu jauh lebih berarti dibandingkan PSP.

Mereka berjalan beriringan menuju tempat karaoke langganan mereka. Sebelum ke tempat karaoke, mereka mampir ke swalayan sebentar membeli makanan kecil dan minuman. Hal yang biasa mereka lakukan kalau pergi ke karaoke, walaupun tempat karaoke selalu melarang siapapun membawa makanan dan minuman dari luar.

Di swalayan mereka berpisah. Hyunjoon mencari makanan kecil, Kyu yang mencari minuman. Ketika mereka kembali ke titik pertemuan mereka, Hyunjoon terkejut karena di sebelah Kyu terdapat seorang cewek yang menggelayut manja. Begitu melihat Hyunjoon, Kyu seperti lega sekali. “Hyunjoon-a…” katanya.

Hyunjoon tersenyum padanya, tapi masih menatap cewek itu penasaran. “Hyunjoon-a, sini,” Kyu menariknya mendekat. Tangannya kemudian dengan paksa melepaskan tangan cewek itu. “Miho, ini cewekku. Aku ga bohong kan waktu bilang aku sudah punya cewek?” katanya pada cewek itu.

Lalu Kyu berpaling pada Hyunjoon. “Hyunjoon-a, cewek ini teman satu sekolahku. Namanya Miho. Dia menyukaiku tapi ga percaya kalau aku udah punya kamu,” Kyu menjelaskan terang-terangan. Satu lagi karakter Kyu yang Hyunjoon sukai.

“Kyu~” cewek bernama Miho itu berusaha menarik perhatian Kyu sambil meraih pergelangan tangannya.

Hyunjoon tersenyum. Meski dia tidak sempat cemburu karena Kyu-nya langsung menjelaskan yang sebenarnya, tapi dia tetap merasa tersanjung Kyu mengumumkan posisinya dengan tegas. Maka dengan tegas pula Hyunjoon berusaha membantu cowoknya itu melepaskan diri dari Miho. Hyunjoon tahu Kyu tidak menyukai cewek itu. Perasaannya berkata demikian.

Hyunjoon meraih tangan Miho lalu dengan paksa dilepasnya dari pergelangan tangan Kyu. “Lepaskan, Kyu itu cowokku,” ucapnya dengan senyum menang.

Miho terlihat kesal dan marah, tapi baik Kyu maupun Hyunjoon tidak peduli. Mereka meninggalkan Miho di sana dan berjalan menuju kasir untuk membayar. Mereka tidak mempedulikan Miho lagi dan berjalan beriringan dengan mesra ke tempat karaoke.

***

Ah, matematika tidak pernah tidak bikin ngantuk, pikir Hyunjoon sebal. Dari tempatnya duduk tepat di pusat kelas, dia memberengut karena membenci pelajaran ini. Lebih benci lagi karena dia tidak bisa minta diajari Kyu di waktu istirahat seperti saat SMP dulu.

Pluk. Tiba-tiba sebuah gulungan kertas mendarat di mejanya. Tanpa menoleh-noleh, dibukanya gulungan kertas itu, “Bintang Sukira nanti malam U-Kiss. Kyaaaaaaa! Kita harus datang!” dahinya berkerut bingung. Siapa yang mengajaknya nonton Sukira nanti malam? Belum pernah ada yang seakrab itu dengannya. Dia lalu menoleh untuk mencari siapa yang mengajaknya.

Di kanannya dia melihat, Sulli sedang memelototinya, “Yah, sini kertasnya! Itu untukku!” bisik cewek itu.

Oh, ternyata bukan untukku. Pikirnya sambil memberikan kertas itu pada Sulli sambil nyengir minta maaf. Semenit kemudian Sulli melemparkan kertas itu padanya lagi. Ketika Hyunjoon menoleh padanya, mulut cewek itu komat-kamit menyuruh agar Hyunjoon memberikannya pada Luna yang duduk di sebelah kirinya. Hyunjoon pun menurut.

Tak lama datang lagi sebuah kertas di mejanya. Tanpa banyak tindakan, Hyunjoon melemparkannya lagi pada Sulli. Tapi baru sebentar, Sulli sudah melemparkannya lagi padanya. Dengan malas, dia akhirnya melemparkan lagi pada Luna. Ya, ya, ya, dia hanya tukang kirim pesan, pikirnya tanpa semangat. Lumayanlah, buat pekerjaan. Toh dia tidak sedang memperhatikan pelajaran.

Kertas datang lagi padanya, dan sekali lagi dia melemparkannya pada Sulli tanpa melihat. Heran, bagaimana orang-orang ini bisa menulis cepat sekali sih? Lalu kertas dari Sulli datang lagi disertai colekan di lengan Hyunjoon. Hyunjoon menoleh dan melihat Sulli menatapnya sebal, “Kau pabbo ya? Itu untukmu!” bisiknya keras.

“SULLI!” suara guru di depan membangunkan kelas yang terkantuk-kantuk.

Sulli terkejut lalu mengangguk meminta maaf pada guru yang segera berbalik lagi menghadap papan tulis. Cepat cewek itu menoleh memarahi Hyunjoon dengan pandangan mata. “Gara-gara kau,” bisiknya. Tangannya tergenggam mengancam dengan sikap menjitak.

“Mian,” kata Hyunjoon tanpa suara. Lalu dibukanya gulungan kertas itu. “Istirahat di atap? Changmin.

Dia menoleh ke belakang. Changmin duduk tepat di belakang Luna. Wajahnya geli melihat kebodohan Hyunjoon tadi. Dia mengangkat buku matematikanya, lalu menunjuk ke atas sambil mulutnya mengucap “Atap” tanpa suara.

Hyunjoon mengerti maksudnya. Changmin menawarkan bantuan mengulang pelajaran matematika seperti yang sering dilakukannya akhir-akhir ini. Hyunjoon menggigit bibirnya senang. Tanpa mengatakan apapun, dia menyatukan telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran, memberikan persetujuan. Yah, walaupun bukan Kyu, yang penting matematikanya masih bisa dia pelajari.

Di atap Changmin tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Hyunjoon. “Ya, makanya kalau ada yang memberimu sesuatu, kau harus melihat dulu siapa orangnya, baru bertindak. Kertas untuk Sulli kau yang baca. Kertasku untukmu malah kau oper-oper antara Sulli dan Luna. Kau benar-benar pabbo!” Changmin tergelak sambil menjitak pelan kepala Hyunjoon.

“Ya! Kau itu mau mengajariku atau mau mengejekku? Aku pergi saja kalau kau masih mau tertawa!” Hyunjoon merajuk.

Changmin meraih tangan Hyunjoon, menahannya agar tidak berdiri. “Mian. Aku mau mengajarimu sambil mengajakmu makan siang, sebenarnya. Ibuku lagi-lagi membawakan terlalu banyak makanan,” Changmin lalu membuka kotak bekal mewahnya.

Sudah beberapa hari ini Changmin selalu mengajaknya makan siang bersama. Cowok itu selalu bercerita bahwa ibunya tidak pernah membawakan sedikit bekal untuknya. Selalu banyak sehingga sering tidak habis. Sekarang karena ada Hyunjoon, dia tertolong. Hyunjoon sih untung-untung saja. Dia jadi bisa menyimpan uang sakunya untuk waktu-waktu kencan dengan Kyu.

Hyunjoon nyengir mendengar ajakan Changmin. Lalu dengan antusias dia dan Changmin makan bersama. Setelah bekal habis, mereka mulai membuka buku matematika. Saat Hyunjoon mendekat untuk duduk di sebelah Changmin, tiba-tiba cowok itu maju dan berusaha mencium bibir Hyunjoon. Untung saat itu pensil Hyunjoon menggelinding entah kemana sehingga Hyunjoon harus menunduk mencari pensilnya.

Meski demikian, Hyunjoon sudah tahu apa maksud Changmin. Dia segera menatap Changmin dengan marah. Changmin merasa bersalah, “Mianhae, Hyunjoon-a. Aku suka padamu. Jadilah pacarku,” katanya.

Hyunjoon sebal mendengarnya. Jadi ini alasannya Changmin baik sekali padanya belakangan ini? Yang paling menyebalkan, dia bahkan bergerak ingin menciumnya dulu baru bilang suka. Laki-laki macam apa itu?!

“Aku sudah punya pacar! Kalau kau hanya ingin begini denganku, lebih baik aku bodoh matematika selamanya!” Hyunjoon menghardik sambil bangkit hendak meninggalkan Changmin.

Changmin mencegah dengan menahan tangan Hyunjoon. “Lepas!” bisik Hyunjoon penuh kemarahan.

“Kau jangan bohong. Aku tak pernah melihatmu dengan siapapun.” Changmin membela diri.

“Kau tidak mengenalnya! Lepaskan aku!” Hyunjoon menggeliat marah.

Changmin bersikukuh menahan Hyunjoon. “Tidak adil. Kau tidak memberiku kesempatan untuk membuktikan rasa sukaku padamu.”

“Tindakanmu itu tadi bukannya membuktikan! Itu namanya merampas kesempatan! Aku akan teriak kalau kau tidak melepaskanku!” ancam Hyunjoon.

Dengan terpaksa Changmin melepaskan Hyunjoon. Dia tertohok dengan kata-kata yang diucapkan Hyunjoon. Benar, dia memang merampas kesempatan. Seharusnya dia bisa bertindak lebih sabar. Dengan menyesal dipandanginya punggung Hyunjoon yang menghilang di balik pintu atap.

***

Sejak kejadian itu, Changmin terus berusaha mendekati Hyunjoon. Sementara Hyunjoon semakin keras berusaha menghindari Changmin. Lelaki itu tidak mau peduli meskipun Hyunjoon bilang sudah punya pacar. Dia berpikir, apakah Kyu juga menghadapi hal yang sama dengan Miho di sekolahnya? Cewek itu terlihat sama bebalnya dengan Changmin.

Sedang begitu, tiba-tiba Kyu sms. “Besok kita jalan-jalan ya? Hari ini aku tidak bisa menemuimu. Mian.”

Dia tersenyum. Hanya karena pacarnya itu sms, moodnya membaik hampir 100%. “Oke, aku akan membuatkan bekal kalau begitu. Kau mau apa?” balasnya.

Tidak lama, “Apa saja buatanmu akan aku makan. Hyunjoon-a, bogoshippo. Menyebalkan, Pak Guru menyuruhku membantunya bersama dengan Miho! Hyunjoon-a, aku membutuhkanmu!

“MWO?!” Hyunjoon terlonjak dari duduknya di podium olahraga sekolahnya. Untung tidak ada orang di sekitarnya.

Tiba-tiba semuanya berkelebat. Tingkah Changmin yang agresif mendekatinya, sikap Miho yang tidak tahu malu menggelayut pada Kyu-nya. Tindakan keduanya yang egois tidak peduli bahwa masing-masing incarannya sudah punya pacar. Semua itu tiba-tiba membuatnya geram. Selama ini tidak ada yang mengganggu mereka dan mereka tidak mengganggu siapapun, lantas kenapa hama-hama itu datang sih?!

Ommona! Jangan-jangan Miho sama agresifnya seperti Changmin? Bagaimana kalau dia mencium Kyu?! Andweh! Mereka bahkan belum pernah berciuman. Dia tidak akan membiarkan ciuman pertama mereka direbut orang-orang tidak tahu malu itu! Segera dibalasnya sms Kyu, “Kau! Jauhi dia sebisa mungkin, areo?!

Kyu hanya membalasnya, “Johahae, yongwonhi. Aku selalu menyukaimu.

***

Hari ini Hyunjoon berdandan. Ya, seorang Hyunjoon berdandan. Kyu adalah miliknya. Dia akan menegaskannya hari ini. Akhirnya Hyunjoon mengambil keputusan akan ‘menandai’ pria itu. Selama ini dia selalu menolak ketika Kyu hendak menciumnya. Dia selalu berpikiran bahwa hal itu bisa dilakukan saat mereka sudah dewasa nanti.

Sekarang dia berpikiran berbeda. Ciuman itu yang akan mengantarkan mereka pada kedewasaan. Dia tidak mau siapapun mendahului Kyu untuk menciumnya. Bagaimanapun juga, dia resah jika seperti ini, saat ada yang mengganggu hubungan mereka.

Mereka akan ke Thithicaca hari ini. Dia berjanji akan bertemu dengan Kyu di halte bis dekat sekolah Kyu. Sementara menunggu, pikiran Hyunjoon dipenuhi dengan berbagai macam skenario. Bagaimana nanti dia akan ‘menyerang’ Kyu? Apakah dia akan mengatakannya dulu, atau melakukannya secara tiba-tiba seperti yang dilakukan Changmin? Tapi bagaimana kalau meleset? Malu sekali nanti dia. Apa sih yang dilakukan orang ketika berciuman? Hanya menempelkan bibir kan? Aaah, kenapa dia bodoh sekali sih?

Dia lalu mengingat brosur Thithicaca. Danau buatan manusia itu tampak cantik sekali, jadi dia meyakinkan diri bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. Biar alam yang mendukungnya.

Lalu dia melihat Kyu-nya. Datang dengan setengah berlari dari ujung jalan. Senyumnya terkembang, dan larinya semakin melambat begitu mendekati halte.

Ada apa dengan Hyunjoon? Hari ini pacarnya itu cantik sekali. Dress katun putih sederhana sepanjang lutut melekat manis di tubuhnya. Rambutnya diberi bando. Apakah Kyu melihat bibirnya agak berkilat? Ya ampun, pacarnya ternyata manis sekali. Kyu jadi bingung sendiri melihat penampilan Hyunjoon yang berbeda dari biasanya. Rasanya seperti kencan pertama. Padahal mereka sudah berhubungan 3 tahun!

Terkagum-kagum Kyu memuji pacarnya itu, “Kau cantik sekali,” katanya menimbulkan semburat merah di pipi Hyunjoon.

“Aku dandan hari ini,” sahut Hyunjoon polos.

Ah, jadi benar, Hyunjoon berdandan. Kyu kemudian berpikir hati-hati. Ada apa hari ini? Apakah hari ini seharusnya peringatan sesuatu? Kyu mencoba mengingat-ingat. Tapi belum sempat dia menemukan jawabannya, bus mereka datang. Mereka segera meniki bus itu sambil tersenyum senang melihat satu sama lain.

Bagi Hyunjoon, baru kali ini sepanjang hubungannya dengan Kyu dia merasa berdebar-debar tak jelas hanya karena berjalan bersama pacarnya itu. Bagi Kyu, penampilan istimewa Hyunjoon membuatnya senang sekaligus waswas karena takut melupakan sesuatu, tapi yang jelas, penampilan Hyunjoon hari ini membuatnya agak tersiksa. Keinginannya mencium Hyunjoon datang lagi setelah dia berhasil melupakannya sekian lama.

Sejak satu setengah tahun lalu Kyu sudah menyerah berusaha mencium Hyunjoon karena ceweknya itu mengatakan bahwa ciuman pertamanya akan disimpan hingga keduanya dewasa. Kyu sudah bahagia tanpa ciuman dari Hyunjoon, jadi itu tidak dianggapnya terlalu penting. Tapi penampilan Hyunjoon hari ini, ditambah lagi Miho yang selalu berusaha mengambil kesempatan di sekolah, membuatnya berfikir tentang ciuman. Sungguh, Kyu tergoda.

Sampai di Thithicaca, keduanya memutuskan untuk duduk berdua menikmati pemandangan sambil menikmati bekal buatan Hyunjoon. “Hmm, enak,” puji Kyu.

“Benarkah?” Hyunjoon bertanya senang. Semakin senang ketika Kyu mengangguk bersemangat sambil mengambil makanan lagi. Dia lalu berkata, “Kemarin aku bertekad.” Kyu menoleh memperhatikan Hyunjoon. Hyunjoon meneruskan tanpa melihat pada Kyu, “Aku akan membuatkan bekal yang paling enak untukmu. Aku ga akan kalah dari Miho.”

Tiba-tiba Kyu merasa susah menelan. “Kok bawa-bawa Miho sih?” Kyu setengah memprotes.

“Habisnya dia bisa ngebersihin kelas bareng kamu. Aku kan ga bisa,” Hyunjoon beralasan sambil mencomot makanan.

“Hyunjoon-a… Kamu cemburu?” Ini pertama kalinya Hyunjoon begini, Kyu merasakan senang mulai merambat naik ke hatinya.

Hyunjoon manyun. Berpikir, apa benar dia cemburu? Mungkin sih. Dia lalu mengangguk, “Sedikit.”

Ya ampun! Bibir itu! Kyu tiba-tiba merasa kepanasan. Dia langsung bangkit dari duduknya, “Mian Hyunjoon-a. Aku mau cari toilet,” katanya pergi mengabaikan Hyunjoon yang melongo.

Pikiran Hyunjoon yang polos tidak bisa berpikiran yang aneh-aneh, sehingga dia membiarkan saja cowoknya itu ngeloyor pergi. Malah dia sekarang kembali tegang memikirkan rencana yang mungkin dilakukannya untuk mencium Kyu. Bagaimana ya? Apa dia memandang Kyu lalu menutup mata? Ah, mungkin begitu lebih baik. Aku akan latihan dulu, tekadnya. Dia lalu memejamkan matanya, membayangkan Kyu ada di depannya. Tapi tiba-tiba gadis itu membuka lagi matanya. Wajahnya memerah. Tidak bisa. Saat dia membayangkannya, bayangannya menjadi terlalu jelas, jadi tidak ada gunanya meskipun dia menutup mata.

“Hyunjoon-a!” Kyu tiba-tiba sudah kembali. Hyunjoon jadi semakin gugup.

Kyu yang melihat wajah Hyunjoon memerah jadi khawatir. “Hyunjoon-a, gwenchanha?”

Hyunjoon mengipasi wajahnya dengan tangan. Bayangan tadi membuat bibirnya kering sehingga dia menggigit bibirnya lalu menjilatnya agar basah. Dadanya berdebar keras melihat Kyu.

Meskipun khawatir, Kyu melihat Hyunjoon menjilat bibirnya, dan itu membuatnya kembali berpikiran tentang ciuman. Mereka butuh aktivitas, pikir Kyu panik. “Hyunjoon-a! Ayo! Naik! Perahu! Bebek!” kyu mengucapkan ajakannya sambil berseru di setiap katanya, menahan rasa gugup. Tanpa menunggu Hyunjoon, dia berjalan ke arah tempat penyewaan perahu.

Ketika Hyunjoon datang, Kyu sudah berada di dalam perahu bebek, siap membantu Hyunjoon naik. Pertama Hyunjoon mengulurkan keranjang pikniknya, lalu setelah Kyu menyimpannya dengan aman, Hyunjoon naik dengan kaki kanan terlebih dulu. Saat menaikinya, kaki kiri Hyunjoon secara tidak sadar mendorong tepi dermaga tempat perahu bebek itu tertambat, akibatnya perahu menjadi oleng. Kyu goyah sambil menarik lengan Hyunjoon. Untung Hyunjoon cukup sigap. Dia menarik Kyu agar tidak jatuh.

Oh tidaaaak! Jantung keduanya langsung melorot sampai ke kaki. Wajah keduanya kini dekat sekali. Hyunjoon bisa melihat warna mata Kyu yang coklat terang dengan jelas, dan Kyu jadi menyadari tahi lalat kecil di tepi hidung Hyunjoon, di atas bibirnya. Keduanya terpaku pada posisi masing-masing, lalu terkejut karena panggilan petugas yang mengatakan bahwa dia akan melepaskan tali tambatan perahu bebek mereka.

Kyu dan Hyunjoon langsung melepaskan kontak fisik mereka dengan gugup. Dengan canggung keduanya melangkah menuju bangku masing-masing. Ketika akhirnya mereka mengayuh perahu tersebut agar bergerak, keduanya melakukan hal itu dalam diam, gugup dengan pikirannya masing-masing.

Yang pertama menyerah adalah Kyu. “Haahahahaha! Hari! Ini! Cerah! Sekali! Ya….” Lagi-lagi dia berseru gugup.

Hyunjoon bersemu merah. “Ya,” jawabnya singkat. Dalam hati dia kesal dengan dirinya sendiri. Baru begitu dekat dengan Kyu saja dia sudah merasa tidak karuan, apalagi menciumnya. Ommona~ apa yang harus dia lakukan?

“Hahahaha!” Kyu hanya sanggup tertawa canggung.

Mereka berdua mengayuh makin ke tengah dengan pikiran masing-masing. Setelah terdiam beberapa lama, Hyunjoon bertanya pada Kyu, “Kyu, apa kau bisa berenang?”

“Heh?!” Kyu terkejut mendengar pertanyaan Hyunjoon.

“Ani, kita sekarang ini jauh dari manapun. Kalau terjadi sesuatu, apa kau bisa berenang?” Hyunjoon tidak pernah tahu itu sebelumnya, makanya sekarang ini dia bertanya.

Kyu berusaha mengembalikan konsentrasinya pada pertanyaan pengandaian yang tidak penting itu. “Kami ada pelajaran renang, sih. Kalau sekedar berenang pelan aku bisa kok,” katanya sambil berpikir. Lalu wajahnya terlihat malu, “Hyunjoon-a…” panggilnya hati-hati.

Hyunjoon menoleh, merasa ada yang hendak dikatakan oleh Kyu.

“Jangan marah ya,” Kyu bertanya padanya. Hyunjoon memandangnya tidak mengerti. Kyu memutuskan untuk meneruskan, “Ani, kalau kau mau marah, tidak apa-apa, asal jangan lama-lama. Ya?”

“Apa?” akhirnya Hyunjoon bertanya penasaran.

“Sebenarnya dulu aku tidak bisa berenang, lalu Miho yang mengajariku karena nilai olahragaku buruk sekali. Sejak itu dia jadi menyukaiku,” jelas Kyu polos. Dia pasrah kalau Hyunjoon memang mau marah padanya.

Hyunjoon memandangnya. Miho. Huh, cewek itu memang cantik, tapi Hyunjoon tidak yakin dia bisa memikat Kyu. Sifat Kyu itu tidak umum. Buktinya, cowok itu mau menjadi pacarnya yang setia selama 3 tahun. Hyunjoon tidak merasa Miho adalah masalah. Namun yang membuatnya tercekat adalah keterusterangan Kyu. Dia tahu Hyunjoon mungkin sakit hati mendengar berita ini, tapi dia tetap percaya bahwa kejujuran adalah yang terbaik. Justru sikapnya yang terus terang itulah yang membuatnya jatuh cinta pada Kyu. Astaga…

“Tapi aku hanya menyukaimu, Hyunjoon. Aku tak pernah menganggap Miho lebih dari teman,” Kyu buru-buru menjelaskan melihat Hyunjoon hanya diam menatapnya. Lalu dia melanjutkan dengan menggerutu, “Malah sekarang aku menganggapnya hama…”

Astaga… Hyunjoon masih larut dalam pikirannya, “Kyuhyun-a…” dia memanggil Kyu tanpa sadar.

Kyuhyun menatap Hyunjoon terpana. Apa dia tidak salah dengar? Hyunjoon memanggil nama lengkapnya? Ini pertama kalinya.

“Kyuhyun-a, aku… Aku rasa aku tidak menyukaimu,” kata Hyunjoon begitu menyadari Kyuhyun menatapnya terpana.

Muka Kyu pias. Apa yang dikatakan Hyunjoon? Benarkah apa yang didengarnya? Apa ini masih di bumi? Mengapa tiba-tiba hatinya sesakit ini? Harusnya manusia langsung mati kalau ada hal sesakit ini. Kenapa Hyunjoon berkata begitu? Apakah dia sangat marah padanya karena sudah membuat Miho menyukainya? Tapi dia kan tidak melakukan apa-apa. Miho yang seenaknya menyukainya. Kyu selalu hanya menyukai Hyunjoon. Tidak pernah melihat cewek lain.

Tangan Hyunjoon terulur menyentuh pipi Kyu. Cewek itu menelan ludah, lalu dengan berbisik dia berkata, “Aku rasa… Aku jatuh cinta padamu.”

Kyuhyun terhenyak. Dia mengalihkan pandangannya dari Hyunjoon. Ini masih Danau Thithicaca kan? Hyunjoon sudah mengguncang-guncang dunianya dari tadi, dia belum terlontar kemana-mana, kan?

Dengan kesal Kyu kembali menatap Hyunjoon, tapi segera saja kekesalannya surut. Ya Tuhan, Hyunjoon berkata serius. Jadi, setelah tiga tahun, cewek itu baru sekarang jatuh cinta padanya? Lalu selama ini perasaannya itu apa? Hanya suka? Suka selama tiga tahun? Dilihatnya Hyunjoon yang masih termangu.

Jelas terlihat dari wajah Hyunjoon bahwa dia terpaku oleh kata-katanya sendiri. Menyadari cintanya pada Kyu telah membuat semuanya berbeda. Entah sejak kapan, rasa sukanya telah berubah menjadi cinta. Itukah sebabnya dia begitu marah pada Changmin karena tidak menganggap serius hubungannya dengan Kyu? “Aku mencintaimu, Kyuhyun-a. Ya Tuhan, sejak kapan?” Hyunjoon bertanya retorikal.

Kyu menatap Hyunjoon gemas. Di sekitar mereka angin tidak berhembus. Air tidak beriak. Tak ada ikan yang berenang. Bahkan burung pun tak ada yang bersuara. Dalam satu gerakan, Kyu mendekati bibir Hyunjoon dan menempelkan bibirnya di bibir cewek itu.

Hyunjoon terkejut dan membelalak menatapnya. Kyu menekan bibirnya yang menutup rapat ke bibir Hyunjoon yang juga tertutup rapat. Mata mereka saling memandang. Lalu Kyu melepaskan bibirnya.

“Kau bodoh sekali sih,” Kyu berbisik di dekat bibir Hyunjoon.

Hyunjoon terpaku, “Kau… menciumku.” Rasa terkejutnya masih sebesar tadi. Dia bahkan tidak menjalankan rencananya sama sekali. Dia berniat pura-pura akan jatuh agar mereka bisa berdekatan seperti waktu perahu oleng tadi lalu dia bisa mencium Kyu waktu itu terjadi. Ide itu datang begitu saja. Itulah sebabnya dia bertanya apakah Kyu bisa berenang. Dia sedang memperhitungkan resikonya kalau mereka jatuh betulan ke dalam air. Dia sih bisa berenang, walaupun tidak terlalu ahli, tapi kalau Kyu tidak bisa berenang, dia jelas tidak bisa menyelamatkan seorang laki-laki yang panik. Pengakuan Kyu diluar perkiraannya. Hyunjoon malah jadi menyadari perasaannya terhadap Kyu.

Hyunjoon menutup mulutnya lalu terhanyut dalam pikirannya sendiri. Dia bahkan tidak sadar ketika Kyu mengarahkan perahu mereka kembali ke tepian.

Kyu mengayuh dengan perasaan cemas. Harusnya dia tidak mengatai Hyunjoon bodoh. Harusnya dia tidak mencium Hyunjoon. Harusnya dia menahan diri. Meski Kyu jelas-jelas mencintai pacarnya itu dari dulu, tapi Hyunjoon adalah cewek paling polos di dunia, jadi wajar saja kalau dia baru menyadari perasaannya sekarang. Toh dia juga merasa senang mendengar pengakuan Hyunjoon. Kalau dipikir-pikir, selama ini mereka memang hanya mengatakan suka sama lain. Belum sekalipun Kyu pernah mengatakannya jelas-jelas sebagai cinta. Ah, harusnya dia tidak melakukannya. Sekarang mungkin Hyunjoon marah sekali padanya.

Hyunjoon terus diam hingga sampai di tepian. Bahkan ketika Kyu membantunya menaiki daratan, dia hanya terdiam. Mereka berjalan ke arah pepohonan pun dalam diam. Hyunjoon masih takjub bahwa ciuman pertamanya telah terjadi. Di atas danau, di hari yang indah, setelah pengakuan cinta. Itu sempurna.

Di bawah sebuah pohon, Kyu memanggil Hyunjoon, “Hyunjoon-a,”

Hyunjoon menengadah menatap pacarnya itu.

“Mianhae,” lanjut Kyu.

“Eh?” Hyunjoon terkejut. Minta maaf untuk apa?

“Aku ga bisa nahan diri. Sebab kau tadi menyatakan cinta, aku jadi terdorong untuk menciummu. Maaf aku tidak bisa…”

Hyunjoon meletakkan keranjangnya ke tanah, lalu memeluk Kyu erat sekali. “Aku senang,” katanya buru-buru. “Aku sudah berencana akan menciummu tadi, tapi ternyata kau yang duluan bertindak,” aku Hyunjoon.

Hyunjoon berencana menciumnya? Apa dia tidak salah dengar? “Kenapa kau mau menciumku?” tanya Kyu setengah bingung.

“Karena Changmin,” jawab Hyunjoon polos.

Siapa Changmin? “Siapa Changmin?” Kyu bertanya hati-hati. Bahkan saat menanyakannya, perasaannya tidak enak.

“Dia teman sekelasku. Dia menyukaiku,” Hyunjoon masih menyembunyikan wajahnya di dada Kyu.

“MWO?!” Apa maksud Hyunjoon?! Kyu baru tahu ada orang lain yang mengincar Hyunjoon-nya. Dia sangat sangat tidak suka! Dilepaskannya pelukan Hyunjoon.

“Tapi aku ga menyukainya, Kyu,” kata Hyunjoon menatap Kyu polos. “Dia menyatakan perasaannya padaku sambil berusaha menciumku, tapi…”

Cukup sudah! Kyu melepaskan pelukan Hyunjoon. Cowok brengsek itu harus diberi pelajaran! “Kita pulang!” Kyu menarik tangan Hyunjoon.

“Kyu!” Hyunjoon berseru tersandung-sandung mengikuti langkah Kyu.

Kyu benar-benar marah. Ada yang mendekati Hyunjoon-nya? Berani-beraninya orang itu! Siapa sebenarnya dia! Hyunjoon hanya miliknya! Lagipula, apa maksud Hyunjoon menceritakan semua itu? Jangan-jangan mereka…

Kyu tiba-tiba berhenti mendadak, menyebabkan Hyunjoon membentur punggungnya. Cewek itu mengaduh dengan keras. “Jadi kalian sudah berciuman?!” Kyu mengutarakan prasangkanya dengan kemarahan tertahan.

Hyunjoon menggeleng-geleng panik. Bagaimana mungkin Kyu berpikiran begitu? “Tadi kan aku udah bilang, dia mencoba menciumku, untung aku bisa menghindar…”

Lagi-lagi Kyu memilih tidak mau mendengarkan kelanjutannya. Amarahnya berkobar-kobar. Yang penting ciuman Hyunjoon tidak pernah tercuri darinya. Mereka melangkah dalam diam yang tidak mengenakkan.

Dalam bis pun mereka tidak mengatakan apapun. Hyunjoon mencoba membujuk Kyu, “Kyuuu, aku sudah menjauhinya. Aku ga pernah menyapanya lagi.”

Kyu tetap diam. Rahangnya yang mengeras membuat Hyunjoon yakin cowoknya itu masih marah. “Kyuu~,” panggilnya lemah. Tapi Kyu tetap diam dan malah mengalihkan pandangan membelakangi Hyunjoon.

Hati Hyunjoon sakit sekali diperlakukan begitu. Ini pertama kalinya Kyu benar-benar menolak bicara dengannya. Padahal dia hanya berusaha jujur. Akhirnya dia menahan air matanya sambil menghadap ke jendela. Pemandangan di luar berkelebatan tidak menarik di matanya. Kenapa Kyu begini?

Mereka sampai di rumah Hyunjoon saat hari sudah gelap. Kyu mengantarkan Hyunjoon hingga depan rumah. Sepanjang jalan, tangannya terus menggenggam pergelangan tangan Hyunjoon, meski tidak sekalipun dia mengatakan apa-apa. Perasaannya masih tidak menentu. Dia takut jika dia memaksakan diri bicara, dia malah akan membentak Hyunjoon, padahal bukan cewek itu yang salah.

Di depan pagar rumah Hyunjoon, Kyu hanya mengatakan satu hal, “Masuklah,” lalu dia berbalik hendak pulang.

Hyunjoon menahan tangannya. “Kyuhyun-a~” panggilnya serak. Air mata sudah sampai ke tenggorokannya. “Dia hanya mengajariku matematika,” kata Hyunjoon pelan lalu menundukkan wajahnya.

“Aku…” cewek itu terisak. “Karena kau ga ada di sana, aku hanya meminta tolong diajari olehnya. Aku ga tau dia menyukaiku. Jeongmal.”

Kini Kyu menghadap Hyunjoon sepenuhnya. Cewek itu melanjutkan, “Aku tidak mau Changmin ataupun Miho merebut ciuman pertama kita, makanya aku merencanakan menciummu. Kau milikku, makanya jangan marah padaku, Kyu~”

Kyu menelan ludah. Itukah yang dipikirkan Hyunjoon? Tentu saja dia milik Hyunjoon. Dan cewek itu miliknya. Tidak ada Changmin, Miho, ataupun yang lain yang bisa menyela di antara mereka.

Kyu mengepalkan tangannya. Dia melangkah ke hadapan Hyunjoon. Kedua tangannya membingkai wajah cewek itu selembut yang dia mampu, dalam ditatapnya mata Hyunjoon, “Mulai sekarang, tanyakan soal matematika hanya padaku. Tanyalah setiap hari, aku akan menjawabnya. Mengerti?”

Hyunjoon mengangguk. Sebutir air mata akhirnya jatuh. Kelegaan meresapinya. Kyu-nya telah kembali melembut.

Kyu melanjutkan, “Dan mulai sekarang, aku akan menciummu setiap hari. Ingat itu!” lalu tanpa diduga bibirnya memagut bibir Hyunjoon. Bukan seperti tadi siang, mereka berciuman lembut dan mesra dengan hati. Mereka menyatukan perasaan masing-masing. Dan setelahnya, Kyu berucap, “Saranghae. Sejak dulu.”

Tanpa menunggu jawaban Hyunjoon, Kyu melangkah pergi meninggalkan rumah Hyunjoon.

***

“Hyunjoon-a! Tunggu!”

Hyunjoon mengabaikan panggilan Changmin. Dia cepat-cepat melangkah menuju pintu gerbang. Dia ada janji bertemu di game centre siang ini dengan Kyu. Mereka akan berkencan main game dan sorenya akan belajar bersama.

Changmin berhasil mengejarnya. Diraihnya pergelangan tangan Hyunjoon, memaksa cewek itu menghadap ke arahnya. “Tunggu!” katanya memaksa.

“Jangan dekati aku, Shim Changmin! Aku tidak tertarik padamu!” marah Hyunjoon.

“Tapi kau harus mengenalku dulu baru bisa mengatakan itu,” Changmin berargumen dengan keras kepala.

Hyunjoon mengangkat tangannya ke atas lalu menghentakkannya keras-keras ke bawah hingga tangan Changmin terlepas. Efeknya sampingnya, tubuhnya sendiri setengah berputar akibat gerakan itu. “Lepas!” serunya galak.

Saat itulah, Hyunjoon melihat Kyu. Cowok itu sedang bersandar sambil bersidekap di gerbang sekolahnya. Matanya tajam memperhatikan adegan itu.

Mengetahui Hyunjoon telah melihatnya, Kyu menegakkan tubuhnya, lalu berjalan pelan ke arah Hyunjoon. Seperti dulu saat pertama kali Kyu mendekatinya, Hyunjoon merasa ada iblis tampan yang mendekatinya. Tangan Hyunjoon sudah berhasil digenggam lagi oleh Changmin. Meski panas, Kyu tidak mengalihkan pandangannya dari Hyunjoong. Dia mendekati pacarnya itu perlahan. Setelah di hadapannya, tangannya kembali merengkuh wajah Hyunjoon di antara kedua telapaknya.

“Ya! Ya! Jangan kurang ajar kau! Siapa kau?!” Changmin berseru panik.

Hyunjoon memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan tangannya dari genggaman Changmin, lalu berpegangan pada lengan Kyu. Senyumnya melebar menyambut Kyu.

Tanpa bicara apapun, mengabaikan Changmin yang ternganga, Kyu menurunkan kepalanya, lalu mencium bibir Hyunjoon dengan posesif.

KKEUT.


Iklan